This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI MELALUI PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING DENGAN PERFORMANCE ASSESSMENT PESERTA DIDIK KELAS XII IPS 1 MAN 2 JEMBER



UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI  MELALUI  PENERAPAN PROJECT BASED LEARNING DENGAN PERFORMANCE ASSESSMENT  PESERTA DIDIK  KELAS XII  IPS 1 MAN 2 JEMBER

Dyana Sumiyanto

ABSTRAK:  Kemampuan menganalisis  berbagai fenomena dan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan nyata di masyarakat merupakan salah satu yang ingin dicapai dalam pembelajaran sosiologi. Dalam pembelajaran  diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampai sekarang masih kurang mengembangkan ide-ide kreatif peserta didik. Permasalahan ini terjadi karena metode yang digunakan dalam pembelajaran masih menggunakan ceramah, sehingga kurang mengasah kreativitas peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan penerapan metode pembelajaran yang mengasah kreativitas peserta didik yakni dengan metode Project Based Learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik  dengan menerapkan Project Based Learning dengan Performance Assessment. Kreativitas peserta didik secara klasikal pada siklus 1 memperoleh presentase sebesar 61% dengan kategori cukup kreatif, dan mengalami peningkatan pada siklus 2 sebesar  15% menjadi 70% dengan kategori kreatif pada siklus 3 juga  mengalami peningkatan sebesar  11% sehingga menjadi 78% dengan kategori kreatif. Hasil belajar aspek psikomotor pada siklus 1 yaitu sebesar 58% dan mengalami peningkatan pada siklus 2 sebesar 20% sehingga menjadi 69% pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebesar 13% sehingga menjadi 78%.  Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik.

