This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cari Blog Ini

Kamis, 19 Oktober 2017

Pemanfaatan Berbagai Jenis Biji Tanaman Sebagai Bahan  Baku Dalam Pembuatan Tempe Dalam Rangka Pengembangan Skill Dan Kewirausahaan Mahasiswa IKIP PGRI Jember

Dwi Nur Rikhma Sari*; Hasni Ummul Hasanah=
Program Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA
IKIP PGRI JEMBER
Email: *dnrs129_dinnurrisa@yahoo.com

ABSTRAK
Program Studi Pendidikan Biologi FP. MIPA merupakan salah satu bagian dari program studi yang ada di IKIP PGRI Jember. Secara umum, mahasiswa IKIP PGRI Jember berasumsi bahwa kesuksesan memasuki dunia kerja akan dapat dilalui dengan mudah jika mahasiswa tersebut memiliki IPK diatas 3, dan hanya sebagian yang memiliki kesadaran akan pentingnya pengembangan softskill dengan mengikuti berbagai kegiatas seperti organisasi ekstra kampus, Program Kreatif Mahasiswa dan sebagainya.
Pada mata kuliah mikrobiologi, mahasiswa mendapatkan pertemuan khusus untuk pratikumnya, dimana mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan skill tentang berbagai macam teknik aplikasi dalam mikrobiologi. Salah satu bahasan praktik yang diberikan kepada mahasiswa yaitu pembuatan tempe dengan berbagai bahan baku dasar biji-bijian dari berbagai tanaman, antara lain: biji nangka (beton), kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang koro, kacang edamame dan biji kopi. Meski menghasilkan aroma, rasa dan tekstur yang berbeda, tetapi dapat dikonsumsi dikarenakan kandungan biji yang digunakan juga mengandung gizi yang diperlukan. Untuk mendapatkan tempe dengan berbagai jenis biji-bijian harus memperhatikan prosedur pengolahan biji dengan baik dan benar sehingga bisa menghasilkan produk tempe berbahan baku dasar biji-bijian yang berkualitas dan menarik. Acara pelatihan soft skill dan kewirausahaan ini berjalan dengan lancer dan sukses, ditunjukkan dengan antusias mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi yang sangat baik. Motivasi dan Minat tentang skill dan jiwa kewirausahaan mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi menjadi meningkat.

Key Words : Tempe, Berbagai Jenis Biji, Skill dan Kewirausahaan

PENDAHULUAN
Program Studi Pendidikan Biologi FP. MIPA merupakan salah satu bagian dari program studi yang ada di IKIP PGRI Jember. Secara umum, mahasiswa IKIP PGRI Jember berasumsi bahwa kesuksesan memasuki dunia kerja akan dapat dilalui dengan mudah jika mahasiswa tersebut memiliki IPK diatas 3, dan hanya sebagian yang memiliki kesadaran akan pentingnya pengembangan softskill dengan mengikuti berbagai kegiatas seperti organisasi ekstra kampus, Program Kreatif Mahasiswa dan sebagainya.
Jiwa kewirausahaan tidak semata-mata menjadi seorang wirausaha. tetapi setiap mahasiswa wajib memiliki jiwa kewirausahaan untuk mendukung kemampuan intelektualnya, antara lain kemandirian, jujur, inovatif, kreatif, inisiatif, sikap daya juang atau pantang menyerah serta integritas yang tinggi.. Pada mata kuliah mikrobiologi, mahasiswa mendapatkan pertemuan khusus untuk pratikumnya, dimana mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan skill tentang berbagai macam teknik aplikasi dalam mikrobiologi. Salah satu bahasan praktik yang diberikan kepada mahasiswa yaitu pembuatan tempe dengan berbagai bahan baku dasar biji-bijian dari berbagai tanaman. Tempe biasanya dibuat dari kedelai karena kedelai mengandung protein sebesar 35%, sehingga kedelai masih merupakan bahan baku utama dalam pembuatan tempe. Tetapi ada juga tempe yang terbuat dari kacang-kacangan lain seperti koro, melanding, bahkan yang terbuat dari kacang hijau (Adamsan (2009); Anneahira (2007)).
Berdasarkan permasalah tersebut, perlu diberikan pelatihan skill mengenai pembuatan tempe dengan berbahan baku dasar selain kacang kedelai yang dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi. Adapun tujuan pemberian pelatihan kepada mahasiswa ini yaitu untuk memberikan pengetahuan dan skill tentang pemanfaatan berbagai jenis biji yang digunakan sebagai bahan pengganti kacang kedelai sebagai bahan pembuatan tempe serta diharapkan dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan mahasiswa sebagai bekal mandiri untuk menghadapi persaingan setelah lulus studi, khususnya mahasiswa IKIP PGRI Jember di Kabupaten Jember.

ALAT DAN BAHAN
Adapun peralatan yang digunakan sebagai berikut : baskom, saringan, panci, kompor, pengaduk, nampan, rak penyimpanan, sendok, Ose, objek glass dan mikroskop (untuk hifa jamur pada tempe). Bahan yang digunakan yaitu: ragi tempe atau biakan murni Rhizopus oryzae, plastic, daun pisang, Edamame (Glycine max); Kacang Kratok (Phaseolus lunatus);  Kacang Kedelai (Glycine max, (Linn.)); Kacang Hijau (Vigna radiata);  Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.); Kacang Merah (Vigna angularis L.); Biji Kopi (Coffea arabica) dan Kacang Koro (Canavalia sp.).

METODE PELAKSANAAN
Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan dengan beberapa tahapan pelaksanaan, yaitu tahap sosialisasi (tahap penyuluhan dan diskusi) dan tahap pelaksanaan (tahap praktik). Penyampaian materi dengan metode pemberian materi oleh Dosen Ahli dalam bidangnya dan disuksi selama proses penyampaian materi. Kegiatan praktik dilakukan oleh mahasiswa yang menempuh mata kuliah mikrobiologi. Kegiatan ini dilakukan selama 2 hari yaitu hari Senin 22 Desember 2014 dilaksanakan di ruang perkuliahan IKIP PGRI Jember dan hari Rabu 24 Desember 2014 dilaksanakan di Laboratoirum FP. MIPA IKIP PGRI Jember dari jam 09.00-12.00 WIB. Adapun metode dalam pelaksanaan IbM ini sebagai berikut:
A.    Tahap Sosialisasi dan Penyuluhan
Tahap sosialisasi dilakukan dengan memberikan materi dan pemahaman tentang mikrobiologi dan pembuatan tempe secara sederhana serta dilakukan ujian post-test setelah dilaksanakan pelatihan tersebut. Adapun materi sosialisasi adalah:
-          Memberikan pemahaman dan penjelasan tentang tentang tempe dan prosedur penanganan tempe dengan berbagai bahan baku dasar selain kacang kedelai.
-          Memberikan pemahaman tentang prosedur pengelolaan tempe dan faktor yang mempengaruhi sebelum dan selama proses berlangsung.
-          Memberikan pemahaman dan penjelasan tentang strategi pemasaran serta manajemen produksi guna menghadapi persaingan pasar.
-          Panduan teknis berbagai pemanfaatan dan pengolahan tempe
B.     Tahap Pelaksanaan dan Praktik
Tahap pelaksanaan dan praktik ini dilakukan dengan menggunakan metode pelatihan soft-skill pada mahasiswa mengenai teknis pembuatan tempe. Selain itu, dalam tahapan ini Tim Pengusul memberikan pelatihan teknik pengolahan hasil produksi yang meliputi teknik pengemasan dan pelabelan produk diversifikasi tempe sehingga memberikan penampilan yang menarik bagi konsumen.
Adapun tahapan dalam pembuatan tempe : Pembuatan tempe secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi (Hermana & Karmini, 1999). Pada tahap awal pembuatan tempe, biji tanaman direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman. Kulit biji dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji tanaman selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji. Setelah dikupas, biji tanaman direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi.
Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe ataupun kultur R. oligosporus murni. Inokulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang tanaman yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan. Setelah diinokulasi, biji-biji tanaman dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk. Biji-biji yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji tanaman, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan maka dilakukan persiapan-persiapan sebagai berikut: Merencanakan kegiatan, mempersiapkan waktu, tempat pelaksanaan serta kesesuai materi praktikum dengan materi pelatihan. Melakukan persiapan sehari sebelum pelaksanaan pelatihan dengan mahasiswa meminta membawa dan mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan selama proses pelatihan praktik pembuatan tempe.
Pelaksanaan kegiatan pelatihan berlangsung selama 2 hari yaitu pada hari Senin, 22 Desember 2014 dari jam 09.00 WIB s.d 12.00 WIB, dengan dihadiri ± 60 peserta yaitu mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember, 1 orang pendamping yaitu karyawan labortorium biologi FP. MIPA IKIP PGRI Jember serta Tim Pengusul. Kegiatan berupa penyampaian materi pelatihan serta aplikasi praktik secara langsung mengenai pembuatan tempe.
Tahap pertama yaitu Penyuluhan dengan memberikan materi tentang mikrobiologi dan teori mengenai mikroba, tempe serta prosedur pembuatan tempe sederhana yang diberikan oleh Tim Pengusul. Pada tahap ini, dilakukan dengan metode ceramah berupa presentasi menggunakan program power point dan alat LCD di ruang perkuliahan serta metode diskusi interaktif. Tahap ini dihadiri oleh mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi. Pada Gambar 1, terlihat bahwa mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi sangat antusias menghadiri dan menerima materi/teori tentang mikrobiologi dan prosedur pembuatan tempe di dalam kelas serta mahasiswa sedang melaksanakan post-test setelah pemberian materi selesai.
      
Gambar 1. mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi sedang mendengarkan materi dan post-test
 
 




Tahap kedua yaitu tahap pelaksanaan dan praktik ini dilakukan dengan menggunakan metode pelatihan soft-skill pada mahasiswa mengenai teknis pembuatan tempe. Selain itu, dalam tahapan ini Tim Pengusul memberikan pelatihan teknik pengolahan hasil produksi yang meliputi teknik pengemasan dan pelabelan produk diversifikasi tempe sehingga memberikan penampilan yang menarik bagi konsumen. Tahap ini dilaksanakan di Laboratorium FP. MIPA IKIP PGRI Jember pada hari Rabu 24 Desember 2014 dimuali dari jam 09.00-12.00 WIB yang diikuti oleh seluruh mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi. Pada tahap ini, Tim Pengusul selaku Dosen memberikan demo tentang skill tentang praktik mikrobiologi serta tentang prosedur pembuatan tempe. Mahaiswa diberikan waktu untuk mempraktikan secara mandiri dengan membentuk kelompok kecil sesuai dengan bahan baku masing-masing kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempraktekan sendiri produk tempe dengan bahan baku selain kacang kedelai sesuai dengan prosedur yang telah diberikan pada materi sebelumnya (Gambar 2). Untuk hasil pembuatan tempe, menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki soft skill yang baik dalam pengolahan bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai jual (Gambar 3).
Tempe merupakan salah satu bahan makanan lokal yang biasa dimanfaatkan dan dianekaragaman. Tempe termasuk bahan makanan yang banyak mengandung cadangan protein. Tempe dapat dijadikan bahan makanan (Moehji, 2002).
Dalam pembuatan tempe, selain menggunakan kacang kedelai, juga dapat menggunakan berbagai biji tanaman yang lain seperti  biji nangka (beton), kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang koro, kacang edamame dan biji kopi. Berbagai biji pada tanaman memiliki kandungan yang beragam, salah satunya kandungan protein meskipun pada masing-masing biji memiliki kadar yang berbeda. Sebagai contoh kandungan biji nangka yang mengandung zat gizi per 100 gram bahan meliputi kalori 165, 0, protein 4,2 (g), lemak 0,1 (g), karbohidrat 36,7 (gr), kalsium 33,0 (mg), besi 200,0 (mg), fosfor 1,0 (mg), vit B1 0,20 (mg), vit C 10,0 (mg), air 57 (%). Kandungan kimia tepung biji nangka meliputi air 12,40 (%), protein 12,19 (g), lemak 1,12 (g), serat kasar 2,74, abu 3,24, bahan ekstra tanpa nitrogen 68,8, pati 56,21 (Sari, 2012). Biji kacang hijau memiliki kandungan protein 22,9% yang bisa menambah protein pada berbagai produk makanan (Astanto et al., 2006 dalam Putri, 2011). Untuk kandungan biji kacang tanah mengandung lemak (40-50%), protein (27%), karbohidrat, lesitin, kolin, serta vitamin (A, B, C, D, E, dan K), juga mengandung mineral antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium, dan Sulphur. Protein yang terkandung dalam kacang tanah jauh lebih tinggi daripada yang terkandung di dalam daging, telur, dan kacang soya (Vian, 2009). Kandungan protein