Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “ HIDUP RUKUN DALAM PERBEDAAN” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DAN TEMATIK Sukartini

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn  MATERI AJAR “ HIDUP RUKUN DALAM PERBEDAAN” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DAN TEMATIK

Sukartini

Abstrak: Ketuntasan  belajar harus dicapai dalam pembelajaran, maka harus diupayakan yang maksimal diantaranya dengan menerapkan  model pembelajaran inkuiri.  Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk mengkaji tentang: Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup rukun Dalam Perbedaan” Melalui Model Pembelajaran Inkuiri dan  Tematik Siswa Kelas I SDN Paleran 05. Kesimpulan yang diperoleh: Melalui  Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dan Tematik Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Rukun Dalam Perbedaan” Siswa Kelas I SDN Paleran 05. Peningakatan ketuntasan belajar meningkat dari kondisi awal 63% meningkat setelah tindakan siklus pertama menjadi 79% dan dilanjutkan siklus kedua meningkat menjadi 95%.

Kata Kunci: Model Pembelajaran Inkuiri, Tematik, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
             Teori, penelitian dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah  paradigma pengajaran. Kita perlu  menelaah kembali praktik-praktif pembelajaran di sekolah-sekolah . Peranan yang harus dimainkan oleh dunia pendidikan dalam mempersiapkan anak didik untuk  berpartisipasi secara utuh dalam kehidupan bermasyarakat di abad 21 akan sangat  berbeda dengan peranan  tradisional yang selama ini dipegang oleh sekolah-sekolah.
              Ada persepsi umum yang sudah  berakar dalam dunia  pendidikan juga sudah menjadi harapan masyarakat. Persepsi umum ini menganggap bahwa sudah  merupakan tugas guru untuk mengajar dan menyodori siswa dengan muatan-muatan informasi  dan pengetahuan. Guru perlu bersikap atau setidaknya  dipandang oleh siswa sebagai yang mahatahu dan sumber informasi . lebih celaka lagi siswa belajar dalam situasi yang membebani dan menakutkan karena dibayangi oleh tuntutan-tuntutan mengajar nilai-nilai tes  dan ujian yang tinggi.
             Perlu adanya perubahan dalam menelaah proses belajar siswa interaksi antara siswa dan guru. Sudah seyogyanya kegiatan belajar mengajar juga lebih mempertimbangkan siswa. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru. Selain  itu, alur proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju siswa. Siswa bisa juga saling mengajar dengan sesame siswa yang  lainnya. System pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur lebih efektif untuk meningkatkan gairah dalam pembelajaran. Dalam system ini, guru bertindak sebagai fasilitator.  Ada beberapa alasan penting mengapa system pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi social, ekonomi, dan demografis yang mengharuskan sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat (Hobri. 2008; Sudjana, N.  1989.).
Proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada prinsipnya dalam penyajian materi pokok, guru harus berusaha mengefektifkan proses pembelajaran pada siswa agar hasil belajar siswa meningkat. Keefektifan belajar merupakan modal yang sangat penting untuk belajar. Proses belajar mengajar PKn dengan pola guru sentris (guru menjadi pusat kegiatan di dalam kelas) membuat siswa menganggap , bahwa pelajaran PKn membosankan. Hal ini mengakibatkan hasil belajar tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Menilik pada pengertian di atas, maka kegiatan PTK harus senantiasa terkait dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru (Hobri, 2007; Rachman, Saiful. Dkk. 2006.)..
            Model pembelajaran inkuiri  adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Inkuiri berasal dari kata to inquire yang berarti ikut serta, atau terlibat, dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosi, maupun pribadinya. Oleh karena itu dalam proses perencanaan pembelajaran, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Pembelajaran adalah proses memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta) (Hobri. 2008Winataputra, U.S. 1996).
Tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema/topik pembahasan. Sutirjo dan Sri Istuti Mamik (2004: 6) menyatakan bahwa pembelajaran tematik merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, atau sikap pembelajaran, serta pemikiran yang kreatif dengan menggunakan tema.
            Berdasarkan latar belakang di  atas, maka rumusan masalah yang kami ajukan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup rukun Dalam Perbedaan” Melalui Model Pembelajaran Inkuiri dan  Tematik Siswa Kelas I SDN Paleran 05 ?
            Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk mengkaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “ Hidup rukun Dalam Perbedaan” Melalui Model Pembelajaran Inkuiri dan  Tematik Siswa Kelas I SDN Paleran 05.
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini antara lain :
a)     Bagi siswa, dapat memberikan motivasi untuk lebih tertarik mempelajari PKn sehingga dalam proses belajar mengajar siswa bersemangat dalam menerima materi pokok.
b)     Bagi Guru, sebagai masukan dalam rangka pemantapan penggunaan metode mengajar yang tepat guna dan baik, sehingga bermanfaat bagi guru dan siswa dalam pembelajaran PKn.
c)     Bagi Sekolah, sebagi informasi dalam pembelajaran dan alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar



METODE PENELITIAN
Tempat penelitian merupakan daerah atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SDN Paleran 05 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember
Subyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas I SDN Paleran 05 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember berjumlah 19 siswa .

 Rancangan Penelitian
                  Rancangan yang dignakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Model John Elliot. Model PTK dari John Elliot ini lebih rinci jika dibandingkan dengan model Kurt Lewin dan model Kemmis-Mc Taggart. Dikatakan demikian, karena di dalam setiap siklus terdiri dari beberapa aksi, yaitu antara tiga sampai lima aksi (tindakan). Sementara itu, setiap tindakan kemungkinan terdiri dari beberapa langkah yang terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. PTK model Elliot dapat digambarkan sebagai berikut:
                                
Description: http://3.bp.blogspot.com/-OltPM7uwXW0/T6UvkM7jpjI/AAAAAAAAAS8/JVUTEVC93os/s640/4+jOHN+eLLIOT.JPG
Gambar 1: .Desain PTK Model John Elliott (Sanjaya, Wina. 2010.; Tantra, D K,  1998).
Seperti halnya desain model PTKnya Kemmis & McTaggart, desain PTK model John Elliott juga dikembangkan berdasarkan konsep dasar Kurt Lewin. Model ini diawali dari mengidentifikasi masalah, yang pada hakikatnya bagaimana pernyataan yang menghubungkan antara gagasan atau ide dengan pengambilan tindakan.
Coba anda perhatikan contoh identifikasi masalah sebagai berikut:
1)     Para siswa merasa tidak puas dengan metode penilaian yang digunakan  guru kelasnya. Bagaimana kalau guru berkolaborasi untuk meningkatkan pengukuran terhadap kemampuan siswa ?
2)     Para siswa hanya membuang-buang waktu percuma di kelas. Bagaimana cara guru membawa siswa lebih banyak lagi menggunakan waktu mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka ?
3)     Orang tua siswa bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervisi “pekerjaan rumah”. Bagaimana caranya agar bantuan orang tua siswa bekerja lebih produktif ? Apa pun masalah yang akan diangkat dalam penelitian, hendaknya tetap berada dalam lingkup permasalahan yang dihadapi guru dalam praktekpembelajaran sehari-hari di ruang kelas dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai serta berusaha mengubahnya atau memperbaikinya.
Apabila guru dalam melakukan pembelajaran sehari-hari merasakan ada sesuatu yang janggal atau adanya ketimpangan dan kurang memuaskan, yang oleh peneliti juga dicermati pada waktu orientasi atau tahapan penelitian awal penelitian sebagai peningkatan, maka diperlukan penjelasan lebih lanjut. Misalkan, kejanggalan itu ialah para siswa banyak membuang waktu percuma di kelas perlu deskripsi yang mendetail, seperti: siswa yang mana yang membuang waktu percuma di kelas itu ? Tugas apa yang sebenarnya yang mereka lakukan ? Pada saat-saat mana dalam pelajaran mereka melakukannya ? Dan manifestasi bentuk kegiatan apa yang mereka tampilkan waktu”membuang waktu dengan percuma” di kelas? Informasi yang didapat dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan menolong untuk membedakan berbagai aspek permasalahan penelitian dan membantu ke arah mana perbaikan pembelajaran harus dilakukan.
Refleksi atau pertimbangan baik atau buruknya atau berhasil belum berhasilnya tindakan, merupakan bagian dari tahapan diskusi dan analisis penelitian sesudah tindakan dilakukan sehingga memberikan arah bagi perbaikan selanjutnya.

Tahap Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perencanaan ini merupkan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang direncanaka terlebih dahulu. Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana guru disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya.
Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan
Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran.  Pada tahap implementasi guru selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, guru memberikan materi secara umum dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan diajarkan dan model pembelajaran yang akan diterapkan. Tahap selanjutnya merupakan proses berlangsungnya pembelajaran dengan menerapkan model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik.
Dimana siswa dituntut aktif dalam menyampaikan / mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan metode pengajaran ini guru dapat merangsang seluruh siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya pembelajaran. Keaktifan siswa/peserta model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik dapat berupa penyampaian argumen, tanggapan, bertanya atau menjawab pertanyaan dan lain sebagainya. Pada tahap kedua ini merupakan proses berlangsungnya model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik.
 Dimana siswa dituntut aktif dalam menyampaikan / mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh guru.
Menurut "Kerlinger" mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan
secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Tahap Refleksi
Peneliti mengadakan analisis, pemaknaan dan penyimpulan terhadap tindakan yang telah dilaksanakan pada tahap evaluasi-refleksi. Peneliti, guru kelas dan teman sejawat berdiskusi untuk memaknai data yang diperoleh dalam observasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Hasil refleksi kemudian kegunakan sebagai dasar pemikiran untuk menyusun rencana tindakan yang akan datang.
Tahap refleksi juga merupakan evaluasi tentang tindakan yang telah dilakukan untuk mengetahui keberhasilan atau pengaruh tindakan. Pada tahap ini peneliti dapat membandingkan kondisi awal sebelum diadakan tindakan dan kondisi sesudah diberikan tindakan
Tahap Observasi/Pengamatan
Menurut "Kerlinger"(2000:9) mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.

Metode Pengumpulan Data
a)     Sumber data meliputi :
        Siswa (peserta didik), pengajar, dan proses belajar mengajar.
b). Cara Pengambilan data :
       Angket untuk memperoleh data autentic assesment untuk    memperoleh kemajuan belajar materi (tingkat pencapaian prestasi) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), perekaman, observasi, wawancara dan studi dokumen.
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto, 1993:136) Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, wawancara dan tes.
Observasi
Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian baik secara langsung maupun tidak langsung (Margono, 1997:158). Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengamatan yang dilakukan guru terhadap siswa untuk melihat aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik, serta yang tidak menggunakan model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik. Menurut Sudjana dan Ibrahim (1989:112), observasi dapat dilaksanakan dengan tiga cara yaitu :
a)  Observasi langsung, adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenamya dan langsung diamati oleh observer.
b)  Observasi tidak langsung, dilaksanakan menggunakan alat seperti mikroskop untuk mengamati bakteri, mengamati pori-pori kulit dan lain-lain.
c)  Observasi partisipasi, pengamat harus memperlihatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.
            Adapun metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode secara langsung, yaitu mengadakan pengamatan
secara langsung dan sistematis kepada subyek yang diteliti mengenai gejala-gejala yang tedadi dan perubahan-perubahan aktivitas siswa dan guru selama pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) berlangsung.

Metode Wawancara (interview)
Metode wawancara digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan jawaban dari responden mengenai pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Berdasarkan bentuknya ada tiga jenis wawancara yang dapat digunakan dalam pelaksanaan penelitian. Ketiga jenis wawancara tersebut adalah : (1)Tldak berstruktur atau unstructured interview, (2) Dilakukan secara terang-terangan atau overted interview, dan (3) Menempatkan informan sebagai sejawat penelitian atau viewing one another as peers (Faisol, 1990:62). Adapun bentuk wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur.
Pada wawancara ini peneliti bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara bebas dan leluasa, tanpa harus terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya sesuai dengan pedoman wawancara.
Jenis wawancara ini memungkinkan berlangsung luwes, arahnya bisa lebih terbuka sehingga bisa diperoleh banyak informasi dan pembicaraan tidak terlampau kaku dan bisa menjenuhkan kedua belah pihak. Sesuai dengan bentuknya maka wawancara ini jugs dikenal dengan sebutan wawancara mendalam (in-depth interviewing) (Soetopo, 1996:55).
Wawancara dilakukan kepada guru bidang studi dan perwakilan siswa yang mendapatkan nilai tes akhir terbaik dan terburuk dalam kelas. Wawancara ini berisi pertanyaan mengenai tanggapan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa-siswi kelas I SDN Paleran 05 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember terhadap model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Wawancara terhadap guru bidang studi tujuannya untuk mengetahui tanggapan serta pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang dilakukan peneliti dan wawancara terhadap siswa dilakukan pada siswa yang tuntas belajar dan yang tidak tuntas belajar.
Siswa yang tuntas belajar diambil tiga siswa secara acak dan akan diwawancarai mengenai tanggapannya terhadap model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik yang telah dilaksanakan. Untuk siswa yang tidak mencapai ketuntasan belajar perorangan diambil tiga siswa secara acak kemudian di wawancarai untuk mengetahui kesulitan siswa selama pembelajaran  berlangsung.