      Kata kunci:  Metode Project Based Learning, Performance Assessment, Kreativitas 
                         

PENDAHULUAN
Pembelajaran sosiologi dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan  pemahaman fenomena kehidupan sehari-hari.  Materi pelajaran mencakup konsep-konsep dasar, pendekatan, metode, dan teknik analisis dalam pengkajian berbagai fenomena dan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan nyata di masyarakat.  Mata pelajaran Sosiologi diberikan pada tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS, sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.Mata pelajaran sosiologi bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial,  lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai dengan terciptanya integrasi sosial; 2) Memahami berbagai peran sosial dalam kehidupan bermasyarakat; 3)Menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat (Depdiknas, 2006).
Pembelajaran memiliki tujuan agar peserta didik memiliki beberapa kemampuan, kemampuan tersebut salah satunya adalah peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir  berpikir logis, kreatif, inspiratif, dan inovatif (Kemendikbud, 2013: 89). Peserta didik dalam pembelajaran diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatifnya. Kreativitas dalam  pembelajaransosiologibisa dilihat dari aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran, sikap ataupun keterampilan-keterampilan yang ditunjukkan oleh peserta didik, juga dapat dilihat dari karya atau produk yang dihasilkan dalam pembelajaran, bisa dari tugas/proyek atau yang lainnya.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mata pelajaran sosiologi sampai sekarang masih dianggap sebagai pelajaran yang kurang menarik, membosankan, membuat mengantuk, dan kurang banyak diminati oleh peserta didik.  Pelajaran sosiologidi sekolah pembelajaransosiolog ibertumpu pada paradigma konvensional, yaitu paradigma ‘pendidik menjelaskan – peserta didik mendengarkan’. Pembelajaran sosiologi yang demikian menjadikan pelajaran sosiologi membosankan (Subakti, 2010: 3). Kurangnya minat dan motivasi peserta didik dalam pembelajaran secara otomatis akan mempengaruhi ketertarikan peserta didik terhadap pelajaran. Kemampuan peserta didik untuk mengembangkan ide-ide kreatifnya juga menjadi kurang muncul dalam pembelajaran sosiologi yang demikian.
Hasil observasi juga menunjukkan tingkat kreativitas yang dimiliki peserta didik dalam pembelajaran. Kreativitas tersebut diamati dari aktivitas dan kegiatan yang dilakukan peserta didik selama proses pembelajaransosiologiberlangsung, baik dari sudut pandang dan cara berpikir peserta didik, kemampuan peserta didik dalam berbicara, bertanya, menjawab pertanyaan, menanggapi, mengemukakan pendapat, dan menyelesaikan suatu masalah, juga dengan melihat hasil pekerjaan yang telah dikerjakan oleh peserta didik selama kegiatan pembelajaran . Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, tingkat kemampuan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran sosiologi masih belum terasah. Peserta didik masih terlihat kurang optimal dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang menunjukkan kreativitas mereka dalam pembelajaran.
Pembelajaran sosiologi yang dilakukan pendidik kurang optimal , sehingga terlihat pendidik yang lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan ceramah, sedikit tanya jawab, dan memberikan materi kepada peserta didik untuk dicatat, dan pemberian tugas untuk mengerjakan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) kepada peserta didik. Penekanan materi dalam pembelajaran juga masih terlihat belum optimal. Kondisi inilah yang menimbulkan kurang terasahnya kreativitas peserta didik dalam  pembelajaran .  Penilaian yang dilakukan pendidik lebih banyak ditekankan pada aspek kognitif, dalam artian pendidik hanya menilai kemampuan yang dimiliki peserta didik dari hasil belajar kognitifnya. Penilaian yang lain seperti afektif dan psikomotor kurang dilakukan oleh pendidik karena pendidik memang menjadikan aspek kognitif sebagai penilaian utama tanpa menerapkan jenis penilaian lain dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa ada kekurangan yang perlu diperbaiki dalam pembelajaransosiologidi kelas XII IPS 1 yakni berkaitan dengan metode pembelajaran yang digunakan.  Metode dapat diterapkan adalah yang lebih bersifat mengembangkan keaktifan dan kreativitas peserta didik dalam belajar baik di sekolah maupun diluar sekolah, baik secara individual maupun kelompok, bisa mengembangkan kemampuan mensistesis dan mengintegrasikan informasi  yang ada, mengembangkan kecakapan, dan kebiasaan belajar. Penerapan metode tersebut mengharapkan peserta didik dapat meningkatkan kreativitas dan meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sosiologi. Metode tersebut adalah Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek).
Project Based Learning merupakan suatu strategi pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan. Permasalahan yang dikaji merupakan permasalahan yang kompleks dan membutuhkan penguasaan dari berbagai konsep atau materi pelajaran dalam usaha penyelesaiannya. Proses pembelajaran ini, peserta didik menggali, mengumpulkan dan mengintegrasikan sendiri informasi/pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran ini memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kreativitasnya dalam merancang dan membuat proyek yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan (Sani, 2014: 172-173).
Kreativitas peserta didik dalam penerapan metode Project Based Learning bisa dilihat dari hasil proyek berupa produk yang dihasilkan, sejak bagaimana penemuan ide/gagasan dikemukakan, rencana rancangannya seperti apa, pelaksanaannya bagaimana dan tentunya produk yang dihasilkan dari proyek yang diberikan oleh pendidik. Hasil akhir dari kerja proyek tersebut adalah suatu produk yang antara lain berupa laporan tertulis atau lisan, presentasi atau rekomendasi. Hasil proyek berupa produk selanjutnya dipresentasikan secara kolaboratif kepada kelompok peserta didik yang lain didepan kelas. Penilaian yang digunakan juga harus diperhatian untuk menilai tugas proyek berupa produk. Terkait dengan penilaian, bahwa dalam pembelajaransosiologipenilaian yang cocok digunakan untuk menilai proyek adalah penilaian kinerja (Performance Assessment). Penilaian kinerja dipilih karena menekankan pada kemampuan peserta didik dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk melaksanakan tugas berupa unjuk kinerja (selama diskusi dan presentasi), membuat produk (karya tulis ilmiah), dan menyelesaikan masalah-masalah realistik dan otentik (melalui pemberian proyek).
Hasil penelitian mengkaji bahwa Project Based Learning (pembelajaran berbasis proyek) dapat menjadikan peserta didik yang kreatif dalam memecahkan permasalahan yang nyata dalam kehidupan mereka dengan merancang, merencanakan, mengorganisir dan menerapkan proses pembelajaran. Dalam pembelajaran yang menerapkan metode Project Based Learning peserta didik dilatih untuk bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggungjawabnya, menilai rencana kerja dan bekerja sesuai rencana yang dibuat, berkompetensi secara sehat, dan menerapkan atau mencari penerapan ilmu yang telah dipelajari (Baron, 1998: 271-311).  Project Based Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang membenturkan peserta didik kepada masalah-masalah praktis melalui stimulus dalam belajar.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka peneliti tertarik melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan memfokuskan pada metode dan  juga penilaian dalam pembelajaran. Peneliti akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas.
Berdasarkan latar belakang diatas maka Permasalahan yang dikaji  adalah:
1) Apakah penerapan Project Based Learning dengan Performance Assessment dapat meningkatkan kreativitas belajar sosiologi peserta didik?
2).Apakah penerapan Project Based Learning dengan Performance Assessment dapat meningkatkan hasil  belajarsosiologi peserta didik ?
Tujuan  yang ingin dicapai  dalam penelitian ini adalah: 1)  Untuk menganalisis peningkatan kreativitas belajarsosiologipeserta didik  dengan menerapkan Project Based Learning dengan Performance Assessment; 2)Untuk menganalisis peningkatan hasil belajarsosiologi peserta didik dengan menerapkan Project Based Learning dengan Performance Assessment.
Hasil penelitian ini  diharapkan  memiliki  manfaat : 1)Bagi pendidik, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah pembelajaran, yaitu untuk perbaikan proses dan hasil belajar peserta didik, juga dapat digunakan sebagai masukan dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas yang cocok dengan pembelajaran sosiologi; 2)Bagi peserta didik, penelitian ini diharapkan dapat membangkitkan minat belajar supaya lebih aktif dan mengembangkan kreativitas peserta didik selama proses pembelajaran juga dapat mengembangkan keterampilan yang dimiliki peserta didik selama proses pembelajaran; 3)Bagi sekolah yang diteliti, dapat memberikan masukan dalam usaha peningkatan mutu dan kualitas pembelajaransosiologi di MAN 2 Jember; 4)Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sumber referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan Project Based Learning dengan  Performance Assessment untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik.

METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah peserta didik dikelas XII IPS 1 MAN 2 Jember yang berjumlah 30 peserta didik .Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  Rancangan atau desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian tindakan Hopkins. Tahapan penelitian tindakan diawalali dengan perencanaan tindakan (planning), penerapan tindakan (action),  mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation and evaluation), dan refleksi (reflection) (Arikunto, dkk, 2014). Digambarkan sebagai berikut:


Penerapan Project Based Learning dikatakan berhasil meningkatkan kreativitas belajar peserta didik  apabila terus terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dan dari siklus 2 ke siklus 3 yang diukur dari indikator: 1) keterampilan berpikir lancar; 2) keterampilan berpikir luwes/fleksibel; 3) keterampilan berpikir orisinal; 4) keterampilan merinci; 5) keterampilan menilai.  Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan standar ketuntasan yang telah ditetapkan oleh sekolah. Ketuntasan tersebut apabila peserta didik memperoleh nilai hasil belajar yang sudah memenuhi Kriteria Ketuntasan Maksimum (KKM) sekolah yaitu 75 dari skor 100. Ketuntasan klasikal suatu kelas dikatakan telah tuntas belajar apabila di kelas tersebut terdapat nilai rata-rata klasikal minimal ≥75 dari skor maksimal 100.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis persentase kreativitas belajar peserta didik dalam pembelajaransosiologimenggunakan metode Project Based Learning dengan  Performance Assessment pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3.  Diketahui bahwa kreativitas belajar peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, siklus 2, dan siklus 3. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada masing-masing indikator dalam kreativitas peserta didik dalam pembelajaran. Indikator pertama yaitu keterampilan berpikir lancar, berdasarkan pada hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 61% dengan kriteria cukup kreatif, pada siklus 2 meningkat 15% sehingga persentase menjadi 70%  dengan kriteria kreatif, dan pada siklus 3 mengalami peningkatan sebesar 11% sehingga persentase menjadi 78% dengan kriteria kreatif.
Pembelajaran sosiologi dengan menggunakan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment terbukti dapat meningkatkan kreativitas belajar peserta didik dalam keterampilan berpikir lancar. Menurut Thomas dalam Hosnan (2014:321) Project Based Learning merupakan pembelajaran yang memerlukan tugas-tugas kompleks yang didasarkan pada pertanyaan/masalah menantang yang melibatkan peserta didik dalam mendesain, memecahkan masalah, membuat keputusan, memberikan pertanyaan dan jawaban, mengemukakan gagasan, atau kegiatan investigasi yang memberikan kesempatan peserta didik untuk dapat bekerja secara mandiri dalam periode yang lama.
Indikator kedua yaitu keterampilan berpikir luwes atau fleksibel, berdasarkan hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase 59% dengan kriteria kurang kreatif, pada siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 17% sehingga persentase menjadi 68,88% dengan kriteria cukup kreatif, dan pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebesar 13% menjadi 78% dengan kriteria kreatif. Kreativitas pada keterampilan ini menurut Amabile dalam Sani (2014: 14-15)  yaitu apabila peserta didik memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang lain dan mencoba mengajukan solusi yang berbeda dari biasanya, mengkombinasikan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dan peserta didik juga memiliki kemampuan untuk mencari pandangan yang baru setelah meninggalkan upaya solusi untuk sementara.
Indikator kreativitas belajar peserta didik yang ketiga yaitu keterampilan berpikir orisinal, berdasarkan hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase 58% dengan kriteria kurang kreatif, pada siklus 2 meningkat sebesar10% menjadi 63% dengan kriteria cukup kreatif, dan pada siklus 3 juga mngalami peningkatan sebesar 14% sehingga persentase menjadi 72% dengan kriteria kreatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Warsono dan Hariyanto (2013:154) yang mengemukakan bahwa Project Based Learning adalah suatu teknik pembelajaran yang khas dan berbeda dengan umumnya dengan teknik pembelajaran lainnya.
Indikator kreativitas belajar yang keempat yaitu keterampilan merinci (mengelaborasi), berdasarkan hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase 60% dengan kriteria cukup kreatif, pada siklus 2 meningkat sebesar 20% sehingga prsentase menjadi 72% dengan kriteria kreatif, dan pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebesar 12% sehingga persentase menjadi 81% dengan kriteria sangat kreatif. Munandar, (1999) mengemukakan keterampilan merinci merupakan kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci. Indikator kreativitas belajar yang terakhir yaitu indikator keterampilan menilai, berdasarkan hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 59% dengan kriteria kurang kreatif, pada siklus 2 meningkat sebesar 13% sehingga persentase menjadi 67% dengan kriteria cukup kreatif, dan pada siklus 3 meningkat sebesar 15% sehingga prsentase menjadi 77% dengan kriteria kreatif. Kunandar (2013:110) menyatakan keterampilan menilai merupakan keterampilan memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan.