dan profil asam amino dalam 100 gr kacang merah (kidney bean) dari yang terbanyak adalah asam glutamat (1323 mg), asam aspartat (1049 mg), leucine (693 mg), lysine (595 mg), arginine (537 mg), serine (472 mg), phenylalanine (469 mg), valine (454 mg), isoleucine (383 mg), proline (368 mg), threonine (365 mg), alanine (364 mg), glycine (339 mg), dan lain-lain sisanya di bawah 300 mg (Adi, 2013). Protein terdapat dalam biji kopi kering dengan kadar antara 8 sampai 12 persen. Biji kopi segar yang telah matang mengandung setidaknya 4 miligram asam amino per gram biji kopi untuk kopi robusta, dan 4.5 miligram per gram biji kopi untuk kopi arabika. Pada kopi arabika maupun robusta, alanin adalah asam amino terbanyak dengan kadar 1.2 mg/gram biji kopi arabika dan 0.8 mg/gram biji kopi robusta, diikuti asparagin dengan kadar 0.66 mg/gram biji kopi arabika dan 0.36 mg/gram per biji kopi robusta (Murkoic and Derler, 2006).
Oleh karena itu, pembuatan tempe bahan dasar yaitu kedelai dapat diganti dengan menggunakan berbagai biji tanaman. Meski menghasilkan aroma, rasa dan tekstur yang berbeda (Tabel 1 sampai dengan 7), tetapi dapat dikonsumsi dikarenakan kandungan biji yang digunakan juga mengandung gizi yang diperlukan. Untuk mendapatkan tempe dengan berbagai jenis biji-bijian harus memperhatikan prosedur pengolahan biji dengan baik dan benar sehingga bisa menghasilkan produk tempe berbahan baku dasar biji-bijian yang berkualitas dan menarik.
Gambar 2. mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang sedang melakukan praktik pembuatan tempe.
 
 


Gambar 3. Hasil akhir pembuatan tempe berbahan baku dasar selain kacang kedelai yang telah dilakukan oleh mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember.
 
 


Tabel 1. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Nangka (Beton)
Bahan Pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Beton
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
Daun Pisang

1
Asam
Lembut
aroma tepe
_
        3
Asam
Lembut
aroma tepe
_
Kantong Plastik
1
Asam
 Keras
aroma tepe
_
3
Asam
Keras
aroma tepe
_

Tabel 2. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Biji Kacang Hijau (Vigna radiata)
No
Bahan Pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Kacang Kedelai
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
1.
Daun Pisang
1
Manis
Kenyal
Sedikit lembut
Manis bau jamur
20141222_120202.jpg



3
Manis
Kenyal
Sedikit lembut
Manis bau jamur
2.
Plastik
1
Manis
Kenyal
Sedikit lembut
Manis bau jamur
20141222_120254 - Copy.jpg



3
Manis
Kenyal
Sedikit lembut
Manis bau jamur

Tabel 3. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.)
No
Bahan pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Kacang Tanah
Rasa
Tekstur
Aroma
Hasil Pengamatan



1



Daun Pisang
1
Gurih tetapi lebih guring kacang kedelai
Lunak, padat menyatu karena jamur tumbuh dengan  rata
Langu
3
Gurih tetapi lebih guring kacang kedelai
Lunak, padat menyatu karena jamur tumbuh dengan  rata
Langu


