Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN MATERI POKOK “HIDUP RUKUN” MELALUI PENERAPAN METODE BUZZ GROUP DI KELAS I SDN SUMBERANGET 02 Mat Khoiri

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN MATERI POKOK “HIDUP RUKUN”  MELALUI PENERAPAN METODE BUZZ GROUP  DI KELAS I SDN SUMBERANGET 02

Mat Khoiri

Abstrak:  Tujuan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini untuk meningkatkan hasil belajar PKn materi pokok “Hidup Rukun”  melalui penerapan metode Buzz Group  Di Kelas I SDN Sumberanget 02. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Berdasarkan analisis data, maka hasil Penelitian menunjukan: Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Penerapan Metode Buzz Group PKn Materi Pokok “Hidup Rukun” Di Kelas I SDN Sumberanget 02. Ketuntasan aspek kognitf meningkat dari 60 % pada, siklus pertama, meningkat 71 % siklus kedua dan menjadi  80 % pada  siklus ke tiga.

Kata Kunci:  Metode Buzz Group, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pendidik sebagai pengajar merupakan faktor utama yang memiliki peranan sebagai pengelola dan penyajian materi pembelajaran kepada siswa, dan merupakan tumpuan utama yang dituntut aktif dan kreatif dalam menerapkan metode mengajar, karena metode mengajar yang diterapkan oleh pendidik/guru akan turut menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran. Selain guru siswa juga dituntut untuk aktif dalam proses terjadi interaksi antara siswa dan guru juga terjadi interaksi antar sesama siswa.
Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik, efektif, dan efisien apabila terjadi interaksi antar guru, siswa dan lingkungan. Guru harus mampu mewujudkan suasana yang menyenangkan agar peserta didik aktif dan kreatif, karena guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu ilmu sosial yang menghubungKan dengan Iingkungan dan mengembangkan kemampuan siswa dalarn melakukan kegiatan Pendidikan Kewarganegaraan dengan mengenali berbagai peristiwa Pendidikan Kewarganegaraan, memberikan pemahaman tentang konsep dan teori Pendidikan Kewarganegaraan serta melatih siswa untuk memecahkan masalah Pendidikan Kewarganegaraan sehari-hari yang terjun            dilinqkungan    masyarakat ataupun tempat lain. (Depdikbud, 1994: Setijadi. 1996). Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan memberikan pengetahuan kepada peserta didik mengenai masyarakat secara nyata yang akhirnya membuat peserta didik untuk mempelajarinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat akhir-akhir ini belajar sangat cepat. Percepatan perkembangan itu harus diikuti percepatan layanan pendidikan. Peran pendidikan sangat penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu fokus dalam pembangunan Indonesia dewasa ini.  Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Pada saat proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan menghafal, anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi.
Untuk mengembangkan kualitas pendidikan diperlukan adanya perubahan mengenai pengelolaan pendidikan. Salah satunya adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itulah upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan guru yang harus dimiliki adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetisi yang akan dicapai (Sujana, N. 1989;, Slameto, 1991) .
Dalam pembelajaran diperlukan adanya interaksi edukatif, karena tanpa adanya interaksi edukatif, pembelajaran hanya bersifat searah dan siswa hanya menjadi objek penerima informasi konsep-konsep yang disampaikan guru. siswa bukan sebagai pengelola pengetahuan konsep yang dapat berfikir kritis dan mengungkapkan pengetahuannya untuk memperoleh simpulan pengetahuan konsep dan berbagai sumber pembelajaran. Siswa tidak dituntut aktif memberikan umpan balik tentang pengetahuan konsep yang diterima, akibatnya pengetahuan konsep yang diterima kurang mendalami dan bersifat sementara.
Hal ini sesuai dengan data yang didapat pada saat peneliti melakukan wawancara dengan guru mengutarakan keluhannya dan keinginannya dalam meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Kondisi siswanya dalam kegiatan pembelajaran umumnya masih takut dan malu untuk bertanya apalagi untuk mengemukakan pendapatnya, sehingga kondisi pembelajaran di kelas tidak interaktif karena siswa tidak ada yang mau bertanya dan tidak ada yang mau menanggapi pertanyaan guru kalau mereka tidak di tunjuk. sehingga jika ada materi yang tidak mereka pahami, mereka akan selamanya tidak paham karena mereka tidak mau bertanya kepada guru dan hal ini juga yang rnenyebabkan hasil belajar mereka rendah.
Saya berharap dengan dibentuknya siswa dalam kelompok diskusi ini mereka dapat berlatih mengemukakan pendapatnya dan bertanya kepada teman atau guru, dan siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Tetapi hasilnya tidak demikian waktu diskusi berlangsung, diskusi hanya didominasi oleh anak-anak yang pintar saja dan sebagian besar siswa hanya titip nama saja dalam mengandalkan jawaban dari temannya yang pintar itu, sehingga tidak ada pembagian dalam mengerjakan tugas diskusi dan siswa tetap tidak aktif karena siswa tidak bertukar pendapat dalam menyelesaikan tugas diskusi.
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi belajar siswa kelas ini pada umumnya siswa takut dan malu untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya dalam proses pembelajaran. Siswa juga tidak mau terlibat dalam kegiatan diskusi, saat dilaksanakan diskusi sebagian besar siswa hanya titip nama dan mengandalkan jawaban dari temannya yang pintar saja dan diskusipun hanya didomisili oleh anak­anak yang pintar saja. Hal ini menyebabkan suasana pembelajaran tidak interaktif.
Kriteria ketuntasan hasil belajar dapat dinyatakan sebagai berikut :Daya Serap perorangan > 70; Daya serap klasikal kelas tersebut telah tuntas belajar jika di kelas tersebut telah terdapat nilai >85 % dari jumlah siswa yang telah mencapai nilai > 70.
            Rendahnya hasil belajar tersebut disebabkan selain kondisi siswa yang takut dan malu untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat juga karena kurang adanya variasi guru dalam menyampaikan materi  pelajaran (cenderung menonton). Hal ini juga disebabkan Karena kurang adanya interaksi yang bersifat dua arah, dan karena metode yang dipakai dalam pembelajaran masih didomisili dengan metode ceramah. Alasan guru selalu menggunakan metode ceramah karena dengan metode ceramah materi cepat selesai apalagi materi yang sifatnya hanya teori-teori saja, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam menyampaikan materi dan gurupun dapat menyelesaikan materi dengan cepat. Seiain itu saat penyampaian materi alat dan bahan atau media yang dibutuhkan oleh gurupun sederhana hanya papan tulis, sehingga guru tidak perlu mempersiapkan jauh-jauh hari. Hal ini menyebabkan sebagian besar siswa pasif dan kurang interaktif, yang akhimya suasana pembelajaran menjadi tidak hidup dan kurang antusias karena siswa merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat pada saat peneliti  melakukan observasi dengan cara mengikuti proses pembelajaran.
Observasi diiakukan untuk melihat tingkah laku siswa, selama pembelajaran berlangsung dan untuk mengetahui cara guru mengajar atau menyampaikan materi. Hasil yang diperoleh, peneliti menjumpai aktivitas siswa selama rnengikuti pelajaran yaitu siswa tidak antusias atau kurang semangat dan tidak aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini ditunjukkan selama proses pembelajaran berlangsung banyak dijumpai aktivitas siswa yang beragam yaitu ada sebagian siswa yang aktif dan memperhatikan pelajaran, tetapi ada siswa yang kurang aktif dan tidak serius dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
            Kegiatan ini ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang ramai sendiri dan sibuk berbicara dengan teman sebanqkunya, tidak mencatat penjelasan guru, dan tidak pernah bertanya tentang materi baik kepada guru maupun kepada temannya, siswa juga malas untuk berlatih mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Banyak siswa yang beranggapan bahwa mengerjakan tugas hanya sekedar formalitas guna melengkapi nilai tugas saja, sehingga apabiia tugas tidak dikumpulkan maka siswa tidak akan mengerjakan.
Akibat dari rendahnya aktivitas siswa suasana kelas menjadi kurang kondusif, siswa kurang merespon stimulus dari guru, tidak serius dalam pembelajaran, mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan tanpa mencari pemecahannya dari sumber lain selain guru. Kepasifan siswa menyebabkan guru sulit mengetahui apakah siswa sudah paham atau tidak terhadap materi yang telah disampalkan. Keterbatasan waktu bagi guru dalam menyampaikan materi sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan menyebabkan guru tidak bisa mengulang kembali materi yang belum dipahami siswa. Hal ini menyebabkan jika ada materi yang belum dipaharni siswa, siswa akan selamanya tidak paham karena mereka juga tidak mau bertanya langsung pada guru. Kurangnya pemahaman atas konsep mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang menimbulkan kesalahan dalam menjawab pertanyaan tugas ataupun ulangan harian. Kurang aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dikarenakan seorang guru kurang variatif dalam menggunakan metode pembelajaran yaitu guru biasanya masih menggunakan metode ceramah dan penugasan terhadap siswa, sehingga siswa merasa bosan atau jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap guru yang sudah disampaikan di atas, bahwa kelas pada umumnya kondisi siswa pada saat kegiatan pembelajaran masih takut dan malu untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya, selain itu siswa juga masih malas dalam mengerjakan tugasnya.
            Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan adanya bimbingan atau motivasi dari guru agar siswa lebih berani untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya, sehingga kondisi pernbelajaran di kelas bukan guru saja yang aktif tetapi siswa juga aktif. Guru juga harus memantau jalannya pembelajaran di kelas dan menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa saat pembelajaran berlangsung sehingga siswa tidak malas lagi dalam mengerjakan tugasnya karena mereka merasa diperhatikan oleh guru dan mendapat masukan-masukan berkaitan dengari tugasnya baik dari guru maupun temannya sehingga siswa bisa mengerjakan tugasnya. Untuk itu diperlukan adanya pembelajaran yang bisa membantu siswa lebih berani dalam bertanya dan mengeluarkan pendapat serta siswa dapat lebih aktif daiam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran Buzz Group siswa dibentuk dalam suatu kelompok diskusi yang masing-masing siswa dituntut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran ini menekankan pada keaktifan siswa saat diskusi oleh sebab itu dalam pembelajaran ini siswa dituntut sudah memiliki pengetahuan atau pemahaman tentang materi atau tugas yang diberikan oleh guru dan siswa diajak untuk menemukan sendiri informasi dan tugas yang diberikan oleh guru dengan cara siswa saling bertukar pendapat dan berusaha mencarl informasi daiam menyelesaikan tugas yang diberikan oieh guru.
Peran guru dalam pembelajaran Buzz Group yaitu guru dituntut untuk dapat memotivasi siswa agar dapat berdiskusi dengan baik, sehingga guru tidak hanya melihat-lihat saja jalannya diskusi atau kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Guru juga berusaha untuk membantu atau memberikan bimbingan dan motivasi pada siswa agar berani. Kondisi ini akan membantu siswa yang sebelumnya masih takut dan malu untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya akan lebih termotivasi dan berani untuk mengeluarkan pendapat dan bertanya tentang materi pelajaran atau tugas yang diberikan oieh guru.
            Siswa juga akan lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran karena siswa dituntut untuk dapat saling bertukar pendapat dalam kegiatan diskusi. Siswa juga akan lebih bertanggung jawab terhadap tugas pribadinya atau kelompoknya karena siswa dapat langsung menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialaminya baik pada guru atau pada temannya berkaitan dengan tugas atau materi yang diberikan oleh guru. Hal ini akan membantu siswa yang pada mulanya tidak mengerti materi atau tugas yang diberikan oleh guru dapat belajar atau bertanya pada guru dan teman kelompoknya sehingga dapat menambah pengalaman atau pengetahuannya karena mereka akan saling bertukar pendapat dan bertanya dalam kegiatan pembelajaran ( Suprijono, 2009: Trianto, 2007)..
Berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan dalam penerapan pembelajaran dengan metode Buzz Group, peneliti mencoba menerapkan metode Buzz Group, pada materi yang berkaitan dengan pemahaman siswa. Penerapan pembelajaran Buzz Group ini akan dilaksanakan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di atas, masing-masing siswa diharapkan sudah memiliki pengetahuan dasar mengenai materi. Hal ini bertujuan setiap siswa diharapkan dapat mengungkapkan ide-ide atau persepsinya yang berbeda-beda berkaitan dengan materi, sehingga siswa dapat berdiskusi dalam mencari informasi atau bertukar pendapat mengenai materi dan tugasnya dan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman siswa dalam pembelajaran.
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah dapat Meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Pokok “Hidup Rukun”  Melalui Penerapan Metode Buzz Group  Di Kelas I SDN Sumberanget 02?
            Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Pokok “Hidup Rukun”  Melalui Penerapan Metode Buzz Group  Di Kelas I SDN Sumberanget 02 .
Adapun manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yaitu:  Hasil Belajar PKn Materi Pokok “Hidup Rukun”   dapat meningkat Melalui Penerapan Metode Buzz Group  Di Kelas I SDN Sumberanget 02  berarti kualitas pembelajaran juga meningkat..

METODE PENELITIAN
Tempat penelitian ini ditetapkan di SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember . Subyek  dalam penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember . Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini berbentuk tindakan yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru wali kelas I.  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu : merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan merekflesi. Menurut tim pelatih proyek PGSM (1999:7).
Setiap tahap dari kegiatan yang dilakukan dalam PTK akan terus berulang, sampai motivasi belajar siswa meningkat. Pada penelitian ini, peneliti hanya membatasi pelaksanaan penelitian dengan dua siklus karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki peneliti diantaranya : biaya, waktu dan tenaga. Apabila sampai dua siklus hasil Penelitian masih menunjukkan motivasi belajar siswa rendah, maka penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan oleh peneliti sendiri bila ada kesempatan atau dilanjutkan oleh peneliti lain.
Sesuai dengan gambar spiral penelitian tindakan kelas model Hopkins, penelitian ini terdiri dari 4 fase, yaitu : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Empat Fase tersebut adalah sebagai berikut :
1)         Perencanaan
Kegiatan yang akan ditakukan dalam tahap perencanaan ini adalah sebagai berikut :
a.   Menetapkan dan memilih Materi Pokok  “Hidup Rukun”   yang dijadikan bahan dalam pelaksanaan penelitian.
b.   Membuat skenario pembelajaran yang terdiri dari program perencanaan pembelajaran pada Materi Pokok “Hidup Rukun”   Membuat alat bantu mengajar berupa metode pengajaran yaitu metode Buzz Group.
c.   Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai sikap siswa pada saat peneliti mengaplikasikan metode mengajar dengan menggunakan alat bantu mengajar yang berupa metode Buzz Group.
Penyusunan program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran dengan kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum SD yang sedang berlaku. Program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran digunakan pada tahap tindakan.
2) Tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan tindakan pengajaran berdasarkan pada perencanaan yang telah dibuat. Tindakan tersebut difokuskan pada respon siswa terhadap materi yang disampaikan guru dengan menggunakan metode Buzz Group.
Pada tahap ini peneliti melakukan dua tindakan yaitu :
Tindakan siklus I :
Peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan media gambar diam. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan alokasi waktu 2 X 35 menit. Kegiatan inti dilakukan selama 45 menit dan sisa. waktu ±15 menit digunakan untuk mengerjakan soal. Peneliti melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tindakan siklus II :
Peneliti tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode Buzz Group. Pelaksanaan pembelajaran melanjutkan pokok bahasan pada tindakan siklus I. Pada tindakan siklus II peneliti juga melakukan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Metode yang digunakan selama kegiatan belajar mengajar adalah metode Buzz Group. Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, peneliti memantau langsung kegiatan belajar siswa mulai dari awal sampai akhir. Sebelum jam pelajaran selesai ±30 menit, peneliti memberikan tugas yang berupa soal-soal untuk dikumpulkan pada saat jam pelajaran berakhir.
3)    Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai motivasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah :
- Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
- Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajamya.
- Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
- Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
4)    Refleksi
Tahap Refleksi dilakukan untuk mengkaji kembali basil tindakan  dan basil observasi, yang kemudian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan kemudian. Dengan melakukan refleksi peneliti mengetahui kekurangan-kekurangan apa yang perlu diadakan  tindakan perbaikan.
Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memillih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :metode observasi,  metode dokumentasi,  metode tes.
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila guru dapat menerapkan metode pembelajaran dengan metode Buzz Group. Hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas I meningkat, sehingga dapat meningkatkan efektivitas belajar siswa. Hal ini akan tampak khususnya siswa aktif dalam pembelajaran selanjutnya mampu mencapai hasil belajar yang maksimal. Indikator ketuntasan individual 65, sedangkan secara klasikal sebesar 85 % dari jumlah siswa.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Hasil wawancara dengan siswa didapatkan bahwa belajar dengan metode pembelajaran Buzz Group dapat membuat siswa semangat dan belajar dengan senang, selain itu materi yang disampakan lebih mudah diingat dan sangat menarik karena terkait dengan realitas yang ada pada saat sekarang, siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar. Berdasarkan observasi peneliti menemukan perbedaan, kegairahan respon serta sikap terhadap pembelajaran, dengan yang diajarkan melalui pendekatan konvensional pada saat menggunakan metode pembelajaran Buzz Group dan siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Alasan ketertarikan terhadap metode pembelajaran ini belum pernah diterapkan, siswa lebih aktif dalam belajar dan siswa. Berkaitan dengan hasil belajar akan dijelaskan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
Perencanaan
Kegiatan perencanaan meliputi pengenalan Pancasila sebagai Dasar Negara dengan metode Buzz Group.
Tindakan
Dalam kegiatan tindakan meliputi seluruh proses kegiatan belajar mengajar melalui pengenalan Pancasila sebagai Dasar Negara dengan metode Buzz Group.
Observasi
Dalam kegiatan observasi adalah kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan proses metode Buzz Group meliputi peningkatan minat belajar, aktivitas dan kemampuan menyelesaikan tugas.

Refileksi
Dalam kegiatan refleksi yang dilakukan antara lain, meliputi kegiatan analisis hasil pembelajaran sekaligus menyusun rencana perbaikan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan Guru Kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga secara tidak langsung kegiatan penelitian ini bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil penelitian.
Penjelasan Per Siklus
Penelitian tentang pengenalan Pancasila sebagai Dasar Negara dengan metode Buzz Group melalui beberapa tahapan yakni perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi dan dilaksanakan dalam 3 (tiga) siklus (tentative) sebagai berikut.
I.    Siklus I (Pertama)
Dalam siklus I (pertama) ini penulis melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dan proses sebagai berikut:
a.    Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meliputi :Penyusunan Perencanaan metode Buzz Group; Menyiapkan data Perumusan Pancasila sesuai dengan permasalahan; Menyiapkan blanko observas; Menyiapkan blanko evaluasi.
b.    Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
1.    Menjelaskan kegiatan belajar secara umum.
2.    Membentuk kelompok (6 Kelompok @ 5 anak).
3.    Memberikan beberapa data Perumusan Pancasila.
4.    Tiap kelompok memilih masalah sendiri.
5.    Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
6.    Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
7.    Melaporkan hasil diskusi kelompok.


c.    Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan metode Buzz Group.Memantau diskusi / kerjasama antar siswa; Mengamati proses transfer kelompok; Mengamati pemahaman masing-masing anak.;

Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi :Mencatat hasil observasi.;Mengevaluasi hasil observasi; Menganalisa hasil metode Buzz Group;Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.

II.   Siklus II (Kedua)
Dalam siklus II (kedua) ini peneliti menetapkan langkah dan proses sebagai berikut :
a.    Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi : Menyusun rencana perbaikan.; Memadukan hasil refleksi siklus I agar siklus II lebih efektif.; Menyiapkan blanko observasi; Menyiapkan blanko evaluasi.
b.    Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
1)    Menjelaskan kegiatan belajar mengajar dan informasi pada siklus I
2)    Membentuk kelompok (6 Kelompok @ 5 anak).
3)    Memberikan beberapa data Perumusan Pancasila.
4)    Tiap kelompok memilih masalah sendiri.
5)    Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
6)    Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
7)    Melaporkan hasil diskusi kelompok.
c.    Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan metode Buzz Group; Mengamati proses transfer kelompok.;Mengamati pemahaman masing-masing anak.;

Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi :Mencatat hasil observasi.;Mengevaluasi hasil observasi.;Menganalisa hasil metode Buzz Group.;Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.

  1. Siklus III (Ketiga)
Dalam siklus III (ketiga) ini peneliti menetapkan langkah dan proses sebagai berikut :
a.    Perencanaan
Kegiatan perencanaan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi : Menyusun rencana perbaikanMengotimalkan waktu.; Menyiapkan blanko observasi; Menyiapkan blanko evaluasi.
b.    Tindakan
Kegiatan tindakan dalam penelitian kelas ini meliputi :
1)    Menjelaskan kegiatan belajar mengajar dan informasi pada siklus I dan II.
2)    Membentuk kelompok (6 Kelompok @ 5 anak).
3)    Memberikan beberapa masalah.
4)    Tiap kelompok memilih masalah sendiri.
5)    Diskusi kelompok membahas masalah masing-masing.
6)    Membantu secukupnya pada masing-masing kelompok.
7)    Melaporkan hasil diskusi kelompok.
c.    Observasi
Kegiatan observasi dalam penelitian kelas ini sebagai berikut :Mengamati perilaku siswa terhadap penggunaan metode Buzz Group.;Memantau diskusi / kerjasama antar siswa.;Mengamati proses komunikasi; Mengamati catatan dan pemahaman cerita masing-masing anak.
d.    Refleksi
Kegiatan refleksi dalam kegiatan penelitian kelas ini meliputi : Mencatat hasil observasiMengevaluasi hasil observasi; Menganalisa hasil pembelajaran;Menyusun laporan
Berdasarkan uji efektivitas pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel : Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 aspek  kognitif pada siklus I adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
20
40 %
65 - 100
29
60 %
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah
Pada siklus I untuk aspek kognitif menunjukkan jumlah siswa 20 yang mendapat nilai <65  sebesar 40 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 29 siswa atau 60 %. Untuk aspek kognitif maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria kurang efektif.

Tabel : Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02  aspek  kognitif pada siklus II adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
14
29 %
65 - 100
35
71%
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah
Pada siklus II untuk aspek kognitif menunjukkan jumlah siswa 14 yang mendapat nilai <65  sebesar 29% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 35 siswa atau 71%. Untuk aspek kognitif maka berdasarkan analisis data termasuk baik dengan kriteria cukup efektif.
Pada pertemuan pertama dan kedua pembelajaran PKn menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar mata pelajaran PKn. Adapun data hasil belajar mata pelajaran PKn tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel  : Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 aspek  kognitif pada siklus III adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
10
20 %
65 – 100
39
80%
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah
Pada siklus III untuk aspek kognitif menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 10 yang mendapat nilai <65  sebesar 20% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 39 siswa atau 80%. Untuk aspek kognitif pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik dengan kriteria sangat efektif.







Grafik 1 : Perbandingan hasil belajar PKn Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 melalui penerapan metode Buzz Group pada aspek Kognitif siklus I,II, dan III sebagai berikut :
Sumber : Data yang diolah

Uji efektifitas  aspek efektif pada siklus I, II, dan III, sebagai berikut :
Tabel : Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember aspek  Afektif pada siklus I adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
17
35%
65 – 100
32
65 %
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah
Pada siklus I untuk aspek afektif menunjukkan jumlah siswa 17 yang mendapat nilai <65  sebesar 35 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa atau 65 %. Untuk aspek afektif maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria cukup efektif.

Tabel: Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember aspek  Afektif pada siklus II adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
13
27%
65 – 100
36
73%
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah

Pada siklus II untuk aspek Afektif menunjukkan jumlah siswa 13 yang mendapat nilai <65  sebesar 27% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 36 siswa atau 73%. Untuk aspek Afektif maka berdasarkan analisis data termasuk baik dengan kriteria lebih efektif.


Tabel : Hasil Belajar PKn Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 3 aspek  Afektif  pada siklus III adalah sebagai berikut :
Skor
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
8
16 %
65 – 100
41
84%
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah
Pada siklus III untuk aspek Afektif menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 10 yang mendapat nilai <65  sebesar 20% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 39 siswa atau 80%. Untuk aspek Afektif pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik kriteria sangat efektif.

Grafik:: Perbandingan Hasil Belajar PKn Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 aspek  Afektif  pada siklus I,II, dan III sebagai berikut :
Sumber : Data yang diolah

Tabel: Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember aspek  Psikomotorik pada siklus I adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
11
22%
65 - 100
38
78 %
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah

Pada siklus I untuk aspek Psikomotorik menunjukkan jumlah siswa 11 yang mendapat nilai <65  sebesar 22 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 38 siswa atau 78%. Untuk aspek Psikomotorik maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria baik dalam kategori lebih efektif.

Tabel : Hasil Belajar Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02  aspek  Psikomotorik pada siklus II adalah sebagai berikut :
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
3
6%
65 - 100
46
94%
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah

Pada siklus II untuk aspek Psikomotorik menunjukkan jumlah siswa 3 yang mendapat nilai <65  sebesar 6% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 46 siswa atau 94%. Untuk aspek Psikomotorik maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria sang atbaik pada kategori sangat efektif.

Tabel: Hasil Belajar PKn Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget 02  aspek  Psikomotorik  pada siklus III adalah sebagai berikut :

Skor
Jumlah Siswa
Prosentase
< 65
1
2 %
65 – 100
48
98 %
Jumlah
49
100 %
Sumber: Data yang diolah

Pada siklus III untuk aspek Psikomotorik menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 1 yang mendapat nilai <65  sebesar 2% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 48 siswa atau 98%. Untuk aspek Psikomotorik pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik kriteria sangat efektif.