 Hasil belajar yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pada aspek kognitif dan psikomotor. Peningkatan hasil belajarsosiologidengan menerapkan Metode Project Based Learning dengan Performance Assessment pada siklus 1, siklus 2, dan siklus diketahui bahwa  pada siklus 1 persentase hasil belajar yang diperoleh sebesar 67%.  Pada siklus 2 hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan  sebesar 15%, sehingga persentase nilai hasil belajar aspek kognitif yang diperoleh menjadi 77%. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan hasil belajar peserta didik yang pada siklus 2 memperoleh persentase 77% lalu pada siklus 3 meningkat 9% menjadi 83%. Hal ini terjadi karena pelaksanaan pembelajaran dengan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment sudah terlaksana sesuai rancangan yang dibuat. Pendidik sudah melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah metode Project Based Learning dengan menggunakan Performance Assessment sebagai penilaian psikomotor.
Peningkatan hasil belajar sosiologi pada aspek psikomotik peserta didik XII IPS 1 MAN 2 Jember diketahui bahwa kreativitas belajar peserta didik menggunakan penilaian kinerja selama kegiatan pembelajaran dan presentasi mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, dan siklus 2 ke siklus 3. Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang pertama yaitu kemampuan memecahkan masalah, berdasarkan pada hasil analisis pada siklus 1 memperoleh persentase 58% dengan kriteria kurang kreatif, pada siklus 2 meningkat 21% sehingga persentase menjadi 70% dengan kriteria kreatif, dan pada siklus 3 mengalami peningkatan sebesar 10%, sehingga persentase menjadi 77% dengan kriteria kreatif. Hosnan (2014: 323) mengemukakan bahwa metode Project Based Learnng  adalah metode pembelajaran yang terfokus pada pertanyaan atau masalah, yang mendorong peserta didik menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin yang harus diselesaikan.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang kedua yaitu kemampuan memodifikasi/mengembangkan ide/gagasan, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 59% dengan kriteria kurang kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 17% sehingga persentase menjadi 69% dengan kriteria cukup kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 10% sehingga persentase menjadi 76 dengan kriteria kreatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Elliot, 1995 dalam (Sa’dijah: 2009:93) yang menyatakan penilaian kinerja sebagai metode pengujian yang meminta peserta didik untuk membuat jawaban atau hasil yang menunjukkan pengetahuan (ide/gagasan) dan keahlian mereka dalam menemukan ataupun mengembangkan sesuatu.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang ketiga yaitu penguasaan materi, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 56% dengan kriteria kurang kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 30% sehingga persentase menjadi 72% dengan kriteria kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 9% sehingga persentase menjadi 79% dengan kriteria kreatif. Stinggins, 1987 dalam (Basuki dan Hariyanto, 2014: 168) mendefinisikan bahwa penilaian kinerja (Performance Assessment) sebagai penilaian yang mensyaratkan peserta didik untuk menunjukkan kecakapan khusus dan kompetensi khusus.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang keempat yaitu cara penyajian, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 57,77% dengan kriteria kurang kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 30,77% sehingga persentase menjadi 76% dengan kriteria kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 6% sehingga persentase menjadi 80 dengan kriteria sangat kreatif. Hal ini dijelaskan oleh Endrayanto dan Harumurti  (2014: 119) yang menyatakan bahwa penilaian kinerja merupakan penilaian yang meminta peserta didik mendemonstrasikan penguasaan pengetahuan dan keterampialn yang menghasilkan suatu bentuk produk atau kinerja tertentu.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang kelima yaitu kemampuan mengemukakan pendapat, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 55% dengan kriteria kurang kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 35% sehingga persentase menjadi 73% dengan kriteria kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 6% sehingga persentase menjadi 78 dengan kriteria kreatif. Kemampuan peserta didik dalam mengemukakan pendapat disini dapat dilihat dari aktivitas peserta didik ketika mereka berdiskusi, presentasi, menyampaikan hasil, dan pada saat mengungkap pengalaman mereka menerapkan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang keenam yaitu kemampuan mengkomunikasikan, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 56% dengan kriteria kurang kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 23,09% sehingga persentase menjadi 71% dengan kriteria kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 11% sehingga persentase menjadi 79 dengan kriteria kreatif. Endrayanto dan Harumurti (2014: 129) mengatakan bahwa pada penilaian kinerja yang dinilai yaitu aspek keterampilan yang meliputi keterampilan abstrak yaitu mengamati, menanya, mengolah, menyaji, mengkomunikasikan, dan mencipta.
Indikator kreativitas belajar (penilaian kinerja) yang terakhir yaitu kemampuan merespons, berdasarkan hasil analisis penilaian siklus 1 memperoleh persentase sebesar 60% dengan kriteria cukup kreatif, lalu meningkat pada siklus 2 sebanyak 26% sehingga persentase menjadi 76% dengan kriteria kreatif. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebanyak 6% sehingga persentase menjadi 80 dengan kriteria sangat kreatif. Kemampuan merspons juga dapat diartikan kemampuan menunjukkan perhatian aktif,  kemampuan melakukan sesuatu, dan kemampuan menanggapi .


KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil analisi tentang menerapan Metode Project Based Learning dengan Performance Assesssment untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar mata pelajaran sosiologi  di kelas XII IPS 1 MAN 2 Jember.
Penerapan metode Project Based Learning dengan Performance Assesssment dapat meningkatkan kreativitas belajar sosiologi peserta didik,  dalam pembelajaran menjadi lebih bersemangat, aktif, dan antusias mengikuti pembelajaran . Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan kreativitas belajar .
   Peningkatan kreativitas terjadi pada masing-masing indikator kreativitas dengan rata-rata klasikal yaitu pada siklus 1 persentase kreativitas peserta didik sebesar 61% dengan kategori cukup kreatif, dan mengalami peningkatan pada siklus 2 sebesar  15% sehingga persentase meningkat menjadi 70% dengan kategori kreatif. Pada siklus 2 ke siklus 3 juga  mengalami peningkatan sebesar  11% sehingga persentase menjadi 78% pada siklus 3 dengan kategori kreatif.
    Penerapan metode Project Based Learning dengan Performance Assesssment dapat meningkatkan hasil  belajarsosiologipeserta didik. Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari pra siklus dengan ketuntasan klasikal sebesar 53% yang meningkat sebesar 25%, sehingga menjadi 67% pada siklus 1. Pada siklus 2 hasil belajar aspek kognitif juga mengalami peningkatan sebesar 15%, sehingga persentase ketuntasan klasikal menjadi 76,66%. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebesar 9%, sehingga ketuntasan klasikal hasil belajar aspek kognitif memperoleh persentase sebesar 83%.
 Penerapan metode Project Based Learning dengan Performance Assesssment dalam penelitian ini juga mengukur hasil belajar aspek psikomotor menggunakan penilaian kinerja dengan indikator: 1) Kemampuan memecahkan masalah; 2) Kemampuan memodifikasi/mengembangkan ide/gagasan; 3) Penguasaan materi; 4) Cara penyajian; 5) Kemampuan mengemukakan pendapat; 6) Kemampuan mengkomunikasikan; 7) Kemampuan merespons. Hasil belajar aspek psikomotor pada siklus 1 yaitu sebesar 58% dan mengalami peningkatan pada siklus 2 sebesar 20,06% sehingga persentase menjadi 69%. Pada siklus 3 juga mengalami peningkatan sebesar 13% sehingga persentase meningkat menjadi 78%. Hasil data penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menerapan metode Project Based Learning dengan Performance Assesssment dalam pembelajaran sosiologidapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar sosiologi peserta didik.

Saran-saran
Bagi pendidik, menggunakan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment sebagai pilihan salah satu metode pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di sekolah.
Bagi peserta didik, hasil penelitian ini diharapkan dapat lebih membuat peserta didik berminat pada pembelajaran sosiologi yang demikian dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar peserta didik dengan menerapkan metode Project Based Learning dengan Performance Assessment.
Bagi sekolah yang diteliti, dapat memberikan masukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran sosiologi.

DAFTAR  RUJUKAN
Baron, 1998. Doing with Understanding: Lesson from Research of on Problem-and Project-Based Learning. Journal of the Learning Sciences, Vol 7 (3&4), 1998, pp. 271-311.  
Basuki, I., dan Hariyanto. 2014. Asesmen Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Endrayanto, H.Y.S, dan Harumurti, Y. W. 2014: Penilaian Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: PT Kanisius.
Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21 (Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013). Bogor: Ghalia Indonesia.
Kunandar. 2014. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik berdasarkan Kurikulum 2013)  Suatu Pendekatan Praktis disertai dengan Contoh. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sani, RidwanA. 2014.  Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Silberman, M.L., 2006, Activer Learning, , Nusamedia, Bandung.
Warsono dan Hariyanto.2012. Pembelajaran Aktif  Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
.

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MEKANIKA TEKNIK PADA konsep Menganalisis konstruksi balok sederhana (sendi dan rol) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE JIGSAW



PENINGKATAN  KUALITAS  PEMBELAJARAN MEKANIKA TEKNIK PADA konsep Menganalisis konstruksi balok sederhana (sendi dan rol) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE  JIGSAW

Muhammad Muhajir

Abstrak: Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik kompetensi dasar menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, baik aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 1 teknik konstruksi batu dan beton SMK Negeri 2 Jember Tahun pelajaran 2015/2016. Langkah-langkah penelitian mengacu pada penelitian tindakan kelas model Kemis dan McTaggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi ketuntasan belajar, nilai rata-rata siswa dalam menyerap materi mengalami peningkatan yang cukup tajam yakni dari 44,25 menjadi 77,25, dan seluruh siswa dinyatakan tuntas. Disamping itu keterampilan kooperatifnya juga meningkat (ketrampilan kooperatif tingkat dasar meningkat dari dari 20% menjadi 80 %, tingkat menengah meningkat dari 42% menjadi 82%, dan tingkat atas meningkat dari 32% menjadi 48%).


Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
         Tercapainya tujuan Pendidikan di Indonesia tidak dapat terlepas dari peran guru, siswa, masyarakat maupun lembaga terkait lainnya. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan menuju tercapainya tujuan tersebut perlu disampaikan suatu upaya perbaikan sistim pembelajaran inovatif yang merangsang siswa untuk mencintai yang akhirnya mau mempelajari secara seksama terhadap suatu mata pelajaran. Mata pelajaran  mekanika teknik dalam konsep umum seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit karena menggunakan logika dan perhitungan sehingga siswa merasa takut terlebih dahulu sebelum mempelajari, padahal persepsi tersebut tidak benar, kalau guru benar-benar melaksanakan proses belajar mengajar dengan benar dan menyenangkan, siswa akan senang sehingga dapat memahami mata pelajaran  mekanika teknik. Permasalahan ini dapat kita lihat dari adanya ketidaktuntasan siswa kelas X saat ulangan harian pada masing-masing kompetensi dasar, sehingga guru harus mulai mengembangkan sistim pembelajaran inovatif untuk membangkitkan minat siswa terhadap pelajaran  mekanika teknik.
  Mekanika teknik merupakan ilmu utama yang dipelajari di ilmu bangunan atau teknik sipil. Para insinyur menggunakan ilmu tersebut untuk mempelajari perilaku struktur terhadap beban yang bekerja padanya. Perilaku struktur tersebut umumnya adalah lendutan dan gaya-gaya baik gaya reaksi maupun gaya internal. Dalam mempelajari perilaku struktur maka hal-hal yang banyak dibicarakan adalah: stabilitas, keseimbangan gaya, kompatibilitas antara deformasi dan jenis tumpuannnya, dan elastisitas. Dengan mengetahui gaya-gaya dan lendutan yang terjadi maka selanjutnya struktur tersebut dapat direncanakan atau diproporsikan dimensinya serta diketahui kekuatan dari konstruksi yang direncanakan tersebut. Jadi pada dasarnya mekanika teknik ini bertujuan untuk menentukan dimensi, perhitungan kontrol, dan perhitungan kekuatan. Perhitungan dimensi digunakan untuk menentukan ukuran-ukuran dari konstruksi bangunan secara ilmiah dengan penggunan bahan bangunan seminimum dan seefisien mungkin, dengan faktor keamanan tertentu, serta konstruksi bangunan itu mampu mendukung gaya-gaya atau muatan/ beban yang ada. Perhitungan kontrol digunakan untuk memeriksa, apakah suatu bangunan kontruksi yang sudah didirikan cukup kuat dan cukup kaku terhadap beban – beban yang direncanakan. Perhitungan Kekuatan, Perhitungan yang dilakukan untuk memeriksa konstruksi dari perubahan bentuk, peralihan-peralihan, serta beban-beban pada konstruksi yang tidak melampaui batas. Perhitungan Stabilitas, yaitu perhitungan yang diperlukan agar bangunan selalu dalam keadaan kokoh Dalam ilmu mekanika teknik juga dikenal istilah statika.
            Konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) merupakan salah satu materi pada mata pelajaran mekanika teknik yang harus dikuasai oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena sangat menunjang kelancaran penyampaian materi lainnya.
       Peneliti, sebagai guru Mata Pelajaran  mekanika teknik Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton semester 2 SMK Negeri 2 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016,  prihatin dengan hasil belajar siswa, yang rata-rata nilai tes awal kelas tersebut, sebelum peneliti memulai pelajaran berikutnya hanya mencapai 57,75%. Di sisi lain, suasana kelas kurang hidup karena siswa lebih banyak diam dan mendengarkan penjelasan guru. Ketika guru memberikan pertanyaan, siswa kurang responsif (kurang berani) menjawab pertanyaan guru.
       Sebenarnya penggunaan metode ceramah yang dikombinasikan dengan tanya jawab yang diterapkan oleh pengajar sebelumnya pada semester pertama, juga pernah peneliti lakukan. Meskipun prestasi belajar siswa dengan penggunaan metode ceramah tidak selalu jelek, namun yang pasti adalah bahwa penggunaan metode ceramah tidak dapat menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan sikap lainnya. Hal ini memang merupakan sebagian dari kelemahan metode ceramah (Sanjaya, 2007).
       Untuk siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), pengembangan ketiga ranah pembelajaran (pengetahuan, keterampilan dan sikap) sangat diperlukan untuk menunjang tercapainya kurikulum KTSP 2013, khususnya untuk mendukung keberhasilan program magang dan project work (unjuk kerja), sehingga lulusan SMK mempunyai kompetensi yang holistik sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja atau hidup bermasyarakat dengan baik. Oleh karena itu, upaya pengembangan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, yang mampu memberdayakan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan dapat pula mengembangkan aspek keterampilan dan sikap, harus dilakukan oleh para guru  mekanika teknik SMK Negeri 2 Jember.
              Menurut Slavin (2008:4), Cooperative Learning Jigsaw adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri antara 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Dan dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung dari kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual atau berkelompok. Menurut Johnson (1991) menyatakan pembelajaran kooperatif Jigsaw adalah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif, diskusi siswa dalam kelompok kelompok belajar merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk dapat melakukan pembelajaran yang efektif (Anita Lie, 2007:31-34). Menurutnya juga, beberapa unsur yang terdapat dalam pembelajaran efektif antara lain, Adanya saling ketergantungan yang positif, Adanya tanggung jawab perseorangan, Adanya tatap muka, adanya komunikasi antar anggota, dan adanya evaluasi proses kelompok. Adapun langkah langkah  pembelajaran kooperatif type Jigsaw dilakukan sebagai berikut: Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang, menunjuk salah satu siswa sebagai ketua kelompok, membagi materi 5 sampai 6 bagian, siswa mempelajari bagian yang diberikan, memberi ruang waktu agar siswa membaca bagiannya agar tahu apa yang harus mereka lakukan, membentuk kelompok sesaat (kelompok ahli). Siswa yang mempunyai bagian yang         sama membentuk satu kelompok dan mendiskusikanya agar mereka benar benar paham, mengembalikan siswa pada kelompok asalnya, memberi waktu tiap siswa untuk menjelaskan apa yang mereka peroleh dalam kelompok ahli dan siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan minta penjelasan, guru mengawasi proses diskusi dan memberikan bantuan penjelasan, dan akhir pembelajaran siswa mengerjakan tes atau kuis.
             Dari uraian diatas, inovasi pembelajaran yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran  mekanika teknik di Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton SMK Negeri 2 Jember khususnya kompetensi dasar menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dengan penerapan Strategi Jigsaw. Pemilihan Strategi Jigsaw diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa pada ranah  pengetahuan, ranah sikap dan ranah keterampilan.
                  
