Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “ HIDUP GOTONG ROYONG” MELALUI PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK DAN MODEL TEMATIK Suharti

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “ HIDUP GOTONG ROYONG” MELALUI PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK DAN MODEL TEMATIK


Suharti

Abstrak: Pembelajaran PKn  harus optimal  karena  diarahkan dalam kerangka membangun watak generasi penerus, maka penerapannya harus dengan metode yang tepat. Tujuan yan ingin dicapai Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Ajar “ Hidup Gotong Royong” Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik Siswa Kelas II SDN Tegalwangi 05. Penelitian ini dirancang sebagai Peneltian Tindakan kelas. Hasil penelitian: Ada Peningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup Gotong Royong” Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik. Dari kondisi awal yang tuntas 56%, meningkat pada siklus pertama menjadi 89 % dan siklus kedua menjadi 100%.

                           Kata Kunci : Hasil Belajar, Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan
                                                  Model Tematik
                                                                                                                
PENDAHULUAN
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1).Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2) Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi; 3) Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; 4)Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (Depdiknas, 2006).
                Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. (Depdikbud, 1999; Sumantri, M.1999.).
                Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mampu menyampaikan semua mata pelajaran yang tercantum dalam proses pembelajaran secara tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan (Rusyan, 1992; Djamarah, 1997).
          Pada dasarnya dalam kehidupan suatu bangsa, faktor pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung pendidikan adalah suatu usaha sadar dalam menyiapkan pertumbuhan dan perkembangan anak melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran dan pelatihan bagi kehidupan dimasa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, anggota masyarakat dan orang tua. Untuk mencapai keberhasilan ini perlu dukungan dan partisipasi aktif yang bersifat terus menerus dari semua pihak.
Dalam proses pembelajaran PKn, guru belum semuanya melaksanakan pendekatan siswa aktif, dan peranan guru sebaga idinamisator belajar siswa belum diterapkan, namun guru masih dominan menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab. Dalam penyampaian materi pelajaran guru masih menggunakan buku-buku sumber dan buku pelengkap sebagai sumberbelajar, dan dalam penyampaian bahan ajar kepada siswa belum  digunakan media belajar yang lain.
                Pada Penelitian Tindakan Tindakan Kelas ini, penelit1 ingin meningkatkan hasil belajar PKn dengan menerapkan metode pembelajaran yang belumpernahditerapkan di kelas II SDN Telgalwangi 05 KecamatanUmbulsari KabupatenJ ember , yaitu Investigasi Kelompokdan Model Tematik.
          Pembelajaran Investigasi Kelompok, strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik.Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Metode Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Metode Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri.Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen.Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Pada dasarnya metode ini tepat dilaksanakan pada kelas tinggi (4, 5 dan 6). Karena anak pada usia ini telah mampu diajak untuk berfikir dalam rangka pemecahan masalah (Supridjono, A. 2009).
           Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
                Rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Apakah Dapat Meningkatkan HasilBelajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup GotongRoyong” Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik Siswa Kelas II SDN Tegalwangi 05 ?
          Tujuan yan ingin dicapai Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk mengkaji tentang: Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup Gotong Royong” Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik Siswa Kelas II SDN Tegalwangi 05.
Adapun manfaaat hasil penelitian tindakan kelas ini adalah:
1) Bagi Siswa, penelitian ini memberikan pengalaman baru sehingga siswa lebih bersemangat dalam mengikuti proses belajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
2) Bagi Guru, penelitian ini dapat mengembangkan pengetahuan tentang metode mengajar yang variatif,
3) Bagi sekolah, sebagai informasi dalam pembelajaran dan alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

METODE PENELITIAN
Tempat penelitian ini adalah SDN Tegalwangi 05 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember . Subyek  penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I SDN Tegalwangi 05 Kecamatan Umbulsari Kabupaten yang berjumlah 9 siswa. Rancangan Penelitian. Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (2007:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujan untuk mengembangkan keterampilan - keterampiIan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual.
Oval: Stop
1. Plan
 
4. Reflection
 
2. Action
3.Observation
 
Adapun desain/rancangan siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :

 



Tuntas                  Tidak

 




2. Action
3.Observation
 
Tuntas                  Tidak
 





Tuntas                 Tidak
 



Gambar I. Model Penelitian Hopkins (PGSM, 1999:8)
PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini disusun suatu desain pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik, materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penerapan pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik pelaksanaannya yaitu antara lain penyampaian masalah, pembentukan kelompok, menagih lembar tulisan siswa dan mengadakan post-tes diakhir pembelajaran. Pada tahap ini juga akan dilakukan wawancara dan pemberian angket untuk mengetahui kesulitan siswa dan tanggapan siswa terhadap Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik.
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yag dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik. Fokus pengamatan dalam tahap observasi ini sesuai dengan perencanaan dalam lembar pedoman observasi.
4) Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 3 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.
1)      Metode observasi
Observasi adalah suatu teknik penelitian yang dilakukan degan cara mengadakan pengamatan terhadap suatu objek baik secara langssung maupun tidak langsung, kegiatan observasi ini dilakukan bersama 2 orang observer. Kegiatan siswa dalam pembelajaran ini diamati oleh observer dan peneliti untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa.
2)      Metode wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara membawa pedoman yang hanya berupa garis besar saja dan pengembangannya dilakukan saat wawancara berlangsung. Wawancara akan dilakukan kepada guru untuk mengetahui tanggapan dan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan.
3)      Metode tes
Tes adalah pertanyaan-pertanyaan atau latihan-latihan yang diberikan untuk mengetahui dan mengukur pengetahuan, keterampilan intelegensi, bakat dan kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai materi. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes tertulis (essay) karena tes dalam bentuk ini dapat memunculkan kreatifitas siswa dalam berfikir dan menyusun jawaban sesuai dengan pendapat dan pemikiran mereka sendiri.

4)      Metode dokumentasi
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Moleong,  2002;   ). Pada penelitian ini data yang ingin diperoleh adalah data siswa dan nilai Bahasa Indonesia siswa pada pokok bahasan sebelumnya. Hal ini dapat memberikan informasi bagi peneliti untuk untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa sehigga peneliti dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan yang berbeda.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik dan kegiatan guru selama proes pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

Indikator Kinerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100 daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
            Pada tahap awal penelitian tindakan kelas ini, guru mengajar Pendidikan Kewarganegaraan sesuai yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa.Tetapi sebelum pelaksanaan pembelajaran Investigasi Kelompok dan Model Tematik diterapkan , terlebih dahulu dilakukan analisa data pada pra tindakan sebagai titik tolak penelitian tindakan kelas ini.
            Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru kelas dan kepala sekolah yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga penelitian bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil penelitian. Analisis data sebelum penerapan pembelajaran Investigasi Kelompok dan Model Tematik adalah , yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa dengan persentase 44% , dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 5 dengan 56%, sehingga pada pra tindakan dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya analisa data dilaksanakan pada siklus I dengan penerapan Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik.Kurikulum yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan kompetensi dasarnya. Mengingat jumlah siswa yang hanya 9 orang.Maka siswa dikelompokkan dalam dalam kelompok kecil, yaitu menjadi 3 kelompok, masing kelompok beranggota 3 orang.
            Pada tahap siklus pertama ini, hasil yang di capai belum begitu memuaskan, hal ini di karenakan siswa belum terbiasa dengan Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik, tampak sekali siswa masih malu dan belum menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Karena itu peneliti perlu melaksanakan perbaikan dengan melaksanakan tindakan pada siklus dua.Adapun hasil analisa data pada siklus I dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :






Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  SiswaKelas II SD Negeri Tegalwangi 05 Pada Siklus I .
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
1
11%
65 -100
8
89%
Jumlah
9
100%
Sumber : Data Yang Diolah
                  Berdasarkan tabel di atas , dapat diketahui  pada Siklus I diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa dengan persentase 11%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 8 siswa dengan persentase 89%, dengan demikian pada Siklus I sudah dinyatakan tuntas belajar.Namun peneliti masih ingin mendapatkan peningkatan ketuntasan yang maksimal, selanjutnya dilakukan analisis data pada Siklus II .
Tahap ini dilaksanakan sesuai dengan siklus I, namun pada siklus II ini lebih di fokuskan untuk memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada siklus I. Peneliti membuat RPP yang materinya masih sama dengan siklus I namun evaluasinya berbeda yang disusun berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas dan kepala sekolah.
            Ketuntasan hasil belajar pada siklus II dapat di lihat pada tabel 2 berikut.

