Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS “PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA” Mukadaroh

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) UNTUK MENINGKATKAN  HASIL BELAJAR IPS   “PERKEMBANGAN SISTEM  ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA”

Mukadaroh

Abstrak: Penelitian  bertujuan Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar   “Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” mengkaji melalui  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization). Rancangan penelitian ini adalah  Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian  ada peningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar   “Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” mengkaji melalui  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization).  Pada kondisi awal  tuntas 62%, pada  siklus pertama meningkat menjadi 75 % dan siklus kedua menjadi tuntas  100%

           Kata Kunci: TAI (Team Assisted Individualization), Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Dalam belajar mengajar hal yang terpenting adalah proses, karena proses inilah yang menentukan tujuan belajar akan tercapai atau tidak tercapai. Ketercapaian dalam proses belajar mengajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut baik yang menyangkut perubahan bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Dalam proses belajar mengajar ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran. Pada kenyataannnya, apa yang terjadi dalam pembelajaran seringkali terjadi proses pengajaran berjalan dan berlangsung tidak efektif. Banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang sia-sia sedangkan tujuan belajar tidak dapat tercapai bahkan terjadi noises dalam komunikasi antara pengajar dan pelajar. Hal tersebut diatas masih sering dijumpai pada proses pembelajaran selama ini.
Metode mengajar tradisional dengan pendekatan ekspositori sebaiknya mulai dikurangi. Guru yang hanya men-transmisi pengetahuan kurang menstimulasi siswa untuk belajar secara aktif. Hal ini bukan berarti bahwa metoda ceramah tidak baik, atau siswa tidak mengalami proses belajar. Variasi proses pembelajaran lebih memicu siswa untuk aktif belajar (Rodriguez, 2001). Menempatkan siswa pada pusat poses pembelajaran berarti memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengonstruksi hal yang dipelajarinya berdasarkan pengetahuan yang diketahuinya dan menginterpretasi konsep, bukan memberikan informasi melalui buku teks (Dickinson, 1997).
Demikian juga yang terjadi di tempat peneliti bertugas, yaitu di kelas VI SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Proses pembelajaran di kelas ini sebenarnya sudah berlangsung kondusif. Namun, biasanya siswa memahami materi ajar hanya pada waktu selesai diajarkan. Ketika pertemuan selanjutnya, siswa sudah melupakan. Hal ini terjadi karena guru masih memakai metode ceramah, siswa hanya mendengar, menghafal, kemudian mengerjakan tugas yang diberikan. Sehingga siswa hanya menjadi obyek pembelajaran, dan tidak dilibatkan secara aktif  dalam proses belajar mengajar.
            Penelitian Tindakan Kelas yang peneliti laksanakan, adalah upaya untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” dengan menerapkan model pembelajaran yang belum pernah dilaksanakan di kelas ini .
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) merupakan pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Salah satu poin penting yang harus diperhatikan untuk membentuk kelompok yang heterogen di sini adalah kemampuan akademik siswa. Masing-masing kelompok dapat beranggotakan 4 - 5 orang siswa. Sesama anggota kelompok berbagi tanggung jawab.
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka masalah penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Apakah Dapat  Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar   “Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” Siswa Kelas VI SDN Kesilir 02?
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan mengkaji tentang: Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Untuk Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar   “Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” Siswa Kelas VI SDN Kesilir.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)     Bagi siswa, dapat meningkatkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial,
b)     Bagi guru, penelitian ini membuat guru berani untuk menerapkan model pembelajaran yang variatif sehingga tidak membosankan,
c)     Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan hasil belajar dan prestasi belajar di sekolah.

METODE PENELITIAN
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember pada semester Ganjil tahun ajaran 2013/2014.

Subyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VI SDN SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember pada semester Ganjil tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 24 siswa .

            Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Kurt Lewin menyatakan bahwa PTK terdiri atas beberapa siklus, setiap siklus terdiri atas empat langkah, yaitu: (1) perencanaan, (2) aksi atau tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi (Rofi’udin, A. H. 1996). Keempat langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Description: http://1.bp.blogspot.com/-8rKIi8KXpy0/T6Ut_wdkSfI/AAAAAAAAASk/FCfNAVbCANk/s320/1.JPG
Berdasarkan langkah-langkah PTK seperti yang digambarkan di atas, selanjutnya dapat digambarkan lagi menjadi beberapa siklus, yang akhirnya menjadi kumpulan dari beberapa siklus.
Description: http://1.bp.blogspot.com/-V5XqQc68TDs/T6UuITSNgQI/AAAAAAAAASs/9NwmkAFLqnU/s400/1.2.JPG

Langkah pertama pada setiap siklus adalah penyusunan rencana tindakan. Tahapan berikutnya pelaksanaan dan sekaligus pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hasil pengamatan kemudian dievaluasi dalam bentuk refleksi. Apabila hasil refleksi siklus pertama menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan belum memberikan hasil sebagaimana diharapkan, maka berikutnya disusun lagi rencana untuk dilaksanakan pada siklus kedua. Demikian seterusnya sampai hasil yang dinginkan benar-benar tercapai.

Tahap Perencanaan (Planning)
1.    Mengidentifikasi masalah
2.    Menganalisis dan merumuskan masalah
3.    Merancang model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization)
4.    Mendiskusikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
5.    Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
6.    Menyusun kelompok belajar siswa
7.    Merencanakan tugas kelompok

Tahap Melakukan Tindakan (Action)
1.    Melaksanakan langkah-langkah tindakan sesuai dengan yang sudah direncanakan
2.    Menerapkan model pembelajaran interaktif (anak diusahakan untuk bertanya dan menemukan jawabannya)
3.    Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai rencana
4.    Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang dilaksanakan
5.    Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat melakukan tahap tindakan

Tahap Mengamati (observasi)
1.    Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran interaktif yang dilakukan guru kelas lima
2.    Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
3.    Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang kelamahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya
Tahap refleksi (Reflection)
1.    Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
8.    Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization)
2.     dengan kerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
9.    Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) dengan kerja kelompok
3.    Melakukan refleksi terhada kreativitas siswa dalam pembelajaran Matematika
4.    Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa

Metode Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.




HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Analisis data pada kondisi awal adalah titik acuan yang menjadi dasar perlu tidaknya diadakan penelitian tindakan kelas dilaksanakan di kelas ini. Peneliti yang sekaligus guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas VI SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014, mengadakan analisis data melalui tes materi ajar “ Perkembangan Administrasi Wilayah Indonesia” sebelum model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) diterapkan. Hasilnya adalah : siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebanyak 38%, sedangkan yang mendapat nilai 65 -100 sebanyak 15 siswa dengan persentase 62 %. Dari hasil analisa tersebut diatas, maka pada kondisi awal dinyatakan masih belum tuntas belajar.
Selanjutnya peneltian tindakan kelas dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) pada siklus I.

A.  Siklus I
a). Perencanaan
Siklus I dilaksanakan sesuai dengan yang sudah dipersiapkan, yaitu berdasarkan data  yang diperoleh dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Data pendukung pembelajaran lainnya , yaitu  lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, alat peraga, dan gambar-gambar.

b). Tindakan
Pada siklus ini peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif TAI (Team Assisted Individualization). Sebagai awal dari pembelajaran, peneliti yang sekaligus guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas ini membagi siswa menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 4/5 siswa. Selanjutnya peneliti menjelaskan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) ini. Siswa masih terlihat bingung dan belum terbiasa dengan teman kelompoknya. Belajar dalam kelompok-kelompok kecil memang sudah pernah dilaksanakan di kelas ini, namun model pembelajaran TAI, kelompok dibentuk berdasarkan berdasarkan siswa yang heterogen.
Pada siklus ini, siswa masih terlihat belum terbiasa dengan teman-teman kelompoknya, sehingga tugas kelompok tidak dapat diselesaikan dengan baik, padahal dalam model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini, keberhasilan individu tergantung pada keberhasilan kelompoknya. Namun dibandingkan pada kondisi awal, pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, sebagaimana yang terlihat pada tabel  dibawah ini :







Tabel. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Siswa Kelas VI SDN Kesilir 02 Pada    Siklus I.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
6
25%
65 – 100
18
75%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan Tabel 1 di atas , pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa dengan persentase 25% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 siswa dengan persentase 75%. Dengan demikian pada siklus I dinyatakan belum tuntas belajar.
c.  Pengamatan
Pada tahap pengamatan, diperoleh data bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus I, mengalami peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini membuktikan bahwa Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization), membuat lebih mudah dalam memahami materi yang diajarkan.
d.  Refleksi
Berdasarkan analisis data di atas , pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa 18 siswa (75%) dari 24 siswa telah tuntas belajar, berarti masih ada 6 siswa (25%) yang belum tuntas belajar.
Ketuntasan hasil belajar dari kondisi awal ke siklus I mengalami peningkatan  sebesar 13% , yaitu dari 15 siswa (62%) menjadi 18 siswa (75%). Meskipun pada siklus I sudah mencapai ketuntasan belajar, namun belum mencapai ketuntasan belajar  secara klasikal maka analisa data dilanjutkan pada siklus selanjutnya, yaitu siklus II.

2.  Siklus II
a. Perencanaan
Pelaksanaan siklus II sesuai dengan yang sudah dipersiapkan, yaitu berdasarkan data  yang diperoleh dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada siklus I yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar. Data pendukung pembelajaran lainnya , yaitu  lembar kerja siswa (LKS), lembar evaluasi, alat peraga, dan gambar-gambar.

b.  Tindakan
Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan untuk memperbaiki keurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus II. Pada dasarnya pelaksanaan siklus III ini hanya menyempurnakan pelakasanaan pembelajaran pada siklus II. Guru menjelaskan kembali proses pembelajaran dengan menggunakan model TAI. Siswa tampak bersemabgat, karena sudah terbiasa bekerjasama dengan teman-teman kelompoknya. Apalgi saat diberitahu , kalau semua aktifitas siswa dinilai oleh guru.
 Karena suasana belajar menyenangkan, maka materi yang diajarkan guru lebuh mudah dipahami oleh siswa. Dasri hasil tes yang dilaksanakan, mendapatkan hasil yang sangat menggembirakan , sebagaimana yang dapat disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel . Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Siswa Kelas VI SDN Kesilir 02 Pada    Siklus II.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
0
0%
65 – 100
24
100%
Jumlah
24
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel  di atas ,  dapat dilihat adanya peningkatan hasil belajar yang menggembirakan,  yaitu tidak ada siswa yang mendapat nilai < 65 atau 0%. Dan seluruh siswa yaitu sebanyak 24 siswa mendapat nilai nilai 65 – 100 dengan persentase 100%. Dengan demikian pada siklus II secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.

c.  Pengamatan
Pada tahap pengamatan, diperoleh data bahwa pelaksanaan pembelajaran siklus II, mencapai ketuntasan hasil belajar yang maksimal, karena 100% siswa mendapat nilai 65-100. Hal ini membuktikan bahwa Model pembelajaran kooperatif tipe TAI , membuat proses belajar menjadi tidak membosankan sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru.
d.  Refleksi
Berdasarkan hasil analisa data yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus II, semua siswa telah mencapai ketuntasan hasil belajar. Peningkatan ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah 25% , yaitu dari 18 siswa (75%) menjadi 24 siswa (100%). 
Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hasil belajar siswa secara klasikal dinyatakan tuntas belajar secara maksimal. Dengan demikian analisa data dihentikan pada siklus II.

Untuk melihat lebih jelas perbandingan peningkatan ketuntasan hasil belajar dari Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1, sebagi berikut :

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Siswa Kelas VI SDN Kesilir 4  Pada    Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
9
38%
6
25%
0
0%
65 – 100
15
62%
18
75%
24
100%
Jumlah
24
100%
24
100%
24
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  Siswa Kelas VI SDN Kesilir 02 Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Sebagai dasar dilaksanakannya penelitian tindakan kelas adalah karena masih rendahnya hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “ Perkembangan Administrasi Wilayah Indonesia” siswa kelas VI SDN Kesilir 02  pada kondisi awal, yaitu sebelum penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TAI dilaksanakan.
 Hasil analisa data pada kondisi awal adalah : siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebanyak 38%, sedangkan yang mendapat nilai 65 -100 sebanyak 15 siswa dengan persentase 62 %. Dari hasil analisa tersebut diatas, maka pada kondisi awal dinyatakan masih belum tuntas belajar.
Selanjutnya dilaksanakan model pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siklus I , dan hasil belajar mengalami  peningkatan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa dengan persentase 25% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 siswa dengan persentase 75%. Dengan demikian pada siklus I dinyatakan belum tuntas belajar.
 Pembelajaran siklus I diperoleh data bahwa 18 siswa (75%) dari 24 siswa telah tuntas belajar, berarti masih ada 6 siswa (25%) yang belum tuntas belajar.
Untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya pembelajaran dilaksanakan pada siklus II. Hasil analisa data pada siklus II memperoleh ketuntasan yang sangat menggembirakan,  yaitu tidak ada siswa yang mendapat nilai < 65 atau 0%. Dan seluruh siswa yaitu sebanyak 24 siswa mendapat nilai nilai 65 – 100 dengan persentase 100%. Dengan demikian pada siklus II secara klasikal dinyatakan tuntas belajar.
Berdasarkan hasil analisa data yang dilaksanakan pada pembelajaran siklus II, semua siswa telah mencapai ketuntasan hasil belajar. Peningkatan ketuntasan hasil belajar dari siklus I ke siklus II adalah 25% , yaitu dari 18 siswa (75%) menjadi 24 siswa (100%). 
Kesimpulan hasil tindakan perbaikan pembelajaran siklus II yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan yang sangat baik, hasil belajar siswa secara klasikal dinyatakan tuntas belajar secara maksimal. Dengan demikian analisa data dihentikan pada siklus II.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction) yang diprakarsai oleh Robert Slavin ini merupakan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan pengajaran individual. Metode ini memperhatikan perbedaan pengetahuan awal tiap siswa untuk mencapai prestasi belajar. Pembelajaran individual dipandang perlu diaplikasikan karena siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang berbeda-beda. Saat guru mempresentasikan materi pembelajaran, tentunya ada sebagian siswa yang tidak memiliki pengetahuan prasyarat untuk mempelajari materi tersebut. Ini tentu dapat menyebabkan siswa-siswa yang tidak memiliki pengetahuan prasyarat itu akan gagal mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan guru. Bagi siswa-siswa lain, mungkin sudah menguasai materi pembelajaran itu, atau mungkin karena bakat yang dimilikinya dapat mempelajari dengan sangat cepat sehingga waktu yang digunakan oleh guru untuk mengajar menjadi mubazir.
            Dengan perpaduan antara pembelajaran kooperatif dan invidual dapat diperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu :Pembelajaran kooperatif merupakan upaya pemberdayaan teman sejawat, meningkatkan interaksi antar siswa, serta hubungan yang saling menguntungkan antar mereka. Siswa dalam kelompok akan belajar mendengar ide atau gagasan orang lain, berdiskusi setuju atau tidak setuju, menawarkan, atau menerima kritikan yang membangun, dan siswa tidak merasa terbebani ketika ternyata pekerjaannya salah. Siswa bekerja dalam kelompok saling membantu untuk menguasai bahan ajar.
Pembelajaran individual mendidik siswa untuk belajar secara mandiri, tidak menerima pelajaran secara mentah dari guru. Melalui pembelajaran individual ini, siswa akan dapat mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya sendiri untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga ia mengalami pembelajaran secara bermakna (meaningful learning) sesuai faham konstruktivisme.
Faktor lain yang ikut memberi kontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah dengan diberikannya kesempatan kepada siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompok. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.
Peran guru dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.
Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representative. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar. Kondusif pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representative, untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.



KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization) Dapat Meningkatkan  Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar   “Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” Siswa Kelas VI SDN Kesilir 02.

 Saran-saran
Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang peneliti sampaikan adalah :
a)     Untuk guru, hendaknya menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI  untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran yang lain.
b)     Untuk sekolah, agar memberi dukungan terhadap penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk menerapkan metode yang lebih variatif.

DAFTAR  RUJUKAN

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
E. Mulyasa, 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya,
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
 Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Rofi’udin, A. H. 1996. Rancangan Penelitian Tindakan. Makalah Disampaikan pada Lokakarya Tingkat Lanjut Penelitian Kualitatif Angkatan V tahun 1996/1997. Malang: lembaga Penelitian IKIP Malang.
Suyanto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Pengenalan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Dirjen Dikti.
Slavin, Robert (1995). Cooperative Learning. Massachusets: Allyn and Bacon.
Syaiful Bahari Djamarah, 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta,