Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MATERI AJAR “SURAT AL QADR DAN SURAT AL ‘ALAQ” MELALUI PENERAPAN METODE DISKUSI DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF Yuyuk Yuhana

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MATERI AJAR “SURAT AL QADR DAN SURAT AL ‘ALAQ” MELALUI PENERAPAN METODE DISKUSI DAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF

 Yuyuk Yuhana

Abstrak: Pendidikan Agama Islam memiliki peranan penting dalam perkembangan intelektual beragama  maka perlu metode pembelajaran yang tepat. Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah  untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Materi Ajar “Surat Al Qadr Dan Surat Al ‘Alaq” Melalui Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02. Hasil penelitian. Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif  dapat meningkatkan hasil belajar pendidikan agama islam (pai) materi ajar “Surat Al Qadr Dan Surat Al ‘Alaq”. Pada  siklus  pertama ketuntasan belajar mencapi 62%, pada siklus kedua meningkat menjadi 77% dan siklus ketiga menjadi 88%.

Kata Kunci:  Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran sentral dan penting dalam perkembangan intelektual beragama pada peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang  pengetahuan keagamaan melalui Pendidikan Agama Islam (PAI). Studi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diharapkan membantu peserta didik dalam kehidupan beragama sehari – hari yang mencerminkan perilaku yang baik dan mengenal dirinya. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan keagamaan tersebut dengan benar dan baik terutama dalam menyesuaikan lingkungan kehidupan sehari-hari dalam mengetrapkan keagamaan ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat yang kompleks ini.
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalarn upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan Umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di Lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
            Pendidikan Agama Islam (PAI) dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari Pendidikan Agama Islam (PAI).
Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-­nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
            Di masa yang akan datang peserta didlk akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Belajar merupakan hal yang sangat mendasar yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan semua orang. Begitu pula dalam pendidikan tanpa adanya belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Beberapa karakteristik dan belajar adalah sebagai berikut: (i) belajar merupakan suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, (ii) perubahan tersebut berupa kemampuan baru dalam memberikan respon terhadap suatu skelompokulus tertentu, (iii) perubahan tersebut terjadi secara permanen, (iv) perubahan tersebut bukan karena proses pertumbuhan atau kematangan fisik, melainkan karena usaha sadar (Raturnanan, 2002: Roestiyah. 1994.).
            Adapun yang dimaksud dengan pembelajaran ialah upaya untuk membelajarkan siswa. Sedangkan menurut Degeng (1997) pembelajaran adalah kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode/strategi yang optimal untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Selain itu Miarso (1993) berpendapat bahwa pembelajaran lebih menaruh perhatian pada "Bagaimana membelajarkan siswa" bukan pada "apa yang dipelajari siswa" (dalam Sutiarso, 1999: 13). Dengan demikian pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memfasilitasi siswa untuk belaiar dalam rangka membangun pemahamannya sendiri. Dari sini terkandung bahwa peran guru adalah sebagai fasilitator bukannya transmitor dan dalam proses belajar mengajar lebih terpusat pada siswa (student centered).
            Model pembelajaran yang demikian sejalan dengan pembelajaran yang mengacu pada teori belajar konstruktivistik. Teori belajar ini dimotori oleh Piaget dan Vygotsky. Keduanya mempunyal penekanan yang berbeda, Piaget lebih menekankan pada kontruksi pengetahuan yang merupakan hasil interaksi anak dengan pengalaman dan obyek yang dihadapinya, sedangkan Vygotsky menekankan pada hubungan dialektika antara individu dan masyarakat dalam pembentukan pengetahuan. Walaupun demikian, keduanya mempunyai persepsi yang sama dalam hal perubahan kognitif, yaitu perubahan kognitif terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru (Nur & Wikandari, 1999:3).
Berdasarkan uraian diatas maka guru PAI harus mempunyai strategi dalam pembelajaran yang variatif, sehingga siswa tidak merasa bosan dan lebih mudah dalam memhami materi yang diajarkan. Penelitian Tindakan Kelas berjuan untuk memberikan alternative model pembelajaran untuk meningkatakan hasil belajar siswa.
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan
kesempatan pada siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan suatu masalah. Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang dalam PBM antara lain konteks lingkungannya, tingkat perkembangan psikologis mempertimbangkan banyak aspek tingkat pengetahuan peserta didik, anak, serta lebih menekankan bagaimana agar peserta didik berani dan mampu berkomunikasi dengan baik serta benar (Djamarah, S B. 1996; Hudoyo, H. 1990).
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang dikemukakan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Materi Ajar “Surat Al Qadr Dan Surat Al ‘Alaq” Melalui Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02 .
Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah  untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam  Materi Ajar “Surat Al Qadr Dan Surat Al ‘Alaq” Melalui Penerapan Metode Diskusi dan Pendekatan Komunikatif Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02.
Penelitan ini diharapkan bermanfaat bagi siswa, guru dan sekolah sebagai berikut :
a)    Bagi siswa, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat mengembangkan penalaran dan kelancaran keagamaan serta kemampuan intelektual Pendidikan Agama Islam (PAI).
b)    Bagi guru, hasil penelitian ini sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran di Kelas VI menyangkut Pendidikan Agama Islam (PAI).
c)    Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya.




METODE  PENELITIAN
            Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Tanjungsari 02 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember. Subyek  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI  di SD Negeri Tanjungsari 02 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember yang berjumlah 26 siswa.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebab peneliti ingin meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti langkah‑langkah pokok PTK yaitu : refleksi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan refleksi dan perencanaan ulang jika belum mencapai ketuntasan. Adapun Rancangan penelitian menggunakan Model Kemmis dan Mc Taggart. meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. (Wibowo, Basuki, 2004; Tantra, D K. 1998.).
.
1. Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2.  Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
3. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
4. Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5. Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.
 Secara mudah PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dapat digambarkan dengan diagram alur berikut ini.
Description: http://4.bp.blogspot.com/-B-ogH57lYUk/T6UuTuo1KCI/AAAAAAAAAS0/l7HbxlBhR9c/s400/kEMMIS.JPG

Rancangan Siklus I (Pertama)
a.    Refleksi Awal
Pada tahap ini peneliti bersama Guru Kelas VI mengidentifikasi permasalahan dan menganalisis masalah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa Kelas VI SDN Tanjungsari 02 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.
b.    Merumuskan Permasalahan Secara Operasional
Pada tahap ini peneliti bersama Guru Kelas VI merumuskan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran yang menyangkut pendekatan yang digunakan di dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
c.    Merumuskan Hipotesis Tindakan
Karena penelitian tindakan ini lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, maka hipotesis tindakan bersifat tentatif. Dalam pelaksanaan hipotesis tindakan ini tidak mengalami modifikasi jika diperlukan (Fleksibel).
Hipotesis tindakan pada siklus I dirumuskan sebagai berikut:" Penerapan Metode Diskusi Dan Penggunaan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan Hasil belajar Pendidikan Agama Islam(PAI) siswa".
d.    Menyusun Rancangan Tindakan
Rancangan tindakan yang diajukan adalah sebagai berikut :
-      Menentukan materi pokok bahasan yang akan diajarkan Asmaul Husna, dan menjawab pertanyaan Pendidikan Agama Islam (PAI).
-      Membuat RPP dengan langkah-langkah sebagai berikut :
-        Menyusun tujuan pembelajaran yang didasarkan pada Kurikulum.
-        Merumuskan materi pelajaran yang diajarkan yang diambil dari buku paket Pendidikan Agama Islam (PAI) dan buku penunjang dari berbagai penerbit.
-        Merumuskan pelaksanaan pembelajaran sebagai berikut :
~    Kegiatan pendahuluan, meliputi apresiasi yang dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan media gambar persawahan, alam sekitar, kegiatan ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara mengerjakan LKS dan tata tertib pengerjaan LKS.
~    Kegiatan inti, meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
1)    Siswa mengegakan LKS.
2)    Siswa bersama peneliti melakukan pembahasan pertemuan II
3)    Siswa melakukan diskusi kelompok.
4)    Siswa bersama peneliti melakukan pembahasan diskusi kelompok.
5)    Ulangan harian/formatif.
~    Kegiatan penutup.
1)    Membuat kesimpulan.
2)    Evaluasi.
-      Peneliti menyusun alat pengumpulan data berupa lembar pengamatan, catatan lapangan tentang pelaksanaan proses pembelajaran dan instrumen evaluasi (penilaian).
-      Peneliti menyusun rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
-      Pelaksanaan tindakan.
Guru Kelas VI melaksanakan rencana pembelajaran sebagaimana tertuang dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, Penerapan Metode Diskusi Dan pendekatan komunikatif dengan divariasikan dengan metode demonstrasi dan pemberian tugas.
-      Pengamatan
Pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan pengamatan pada proses pembelajaran yang meliputi aktifitas siswa, wawancara dan analisis dokumen. Kepala sekolah bersama guru agama mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung dengan mencatat data-data yang muncul kemudian menstranskripsikan analisis dokumen dengan menilai hasil pengerjaan LKS dan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran peningkatan hasil belajar diukur dengan membandingkan antara hasil penilaian formatif yang sedang berlangsung dengan hasil belajar sebelumnya.
-      Refleksi
Berdasarkan analisis data dan refleksi yang dilakukan peneliti dalam kegiatan tersendiri. Hasil refleksi dicatat dan menghasilkan rancangan tindakan pada siklus II dan rancangan tindakan lanjutan. Peneliti melakukan analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan. Hasil yang diperoleh akan berupa temuan-temuan lapangan yang selanjutnya dipakai dasar untuk melakukan perancangan ulang untuk siklus II.

