Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI POKOK “TEKS BACAAN” MELALUI METODE PEMBELAJARAN ROLE PLAYING SISWA KELAS V SDN LEDOKOMBO Hadi Suwarno

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI POKOK “TEKS BACAAN” MELALUI  METODE PEMBELAJARAN ROLE PLAYING SISWA KELAS V  SDN LEDOKOMBO 

Hadi Suwarno

Abstrak: Pemahaman dan penghayatan  materi pembelajarn itu penting, Role Playing mendukung hal tersebut.  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas  (PTK) ini adalah untuk  Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia MateriPokok “Teks Bacaan” Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, dengan langkah-langkah: Perencanaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi dan Rerfleksi .  Hasil penelitian menunjukkan Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia materi pokok “Teks Bacaan” .

         Kata Kunci : Hasil Belajar  dan  Pembelajaran Role Playing


PENDAHULUAN
Dalam suatu proses belajar mengajar ada beberapa komponen yang selalu terkait dan tidak bisa dipisahkan, yaitu media pengajaran, prosedur didaktif (metode), materi pelajaran dan lain-lain. Semua komponen tersebut harus terpadu dan serasi agar tercipta suasana belajar mengajar yang menyenangkan, akhirnya terwujud suatu hal apa yang dinamakan dengan hasil belajar yang berbobot dan berkualitas (Winkel, 1991: 177).
Supaya pembelajaran Bahasa Indonesia sesuai dengan tujuan yang diharapkan berupa pemahaman yang mendalam dan berantai dari siswa, diperlukan suatu pendekatan. Guru berperan penting dalam hal ini, dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan bekal pengalaman yang dimiliki, sebaiknya seorang guru haruslah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan pembelajaran, mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis (Baradja, MF.,1990).
Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan prosedur didaktif sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dalam penggunaan metode atau prosedur didaktif terkadang seorang guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak didik mempengaruhi penggunaan metode. Bervariasinya metode juga dapat menyulitkan guru. Sebagai cara untuk tercapainya tujuan intruksional dari pembelajaran Bahasa Indonesia maka perlu adanya pemilihan penggunaan metode yang terbaik agar siswa merasa tertarik untuk mempelajari mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagaimana mestinya.
Pembelajaran dengan role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Metode ini banyak melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar serta metode ini mempunyai nilai tambah, yaitu: a) dapat menjamin poartisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerjasama hingga berhasil, dan b) permainan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa (Endraswara, 2005:72).
Pembelajaran dengan role playing merupakan suatu aktivitas yang dramatik,biasanya ditampilkan oleh sekelompok kecil siswa, bertujuan mengeksploitasi beberapa masalah yang ditemukan untuk melengkapi partisipasi dan pengamat dengan pengalaman belajar yang nantinya dapat meningkatkan pemahaman (Endraswara, 2005: 74).
Menurut Mulyasa (2005:43) pembelajaran dengan role playing ada tujuh tahap yaitu pemilihan masalah, pemilihan peran, menyusun tahap-tahap bermain peran, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, diskusi dan evaluasi serta pengambilan keputusan. Pada tahap pemilihan masalah, guru mengemukakan masalah yang diangkat dari kehidupan peserta didik agar mereka dapat merasakan masalah itu dan terdorong untuk mencari penyelesaiannya. Tahap pemilihan peran memilih peran yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, mendeskripsikan karakter dan apa yang harus dikerjakan oleh para pemain. Selanjutnya  menyusun tahap-tahap bermain peran. Dalam hal ini guru telah membuat dialog tetapi siswa bisa menambah dialog sendiri. Tahap berikutnya adalah menyiapkan pengamat. Pengamat dari kegiatan ini adalah semua siswa yang tidak menjadi pemain atau pemeran. Setelah semuanya siap maka dilakukan kegiatan pemeranan. Pada tahap ini semua peserta didik mulai bereaksi sesuai dengan peran masing-masing sesuai yang terdapat pada skenario bermain peran.
Dalam hal ini guru menghentikan pada saat terjadinya pertentangan agar memancing permasalahan agar didiskusikan. Masalah yang muncul dari bermain peran, dibahas pada tahap diskusi dan evaluasi. Role playing disebut juga metode sosiodrama. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial (Djamarah dan Zain, 2002:56).
            Berdasarkanlatar belakang dan identifikasi masalah, maka peneliti kemukakan bahwa permasalahan sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Pokok “TeksBacaan” MelaluiPenerapanMetodePembelajaran Role Playing SiswaKelas V  SDN Ledokombo  03?
            Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas  (PTK) ini adalah untuk  Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia MateriPokok “Teks Bacaan” Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing SiswaKelas V  SDN Ledokombo  03.
            Penelitian Tindakan Kelas ini, diharapkan bermanfaat, bagi siswa, bagi guru, dan sekolah, sebagaiberikut :
a)    Bagipeneliti, dapat di jadikansebagaisalahsatumetodePembelajaran Role Playing untuk memperluas wawasan tentang disiplinilmu yang di tekuni;
b)    Bagi guru, sebagai bahan masukan dalam menentukan metode pembelajaran Role Playing dalam rangka meningkatkan kualitas proses belajar mengajar khususnya matapelajaran Bahasa Indonesia;
c)    Bagilembaga pendidikan dan sekolah yang terkait, di harapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran demi peningkatan mutupendidikan, khususnya perbaikan pembelajaran dalam bidang studi Bahasa Indonesia;
d)    Bagipenelitianlain, dapat bermanfaat sebagai referensi dalam kegiatan penelitian yang sejenis.

METODE PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Ledokombo 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Subyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa Kelas V Di SD Negeri Ledokombo 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menggunakan metode Pembelajaran Role Playing. Menurut Mulyana (2005:43) bahwa pembelajaran dengan role playing ada tujuh tahap yang harus diperhatikan, yaitu: 1) Pemilihan masalah, 2) Pemilihan peran, 3) Menyusun tahap-tahap bermain peran, 4) Menyiapkan pengamat, 5) Tahap pemeranan, 6) Diskusi dan evaluasi, 7) Pengambilan keputusan. Dalam hal ini pembelajaran bahasa Indonesia kelas V materi pokok “ Teks Bacaan”.
Penelitian ini berbentuk tindakan yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru wali kelas V.  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merekflesi. Menurut tim pelatih proyek PGSM (1999:7), keempat Fase dalam satu siklus sebuah PTK digambarkan dengan sebuah spiral PTK, seperti ditunjukkan pada gambar berikut :

Setiap tahap dari kegiatan yang dilakukan dalam PTK akan terus berulang, sampai motivasi belajar siswa meningkat. Pada penelitian ini, peneliti hanya membatasi pelaksanaan penelitian dengan dua siklus karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti diantaranya : biaya, waktu dan tenaga.
Apabila sampai dua siklus hasil Penelitian masih menunjukkan motivasi belajar siswa rendah, maka penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh peneliti sendiri bila ada kesempatan atau dilanjutkan oleh peneliti lain.
Sesuai dengan gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins, penelitian ini terdiri dari 4 fase, yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat Fase tersebut adalah sebagai berikut :

1)    Perencanaan
Kegiatan yang akan ditakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
a.   Menetapkan dan memilih Materi Pokok "Teks Bacaan" yang dijadikan bahan dalam pelaksanaan penelitian.
b.   Membuat skenario pembelajaran yang terdiri dari program perencanaan pembelajaran Materi Pokok " Teks Bacaan."
c.   Membuat alat bantu mengajar berupa metode pengajaran yaitu metode Role Playing.
d.   Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai sikap siswa pada saat peneliti mengaplikasikan metode mengajar dengan menggunakan alat bantu mengajar yang berupa metode Pembelajaran Role Playing.
Penyusunan program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran dengan kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum SD yang sedang berlaku. Program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran digunakan pada tahap tindakan.


2) Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan tindakan pengajaran berdasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Tindakan tersebut difokuskan pada respon siswa terhadap materi yang disampaikan guru dengan menggunakan metode Role Playing Pada tahap ini peneliti melakukan dua tindakan yaitu :

Tindakan siklus I :
Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media gambar diam. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan alokasi waktu 2 X 35 menit. Kegiatan inti dilakukan selama 45 menit dan sisa. waktu ±15 menit digunakan untuk mengerjakan soal. Peneliti melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tindakan siklus II :
Peneliti tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode Role Playing. Pelaksanaan pembelajaran melanjutkan pokok bahasan pada tindakan siklus I. Pada tindakan siklus II peneliti juga melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Metode yang digunakan selama kegiatan belajar mengajar adalah metode Role Playing. Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, peneliti memantau langsung kegiatan belajar siswa mulai dari awal sampai akhir. Sebelum jam pelajaran selesai ±30 menit, peneliti memberikan tugas yang berupa soal-soal untuk dikumpulkan pada saat jam pelajaran berakhir.

