Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENGGUNAAN ALAM SEKITAR SEBAGAI MEDIA, SUMBER PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA MATERI POKOK “PESAN PENDEK” Endang Dwi Marjati

PENGGUNAAN ALAM SEKITAR SEBAGAI MEDIA, SUMBER PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA  MATERI POKOK “PESAN PENDEK”

Endang Dwi Marjati

Abstrak:  Kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar  menjadikan kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi. Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini untuk mengkaji tentang: Penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran untuk  meningkatkan kualitas  pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra  materi pokok “Pesan Pendek” siswa kelas II di SDN Kepatihan 04. Hasil penelitian menunjukkan . Siswa tampak bersemangat dalam menyelesaikan pembuatan Pesan Pendek hal ini menunjukkan kualitas pembelajaran meningkat dapat dilihat dari proses pembelajaran berjalan aktif dan lancar. Ketuntasan hasil belajar juga meningkat sehingga ketuntasan mencapi 100%.

      Kata Kunci: Alam Sekitar, Media , Sumber Belajar, Kualitas Pembelajaran


PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran Bahasa  Indonesia diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya Depdiknas, 2004). Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Guru dan siswa dapat belajar dengan mempelajari segala sesuatu di luar kelas, dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan para siswa dapat menikmati keindahan alam dan dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.
Membawa kelas atau para siswa keluar kelas dalam rangka kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu. Artinya tidak selalu memakan waktu yang lama, tapi bisa saja dalam satu atau dua jam pelajaran bergantung kepada apa yang akan dipelajarinya dan bagaimana cara mempelajarinya.
Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar antara lain :
a)    Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b)    Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
c)    Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat.
d)    Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta dan lain-lain.
e)    Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan dan lain-lain.
f)     Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Oleh sebab itu lingkungan di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai media
dalam pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sumber belajar para siswa. Berbagai bidang studi yang dipelajari siswa di sekolah hampir bisa dipelajari dari lingkungan seperti ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, Bahasa, kesenian, keterampilan, olah raga kesehatan, kependudukan, ekologi, dan lain-lain.
Beberapa kelemahan dan kekurangan yang sering terjadi dalam pelaksanaannya berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Misalnya :
a)    Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada waktu siswa dibawa ke tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga ada kesan main-main. Kelemahan ini bisa diatasi dengan persiapan yang matang sebelum kegiatan itu dilaksanakan. Misalnya menentukan tujuan belajar yang diharapkan dimiliki siswa, menentukan cara bagaimana siswa mempelajarinya, menentukan apa yang harus dipelajarinya, berapa lama dipelajari, cara memperoleh informasi, mencatat hasil yang diperoleh, dan lain-lain.
b)    Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga meng­habiskan waktu untuk belajar di kelas. Kesan ini keliru sebab kunjungan ke kebun sekolah untuk mempelajari keadaan tanah, jenis tumbuhan dan lain-lain cukup dilakukan beberapa menit, selanjutnya kembali ke kelas untuk membahas lebih lanjut apa yang telah dipelajarinya.
c)    Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. la lupa bahwa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar jam kelas atau pelajaran baik secara individual maupun kelompok dan satu di antaranya dapat dilakukan dengan mempelajari keadaan lingkungannya.
Dalam pembelajaran bahwa juga demikian, siswa dapat mencermati kehiupan sosial masyarakat sekitar dan alam kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tuiis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia, karya-karya sastrawan besar dunia (Depdiknas, 2004).
Pembelajaran Bahasa Indonesia selama ini masih kurang sekali melatih siswa dalam menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Siswa banyak diberi pengetahuan dan aturan-aturan tata bahasa dalam latihan menulis, sehingga berakibat siswa setelah lulus dari sekolah tidak mampu menggunakan bahasa dalam bentuk lisan dengan baik dan benar.