Rancangan Siklus II (Kedua)
Berdasarkan hasil refleksi siklus I peneliti melakukan perancangan ulang. Hasil perancangan ulang ini diterapkan pada penelitian siklus II. Sebelum merevisi rencana pembelajaran (RP) terlebih dahulu peneliti, membuat catatan-catatan permasalahan yang muncul pada siklus I. Karakteristik rencana pembelajaran yang mendapat perhatian dalam perancangan ulang adalah pada sisi LKS, langkah-langkah proses pembelajaran dan evaluasi.
a.    Rancangan Tindakan
Rancangan tindakan yang diajukan pada siklus II adalah sebagai berikut :
a)    Menentukan materi pokok pembelajaran yang akan diajarkan. Membuat rencana pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Menyusun tujuan pembelajaran yang didasarkan pada Kurikulum.
2.    Menentukan materi pelajaran yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai.
3.    Merumuskan materi pembelajaran yang akan dilakukan, yang diambil dari buku paket Pendidikan Agama Islam (PAI) dan buku penunjang lain dari berbagai penerbit.
4.    Merumuskan proses pembelajaran sebagai berikut :
-      Kegiatan pendahuluan, meliputi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan materi ajar “Al Qadr dan Al Alaq”, kegiatan ini dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara mengerjakan LKS dan tata tertib pengerjaan LKS.
-      Kegiatan inti meliputi langkah-langkah sebagai berikut : Pertemuan I
1.    Siswa mengerjakan LKS.
2.    Siswa bersama Guru agama melakukan pembahasan jawaban LKS.
Pertemuan II
1.    Tiap kelompok melakukan penjelasan tentang fokus materi pokok pembelajaran antara lain :
Menjelaskan “Al Qadr dan Al Alaq” yang diambil dari buku agama Kelas VI.
Membacakan isi “Al Qadr dan Al Alaq”.
Membuat pertanyaan isi “Al Qadr dan Al Alaq” dan ringkasan wacana secara berkelompok dengan diskusi.
2.    Siswa bersama-sama Guru agama melakukan pembahasan diskusi kelompok.
3.    Ulangan formatif
-      Kegiatan penutup berupa simpulan.
1.    Menentukan isi “Al Qadr dan Al Alaq” dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang ada hubungannya dengan materi pokok diatas tadi.
2.    Membuat pertanyaan isi “Al Qadr dan Al Alaq” yang yang telah ditentukan berdasarkan pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
3.    Menyusun soal-soal Pendidikan Agama Islam (PAI) formatif/ulangan harian yang digandakan sejumlah siswa Kelas VI yaitu sebanyak 10 anak.
4.    Peneliti menyusun alat pengumpulan data berupa lembar pengamatan catatan tentang pelaksanaan proses pembelajaran dan instrumen pembelajaran.
5.    Menyusun rencana pengolahan data baik kualitafif maupun kuantitatif.

b.    Pelaksanaan Tindakan
Peneliti melaksanakan rencana pembelajaran siklus II yang merupakan penyempumaan siklus I sebagaimana tertuang di dalam satuan pelajaran. Proses pembelajaran berlangsung dengan langkah-­langkah sebagai berikut :
  1. Kegiatan pendahuluan
Apersepsi yang mengarah pada materi ini dilakukan dengan tanya jawab tentang materi yang terdahulu karena materi ini masih berhubungan erat dengan materi sebelumnya.
  1. Kegiatan inti
Langkah-langkah inti pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.    Ceramah dengan diselingi tanya jawab dengan materi ajar “Al Qadr dan Al Alaq” dilanjutkan dengan penjelasan tentang tata cara pelaksanan pada siklus II yang disempurnakan dari siklus I.
b.    Metode pemberian tugas berupa pengerjaan LKS. Teknik pelaksanaannya dengan siklus I, yaitu dengan mencari dan menemukan sendiri jawabnya melalui buku paket Pendidikan Agama Islam (PAI) dan buku penunjang serta dari media gambar alam sekitar dan perlakuan peneliti masih seperti siklus I.
c.    Setelah mengerjakan LKS selesai dilanjutkan dengan pembahasan jawaban siswa dengan cara siswa menuliskan jawaban di papan tulis secara bergiliran. Pada siklus II ini peneliti telah menuliskan nomor-nomor jawaban di papan tulis untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa, peneliti tidak menunjuk siswa yang menjawab atas kesadaran sendiri siswa maju dan menulis jawabannya ke papan tulis.
d.    Tanya jawab kelompok dilakukan sama dengan siklus I. Peneliti mengarahkan agar dalam tanya jawab ini terjadi pemerataan antara penanya dan penjawab dalam masing­masing kelompok
e.    Evaluasi formatif/ulangan harian tertulis


c.    Pengamatan
Pengamatan proses pembelajaran meliputi aktivitas siswa dan mencatat kegiatan pembelajaran, wawancara secara mendalam dan analisis dokumen tetap dilakukan pada siklus II ini. Kepala sekolah mengawasi proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Mencatat data-data yang muncul kemudian mentranskripsikannya. Analisis dokumen dilakukan dengan menilai hasil evaluasi LKS dan evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
d.    Refleksi
Hasil refleksi dicatat dan digunakan untuk menghasilkan perancangan tindakan pada siklus berikutnya.
Peneliti melakukan analisis, sintesis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data yang telah dikumpulkan. Hasil yang diperoleh berupa temuan-temuan lapangan.
Data penelitian ini dikumpulkan dengan teknik pengamatan, catatan lapangan, wawancara dan studi dokumenter.
1.    Teknik pengamatan dan catatan lapangan dipergunakan untuk menilai proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar.
2.    Teknik wawancara dipergunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran.
3.    Studi dokumenter dipergunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa. Hasil-hasil siklus I dilakukan refleksi untuk dijadikan bahan penyempurnaan pada penerapan siklus II.
Analisis dilakukan secara diskripsi kualitatif dan kuantitatif berdasarkan hasil observasi terhadap peningkatan prestasi belajar dengan langkah-langkah berikut :
1.    Melalui reduksi, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah dikumpulkan.
2.    Melakukan interpretasi, yaitu menafsirkan yang diwujudkan dalam bentuk pernyataan.
3.    Melakukan inferensi, yaitu menyimpulkan apakah dalam pembelajaran ini terjadi peningkatan prestasi belajar atau tidak (berdasarkan hasil observasi).
4.    Tahap tindak lanjut, dilakukan perumusan langkah-langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus I berakhir berdasarkan inferensi yang telah diterapkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Penelitian Tindakan kelas diawali dengan pelaksanaan anlisa data pada Siklus I, kegiatan pembelajaran ini diawali dengan membuat kesepakatan tentang tata tertib siswa dalam PBM.Pada siklus I siswa masih belum terbiasa dengan Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif , siswa masih malu untuk mengungkapkan pendapat dan belum berani komunikasi aktif dengan anggota kelompoknya. Hal ini terlihat dari hasil belajar pada siklus I masih belum mendapat ketuntasan seperti yang diharapkan. Analisis data pada siklus I dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari pada Siklus I.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
10
38 %
65 – 100
16
62 %
Jumlah
26
100 %
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada Siklus I, maka hasilnya belum memenuhi hasil belajar siswa tentang mata pelajaran PAI atau belum memenuhi harapan karena siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 10 siswa dengan persentase  38% , selanjutnya siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 16 siswa 62%, maka  pada siklus I dinyatakan belum tuntas belajar. Perlu adanya perbaikan proses belajar mengajar (PBM).
Pada tahap selanjutnya, guru mengajak siswa untuk membahas hasil pengerjaan LKS dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk menulis jawaban di papan tulis. Kemudian dilakukan pembahasan bersama tentang jawaban yang telah ditulis di papan tulis tadi sesuai dengan buku paket dan penunjang Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mereka miliki.  Siswa yang jawabannya salah/kurang sempurna harus menyempurnakan jawabannya (pembetulan) sesuai dengan jawaban yang ada, hal ini dimaksudkan agar kegiatan selanjutnya tidak mengalami kesalahan. Jika tidak melakukan pembetulan jawaban kesalahan ini akan terbawa pada kegiatan selanjutnya.
Dari jawaban siswa di papan tulis soal 20 item tes soal yang dikerjakan siswa menunjukkan belum dikuasi sepenuhnya. Mengerjakan soal yang salah perlu disempurnakan berupa kekurang telitian tulisannya, hal ini dimaksudkan untuk lebih memberikan motivasi belajar para siswa, bahwa semakin sempuma dan teliti jawabannya akan mendapatkan penghargaan/nilai yang lebih baik.
Guru agama memberikan kesempatan pada siswa secara berkelompok untuk menghasilkan jawaban yang sudah dibetulkan di atas dengan melakukan tanya jawab antar kelompok selama 15 menit.Berdasarkan hasil ulangan harian (formatif) yang dilaksanakan, bahwa sudah ada hasil peningkatan hasil belajar siswa daripada pertemuan sebelum dilaksanakannya penelitian ini walaupun hasilnya belum signifikan.
Walaupun pada siklus II ini sudah mulai baik, tetapi beberapa catatan penyempurnaan masih perlu dilakukan perbaikan, antara lain :
1.    Tata tertib belajar perlu disempumakan antara lain meliputi :
a.    Perlu adanya batasan waktu dalam pengerjaan LKS.
b.    Perlu penyempumaan jawaban isi pertanyaan menyangkut “Al Qadr dan Al “Alaq”.
2.    Pada saat diskusi kelompok, tempat duduk siswa sebaiknya berdekatan dengan kelompok anggotanya, hal ini dimaksudkan agar lebih cepat pelaksanaan diskusinya.
3.    Penukaran hasil pengerjaan LKS harus dilakukan pemeriksaan silang.
Pada saat pembukaan pembelajaran, peneliti memberikan pengarahan ulang tentang cara belajar yang disempumakan dari siklus I, yang meliputi :
a.    Peneliti memberikan batasan waktu pada siswa dalam mengisi jawaban dan tata cara pengerjaan LKS, hal ini dimaksudkan agar target waktu pada pertemuan tersebut tercapai.
b.    Peneliti meminta agar siswa meningkatkan ketelitian penelitian dan pengerjaan soal.
Pada Siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa lebih bersemangat dibanding siklus I. Peningkatan hasil belajar ini terillhat dari pengerjaan LKS dengan mencari sendiri yang ada dalam buku paket atau penunjang Pendidikan Agama Islam kls VI. Kecepatan siswa dalam mengerjakan soal di dukung oleh pengetahuan siswa dalam pelaksanaan siklus I, tidak semua soal jawabannya dicari dalam buku paket/penunjang karena soal yang sudah mereka ketahui pada siklus I langsung dikerjakan tanpa melihat buku.
Tabel berikut ini adalah analisa data yang menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus II.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02 pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
6
23 %
65 – 100
20
77 %
Jumlah
26
100 %
Sumber : Data yang diolah
Dari data di atas dapat dilihat bahwa pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan perolehan nilai <65 sebanyak 6 siswa dengan persentase 23% sedangkan yang mendapat nilai 65–100 sebanyak 20 siswa 77%.
Ketuntasan mencapai 77% yakni sebanyak 20 siswa hal ini menunjukkan tingkat ketuntasannya tinggi, yang belum tuntas hanya 6 siswa atau 23 %. Dengan demikian hasil analisis data pada siklus II dikatakan tuntas belajar. Namun peneliti masih ingin mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi. Oleh karena itu , analisa dilanjutkan pada siklus selanjutnya , yaitu siklus III.
Pada siklus III, pelaksanaan hanya menyempurnakan kekurangan yang ada pada siklus I dan siklus II. Pada siklus III , suasana belajar lebih santai dan tidak tegang, karena siswa mulai terbiasa dengan Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif. Hal ini dapat dilihat pada ketuntasan hasil belajar yang dapat disajikan pada tabel 3 di bawah ini .
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02 pada Siklus III.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
3
12 %
65 – 100
23
88 %
Jumlah
26
100 %
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan hasil analisis data pada Siklus III, maka hasilnya sudah memenuhi memenuhi harapan karena siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 4 siswa dengan persentase 12% , selanjutnya siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 23 siswa 88%, maka  pada siklus III dinyatakan tuntas belajar dengan signifikan maka tidak perlu diadakan analisis perbaikan belajar mengajar pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan ketuntasan hasil belajar, dapat dilihat pada tabel dan garafik perbandingan berikut ini.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02 pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.
Kriteria Nilai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
10
38%
6
23%
3
12%
65 – 100
16
62%
20
77%
23
88%
Jumlah
26
100%
26
100%
26
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III.
 







Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Peningkatan  hasil belajar dari siklus I, siklus II, dan Siklus III dapat dipahami, karena Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
Penerapan metode diskusi dan Pendekatan Komunikatif memungkinkan terjadinya hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Siswa dapat belajar dengan kemampuan masing-masing dengan bantuan guru. Dengan metode ini guru dapat memberikan perhatian kepada setiap siswa sehingga tercipta hubungan yang lebih dekat antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Sehingga akan terjadi interaksi yang lebih baik antara dua atau lebih siswa yang terlibat dan saling tukar pendapat serta informasi untuk membahas masalah yang mereka hadapi bersama.
Pengajaran dengan metode ini memungkinkan siswa lebih aktif dalam proses belajar, antara lain keberanian untuk mengemukakan pendapat mengenai topik yang sedang didiskusikan dan mencari keputusan yang terbaik berdasarkan keputusan bersama, selain itu memberikan rasa tanggung jawab yang lebih besar, berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan siswa.
Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar meliputi hasil belajar pada siklus I, siklus II, dan hasil belajar pada siklus III. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara meyakinkan dan meningkat.
Berdasarkan hasil analisis data pada Siklus I, hasilnya belum memenuhi hasil belajar siswa tentang mata pelajaran PAI atau belum memenuhi harapan karena siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 10 siswa dengan persentase  38% , selanjutnya siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 16 siswa 62%, maka  pada siklus I dinyatakan belum tuntas belajar. Perlu adanya perbaikan proses belajar mengajar (PBM).
Pada Siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dan  siswa lebih bersemangat dibanding siklus I. Peningkatan hasil belajar ini terillhat dari pengerjaan LKS dengan mencari sendiri yang ada dalam buku paket atau penunjang Pendidikan Agama Islam kls VI. Kecepatan siswa dalam mengerjakan soal di dukung oleh pengetahuan siswa dalam pelaksanaan siklus I, tidak semua soal jawabannya dicari dalam buku paket/penunjang karena soal yang sudah mereka ketahui pada siklus I langsung dikerjakan tanpa melihat buku.
pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan perolehan nilai <65 sebanyak 6 siswa dengan persentase 23% sedangkan yang mendapat nilai 65–100 sebanyak 20 siswa  dengan persentase 77%.
Ketuntasan mencapai 77% yakni sebanyak 20 siswa hal ini menunjukkan tingkat ketuntasannya tinggi, yang belum tuntas hanya 6 siswa atau 23 %. Dengan demikian hasil analisis data pada siklus II dikatakan tuntas belajar. Namun peneliti masih ingin mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi. Oleh karena itu , analisa dilanjutkan pada siklus selanjutnya , yaitu siklus III.
pada Siklus III, maka hasilnya sudah memenuhi memenuhi harapan karena siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 3 siswa dengan persentase 12% , selanjutnya siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 23 siswa 88%, maka  pada siklus III dinyatakan tuntas belajar dengan signifikan maka tidak perlu diadakan analisis perbaikan belajar mengajar pada siklus selanjutnya.
            Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, antara lain Istiqomah dalam Fitriyah (2000) bahwa keefektifan penerapan metode diskusi dan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam diskusi kesempatan siswa untuk ikut aktif memikirkan materi atau masalah yang dibahas jauh lebih besar. Siswa juga mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menanyakan masalah yang belum mereka mengerti baik langsung kepada guru maupun kepada teman mereka sendiri. Lebih tegas lagi Usman (2397) menyatakan bahwa dalam pengajaran diskusi akan terpenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa dalam belajar yaitu adakalanya siswa lebih mudah belajar dari temannya sendiri, adapula siswa yang lebih mudah belajar dengan mengajari temannya sendiri.
            Adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa tersebut juga diikuti adanya perubahan aspek psikologi penting lainnya yakni minat siswa terhadap materi pelajaran jumlah siswa yang merasa berminat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) lebih banyak setelah diterapkan metode diskusi dan pendekatan komunikatif dibandingkan dengan kondisi sebelum penelitian tindakan dilaksanakan. 
Hasil penelitian tersebut jika dicermati lebih dalam membawa implikasi bahwa penggunaan metode diskusi dan pendekatan komunikatif perlu digunakan sebagai alternatif dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas. Meskipun kita sadari bahwa penerapan metode tersebut akan membawa konsekuensi yang besar terhadap beban guru. Beban kurikulum yang begitu besar tidak memungkinkan kepada guru untuk terlalu sering penerapan metode ini. Jika pertimbangan pemilihan metode pembelajaran hanya masalah waktu yang digunakan, maka penggunaan diskusi dan pendekatan komunikatif menjadi sangat efisien.
            Lebih lagi jika terjadi adanya pandangan darl berbagal sudut terhadap masalah yang dipecahkan atau ketika timbul pandangan yang menyimpang maka penerapan metode ini akan memerlukan waktu yang sangat lama. Sebab penerapan metode ini akan membawa konsekuensi terhadap penambahan waktu yang dibutuhan untuk menyampaikan materi yang disampalkan. Jumlah siswa yang begitu besar juga merupakan kendala tersendirl bagi guru untuk bisa mengamati secara mendalarn pada masing-masing siswa. Tetapi betapapun banyak konsekuensi yang harus ditanggung oleh guru dalam penerapan metode ini, jika proses pembelajaran menekankan pentingnya keaktifan siswa dalam belajar dan hasil belajar secara lebih mendalam, maka metode diskusi dan pendekatan komunikatif perlu diterapkan sebagai metode alternatif dalarn pembelajaran.
            Namun demikian sangat disadari bahwa ini hasil penelitian dlperoleh darl penelitian dalam skala yang sangat kecil sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut dalam subyek dan pokok bahasan yang lebih luas. Dengan demikian akan diperoleh informasi yang lebih akurat tentang hasil penelitian terkalt dan implikasi dari hasil penelitian dapat diterapkan dengan tepat.

KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah peneliti laksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) Materi Ajar “Surat Al Qadr Dan Surat Al ‘Alaq” Melalui Penerapan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif Siswa Kelas VI  SDN Tanjungsari 02 . Pada  siklus  pertama ketuntasan belajar mencapi 62%, pada siklus kedua meningkat menjadi 77% dan siklus ketiga menjadi 88%.

 Saran-Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan dalam penelitian tindakan kelas ini , saran-saran disampaikan sebagai berikut : Bagi siswa, sebaiknya siswa rajin membaca Pendidikan Agama Islam (PAI) serta dapat mengaplikasikan pengetahuan agama dalam kehidupan sehari-hari,; Bagi guru, sebaiknya menerapkan Metode Diskusi Dan Pendekatan Komunikatif untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam.

DAFTAR RUJUKAN
Ali, M., 1989, Kesulitan Dalam Belajar, Angkasa. Bandung.
Depdik-nas. 2004. Standar Kompetensl Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SD/MI.Depdknas 2004
Depdik-nas. 2004. Standar Kompetensl Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SD/MI.Depdknas 2004
Djamarah, S B. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar.Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moedjiono dan Dimyati. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdlkbud Dijen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem. Jakarta: Rineka Cipta.
Suryadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mondar Maju.
Tantra, D K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas Dasar Dan Pelaksanaan. Singaraja: P3M STKIP Singaraja.
Usman, C. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Yuliati, N. 1998. Penggunaan Strategi Sajian Pembelajaran Konsep Berdasarkan Prespeksi Component Display Theory dalam Pembelajaran PAI di SD, Laporan Penelitian. Tidak Diterbitkan. Jember: FKIP Universitas Jember.
Usman, C. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya

Wibowo, Basuki, 2004, Penelitian Tindakan Kelas, Dirjen Tenaga Kependidikan. Dirjen Dikdasmen. Depdiknas. Jakarta.