3)    Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai motivasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah :
- Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
- Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya.
- Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
- Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
- Rasa senang dalam mengerjakan  tugas yang diberikan.

4)    Refleksi
Tahap Refleksi dilakukan untuk mengkaji kembali basil tindakan  dan basil observasi, yang kemudian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan kemudian. Dengan melakukan refleksi peneliti mengetahui kekurangan-kekurangan apa yang perlu diadakan  tindakan perbaikan.

Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam setiap penelitian dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam penelitian ini metode yang digunakan meliputi tes observasi, dukumentasi dan wawancara.
Salah satu cara untuk mengetahui tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap suatu materi pelajaran diperlukan alat ukur yang berupa tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes akhir (post tes) dan ujian blok dalam bentuk obyektif dan subyektif. Tes akhir digunakan untuk mengetahui hasil belajar yang diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran, sedangkan ujian blok adalah ujian yang dilaksanakan setelah kompetensi dasar selesai. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dari aspek kognitif. Tes yang digunakan mengacu pada validasi isi, yaitu adanya kesesuaian antara tes dengan materi yang telah diajarkan. Nilai akhir siswa diperoleh dari :
NA = 0,25 NK + 0,75 NB
Keterangan :
NA = Nilai akhir
NK = Rata-rata nilai kelas (post tes)
NB = Nilai ujian blok
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan jalan mencatat secara sistematika dan fenomena-­fenomena yang diselidiki. Observasi dilaksanakan antara lain untuk mengetahui tentang keadaan atau lokasi sekolah, proses pembelajaran didalam kelas, serta sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang­-barang tertulis, jadi metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, maja!ah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Berdasarkan itu dapat disimpulkan bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data melalui sumber-­sumber dokumen yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku atau dalam bentuk lain.
Adapun sumber data yang diperlukan dalam penentuan ini adalah :
a.    Nama responder penelitian.
b.    Daftar nilai ulangan harian materi sebelumnya.
Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung dengan orang yang diwawancarai tanpa melalui perantara. Sedangkan wawancara tidak langsung pewancara dan orang yang diwawancarai tidak bertemu secara langsung melainkan melalui perantara.
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana peserta didik dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dengan mengetahui apakah mereka tertarik dengan metode pembelajaran tersebut. Wawancara juga dilakukan dengan guru Bahasa Indonesia untuk mengetahui pendapat guru tentang penerapan metode kerja kelompok dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Wawancara dilakukan setelah penulis melakukan penelitian.

