Senin, 08 Februari 2016

PENERAPAN MODEL THINK, WRITE, AND TALK  MENINGKATKAN  KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF  DAN HASIL  BELAJAR   MATA KULIAH 
SISTEM INFORMASI MAJEMEN

Shendy Andrie Wijaya

Abstrak: Kreativitas adalah kemampuan untuk meneruskan gagasan dengan cara-cara yang asli, menghasilkan ide-ide yang luar biasa, jarang ditemui, dan unik oleh karena itu  peserta didik perlu ditumbuhkembangkan kreativitas tersebut. Penelitian ini tentang Penerapan Model Think, Write, And Talk dapat Meningkatkan  kemampuan berfikir kreatif dan hasil belajar  mata kuliah  sistem informasi Majemen . Desain penelitiannya adalah Penlitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian: Penerapan Model Think, Write, And Talk dapat Meningkatkan  kemampuan berfikir kreatif dan hasil belajar  mata kuliah  sistem informasi Majemen  di Program Studi Pendidikan ekonomi  IKIP PGRI Jember .

         Kata Kunci:  Pembelajaran Think, Write, and Talk,  Berfikir Kreatif, Hasil Belajar


PENDAHULUAN
Kreativitas sebagai proses merupakan hal yang lebih esensial dan perlu ditanamkan pada individu pereseta didk  dengan cara berkarya secara kreatif. Dengan adanya gagasan atau unsur-unsur pikiran, akan menjadi keasyikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi yang kreatif. Dengan kata lain, kreativitas dalam hal ini merupakan proses berpikir yang mengarah pada suatu usaha untuk menentukan hubungan-hubungan baru, mendapatkan jawaban, dan metode atau cara baru dalam memecahkan masalah (Semiawan,  1987). Pada sisi lain kreativitas merupakan ke­mampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang pada umumnya bersifat original atau unik. Secara lebih rinci, Munandar (1992), menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan banyak kemungkinan jawaban suatu masalah dengan menekankan pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Kreativitas yang dimaksud adalah berpikir kreatif atau divergen.  Amien (1980), menjelaskan  bahwa kreativitas merupakan pola pikir atau ide yang spontan atau imajinatif yang mencirikan hasil artistik, penemuan-penemuan ilmiah, dan penciptaan-penciptaan secara mekanik. Lebih lanjut, Amien menjelaskan bahwa kreativitas meliputi hasil sesuatu yang baru atau sama sekali baru bagi dunia ilmiah atau relatif baru bagi individunya.
      Berdasarkan paparan mengenai beberapa definisi kreativitas di atas, dapat disimpulkan  bahwa kreativitas mengandung arti yang luas dan mempunyai tahapan yang diawali dengan suatu pemikiran atau ide kreatif kemudian melakukan kegiatan kreatif sehingga tercipta hasil yang kreatif. Namun demikian, pada intinya terdapat persamaan antara definisi-definisi tersebut, yaitu kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru atau relatif baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Karakteristik kreativitas pada umumnya dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan kemampuan kreatif dari seseorang menurut Guilford (dalam Amien, Moh. 1980). Ciri-ciri kreativitas seseorang dapat dilihat dari aspek berpikir, dan aspek dorongan atau motivasi. Aspek berpikir kreatif ditunjukkan oleh sifat-sifat kelancaran (fluency), kelenturan (flexibility), keaslian (originality), dan penguraian (elaboration). Aspek dorongan atau motivasi ditunjukkan oleh sifat-sifat karakter, seperti: sikap percaya diri, tidak konversional, dan aspirasi keindahan.
Kelancaran (fluency) adalah kemampuan untuk meng­hasilkan banyak gagasan. Ciri-cirinya meliputi hal-hal berikut ini. (1) Word fluency, yakni kemampuan untuk menghasilkan kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf tertentu atau kombinasi dari huruf-huruf. Kelancaran kata (Word fluency) pertama kali dipublikasikan oleh Thurstone pada tahun 1938. Pendapat Guilford mengenai kelancaran kata diungkapkan bahwa kemampuan tersebut tidak mudah untuk dilihat. Namun hal itu, merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kegiatan kreativitas sehari-hari. (2) Associational fluency, yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah kata-kata yang mengandung beberapa macam hubungan, dapat berbentuk sebuah ide, pemberian judul, atau memberikan arti serupa. Selain itu, dapat juga diartikan sebagai kemampuan berpikir secara  analog  atau kebalikannya. (3) Expressional fluency, yaitu kemampuan untuk menyusun kata-kata terorganisasi, seperti dalam bentuk ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat. Dengan kata lain, kemampuan ini merupakan kelancaran dalam mengekspresikan pikiran-pikiran, ide-ide, atau pemecahan masalah dalam bentuk kata-kata atau kalimat. (4) Ideational fluency, yakni kemampuan untuk menghasilkan sejumlah ide-ide dengan cepat yang sesuai dcngan kegunaan yang diminta. Beberapa jenis tes mengenai ideational fluency, bahwa kecepatan Icbih penting dari kualitas. Ide yang dihasilkan dapat berbentuk simple atau kompleks, dapat berupa pemberian judul, baik untuk gambar maupun cerita, atau dapat pula berupa ungkapan-ungkapan dalam kalimat pcndek yang merupakan kesatuan hasil pemikiran.  Kelenturan (flexibility) adalah kemampuan untuk mengemukakan bcrmacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Hal-hal yang termasuk dalam ciri-ciri ini adalah sebagai berikut (1) Spontaneous flexibility, yakni kemampuan atau kecenderungan untuk menghasilkan bermacam-macam variasi dari ide-ide yang bebas dari hambatan atau keterpaksaan. Spontaneous flexibility dapat dikatakan pula sebagai keluwesan dalam mengadakan pendekatan terhadap masalah. Artinya, bila mclalui pendekatan yang satu tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, dengan scgera akan menggantikannya dengan cara pendekatan lain. Seseorang yang memiliki kemampuan spontaneous flexibility rendah, akan terlihat kaku dalam memberikan ide atau pendapatnya. la akan cenderung untuk bertahan pada satu atau beberapa pemikiran yang sempit saja. Namun demikian, orang tersebut masih mempunyai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi meskipun tidak melakukannya secara spontan. (2) Adaptive flexibility, yaitu penyesuaian yang fleksibel dalam menghadapi masalah sampai diperoleh hasil pemecahannya. Mengenai hal ini, seseorang akan gagal untuk menyelesai-kan masalah bila ia tidak mampu untuk bertindak fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan masalah yang sedang dihadapi.
Kreativitas adalah kemampuan untuk meneruskan gagasan dengan cara-cara yang asli dan tidak klise. Dapat pula diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang luar biasa, jarang ditemui, dan unik.
Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci, yakni aktivitas untuk merangkai sebuah ide atau jawaban-jawaban sederhana agar menjadi lebih mendetail. Elaborasi ini dapat dikembangkan dengan cara memberi latihan kepada anak untuk memberikan informasi tambahan atau melalui komunikasi verbal.
Think, write, and talk merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang memiliki empat langkah penting dalam pelaksanaannya. Empat langkah penting itu adalah sebagai berikut.
1)           Langkah 1 - berpikir (thinking).peserta didik diberi kesempatan untuk memikirkan materi atau menjawarb pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru berupa lembar kerja dan dilakukan secara individu.
2)           Langkah 2 - menulis (writing). Pada tahap ini peserta didik diminta untuk menulis dengan bahasa dan pemikiran sendiri hasil dari belajar dan diskusi kelompok yang diperolehnya.
3) Langkah 3 berdiskusi (talking). Setelah diorganisasikan dalam kelompok,peserta didik diarahkan untuk terlibat. secara aktif dalam berdiskusi kelompok mengenai lembar kerja yang telah disediakan, interaksi pada tahap ini diharapkan peserta didik dapat saling berbagi jawaban dan pendapat dengan anggota kelompok masing-masing.
4) Hasil tulisan peserta didik dipamerkan untuk ditunjukkan dihadapan kawan-kawan sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengoreksi hasil kerja kelompok lain ( Suprijono, 2009).
Keterampilan dalam berpikir bagi peserta didik dapat dicapai dengan baik apabila dihubungkan dengan topik-topik yang dikenal Karena itu, untuk dapat mengajak peserta didik ber­pikir, guru harus  mampu menghubungkan materi yang disaji-kan dengan hal-hal yang sudah dikenal dan dekat dengan peserta didik. Tujuan pembelajaran berpikir kritis adalah mencipta-kan suatu semangat berpikir kritis yang mendorongpeserta didikmempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru.
             Komponen selanjutnya pada model think, write, and talk adalah diskusi. Diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisi pertukaran pendapat, pemunculan ide-ide, dan pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam ke­lompok untuk mencari kebenaran; keputusan; kesimpulan; dan pemecahan dari suatu masalah. Banyak permasalahan yang terjadi di lingkunganpeserta didikyang memerlukan pem-bahasan lebih dari seseorang saja, terutama masalah-masalah yang memerlukan kerja sama dalam sebuah ke­lompok. Dengan demikian, diskusi menjadi jalan pemecahan yang memberi kemungkinan untuk mendapatkan penyelesaian yang terbaik. secara aktif dalam berdiskusi kelompok mengenai lembar kerja yang telah disediakan, interaksi pada tahap ini diharapkanpeserta didikdapat saling berbagi jawaban dan pendapat dengan anggota kelompok masing-masing.
. Melalui diskusi ada beberapa kelebihan yang didapati antara lain sebagai berikut.
1)            Suasana kelas lebih hidup, karenapeserta didikmengarahkan pemikirannya kepada masalah yang sedang didiskusikan.
2)     Peserta didikdilatih berpikir kritis untuk mempertimbangkan pendapat teman-temannya, kemudian menentukan sikap, menerima, dan menolak.
3)            Menaikkan prestasi kepribadian individual, sepertitoleransi; sikap demokratis; sikap kritis; berpikir sistematis; dan sebagainya.
Di samping kelebihan-kelebihan yang telah dikemukakan di atas, melalui diskusi juga didapati adanya beberapa kekurangan, seperti:
1)            diskusi umumnya dikuasai olehpeserta didikyang gemar berbicara;
bagipeserta didikyang tidak ikut aktif, ada kecenderunganuntuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan;
3)   banyak waktu yang terpakai, namun hasil yang diperoleh kadang-kadang tidak seperti yang diharapkan.
Sebelum pelaksanaan strategi think, write, and talk, pertemuan diawali terlebih dahulu dengan melakukan persiapan-persiapan, diantaranya: guru membuat RPP (Renca-na Persiapan Pembelajaran), menyiapkan lembar kerja untuk siswa, menyiapkan instrumen-instrumen, dan menentukan kelompok-kelompokpeserta didikdi mana setiap kelompok bersifat heterogen dalam hal jenis kelamin; prestasi akademik, dan Iain-lain.
         Pada pelaksanaan strategi think, write, and talk, per­temuan diawali dengan penyampaian materi secara garis besar dan kompetensi yang ingin dicapai secara klasikal, selanjutnya guru menyampaikan materi secara singkat dan permasalahan kepada siswa. Kemudian guru membagikan lembar kerja kepada masing-masingpeserta didikdan memintapeserta didikmengerjakan lembar kerja tersebut secara individu. Selanjutnya, guru mengorganisasikanpeserta didikke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Dalam kelompok tersebut,peserta didikdiminta untuk mendiskusikan lembar kerja sesuai dengan hasil pemikiran masing-masing, saling ber-tukar, dan berbagi jawaban. Setelah bekerja dalam kelompok,peserta didikkembali ke bangku masing-masing dan diminta untuk menuliskan hasil belajar secara individu dengan bahasa dan pemikiranpeserta didiksendiri. Tahap selanjutnya guru meng-adakan pembahasan lembar kerja berupa tanya jawab singkat kepada suluruh siswa. Di akhir pembelajaran, guru membimbingpeserta didikuntuk menyimpulkan materi secara lisan dan menambahkan hal-hal yang belum diungkapkan olehpeserta didikserta menyempurnakannya.
Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh metode dan strategi pembelajaran yang dirancang oleh seorang guru. Metode dan strategi dalam proses pembelajaran sangat beragam yang mana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode dan strategi yang dipilih guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Salah satu inovasi model pembelajaran adalah think, write, and talk yang bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kreativitaspeserta didikdalam berpikir kritis, berkarya dan berkomunikasi secara aktif melalui diskusi kelompok, presentasi, dan kunjungan anggota kelompok.Siberman (2004), mengatakan bahwa yang saya dengar, saya lupa. Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat. Yang saya dengar, lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan orang lain, saya mulai paham. Dari yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan, saya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai. (Active learning)
Pendapat di atas itulah yang menjadikan dasar dan inovasi pembelajaran dengan model think, write, and talk, sehinggapeserta didik benar-benar dapat menguasai konsep dengan baik.
Hal senada diungkapkan oleh John Holt dalam Siber­man (dalam Nur, 2005) bahwa proses belajar akan meningkat jika peserta didik diminta untuk melakukan hal-hal berikut ini: 1)Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata
mereka sendiri; 2) Memberikan contoh.; 3)Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi; 4)' Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain; 5)Menggunakannya dengan beragam cara; 6)Memprediksikan sejumlah konsekuensinya7) Menyebutkan lawan atau kebalikannya.

Rumusan Masalah:
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah Penerapan Model Think, Write, And Talk dapat Meningkatkan  kemampuan berfikir kreatif dan hasil belajar  mata kuliah  sistem informasi Majemen  di Program Studi Pendidikan ekonomi  IKIP PGRI Jember?

Tujuan
Tujuan Penelitian  untuk meningkatkan  kemampuan berfikir kreatif dan hasil belajar mata kuliah  Sistem Informasi Majemen di Program Studi Pendidikan ekonomi  IKIP PGRI Jember?

Manfaat:
          Manfaat Penelitian:   1) 1.Bagi peneliti sebagai wujud pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi pada Aspek Penelitian; 2). Bagi mahasiswa dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajarnya pada  Sistem Informasi Majemen di Program Studi Pendidikan ekonomi  IKIP PGRI Jember; 3) .Bagi  kolega Dosen dapat sebagi rujukan dalam perkuliahan.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas., peneliti menggunakan model spiral-refleksi yang ditemukan oleh Kemmis dan Taggarl yang dimulai dengan rencana, tindakan, pelaksanaan, refleksi, perencnaan kembali merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut : 1)Menyusun rencana skenario tindakan ; 2)Melaksanakan rencana tindakan; 3)Monitoring (perlakuan dan pengamatan); 4)Reflkesi.
Subyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah mahasiswa yang menempuh matakuliah Sistem Informasi Majemen di Program Studi Pendidikan Ekonomi FPIPS IKIP PGRI Jember  Semester Gasal Tahun Akademik 20014/2015
Metode Pengumpulan Data yang digunakan meliputi tes observasi, dokumenasi dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif  kuantitatif analisis statistik deskriptif .dan deskriptif kualitatif.


