Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn MATERI AJAR “LEMBAGA PEMERINTAHAN DESA” MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI Rahayu Dwi Asih

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKn  MATERI AJAR “LEMBAGA PEMERINTAHAN DESA” MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI

Rahayu Dwi Asih

Abstrak: Tujuan penelitian  untuk mengkaji tentang : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Organisasi Pemerintahan Desa” Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian menunjukkan:  Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri  dapat meningkatkan  Hasil Belajar PKn Materi Ajar “Struktur Organisasi Pemerintahan Desa” Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02

         Kata Kunci:  Inkuiri, Hasil Belajar

 PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hakiket negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik atau golongannya. (Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), (Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998).
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Dengan memperhatikan isi dari UU No. 20 tahun 2003 tersebut, peneliti berpendapat bahwa tugas seorang guru  memang berat, sebab kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dari bangsa itu sendiri. Jika seorang seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas. Sesuai dengan Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945”.
Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), peran guru adalah: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik.
Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti  strategi / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif. Model pembelajaran  yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator.
Sejak mengajar mata pelajaran Pendiddikan  Kewarganegaraan di kelas IV SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan semangat siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Hasil belajar siswa juga masih rendah yaitu siswa yang mencapai ketuntasan hanya 55% dari seluru siswa yang berjumlah  29 siswa. Melihat kondisi ini, peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan  model pembelajaran lain yaitu strategi pembelajaran Inkuiri.
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosi, maupun pribadinya. Oleh karena itu dalam proses perencanaan pembelajaran, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Pembelajaran adalah proses memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).
Berdasarkan uraian diatas diatas, perumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Organisasi Pemerintahan Desa” Apakah Dapat Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02 ?
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji tentang : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Struktur Organisasi Pemerintahan Desa” Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
1)     Bagi siswa, dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar,
2)     Bagi guru, lebih berani untuk menerapkan model pembelajaran yang lebih variatif supaya proses belajar tidak membosankan,
3)     Bagi sekolah, dapat sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan hasil belajar dan kualitas belajar di sekolah.

METODE PENELITIAN

Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. Subyek  Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN SDN Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember .
            Rancangan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rancangan Kemmis dan Mc Taggart. Menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Rafi′uddin, 1996) penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral berikutnya.

1. Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.

2. Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.

3. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empirik agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.

4. Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.

5. Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan.
Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.

           
Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter.

Metode Analisis Data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.  Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.

 Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah
1.    Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran PKn sebanyak ≥ 80 %.
2.    Terjadi  peningkatan  prestasi  siswa     pada    mata     pelajaran PKn    ≥ 70 %.
  1. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal  > 85 %, maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada bab ini peneliti akan menyajikan data hasil penelitian dan hasil analisis data yang diuraikan persiklus penelitian. Adapun jumlah siklus penelitian ini adalah 2 siklus. Hal ini disebabkan peroleh data dari dua siklus penelitian telah memberikan gambaran yang cukup signifikan pencapaian tujuan penelitian. Artinya, data yang diperoleh siklus demi siklus menunjukkan pada peningkatan hasil belajar siswa yang menjadi konsentrasi dalam penelitian ini.
Namun sebelum kegiatan siklus dilaksanakan, terlebih dahulu peneliti mengadakan analisa data pada Kondisi awal, yaitu saat pembelajaran sebelum penerapan model Inkuiri pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hasil anlisa data pada kondisi awal ini dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02 Pada    Kondisi Awal.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
11
38%
65 – 100
18
62%
Jumlah
29
100%
Sumber : Data yang diolah.

Berdasarkan Tabel 1 di atas , dapat diketahui bahwa hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Lembaga Pemerintahan Desa” sebelum penerapan pembelajaran model Inkuiri masih belum mencapai ketuntasan, karena siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 11 siswa atau sebanyak 38% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 siswa atau sebanyak  62%. Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model Inkuiri, yang dijelaskan per siklus di bawah ini.

A.    Siklus I
Pada siklus ini, pembelajaran  mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “ Lembaga Pemerintahan Desa”. Perangkat pembelajaran yang digunakan pada siklus ini adalah RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang sudah dipersiapkan (RPP terlampir lampiran 1).
Berikut diuraikan langkah pokok kegiatan pembelajaran pada tahap ini, yakni sebagai berikut:
1)    Peneliti menjelaskan model pembelajaran yang akan diterapkan yaitu model Inkuiri
2)    Selanjutnya peneliti yang sekaligus guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran menjelaskan materi ajar “ Lembaga Pemerintahan Desa”
3)    Setelah kegiatan di atas dianggap selesai, guru mengadakan tanya jawab kepada siswa terkait dengan materi ajar
4)    Setelah materi tersebut dianggap cukup, selanjutnya membagikan lembar kerja siswa dan siswa disuruh menjawab soal-soal yang ada.
Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02 Pada    Siklus I.

Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
5
17%
65 – 100
24
83%
Jumlah
29
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 2 di atas , pada siklus I terjadi peningkatkan hasil belajar, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa dengan persentase 17% dan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 24 siswa dengan persentase 83%. Dengan demikian pada siklus I dinyatakan tuntas belajar. Jika dilihat dari sisi proses dan hasil pembelajaran telah menunjukkan peningkatan hasil  belajar siswa. Namun masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan diantaranya penyajian pertanyaan sebaik menggunakan bahasa yang lebih ringan, dalam artian mudah dipahami siswa, dan sebaiknya diberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas seminggu sebelumnya atau pada pertemuan sebelum-nya kepada siswa.
Berdasarkan hal tersebut di atas peneliti menyusun perencanaan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya pada siklus II dengan memperhatikan temuan-temuan di atas.


Siklus II
Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus ini mengunakan RPP yang telah dibuat berdasarkan kesepatakan hasil refleksi pada siklus I. Langkah-langkah pokok pembelajaran pada tahap ini pada dasar nya adalah sebagai berikut:
1)    Sebelumnya peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa
2)    Peneliti menjelaskan model pembelajaran yang akan diterapkan yaitu model Inkuiri
3)    Selanjutnya peneliti yang sekaligus guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran menjelaskan materi ajar “ Lembaga Pemerintahan Desa”
4)    Setelah kegiatan di atas dianggap selesai, guru mengadakan tanya jawab kepada beberapa siswa terkait dengan materi ajar
5)    Setelah materi tersebut dianggap cukup, selanjutnya bagikan lembar kerja siswa dan siswa disuruh menjawab soal-soal yang ada.

Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran PKn Pada    Siklus II.
Kriteria Nilai
Jumlah Siswa
Persentase
< 65
2
7%
65 – 100
27
93%
Jumlah
29
100%
Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 3 di atas , pada siklus II , sudah dinyatakan tuntas belajar secara klasikal , karena siswa yang mencapai ketuntasasan belajar sebanyak 93%, dengan penjelasan sebagai berikut : yaitu yang mendapat nilai < 65  hanya sebanyak 2 siswa dengan persentase 7% , sedangkan  yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa dengan persentase 93%. Sehingga analisa data tidak dilanjtkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas perbandingan peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II dapat dilihat pada tabel 4 dan grafik 1, sebagai berikut :
Tabel 4. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02 Pada  Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
11
38%
5
17%
2
7%
65 – 100
18
62%
24
83%
27
93%
Jumlah
29
100%
29
100%
29
100%
 Sumber : Data yang diolah
           
Grafik 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02 Pada  Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus Sumber : data yang diolah

Pembahasan
   Peningkatan hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran Inkuiri dapat dipahami karena model pembelajaran ini adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.   Sehingga siswa tidak merasa bosan dan jenuh pada saat mengikutu proses belajar mengajar di dalam kelas. Karena pada dasarnya belajar merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosi, maupun pribadinya. Oleh karena itu dalam proses perencanaan pembelajaran, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Pembelajaran adalah proses memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, yaitu : (1) strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. (2) seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Dengan demikian strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. (3) tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis.
Tujuan utama pembelajaran melalui strategi inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil analisis data tersebut adalah bahwa kegiatan pembelajaran dengan model Inkuiri cukup efektif terhadap peningkatan hasil belajar siswa.Dengan demikian maka model pembelajaran Inkuiri bisa diterapkan pada mata pelajaran yang lain .



KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Lembaga Pemerintahan Desa” Dapat Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Siswa Kelas IV SDN Kesilir 02..

Saran-saran
Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang peneliti sampaikan adalah:  1)Untuk guru, hendaknya mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa.; 2)Untuk sekolah, agar memberi dukungan terhadap penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk menerapkan metode yang lebih variatif.

DAFTAR  RUJUKAN
Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Djamarah, Zain. 1996. Strategi Belajar Mengajar Jakarta: Rineka Cipta
Hamalik, Omar, 1993. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Mandar Maju
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004,
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Moedjiono dan Dimyab. 1992. Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran.
Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, Hlm. 185
Suryadi. 1989, Membuat Siswa Akff Beiajar Bandung : Mondar Maju. Usman, C. 1997. Menjadi Guru ProfesionaL Bandung: Remaja Rosdakarya,
Sapriya, 2008. Pendidikan IPS. Bandung .Laboratorium PKn UPI
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivis. Jakarta:. Penerbit Pustaka Publisher
Wiriaatmadja, R. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : PPS UPI.

Winataputra, .2006.  Materi dan Pembelajaran IPS. Jakarta: UT