Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENERAPAN METODE DISKUSI DAN KERJA KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI POKOK “RANGKA MANUSIA DAN FUNGSINYA” SISWA KELAS IV SDN PALERAN 01 Lilik Julaikah

PENERAPAN METODE DISKUSI DAN KERJA KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI POKOK “RANGKA MANUSIA DAN  FUNGSINYA” SISWA KELAS IV SDN PALERAN 01

                                                      Lilik Julaikah

Abstrak: Penelitian tindakan kelas  ini bertujuan mengkaji tentang: Penerapan Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Pokok “Rangka Manusia Dan Fungsinya” Siswa Kelas IV SDN Paleran 01. Langkah PTK meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri.  Hasil Penelitian: Penerapan Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok dapat  Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Pokok “Rangka Manusia Dan Fungsinya” Siswa Kelas IV SDN Paleran 01. Peningakatan hasil belajar tampak pada  ketuntasan yang meningkat dari siklus pertama 59%, meningkat menjadi 85% dan siklus berikutnya 96%.

             Kata Kunci: Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok, Hasil Belajar


PENDAHULUAN
Kesulitan belajar merupakan suatu gejala tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan pada kegiatan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih keras lagi untuk mengatasinya. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar.
            Gejala kesulitan belajar akan dimanifestasikan baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam berbagai bentuk tingkah laku. Sesuai dengan pengertian kesulitan belajar sebagaimana yang dikemukakan di atas, tingkah laku yang dimanifestasikan ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu. Gejala ini akan nampak pada aspek kegiatan belajar siswa itu sendiri baik dalam proses maupun hasil belajar yang dicapainya.
Ada empat kategori faktor penyebab kesulitan belajar yakni: “(1). Kondisi fisiologis yang permanen (intelegensi terbatas, penglihatan, pendengaran kurang, persepsi salah), (2). Kondisi-kondisi fisiologis temporer (masalah makanan, kecanduan, kecapaian), (3). Kondisi lingkungan sosial yang permanen (harapan orang tua yang tinggi, onflik keluarga), (4). Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang temporer (ada bagian-bagian urutan belajar yang belum difahami, persaingan interes  (Imansjah Alipandie.1984; Koestoer Partowisastro, 1986)
Untuk dapat menelusuri latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi siswa kita harus mengembalikannya kepada fakta penentu aktualisasi peristiwa belajar mengajar. Hal ini meliputi : “1. Stimulus atau Learning Variables. Yang termasuk dalam learning variables ini antara lain kuat lemahnya motivasi belajar, intensip tidaknya bimbingan pengajar (guru), tempat yang memadai, tersedianya fasilitas belajar yang memadai, harmonis tidaknya hubungan manusiawi baik di sekolah, di rumah maupun di lingkun gan masyarakat. 2. Organisme Variables. Yang tergolong dalam organisme variables antara lain: tingkatan intelegensinya, jenis kelamin, kematangan untuk belajar hal ini ditandai oleh kurangnya kemampuan dan ketrampilan kognitif, kurangnya kemampuan menghimpun dan mengintegrasi informasi, kurang gairah belajar dan lain sebagainya. 3. Response Variables. Dalam response variables kita kelompokkan termasuk dalam tujuan-tujuan pendidikan, tujuan kognitif, afektif  dan psikomotorik” (Djamarah, S.B. 1996: Abin Syamsuddin ,1984).
Model pembelajaran yang sering diterapkan oleh guru adalah pembelajaran konvensional. Menurut Hobri. (2008), pembelajaran konvensional lebih merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru daripada berpusat pada kemampuan siswa. Padahal dalam tujuan pembelajaran diharapkan siswa memahami terhadap apa yang dipelajari, sehingga dibutuhkan penerapan dan pengembangan model pembelajaran secara optimal agar mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual. Penelitian tindakan kelas adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif, dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik. Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar. Karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
            Pada Penelitian Tindakan Kelas  ini peneliti ingin memberikan metode pembelajaran yang belum pernah diterapkan sebelumnya, yaitu Metode Diskusi, Kerja Kelompok, Dan Hasil Belajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Siswa kelas IV dipilih sebagai subyek dalam penelitian, karena peneliti ingin meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam yang selama ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan.
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.
Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitikberatpan kepada aianteraksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelopk guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama (Modjiono 1992 : 61).
Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: Penerapan Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Pokok “Rangka Manusia Dan Fungsinya” Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 ?
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan mengkaji tentang: Penerapan Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Pokok “Rangka Manusia Dan Fungsinya” Siswa Kelas IV SDN Paleran 01.
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
1)  Bagi siswa, membuat proses belajar mengajar lebih menyenangkan sehingga lebih mudah memahami materi yang diajarkan,
2)  Bagi guru, penelitian ini memberikan pengalaman dalam mengembangkan metode pembelajaran yang variatif,
3)  Bagi sekolah, dapat sebagai alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar

METODE PENELITIAN
Tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SDN Paleran 01 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember pada semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. Subyek  Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN Paleran 01 berjumlah 27 siswa .
            Model PTK yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart adalah merupakan model pengembangan dari model Kurt Lewin. Dikatakan demikian, karena di dalam suatu siklus terdiri atas empat komponen, keempat komponen tersebut, meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri.
Menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Rafi′uddin, 1996) penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral berikutnya. Dalam pelaksanaannya ada kemungkinan peneliti telah mempunyai seperangkat rencana tindakan (yang didasarkan pada pengalaman) sehingga dapat langsung memulai tahap tindakan. Ada juga peneliti yang telah memiliki seperangkat data, sehingga mereka memulai kegiatan pertamanya dengan kegiatan refleksi.
      Akan tetapi pada umumnya para peneliti mulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian. Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dapat diuraikan sebagai berikut.
1). Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2).  Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
3).  Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
4). Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5).  Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.
           
Secara mudah PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dapat digambarkan dengan diagram alur berikut ini.

Description: http://4.bp.blogspot.com/-B-ogH57lYUk/T6UuTuo1KCI/AAAAAAAAAS0/l7HbxlBhR9c/s400/kEMMIS.JPG
                                                                                          (Fatchan, A., 2009)

 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data bermaksud untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan, akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah Tes, Observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket.
a)    Tes
Tes hasil belajar yang digunakan adalah tes buatan guru, dalam hal ini tes disusun oleh peneliti yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator. Tes tersebut dibagi menjadi dua yaitu:  pre-tes dan post-tes. Pre-tes bertujuan untuk mengetahui keadaan awal siswa, sedangkan post-tes bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perubahan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah proses pembelajaran dengan Metode Diskusi dan Kerja Kelompok.
b)    Observasi
Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengamatan yang dilakukan oleh dua observer, yang dilakukan pada siswa untuk melihat keaktifan siswa selama diskusi berlangsung dalam mencari jawaban soal yang ada di buku. Selain itu pengamatan juga dilakukan pada pembelajaran itu sendiri, apakah ada kekurangan. Dari sini diharapkan Metode Diskusi dan Kerja Kelompok dapat diterapkan dengan baik.


c)    Wawancara
Arikunto (2002:132) menyatakan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian dapat diperoleh melalui dialog antara pewawancara dan terwawancara. Adapun pelaksanaan wawancara dapat dibedakan atas : (1) Wawancara bebas; (2) Wawancara terpimpin; (3) Wawancara bebas terpimpin.
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas, yaitu wawancara dimana responden mempunyai kebebasan dalam mengutarakan pendapatnya, tetapi telah dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh subjek evaluasi. Wawancara bebas ini berisi pertanyaan tentang tanggapan siswa mengenai metode diskusi dan kerja kelompok yag dilaksanakan. Wawancara diarahkan untuk memperoleh data tentang model pembelajaran yang diterapkan.
d)    Dokumentasi
            Arikunto (2002:135) berpendapat bahwa metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variable dari benda tertulis yang berupa dokumen, transkip, buku-buku, majalah, prasasti, catatan harian, notulen rapat dan sebagainya. Sedangkan menurut Ali (1997:41-42), dokumentasi adalah segala macam bentuk sumber informasi yang berhubungan dengan dokumen baik yang resmi maupun yang tidak resmi, dalam bentuk laporan statistik, surar-surat resmi, buku harian, dan semacamnya baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan. Data dokumentasi yang diperoleh dalam penelitian ini nantinya berupa catatan tertulis tidak resmi atau besas dari para observer dan guru mengenai proses belajar yang telah berlangsung. Data hasil dari dokumentasi nantinya digunakan untuk membantu menganalisa permasalahan dalam  pembelajaran.
e)    Angket/Kuesioner
Angket adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diperlukan pada subjek penelitian baik secara individu maupun kelompok mengenai minat/kemauan, perilaku dan lain-lain (Hadjar, 1996 : 181).

Analisis Data
Analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan Metode Diskusi dan Kerja Kelompok dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
Dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti angket, observasi, wawancara dan tes yaitu dengan mengumpulkan data yang telah tersebut diatas, sehingga dapat diketahui hasil belajar siswa, keaktifan siswa dan efektif atau tidak Metode Diskusi dan Kerja Kelompok digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (Moleong (1993: 103).

Indikator Hasil Kerja
            Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
  1. Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai pos tes.
  2. Adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar baik berupa melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang dipelajari.
  3. Siswa lebih mudah memahami dan menerima materi mata pelajaran IPA dengan penerapan layanan pembelajaran dengan Metode Diskusi dan Kerja Kelompok.
  4. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal <65% dan secara klasikal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
            Salah satu alasan diadakannya penelitian tindakan kelas adalah karena hasil belajar siswa yang rendah dan belum mencapai ketuntasan. Untuk itu sebelum peneliti melaksanakan penelitian tindakan kelas, peneliti sudah mengadakan analisa data Para Tindakan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa  Kelas IV  SDN Paleran 01 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember semester ganjil tahun pelajaran 2013/2013 yang berjumlah 27 siswa. 
Selama ini pembelajaran masih menggunakan metode konvensional, yaitu metode yang masih mengganggap siswa hanya sebagai obyek pembelajaran. Siswa duduk di kelas, mendengarkan materi yang diajarkan, kemudian diadakan evaluasi /tes. Namun metode pembelajaran seperti ini sering membuat siswa jenuh, dan merasa bosan. Sehingga materi pelajaran yang diberikan sulit untuk dipahami siswa. Hal ini terbukti dari analisa data yang dilakukan pada pra tindakan, yaitu masih banyak siswa yang mendapat nilai < 65 yaitu sebanyak 41% dari keseluruhan siswa atau sebanyak 11 siswa, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 16 siswa atau  59 %. Maka hasil belajar pada Pra Tindakan ini dinyatakan masih belum tuntas. Hal ini lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 pada Pra Tindakan.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
11
41%
65 – 100
16
59%
Jumlah
27
100%
Sumber : Data yang diolah
Analisis data pada Pra Tindakan diatas, menjadi acuan  dalam melaksanakan análisis data pada penelitian selanjutnya, yaitu pembelajaran dengan penerapan metode diskusi dan kerja kelompok pada siklus I yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan dan perencanaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Metode diskusi dan kerja kelompok yang diterapkan pada siklus I, membuat siswa bersemangat, karena metode ini memberi suasana baru dalam proses pembelajaran. Peneliti membagi siswa menjadi 5 kelompok. Meskipun ada beberapa siswa yang masih belum terbiasa kerjasama dengan masing-masing kelompoknya. Namun secara garis besar, mereka sudah mulai menyenangi metode pembelajaran ini. Hal ini terbukti mereka tampak antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, dan lebih mudah memahami materi yang diajarkan, daripada saat Pra Tindakan  yaitu sebelum metode diskusi dan kerja kelompok diterapkan.
Hasil analisa data pada siklus I, yang dilakukan dengan tes dan latihan soal menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 Pada    Siklus I.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
4
15%
65 – 100
23
85%
Jumlah
27
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui, pada siklus I diperoleh data, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau 15%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 23 siswa atau 85%, maka pada siklus I , dinyatakan sudah tuntas belajar. Meskipun ada peningkatan hasil hasil belajar , tetapi masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga perlu perbaikan pada siklus selanjutnya yaitu siklus II.
Siklus II dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I. Peneliti  tidak membentuk kelompok baru, agar siswa sudah terbiasa dengan teman-teman kelompoknya. Proses pembelajaran dan materi yang diajarkan sama dengan siklus I. Tetapi untuk tes akhir, soal-soal yang diberikan  lebih banyak dan permasalahan yang harus diskusikan juga lebih beragam, semuanya tentang materi pokok ” Rangka Manusia dan fungsinya”.
Hasil analisa data pada siklus II, menunjukkan adanya peningkatann yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa atau 4%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau 96%, oleh karena itu analisa tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. Ketuntasan hasil belajar pada siklus II, lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Paleran pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
1
4%
65 – 100
26
96%
Jumlah
27
100%
Sumber : Data yang diolah
Tabel 4 dan grafik 1 di bawah ini menjelaskan tentang perbandingan  ketuntasan hasil belajar siswa pada bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam dari mulai Pra Tindakan, siklus I, dan siklus II.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 pada Pra Tindakan, siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
41%
4
15%
1
4%
65 – 100
16
59%
23
85%
26
96%
Jumlah
27
100%
27
100%
27
100%
 Sumber : Data yang diolah
           
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember  Semester  Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014  pada Pra Tindakan, siklus I, dan Siklus II.

Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.
            Hal ini terbukti dalam dalam penelitian tindakan kelas ini, yang menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dari mulai pra tindakan dengan masih banyaknya siswa mendapat nilai < 65 yaitu sebanyak 41% dari keseluruhan siswa atau sebanyak 11 siswa, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 16 siswa atau  59 %. Sehingga hasil belajar pada Pra Tindakan ini dinyatakan masih belum tuntas.
Sedangkan setelah diadakan perubahan metode pembelajaran,  dengan menerpakan metode diskusi dan kerja kelompok pada siklus I, mulai tampak adanya peningakatan hasil belajar siswa. Hasil analisa data pada siklus I, hasil belajar siswa sudah dinyatakan tuntas belajar , karena pada siklus I diperoleh data,  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau 15%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 23 siswa atau 85%, maka pada siklus I , dinyatakan sudah tuntas belajar. Meskipun ada peningkatan hasil hasil belajar , tetapi masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Maka perlu perbaikan pada siklus selanjutnya yaitu siklus II.
Siklus II dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I. Peneliti  tidak membentuk kelompok baru, agar siswa sudah terbiasa dengan teman-teman kelompoknya. Proses pembelajaran dan materi yang diajarkan sama dengan siklus I. Tetapi untuk tes akhir, soal-soal yang diberikan  lebih banyak dan permasalahan yang harus diskusikan juga lebih beragam, semuanya tentang materi pokok ” Rangka Manusia dan fungsinya”.
Hasil analisa data pada siklus II, menunjukkan adanya peningkatan yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa atau 4%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau 96%, oleh karena itu analisa tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar sebelum penelitian hasil tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada siklus pertama dan hasil belajar pada siklus kedua. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara meyakinkan. Hasil penelitian ini dikatakan bahwa metode diskusi dan kerja kelompok efektif diterapkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dalam diskusi kesempatan siswa untuk ikut aktif memikirkan masalah atau materi pokok yang dibahas jauh lebih besar. Siswa juga mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menanyakan masalah yang belum mereka mengerti baik langsung kepada guru maupun teman mereka sendiri. Lebih tegas lagi Winaputra, U.S. dkk. (1992) .menyatakan bahwa dalam pengajaran diskusi akan terpenuhi ke butuhan-kebutuhan siswa dalam belajar yaitu ada kalanya siswa lebih mudah belajar dari teman sendiri, ada pula siswa yang lebih mudah belajar dengan mengajari temannya sendiri.
            Hasil penelitian tersebut jika dicermati lebih dalam membawa implikasi bahwa penggunaan Metode diskusi dan kelja kelompok perlu digunakan sebagai alternatif dalam menyampaikan materi pokok pelajaran di kelas. Meskipun kita sadari bahwa penerapan metode tersebut membawa konsekuensi yang besar terhadap beban guru. Beban kurikulum yang begitu besar tidak memungkinkan kepada guru untuk terlalu sering penerapan metode ini.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Metode Diskusi Dan Kerja Kelompok Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Pokok “Rangka Manusia Dan Fungsinya” Siswa Kelas IV SDN Paleran 01 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014

Saran-saran
Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang peneliti sampaikan adalah :
a)    Untuk mengajar hendaknya menerapkan Metode Diskusi dan Kerja Kelompok , karena dapat mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran.
b)    Bagi lembaga pendidikan, agar dapat memberi dukungan baik berupa sarana maupun prasarana, sehingga guru dapat mengembangkan metode pembelajaran yang variatif untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, S. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas. 2006. Kurikulum  Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur Depdiknas.
Fatchan, A. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Malang. UM
Hobri. 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif Bahan Bacaan Untuk Guru. Jember: Center For Society Studies (CSS).
Imansjah Alipandie.1984. Didaktik Metodik, Usaha Nasional, Surabaya.
Djamarah, S.B. 1996. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fitriyah, C Z. 200, Penerapan Metode Brain Storming Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa  Kelas. Jember: FKIP Universitas Jember.
Roestiyah. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Sriyono. Dkk. 1992. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. Jakarta : Rineka Cipta.
Sukardi, D.K. 1983. Bimbingan Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
Winaputra, U.S. dkk. 1992. Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar IPA. Jakarta : Universitas Terbuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Winataputra, U.S. dan T. Rosita. 1994 Materi Pokok Belajar dan Pembelajaran Jakarta : Universifas terbuka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.