Metode Tes
Untuk mengukur keberhasilan yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka salah satu cara yang digunakan adalah tes. Menurut Arikunto (1993 : 123), tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk keterampilan dan pengetahuan, inteligensi, kemampuan dan bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, yaitu serentetan pertanyaan atau latihan yang diberikan pada siswa untuk menilai hasil-­hasil pembelajaran yang telah diajarkan oleh guru dalarn jangka waktu tertentu baik dalam pengetahuan maupun keterampilan sebagai hasil atau pengalaman belajar (Ali,1993:81).
Tes dibuat berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi dan diambil dari buku Pendidikan Kewarganegaraan  Kelas I, pembuatan pre-test berdasarkan materi yang akan diberikan dan pembuatan post-test dan buku Pendidikan Kewarganegaraan  Kelas I lain yang relevan, berdasar pada pengembangaL LKS yang diberikan untuk tes akhir.
Dalam melakukan penilaian terhadap jawaban siswa untuk menghindari subyektivitas, peneliti memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)    Membuat inti jawaban dan skor untuk masing-masing soal sehingga dalam mengoreksi tidak memerlukan waktu yang terlalu lama dan mengoreksi seobyektif mungkin.
2)    Mengoreksi jawaban siswa item demi item dengan pengertian, bahwa item pertama dikoreksi lebih dahulu baru kemudian item berikutnya, jadi siswa diharapkan untuk menjawab secara urut.
3)    Menekan sekecil mungkin pengaruh kerapian tulisan siswa terhadap skor yang dengan berpedoman pada inti jawaban dan penskoran yang telah dibuat (Widjaya, 1979:159).
Metode Dokumenter
Metode dokumenter berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang yang tertulis, jadi metode dokumenter adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah prasasti, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya (Arikunto, 2002: 206). Berdasarkan pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data melalui
sumber-sumber dokumen yang berupa catatan, transkrip, buku atau dalam bentuk lain. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah antara lain :
1.    Nama responder penelitian.
2.    Daftar nilai ulangan harian sebelumnya.

Metode Analisis Data
Ada dua teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk menggambarkan keadaan subyek penelitian (Populasi), akan digunakan teknik deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan kondisi subyek penelitian baik sebelum maupun pada saat penelitian dikelas atau pada akhir perkuliahan. Sedangkan untuk mengetahui seberapa efektif penelitian  model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik, telah menunjukkan hasil atau belum digunakan analisis kuantitatif.
Teknik Deskriptif kuantitatif yang berupa tendency central dipakai untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

lndikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila : (1) Model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik yang dilakukan oleh pembina Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); (2) Proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan produktif, yang dapat diukur dari peningkatan keaktifan peserta didik dalam PBM, prestasi belajar meningkat memenuhi standart ketuntasan yang ditentukan nilai individual mencapai 65, ketuntasan klasikal 85% dari total siswa dikelas tersebut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil belajar Siswa yang diajarkan dengan model konvensional dapat dikatakan belum tuntas belajar karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 Siswa dengan persentase 37% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 12 Siswa dengan nilai persentase sebesar 63%. Nilai tersebut diatas sebagai titik awal dari pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas.yang dilaksanakan.
Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Dan Metode Tematik pada siklus I , dengan hasil analisa data sebagai berikut, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa dengan persentase sebesar 21% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 15 siswa dengan nilai persentase sebesar 79%, maka pada siklus I dinyatakan sudah tuntas belajar. Tetapi hasil belajar pada siklus I, masih belum sesuai dengan yang diharapkan, sehingga analisa dilanjutkan pada siklus II.
Siklus II dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan dan menyempurnakan pembelajaran pada siklus I. Adapun hasil anlisa data pada siklus II adalah , yang mendapat nilai < 65 hanya 1 Siswa dengan persentase sebesar 5 % dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 18 siswa dengan nilai persentase sebesar 95%, hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik dapat meningkatkan hasil belajar yang signikan. Karena ketuntasan hasil belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan hasil belajar yang diinginkan, maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II, dapat disajikan pada tabel dan grafik dibawah ini :









Tabel 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa SDN Paleran 05 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
7
37%
4
21%
1
5%
65 - 100
12
63%
15
79%
18
95%
Jumlah
19
100%
19
100%
19
100%

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa SDN Paleran 05 pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.

Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
Sebelum penelitian tindakan kelas dilaksankan , hasil belajar Pendidikan Kewarganegaan di kelas ini masih tergolong rendah dan belum tuntas belajar. Hal ini dapat dilihat dari  hasil analisa data pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 Siswa dengan persentase 37% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 12 Siswa dengan nilai persentase sebesar 63%. Rendahnya hasil belajar ini, menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan Siswa hanya sebagai obyek penerima materi.
Dengan kondisi pembelajaran yang demikian maka dilaksanakan pembelajaran pada siklus I dengan menerapkan model  pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik, yang hasil nya adalah yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa dengan persentase sebesar 21% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 15 siswa dengan nilai persentase sebesar 79%, maka pada siklus I dinyatakan sudah tuntas belajar. Namun pada Siklus I pelaksanaan pembelajaran masih belum maksimal. Karena siswa masih belum terbiasa dengan metode pembelajaran yang diterapkan.
Selanjutnya analisa data dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II, peneliti menerangkan dan mengulangai penjelasan tentang metode pembelajaran yang diterapkan. Sehingga siswa lebih memahami proses pembelajarn dan mulai menyukai metode ini. Hal ini  terlihat dari semakin kondusifnya proses pembelajaran. Siswa tampak senang sehingga lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Pada Siklus II ini, tampak adanya peningkatan hasil belajar yang memuaskan, yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya 1 Siswa dengan persentase sebesar 5 % dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 18 siswa dengan nilai persentase sebesar 95%. Karena ketuntasan hasil belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan hasil belajar yang diinginkan, maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Peningkatan ketuntasan hasil belajar seperti yang telah disampaikan diatas menunjukkan bahwa Model pembelajaran inkuiri dan Metode Tematik dapat meningkatkan hasil belajar, dalam hal ini mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  materi ajar “Hidup Rukun Dalam Perbedaan”.
Bentuk soal yang diberikan pada ulangan harian adalah bentuk essay, bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai serta dikonsultasikan dengan pengajar.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Berdasarkan hasil analisis data  tersebut di atas maka dapat peneliti simpulkan: Melalui  Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dan Tematik Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Hidup Rukun Dalam Perbedaan” Siswa Kelas I SDN Paleran 05. Peningakatan ketuntasan belajar meningkat dari kondisi awal 63% meningkat setelah tindakan siklus pertama menjadi 79 % dan dilanjutkan siklus kedua meningkat menjadi 95%.

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar siswa maka penulis memberi saran sebagai berikut:
a)     Kepada guru hendaknya dapat menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri dan Metode Tematik dalam pembelajaran PKn sebagai metode alternatif praktik dalam pembelajaran.
b)     Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian sejenis dengan permasalahan yang lain.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 2002 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Cochran, Rachel et al.(2007). The impact of Inqury-Based Mathematics on Context Knowledge and Classroom Practice. Journal.
Depdiknas. 2004. Kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Djamarah, S.B. 1996. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud dirjen Dikti Proyek pembinaan tenaga kependidikan.
Hobri, 2007. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru dan Praktisi. Jember: Universitas Jember.
Hobri. 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif Bahan Bacaan Untuk Guru. Jember: Center For Society Studies (CSS).
Natsir, 1998. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Tantra, D K. 1998. Penelitian Tindakan Kelas Dasar Dan Pelaksanaan. Singaraja: P3M STKIP Singaraja.
Rachman, Saiful. Dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah Bahan Pelatihan Pengembangan Profesi Fungsional Guru Surabaya: SIC & Depdikbud
Roestiyah NK, 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sanjaya, Wina. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media Group.
Suryabrat, Sumadi, 1989, Proses Belajar Mengajar, Yogyakarta: Andi Opset.
Sudjana, N.  1989. Cara Belajar Siswa Aktif dan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar baru Argesindo.

Winataputra, U.S. 1996. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka