Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PEMANFAATAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM SEKITAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “ BANGUN DATAR SEDERHANA ” SISWA KELAS III SDN MANGLI O3 Ninik Sunarmiati

PEMANFAATAN MEDIA LINGKUNGAN ALAM SEKITAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI AJAR “ BANGUN DATAR SEDERHANA  ” SISWA KELAS III SDN MANGLI O3
                                             
Ninik Sunarmiati

Abstrak:   Media pembelajaran sangat penting agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk  mengkaji tentang : Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “ Bangun Datar Sederhana  ” Siswa Kelas III SDN Mangli O3. Desain Penelitian ini Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang berbentuk spiral dengan tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection).  Hasil peneltian : Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar dapat  Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “ Bangun Datar Sederhana  ” Siswa Kelas III SDN Mangli O3.  Siklus pertama  ketuntasan mencapai 63%, meningkat menjadi 80% dan pada siklus ketiga menjadi 89%.

Kata Kunci: Media Lingkungan Alam, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Proses pembelajaran, mengupayakan proses yang lebih memperdayakan siswa. Siswa dituntut untuk bersikap aktif, kreatif dan inovatif dalam menanggapi setiap pelajaran yang diajarkan. Setiap siswa harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu setiap pelajaran selalu dikaitkan dengan lingkungan sekitar serta memberikan motivasi kepada siswa dengan menyampaikan manfaatnya dalam lingkungan sosial masyarakat. Sikap, aktif, kreatif dan inovatif dapat terwujud dengan menempatkan siswa sebagai subyek pendidikan..Guru sebagai fasilitator dan bukan merupakan sumber utama pembelajaran, guru bertugas untuk menciptakan sistem lingkungan yang membelajarkan subyek pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
            Menurut Blasky (Rahmawati, 2003:2) semua pembelajaran di sekolah cenderung teoritik dan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi majemuk dan tidak menarik untuk diikuti. Paradigma pembelajaran masih berfokus pada bagaimana cara guru mengajar, artinya kelas berfokus pada guru satu-satunya sumber utama pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dan metode ceramah merupakan pilihan utama dalam pembelajaran.
Pendidikan merupakan usaha manusia untuk menyiapkan diri dalam perananya dimasa akan datang. Pendidikan dilakukan tanpa ada batasan usia, ruang dan waktu yang tidak dimulai atau diakhiri di sekolah, tetapi diawali dalam keluarga dilanjutkan dalam lingkungan sekolah dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat, yang hasilnya digunakan untuk membangun kehidupan pribadi agama, masyarakat, keluarga dan negara (Ali, 1983)
Guru dituntut untuk selalu memiliki gagasan-gagasan baru atau menggunakan ide-ide baru yang sedang berkembang dalam menyempurnakan model atau metode mengajarnya. Hal ini dilakukan agar dapat menciptakan suasana belajar yang diinginkan oleh peserta didik sehingga mereka akan dapat termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan keinginannya.
            Guru menempati posisi yang strategis dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam pendekatan pembelajaran. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan menjadi faktor penyebab rendah atau kurang maksimalnya pemahaman siswa terhadap pelajaran. Kebanyakan model pembelajaran vang sering diterapkan oleh guru adalah pembelajaran konvensional. Menurut Hamden (2003:151) pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru daripada berpusat pada kemampuan siswa. Padahal dalam tujuan pembelajaran diharapkan slswa memahami terhadap apa yang dipelajari, sehingga dibutuhkan penerapan dan pengembangan model secara optimal agar mencapai hasil belajar vang diharapkan.
Dalam upaya itu siswa perlu guru sebagai pengarah dan pembimbing. Tugas guru di dalam kelas  adalah membantu siswa mencapai tujuan. Maksudnya   guru  lebih  banyak berurusan dengan strategi dengan alat  bantu  yang dikenal  siswa disekitarnya, dari pada memberi informasi.
            Media pembelajaran lingkungan alam sekitar adalah pemahaman terhadap gejala atau tingkah laku tertentu dari objek atau pengamatan ilimiah terhadap sesuatu yang ada di sekitar sebagai bahan pengajaran siswa sebelum dan sesudah menerima materi dari sekolah dengan membawa pengalaman dan penemuan dengan apa yang mereka temui di lingkungan mereka. Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan Lingkungan Alam Sekitarnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas (PTK) yang diajukan sebagai berikut : Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar Apakah Dapat  Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “ Bangun Datar Sederhana  ” Siswa Kelas III SDN Mangli O3?
            Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk  mengkaji tentang : Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “ Bangun Datar Sederhana  ” Siswa Kelas III SDN Mangli O3.
            Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
a)     Bagi siswa, penelitian ini diharapkan siswa dapat mengembangkan cara belajar yang lebih kreatif serta aktif dalam pembelajaran matematika,
b)     Bagi guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan teknik-teknik yang dapat digunakan pada pembelajaran,
c)     Bagi sekolah, dapat meningkatkan mutu pembelajaran yang diharapkan akan memberikan sumbangan bagi peningkatan mutu pembelajaran .
            Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini adalah suatu pencapaian dari suatu penguasaan materi secara maksimal baik secara perorangan maupun secara kelompok. Bila dalam belajar mengajar sudah diperoleh ketuntasan belajar maka proses belajar mengajar dikatakan efektif, kriteria ketuntasan hasil belajar adalah :
a.    Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100.
b.    Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangli 03 Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III semester Genap  SD Negeri Mangli 03 Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember yang berjumlah 35 siswa.
            Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  PTK merupakan suatu penyelidikan atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (guru). Mengingat penelitian ini berusaha untuk mengkaji efektivitas pembelajaran matematika, maka tekanan dalam penelitian ini adalah proses dan hasil pembelajarannya (Sukidin, 2002:13).
            Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian yang bersifat kolaboratif yang di dasarkan pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran Matematika. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins (PGSM:1999) yang berbentuk spiral dengan tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection).
Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut :
 

















Revisi Perencanaan
 
                                                                Tidak


Ya
Stop Pembelajaran
 
 



Hopkins (PGSM, 1999)
            Penelitian ini di rencanakan menggunakan tiga siklus, narnun apabila pada siklus I diperoleh ketuntasan secara klasikal maka penelitian selesai dan apabila belum mencapai ketuntasan maka penelitian ini akan dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Tindakan pendahuluan
            Tindakan pendahuluan dilakukan sebagai langkah awal sebelum pelaksanaan siklus. Beberapa kegiatan pendahuluan itu adalah :
1.    Observasi
Kegiatan observasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui metode pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru bidang studi matematika
2.    Wawancara
Wawancara dilakukan kepada guru bidang studi matematika

Pelaksanaan siklus
            Siklus yang dilaksanakan terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan observasi, dan refleksi. Apabila dalam siklus pertama telah tercapai hasil yang diinginkan yaitu keaktifan dan ketuntasan belajar siswa mencapai minimal ≥65% maka pelaksanaan siklus dihentikan, tetapi jika belum dicapai maka siklus kedua perlu dilakukan dan seterusnya. Adapun kegiatan dalam setiap siklus adalah sebagai berikut :
a)    Perencanaan Pembelajaran
Kegiatan perencanaan ini meliputi :
  1. Menyusun rencana pembelajaran Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar dengan harapan bisa merubah aktivitas belajar siswa menjadi lebih baik.
  2. Menyusun nama-nama anggota kelompok berdasarkan data hasil belajar yang diberikan oleh guru bidang matematika dengan tujuan agar setiap kelompok dalam satu kelas memperoleh hasil yang baik.
  3. Menyusun alat evaluasi berupa LKS, tugas pekerjaan rumah (PR) dan proyek.
  4. Menyusun pertanyaan dan jawaban untuk siswa.
  5. Membuat pedoman observasi untuk mengamati proses, kinerja belajar siswa dan kelompok.
b)    Tindakan
            Tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan tes pendahuluan yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas dalam pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana kesiapan penguasaan materi yang dimilki masing–masing siswa.
  2. Siswa dibentuk menjadi kelompok-kelompok yang sudah ditentukan.
  1. Memberikan evaluasi tentang penguasaan materi.
  2. Mengadakan wawancara untuk mengetahui tanggapan guru bidang studi dan siswa.

c)    Observasi
            Kegiatan observasi dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan tindakan. Dalam kegiatan observasi ini, peneliti dibantu oleh 2-3 observer. Masing-masing observer mengobservasi dua sampai tiga kelompok. Hal yang diobservasi adalah aktivitas siswa di dalam kelompok berpasangan, aktivitas siswa di dalam kelas maupun aktitivitas siswa antar kelompok selama proses pembelajaran.

d)    Refleksi
            Kegiatan refleksi dalam PTK diperlukan untuk menemukan titik-titik rawan, sehingga dapat dilanjutkan dengan mengidentifikasi serta menetapkan sasaran perbaikan baru, menyusun perencanaan baru, mengimplementasikan tindakan baru atau menjelaskan penyebab terjadinya kegagalan sehingga perlu dilakukan perbaikan atau tidak.
Hasil dari refleksi digunakan untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya dalam upaya untuk mencapai tujuan PTK. Tujuan ini guna mengetahui hasil tindakan pada siklus I dan hasil belajar yang dicapai, kelemahan serta kendala yang dialami. Jika klasikal pencapaian nilai 85 % maka siklus II tidak dilakukan, namun apabila belum mencapai standar ketuntasan klasikal maka dilakukan siklus II.

Pelaksanaan Siklus II
1.    Revisi Perencanaan
            Revisi perencanaan pada siklus II sama dengan siklus I tetapi lebih menekankan pada perbaikan dari perencanaan siklus I.
2.    Pelaksanaan tindakan
            Tindakan pada siklus II ini tidak jauh beda dengan siklus I yaitu melaksanakan model pembelajaran Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar namun apabila pencapaian nilai sesuai dengan standar ketuntasan hasil belajar maka tidak perlu melanjutkan siklus selanjutnya, sebaliknya apabila belum berhasil dari pencapaian siklus II maka perlu dilakukan siklus III (berikutnya)
3.    Observasi
            Kegiatan pada tahap ini sama dengan observasi pada siklus I hal yang diobservasi adalah kegiatan guru (peneliti) dan aktivitas siswa dan kelompok.
4.    Refleksi
            Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan hasil evaluasi yang meliputi tugas rumah (PR), proyek, LKS dan tes akhir. Tujuannya guna mengetahui hasil tindakan pada siklus I dan hasil belajar yang dicapai, kelemahan serta kendala yang dialami. Jika secara klasikal ketuntasan belajar siswa telah mencapai 85 % mencapai nilai minimal > 65 maka siklus II tidak dilakukan apabila belum mencapai standar ketuntasan klasikal maka akan dilakukan siklus berikutnya sampai mengalami ketuntasan belajar.