Tabel:2 Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas II SD Negeri Tegalwangi 05 pada Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
0
0%
65 -100
9
100%
Jumlah
9
100%
Sumber : Data Yang Diolah
                  Berdasarkan hasil ketuntasan belajar pada Siklus II diperoleh hasil yang sangat memuaskan, yaitu tidak ada satu siswapun yang mendapat nilai < 65 dengan persentase 0%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 9 siswa dengan persentase 100%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas belajar secara signifikan. Karena pada siklus II, sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang sangat memuaskan , maka analisa data dihentikan dan tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.

                  Untuk melihat perbandingan ketuntasan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 dan pada Grafik 1, di bawah ini .

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas II SD Negeri Tegalwangi 05 Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
< 65
4 (44%)
1 (11%)
0 (0%)
65-100
5(56%)
8 (89%)
9 (100%)
Jumlah
9(100%)
9(100%)
9(100%)
Sumber : Data yang diolah





Grafik 1.Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas II SD Negeri Tegalwangi 05 Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif diskriptif di atas, menunjukan bahwa kadar proses pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari Pra Tindakan hingga Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematikditerapkan.
Peningkatan ini dapat kita pahami karena pada dasarnya Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik.Tugas guru adalah mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Oleh karena itu proses pengajaran harus memberikan stimulus agar peserta didik dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu guru juga berperan untuk mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,1990) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong keaktifan siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristikmata pelajaran yang dibinanya.
Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representative. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar. Kondusif  pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representative, untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Berdasarkan hasil analisis  data  dapat disimpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup Gotong Royong” Melalui Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik Siswa Kelas II SDN Tegalwangi 05 . Dari kondisi awal yang tuntas 56%, meningkat pada siklus pertama menjadi 89 % dan siklus kedua menjadi 100%.

Saran-saran
Berdasarkan dari hasil penelitian tindakan kelas (PTK) diatas maka peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
a)  Bagi guru,  hendaknya menerapkan Pembelajaran Investigasi Kelompok Dan Model Tematik Siswa, karena dapat meningkatkan hasil belajar  Mata Pelajaran PKn.
b)  Bagi lembaga pendidikan, hendaknya sarana untuk pembelajaran PKn agar dilengkapi, hal ini berguna untuk menambah semangat belajar dan dapat menunjang lancarnya proses pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN
Adnan, Warsito, 2003, PKn, Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Depdikbud, 1994, Kurikulum   Pendidikan Dasar Jakarta: Depdikbud
-------- ---, 1996, Materi Latihan Kerja Guru PKn, Jakarta: Depdikbud
-----------, 1999, Suplemen Kurikulum   Pendidikan Dasar Jakarta: Depdikbud
Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur Depdiknas
Djamarah, BS dan Azwan Zain, 1997, Startegi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta
Engkoswara, 1996, Pedoman Penyusunan Karya Ilmiah Untuk Angka Kredit Guru , Bandung: Karangsewu
Hazan, S.H. & Zainul.1992.Evaluai Hasil Belajar.Jakarta:Depdikbud
Moleong, Lexy J. 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosda Karya
Rusyan, Tabrani, 1992, Penuntun Belajar Yang Sukses, Bandung: Penerbit Nine Karya Jaya
Sagala, Syaiful. 2007. Manajemen Strategi dalam Peningkatan Mutu          Pendidikan. Bandung:Alfabeta
Sri Wilujeung, Dyah, dkk, 1996, Perangkat Pembelajaran PKn  SD, Jakarta: Tim Penatar PKn
Sunardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Modul PLPG. Jember. FKIP UNEJ.
Sumantri, M.1999.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:Depdikbud
Supridjono, A. 2009. Cooperatif learning teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka  Pelajar