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui Bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dan yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Salah satu fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menuru Kurikulum Pendidikan Dasar yaitu, "Sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni".
Apresiasi Sastra Anak dapat diartikan sebagai "karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa, baik lisan ataupun tertulis, yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak".
Sementara itu, Riris K. Toha Sarumpaet (1976:21) menyatakan sastra anak adalah karya sastra yang dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Pendek kata, sastra anak ditulis oleh orang tua untuk anak. orang dewasa pulalah yang membimbing anak dalam memilih dan mengusahakan bacaan yang baik bagi anak.
Namun sebenarnya tidak semua sastra anak itu ditulis oleh orang tua. Penulis sastra anak dapat juga dilakukan oleh anak-anak itu sendiri, misalnya menulis surat dan sebagainya. Sebab sifat dan hakikat anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Selain itu sifat surat anak lebih menonjolkan unsur fantasi.
Berdasarkan konsep diatas, diharapkan siswa sekolah dasar yang identik dengan anak-anak mampu membuat surat pribadi misalnya dengan bahasanya sendiri dan berdasarIkan alam fantasi mereka. Sehingga anak-anak dapat langsung mendeskripsikan imajinasinya sesuai dengan keinginannya.
Namun sesuai kenyataan dilapangan, ini dilihat dari hasil temuan bahwa hanya sedikit yang mampu membuat surat pribadi dengan baik. Dilihat dari hasil temuan tersebut siswa keias dipandang perlu untuk mengadakan perbaikan, paling tidak sampai mencapai 85% siswa harus menguasai materi.
Faktor kesulitan siswa dalam membuat surat pribadi dalam hal ini karena para guru cenderung menggunakan cara atau aturan yang kurang menarik bagi siswa dalam proses pembelajaran. Hal demikian dilakukan para guru dari waktu ke waktu sehingga tidak terjadi perubahan terhadap siswa.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru harus mampu mencari metode lain dalam merangsang minat siswa agar mereka tertarik untuk membuat surat pribadi. Misalnya dengan memanfaatkan alam sekitar yang ada dilingkungan mereka sebagai media pembelajaran.
Dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran dapat membantu siswa sekolah dasar agar lebih mudah dalam meningkatkan kemampuannya dalam berkarya membuat surat pribadi. Sebab mereka masih digolongkan sebagai siswa yang membutuhkan bermain dalam belajar. Usia mereka masih membutuhkan berbagai aktivitas fisik dalam proses menuju kemandirian
Siswa akan langsung mengalami suasana yang ada dalam surat pribadi, artinya bila menggunakan alam sekitar sebagai media pembelajaran, siswa akan lebih terlibat secara emosionai, intelektual dan imajinatif. Diharapkan siswa akan lebih giat lagi bekerja dalam mencari dan menemukan kata-kata yang tersurat dalam pikirannya.
Dalam pembelajaran perlu diciptakan suasana yang berbeda dengan biasanya, di samping untuk menghilangkan kejenuhan juga untuk menciptakan kondisi munculnya ide baru dari suasana baru yang diciptakan tersebut. Suasana juga mendukung terciptanya suatu karya, maka perlu ada kegiatan di luar kelas, untuk kepentingan tersebut, yakni dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Guru dan siswa dapat belajar dengan mempelajari segala sesuatu di luar kelas, dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang aktual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan para siswa dapat menikmati keindahan alam dan dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan. Membawa kelas atau para siswa keluar kelas dalam rangka kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu.
Artinya tidak selalu memakan waktu yang lama, tapi bisa saja dalam satu atau dua jam pelajaran bergantung kepada apa yang akan dipelaja­rinya dan bagaimana cara mempelajarinya. Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar antara lain :
  1. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan, siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
  2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
  3. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat.
  4. Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan menguji fakta dan lain-lain.
  5. Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan dan lain-lain.
  6. Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Oleh sebab itu lingkungan di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai media dalam pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sumber belajar para siswa. Berbagai bidang studi yang dipelajari siswa di sekolah hampir bisa dipelajari dari lingkungan seperti ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, bahasa, kesenian, keterampilan, olah raga kesehatan, kependudukan, ekologi dan lain-lain.
Sumber belajar menunjuk pada tempat dimana keberadaan materi pembelajaran ada pada tempat tersebut. Materi yang dimaksud yang digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran. Penggunaan media dan sumber pembelajaran dalam pembelajaran sangat diperlukan sebagai perantara selama proses belajar mengajar berlangsung dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan.
Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Menurut Gagne, Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar (Gagne: 1970). Dan menurut Syam, Madrikan 2004. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar lebih menarik.
Alam sekitar merupakan lingkungan yang ada disekitar kita. Bila berada disekolah berarti lingkungan yang berada diluar kelas yang dapat digunakan sebagai sumber/ media belajar bagi siswa. Alam sekitar dapat bermanfaat bagi siswa dalam memahami kehidupan. Alam sekitar atau lingkungan yang dimanfaatkan untuk belajar diusahakan lingkungan yang baru dan berbeda dengan lingkungan kelas.
Dengan lingkungan alam diharapkan juga bisa ikut mengembangkan ketrampilan dasar membaca, menulis dan menghitung dengan pengarahan guru. Lingkungan alam akan memberikan siswa berbagai kebebasan bergerak dan menyalurkan kreativitas. Sehingga siswa dalam waktu bersamaan akan menyerap ilmu pengetahuan, latihan fisik, kegembiraan, sosialisasi dan mengenal lingkungan sekitarnya secara bersamaan.
Lingkungan alam yang serba komplek, beragam, peserta didik dapat mengamati (observasi) mengkaji dan menganalisis kondisi tesebut dan dapat digunakan sebagi sumber inspirasi yang nantinya dituangkan dalam bentuk surat pribadi. Tema keindahan alam, kesuburan tanah air, keasrian alam, kegotong royongan masyarakat pedesaan, kegigihan dan semangat para petani dalam bekerja, dapat diangkat untuk dijadikan judul/tema Pesan Pendek.
Kemampuan siswa merupakan daya serap siswa dalam menerima materi yang diajarkan dan sejauh mana tingkat pemahaman tentang materi tersebut. Misainya dengan cara memberikan tugas/ tes pada siswa, sehingga guru akan memperoleh informasi sejauh mana tingkat kemampuan siswa terhadap materi yang diajarkan.
Pemilihan atau menentukan suatu media pembelajaran dalam proses belajar mengajar yang dapat merangsang aktivitas belajar siswa memang tidak mudah. Sebagai seorang guru harus mampu memilih dan memilah media yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Karena dengan menggunakan media yang tepat dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar lebih menarik. Dan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, dalam membuat pantun dan puisi memerlukan kebebasan dalam mencari inspirasi atau berfikir agar memperoleh karya yang baik.
Bertitik tolak pada pendapat tersebut diatas, maka penulis menganggap dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media dan sumber pembelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis anak dalam membuat surat pribadi sangatlah tepat dan efektif.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka masalah yang diajukan adalah: Apakah Penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra  materi pokok “Pesan Pendek” siswa kelas II di SDN Kepatihan 04 ?
Berdasarkan pada permasalahan yang ada maka tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini untuk mengkaji tentang: Penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran untuk  meningkatkan kualitas  pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra  materi pokok “Pesan Pendek” siswa kelas II di SDN Kepatihan 04 .
Pelaksanaan penelitian kelas IIni diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat yaitu : 1)Bagi guru akan dapat membantu mengatasi permasalahan pembelajaran yang mereka hadapi dan mendapat tambahan wawasan serta keterampilan pembelajaran yang dapat digunakan meningkatkan mutu pembelajaran; 2) Bagi siswa, akan memperoleh pelajaran Bahasa Indonesia tentang membuat Surat Pribadi yang lebih menarik, menyenangkan dan memungkinkan bagi dirinya untuk lebih memahami tentang membuat Surat Pribadi yang baik. 3).Bagi lembaga pendidikan, penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan bagi peningkatan mutu pembelajaran.

METODE PENELITIAN

Daerah Tempat Penelitian
Penelitan ini diadakan di SDN Kepatihan 04 Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember, responden dan tempat penelitian ditentukan oleh peneliti dengan pertimbangan tertentu antara lain: peneliti sudah tahu situasi kondisi subyek dan tempat penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam mencari data serta tempat penelitian mudah dijangkau oleh peneliti.
Pelaksanaan Penelitian pembelajaran Bahasa Indonesia ini dilaksanakan di kelas II. Sasaran penelitian ini Peneliti ingin memperbaiki dan berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa pada bidang studi Bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran Pesan Pendek sesuai dengan materi pokok.

Prosedur Dan Tahapan Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas IIni terdiri dari dua siklus (tentative). Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai. Dalam pelaksanaan penelitian penulis dibantu oleh seorang teman sejawat. Teman sejawat bertugas membantu dalam diskusi, pengamatan kegiatan serta memberi masukan dalam analisis hasil pengamatan terhadap pelaksanaan 4 pembelajaran.
 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur, yang terdiri dari 4 tahap yaitu: merencanakan, melakukan tindakan, mengamati/ observasi dan refleksi persiklus.
Adapun tahapan prosedur penelitian tindakan tersebut dapat dijabarkan dalam uraian sebagai berikut :
1. Perencanaan Tindakan, meliputi kegiatan :
  1. Peneliti membuat perencanaan pengajaran yang dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam hal ini adalah membuat Pesan Pendek.
  2. Membuat dan melengkapi media pembelajaran.
  3. Membuat lembar observasi yang digunakan peneliti untuk menilai sikap siswa pada saat peneliti mengaplikasikan melalui alam sekitar sebagai media pembelajaran.
  4. Identifikasi permasalahan. Dalam langkah ini harus didahului mentelaah kemampuan dan selain itu kesiapan seorang guru dalam mengatasi suatu permasalahan dalam Penelitian.
  5. Mendesain alat evaluasi (penilaian).
Penyusunan program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran dengan kompetensi dasar yang disesuaikan dengan kurikulum yang sedang berlaku. Program satuan pengajaran dan rencana pembelajaran digunakan pada tahap tindakan.

2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan. Kegiatan pelaksanaan tindakan merupakan bagian pokok dalam PTK. Oleh karenanya harus dilakukan dengan keseriusan dan kesungguhan. Dalam pelaksanaan tindakan terjadi interaksi dan komunikasi antara guru atau peneliti, siswa dan antar siswa didalam suasana pembelajaran. Dalam pelaksanaaan kegiatan, siklus prosedur penelitian, meliputi yakni:
Siklus I
a.       Setelah diperoleh gambaran keadaan siswa kelas II SDN Kepatihan 04 Kecamatan Kaliwates Jember, maka perlu dilakukan tindakan Penelitian yaitu dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media dan sumber pembelajaran dan mengamati hasil belajar siswa;
b.      Melakukan observasi selama pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dalam membuat surat pribadi dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran yang dilakukan peneliti sebagai pengajar;
c.       Diadakan evaluasi dari hasil pengamatan selama pembelajaran dan nilai hasil belajar, dengan maksud mengukur tingkat keberhasilan dalam membuat Pesan Pendek dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pernbelajaran;
d.      Mengadakan penelitian berdasarkan hasil observasi;
e.       Refleksi I. Dari hasil penilaian instrumen hasil belajar dapat dijadikan dasar Penelitian yang akan dilakukan pada siklus II.

Siklus II
a.  Mengkaji ulang hasil pembelajaran dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran dan hasil belajar pada siklus I,
b.  Melaksanakan observasi pelaksanaan dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran dan pelaksanaan penilaian hasil belajar,
c.  Diadakan evaluasi dari hasil pengamatan selama pembelajaran dan nilai hasil belajar, dengan maksud mengukur tingkat keberhasilan dalam memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran,
d.  Mengadakan penelitian berdasarkan hasil observasi,
e.  Refleksi II. Dari hasil penilaian instrumen hasil belajar dapat dijadikan dasar penelitian yang akan dilakukan pada siklus selanjutnya bila belum juga ada peningkatan hasil belajar secara signifikan.
3. Observasi

Observasi atau pengamatan dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung yaitu dengan menilai motivasi belajar siswa. Adapun hal-hal yang di observasi adalah : a.Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran,; b.Semangat siswa untuk melakukan tugas - tugas belajarnya; c.Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya; d.Reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap pembelajaran yang diberikan guru; e.Rasa senang dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Metode Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian harus memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Karena dengan pengumpulan data yang tepat akan menghasilkan data yang obyektif, proses pengumpulan data adalah sebagai berikut :Sumber data : siswa, guru, dokumen dan proses mengajar. Adapun cara pengambilan data dalam penelitian ini adalah : Data minat siswa diperoleh melalui metode Observasi/wawancara. Data tentang hasil belajar melalui dari tes tertulis/ unjuk kerja/ hasil karya.

Tahap Refleksi
Data-data yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil observasi tersebut guru dapat merefleksi diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian guru akan mengetahui efektivitas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini, akan dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru.
Setelah Penelitian pembelajaran pada siklus I dilaksanakan, dapat diperoleh hasil yang kurang memuaskan dan belum mencapai yang diharapkan sebagian besar siswa masih belum menguasai materi secara tuntas maka melalui diskusi dengan teman sejawat perlu dilakukan kembali penelitian pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu mengenai kelebihan dan kekurangan hasil penelitian antara lain :
Kelebihan dalam siklus I yaitu: 1). Melalui bimbingan guru, dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran siswa dapat membuat pantun anak dengan baik. Kekurangannya yaitu: 1). Guru belum terbiasa dalam membimbing anak dalam memberikan pelajaran di luar kelas, sehingga kesulitan dalam mengarahkan anak atau siswa. Dan hasilnya siswa masih kurang memahami maksud dari penjelasan guru; 2). Siswa kurang mampu bekerja cepat, karena dalam membuat Pesan Pendeki dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran merupakan hal baru bagi siswa dan mereka cenderung bergurau dengan teman lainnya. Sehingga siswa masih memerlukan bimbingan guru.
Perlu ditambahkan dalam siklus ini, guru lebih banyak mengetengahkan contoh-contoh surat pribadi, sehingga siswa mempunyai bayangan tentang Pesan Pendek yang sebenarnya, sehingga anak lebih tertarik dan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam materi yang diajarkan. Setelah diadakan penelitian pembelajaran siklus II diperoleh hasil yang memuaskan, prestasi siswa menunjukkan nilai yang baik. Kegiatan pembelajaran berlangsung aktif, siswa menampakkan kreatifitas yang tinggi dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran. Dengan menggunakan media pembelajaran ini mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat Pesan Pendek, dalam hal ini adalah Pesan Pendek dengan baik dan benar.
Kelebihan pada siklus lI yaitu: 1). Siswa nampak lebih antusias dan lebih tertib, karena mereka sudah agak terbiasa dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran, sehingga dalam mengerjakan tugas mereka merasa tidak terbebani dan lebih santai, 2). Siswa lebih mudah menyelesaikan Pesan Pendek karyanya sendiri, karena guru memberikan contoh Pesan Pendek anak yang lebih bervariasi, sehingga memancing anak lebih kreatif dan aktif.
Kekurangannya yaitu: Siswa cenderung kerjanya lebih lama, karena dalam menuangkan ide pikirannya masih membutuhkan bimbingan guru, mereka belum mampu berkonsentrasi penuh dalam satu ide saja.
Guru belum terbiasa dalam membimbing anak dalam memberikan pelajaran di luar kelas, sehingga kesulitan dalam mengarahkan anak atau siswa. Dan hasilnya siswa masih kurang memahami maksud dari penjelasan guru. Siswa nampak lebih antusias dan lebih tertib, karena mereka sudah agak terbiasa dengan memanfaatkan alam sekitar sebagai media pembelajaran, sehingga dalam mengerjakan tugas mereka merasa tidak terbebani dan lebih santai.



 Metode Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan yang paling penting untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Data yang dianalisis adalah 1) kegiatan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari hasil observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas atau surat pribadi siswa (aspek kognitif).
Untuk mengukur ketuntasan hasil belajar dalam hal ini adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotor menggunakan standar ketuntasan yaitu Ketuntasan belajar individu dinyatakan tuntas apabila tingkat presentase ketuntasan minimal mencapai 65%, sedangkan untuk tingkat klasikal minimal mencapai 85% (Depdlkbud: 1994).


 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian
Hasil Meningkatkan Kemampuan Pesan Pendek dengan Memanfaatkan Alam Sekitar Sebagai Sumber Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
Secara mendetail hasil perbandingan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah guru menggunakan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran dalam kategori keaktifan belajar siswa dalam belajar mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas II SDN Kepatihan 04 .
Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II selengkapnya disajikan dalam tabel dan grafik berikut ini.

Tabel 1.    Perbandingan ketuntasan atau hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SDN Kepatihan 04 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II sebagai berikut

Kategori Hasil Belajar
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
<65
22
65
4
12
0
0
66-75
10
29
10
29
2
5,8
76-100
2
6
20
59
32
94,2
Jumlah
34
100
34
100
34
34
Sumber:  Data penelitian (hasil observasi) yang diolah.








Grafik perbandingan ketuntasan atau hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SDN Kepatihan 04 Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II. Dari hasil analisis yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik di atas menggambarkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada proses pembelajaran yang diamati pada kondisi awal bahwa siswa yang memperoleh nilai <65 sebanyak 22 siswa atau 65%, siswa yang memperoleh nilai 66-75 sebanyak 10 siswa atau 29% dan  siswa yang memperoleh nilai 76-100 sebanyak 2 siswa atau 6%.  Kondisi tersebut berubah pada proses pembelajaran yang dilaksanakan pada penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran yakni pada siklus I siswa yang memperoleh nilai <65 sebanyak 4 siswa atau 12%, siswa yang memperoleh nilai 66-75 sebanyak 10 siswa atau 29% dan  siswa yang memperoleh nilai 76-100 sebanyak 20 siswa atau 59%.
Kemudian pada siklus II yaitu siswa yang memperoleh nilai <65 tidak ada atau 0%, siswa yang memperoleh nilai 66-75 hanya 2 siswa atau 6% dan  siswa yang memperoleh nilai 76-100 sebanyak 32 siswa atau 94%. Pada siklus II ini dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tergolong tinggi, sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya atau dihentikan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia semakin meningkat. Kondisi sebelumnya mayoritas hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia rendah, namun setelah diterapkan penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran, maka telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II SDN Kepatihan 04, secara signifikan.
Berdasarkan hasil nilai pre tes dan pos tes, dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar tiap siklusnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
            Berdasarkan hasil analisa data hasil tes, data wawancara, data observasi, dan data angket dapat dikatakan bahwa model pembelajaran penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran cukup efektif digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dikarenakan siswa lebih aktif dan minat siswa lebih tinggi, sehingga tujuan belajar dengan mudah untuk dicapai begipula hasil belajar siswa lebih meningkat.

Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis data terlihat bahwa penguasaan konsep Bahasa Indonesia siswa yang belajar dengan metode penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran  pada saat sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan mengalami peningkatan, hal ini di tunjukkan dengan adanya perubahan efektifitas hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Dengan adanya peningkatan yang cukup signifikan, berarti ini menunjukkan bahwa dengan penerapan metode penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran  hasil belajar siswa meningkat (cukup baik).
Berdasarkan observasi secara langsung peneliti dapat mengetahui secara langsung aktivitas siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dari data tersebut menunjukkan bahwa siswa lebih nyaman paham dan lebih tertarik pada metode penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran  daripada model  pembelajaran konvensional.
Dari hasil analisis, pengujian hipotesis, hasil observasi secara langsung yang dilakukan pada saat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) pada penggunaan metode penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran, dan hasil wawancara dengan siswa, dapat diambil kesimpulan secara garis besar bahwa motode penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran ini sangat cocok diterapkan untuk siswa sekolah dasar dan perlu untuk dikembangkan lebih lanjut.
 


 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Penggunaan alam sekitar sebagai media sumber pembelajaran dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia dan Sastra  materi pokok “Pesan Pendek” siswa kelas II di SDN Kepatihan 04. Siswa tampak bersemangat dalam menyelesaikan pembuatan Pesan Pendek hal ini menunjukkan proses pembelajaran berjalan aktif dan lancar. Ketuntasan hasil belajar juga meningkat menjadi 100%..



Saran saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka yang perlu dilakukan guru untuk meningkatkan penguasaan terhadap materi pelajaran dan dalam proses belajar mengajar agar lebih berkualitas serta keaktifan siswa dalam kelas, maka peneliti sarankan sebagai berikut : 1)Untuk pengajar hendaknya menerapkan alam sekitar sebagai  media pembelajaran agar dapat Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bahasa Indonesia; 2)Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat merupakan bahan masukan yang berguna dan juga sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan yang diambil dalam rangka meningkatkan kegiatan belajar mengajar dimasa mendatang; 3) Bagi guru hendaknya mengembangkan kemampuan profesionalnya dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) demi penyempurnaan pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

DAFTAR RUJUKAN
Baradja, MF. (1990) Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang. IKIP.
Denny Setiawan, dkk.(2006). Komputer danSumber Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.
Depdiknas. (2003) Kuriklum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Depdiknas.
Depdikbud (1994) Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Kelas II. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Nurhadi. (1987). Kapita Selekta Kajian Bahasa, sastra dan Pengajarannya. Malang: IKIP
Tim KBBI, (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Puji Santosa, dkk.(2006). Pengetahuan dan Apresiasi Sastra. Ende Flores: Nusa Indah.
Rene wellek,(1989). Teori Kesusastraan (Trj. Melani B.).. Jakarta: Gramedia.
Riris K. Toha dan Sarumpaet(1976) Bacaan Anak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Surana,(2004). Aku Cinta Bahasa Indonesia, Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia: Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.