Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENERAPAN MODEL TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MATERI AJAR “GEJALA PERISTIWA ALAM” SISWA KELAS VI SDN SERUNI 02 Saptiasih

PENERAPAN MODEL TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MATERI AJAR “GEJALA PERISTIWA ALAM” SISWA KELAS VI SDN SERUNI 02

Saptiasih
Abstrak: Pembelajaran  harus diupayakan merupakan sebuah proses yang menyenangkan.  Penerapan model Team Games Tournament merupakan salah satu upayanya.Tujuan penelitian tindakan kelas ini  mengkaji tentang : Penerapan Model Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Gejala Peristiwa Alam” Siswa Kelas VI SDN Seruni 02. Ranncangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian: Penerapan Model Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Peningkatan tampak pada peningkatan  tingkat ketuntasan belajarnya. Dari 82 % pada siklus pertama , meningkat 92% pada siklus kedua.

Kata Kunci:  Model Team Games Tournament (Tgt)

PENDAHULUAN
Dalam proses pembelajaran terjadi proses interaksi antara guru dengan siswa. Dalam pembelajaran terdapat dua konsep kegiatan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya yaitu belajar dan mengajar. Menurut Hamalik (2004.27) belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan. Definisi lain tentang belajar dikernukakan. oleh Slameto (2003:2) bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan temannya melalui latihan dan pengalaman. Engkoswara (1998:2) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku, yaitu dalam bentuk prestasi yang telah direncanakan tedebih dahulu.
          Suatu pembelajaran dikatakan berhasil apabila timbul perubahan tingkah laku positif pada peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Konteks ini pada dasarnya bergantung pada guru sebagai elemen penting dalam kegiatan pembelajaran.Memang saat ini sudah menjadi tidak lazim apabila seseorang guru menjadi dominator kegiatan pembelajaran di kelas, namun hal ini bukan berarti guru lepas tanggung jawab terhadap keberhasilan siswanya dalam belajar. Untuk mewujudkan tanggung jawab tersebut guru harus selalu proaktif dan responsive terhadap semua fenomena-fenomena yang dijumpai di kelas.
Salah satu tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah membentuk warga masyarakat yang bertanggung jawab, menumbuhkan rasa kebangsaan atau nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Disamping itu Ilmu Pengetahuan Sosial juga memberikan berbagai pengalaman tentang nilai-nilai kehidupan individu maupun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sesuai dengan tujuan tersebut, untuk mencapai pembelajaran yang baik maka pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial harus menekankan pada penanaman konsep, sehingga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tidak sekedar mendengarkan dan menghafal tetapi lebih ditekankan pada latihan berfikir kritis analitis). Hal ini menunjukkan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, siswa tidak hanya mendengarkan ceramah dan membaca buku teks saja melainkan siswa dituntut keaktifannya dalam kegiatan belajar mengajar (Sapriya, 2008; Winataputra, 2006)..
Namun pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) masih banyak mengalami permasalahan baik dari aspek proses maupun dari aspek hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi  pad tempat peneliti mengajar , diperoleh data bahwa siswa cenderung kurang memperhatikan atau kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Ketuntasan belajar masih mencapai 51 %. Hal ini menunjukkan proses dan hasil pembelajaran pengetahuan sosial belum seperti yang diharapkan, maka perlu dicari solusinya.
            Faktor itulah yang membutuhkan perhatian demi tercapainya peningkatan mutu pendidikan. Salah satu faktor tersebut adalah proses kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran, intinya adalah kegiatan belajar para peserta didik (Sudjana, 1990:153). Kegiatan belajar sendiri dipengaruhi pendekatan mengajar guru. Guru sebagai pengajar dan pembimbing, harus mampu menerapkan pendekatan yang baik sehingga dapat meningkatkan kadar kegiatan belajar siswa sebagai upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan.
            Sebagaimana disarankan oleh Dewey (1916) bahwa keseluruhan kehidupan sekolah harus ditata atau diorganisasikan sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. Untuk itu siswa seyogyanya memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem sosial melalui pengalaman dan berangsur-angsur belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Berkenaan dengan hal itu, pendidik seyogyanya berusaha untuk menciptakan suasana yang memungkinkan tumbuhnya kehidupan kelas seperti itu.
            Untuk mengatasi masalah dalam proses pembelajaran agar tidak monoton, telah dikembangkan beberapa model pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai altematif yang dapat diterapkan guru.
Model pembelajaran yang peneliti pilih dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  model pembelajaran Team Games Tounament (TGT). Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut: 1)Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan yang penting dalam kelompoknya.; 2)Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya; 3)Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik; 4).Dalam pembelajaran  ini membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa tournamen dalam model ini (Trianto. 2007).
            Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Penerapan Model Team Games Tournament (TGT) Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Gejala Peristiwa Alam” Siswa Kelas VI SDN Seruni 02 ?
            Berkaitan dengan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penelitian tindakan kelas adalah untuk mengkaji tentang : Penerapan Model Team Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Gejala Peristiwa Alam” Siswa Kelas VI SDN Seruni 02.
            Adapun manfaat hasil penelitian tindakan kelas ini adalah :
a)     Bagi Siswa, dapat membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
b)     Bagi guru, dapat dijadikan masukan, khususnya guru Ilmu Pengetahuan Sosial dalam memberikan alternatif model pembelajaran untuk perbaikan proses belajar mengajar sehingga hasil belajar meningkat,
c)     Bagi penulis, sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam mengembangkan pengetahuan pendidikan serta menambah wawasan penelitian pendidikan,
d)     Bagi Sekolah, dapat sebagai bahan masukan untuk mengambil kebijakan berkaitan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

METODE PENELITIAN
            Tempat penelitian merupakan daerah yang menjadi tempat penelitian untuk mengumpulkan data-data dalam penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan menggunakan metode analisa data kuantitatif dan kualitatif artinya pengolahan data dan analisis data berdasarkan hasil belajar siswa melalui ketuntasan tahapan-tahapan siklus, dan menjelaskan berdasarkan hasil belajar berikutnya. Adapun yang menjadi tempat penelitian ini adalah Di SDN Seruni 02 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, sedangkan waktu penelitian adalah pada semester Genap tahun Pelajaran 2013/2014.    Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI  SDN Seruni 02 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember semester Genap tahun Pelajaran 2013/2014, sebanyak 39 siswa,
            Penelitian ini direncanakan dalam 3  meliputi: 1)Tahap perencanaan; 2)Tahap pelaksanaan; 3) Tahap observasi.; 4) Tahap refleksi untuk setiap siklus.

Tahap refleksi untuk setiap siklus
Penelitian ini menggunakan model skema penelitian tindakan kelas Hopkins di mana penelitian tindakan di laksanakan berupa proses pengkajian berdaur (cyclical) yang terdiri dari 4 tahap, yaitu: merencanakan, melakukan tindakan, mengamati dan refleksi. Keempat tahap tersebut di pandang sebagai siklus spiral, seperti di gambarkan bagan berikut :

 













Revisi
 
                                Belum
 




Oval: Selesai                                                                        Ya


Gambar 1. Model skema penelitian tindakan Hopkins
(Wiriaatmadja, R. ,2005)

a.    Tahap Perencanaan
            Pada tahap ini akan direncanakan segala sesuatu yang akan digunakan selama proses penelitian di kelas, mendiskusikan tentang skenario dan seting penelitian, menyiapkan rencana pembelajaran, menyiapkan alat seperangkat evaluasi dan menyiapkan kapan waktu yang cocok dan menyiapkan catatan bekas bebas dan angket.
b.    Tahap Pelaksanaan
            Tahap ini guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disiapkan yaitu melaksanakan proses pembelajaran eksperimen disertai LKS, berikut evaluasinya.
c.    Tahap Observasi
            Pada tahap ini, guru Ilmu Pengetahuan Sosial akan melakukan observasi tentang pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, baik pada proses pembelajaran maupun diakhir proses pembelajaran. Pada kegiatan ini menggunakan lembar observasi dan dilengkapi dengan angket pedoman wawancara dan catatan.
d.    Tahap Refleksi
            Pada tahap refleksi, guru Ilmu Pengetahuan Sosial melakukan proses pengkajian terhadap serangkaian kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Hasil kajian ini akan dijadikan sebagai dasar-dasar pertimbangan untuk meningkatkan proses penilaian selanjutnya yaitu siklus II dan seterusnya. Setelah semuanya dipertimbangkan secara seksama, maka persiapkanlah pelaksanaan siklus selanjutnya.
            Untuk siklus-siklus selanjutnya aktivitas selalu diawali dengan tahap perencanaan yang baru sebagai hasil siklus I, selanjutnya diteruskan dengan tahap observasi dan refleksi. Pada kegiatan siklus lanjutan kadar pelaksanaannya karena permasalahannya semakin mengecil.

Teknik Pengumpulan Data
            Pengumpulan data pada setiap penelitian tidak dapat diabaikan karena kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Dalam Metode ini metode yang digunakan meliputi tes, observasi, dokumentasi dan wawancara.

 Analisis Data
            Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana dengan baik tetapi jika analisis datanya tidak relevan, maka kesimpulan yang diperoleh bisa salah dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. Dalam penelitian ini teknik Analisis, ada dua teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini
 untuk menggambarkan keadaan subyek penelitian, akan digunakan teknik diskriptif kualitatif yaitu menggambarkan kondisi mereka sebelum pada penelitian atau saat akhir proses pembelajaran sedangkan untuk mengetahui perkembangan pencapaian prestasi belajar digunakan analisis data kuantitatif dan deskriptif .

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian.
            Deskripsi hasil penelitian sebagai berikut. Berdasarkan hasil observasi awal diketahui kondisi proses belajar mengajar kurang kondusif, siswa dalam kelas ramai, kurang memperhatikan penjelasan guru. Jika diberi pertanyaan gurunya cenderung tidak ada yang bisa menjawab. Keaktifan siswa masih sangat jauh dari apa yang diharapkan atau mayoritas siswa dalam proses belajar mengajar  masih pasif.
Adapun hasil belajar siswa kelas VI pada kondisi awal yang diajarkan tanpa pembelajaran Model Team Games Tournament (TGT) pada materi pokok “Gejala Peristiwa Alam “ dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas VI SDN Seruni 02 Pada Kondisi Awal.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
19
49%
65 100
20
51%
Jumlah
39
100%
Sumber : Data yang diolah

Dari tabel 2 diatas , dapat diketahui bahwa hasil belajar pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar , karena siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 19 siswa atau 49% sedangkan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 51%. Dengan demikian perlu adanya perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dalam hal ini dengan menerapkan model pembelajaran Model Team Games Tournament (TGT) pada Siklus I.

Selama pembelajaran pada siklus I, masih tampak ada bebrapa siswa yang bingung dengan penerapan Model Team Games Tournament (TGT). Namun sebagian besar siswa sangat menyenangi proses pembelajaran dengan Model Team Games Tournament (TGT). Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut :

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas VI SDN Seruni 02 Pada Siklus I.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
7
18%
65 100
32
82%
Jumlah
39
100%
Sumber : Data yang diolah
            Berdasarkan tabel 3 di atas, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada Kondisi Awal. Hal ini terbukti pada saat diadakan analisa data melalui tes, diperoleh data yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 7 siswa atau sebanyak 18% sedangkan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 32 siswa atau sebanyak 82%, sehingga pada siklus I dinyatakan tuntas belajar. Namun untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, peneliti merasa masih perlu untuk melanjutkan pembelajaran dan analisa data pada siklus II.
Pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, hanya memperbaiki kekurangan – kekurangan yang terjadi pada pembelajaran siklus I.  Peneliti yang juga sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas VI, membimbing siswa yang belum mengerti dengan model pembelajaran yang diterapkan. Data yang diperoleh dari hasil belajar pada siklus I, menjadi acuan bagi peneliti untuk meningkatkan hasil siswa pada siklusII.
Selanjutnya peneliti melaksanakan analisis data pada siklus II dengan mengadakan evaluasi berupa tes tertulis, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini :

Tabel 4. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas VI SDN Seruni 02 Pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
3
8%
65 100
36
92%
Jumlah
39
100%
Sumber : Data yang diolah
            Berdasarkan tabel 4 di atas, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II yaitu, siswa  yang mendapat nilai  < 65 sebanyak 7 siswa atau sebanyak 18% sedangkan yang mendapat nilai 65 - 100 sebanyak 32 siswa atau sebanyak 82%, sehingga pada siklus I dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Oleh karena itu pembelajaran dihentikan pada siklus II, dan tidak dilanjtkan pada siklus Selanjutnya.
            Tabel 5 dan Grafik di bawah ini disajikan untuk melihat dengan lebih jelas perbandingan  peningkatan hasil belajar mulai dari Kondisi Awal, Siklus I, dan siklus II.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas VI SDN Seruni Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan  Siklus II.

Kriteria
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
siswa
%
Siswa
%
siswa
%

<65
19
49%
7
18%
3
8%

65-100
20
52%
32
82%
36
92%

Jumlah
39
100%
39
100%
39
100%
Sumber : Data yang diolah

 Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa kelas VI SDN Seruni 02 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan  Siklus II.

 











Sumber : Data yang diolah

 Pembahasan
            Paparan diatas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan. Asumsi digunakannya Model Team Games Tournament (TGT) adalah bahwa sekolah berusaha menyediakan pengajaran yang terbaik kepada siswa untuk mengerahkan diri sendiri dalam berpikir kritis dalam meningkatkan hasil belajar. Karena Model Team Games Tournament (TGT) merupakan metode yang berpusat pada siswa, menghendaki siswa terlibat aktif dalam pengajaran. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
            Hal ini menunjukkkan bahwa guru harus mampu memilih metode mengajar yang sesuai, efektif dan efisien sehingga siswa dapat menguasai materi yang diberikan dengan baik. Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif jika tujuan pembelajaran tercapai. Semakin tinggi tingkatannya untuk mencapai tujuan pembelajaran, semakin efektif metode itu, sedangkan suatu metode dikatakan efisien apabila penerapannya dalam mencapai tujuan yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, pengeluaran biaya dan waktu minimum. Semakin kecil tenaga, usaha, biaya dan waktu yang dikeluarkan, semakin efisien metode itu (Rofi'udin, 1988:82). Oleh sebab itu untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan, seorang guru harus memilih metode mengajar yang tepat dan baik.
            Menurut Joyce dan Weil (1986), hakikat mengajar atau teaching adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Dalam kenyataan sesungguhnya, hasil akhir atau hasil jangka, panjang dari proses pembelajaran adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat belajar lebih mudah dan lebih efektif di masa yang akan datang (Joyce dan Weil, 1986:1). Karena itu, proses pembelajaran tidak hanya memiliki makna deskriptif dan kekinian, akan tetapi juga bermakna prospektif dan berorientasi masa depan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan, maka peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Model Team Games Tournament (TGT) Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Gejala Peristiwa Alam” Siswa Kelas VI SDN Seruni 02 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember Semester Genap  Tahun Pelajaran 2013/2014.
           
 Saran-saran
      Berdasarkan kesimpulan penelitian tindakan kelas, peneliti dapat memberikan saran-saran :
1)     Untuk Guru, hendaknya menerapkan model pembelajaran model Pembelajaran Team Games Tournament  (TGT) pada mata pelajaran yang lain juga
2)     Untuk Sekolah, hendaknya memberi dukungan dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksankan oleh guru sebagia upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR  RUJUKAN

Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Hamalik , O.2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto (2003:2)
Sapriya, 2008. Pendidikan IPS. Bandung .Laboratorium PKn UPI
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Jakarta:. Penerbit Pustaka Publisher
Wiriaatmadja, R. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : PPS UPI.

Winataputra, .2006.  Materi dan Pembelajaran IPS. Jakarta: UT