Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI AJAR “KEGUNAAN BENDA DI LINGKUNGAN SEKITAR” MELALUI PEMBELAJARAN METODE INQUIRY DAN MODEL TEMATIK SISWA KELAS I SD NEGERI SUMBERLESUNG 01 Lina Siswati

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA  MATERI AJAR “KEGUNAAN BENDA DI LINGKUNGAN SEKITAR” MELALUI PEMBELAJARAN METODE INQUIRY DAN MODEL TEMATIK SISWA KELAS I SD NEGERI SUMBERLESUNG 01

Lina Siswati

Abstrak: Metode inquiry salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri Penelitian  ini bertujuan untuk meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Ajar “Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar” Melalui Pembelajaran Metode Inquiry dan Model Tematik Siswa Kelas I SD Negeri Sumberlesung 01. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, langkahnya adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi,  dan refleksi.  Metode pengumpulan data  menggunakan observasi, wawancara dan test. Hasil penelitian, berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian sebagai berikut: Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Ajar “Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar” Melalui penerapan Pembelajaran Metode Inquiry dan Model Tematik  pada Siswa Kelas I SD Negeri Sumberlesung 01 .

                          Kata Kunci: Hasil Belajar, Pendekatan Inquiry dan Model Tematik


PENDAHULUAN
Perkembangan tujuan pendidikan pada umumnya berupa peningkatan yang berorientasi pada teknik, metode dan model dikreasikan melalui cara yang lebih kreatif, inovatif, dan partisipatif serta berguna bagi perkembangan hasil belajar peserta didik. Tugas guru adalah memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan situasi di dalam kelas. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Metode inquiry salah satu strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapatkan jawabannya sendiri. Metode pembelajaran ini dalam penyampaian bahan pelajarannya tak dalam bentuk final dan tak langsung. Artinya, dalam metode inquiry peserta didik sendiri diberi peluang untuk mencari, meneliti dan memecahkan jawaban, menggunakan teknik pemecahan masalah.
Pendekatan dan strategi pembelajaran saat ini diharapkan lebih menekankan agar siswa dipandang sebagai subjek belajar. Konsep ini bertujuan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah, siswa ‘bekerja’ dan mengalami, bukan berupa transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pendidikan tak lagi berpusat pada lembaga atau pengajar yang hanya mencetak lulusan kurang berkualitas, tapi berpusat pada peserta didik.
Pendekatan inquiry adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri.
Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian, ketepatan dan kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, siswa akan terlibat dalam kegiatan inquiry dengan melalui 5 fase ialah:
-       Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti.
-       Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.
-       Fase 3 : siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh hubungan sebab akibat.
-       Fase 4 : merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal.
-       Fase 5 : melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah pada mencari sebab akibat ( Anitah, Sri.W, 2007;  Rahman, 2007).
            Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Inquiry, merupakan perluasan dari discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya: Merumuskan problema, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan dan sebagainya.
Salah satu metode pembelajaran dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry. Inquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan (Trianto, 2007:135).
Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistic dan membuat kesulitan bagi peserta didik. Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi standar isi yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik.
Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.
Alasan rasional penggunaan metode inquiry dan pembelajaran tematik adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai Ilmu Pengetahuan Alam dan akan lebih tertarik terhadap Ilmu Pengetahuan Alam jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” Ilmu Pengetahuan Alam. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut  (Blosser dalam Sutrisno: 2008).
Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Ilmu Pengetahuan Alam dan Sains (Haury dalam Sutrisno: 2008). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Ilmu Pengetahuan Alam saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.
Selanjutnya, Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik merupakan metode dan pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah (Sutrisno: 2008). Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar.
Sebagai model pembelajaran dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini siswa didorong untuk berfikir sendiri, sehingga dapat “menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan oleh guru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.
Dengan metode ini, siswa dihadapkan kepada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam “menemukan” pengetahuan baru tersebut.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam idealnya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) unfuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Ilmu Pengetahuan Alam berhubungan dengan cara mencari tahu tentang pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Tematik adalah pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa pelajaran dalam satu tema/topik pembahasan.
Ilmu Pengetahuan Alam diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah­masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan Ilmu Pengetahuan Alam perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan (Sutarno, N, dkk, 2007)..
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Ilmu Pengetahuan Alam di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan bekerja ilmiah dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru (Depdiknas, 2006)..
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Ajar “Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar” Melalui Pembelajaran Metode Inquiry dan Model Tematik Siswa Kelas I SD Negeri Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012?
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan mengkaji tentang: Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Ajar “Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar” Melalui Pembelajaran Metode Inquiry dan Model Tematik Siswa Kelas I SD Negeri Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012.
Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas sebagai berikut :
a)    Siswa, dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan dengan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik
b)    Kepala Sekolah, diharapkan dapat lebih meningkatkan pembinaan baik terhadap guru sebagai tenaga pengajar agar dapat memilih, merancang dan menggunakan metode pengajaran yang tepat, lebih-lebih terhadap siswa harus lebih ekstra dalam memberi pembinaan agar nantinya dapat menghasilkan siswa yang lebih bermutu.
c)    Guru, dapat memberikan wahana interaksi antara siswa juga terlatih untuk menggunakan dan memanfaatkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang baik dan benar.


METODE PENELITIAN
Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas I SDN Sumberlesung 01 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember  yang berjumlah 44 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah, langkah penelitiannya  tiap siklus adalah adalah: perencanaan, pelaksanaan , observasi dan refleksi, digambarkan sebagai berikut:

Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang di gunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto,, 1993:136). Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat di gunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara, tes dan angket.
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Analisa data pada penelitian ini adalah deskriptif, kualitatif terhadap data yang didapat dari hasil wawancara, observasi, tes dan angket.
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)    Penerapan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang meliputi :
a.   Tanggapan siswa mengenai Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar yang diperoleh dari hasil interview.
b.   Kesulitan yang dihadapi dan kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengerjakan soal Ilmu Pengetahuan Alam  yang diperoleh dari hasil interview.
2)    Aktifitas siswa selama proses belajar mengajar yang semuanya diperoleh dari hasil observasi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah dibuat sebelumnya. Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Pembuatan RPP, alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lernbar observasi, panduan wawancara dan persiapan latihannya (catatan bebas, maupun mempersiapkan deskripsi tugas penelitian).
Pada tahap itu juga dilakukan pelatihan dahulu pada semua pelatihan dan pada semua peneliti (guru dan guru yang membantu). Pelatihan ini dimaksudkan agar peneliti dapat melakukan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik, target yang diharapkan dalam pelatihan ini agar guru bisa memanfaatkan kemampuannya untuk membuat media pembelajaran yang lain yang berkaitan dengan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik.
Dalam merancang kegiatan pembelajaran yang menggunakan menggunakan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik harus diupayakan sesempurna mungkin sehingga hasilnya dapat mencapai target sesuai yang diharapkan atau dapat memperoleh hasil yang maksimal.
Semua bahan dan alat-alat yang dibutuhkan harus dipersiapkan secara sempurna dengan tujuan dalam pelaksanaan secara teknis nanti tidak ada kendala atau mengalami kegagalan. Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya adalah alat peraga berupa benda – benda di lingkungan sekitar.
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajar materi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sesuai rencana yang telah dipersiapkan dalam kegiatan ini, guru lebih banyak menggunakan media dan ditunjang dengan metode diskusi, pemberian tugas dan tanya jawab kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan proses pernbelajaran dan juga penalaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa.
Langkah-langkah dalam pembelajaran pertama-tama guru menjelaskan ruang lingkup materi kemudian guru mempresentasikan materi Ilmu Pengetahuan Alam (Pokok bahasan  : Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar) proses penjelasan dilakukan secara tahap demi tahap dengan disertai suara yang jelas yang dapat didengar oleh siswa.
Langkah selanjutnya guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mendiskusikan materi yang baru saja diberikan atau dipresentasikan. Setelah proses diskusi selesai, siswa diberi tugas menyebutkan dampak gerhana bulan dan gerhana matahari. Pada saat itu pula guru menunjuk beberapa anggota kelompok untuk menjelaskan tentang gerhana bulan dan gerhana matahari. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dan seluruh siswa dapat mengetahui Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar.
Kegiatan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajarkan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik. Keterampilan guru yang diamati tidak hanya berkaitan dengan keterampilan praktek tetapi juga kemampuan dalam memberikan penjelasan Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar.
Obeservasi juga dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa selama melakukan eksperimen mengikuti proses pembelajaran. Kegiatan dilakukan oleh peneliti dan pembantu peneliti.
Selain lembar observasi, peneliti juga menggunakan catatan bebas untuk mencatat segala peristiwa yang terjadi saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Catatan bebas utamanya untuk mencatat aktivitas yang tidak tercatat pada saat observasi . Disamping ini peneliti juga memberikan tes baik secara formal maupun non formal. Untuk mengetahui tingkat pemahaman anak tentang konsep-konsep Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang telah dibahas.
Pada saat refleksi peneliti mengadakan analisis, interprestasi dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, seperti kegiatan observasi, hasil dari catatan bebas, hasil wawancara, angket dan hasil test. Semua kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Beberapa kegiatan yang dianalisis, diinterprestasi dan dievaluasi meliputi:
a)    Aktivitas guru dalam menggunakan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik
b)    Efektifitas pembelajaran melalui Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik
c)    Peran pembantu peneliti (guru) dalam membantu melakukan observasi.
d)    Prestasi siswa
e)    Aktifitas belajar siswa tentang Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik
Pada suatu permulaan, suasa kelas sedikit agak gaduh. Siswa masih merasa ragu / asing terhadap Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik.
Ketidakstabilan kelas ini terjadi karena siswa masih heran dan bingung dalam melakukan praktek. Dan siswa berbicara sendiri dan guru masih nampak gugup dalam mengajar karena masih tahap permulaan.
Aktifitas guru (peneliti) dan pembantu peneliti dalam melakukan pembelajaran, utamanya dalam melakukan observasi terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran masih nampak kesulitan. Hal ini disebabkan karena banyaknya lembar observasi yang harus dipakai oleh peneliti baik yang bersifat individu maupun kelompok. Dari analisis catatan bebas, bahwa beberapa permasalahan tersebut. Dari hasil catatan bebas bahwa partisipasi siswa masih didominasi oleh siswa tertentu. Kurangnya partisipasi, karena siswa yang lain masih nampak malu dan bahkan takut mengemukak'an pendapat.
Selama kegiatan ini aktivitas peneliti menjadi sangat sibuk, karena disamping harus membantu siswa dalam kegiatan pembelajaran, juga harus mengamati aktivitas siswa yang lain yang mengerjakan presentasi.
Permasalahan yang dihadapi peneliti kurang lebih sama dengan yang dihadapi oleh guru itu masih susah mengadakan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran baik berkenaan dengan alat maupun keterampilan dalam menggunakan alat observasi itu sendiri juga karena suasana kelas masih tampak gaduh.
Hasil wawancara peneliti dengan beberapa siswa tentang implementasi Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik sangat menambah aktivitas belajar mereka. Mereka merasa termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran yang berbeda dengan proses sebelumnya, mereka merasa lebih jelas dalam memahami persoalan Ilmu Pengetahuan Alam  tidak seperti pembelajaran sebelumnya, keberanian mereka bertanya dan merespon pertanyaan yang diajukan guru lebih tampak. Hal ini dibenarkan oleh beberapa siswa yang kita wawancarai. Pada hasil analisa data kondisi awal diperoleh nilai < 65 sebanyak 20 siswa dengan prosentase 45%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 siswa dengan prosentase 55%, dengan kondisi ini belum tuntas belajar.
Kemudian analisa berikutnya dilaksanakan kegiatan pada siklus I peneliti pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ,menggunakan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik. Hal ini ditandai dengan hasil analisis data siswa dan juga hasil daya serap siswa, ada hal-hal yang harus disampaikan kepada siswa berkaitan dengan penerapan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik adanya peningkatan pada siklus I. Untuk melihat hasil analisis data pada ketuntasan pada siklus I dapat di lihat tabel dibawah ini.

Tabel. Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa kelas I SDN Sumberlesung 01
Kriteria
Siswa
Prosentase (%)
 < 65
12
27%
65 – 100
32
73%
Total
44
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada siklus I, diperoleh nilai < 65 sebanyak 12 siswa dengan prosentase 27%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa dengan proserntase 73%, maka hasil analisa data siklus I dinyatakan tuntas belajar secara klasikal, dalam hal ini akan dijelaskan pada kegiatan dibawah ini.
Deskripsi hasil penelitian selanjutnya sebagai berikut :
1. Perencanaan
Setelah menganalisis hasil belajar kegiatan pada Siklus I, tuntas belajar secara klasikal, maka perlu diadakan perbaikan analisis data berikutnya  agar hasil yang diharapkan lebih baik. Pada tahap ini semua persiapan dilakukan berdasarkan beberapa kelemahan yang terjadi pada Kondisi Awal untuk itu ada beberapa perencanaan ulang yang perlu dilakukan. Hal ini baik yang berkaitan dengan aktivitas peneliti, peran siswa maupun yang berkenaan dengan alat, untuk meningkatkan keterampilan dalam menggunakan alat, guru mengadakan diskusi untuk mengatasi kelemahan yang terjadi pada Kondisi Awal, selain itu peneliti yang akan melibatkan siswa diajak berdiskusi tentang beberapa kelemahan yang terjadi, sehingga dapat menyebabkan kesulitan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Setelah peneliti mengkaji dan mengevaluasi kembali semua perangkat pembelajaran. Kemudian peneliti akan berupaya menyederhanakan dan menyesuaikan proses dengan kondisi yang ada, perangkat dan pendekatan pembelajaran agar dapat mempemudah dalarn menerapkan kembali kegiatan pembelajaran.
Disamping itu peneliti juga akan mewawancarai tiga orang siswa untuk mendiskusikan tentang hasil kegiatan belajar yang diikuti selama ini, mereka terdiri dari seorang nilai tinggi, seorang nilai sedang dan seorang dengan nilai kurang/rendah.
Pada tahap ini peneliti melakukan segala rencana seperti yang telah mendiskusikan sebelumnya pertama-tama guru diberikan teknik mengatur alat, menerangkan dan mengawasi siswa, peneliti juga mengadakan wawancara pada beberapa siswa diminta keterangan tentang guru mengajar, alat, maupun materi yang diajarkan guru, juga menanyakan pada mereka tentang kesulitan maupun kemudahan dalam mengikuti Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik.
Setelah melaksanakan aktivitas diatas, selanjutnya guru melaksanakan kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Pada setiap akhir pembelajaran, guru mengadakan past-test. Selain itu pada setiap akhir pokok bahasan guru juga mengadakan ulangan harian.
Pada kegiatan ini ada beberapa yang diamati yaitu :
a) Aktifitas guru,
b) Aktivitas siswa
Selama mengikuti proses pembelajaran eksperimen mengamatl proses siswa selama mengerjakan tugas individu maupun tugas kelompok maupun pada saat mereka mengerjakan test diakhir proses pembelajaran.
Peneliti juga membuat catatan untuk mengcover beberapa peristiwa yang tidak terekam dalam kegiatan observasi yang telah dipersiapkan, selain itu peneliti juga menyebar angket dan mengadakan wawancara kepada beberapa siswa.
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis dan evaluasi pada Kondisi Awal terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya, seperti hasil kegiatan, hasil catatan, hasil wawancara, angket dan hasil test selama kegiatan ini dilakukan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan pencapaian tindakan.
Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi :
a.    Kegiatan guru dalam melakukan pembelajaran eksperimen, efektifitas pembelajaran dan efektifitas siswa dalam mengikuti eksperimen.
b.    Kegiatan dalam siklus I : Suasana kelas / ruang mulai bisa berkonsentrasi dan mengikuti penjelasan guru dengan baik, siswa sudah tidak merasa asing terhadap pembelajaran eksperimen. Suasana kelas yang kondusif ini terjadi karena tampilan guru sudah semakin akrab dalam melakukan eksperimen.
Hasil analisis catatan menunjukan bahwa partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah semakin meningkat, hal ini ditandai semakin beraninya siswa meminta penjelasan pada guru mengenai hal-hal yang belum mengerti, hasil wawancara peneliti menunjukan bahwa sebagian besar menghendaki agar setiap mata pelajaran yang bersifat pemahaman dapat dilakukan dengan eksperimen disertai presentasi. Hasil analisis angket tentang pelaksanaan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik Dari 44 siswa yang hadir terdapat 32 anak yang menyatakan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik menyenangkan dan sisanya  12 orang mengatakan biasa-biasa saja dan tidak seorangpun yang menyatakan tidak senang.
Sebagian besar siswa menyatakan bahwa Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik memiliki banyak kelebihan dan efektif. Berdasarkan hasil analisis keaktifan siswa secara keseluruhan pada siklus I sebagai berikut:
-      Siswa yang aktif mencapai 76%
-      Siswa yang tidak aktif hanya 24%
Keaktifan siswa mencapai 76% dengan predikat  baik.
Berdasarkan hasil analisis ketuntasan siswa belajar secara klasikal pada siklus I mencapai nilai rata-rata 7,0 sehingga ketuntasan belajar klasikal mencapai 90% dengan predikat sangat baik. Berdasarkan hasil analisis daya serap masing-masing siswa pada siklus I mencapai > 65%.



Tabel. Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa kelas I SDN Sumberlesung 01
Kriteria
Siswa
Prosentase (%)
 < 65
0
0%
65 - 100
44
100%
Total
44
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada siklus II , maka yang mendapat nilai < 65 sebanyak 0 siswa dengan prosentase 0%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 44 siswa dengan prosentase 100%, hal ini ada beberapa alasan sebagai berikut :
a.    Guru sudah terampil dalam menerapkan  Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik
b.    Siswa merasa senang dengan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik Konsep Ilmu Pengetahuan Alam  yang awalnya dianggap sulit.
c.    Adanya peningkatan nilai yang signifikan.
d.     
Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPA  Siswa kelas I SDN Sumberlesung
Sumber: Data yang diolah

 Pembahasan
Berdasarkan temuan di atas maka dapat diungkapkan bahwa proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik telah menunjukan adanya peningkatan hasil belajar dari masing-masing siklus dalam ketuntasan hasil belajar. Hal ini dapat dijelaskan dari hasil analisis siklus I , yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa dengan prosentase 27%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa dengan prosentase 73%, dan selanjutnya pada siklus II diperoleh nilai < 65 sebanyak 0 siswa dengan prosentase 0%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 44 siswa dengan prosentase 100%.
Hampir semua siswa menyatakan bahwa Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik dapat meningkatkan kegairahan belajar dan prestasi siswa. Hasil dari penelitian ini akhirnya memberikan kejelasan bahwa melalui Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman siswa dalam mempelajari konsep­-konsep Ilmu Pengetahuan Alam .
Temuan peneliti ini juga senada dengan yang dikatakan oleh Barba (1998) bahwa fenomena tertentu yang divisualisasikan secara proseduran dapat meningkatkan perhatian siswa, minat belajar, motivasi, rasa ingin tahu dan meningkatkan konsentrasi siswa kepada proses pembelajaran. Metode Inquiry dan Pembelajaran Tematik akhirnya dapat membantu para siswa dalam membangun pengetahuan sendiri dan meningkatkan kemampuan menyajikan di depan kelas.

KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil analisis data dalam peneltian tindakan kelas , maka kami simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Materi Ajar “Kegunaan Benda di Lingkungan Sekitar” Melalui Pembelajaran Metode Inquiry dan Model Tematik Siswa Kelas I SD Negeri Sumberlesung 01
 Dengan demikian kualitas proses pembelajaran dengan Metode Inquiry dan Model Tematik meningkat, hal ini dapat dilihat dari peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran IPA.

Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan :
a) Kepada guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), hendaknya dapat menerapkan Pendekatan Inquiry dan Model Tematik dalam pembelajaran.
b) Guru hendaknya memperhatikan dan aktif menerapkan metode dan model-model pembelajaran yang aktual.
c) Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian sejenis.


DAFTAR  RUJUKAN
.Anitah, Sri.W.(2007).  Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Rineka Cipta.
Diknas, 2006. Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Puskur
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moedjiono dan Dimyab. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Din Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Sutarno, Nono., dkk. 2007.  Materi dan Pembelajaran IPA SD. Jakarta: Unoversitas Terbuka.
Rahman. 2007.  Model Mengajar dan Bahan Pembelajaran. Bandung: Alqa Prisma.
Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Penerbit
                Alfabeta.
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik : Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang : Banyumedia Publishing
Sutrisno, Joko. 2008. Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa. Jember. Lemlit
Trianto. 2007. Model Model  Pembelajaran Inovatif  Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta:  Prestasi Pustaka.