Metode Analisis Data
Metode Analisis merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak relevan.
Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bersifat eksploratif atau developmental. Dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk angka dan data kuantitatif yang dinyatakan dengan kata-kata atau simbol. Analisis deskriptif menggambarkan bahwa dengan tindakan yang dilakukan dapat menimbulkan adanya perbaikan, peningkatan dan perubahan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Data yang bersifat kualitatif, disisihkan untuk sementara karena sangat berguna untuk melengkapi gambaran yang diperoleh dan analisis data kuantitatif. Selain menggunakan metode analisis statistik deskriptif .
Meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah di ukur dari nilai ketuntasan belajar siswa dengan standar nilai 65 secara individual dapat dikatakan telah tercapai ketuntasan dalam belajar khusunya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Secara klasikal mencapai ketuntasan 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pengaruh metode bermain peran dalam meningkatkan hasil belajar, peran penting metode ini untuk mencapai tujuan pembelajaran serta keberhasilan sebuah mata pelajaran Bahasa Indonesia terutama keberhasilan penguasaan materi pelajaran oleh siswa akan sangat ditentukan oleh seberapa baik seorang guru menerapkan metode mengajarnya di kelas maupun di luar kelas.
Pada saat menggunakan Pembelajaran Metode Role Playing siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya.
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan Pembelajaran Metode Role Playing dapat membuat siswa semangat dan belajar dengan senang tanpa ada unsur keterpaksaan selain itu materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan sangat menarik karena terkait dengan realitas yang ada pada saat sekarang, siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar.
Alasan ketertarikan terhadap model pembelajaran ini belum pernah diterapkan, mudah mengingat materi. Metode ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar. Berkaitan dengan hasil belajar akan dijelaskan lebih lanjut.
Pada pertemuan pertama dan ke dua pembelajaran Bahasa Indonesia menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar Mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil belajar Bahasa Indonesia pembelajaran Non Pembelajaran Metode Role Playing dapat diketahui rata-rata hasil belajar Bahasa Indonesia Siswa sebesar 55 dan ketuntasan belajar Siswa secara klasikal dikatakan tidak tuntas karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 Siswa dengan persentase 45 % dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 11 Siswa dengan nilai persentase sebesar 55%.
Hasil belajar Mata pelajaran Bahasa Indonesia, di lihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran materi tersebut di atas. Adapun data hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Ledokombo  Pada Kondisi Awal, Siklus I, Siklus II Sebagai Berikut:
Kriteria
Sangat Aktif (%)
Aktif (%)
Kurang Aktif (%)
Tidak Aktif (%)
Jumlah Siswa (%)
Kondisi Awal
7 (35%)
5 (25%)
5 (25%)
3(15%)
20 (100%)
Siklus I
9 (45%)
6 (30%)
3 (15%)
2 (10%)
20 (100%)
Siklus II
12 (60%)
7 (35%)
1 (5%)
0 (0%)
20 (100%)
Sumber : data yang diolah
            Berdasarkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V di SDN Ledokombo 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan Metode Pembelajaran Role Playing pada kondisi awal, siklus I, siklus II, maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai kondisi awal dari sangat aktif 7 siswa (35%), aktif dari 5 siswa (25%), kurang aktif dari 5 siswa (25%), tidak aktif dari 3 siswa (15%) maka pada kondisi awal kriteria keaktifan di nyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan di lakukan analisis berikutnya yaitu pada siklus I dengan Metode Pembelajaran Role Playing maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai Siklus I dari sangat aktif 9 siswa (45%), aktif dari 6 siswa (30%), kurang aktif dari 3 siswa (13%), tidak aktif dari 2 siswa (10%) maka pada siklus I kriteria keaktifan di nyatakan tuntas belajar.
            Untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih menggembirakan,  peneliti  perlu melakukan analisis pada siklus II dengan Metode Pembelajaran Role Playing, maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai Siklus II dari sangat aktif 12 siswa (60%), aktif dari 7 siswa (35%), kurang aktif dari 1 siswa (5%), tidak aktif dari 0 siswa (0%) maka pada siklus II kriteria keaktifan di nyatakan tuntas belajar sangat signifikan. Dengan demikian ketuntasan belajar dapat di capai pada siklus I dan siklus II dengan melalui Metode Pembelajaran Role Playing selanjutnya untuk memperoleh perbandingan keaktifan hasil belajar dapat di lihat grafik di bawah:




 Grafik I. Perbandingan Prosentase Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Ledokombo 03.  Pada Kondisi awal, Siklus I, Siklus II Sebagai Berikut :
 












Sumber Data Penelitian yang diolah

Pembahasan
Rendahnya nilai rata-rata kelas juga menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hal ini juga mendasari pemilihan responder penelitian. Kondisi semacam ini juga terjadi pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Berdasarkan rata-rata kelas pada kondisi awal memperoleh rata-rata kelas 56 dan nilai ketuntasan hasil belajar sebesar 44%, hal ini berarti rata-rata kelas Bahasa Indonesia tergolong rendah sehingga perlu diadakan tindakan untuk perbaikan proses belajar mengajar.
Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan siswa hanya sebagai obyek penerima materi. Sehingga siswa kurang aktif dan kurang produktif karena cenderung bersifat pasif. Di samping itu juga karena kurangnya minat untuk belajar Bahasa Indonesia. Apa lagi sejak awal sudah berpandangan Bahasa Indonesia itu sulit.
Berdasarkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V di SDN Ledokombo 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan Metode Pembelajaran Role Playing pada kondisi awal, siklus I, siklus II, maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai kondisi awal dari sangat aktif 7 siswa (35%), aktif dari 5 siswa (25%), kurang aktif dari 5 siswa (25%), tidak aktif dari 3 siswa (15%) maka pada kondisi awal kriteria keaktifan di nyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan di lakukan analisis berikutnya yaitu pada siklus I dengan Metode Pembelajaran Role Playing maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai Siklus I dari sangat aktif 9 siswa (45%), aktif dari 6 siswa (30%), kurang aktif dari 3 siswa (13%), tidak aktif dari 2 siswa (10%) maka pada siklus I kriteria keaktifan di nyatakan tuntas belajar.
            Untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih menggembirakan,  peneliti  perlu melakukan analisis pada siklus II dengan Metode Pembelajaran Role Playing, maka analisis kriteria keaktifan di peroleh nilai Siklus II dari sangat aktif 12 siswa (60%), aktif dari 7 siswa (35%), kurang aktif dari 1 siswa (5%), tidak aktif dari 0 siswa (0%) maka pada siklus II kriteria keaktifan di nyatakan tuntas belajar sangat signifikan.
            Hasil belajar melalui Metode Role Playing yang diberikan pada observer dengan maksud untuk membantu peneliti mengamati dan menilai proses belajar mengajar pada awal hingga akhir proses pembelajaran, mendapatkan penilaian positif dan adanya peningkatan hasil belajar yang di capai siswa kelas V di SDN Ledokombo 03 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.
Beberapa bentuk soal yang diberikan kepada siswa adalah bentuk essay, bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran/kompetensi yang ingin dicapai serta adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara dan daya sendiri.
Hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu hasil belajar mencapai rata-rata nilai 72 Pada siklus I. Sedangkan hasil belajar diperoleh nilai rata-rata hasil belajar pada siklus II sebesar 89 dan nilai rata-rata hasil belajar diperoleh nilai 100. Pada siklus I dan II dapat dikatakan siswa Tuntas Belajar,  sudah mulai memahami atau membiasakan pembelajaran dengan Pembelajaran Role Playing.
            Kusmawa (1998:1) bahwa melalui proses pembelajaran ini para siswa akan mampu menjadi aktif produktif, pemikir yang handal dan mandiri. Siswa dirangsang untuk mampu menjadi seorang eksplorer – mencari penemuan terbaru, inventor pengembangan ide/gagasan dan pengujian baru yang inovatif, desainer, mengkreasi rencana dan model terbaru, pengambilan keputusan – berlatih bagaimana menetapkan keputusan yang bijaksana, dan sebagai komunikator – mengembangkan metode dan teknik untuk bertukar pendapat dan berinteraksi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, dapat disimpulkan, sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Pokok “Teks Bacaan” Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Siswa Kelas V  SDN Ledokombo. . Sehingga melalui pembelajaran Role Playing maka hasil belajar siswa lebih meningkat dan adanya kemajuan.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor, maka penulis memberi saran sebagai berikut :
a)    Sebaiknya siswa lebih berani untuk tampil memerankan tokoh pada teks cerita dengan kata-kata dan kalimat yang benar, serta dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b)    Kegiatan seperti ini akhirnya siswa akan menjadi terampil Berbahasa Indonesia, berkomunikasi dan memahami dengan mudah pengetahuan Bahasa Indonesia dalam  membuat teks cerita.
c)    Kebiasaan menulis teks cerita akan melatih siswa dalam perbendaharaan bahasa menjadi lancar dalam berkomunikasi dengan teman lainnya.

DAFTAR RUJUKAN                                 
Baradja, MF. (1990) Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang. IKIP
Denny Setiawan, dkk.(2006). Komputer dan Sumber Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.
Depdikbud (1994) Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Kelas VI. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Endraswara. (2005).  Metode dan Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Buana Pustaka
Mulyasa (2005). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosda Karya.
Nurhadi. (1987). Kapita Selekta Kajian Bahasa, sastra dan Pengajarannya. Malang: IKIP
Tim KBBI, (1988).Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Puji Santosa, dkk.(2006). Pengetahuan dan Apresiasi Sastra. Ende Flores: Nusa Indah.
Rene wellek,(1989). Teori Kesusastraan (Trj. Melani B.).. Jakarta : Gramedia
Riris K. Toha dan Sarumpaet(1976) Bacaan Anak. Jakarta: Pustaka Jaya .
Surana,(2004). Aku Cinta Bahasa Indonesia, Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia : Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Winkel. 199I. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.