Grafik: Perbandingan Hasil Belajar PKn Melalui Penerapan Pembelajaran Buzz Group Siswa Kelas I SDN Sumberanget aspek  Psikomotorik  pada siklus I,II, dan III sebagai berikut :
Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
Berdasarkan hasil belajar siswa dan analisa data maka, Pada siklus I untuk aspek kognitif menunjukkan jumlah siswa 20 yang mendapat nilai <65  sebesar 40 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 29 siswa atau 60 %. Untuk aspek kognitif maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria kurang efektif. Selanjutnya Pada siklus II untuk aspek kognitif menunjukkan jumlah siswa 14 yang mendapat nilai <65  sebesar 29% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 35 siswa atau 71%. Untuk aspek kognitif maka berdasarkan analisis data termasuk baik dengan kriteria cukup efektif. Dan Pada siklus III untuk aspek kognitif menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 10 yang mendapat nilai <65  sebesar 20% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 39 siswa atau 80%. Untuk aspek kognitif pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik dengan kriteria sangat efektif.
Selanjutnya uji efektifitas untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar dengan metode Buzz Group perlu diadakan analisa sebagai berikut : Pada siklus I untuk aspek afektif menunjukkan jumlah siswa 17 yang mendapat nilai <65  sebesar 35 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 32 siswa atau 65 %. Untuk aspek kognitif maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria cukup efektif. Dan Pada siklus II untuk aspek Afektif menunjukkan jumlah siswa 13 yang mendapat nilai <65  sebesar 27% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 36 siswa atau 73%. Untuk aspek Afektif maka berdasarkan analisis data termasuk baik dengan kriteria lebih efektif. Pada siklus III untuk aspek Afektif menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 10 yang mendapat nilai <65  sebesar 20% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 39 siswa atau 80%. Untuk aspek Afektif pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik kriteria sangat efektif.
Kegiatan selanjutnya untuk mengetahui uji efektifitas pada aspek Psikomotorik dengan metode Buzz Group, sebagai berikut : Pada siklus I untuk aspek Psikomotorik menunjukkan jumlah siswa 11 yang mendapat nilai <65  sebesar 22 % sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 38 siswa atau 78%. Untuk aspek Psikomotorik maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria baik dalam kategori lebih efektif. Selanjutnya Pada siklus II untuk aspek Psikomotorik menunjukkan jumlah siswa 3 yang mendapat nilai <65  sebesar 6% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 46 siswa atau 94%. Untuk aspek Psikomotorik maka berdasarkan analisis data termasuk kriteria sang atbaik pada kategori sangat efektif. Dan pada siklus III untuk aspek Psikomotorik menunjukkan hasil belajar yang menggembirakan, karena jumlah siswa 1 yang mendapat nilai <65  sebesar 2% sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 48 siswa atau 98%. Untuk aspek Psikomotorik pada siklus III maka berdasarkan analisis data termasuk sangat baik kriteria sangat efektif.
            Tingginya nilai rata-rata kelas juga menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hal ini juga mendasari pemilihan responder penelitian. Kondisi semacam ini juga terjadi pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan .
Salah satu yang mempengaruhi tingginya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan obyek dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya sebagai subyek penerima materi. Sehingga siswa aktif dan produktif karena cenderung bersifat aktif dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Di sarnping itu juga karena kuatnya minat untuk belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Apalagi sejak awal berpandangan Pendidikan Kewarganegaraan itu lebih mudah didalam menyerap pembelajaran.
Berdasarkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan dengan pembelajaran metode Buzz Group dan diperoleh rata-rata hasil belajar yang meningkat antara siklus I, siklus II dan siklus III diperoleh melalui lembar pedoman observasi penelitian keaktifan siswa dengan maksud untuk membantu peneliti mengamati dan manual proses belajar mengajar pada awal hingga akhir proses pembelajaran.
Bentuk soal yang diberikan bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran kompetensi yang ingin dicapai. Adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara dan daya sendiri.
Melalui Buzz Group dan dapat melatih siswa dalam menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau bersama-sama. Dalam peneiltian ini permasalahan tersebut dipecahkan melalui Lembar Kerja yang dibuat oleh peneliti dan guru PKn yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, oieh karena itu siswa diberikan LK untuk diselesaikan.
            Dalam penelitian ini menggunakan LK dengan materi yang berbeda pada tiap pertemuan atau pada tiap siklus sasuai dengan materi yang akan disampaikan. Tugas diberikan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat terlebih dahulu mempelajari materi yang akan disampaikan, dengan demikian siswa telah mempelajari materi yang akan diajarkan. Dalam mengadakan LK diharapkan siswa membaca reference atau literatur yang relevan dengan materi pelajaran.
Pada siklus I ini dapat dikatakan siswa memiliki nilai rata-rata kelas yang cukup rendah, hal ini dikarenakan tidak semua siswa memahami metode instruksional Buzz Group, ini terjadi kemungkinan siswa belum terbiasa dengan metode Buzz Group sehingga pengajar sebagai fasilisator dan motivator berupaya untuk siswa agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan metode Buzz Group dan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyasa (2004) bahwa kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berfikir merumuskan masalah sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber, merupakan kesuiitan tersendiri bagi siswa. Sehingga kondisi ini perlu dimaklumi karena siswa baru mengenal metode Buzz Group.
Hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu hasil belajar mencapai rata-rata nilai 80 Pada siklus II. Pada siklus II dapat dikatakan siswa sudah mulai memahami atau membiasakan pembelajaran dengan metode Buzz Group. Menurut Pizzini dalam Kusmawa (1998:1) bahwa melalui proses pembelajaran ini para siswa akan mampu menjadi aktif produktif, pemikir yang handal dan mandiri. siswa dirangsang untuk mampu menjadi : a) Eksplorer , mencari penemuan terbaru. b) Inventor, pengembangan ide gagasan dan pengujian baru yang inovatif. c) Desainer, mengkreasi rencana dan metode terbaru. d) Eksekusioner, berlatih bagaimana menetapkan keputusan yang bijaksana. e) Komunikator, mengernbangkan rnetode dan teknik untuk bertukar pendapat dan berinteraksi.
Hasil belajar Pada siklus III mengalami peningkatan dari ­siklus I dan II, hal ini tampak pada perolehan rata-rata hasil belajar diperoleh rata-rata 84. Pada siklus III ini ada perbedaan dengan siklus sebelumnya, perbedaan ini juga dapat menggambarkan keaktifan siswa, yakni siswa bekerja sendiri atau siswa lebih aktif dalam menyelesaikan permasalahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Lie (2004) bahwa Buzz Group dapat merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif, mengkaitkan antara materi dengan kondisi riil di masyarakat dan menyeluruh karena dalam proses belajarnya, siswa banyak melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai aspek.
Menurut ketentuan Depdiknas seorang peserta didik dikategorikan tuntas beiajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 6,5. Suatu kelas disebui tuntas belajar bila kelas tersebut terdapat 85% peserta didik yang telah mencapai daya serap 85% (Kustantini,2001:10).
Tingkat pencapaian ketuntasan belajar kurang bagus, hal ini dikategoriakan hasil persentase ketuntasan belajar baik aspek kognitif, afektif kecuali psikomotor berada di bawah batas kategori ketuntasan belajar < 65%.
Peningkatan pada siklus I, II dan III pada dasarnya dapat dipaharni karena materi pelajaran yang sudah disiapkan oleh guru akan memudahkan siswa mempelajari materi inti dari suatu mata pelajaran. Metode pembelajaran seperti ini disebut juga metode pengajaran langsung. Menurut Kardi dan Nur (2000:7), pengajaran langsung adalah metode yang berpusat pada guru dan mempunyai 5 langkah yaitu : (1) Menyiapkan siswa menerima pelajaran; (2) Demonstrasi; (3) Pelatihan terbimbing (4) Umpan balik, dan (5) pelatihan lanjut (mandiri). Berdasatkan uraian itu, maka perlu menerapkan pembelajaran Buzz Group.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan analisis data di atas, maka hasil Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Penerapan Metode Buzz Group Pendidikan Kewarganegaraan/PKn Materi Pokok “Hidup Rukun” Di Kelas I SDN Sumberanget 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember .

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat memberikan saran untuk pengajar hendaknya menerapkan Metode Buzz Group untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PKn. Bagi guru dari lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan rujukan dan merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil .

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto. 2003. Menejemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Menengah Kejuruan GBPP. Jakarta: Depdikbud
Depdiknas, 2006. Kurikulurn tuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Puskur Depdiknas
Huberman, 1992. Analisis Diskriptif Kualitatif Jakarta : UIP
Hadjar. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hasbuan, JJ dan Moedjiono. 1995, Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Margono. 1997 : Metodelogi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineke Cipta
Nasution 1995. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Nurhadi dan Senduk. 2004. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and LearninglCTL) dan Penerepan dalam KBK. Malang: Universit - Negeri Malang
Setijadi. 1996. Pengelolah Belajar. Jakarta Utara : CV Rajawali
Slameto. 1991. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sujana, N. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar Bandung: Sinar baru       
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Trianto. 2007. Model Model  Pembelajaran Inovatif  Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta:  Prestasi Pustaka.