2


Plastik
1
Gurih tetapi lebih guring kacang kedelai
Padat menyatu dan jamur tumbuh dengan rata
 Langu
3
Gurih tetapi lebih guring kacang kedelai
Padat menyatu dan jamur tumbuh dengan rata
 Langu


Tabel 4. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Kacang Kratok (Phaseolus lunatus)
   dan Kacang Edamame (Glycine max)
No.
Bahan pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Kacang Edamame
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
1.
Daun Pisang
1
Gurih dan Lembut
Padat dan lembut
Aroma ragi, daun pisang

3
Gurih dan Lembut
Padat dan lembut
Aroma ragi, daun pisang,
2.
Plastik
1
gurih
Padat dan lembut
Aroma ragi

3
gurih
Padat dan lembut
Aroma ragi
No.
Bahan pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Kacang Kratok
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
1.
Daun Pisang
1
Gurih dan Lembut
Padat dan lembut
Aroma ragi, daun pisang

3
Gurih dan Lembut
Padat dan lembut
Aroma ragi, daun pisang,
2.
Plastik
1
gurih
Padat dan lembut
Aroma ragi

3
gurih
Padat dan lembut
Aroma ragi




Tabel 5. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Kacang Merah (Vigna angularis L.)
No.
Bahan pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makroskopis Biji Kacang Merah
Hasil Pengamatan
rasa
Tekstur
aroma

1


Daun Pisang
1
Tempe pahit
Menyatu lunak
Aroma  tape
3
Tempe pahit
Menyatu lunak
Aroma tape

2


Plastik
1
Tempe pahit
Menyatu lunak
Aroma tape
3
Tempe pahit
Menyatu lunak
Aroma tape

Tabel 6. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Kopi (Coffea arabica)
Bahan Pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makrospokis Biji Kopi
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
Daun pisang
1
Sedikit pahit
Hifa jamur ada dan Kopi masih keras.
Kopi


3
Sedikit pahit
Hifa jamur ada dan banyak dan Kopi masih keras.
Kopi

Plastik
1
Sedikit pahit
Hifa jamur ada dan Kopi masih keras.
Kopi


3
Sedikit pahit
Hifa jamur ada tetapi tidak sebanyak di daun pisang dan Kopi masih keras.
Kopi


Tabel 7. Hasil Pengamatan Tempe Berbahan Baku Biji Kacang Koro (Canavalia sp.)
Bahan Pembungkus
Pemberian
 Ragi
Makrospokis Biji Kacang Koro
Hasil Pengamatan
Rasa
Tekstur
Aroma
Plastik
1
Gurih
Kurang padat
 kacang tolo
3
Gurih
Kurang padat
 kacang tolo
Daun Pisang
1
Gurih
Lebih padat
 kacang tolo
3
Gurih
Lebih padat
kacang tolo

KESIMPULAN DAN SARAN
Acara pelatihan soft skill dan  kewirausahaan ini berjalan dengan lancer dan sukses, ditunjukkan dengan antusias mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi yang sangat baik. Motivasi dan Minat tentang skill dan jiwa kewirausahaan mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi menjadi meningkat.
Mengingat besarnya manfaat kegiatan pengabdian pada masyarakat ini khususnya bagis mahasiswa semester V Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA IKIP PGRI Jember yang menempuh mata kuliah mikrobiologi, maka selanjutnya perlu: mengadakan acara pelatihan soft skill dan kewirausahaan untuk semua mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FP MIPA maupun semua mahasiswa IKIP PGRI Jember serta perlu dilakukan pengujian secara statistik untuk mengetahui besarnya peningkatan skill dan motivasi mahasiswa setelah dilakukan pelatihan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Adamsan.  2009. Tempe dan Prosese Pembuatannya.  http://www.ad4msan.com/"tempe-dan-proses-pembuatannya.html
Anneahira. 2007.  Manfaat Makanan Fermentasi Bagi Tubuh.  http  ://www.anneahira.com/makanan-fermentasi.html