Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI AJAR “ PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA” Suharto

PENERAPAN  MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION)  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS  MATERI AJAR “ PERKEMBANGAN SISTEM ADMINISTRASI WILAYAH INDONESIA”

Suharto
:
Abstrak: Dalam pembelajaran diperlukan adanya interaksi edukatif, karena tanpa adany interaksi edukatif, Proses tersebut terjadi secara inten pada pembelajaran kooperatif. Tujuan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS  Materi Ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia”  melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Hasil penelitian menunjukkan  Penerapan Kooperatif tpe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dari kondisi awal yang tuntas 54 %, pada siklus pertama meningkat 85% dan kedua menjadi 100%.

Kata Kunci : Model Pembelajaran Kooperatif STAD, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Proses pembelajaran akan berhasil dengan baik, efektif, dan efisien apabila terjadi interaksi antar guru, siswa dan lingkungan. Guru harus mampu mewujudkan suasana yang menyenangkan agar peserta didik aktif dan kreatif, karena guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat akhir-akhir ini belajar sangat cepat. Percepatan perkembangan itu harus diikuti percepatan layanan pendidikan. Peran pendidikan sangat penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu fokus dalam pembangunan Indonesia dewasa ini.
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita saat ini adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Pada saat proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan menghafal, anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi.
Untuk mengembangkan kualitas pendidikan diperlukan adanya perubahan mengenai pengelolaan pendidikan. Salah satunya adalah kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itulah upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan guru yang harus dimiliki adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetisi yang akan dicapai (Nasution 1995Setijadi. 1996).
Dalam pembelajaran diperlukan adanya interaksi edukatif, karena tanpa adanya interaksi edukatif, pembelajaran hanya bersifat searah dan siswa hanya menjadi objek penerima informasi konsep-konsep yang disampaikan guru. siswa bukan sebagai pengelola pengetahuan konsep yang dapat berfikir kritis dan mengungkapkan pengetahuannya untuk memperoleh simpulan pengetahuan konsep dan berbagai sumber pembelajaran. Siswa tidak dituntut aktif memberikan umpan balik tentang pengetahuan konsep yang diterima, akibatnya pengetahuan konsep yang diterima kurang mendalami dan bersifat sementara (Slameto, 1991;. Setijadi. 1996).).
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar sangat penting untuk pembinaan generasi penerus usia dini agar memahami potensi dan peran dirinya dalam berbagai tata kehidupannya, menghayati keharusan dan pentingnya bermasyarakat dengan penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan serta mahir berperan di lingkungannya sebagai insan sosial dan warga negara yang baik. Untuk itulah dalam pengajaran IPS harus dapat membawa anak didik kepada kenyataan hidup yang sebenarnya yang dapat dihayati mereka, ditanggapinya, dianalisisnya akhirnya dapat membina kepekaan sikap mental, ketrampilan dalam menghayati kehidupan yang nyata ini.
Pembelajaran IPS di sekolah seharusnya dilaksanakan dengan melibatkan langsung peserta didik terhadap masalah-masalah sosial, sehingga menjadikan pembelajaran bermakna. Kenyataannya pembelajaran IPS biasa diajarkan secara konvensional hampir di setiap sekolah dasar, dengan metode klasik, seperti ceramah dan diskusi kelompok, yang pada umumnya kurang melibatkan peserta didik secara langsung dalam penyelesaian masalah sosial, sehingga menciptakan kejenuhan dalam lingkungan belajar. Pada prosesnya, pembelajaran macam ini kurang membentuk sikap antusias pada diri siswa. Siswa cenderung bosan dan kurang memahami dengan hanya mendengarkan dan mendengarkan. Dan hal tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
Dengan kurangnya pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran menyebabkan hasil belajar peserta didik tidak maksimal dan tidak mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi lain untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Salah satunya adalah dengan melibatkan langsung peserta didik dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kontekstual. Mode pembelajaran ini sangat berhubungan dengan pembelajaran IPS karena memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat.
Pembelajaran model koooperatif tipe STAD merupakan” salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai metode yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Metode ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para peneliti pendidikan di John Hopkins Universitas Amerika Serikat dengan menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya siswa diberi kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan” (Arindawati, 2004: 83 - 84).
Model Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh R. Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin. Model ini merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan sebuah model yang bagus bagi seorang guru pemula untuk menggunakan pendekatan kooperatif. Pembelajaran STAD sering disebut model pembelajaran generik yaitu model pembelajaran kooperatif yang aplikatif terhadap skala tingkat kelas, mata pelajaran, serta karakteristik sekolah dan kelas yang luas. Model pembelajaran STAD adalah unik karena melibatkan persaingan antar kelompok untuk mendapatkan penghargaan kelompok, hal ini senada Nesbit, dkk (1997 : 5) mengatakan : STAD unique in that involves competition among groups, bacause the teams compete against each other for rewards, and at the same time provides an equal opportunity for teams to succeed, because the team scores are based on students improvement over their past record.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif, dengan menempatkan siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang heterogen menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan materi pelajaran (penyajian materi dapat dilakukan baik dengan ceramah, demonstrasi, atau bahan bacaan), dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi tersebut. Pada akhir pembelajaran seluruh siswa diberi tes tentang materi tersebut, dengan ketentuan pada saat tes siswa tidak boleh saling membantu atau bekerja sama antara teman-teman baik dari teman satu tim maupun dengan tim yang lainnya. Skor siswa yang diperoleh dibandingkan dengan rata-rata skor yang lalu dari siswa yang bersangkutan dan poin diberikan berdasarkan seberapa jauh siswa menyamai kinerja yang lalu pula. Poin tiap anggota ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria terbaik diberi sertifikat/penghargaan (Trianto, 2009; Suprijono, 2009).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03 ?
Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ( PTK ) ini Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS  Materi Ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia”  melalui penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division.
Hasil Peneltian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:  a)Siswa, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan memberi motivasi dalam belajar; b)Guru,  dengan penerapan metode STAD dapat mempermudah dalam menyampaikan materi pembelajaran dan  Sebagai alternatif model dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas; c) Sekolah, sekolah lebih banyak memiliki referensi penelitian dibidang pembelajaran  untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

METODE PENELITIAN
            Penelitian ini dilaksanakan pada semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Purwosari 03 Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember.  Subyek  dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI semester Ganjil tahun pelajaran 2013/2014 di SD Negeri Purwosari 03 Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember yang berjumlah 13 siswa.
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian Tindakan Kelas (PTK), untuk itu desain penelitian Iebih bersifat deskriptif. Adapun model PTK yang digunakan adalah model Kemmis dan MC Taggart. Penelitian ini berupa siklus­-siklus kegiatan, pada setiap siklusnya akan dimulai tahap perencanaan, tahap pelaksanaaan, tahap observasi dan refleksi, yang direncanakan selama tiga (3) siklus.
Penelitian ini menggunakan model skema PTK. Menurut "Kemmis dan Mc. Taggart" kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh "Kurt Lewin" yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (action) di dalamnya.
Berikut skemanya :

PLANNING
REFLEKTIF
 



                                                                                               
REVISED PLANNING
     REFLEKTIF

 





Skema Kurt Lewin ( Aqip Zainal, 2008)

Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memillih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Metode Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui secara langsung tingkat motivasi belajar siswa kelas VI SDN Purwoasri 03 Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Kegiatan yang dilakukan selain observasi adalah mengamati dan menilai sikap siswa yang berkaitan dengan motivasi belajar. Sikap siswa sebagai aspek yang diamati tersebut antara lain: minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya, tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya, reaksi cepat yang ditunjukkan siswa terhdap stimulus yang diberikan guru, serta rasa senang dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Setiap aspek dinilai dengan memberi skor sesuai dengan sikap yang ditunjukkan siswa. Adapun kategori dari tiap tiap skor adalah: skor 1 untuk kategori sangat rendah, skor 2 untuk kategori rendah, skor 3 untuk kategori tinggi dan skor 4 untuk kategori sangat tinggi.
2) Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data yang berasal dari bukti tertulis yang ada pada tempat penelitian. Data-data tersebut berupa antara lain denah SDN Purwoasri 03 Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Siswa kelas VI dan data-data lain yang menunjang penelitian. Data yang diperoleh tidak akan dianalisis melainkan hanya dilaporkan untuk melengkapi data yang ada.
3)     Metode Tes
Tes merupakan suatu cara yang digunakan dalam rangka pengukuran penelitian, berbentuk pemberian tugas yang berupa pertanyaan yang diajukan oleh peserta didik sehingga dapat dihasilkan nilai yang mengembangkan tingkah laku atau prestasi peserta didik (Arikunto, 2003). Data hasil belajar siswa yang telah tercapai dapat diketahui dengan menggunakan metode tes. Metode tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa setelah mempelajari materi yang diajarkan.. Isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai serta dikonsultasikan dengan guru wali kelas VI.
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.
Data yang akan dianalis dalam penelitian ini adalah : 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif).
Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar dalarn hal ini menggunakan standar ketuntasan yaitu Ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat presentase ketuntasan minimal mencapai 65%, sedangkan untuk tingkat klasikal, minimal mencapai 85% (Depdikbud: 1994) Adapun untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar adalah dengan mengunakan  minus persentase ketuntasan hasil belajar.

 Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila guru dapat menerapkan pemanfaatan Model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam siswa kelas VI meningkat, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan kualitas belajar siswa. Hal ini akan tampak khususnya siswa aktif dalam pembelajaran selanjutnya mampu mencapai hasil belajar yang maksimal. Indikator ketuntasan individual 65, sedangkan secara klasikal sebesar 85 % dari jumlah siswa.



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Tindakan pada kondisi awal yaitu melaksanakan analisa data pada proses pembelajaran dengan menggunakan metode seperti yang selama ini dilaksanakan, yaitu model ceramah pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia”. Peneliti mengamati, siswa terlihat tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, bahkan ada yang mengantuk. Keadaan ini tentu sangat berpengaruh terhadap pemahaman materi yang diajarkan oleh guru.
Hal ini terbukti dari hasil belajar tahap ini dinyatakan masih belum tuntas belajar, karena dari 13 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa dengan persentase 46% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 7 siswa dengan persentase 54%.Hasil belajar pada kondisi awal ini, menjadi titik tolak dari penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan.
Selanjutnya peneliti melaksanakan siklus I, yaitu penerapan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada materi yang sama dengan pemanfaatan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) .  Pada siklus I ini peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas melalui tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2: Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03 Pada Siklus I .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
2
5%
65-100
11
85%
Total
13
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas , dapat diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 siswa dengan persentase 5% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 11 siswa dengan persentase 85%,  maka pada siklus I, dinyatakan sudah tuntas belajar. Namun unntuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, tetapi dengan memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I. Hasil belajar pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03 Pada Siklus II .
Kriteria
Jumlah siswa
Presentase (%)
< 65
0
0%
65-100
13
100%
Total
13
100%
Sumber : Data yang diperoleh
Ketuntasan belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena tidak ada siswa yang mendapat nilai < 65 dengan persentase 0% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 13 siswa dengan nilai persentase 100%. Maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan hasil belajar dari mulai Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II, dapat disajikan pada tabel 4 dan grafik 1 sebagai berikut :





Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus II
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
6
 46%
2
 5%
0
 0%
65 – 100
7
 54%
11
 85%
13
 100%
Jumlah
13
100 %
13
100 %
13
100 %
Sumber : data yang diolah


Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II .
Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan obtek dalam pembelajaran, sedangkan siswa hanya sebagai subyek penerima materi. Sehingga siswa aktif dan produktif karena cenderung bersifat aktif dalam mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan hasil belajar pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan pembelajaran denagn dan diperoleh hasil belajar yang meningkat antara siklus I, siklus II diperoleh melalui lembar pedoman observasi penelitian keaktifan siswa dengan maksud untuk membantu peneliti mengamati dan manual proses belajar mengajar pada awal hingga akhir proses pembelajaran.
Bentuk soal yang diberikan bentuk dan isi soal sebelumnya telah disusun sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran kompetensi yang iingin dicapai. Adapun tugas yang diberikan dapat berupa masalah yang harus dipecahkan, pemberian tugas ini dilakukan agar siswa secara individu atau kelompok kecil dapat mengerjakan sesuatu untuk memecahkan masalah dengan cara dan daya sendiri.
Dalam penelitian ini menggunakan LK dengan materi yang berbeda pada tiap pertemuan atau pada tiap siklus sasuai dengan materi yang akan disampaikan. Tugas diberikan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat terlebih dahulu mempelajari materi yang akan disampaikan, dengan demikian siswa telah mempelajari materi yang akan diajarkan. Dalam mengadakan LK diharapkan siswa membaca reference atau literatur yang relevan dengan materi pelajaran.
Pada Siklus I ,hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 siswa dengan persentase 5% dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 11 siswa dengan persentase 85%. Persentase yang mendapat nilai 65-100 mencapai 85%, menunjukkan pada siklus I, dinyatakan sudah tuntas belajar. Namun unntuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang lebih baik lagi, peneliti melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi apa yang sudah dilaksanakan pada siklus I, tetapi dengan memperpaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Siklus I.
Ketuntasan belajar pada siklus II secara klasikal dikatakan tuntas belajar, karena tidak ada siswa yang mendapat nilai < 65 dengan persentase 0% dan siswa yang mendapat 65-100 sebanyak 13 siswa dengan nilai persentase 100%. Maka analisa data tidak dilnjutkan pada siklus selanjutnya. Pada sikius II ini ada perbedaan dengan siklus sebelumnya, perbedaan ini juga dapat menggambarkan keaktifan siswa, yakni siswa bekerja sendiri atau siswa lebih aktif dalam menyelesaikan permasalahan.
Menurut ketentuan Depdlknas seorang peserta didik dikategorikan tuntas beiajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 6,5. Suatu kelas disebut tuntas belajar bila kelas tersebut terdapat 85% peserta didik yang telah mencapai daya serap 85% (Kustantini,2001:10).
Peningkatan pada siklus I, dan siklus II pada dasarnya dapat dipahami karena materi pelajaran yang sudah disiapkan oleh guru akan memudahkan siswa mempelajari materi inti dari suatu mata pelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division)  Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “ Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia” Siswa Kelas VI SDN Purwoasri 03.. Dari kondisi awal yang tuntas 54 %, pada siklus pertama meningkat 85% dan kedua menjadi tuntas  100%.

 Saran-saran
Adapun saran-saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut :
a)    Hendaknya guru memberikan metode yang membuat siswa mudah memahami materi yang disajikan,
b)    Bagi Sekolah, hendaknya mendukung dan menfasillitasi penerapan model pembelajaran yang dilaksanakan, sehingga proses belajar mengajar berjalan sesuai dengan yang diinginkan.

DAFTAR RUJUKAN
Aqip Zainal.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung.  Yrama Widya.
Arikunto. 2003. Menejemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Depdiknas, 2006, Kurikulurn  Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas
Huberman, 1992. Analisis Diskriptif Kualitatif Jakarta : UIP
Hadjar. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hasbuan, JJ dan Moedjiono. 1995, Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Margono. 1997 : Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineke Cipta
Nasution 1995. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar Jakarta : PT Bumi Aksara
Setijadi. 1996. Pengelolah Belajar. Jakarta Utara : CV Rajawali
Slamelo. 1991. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sujana, N. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar baru
Sunardi. 2001. Model Kemandirian Akfif Pembelajaran Praktek Kesenian di Perguruan. Tinggi. Jakarta: Balitbang Depdiknas RI
Supridjono, A. 2009. Cooperatif learning teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka  Pelajar

Trianto. 2009). Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.