 Rumusan Masalah
       Permasalahan penelitian ini adalah:
Apakah  penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar mekanika teknik siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton pada konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) di  SMK Negeri 2 Jember ?

Tujuan Penelitian
    Tujuan umum penelitian ini adalah : Mendiskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar    mekanika teknik siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton pada konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) di  SMK Negeri 2 Jember.

Manfaat Hasil Penelitian
1.      Meningkatkan hasil belajar pengetahuan siswa 
2.      Meningkatkan aktivitas belajar siswa
3.      Mengembangkan keterampilan belajar secara menyeluruh meliputi ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
4.      Dapat membawa siswa kepada situasi pembelajaran dinamis yang berhubungan dalam kehidupan sehari-hari
5.      Menumbuhkan sikap bertanggung jawab, percaya diri, menghargai teman lain dan menyenangi pelajaran   mekanika teknik.
6.      Dapat menumbuhkan semangat kerja guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk melakukan berbagai inovasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di SMK Negeri 2 Jember.

METODE PENELITIAN

 Prosedur Penelitian
            Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton semester 2 SMK Negeri 2 Jember, tahun Pelajaran 2015/2016. Objek penelitian ini adalah kegiatan selama pembelajaran serta perolehan hasil belajar siswa.
          Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi  (Arikunto.S, 2006).

Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
 Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data-data yang menjawab rumusan masalah penelitian. Untuk memperoleh data-data penelitian tersebut disusun instrumen penelitian berdasarkan kajian pustaka dan diskusi. Dalam penelitian ini terdapat empat teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu : Pengamatan, angket, observasi dan Tes.

Penilaian Hasil Pembelajaran
       Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran dan digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu proses pembelajaran. Dalam penelitian  ini penilaian hasil pembelajaran dilaksanakan pada tiga aspek yaitu aspek  pengetahuan, keterampilan dan aspek sikap. 
Penilaian aspek keterampilan dan aspek sikap difokuskan pada keterampilan kooperatif siswa. Keterampilan kooperatif siswa terdiri atas keterampilan kooperatif tingkat dasar, menengah, dan atas. Keterampilan kooperatif tingkat dasar meliputi keterampilan menghargai kesepakatan dan kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas (tanggungjawab), mendorong partisipasi dan mengundang teman lain untuk berbicara. Keterampilan kooperatif tingkat menengah meliputi keterampilan menunjukkan penghargaan, simpati, mendengarkan dengan aktif, bertanya, dan membuat ringkasan. Keterampilan kooperatif tingkat atas meliputi keterampilan mengelaborasi, memeriksa ketepatan, berkomunikasi (presentasi) dan menetapkan tujuan (Nurhadi, dkk., 2004). Penilaian terhadap aspek sikap dilakukan oleh observer melalui penerapan Strategi Jigsaw.

Teknis Analisis Data
   Untuk Menganalisis data dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran digunakan teknik kualitatif (deskriptif). Sedangkan teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis nilai peningkatan siswa (kelompok).
Keberhasilan tindakan yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam penelitian ini diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari nilai kuis yang diperoleh siswa pada akhir pembelajaran. Indikator ketuntasan hasil belajar siswa mengacu pada kriteria belajar tuntas sebagai berikut :
a.      Siswa telah belajar tuntas jika mencapai 60 % nilai maksimal.
b.      Kelas telah belajar tuntas jika terdapat 75 % siswa yang telah belajar tuntas.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
       Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, hasil pembelajaran diharapkan dapat mencakup kemampuan  pengetahuan dan kemampuan keterampilan serta sikap (khususnya kemampuan kooperatif). Setelah penerapan pembelajaran strategi pembelajaran kooperatif Jigsaw, kemampuan  pengetahuan siswa ditunjukkan oleh nilai kuis pada siklus (yakni nilai evaluasi pada siklus ke 2). Sedangkan kemampuan kooperatif ditunjukkan oleh keterampilan kooperatif tingkat dasar, menengah, dan atas yang didasarkan pada hasil pengamatan sesuai dengan rubrik yang telah ditetapkan.
       Nilai siswa pada pra siklus (nilai awal) dan setelah siklus (yakni nilai evaluasi pada siklus ke 2) menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 29 poin. Gambar 2 menunjukkan nilai rata-rata siswa dalam menyerap materi mengalami peningkatan yang cukup tajam yakni dari 44,25 menjadi 77,25. Hal ini menunjukkan bahwa kelas tersebut telah berhasil melaksanakan proses pembelajaran dengan model kooperatif Strategi Jigsaw  dengan seluruh siswa dinyatakan tuntas.
Gambar 1. Hasil Tes Pengetahuan