HASIL PENELITIAN  DAN  PEMBAHASAN
 Sebagai langkah awal adalah menyusun Rencana Perkuliahan , Skenario pembelajaran, Menyiapkan instrumen penelitian ,Menyiapkan format evaluasi pretes atau postes. Menyiapkan sumber belajar yang berupa materi diskusi, kertas piano, dan spidol warna. Mengembangkan skenario pembelajaran dengan model think, write, and talk.
Melakukan apersepsi, motivasi untuk mengarahkan peserta didik pada materi yang  dibahas.  Dosen  menjelaskan  kompetensi yang harus dicapai mahasiswa atau peserta didik. menjelaskan langkah kerja model pembelajaran dengan T.W.T.,  membagi kelompok dalam 6 kelompok dengan anggota 5 peserta didik masing-masing kelompok.peserta didik diberi kesempatan membuka kembali materi yang sudah disiapkan pada masing-masing kelompok.  Dosen  memotivasi seluruh peserta untuk berpartisipasi dalam diskusi kelompok dan menuliskan hasilnya pada kertas yang disediakan. 25 menit kemudian  dosen  membantu menempelkan hasil diskusi di dinding kelas. Dosen  memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk memamerkan hasil kerja kelompok dengan member! kesempatan 6 anggota kelompok bisa berkunjung pada kelompok lain dan  menunggu pada stand kelompok masing-masing. Dosen  sambil berkeliling memberikan penghargaan pada setiap kelompok. Selesai berkunjung peserta didik dipersilakan kembali pada kelompoknya untuk melihat  kekurangan masing-masing.  Dosen  menanyakan pada semua kelompok, kelompok mana yang terbaik hasil diskusinya, Dosen member penghargaan. Mendiskusikan kembali dengan seluruh mahasiswa,bila perlu mengadakan pengembangan materi. Dosen membagikan angket dan memerintahkan peserta didik untuk mengisi.
      Peneliti  melakukan observasi  atau  mengamati kegiatan mahasiswa pada saat pembelajaran dan mengamali kegiatan peserta didik dengan menggunakan instrumen pengamatan pembelajaran.  Dosen mengevaluasi respon peserta didik selama pembela­jaran dan dari angket yang diisi. Dosen juga  mengevaluasi kegiatannya dengan mengguna­kan angket .
            Hasil refleksi, Pada siklus 1   ada satu kelompok   belum  menuntaskan tugasnya , anggota kelompok  merasa kesulitan untuk menemukan/mencari sumber belajar sehingga hasil yang ditulis belum sempurna. Pada saat diberi kesempatan berkunjung pada ke­lompok lain hanya sedikit peserta didik yang mau bertanya. Pada saat presentasi terdapat 2 kelompok terlihat kurang percaya diri. Berdasarkan hasil refleksisiklus 1 dapat disimpulkan untuk mencari alternative pemecahan masalah pada siklus ke  2., dengan mengurangi anggota  kompoknya, agar lebih efektif.
      Dalam perencanaan tindakan kelas ini, peneliti telah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, mengembangkan instrumen untuk pengamatan, peserta didik pada saat kegiatan belajar mengajar dan angket peserta didik setelah kegiatan belajar mengajar, memberikan tugas peserta didik untuk belajar di rumah, menyiapkan media pembelajaran  peneliti, dan mengembangkan skenario pembelajaran think, write, and talk .    Pada siklus pertama yang dinilai adalah Aspek berpikir kreatif yang meliputi  kelancaran (fluency), kelenturan (flexibility), keaslian (originality), dan kualitas elaborasi /penguraian (elaboration).
Tabel  Hasil Penilaian  Berfikir Kreatif    Mahasiswa Pada  Siklus 1
Aspek  berfikir Kreatif
Kelancaran (Fluency)
Kelenturan (Flexibility)
Keaslian (Originality),
Kualitas Elaborasi (Elaboration)
Menyampaikan pendapat & Substansinya
15 Mhs(43%)= Baik
10  Mhs(28,5%) =Cukup
5 Mhs(14%)=Kurang
18 Mhs51%)= Baik
7  Mhs(20%)=Cukup
10 Mhs(28,5% =Kurang
12 Mhs34%)= Baik
8  Mhs(23%)=Cukup
7 Mhs(20%)=Kurang
15 Mhs (43%)= Baik
12  Mhs34%)=Cukup
3 Mhs(8,5%)=Kurang
Berargumentasi
&  Substansinya
12 Mhs(34%)= Baik
16  Mhs(46%)=Cukup
7 Mhs(20%)=Kurang
16 Mhs(46%)= Baik
14  Mhs(40%)=Cukup
5 Mhs(14%)=Kurang
10 Mhs(28,5%)= Baik
10  Mhs (28,5% =Cukup
15 Mhs(43%)=Kurang
15 Mhs (43%)= Baik
10  Mhs(28,5%)=Cukup
10 Mhs(28,5%)=Kurang
Menarik kesimpulan & Substansinya
20 Mhs(57%)= Baik
10  Mhs (28,5%=Cukup
5 Mhs(14%)=Kurang
15 Mh (43%)s= Baik
10  Mhs(28,5%=Cukup
10 Mhs(28,5%=Kurang
15 Mhs (43%)= Baik
8  Mhs(23%)=Cukup
7Mhs=Kurang
15 Mhs (43%)= Baik
12  Mhs34%)=Cukup
8 Mhs(22,8%)=Kurang
Grafik Aspek Berifikir Kreatif dalam menyampaikan Pendapat Pada Siklus -1
Grafik Aspek Berfikir Kreatif dalam Berargumentasi Pada Siklus -1