 Metode Pengumpulan Data
            Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto, 1993:136). Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, dokumentasi, wawancara dan tes.
Analisis Data
            Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan. Data dianalisis dengan menggunakan deskriptif yaitu mendiskripsikan besarnya kejadian atau fenomena yang terjadi di dalam populasi penelitian (Nawawi, 1999:63).
            Analisis data adalah cara yang paling menetukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya. Data yang akan di analisis dalam penelitian ini adalah : 1) Kegiatan siswa selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yaitu meliputi aspek, afektif, psikomotor, 2) hasil dari tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif).Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar dalam hal ini adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotor mengunakan standar ketuntasan yaitu ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat persentase ketuntasan minimai mencapai 65 %, sedangkan untuk tingkat klasikal minimal mencapai 85 % (Depdibud: 1994).
            Adapun data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah :
1.    Persentase untuk mengetahui keaktifan siswa menggunakan rumus
  1. Ketuntasan Secara Individu
      Rumus Persentase Ketuntasan : Jumlah skor yang diperoleh x 100
                                                                           Jumlah skor maksimal
b.    Ketuntasan Secara Klasikal
            Rumus Persentase Ketuntasan : Jumlah siswa yang tuntas x 100
                                                                          Jumlah seluruh siswa
                                                                                           (Masyhud, S. A,. 2000)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
            Penelitian dilaksanakan dikelas III dengan jadwal penelitian dilaksanakan sesuai dengan mata pelajaran Matematika. Hasil observasi diperoleh data bahwa pembelajaran masih belum memberikan kesempatan pada siswa untuk mengolah konsep dan ide sendiri, sehingga tidak /tanpa proses inkuiri pada siswa.
            Berdasarkan hasil interview di atas dapat diketahui bahwa dalam pembelajaran guru hanya menggunakan metode ceramah bervariasi dan penugasan pada akhir pembelajaran, jika mengggunakan pembelajaran diskusi guru menggunakan diskusi biasa, sehingga siswa merasa bosan dan jenuh sehingga siswa tidak termotivasi untuk melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
            Pelaksanaan tindakan awal yaitu melaksanakan tes pendahuluan tentang materi di kelas III sesuai dengan jadwal. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Sebelum tes dimulai peneliti menginformasikan agar setiap siswa menuliskan nama dan nomor absen sebagai identitas pada tes pendahuluan. Tes pendahuluan berlangsung selama 60 menit dengan 14 soal essay. Bedasarkan tes pendahuluan ternyata masih banyak siswa yang mendapat nilai dibawah 65 , yaitu sebanyak 13 siswa, dan yang tuntas belajarnya hanya 22  siswa dari 35 siswa. Sehingga pada kondisi awal ini dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran Siklus I. Model pembelajaran yang digunakan adalah Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang model pembelajaran yang digunakan adalah Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar dan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran kepada siswa. Setelah itu siswa dibagi menjadi 7 kelompok terdiri dari 5 siswa. Siswa mulai mencari jenis-jenis bahan dari alam sekitar yang sesuai dengan mata pelajaran matematika materi ajar “Bangun Datar Sederhana”, dan selanjutnya digunakan untuk mempermudah memahami materi yang diajarkan.
Pada siklus ini, siswa tampak antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terbukti , siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil belajar siswa jadi mengalami peningkatan. Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau 20% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 28 siswa atau 80%, sehingga pada siklus I dinyatakan sudah tuntas belajar. Namun untuk memperbaiki nilai pada siklus I, peneliti merasa masih perlu untuk dilaksanakan analisis data pada sikluss selanjutnya, yaitu siklus II.
            Hasil analisis data pada siklus I, dapat dilihat lebih jelas pada tabel dibawah ini.

Tabel 1 : Ketuntasan Hasil belajar Matematika Siswa Kelas III SDN Mangli 03 pada Siklus I.
Skor
Jumlah Siswa
Prosentase (%)
< 65
7
 20%
65 – 100
28
 80%
Jumlah
35
100 %
Sumber: Data yang diolah
            Pelaksanaan siklus II ini sama dengan pelaksanaan siklus I. Setelah pelaksanaan pembelajaran II selesai, guru meminta kepada siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tes akhir. Tes akhir berlangsung selama 60 menit dengan 20 soal obyektif, berdasarkan hasil tes akhir diperoleh data bahwa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau 11% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 31 siswa atau 89%, sehingga analisa tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya karena pada siklus II sudah mencapai ketuntasan yang diinginkan.
Hasil analisa data pada siklus II, dapat dilihat lebih jelas pada tabel dibawah ini.

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil belajar Matematika Siswa Kelas III SDN Mangli 03 pada Siklus II.
Skor
Jumlah Siswa
Prosentase (%)
< 65
4
 11%
65 – 100
31
 89%
Jumlah
35
100 %
Sumber: Data yang diolah

Tabel 3 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Siswa Kelas III SDN Mangli 03 pada  Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
13
37%
7
20%
4
11%
65 - 100
22
63%
28
80%
31
89%
Jumlah
35
100%
35
100%
35
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar Matematika Siswa Kelas III SDN Mangli 03 pada  Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa ataupun aktivitas kelompok dan untuk mengamati aktivitas guru (peneliti) dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini, peneliti yang bertugas mengamati aktivitas guru sebagai refleksi kegiatan pembelajaran dan 2 observer yang bertugas mengamati aktivitas siswa dan aktivitas kelompok.
Kegiatan Pembelajaran pada umumnya berjalan lancar. Hal tersebut dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam berdiskusi dalam kelompoknya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Pada kegiatan awal, peneliti mengadakan analisa data berupa tes pendahuluan. Tes pendahuluan berlangsung selama 60 menit dengan 14 soal essay. Bedasarkan tes pendahuluan ternyata masih banyak siswa yang mendapat nilai dibawah 65 , yaitu sebanyak 13 siswa, dan yang tuntas belajarnya hanya 22  siswa dari 35 siswa. Sehingga pada kondisi awal ini dinyatakan belum tuntas belajar.
Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran Siklus I. Model pembelajaran yang digunakan adalah Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar. Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang model pembelajaran yang digunakan adalah Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar dan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran kepada siswa. Setelah itu siswa dibagi menjadi 7 kelompok terdiri dari 5 siswa. Siswa mulai mencari jenis-jenis bahan dari alam sekitar yang sesuai dengan mata pelajaran matematika materi ajar “Bangun Datar Sederhana”, dan selanjutnya digunakan untuk mempermudah memahami materi yang diajarkan.
Pada siklus ini, siswa tampak antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terbukti , siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil belajar siswa jadi mengalami peningkatan. Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 7 siswa atau 20% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 28 siswa atau 80%, sehingga pada siklus I dinyatakan sudah tuntas belajar. Namun untuk memperbaiki nilai pada siklus I, peneliti merasa masih perlu untuk dilaksanakan analisa data pada sikluss selanjutnya, yaitu siklus II.
Pelaksanaan siklus II ini sama dengan pelaksanaan siklus I. Setelah pelaksanaan pembelajaran II selesai, guru meminta kepada siswa untuk mempersiapkan diri menghadapi tes akhir. Tes akhir berlangsung selama 60 menit dengan 20 soal obyektif, berdasarkan hasil tes akhir diperoleh data bahwa  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau 11% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 31 siswa atau 89%, sehingga analisa tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya karena pada siklus II sudah mencapai ketuntasan yang diinginkan.
            Penerapan pembelajaran dengan pemanfaatan alam sekitar dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Pada kegiatan pembelajaran siswa terlihat aktif dan bersemangat Hal ini terlihat dari bagaimana mereka berdisusi untuk memahami materi yang disajikan dalam bentuk ringkasan materi serta saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru sekaligus saling membantu dalam mencari jawaban dari pertanyaan dari guru pada siswa.
            Penerapan pembelajaran pemanfaatan alam sekitar dapat meningkatkan keterampilan sosial serta melatih siswa untuk menghormati perbedaan. Di dalam pembelajaran ini terdapat kelemahan yaitu memerlukan waktu yang lama, karena siswa diberikan kebebasab untuk berpikir dan bertindak kreatif sesuai dengan materi yang disampaikan oleh guru.

KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut: Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Ajar “ Bangun Datar Sederhana” Siswa Kelas III SDN Mangli. 03 .  Siklus pertama  ketuntasan mencapai 63%, meningkat menjadi 80% dan pada siklus ketiga menjadi 89%.

Saran-saran
            Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan :
a)     Untuk guru mata pelajaran matematika hendaknya dapat menerapkan Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar pokok bahasan yang lain,
b)     Untuk sekolah, hendaknya memperhatikan dan dapat proaktif terhadap penerapan model-model pembelajaran yang aktual sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran.


DAFTAR RUJUKAN
Ali, Muh. 1983. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
__________2002. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Aqib, Zainal. 2008. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.
Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah. Jakarta : Balitbang Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Kurikulum dan Hasil Belajar Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Pengetahuan sosial SMP dan MTS. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Dimyati dan Moedjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Djamarah, Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hakim, T. 2001. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara.
Hasibuan dan Moedjiono, 1992. Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Masyhud, S. A. 2000. Analisa Data Statistik untuk Penelitian Sederhana. Jember Laboratorium Microteaching. FKIP Universitas Jember.
Nurhadi. et. al. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
Sudjana, N. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.