Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

KATAGORI DAN EKSPRESI LINGUISTIK DALAM CAROK: KAJIAN ETNOLINGUISTIK PADA MASYARAKAT MADURA Akhmad Dzukaul Fuad dzukaul_fuad@yahoo.com

KATAGORI DAN EKSPRESI LINGUISTIK DALAM CAROK: KAJIAN ETNOLINGUISTIK PADA MASYARAKAT MADURA

Akhmad Dzukaul Fuad


ABSTRAK:Carok adalah aktifitas menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan senjata tajam. Oleh masyarakat Madura, carok sering kali dijadikan sarana penyelesaian masalah yang jitu dan dianggap mujarab untuk menyelesaikan masalah karena aparatur pemerintah berwenang tidak lagi dianggap mampu untuk mensejahterakan dan menentramkan masyarakatnya. Carok tidak berlangsung spontantanitas atau seketika, ada proses dan rangkaian ritual yang mengiringi sebelum berlangsungnya carok. Adanya aturan serta kaidah yang ada menjadikan carok sebagai fenomena budaya yang kaya peristilahan bahasa dan mengandung banyak makna filosofis bagi masyarakat Madura.

Kata Kunci: Carok, Madura, Etnolinguistik.

PENDAHULUAN
Ketika mendengar kata Madura, mungkin ada empat hal yang langsung terbayang di benak kepala orang Indonesia, yaitu carok -dengan clurit yang tajam dan meneteskan darah- soto, sate, dan ramuan Madura. Di antara keempat hal itu, caroklah yang sering menimbulkan pertanyaan dan belum terjawab secara tuntas. Di sisi lain, penilaian orang tentang carok sering terjebak dalam stereotip orang Madura yang keras perilakunya, kaku, menakutkan, dan ekspresif. Stereotip ini sering mendapatkan pembenaran ketika terjadi kasus-kasus kekerasan dengan aktor utama orang Madura.
Orang Madura sering  menyebut carok dengan ungkapan aghaje` nyaba “bermain nyawa”. Carok sudah mengakar, melembaga, terlegimitasi dalam budaya masyarakat setempat serta mendapat persetujuan sosial ketika carok menyangkut pemertahanan harga diri dan kehormatan, yang pada gilirannya berada dalam naungan rémo[*]. Carok ditempuh sebagai jalan terakhir ketika harga diri orang Madura merasa terhina. Namun, selalu ada proses rekonsiliasi terlebih dahulu yang dilakukan sebelum terjadi carok. Pihak-pihak yang berada di sekitar pihak yang akan melakukan carok, selalu berposisi menjadi negosiator dan pendamai. Carok merupakan bagian dari perilaku kekerasan yang memiliki serangkaian aturan main, layaknya bentuk budaya lainnya. Biasanya, carok merupakan duel satu lawan satu dan ada kesepakatan sebelumnya untuk melakukan duel. Bahkan disertai ritual-ritual tertentu sebagai persiapan menjelang carok. Kedua belah pihak pelaku carok, sebelumnya sama-sama mendapat restu dari keluarga masing-masing. Karenanya, sebelum hari H duel maut bersenjata celurit dilakukan, di rumahnya diselenggarakan selamatan, pembekalan, pengajian, dan lainnya. Oleh keluarganya, pelaku carok sudah dipersiapkan dan diikhlaskan untuk terbunuh (Wiyata, 2002: 6-8).
Ketika pun akhirnya carok terjadi, maka tetap ada aturan main yang harus dipatuhi bersama. Pelaku carok harus membunuh lawannya dari depan, tidak boleh nyĕlĕp (dari belakang). Dan ketika lawannya jatuh tersungkur, maka posisi mayat menentukan proses kelanjutan dari sebuah carok. Jika mayat jatuh dengan posisi terlentang, maka keluarga si mayat berhak melakukan balas dendam. Posisi mayat yang terlentang, seolah dijadikan komunikasi terakhir, yang dimaknai sebagai bentuk ketidakterimaan mayat terhadap kondisinya (yang menjadi korban carok). Tetapi, jika posisi mayat telungkup dengan muka menghadap tanah, maka balas dendam menjadi tabu untuk dijalankan oleh keluarga yang menjadi korban carok. Dari aturan main di atas, carok justru menunjukkan sikap gentlemen orang Madura dalam membela harga dirinya dan memenuhi tanggung jawabnya.
Deskripsi etnografi, tidak dapat disangkal lagi melibatkan bahasa. Etnografer biasanya menulis dalam bahasa asli yang digunakannya atau dalam bahasa khalayak khususnya seperti mahasiswa, ahli atau masyarakat umum. Tetapi bagaimana mungkin mendeskripsikan suatu budaya dalam istilah-istilahnya sendiri sementara menggunakan bahasa asing ? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa setiap deskripsi etnogarafi merupakan suatu terjemahan (Spradley, terj : 1997, 32). Oleh karenanya pendeskripsian tentang etnografi suatu budaya tidak dapat digantikan dengan bahasa lain, ketika carok harus digantikan dengan kata matéén, akékét, maka citra kata matén ataupun akékét tidak dapat mencakup  seluruh konsep tentang carok. Dalam hal ini, Carok merupakan studi Etnografi Monolingual yang lebih dekat kepada deskripsi suatu kebudayaan yang menggunakan istilah sendiri-sendiri. Dalam studi tipe ini, seorang anggota masyarakat yang benar-banar terpelajar menuliskan etnografi dalam bahasa penduduk asli. Kemudian setelah mempelajari sistem semantik bahasa itu dengan cermat, etnografer menerjemahkan etnografi tersebut kedalam bahasa peneliti (Spradley, terj : 1997, 32)
Penelitian terdahulu tentang carok oleh Wiyata (2006) dengan judul Carok, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura, dalam penelitianya Wiyata menggunakan pendekatan etnografi. Wiyata menekankan aspek kronologis peristiwa sebelum dan sesudah carok, baik tindakan mapun aspek kultur. Dalam penelitian ini carok lebih dimaknai sebagai fenomena kebahasaan yang di dalamnya kaya peristilahan dan makna bagai masyarakat Madura.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan paduan metode linguistik dan antropologi. Metode linguistik yang digunakan menurut Sudaryanto (1993) dapat dibedakan atas tiga tahapan strategis yaitu penyediaan data, analisis data dan penyajian hasil analisis data. Dalam tahap penyediaan data penelitian ini diawali dengan studi lapangan yang menerapkan metode partisipasi observasi. Dalam metode partisipasi observasi ini penelitian akan terjun kelapangan dengan cara berperan serta aktif guna memperoleh data yang detail. Adapun tahapannya dilakukan dengan cara melakukan penetapan informan dan selanjutnya diikuti dengan wawancara terhadap informan. Kemudian untuk mengungkap data yang lebih banyak dibuat catatan etnografis oleh peneliti, sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif, struktural dan kontras. Dalam penerapannya, perpaduan metode linguistik-antropologi atau etnolinguistik memanfaatkan pendekatan etnosains atau etnometodologi. Pendekatan ini terfokus pada tujuan untuk mengungkapkan prinsip-prinsip pengklasifikasian menurut sistem pengetahuan (kognisi) yang menjadi milik kolektif masyarakat Madura. Data yang akan dikumpulkan meliputi meliputi ungkapan-ungkapan (ekspresi) dalam bahasa Madura.
Tiga tahapan strategis yang dilakukan dalam metode analisis linguistik (analisis mikro) dapat dijabarkan atas beberapa metode, teknik dasar dan teknik lanjutan. Pada tahapan strategis yang pertama, ketika penyediaan data di lapangan, informan diwawancarai dan direkam datanya, dengan menerapkan teknik sadap dan elisitasi (teknik pancing) berdasarkan metode simak dan metode cakap. Selanjutnya pada teknik sadap dibedakan atas teknik simak libat cakap, bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Kemudian untuk teknik elisitasi dibedakan atas teknik cakap semuka dan tansemuka. Pada tahapan strategis yang kedua pada saat data dianalisis, metode yang digunakan adalah metode padan dan agih (distribusional). Metode padan dibedakan atas metode referensial, metode translasional, metode ortografis dan pragmatis. Teknik dasar dalam metode padan adalah teknik pilah unsur penentu sedangkan dalam metode agih teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung.
Selanjutnya, dalam analisis data teknik lanjutan yang digunakan dibedakan berdasarkan teknik dasarnya yaitu teknik pilah unsur penentu, dengan teknik lanjutannya adalah teknik hubung-banding menyamakan, teknik hubung banding membedakan, dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok. Adapun teknik bagi unsur langsung sebagai teknik dasar, teknik lanjutannya adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik perluas, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah ujud dan teknik ulang.
Menurut Spradley (1997), dalam metode antropologi lazimnya dilakukan dua belas langkah alur penelitian maju bertahap, seperti dikemukakan di atas. Langkah selanjutnya, setelah diajukan pertanyaan kepada para informan, langkah-langkah berikut yang ditempuh meliputi analisis wawancara, analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen dan langkah terakhir adalah menemukan tema-tema budaya. Langkah-langkah ini sejalan dengan tahapan strategi analisis data dalam metode linguistik. Sebelum penulisan naskah hasil penelitian, langkah terakhir ini sejalan dengan tahap strategis yang terakhir dalam metode lingustik (seperti yang dijelaskan sebelumnya) yaitu penyajian hasil analisis daya dengan mengunakan metode informal dan metode formal.

HASIL DAN PEMBAHASAN
A.Kondisi Bahasa
Geertz (dalam Palmer 1996:114) mengungkapkan words view as their picture of the way things, in sheer actuality are, their concept of nature, of self, of society. bahasa yang terwakili oleh kata-kata merupakan kulit luar yang sekaligus dapat mencerminkan siapakah penuturnya, dari golongan mana serta bagaimana latar belakangnya. Ketika seseorang menggunakan bahasa dengan tuturan yang halus akan berbeda implikasinya dengan orang yang menuturkannya dengan tuturan yang kasar, meskipun dengan menggunakan ungkapan yang sama.    
Stratifikasi sosial dalam masyarakat Madura dikaitkan dengan jenis-jenis tingkatan bahasa yang digunakan dalam masyarakat, posisi sosial seseorang akan menentukan pilihan tingkatan bahasa. Pilihan ini akan menentukan  pula posisi sosial semua orang yang terlibat atau dilibatkan dengan peristiwa tersebut (Holmes : 1992, 148). Tingkatan bahasa (dhag ondhaggha bhasa) dalam bahasa Madura terdapat lima tingkatan bahasa pertama, bahasa Kraton, misalnya abdhi dhalém (saya) dan jhunan dhalém (kamu), kedua bahasa tinggi (abdhinan dan panjhénengan), ketiga bahasa halus (kaule dan sampean), keempat bahasa menengah (bule dan dhika), dan kelima bahasa kasar atau mapas (séngko`atau békna dan séda). Para bangsawan selalu menggunakan bahasa kraton tinggi, atau paling tidak menggunakan bahasa tinggi, sedangkan para pongghaba selalu mengggunakan bahasa halus. Kelompok masyarakat bawah (oreng kéné`) lazim menggunakan bahasa menengah atau kasar (mapas).
Abhesa merupakan manifestasi dari perilaku seseorang yang mencerminkan etika sopan santun, sedangkan ketika seseorang menggunakan bahasa mapas merupakan perbuatan janggal (jhenggel), yang oleh masyarakat Madura dinilai melanggar norma-norma kesopanan. Tingkatan dalam bahasa tidak saja menunjuk pada perbedaan linguistik, tetapi mempunyai relasi yang sangat erat dengan status seseorang dalam sistem stratifikasi atau herarki sosial, baik echieved status maupun escribed status, khususnya umur, sebagaimana seorang Jawa yang bertutur dalam bahasa Jawa. Kesalahan orang Madura menerapkan bentuk tingkatan bahasa ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari tidak saja merupakan kesalahan linguistik, tetapi juga kesalahan sosial. Bahkan secara kultural kesalahan tersebut, terutama dalam penerapan mapas yang tidak proporsional, sangat dikecam oleh orang Madura dan dinilai sebagai perilaku janggal, dalam artian tidak mengeri sopan santun (Wiyata : 2006, 51).

B.Sejarah Carok
Sebagaimana dikisahkan dalam buku Carok Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura bahwa asal kata Carok berasal dari satu legenda, berikut :
Hiduplah seorang putri sebuah kerajaan di pulau Jawa bernama Mendang Kumalan tanpa sebab yang jelas diketahui telah hamil. Mengetahui kondisi putrinya yang demikian, sang raja marah dan menyuruh seorang patihnya bernama Prangulang untuk membunuh sang putri.
Upaya pembunuhan yang dilakukan sang patih selalu gagal, kerenanya sang putri berhasil melahirkan bayinya, Raden Sagoro dan sang Patih tidak lagi berani kembali ke kerajaan dan merubah namanya menjadi Kyai Poleng. Lantas R. Sagoro dan ibundanya dihanyutkan dengan menggunakan giték (getek) dan terdampar si sebuah daratan “Madu oro” yang mempunyai pojok di ara-ara. Dari kata Maduoro inilah kemudian muncul Madura. Untuk selanjutnya mereka berdua pindah dari desa Gegger ke desa Nepa.
Tatkala R. Sagoro berumur tujuh tahun, kerajaan Mendangkumalan mendapat serangan dari tentara Cina dan selalu mendapat keakalahan. Akhirnya sang raja meminta bantuan kepada R. Sagoro yang berstatus sebagai cucunya untuk membantunya, karena dia sangat dikenal dengan pria yang gagah berani dan mempnyai jiwa kesatria. Dengan berbekal tombak Kyai Neggolo musuh-mush kerajaan dapat ditumpas habis, hal ini mengindikasikan bahwa adanya tindakan kekerasan (pembunuhan) yang dilakukan oleh orang Madura sejak zaman dahulu (lebih lanjut lihat Wiyata 65-68).
Tentang kondisi Madura sekitar abad ke-19, De Jonge menjelaskan bahwa raja-raja diberikan hak penuh olah VOC untuk mengurus wilayahnya secara penuh. Dengan demikian raja-raja madura dengan leluasa bisa bertindak menurut keinginanya masing-masing, bahkan dengan leluasa menerapkan kerja pakasa, memungut pajak, baik berupa hasil bumi atupun uang. Hasilnya hayalah semata-mata untuk kemakmuran anggota serta elite kerajaan bukan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Para elite kerajaan dan pegawai tidak lagi membela dan menjunjung tinggi martabat rakyat, tetapi semakin mengukuhkan kekuasaan dan kekayaan para raja (Wiyata, 65). Hal tersebut menjadikan pulau Madura memberikan kesan tidak terurus dengan kondisi keamanan yang menyedihkan. “Pengadilan tidak berfungsi sehingga setiap orang menghakimi perkaranya sendiri” (Wiyata, 69).
Tindakan kekerasan dalam kehidupan masyarakat Madura paling tidak disebabkan dua hal penting, yaitu pertama, pemerintah pada waktu itu tidak memperhatikan rakyat Madura ; kedua, sebagai konsekwensi yang pertama, masyarakat menjadi tidak percaya kepada pemerintah sehingga segala persoalan atau konflik diselesaikan dengan cara mereka sendiri, yaitu dalam bentuk tindakan kesewenang-wenangan dan kekerasan tanpa memperhatikan peraturan (Wiyata, 69). Yanpada gilirannya bentuk tindakan kekerasan dan kesewenang-wenangan ini oleh masyarakat setempat dinamakan dengan carok.

C. Perangkat Carok
Dalam carok terdapat falsafah sebuah konsep keberanian, kesatria (angko), seseorang yang tidak mempunyai nyali (kerjhi`), ia tidak akan berani untuk melakukan carok kalaupun dipaksakan ia hanya akan mengantarkan nyawanya  (terater nyabeh). Harga diri dan martabat merupakan unsur pokok yang hendak dicapai dalam carok, ketika seseorang diusik harga dirinya maka ia akan merasa malu ‘malo’. dalam bahasa Madura terdapat ungkapan “Lokana daghing bisa éjhei`, lokana até tada` tambena kajhabbana ngéro` dara” (jika daging yang terluka masih bisa diobati dengan  dijahit, namun jika hati yang teluka tidak ada obatnya kecuali dengan minum darah, yaitu mati).
Adanya legitimasi dan julukan kepada orang yang telah melakukan carok se menang sebagai seorang jago (blatér) dan sebagai perkumpulan orang-orang jago didirikanlah rémo (sebuah perkumpulan para blatér). Adanya pembenaran secara kultural, juga memperoleh persetujuan sosial terutama oleh anggota keluarga, hal tersebut diindikasikan dengan diadakannya musyawarah  dalam keluarga mengenai segala tindakan pelaksanaan carok, mulai sebelum (pracarok) dan sesudah (pascacarok).
Satu hal lagi yang tidak dapat dipisahkan adalah kemampuan ekonomi seseorang pelaku carok untuk mencukupi nafkah anggota keluarga yang hendak ia tinggalkan, karena konsekwensi dari carok adalah meninggalkan keluarga, baik selamanya dalam arti ia akan terbunuh maupun untuk sementara waktu, berarti ia akan masuk buih (sel), ungkapan sinis orang madura untuk pelaku carok “ Mon lo` andi` bhandha, ajjha` acarok”  yang berarti janganlah melakukan carok jika tidak mempunyai dana yang cukup, guna menghidupi sanak keluarganya setelah ia tinggalkan.
Carok bukanlah sebuah tindakan yang grusah grusuh sebagimana tindakan kekerasan yang lain, di dalamnya sudah terdapat persiapan matang dari pihak keluarga  dan lembaga yang mendukung terjadinya carok. Bahkan Carok sudah menjadi solusi (self justise) untuk memecahkan sebuah persoalan, terutama persoalan harga diri. 
  Berdasarkan uraian terdahulu tidaklah mudah untuk melakukan carok, seseorang harus menyiapkan segala keperluan, perlengkapan jauh sebelum pelaksanaan carok itu sendiri dilaksanakan dan perlengkapan carok tersebut harus dipenuhi, baik persiapan sebelum maupun sesudahnya. Ketika salah satu syarat dari carok tidak terpenuhi dapat dipastikan pelaksanaannya gagal, semisal keinginan untuk membunuh seseorang sudah bulat tetapi pihak keluarga dalam musyawarah tidak memberikan izin maka otomatis pelaksanaan carok tidak akan teralaksana. Dalam carok dikenal banyak istilah yang menarik sekali untuk dikaji, baik istilah-istilah sebelum maupun sesudah pelaksanaan carok.

C.1 Perangkat Istilah ritual
Istilah
Makna
Nyékép
membawa senjata tajam dan menaruhnya di balik baju agar tidak menarik perhatian orang dan mudah mengambilnya sewaktu dibutuhkan
rémo carok
remo yang diselenggarakan untuk keperluan carok, biasanya hadirin yang hadir menyumbang uang seikhlasnya untuk mnyumbang kepentingan sesudah carok, seperti memberikan nafkah keluarga sepeningal pelaku carok dan upaya untuk nabang
Rémo
tradisi penyelenggaraan pertemuan antar para jago dan blatér
Kedighdhejen
kemampuan supranatural yang dimiliki seseorang yang jago, semisal tidak mempaan dibacok ataupun disulut dengan api
bandha
dana yang sengaja dipersiapkan untuk memenuhi pelaksanaan carok, baik sesudah maupun sebelum pelaksanaan
tampéng séréng
sebuah kemampuan dan kekuatan non fisik (supranatural) sebagai persiapan untuk melakukan carok
apagher
upaya yang dilakukan seseorang untuk membentengi diri (aphager, arti harfiahnya memagari, membentengi diri) dengan cara mendatangi seorang Kyai ataupun dukun dan mngutarakan keperluannya setelah kyai tersebut memberikan restu, selanjutnya seorang Kyai tersebut biasanya memberikan air yang telah diberi mantra, jampi-jampi tertentu yang dapat membuat seorang kebal, sakti dan sebagainya agar diminum setibanya dirumah
ejeze`
seseorang yang dimasuki atau diberi azimat guna kekebalan dan keselamatan

C.2 Senjata
Istilah
Makna
takabuwan
karakteristik dari jenis ini adalah badan celutir berbentuk lengkung yang serasi di setiap sudutnya. nama takabuwan diambil dari desa tempat dibuatnya, yaitu takabu. Tingkat ketajamannya dapat diandalkan, karena bahannya terbuat dari baja campuran besi berkualitas baik. Bentuknya melengkung dari batas pegangannya sampai ujung. Hal yang menarik dari jenis ini adalah lengkung clurit ini sangat serasi dan panjangnya yang hanya sekitar 35-40 cm. Pegangan untuk tangan terbuat dari kayu yang biasanya diberikan warna tertentu dengan panjang 7,5-10 cm. Clurit jenis ini sangat diminati oleh masyarakat Madura karena disamping bentuknya yang garang juga mengandung nilai estetis tinggi. Harganyapun sangat lumayan mahal berkisar antara Rp. 250.000 sampai 400.000 di pasar gelap, karena tidak semua jenis clurit untuk carok di jual bebas di pasaran. 
dhang osok
namanya diambil dari nama dari salah satu jenis buah pisang yang ukurannya lebih panjang dari ukuran rata-rata pisang pada umumnya. Oleh karena itu bentuk dari clurit jenis ini bentuknya mirip menyerupai pisang tersebut, panjangnya melebihi ukuran clurit biasanya yang hanya sekitar 40 cm, badan berbentuk melengkung dengan panjang sekitar 60 cm. Pegangannya terbuat dari kayu dan mempunyai panjang sekitar 40 cm, yang memungkinkan menggunakan kedua tangan untuk mengayunkannya pada badan musuh.
tékos
bu-ambu
clurit jenis ini bentunya mirip dengan seekor tikus yang sedang diam
Lancor
jenis ini mempunyai karakteristik dengan fareasi lengkungan yang terdapat di antara tempat pegangan tangan dan ujungnya
bulu ajam
jenis ini mempunyai bentuk mirip lengkungan ekor ayam jago yang menyentuh tanah. Ini merupakan clurit idaman orang Madura setelah takabuwen dan kebetulan penulis juga mempunyainya
kembhang turi
jenis celurit yang mempunyai ujung lebih besar dari pada pangkalnya, hal ini menyerupai kembang pohon turi
monténg
sejenis clurit yang melengkunganya lebih ke dalam dari pada bentuk-bentuk yang  lain.
calo`
jenis ini mempunyai karakteristik seperti lancor akan tetapi lengkungannya dibandingkan lancor lebih keatas lagi, karena lancor lekukan tengah dihitung mulai dari pegangan tangan sedangkan calo` perhitungan tengah dimulai dari batang clurit. ada juga jenis belati
Sekken
sejenis pisau namun berukuran kecil. Panjangnya hanya sekitar 15 cm. tidak lebih dan lebar sekitar 3 cm
ladhing pangabisan
pisau ini berukuran sekitar 40 cm. Dan lebar sekitar 7,5 cm. Lebih panjang dan lebih besar dari ukuran pisau biasa. Selain itu pisau jenis ini sudah terkenal ketajamanya karena terbuat dari bahan baja murni. Tak jarang blati ini menjadi sahabat setia kemanapun seseorang keluar rumah
bhirang,  parang dan bhiris
ketiganya sejenis dengan parang yang biasa kita kenal dalam kehidupan sehari

Pengklasifikasian tersebut serupa dengan pengklasifikasian jenis-jenis keris pada masyarakat Jawa, semisal Lo` lima, pitu, rolas. Dan juga pengklasifikasian berdasarkan Pamor yang dimunculkan oleh keris tersebut, seperti wos utah, ngulit semangka dan lain sebagainya yang tentunya setiap karakteristik tersebut mempunyai sebuah tujuan tertentu. Seseorang yang menyandang takabuwen misalnya akan dipandang lebih berwibawa dibandingkan dengan hanya menyendang calo`. Hal senada seseorang yang meyandang keris Nagha Sasro Sabuk Inten akan dipandang sebagai orang yang sangat berwibawa, karena disamping memiliki tuah yang angker juga harga untuk sebilah Nagha Sasro Sabuk Inten sangatlah mahal, dan hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya. Di balik sebuah pengklasifikasin dan pelabelan sebuah benda terdapat nilai falsafi yang akan berpengaruh kembali pada benda tersebut juga, baik berupa fungsi, nilai estetik yang berimplikasi kepada nilai nomina  ataupun yang lainnya.


C.3 Cara Carok
No
Istilah
Makna
1
Ngongghei
pelaksanaan carok dengan cara mendatangi rumah musuh, cara  ini sangatlah menuntut keberanian dan persiapan yang matang dari pihak pelaku, karena jika pada akhirnya nanti ia ternyata kalah dan terbunuh dalam ungkapan orang Madura disebut “terater nyaba” (mengantar nyawa)
2
Nyélép
cara pelaksanaan carok yang dilakukan dengan cara menerkam musuh ketika ia lengah, cara ini sangtlah bertolak belakang dengan  cara ngonghei, cara ini meskipun kesannya pengecut (kerjhi`) tapi nyélép ini juga dibenarkan dalam etika carok apalagi yang hendak dibunuh adalah orang yang mempunyai kapasitas lebih tinggi, baik dari segi teknik, pagher, sekep maupun yang lainnya
3
Baruy
sebuah ungkapan yang menyatakan sebuah tindakan carok yang pelaksanaannya tertunda hingga batas waktu tertentu dari peristiwa pemicu carok muncul, biasanya dalam jangka waktu 40 hari, entah mengapa 40 hari yang dipilih bukan yang lain. Ternyata dalam angka 40 tersimpan sebuah siklus kehidupan yang diyakini oleh orang Madura
4
Bhunga
sebuah ekspresi kejiwaan yang menunjukkan rasa gembira (arti harfiah bhunga sendiri adalah gembira) setelah seorang anggota keluarga ataupun tetangganya berhasil memenangkan carok bahkan membunuh lawannya

C.4 Sesudah Carok 
No
Istilah
Makna
1
nabang
upaya hukum yang ditempuh pelaku carok guna memperringan sanksi hukuman yang ia akan jalani dengan cara merekayasa kronologis kejadian ataupun dengan menyuap kepada oknum aparat pengadilan atau kepolisian, ataupun dengan mengganti terdakwa dengan orang lain
2
oréng jago
seseorang yang telah berkali-kali atau pernah membunuh lawannya dalam carok
3
se kala
sebutan untuk orang yang kalah dalam carok atau mereka yang terbunuh sekalipun, mendapat julukan se kala
4
se menang
merupakan kebalikan dari se kala, orang yang memenangkan carok dan berhasil membunuh lawannya
5
jrangkong atau dhin-dhadhin
adalah arwah orang yang terbunuh dalam carok berupa jadi-jadian yang selalu berkeliaran pada malam hari, masyarakat mempercayainya sebagai arwah yang tidak diterima di sisi Tuhan dan ada yang menafsirkan sebagai tidakrelaan akan kematiannya, arwah yang gentayangan merupakan simbul arwah yang menyimpan dendam. Seakan-akan arwah tersebut menuntut keluarganya untuk balas dendam, oleh karenanya suatu perbuaatan carok tidak akan terputus walaupun terputus, itu hanyalah bersifat sementara
6
bhaung
 jenis jadi-jadian berbentuk binatang sebesar kambing berbulu hitam dan seolah-olah matanya bersinar dan menyorot tajam, bhaung merupakan rentetan dari dhin dhadhin yang tak kunjung reda ketika pada klimaksnya pihak keluarga yang ditinggal biasanya datang ke kubur korban dengan memanjatkan doa dan menaruh beberapa butir biji jagung dan dengan berucap “jek kaluaran mon gi`tak mareh mittong aria (bighinah jegung)”, yang berarti janganlah engaku keluar sebelum selesai menghitung biji-biji ini , dan biasanya setelah ritual tersebut dilakukan bhaung tersebut tidak akan menampakkan diri lagi
7
bala`,
semacam hukuman dari arwah leluhur, akibat tidak lagi menjaga warisan leluhurnya, baik dengan cara menelantarkannya hingga rusak maupun menjualnya, biasanya bala` berupa penyakit yang tak kunjung sembuh

D.Falsafah Linguistik di Balik Carok 
Perbedaan konsep, cara pandang tersebut akibat adanya faktor-faktor lain yang harus diperhitungkan, yaitu simbolisme budaya serta pesan-pesan yang harus diungkapkan dan dipahami maknanya sesuai dengan lingkungan sosial budaya suatu masyarakat. Simbol adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur : simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Ketiga hal ini merupakan dasar bagi semua makna simbolik (Spradley, terj : 1997, 32). Simbol disini adalah istilah-istilah penduduk asli (lokal, setempat). Sebuah rujukan adalah benda yang menjadi rujukan simbol. Rujukan dapat berupa apapun yang dapat dipikirkan dalam pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Hubungan antara sebuah simbol dengan sebuah rujukan adalah unsur ketiga dalam makna. Hubungan ini merupakan hubungan yang berubah-ubah yang di dalamnya rujukan disandikan dalam simbol itu, kita menyebutnya dengan makna referensial (Spradley, terj : 1997, 122).
Pada umumnya, masyarakat di luar etnis Madura cenderung mengartikan setiap bentuk kekerasan, baik berakhir dengan pembunuhan ataupun tidak yang dilakukan oleh orang Madura diterjemahkan sebagai Carok. Pada kenyataannya tidaklah demikian, konsep yang ada pada pikiran orang Madura mengenai carok adalah setiap kekarasan yang berakhir kepada kematian dan dilakukan oleh seorang laki-laki. Mereka juga tidak mengecam perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang tercela dan melanggar hukum dan tidak menyebut pelakunya sebagai pembunuh. Mereka menilainya sebagai perbuatan yang sepantasnya dilakukan oleh seorang laki-laki Madura “Mon lo` bangal acarok ajjha` ngako oréng Madhura”  yang berarti jangan mengaku orang Madura kalau tidak berani melakukan Carok.
 “Lokana daghing bisa éjhai`, lokana até tada` tambhana kajhabha ngéro` dara”dan juga ungkapan Mon lo` bangal acarok ajjha` ngako oréng Madhura”, sebuah ungkapan yang kiranya dapat merepresentasikan apakah sebenarnya nilai filosofis linguistik dari kata Carok. Dalam kata carok setidaknya terdapat lima unsur sebagai representasi kata tersebut, pertama; sebuah tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap orang laki-laki, kedua; harga diri, unsur inilah yang sebenarnya pemicu adanya carok, seorang Madura akan merasa dianggap mati (tidak ada artinya, mayat hidup) ketika harga dirinya dilecehkan, oleh karenanya satu-satunya solusi adalah carok “Tambhana malo maté” (obatnya rasa Malu adalah Mati, yaitu dengan membunuh). Ketiga; dorongan ego, keempat; justifikasi, baik berupa kultural maupun lingkungan sosial dan kelima; perasaan bangga.
Dalam unsur yang pertama ditemukan adanya unsur Gender Markers (Mc Connell-Ginet dalam Foley, 301) oleh karenanya tidak disebut sebagai Carok, ketika pembunuhan tersebut dilakukan oleh seorang perempuan orang Madura mengatakan “Oréng laké maté acarok, oréng bine` maté arémbi`” seorang perempuan hanya mati karena melahirkan tidak dengan melakukan carok. Secara umum carok hanya menempatkan sosok laki-laki dalam pelaksanaannya, mulai dari penyebutan blatér, rémo, seorang Kyai, dukun, pelaku carok dan lain sebagainya yang mengisaratkan adanya penerapan Gender Dexis (Foley : 1997, 299) di dalamnya.
Sebagai budaya, kekerasan cenderung selalu didistribusikan dari generasi ke generasi, baik dalam pola sosialisasi maupun dalam bentuk aktifitas-aktifitas yang bermakna ritual. Oleh karena itu dalam banyak masyarakat, kekerasan sering dianggap sebagai “sesuatu yang harus diterima” (Wiyata, 9). Keberlangsungan carok adalah adanya rasa dendam kusumat yang diwariskan oleh korban kepada anggota keluarganya, adanya konstruksi dan justifikasi budaya yang memposisikan carok sebagai satu-satunya solusi yang tidak tergantingan lagi untuk menyelesaikan persoalan, khususnya mengenai harga diri yang timbul dari rasa malo.

SIMPULAN DAN SARAN
Carok dapat digambarkan sebagai sebuah institusi yang mencerminkan monopoli pihak laki-laki sebagai pelaksana carok, jelas dalam kata carok tersimpan dexis gender yang hanya berlaku untuk seorang laki-laki, karena jika pelaku carok tersebut perempauan kata tersebut tidak dapat disematkan. Dalam tradisi carok terdapat beraneka ragam peristilahan yang satu sama lain mempunyai banyak kaitan, misalnya remo, dan seorang blatér, ngongghei dan nyélép.
Carok mengandung banyak unsur yang tidak dapat tergantikan dengan kata yang sejenisnya misalnya, kékét dalam kata tersebut tidak terdapat dexis gender maupun gender marker, karena bisa saja kata tersebut disandangkan kepada pelaku perempuan. Diantara kelima unsur tersebut yang paling dominan adalah persoalan harga diri. Disamping banyak lagi cakupan peristilahan yang lainnya. Dan juga dalam carok terdapat implikasi Cacca dan Korok (Carok) , yang bermakna membunuh dengan mencacah dan menggorok leher musuh, yang tidak dimiliki oleh kékét.

DAFTAR RUJUKAN
Barnouw, Victor. 1990. “Penelitian Lintas Budaya Mengenai Kepribadian dalam Pokok-Pokok Antropologi Budaya”, PT. Gramedia, Jakarta
Foley, William A. .2001. ”Anthropological Linguistics An Introductian”, T.J International Limited, Padstow, Cornwall
Holmes, Janet. 1995. “An Introduction to Sociolinguistics”, Logman Group, Malaysia
Jonge, Huub de, 1989 “Madura dalam Empat Zaman, terj”, PT. Gramedia, Jakarta
Palmer, Gaby B. .1996. “Toward A Theory of Cultural Linguistics”, Uiversity of Texas Press, Austin
Richards, Jack dkk. 1985. “Logman Dictionary of Applied Linguistics”, Ricahard Clay, England
Soradley, James P. .1997. “Metode Etnografi, terj”, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta      
Wiyata, Latief. 2006. “Carok Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura”, LkiS,    Yogyakarata