Gambar 2 menunjukkan keterampilan kooperatif siswa yang terdiri atas keterampilan tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat atas.
Gambar 2. Kemampuan Kooperatif Siswa

Dari Gambar 2 terlihat bahwa secara umum ketiga tingkat keterampilan kooperatif siswa pada siklus 1 mengalami peningkatan pada siklus 2. Gambar 2a menunjukkan bahwa pada akhir siklus 2 persentase siswa yang memiliki keterampilan kooperatif tingkat dasar dengan kriteria “cukup” menurun (dari 80 % menjadi 20 %) dan prosentase siswa dengan kriteria “tinggi” meningkat (dari 20% menjadi 80 %). Gambar 2b menunjukkan bahwa pada akhir siklus 2 tidak ada siswa yang memiliki keterampilan kooperatif tingkat menengah dengan kriteria “rendah” (pada siklus 1 terdapat 10 %), sedangkan persentase siswa dengan kriteria “cukup” menurun (dari 48 % menjadi 18 %), dan persentase siswa dengan kriteria “tinggi” juga meningkat (dari 42% menjadi 82%). Profil yang sama dengan keterampilan kooperatif tingkat menengah juga terjadi untuk keterampilan kooperatif tingkat atas, namun rincian prosentase siswa untuk masing-masing kriteria berbeda (Gambar 2c). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan kooperatif siswa.
       Apresiasi siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran ini juga diukur yang hasilnya disajikan dalam gambar berikut.
Gambar 3. Apresiasi siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran

       Gambar  diatas menunjukkan bahwa setelah siklus 2 seluruh siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dan mereka merasakan manfaat dari diskusi kelompok. Sebagian besar siswa merasa tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan. Sebagian besar siswa juga merasakan lebih mudah memahami materi Tipe Jigsaw     .
       Disamping itu, berdasarkan hasil pengamatan, hasil analisis nilai kuis serta wawancara informal dengan siswa, diperoleh beberapa kelebihan maupun kelemahan. Beberapa kelebihannya antara lain: (i) siswa sangat antusias dengan kegiatan pembelajaran, (ii) siswa menjadi lebih kreatif, hal ini dapat dilihat dari cara mereka menyajikan/mempresentasikan laporan, maupun dalam melaksanakan kegiatan kelompok lainnya, (iii) siswa menjadi lebih komunikatif, (iv) siswa saling berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik (karena setiap ada keberhasilan peneliti selalu memberi hadia), (v) konsentrasi siswa dalam belajar cukup tinggi, (vi) kinerja kelompok semakin baik, (vii) hasil belajar siswa semakin baik, ketuntasan belajar kelas mencapai 100,00 %, dan (viii) kinerja guru dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran semakin mantap. Sedangkan beberapa kelemahannya antara lain: (i) siswa masih kurang terampil untuk membuat laporan, (ii) ada siswa yang masih kurang percaya diri ketika presentasi, dan (iii) keterampilan  pengetahuan siswa belum optimal.
                    
SIMPULAN
       Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya diperoleh simpulan sebagai berikut:
1.      Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik konsep menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek  pengetahuan (kelas telah memenuhi kriteria tuntas belajar).
  1. Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik konsep menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek keterampilan dan aspek sikap (tingkat keterampilan kooperatif meningkat).


Saran - saran
  Karena apresiasi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw  cukup baik dan penerapan strategi tersebut telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik hasil belajar  pengetahuan maupun keterampilan kooperatifnya, hendaknya strategi tersebut dapat dicoba untuk diterapkan pada topik pembelajaran mekanika teknik lainnya maupun mata pelajaran selain  mekanika teknik.


DAFTAR  RUJUKAN
Anita Lie. 2002. Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning di            Ruang Ruang Kelas. Jakarta: PT Graznido
Arikunto, S., 2006, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Arikunto, S., dkk., 2006, Penelitian Tindakan Kelas, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Depdikbud a, 2013, Kurikulum 2013, Jakarta.
Depdikbud b, 2013, Mekanika Teknik 1, Jakarta.
Johnson dan Johnson, 2005, Cooperative Learning Archieves, http://co-operation.org.
Moeslichatoen, R., 2004, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Rineka Cipta, Jakarta.
Nurhadi dkk., 2004, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Universitas Negeri Malang, Malang.
Sanjaya, W., 2005, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kencana Pranada Media Group, Jakarta.
Silberman, M.L., 2006, Activer Learning, Diterjemahkan oleh Muttaqien, Nusamedia, Bandung.
Suderadjad, H., 2004, Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), CV. Cipta Cekas Grafika, Bandung.