Grafik Aspek Berfikir Kreatif dalam aspek Menarik Kesimpulan Pada Siklus -1

Setelah dilakukan  refleksi  maka dilakukan perbaikan  perencanaan pembelajaran diantaranya dengan membentuk kelompok kecil dan memberikan pendampingan yang lebih intensif, yang diterapkan pada siklus ke dua hasil yang diperoleh sebagai berikut:

Tabel  Hasil Penilaian  Berfikir Kreatif    Mahasiswa Pada  Siklus 2

Aspek  berfikir Kreatif
Kelancaran (Fluency)
Kelenturan (Flexibility)
Keaslian (Originality),
Kualitas Elaborasi (Elaboration)
Menyampaikan pendapat & Substansinya
20 Mhs(57%)= Baik
10  Mhs(28,5%)=Cukup
5 Mhs (14%)=Kurang
18 Mhs(51%)= Baik
13 Mhs(37%)=Cukup
 4 Mhs(11%)=Kurang
15 Mh(43%)s= Baik
15 Mhs(43%)=Cukup
5Mhs (14%)= Kurang
15 Mhs(43%)= Baik
17  Mhs(48,5%) =Cukup
3 Mhs(8,5%)=Kurang
Berargumen tasi
& Substansinya
19 Mhs= Baik
14  Mhs(40%)=Cukup
2 Mhs(5,7%)=Kurang
16 Mhs(46%)= Baik
14  Mhs(40%) =Cukup
5 Mhs(14%)==Kurang
20 Mhs (57%)= Baik
11  Mhs=Cukup
4 Mhs=Kurang
15 Mhs(43%)= Baik
18  Mh51%)s=Cukup
2  Mhs=Kurang
Menarik kesimpulan & Substansinya
20 Mhs (57%)= Baik
10  Mhs(28,5%)=Cukup
5 Mhs(14%)=Kurang
15 Mhs(43%)= Baik
16  Mhs(46%)=Cukup
4 Mh(11%)s=Kurang
20 Mhs(57%)= Baik
10Mhs(28,5%)= Cukup
5 Mhs(14%)=Kurang
15 Mhs(43%)= Baik
17  Mhs(48,5%) =Cukup
3 Mhs(8,5%)=Kurang

            Berdasarkan tabel diatas  maka  dari siklus pertama ada peningkatan yang signifikan  pada siklus kedua.   Peningkatan  dari  siklus pertama  ke siklus  kedua secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel  sebagai berikut:

Aspek  berfikir Kreatif
Fluency
Flexibility
Originality
Elaboration

Siklus-1
Siklus-2
Siklus-1
Siklus-2
Siklus-1
Siklus-2
Siklus-1
Siklus-2
Menyampaikan pendapat & Substansinya
43%= Baik
28,5%=Cukup
14%=Kurang
57%= Baik
28,5%=Cukup
14%=Kurang
51%= Baik
20%=Cukup
28,5% =Kurang
51%= Baik
37%=Cukup
11%=Kurang
34%= Baik
23%=Cukup
20%)=Kurang
43%)s= Baik
43%=Cukup
14%)=Kurang
43%= Baik
34%=Cukup
8,5%=Kurang
43%)= Baik
48,5%=Cukup
 8,5%=Kurang
Berargumentasi  & Substansinya
34%= Baik
46%=Cukup
20%=Kurang
54%= Baik
40)=Cukup
5,7%=Kurang
46%)= Baik
40%)=Cukup
14%=Kurang
46%= Baik
40% =Cukup
14%==Kurang
28,5%= Baik
28,5% =Cukup
43%=Kurang
57%= Baik
31%=Cukup
11,4s=Kurang
 43%= baik
28,5%=Cukup
28,5%=Kurang
43%= Baik
51%s=Cukup
5,7%=Kurang
Menarik Kesimpulan & Substansinya
57%= Baik
28,5%=Cukup
14%=Kurang
57%= Baik
28,5%=Cukup
14%=Kurang
43%= Baik
28,5%=Cukup
28,5%=Kurang
43%= Baik
46%=Cukup
11%=Kurang
43%= Baik
23%=Cukup
20%=Kurang
20 57%= Baik
28,5%= ukup
14%=Kurang
43%= Baik
34%=Cukup
22,8%=Kurang
43%)= Baik
48,5%=Cukup
8,5%=Kurang
Hasil Belajar pada siklus perta dan kedua tampak pada tabel sebagai berikut:
Skor
Siklus-1
Siklus-2
< 60 (Belum Tuntas)
8 mhs=22,8%
1 Mhs=2,8%
60-100 (Tuntas)
27 Mhs=77,2%
34 Mha=97,2%



Total MHS
35=100%
35=100%
Sumber: Data Penelitian yang diolah
Berdasarkan infdikator ketuntasan  yang telah telah ditetapkan  yakni ketuntasan hasil belajar minimal mendapat nilai 6 dan ketuntasan dalam berfikir kreatif sebanyak minimal 85%  mecapai katagori Baik dan cukup. Maka hasil yang dicapai pada siklus kedua semunya disimpulkan tuntas.  Karena pada aspek  menyampaikan pendapat, berargumntasi dan menarik kesimpulan  nilai yang dicapai keseluruhan diatas standar minimal atau tuntas.

KESIMPULAN DAN SARAN
         Berdasarkan hasil analisis data maka dapat disimpulkan: Penerapan Model Think, Write, And Talk dapat Meningkatkan  kemampuan berfikir kreatif dan hasil belajar  mata kuliah  sistem informasi Majemen  di Program Studi Pendidikan ekonomi  IKIP PGRI Jember .
          Saran yang dapat  peneliti sampaikan  kepada  sesame guru agar menerapkan model pembelajaran Think, Write, and Talk  agar peserta didik lebih kreatif dan aktif dalam pem­belajaran.

DAFTAR  RUJUKAN
Amien, Moh. 1980. Peranan Kreativitas dalam Pendidikan. Depdikbud: Jakarta.
Deporter, B & Hernacki, M. 2003. Quantum Learning. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Kuntoro, S.A. 1992. Nilai-nilai Keagamaan dan Mengem-bangkan Kreativitas Anak  Cakrawala Pen­didikan. Yogyakarta: PPM IKIP Yogyakarta.
Mulyana, E. 2005. Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Meier, D. 2003. The Accelerated Learning. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Nur, Muhammad. 2005. Guru yang Berhasil dan Pengajaran Langsung. Departemen Pendidikan Nasional.
Semiawan, C, Munandar, A.S. dan Munandar, S O U. 1987. Memupuk Bakat dan Kreativitas peserta didikSekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.

Suprijono, A.2009.  Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.