Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “JENIS-JENIS BUDAYA INDONESIA” SISWA KELAS IV SDN KERTONEGORO 03 Sugimin

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN  HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “JENIS-JENIS BUDAYA INDONESIA” SISWA KELAS IV SDN KERTONEGORO 03

Sugimin

Abstrak:  Mata Pelajaran PKn  memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, maka mutlak dilaksanakan.  Penelilitian ini bertujuan mengkaji tentang: Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Motivasi Dan  Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Jenis-Jenis Budaya Indonesia” Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03. Desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian:   Penggunaan Media Gambar Dapat Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Jenis-Jenis Budaya Indonesia” Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03.  Kondisi awal ketuntasan mencapai 60 %, dilakukan tindakan menjadi 87% dan siklus kedua meningkat menjadi 97%

 Kata Kunci:  Media Gambar,  Motivasi dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945, diterapkan mulai dari pendidikan dasar sampai Perguruan tinggi  (Depdiknas, 2005; Winata Putra, U.S, dkk. 2006.)
            Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang sangat mutlak diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Masalah pendidikan adalah masalah manusia dan bangsa manapun di dunia ini, krisis pendidikan menyebabkan krisis multidimensional. Manusia lahir membawa tiga potensi kejiwaan yaitu cipta, rasa dan karsa, potensi inilah yang terus dikembangkan dalam eksistensi kehidupannya sehingga manusia tergolong sebagai makhluk pendidikan.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, bangsa Indonesia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan meningkatkan kualitas dan sumber daya manusianya. Hal ini sangat penting untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Dalam menghadapi kemajuan Ilmu Pengetahuan yang semakin pesat maka pemerintah memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan berbagai perbaikan dibidang pendidikan, antara lain perbaikan pada kurikulum yaitu diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), palaksanaan seminar bagi para guru, pelaksanaan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pengadaan buku paket dan lain sebagainya. Namun, keberhasilan pendidikan belum mencapai hasil yang dinginkan.
Proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada prinsipnya dalam penyajian materi pokok, guru harus berusaha mengefektifkan proses pembelajaran pada siswa agar hasil belajar siswa meningkat.  Keefektifan  belajar  merupakan  modal  yang  sangat penting untuk belajar. Proses belajar mengajar PKn dengan pola guru sentris (guru menjadi pusat kegiatan di dalam kelas) membuat siswa menganggap, bahwa pelajaran PKn membosankan. Hal ini mengakibatkan hasil belajar tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Menilik pada pengertian di atas, maka kegiatan PTK harus senantiasa terkait dengan persoalan praktek pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru.
            Berdasarkan hal tersebut di atas,  peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan penggunaan gambar  untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas IV SDN Kertonegoro 03 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Kelas ini dipilih karena, hasil belajar khususnya mata pelajaran matematika masih tergolong rendah dibandingkan dengan hasil belajar  pada mata pelajaran yang lain.
Bentuk umum dari media gambar terangkum dalam pengertian dari media grafis. Karena media gambar merupakan bagian dari pembuatan media grafis. Sebelum kita nengetahui lebih lanjut mengenai media gambar ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu pengertian dari media grafis. Media grafis atau graphic material adalah suatu media visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar - gambar, tulisan, atau  symbol  visual yang lain dengan maksud untuk menikthisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data kejadian. Batasan tersebut member gambaran bahwa media grafis merupakan media dua dimensi yang dapat dinikmati dengan menggunakan indra pengelihatan ( Sardiman, AS, dkk, 2008).
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka masalah penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Penggunaan Media Gambar Apakah Dapat Meningkatkan Motivasi Dan  Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Jenis-Jenis Budaya Indonesia” Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03?
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan mengkaji tentang: Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Motivasi Dan  Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Jenis-Jenis Budaya Indonesia” Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)     Bagi siswa, dengan penggunaan media gambar dapat lebih mudah  menghafal materi yang diajarkan dalam hal ini materi ajar ” Jenis-jenis Budaya Indonesia”,
b)     Bagi guru, penelitian ini membuat guru lebih mudah menyampaikan materi ajar, karena siswa lebih mudah mengerti dan memahami,
c)     Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi dan hasil belajar di sekolah.

METODE PENELITIAN
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi penelitian tindakan kelas dilaksanakan  yaitu di SDN Kertonegoro 03 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember pada semester genap tahun ajaran 2013/2014.

Subyek  Penelitian tindakan kelas ini adalah guru dan siswa kelas IV SDN Kertonegoro 03 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember pada semester genap tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 30 siswa .

Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah  Model Kemmis dan Mc Taggart. meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri.
Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dapat diuraikan sebagai berikut.
1)     Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2)     Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.
3)     Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
4)     Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5)     Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.  Secara mudah PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dapat digambarkan dengan diagram alur secara siklis.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes.
a. Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah,  notulen rapat, leger, agenda, dll.,(Fatckhan, 2009) Teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang nama siswa, hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014.
b.  Observasi
Observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi sistematis, yaitu menggunakan instrumen pengamatan. Instrumen pengamatan berupa daftar pengamatan yang berisi item-item kejadian atau tindakan yang dilakukan dalam penelitian. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran.
c. Tes
Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan setelah dilaksanakan tindakan. Instrumen tes disusun dan diujicobakan pada siswa di luar objek penelitian, dan dianalisis untuk mengetahui validitas, derajat kesukaran, daya beda, dan reliabilitas, sehingga instrumen soal yang digunakan untuk evaluasi di akhir siklus adalah hanya butir soal yang baik.
Soal tes diujicobakan di luar sampel penelitian dengan maksud untuk tetap menjaga agar hasil ujicoba benar-benar valid, sehingga ketika digunakan pada saat tes setelah pelaksanaan tindakan dihasilkan data yang benar-benar sesuai dengan pelaksanaan pembelajaran, karena apabila ujicoba dilaksanakan pada subjek penelitian, dikhawatirkan mempengaruhi hasil penelitian.
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi, dan tes. Data yang dikumpulkan berupa: a). Data Kuantitatif: yaitu data tentang hasil tes formatif siswa   sebelum dan sesudah diadakan perbaikan. B)Data Kualitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.  Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 1997:114). Sumber data penelitian ini diperoleh dari Siswa.Untuk mendapatkan data berupa hasil belajar/evaluasi dan aktivitas siswa ketika diamati dalam kegiatan pembelajaran yang tertuang dalam lembar pengamatan/observasi diperoleh dari siswa kelas IV SDN Kertonegoro 03 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember semester genap Tahun Pelajaran 2013/2014. Dari guru uru kelas IV merupakan peneliti, dan juga merupakan subjek yang akan diamati oleh pengamat/teman sejawat ketika pelaksanaan tindakan. Dengan demikian data yang diperoleh berupa komponen observasi pada lembar observasi yang akan diisi oleh peneliti dan pengamat/teman sejawat.    Pengamat/Teman Sejawat. Pengamatan dilakukan oleh Teman Sejawat. Hasil observasi teman sejawat sebagai bahan untuk penelitian dan untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar siswa materi ajar “ Jenis-Jenis Budaya Indonesia”
Data yang dianalisis meliputi data kuantitatif (angka-angka sebagai ukuran prestasi), dan data kualitatif (angka sebagai perbandingan). Analisis data dilakukan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran.
Tahapan menganalisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
a). Reduksi Data:Reduksi data dilakukan untuk pemilihan dan penyederhanaan data, yaitu seleksi dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual.
b). Penyajian data: Penyajian data dilakukan dalam bentuk sekumpulan informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data yang tersaji relatif jelas dan informatif.
c). Penarikan kesimpulan: Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan tahap akhir dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan evaluatif berdasarkan kegiatan yang ditempuh dalam dua tahap sebelumnya.

Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I , siklus II, hasil yang diharapkan adalah :
Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebanyak ≥ 80 %. Terjadi  peningkatan  prestasi  siswa     pada    mata     pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan    ≥ 70 %. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal  > 85 %, maksimal 100%.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pada saat pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Jenis-jenis Budaya Indonesia” dengan penggunaan media gambar membuat siswa sangat antusias dan bersemangat, hal ini  berbeda jauh dengan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya ( Pra Tindakan ).
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan Penggunaan Media Gambar dapat membuat siswa lebih mudah dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru, karena dengan media gambar siswa lebih mudah mengingat dan proses belajar lebih menyenangkan, siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar.
Pada pertemuan pertama dan ke dua pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional (Pra Tindakan). Hasil dari test dari dua kali pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk mengetahui perkembangan proses belajar mengajar Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pembelajaran pra tindakan ini dapat dapat dinyatakan belum tuntas karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 Siswa dengan persentase 40% dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 18 Siswa dengan nilai persentase sebesar 60%.
Adapun data hasil belajar tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar PKn  Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03 Kecamatan Jenggawah Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
12
40%
65 – 100
18
60%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah
            Selanjutnya untuk memperbaiki pembelajaran sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan Penelitian Tindakan Kelas dengan Penggunaan Media Gambar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada siklus I.
Peneliti menyampaikan materi ajar tentang “ Jenis-jenis Budaya Indonesia” dan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu melalui model pembelajaran dengan menggunakan media gambar yang sudah dipersiapkan sebelumnya yaitu gambar tarian daerah, rumah adat, pakaian adat, dll.
 Selama kegiatan pembelajaran berlangsung teman sejawat melakukan pengamatan terhadap jalannya proses perbaikan, keaktifan siswa, dan kegiatan peneliti selama melaksanakan perbaikan pembelajaran. Selanjutnya diadakan analisa data pada siklus I dengan memberi  evaluasi kepada siswa berupa tes yang harus dikerjakan siswa. Hasil analisa data dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar PKnn  Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03 Pada    Siklus I
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
4
13%
65 – 100
26
87%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah
            Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar yang menggembirakan , yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa dengan persentase 13%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa, dengan persentase 87%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus I dinyatakan tuntas belajar.
Meskipun pada siklus I, hasil belajar sudah mencapai ketuntasan, namun untuk mendapat hasil belajar yang lebih baik lagi, selanjutnya untuk perbaikan hasil belajar diadakan analisa data pada siklus II,
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, pada dasarnya sama dengan siklus I dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I. Siswa yang semula belum mengerti menjadi lebih paham materi yang diajarkan karena dengan media gambar menjadi lebih jelas dan memudahkan untuk diingat.
Selanjutnya untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan pembelajaran pada siklus II , diadakan analisa data melalui tes tertulis, dan hasilnya adalah  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak  1 siswa dengan persentase 3%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa, dengan persentase 97%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya. 
Analisis data pada siklus II, lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar PKn Pada    Siklus II
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
1
3%
65 – 100
29
97%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah

Selanjutnya, pada tabel 4 dan grafik 1 dibawah ini, dapat dilhat lebih jelas perbandingan peningkatan hasil belajar mata pelajaran  Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar ‘Jenis-jenis Budaya Indonesia’ mulai dari kondisi awal, Siklus I, dan Siklus II.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar PKnPada  Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
40%
4
13%
1
3%
65 – 100
18
60%
26
87%
29
97%
Jumlah
30
100%
30
100%
30
100%
 Sumber : Data yang diolah
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03 Pada    Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Salah satu yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar adalah proses pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dimana pengajar lebih merupakan subyek dalam pembelajaran sedangkan siswa hanya sebagai obyek penerima materi. Hal ini menyebabkan siswa menjadi bosan, bahkan saat pembelajaran siswa ada yang mengantuk .
Berdasarkan hasil belajar pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  dengan penggunaan Media gambar diperoleh hasil belajar yang meningkat antara Pra Tindakan siklus I, dan siklus II. Hasil belajar pada Pra Tindakan, yaitu pembelajaran dengan metode konvensional diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 Siswa dengan persentase 40% dan Siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 18 Siswa dengan nilai persentase sebesar 60%. Sehingga pada pra tindakan hasil belajar siswa dinyatakan belum tuntas belajar.
Rendahnya hasil belajar pada pra tindakan, menjadi acuan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas sebagai upaya untuk memperbaiki pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan berbagai metode/model pembelajaran.
Selanjutnya, pada siklus I, dengan penggunaan media gambar  terjadi peningkatan hasil belajar dibandingkan pada pra tindakan, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa dengan persentase 13%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa, dengan persentase 87%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus I dinyatakan tuntas belajar.
Meskipun pada siklus I, sudah mencapai ketuntasan belajar, namun analisa data dilnjutkan pada siklus II untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi. Pembelajaran pada siklus II, hanya mengulangi pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, dengan memperbaiki kekurangan- kekurangan yang ada. Hasil yang diperoleh dari pembelajaran pada siklus II, yaitu yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak  1 siswa dengan persentase 3%, sedangkan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa, dengan persentase 97%, dengan demikian, maka hasil belajar pada siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Sehingga analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa berasal dari diri siswa dan dari lingkungaan sekitar. Salah satu faktor yang datang dari lingkungan adalah cara guru menyajikan materi pelajaran. Hal ini menyangkut model pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dalam menyampaikan materi diharapkan guru menggunakan model yang tepat antara keadaan diri siswa dengan lingkungan.
Suryosubroto (1996:20) menyatakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Berdasarkan pernyataan Suryosubroto tersebut maka model yang tepat sangat berpengaruh pada keberhasilan proses belajar mengajar, hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa selama proses belajar mengajar.
Ketuntasan hasil belajar adalah penguasaaan penuh dari peserta didik terhadap bahan yang telah diajarkan. Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses belajar mengajar mencapai ketuntasan hasil belajar maka perlu dilakukan tes hasil belajar (Arikunto, 2002: 228).
Dalam pembelajaran di sekolah dasar media gambar sangat baik di gunakan dan di terapkan dalam proses belajar mengajar sebagai media pembelajaran karena media gambar ini cenderung sangat menarik hati siswa sehingga akan muncul motivasi untuk lebih ingin menegtahui tentang gamabar yang dijelaskan dan gurupun dapat menyampaikan materi dengan optimal melalui media gambar tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Penggunaan Media Gambar Dapat Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Jenis-Jenis Budaya Indonesia” Siswa Kelas IV SDN Kertonegoro 03.  Peningkatan tampak Kondisi awal ketuntasan mencapai 60 %, dilakukan tindakan  siklus  pertama menjadi 87% dan siklus kedua meningkat menjadi 97%

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut : 1)Untuk guru, Menggunakan Media Gambar  untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran yang lain.
2)Untuk sekolah, agar memberi dukungan dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru.


DAFTAR  RUJUKAN

Aziz Wahab, Dkk. 2007.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Jakarta :UT
Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur
Fatchan, A.dan Dasna, I.W. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Malang UM.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Penerbit Alfabeta.
Sapriya. 2008. Pendidikan IPS. Bandung. Lab.PKn UPI.
Sardiman A.S, dkk. 2008.  Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Syaiful Bahari Djamarah,  2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185
Suryadi. 1989, Membuat Siswa Akff Beiajar Bandung : Mondar Maju.
Usman, C. 1997. Menjadi Guru ProfesionaL. Bandung: Remaja Rosdakarya,
 Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Surabaya. Penerbit Pustaka Publisher
Wiriaatmadja, R. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : PPS UPI.

Winata Putra, U.S, dkk. 2006. Materi dan Pembelajaran PKn. Jakarta: UT