Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015

PERBEDAAN METODE SNOWBALL THROWING DAN TALKING STICK DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 PERHENTIAN RAJA Nunuk Suryanti dan Mardiana Email: nunuksuryanti@yahoo.com

PERBEDAAN METODE SNOWBALL THROWING DAN TALKING STICK DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI IPS
 DI SMA NEGERI 1 PERHENTIAN RAJA

Nunuk Suryanti  dan  Mardiana

Email: nunuksuryanti@yahoo.com

Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui Perbedaan Metode Snowball Throwing Dan Talking Stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1 IPS SMA Negeri 1 Perhentian Raja. Populasi penelitian berjumah 63 siswa dimana terdiri kelas IPS 1 sebagai kelas eksperimen 1 dan IPS 2 sebagai kelas ekperimen 2. Metode pengumpulan data menggunakan tes (pre test dan post test). Teknik analisis data menggunakan independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan Metode Snowball Throwing Dan Talking Stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1 IPS SMA Negeri 1 Perhentian Raja.

Kata Kunci: Snowball Throwing, Talking Stick, Hasil belajar.


PENDAHULUAN
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati peranan yang tidak kalah penting dengan komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satu pun kegiatan belajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang. Metode belajar merupakan teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik (Martinis Yamin, 2010:58). Model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi dan memberi petunjuk kepada guru dikelas, menurut Suprijono dalam Rosdelina (2012:17). Model pembelajaran terdiri atas tiga bagian, yaitu model pembelajaran langsung, model pembelajaran kooperatif, dan model pembelajaran berdasarkan masalah
Berhubungan dengan pernyataan di atas usaha untuk melakukan perbaikan hasil belajar siswa salah satunya adalah  memperkaya model pembelajaran yang akan diterapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Model yang diutamakan tentunya yang sesuai dengan pengembangan kemampuan berfikir siswa salah satunya penggunaan model pembelajaran kooperatif dan sering disebut sebagai cooperative learning. Sholihatin dan Raharjo (2007; 5) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat sehingga dengan bekerja secara bersama-sama diantara sesama kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan belajar. Menurut Narsito dalam Puspalina (2009:4) menyatakan bahwa salah satu usaha perbaikan yang dapat dilakukan oleh guru adalah memilih salah satu metode serta strategi pembelajaran yang tepat tentunya dalam hal ini memilih metode dan strategi yang termasuk dalam kategori pembelajaran kooperatif.
Diantara metode pembelajaran kooperatif yang bisa dipilih adalah Snowball Throwing dan Talking Stick. Menurut Suprijono (Hizbullah, 2011: 8) Snowball Throwing adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana murid dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen kemudian masing-masing kelompok dipilih ketua kelompoknya untuk mendapat tugas dari guru kemudian  masing-masing murid membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) kemudian dilempar ke murid lain yang masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Sedangkan menurut Kisworo (Hardiyanti: 2012) model pembelajaran Snowball Throwing adalah suatu metode pembelajaran yang diawali dengan pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing murid membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke murid lain yang masing-masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Menurut Maizuani (2011:15) keunggulan dari metode Snowball Throwing antara lain sebagai berikut :
1)    Metode ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi secara langsung, baik sebagai partisipasi ataupun ketua kelompok.
2)    Metode ini mampu meningkatkan berfikir kritis, partisipasi demokratis,
3)    Metode ini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa secara efektif.
Selain kelebihan, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan, Maizuarni (2011:16) kelemahan dari metode snowball throwing ialah antara laina sebagai berikur :
1)    Materi pelajaran yang disampaikan kurang mendapatkan penjelasan yang mendalam
2)    Terlalu banyak menggunakan waktu untuk kegiatan snowball throwing
Untuk mengatasi masala tersebut, dapat dilakukan dengan menggunakan cara  menyuruh siswa untuk meembuat kesimpulan atau rangkuman dari materi pembelajaran dan memperkirakan waktu yang digunakan untuk melempar kertas kepada kelompok lain dan menjawab pertanyaan ( ±5 menit).
Selain snowball throwing, salah satu metode pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa dan menyenangkan adalah  talking stick. Locust Carolt menyatakan  metode talking stick adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum. Metode tongkat berbicara (talking stick) merupakan slah satu inovasi pelajaran pelajaran tau suatu upaya baru dalam proses belajar untuk tercapainya tujuan pembelajaran Tarmizi (2010:1).
Teknik tongkat berjalan (Talking Stick) yaitu pembelajaran dengan bantuan tongkat yang dipakai sebagai tanda seorang siswa mempunyai hak suara (berbicara) dan penentu bagi siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru dimana tongkat akan digulirkan oleh guru dari satu siswa kesiswa lainnya, Supriono (2009: 109). Teknik tongkat berjalan adalah salah satu inovasi pelajaran atau suatu upaya baru dalam proses pembelajaran untuk tercapainya tujuan pembelajaran.
Pada pembelajaran ini siswa diminta untuk menutup buku yng berkaitan dengan materi pelajaran, kemudian guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tongkat tersebut nantinya akan diberikan kepada siswa secara bergilir. Siswa yang menerima tongkat tersebut wajib untuk menjawab pertanyaan dalam tongkat yang diberikan guru demikian seterusnya sampai beberapa siswa mendapatkan giliran Suprijono (2009:109).
Metode tongkat berjalan sebaiknya menggunakan iringan musik ketika stick digulirkan dari satu siswa ke siswa lainnya dalam menentukan siswa yang akan menjawab pertanyaan didalam tongkat, yang bertujuan agar siswa lebih semangat, termotivasi serta proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan suprijono (2009:109). Langkah akhir dari metode talking stick adalah guru memberikan waktu atau kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi (mengulang atau mengulas kembali jawaban). Kemudian guru memberikan ulasan  atau penjelasan kembali terhadap jawaban yang diberikan siswa. Dan guru membimbing siswa untuk memberikan kesimpulan atas pelajaran yang telah dipelajarinya suprijono (2009:109). Adapun kelebihan Talking Stick adalah menguji kesiapan siswa, melatih membaca dan memahami dengan cepat dan agar lebih giat belajar (belajar dahulu). Dan kelemahan metode ini adalah pada saat berlangsungnya metode tongkat berjalan  ada beberapa siswa yang terlihat gugup dan kurang konsentrasi dalam menjawab soal dan membuat siswa senam jantung.
Metode pembelajaran snowball throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan berbeda dengan model pembelajaran talking stick, dalam snowball throwing ini menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.
Ada beberapa kesamaan dari kedua metode tersebut antara lain sama-sama merupakan metode inovatif, berkelompok, menyenangkan dan tentunya sama-sama dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Ditinjau dari proses pembelajaran dapat disimpulkan bahwa metode snowball throwing lebih mengaktifkan siswa dibandingkan talking stick dimana proses membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan sekaligus bisa dilakukan dalam metode snowball throwing dibandingkan talking stick dimana siswa hanya diberi tugas untuk menjawab pertanyaanberdasarkan tempat tongkat berada.
Mengingat pada materi persamaan dasar akuntansi membutuhkan pemahaman konsep dasar yang memadahi sebelum melaksanakan penjurnalan, maka untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam mempelajarinya mengingat akuntansi dalam benak siswa merupakan mata pelajaran yang sulit maka diuji cobakan kedua metode yang menyenangkan yaitu snowball throwing dan talking stick.
Dengan demikian berdasarkan paparan di atas dapat diambil sebuah hipotesis ada bahwa ada perbedaan metode antara metode snowball throwing dan talking stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Kelompok eksperimen  pertama diberikan  perlakuan metode Snowball Throwing dan kelompok eksperimen kedua dengan metode Talking Stick (tongkat berjalan).
Rencana penelitian yang digunakan adalah : two group : pre test, dan posttest design, rancangan  tersebut berbentuk seperti berikut :

E1      O1                      X1         O2
   E2     O1                       X2             O2
 
Desain Penelitian
 







Keterangan :
            O1        : Pemberian Pre Test
            O2          : Pemberian  Post Test
            X1           : Perlakuan dengan Metode Snowball Throwing
            X2           : Perlakuan denagn Metode talking Stick
            E1        : Kelas Eksperimen pertama dengan Perlakuan Metode Snowball      Throwing
            E2        : Kelas Eksperimen kedua dengan Perlakuan Metode Talking Stick

Instrumen penelitian berupa tes yang diujikan pada pretest dan postest yang telah melewati proses analisis butir soal. Teknik analisis data menggunakan Independent Sample t-test yang bertujuan untuk membandingkan rata-rata dua grup yang tidak saling berpasangan atau tidak saling berkaitan. Tidak saling berpasangan diartikan bahwa penelitian dilakukan untuk dua subjek sampel yang berbeda. Pengujian ini melihat perbedaan variasi kedua kelompok data, sehingga sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu harus diketahui apakah variannya sama atau berbeda. Sebelum melakukan uji t, terlebih dahulu melakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, dan uji homogenitas menggunakan Levene’s test for equality of variences
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Perhentian Raja yang berjumlah 63 siswa, yang terdiri dari kelas XI IPS1 berjumlah 32 orang dan kelas XI IPS2 berjumlah 31 orang. kelas XI IPS1 sebagai kelas eksperimen pertama dan XI IPS2 sebagai kelas eksperimen kedua yang diambil secara acak.


HASIL DAN PEMBAHASAN
            Penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan pada pokok bahasan Persamaan Dasar Akuntansi dan dilakukan di dua kelas dengan metode yang berbeda. Kelas XI IPS1 merupakan kelas eksperimen pertama menggunakan metode Snowball Throwing dan kelas XI IPSmerupakan kelas eksperimen kedua menggunakan metode Talking Stick.
            Berikut disajikan dalam tabel 01 dan tabel 02 hasil distribusi frekuensi pretest dan hasil uji homogenitas pretest untuk kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2.


Tabel 01: Data hasil pretest untuk kedua kelas eksperimen
Kelas eksperimen 1
Kelas eksperimen 2
Interval

F

Persentase (%)
Interval

F

Persentase (%)
Kriteria
85-100
0
0
85-100
0
0
Sangat baik
70-84
14
43,75
70-84
12
38,70
Baik
55-69
13
40,62
55-69
13
41,93
Cukup
40-54
5
15,62
40-54
6
19,35
Kurang
<39
0
0
<39
0
0
Kurang sekali
Jumlah
Rata-rata
32
100
65.69

31
100
65.12



            Berdasarkan tabel 01 dapat diketahui bahwa skor kemampuan awal untuk  kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sebagian besar masuk dalam kriteria cukup. Begitu juga dengan nilai rata-ratanya  65,69 dan 65,12  masuk dalam kategori cukup.
Tabel 02: Hasil uji homogenitas pretest

Test of Homogeneity of Variances
PRETEST



Levene Statistic
df1
df2
Sig.
.137
1
61
.712

Berdasarkan hasil uji homogenitas, menunjukkan bahwa nilai sig.>α, dimana 0,712>0,05 sehingga menjukkan kondisi kedua kelas dalam keadaan homogen. Dilihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen 1 yaitu sebesar 65.69, dan kelas eksperimen 2 sebesar 65.12 hanya terjadi selisih 0.57 menunjukkan bahwa di kedua kelas tidak terjadi perbedaan yang signifikan.
            Untuk data kemampuan akhir (posttest) kelas eksperimen 1 dan kelas eksperime 2 dapat dilihat dalam tabel 03 berikut ini.





Tabel 03: Data hasil postest untuk kedua kelas eksperimen
Kelas eksperimen 1
Kelas eksperimen 2
Interval

F

Persentase (%)
Interval

F

Persentase (%)
Kriteria
85-100
5
15,62
85-100
5
16,12
Sangat baik
70-84
18
56,25
70-84
17
54,83
Baik
55-69
9
28,12
55-69
9
29,03
Cukup
40-54
0
0
40-54


Kurang
<39
0
0
<39
0
0
Kurang sekali
Jumlah
32
100

31
100

Rata-rata

74.65



74.37



            Berdasarkan tabel 03 menunjukkan bahwa kelas eksperimen 1 dan 2 sebagian besar hasil postest masuk dalam kategori baik, tetapi untuk nilai rata-rata kelas eksperimen 1 masuk dalam kategori baik dan kelas eksperimen 2 masuk dalam kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa kelas eksperimen 1 dimana mennggunakan metode Snowball Throwing lebih unggul dibandingkan kelas Talking stick. Keunggulan Snowball Throwing berdasarkan rata-rata yang diperoleh sebesar 0.25 dibandingkan Talking stick.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kelas eksperimen (Snowball Throwing) aktivitas belajar siswa baik, minat bertanya siswa juga meningkat. Ini terlihat dari bentuk kerja kelompok siswa. Demikian halnya dengan kelas eksperimen yang belajar dengan menggunakan metode Talking stick. Hal ini berdampak pada hasil postest menjadi lebih baik daripada pretest untuk kedua kelas eksperimen.
Sebelum melaksanakan uji t, dilakukan uji prasyarat terlebih dahulu yaitu dengan melaksanakan uji normalitas dan homogenitas postest. Hasil kedua uji tersebut bisa dilihat dalam tabel 04 dan tabel 05, berikut ini:

Tabel 04: Hasil uji Normalitas
Kelompok
Signifikansi
Alpha 5%
Kondisi
Eksperimen 1
0,154
0,05
Sig > Alpha
Eksperimen 2
0,200
0,05
Sig > Alpha
Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai sig. kedua kelompok eksperimen lebih besar daripada  alpha sehingga hasilnya menunjukkan data dalam keadaan normal

Tabel 05: Hasil uji homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Post test



Levene Statistic
df1
df2
Sig.
.001
1
61
.979

Berdasarkan hasil uji homogenitas post test, menunjukkan bahwa nilai sig.>α, dimana 0,979>0,05 sehingga menjukkan kondisi kedua kelas dalam keadaan homogen.
            Dari tabel 04 dan 05 menunjukkan bahwa uji  prasarat untuk Independent Sample t-test sudah terpenuhi dalam rangka untuk melakukan pengujian hipotesis. Hasil uji hipotesis dapat dilhat dalam tabel 06 berikut ini.


t-test for Equality of Means
T
Df
Sig.
(2-tailed)
Mean
Difference
Std. Error
Difference
95% Confidence
 Interval of the Difference
Lower
Upper
5.505
61
.000
9.89113
1.79687
6.29806
13.48420
5.516
60.477
.000
9.89113
1.79325
6.30467
13.47758


Berdasarkan tabel 06 di atas menunjukkan bahwa nilai Sig. (2-tailed) < alpha, yaitu 0.000<0,05  menunjukkan bahwa Ho ditolak, dan Ha diterima dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan metode antara metode snowball throwing dan talking stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

PEMBAHASAN
Hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar persamaan dasar akuntansi siswa kelas XI IPS1 (kelas eksperimen 1) dimana telah dilakukan pembelajaran  dengan  menggunakan metode snowball throwing yaitu 9,53 dan peningkatan nilai rata-rata siswa kelas XI IPS2 (kelas eksperimen 2) yaitu 7,34. Kemudian dilihat dari perbedaan rata-rata post test di kedua kelas eksperimen menunjukkan bahwa kelas eksperimen 1 lebih unggul yaitu 0,28 skor. Hal ini menunjukkan bahwa metode snowball throwing lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar persamaan dasar akuntansi siswa. Dengan demikian ada perbedaan Metode Snowball Throwing Dan Talking Stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1 IPS SMA Negeri 1 Perhentian Raja. Hal ini juga telah ditunjang dari hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan ada perbedaan signifikan diantara kedua metode tersebut.
Hal ini disebabkan karena metode snowball throwing lebih dituntut siswa yang aktif dalam proses belajar. Pembelajaran dengan menggunakan metode snowball throwing (bola salju) merupakan alternatif untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, karena akan mengubah gaya transfer ilmu antara guru dan siswa yang cenderung searah. Keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optomal, baik intelektual, emosi dan fisik. Keaktifan siswa dalam belajar merupakan masalah penting dan mendasar yang harus dipecahkan. Seperti yang diungkapkan oleh Trinandita (dalam Yasa, 2008:1) yang menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa.
Ditinjau dari keunggulannya Snowball Throwing memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi secara langsung, baik sebagai partisipasi ataupun ketua kelompok bisa dilihat dari melibatkan siswa membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan mereka sendiri. Sehingga dalam metode ini melatih meningkatkan berfikir kritis, partisipasi demokratis yang pada gilirannya mampu meningkatkan motivasi belajar siswa secara efektif  (Maizuani, 2011:15). Ditinjau dari sudut kelemahannya dimana materi pelajaran yang disampaikan kurang mendapatkan penjelasan yang mendalam, dan terlalu banyak menggunakan waktu maka bisa diatasi dengan pemberian tugas resume sebelum penerapan metode Snowball Throwing. Pemberian tugas resume dihari sebelumnya akan menambah kesiapan siswa untuk berpartisipasi lebih aktif dalam metode ini sehingga memudahkan dalam mengelola kelasnya. Oleh karena metode ini  lebih cocok jika diterapkan pada topik-topik berupa konsep dimana siswa bisa mampu mempelajarinya secara mandiri mengingat persamaan dasar akuntansi hanya sedikit konsep dan teorinya.  Hal ini sesuai dengan pendapat Sabri (2007) bahwa metode pemberian tugas dapat dipergunakan apabila: 1) Guru mengharapkan agar semua pengetahuan yang telah diterima peserta didik lebih mantap; 2) Bertujuan mengaktifkan peserta didik mempelajari sendiri suatu masalah dengan membaca dan mengerjakan soal-soal sendiri serta mencobanya sendiri; 3) Bertujuan agar peserta didik lebih rajin dan dapat mengukur kegiatan baik di rumah maupun di sekolah.
Untuk metode Talking Stick ditinjau dari sudut kelemahannya yaitu pada saat siswa yang terlihat gugup dan kurang konsentrasi dalam menjawab soal mengakibatkan siswa yang dalam kondisi normal seharusnya bisa menjawab pertanyaan dengan benar, dapat mengalami lupa kerena terlalu gugup oleh karena itu hal yang bisa disarankan bagi guru sebelum memulai pelajaran diinformasikan agar para siswa santai dan rileks dalam memulai metode ini.
Pada dasarnya kedua metode tersebut dapat merangsang siswa lebih aktif untuk bekerjasama dalam kelompok. Namun dalam metode Talking Stick keaktifan siswa lebih terbatas dikarenakan siswa hanya aktif menjawab pertanyaan dan tidak dikembangkan  untuk membuat pertanyaan seperti dalam metode snowball throwing. Jika dilihat dari sisi kelebihan metode snowball throwing dibandingkan Talking Stick
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nuraini Sukmaningrum (2009) yang menyimpulkan bahwa penggunaan metode snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas VII di SMP Negeri Kampar Kiri Hilir, bahwa siswa dalam pembelajaran Snowball Throwing menunjukkan kreatifitas efektif dan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan Metode Snowball Throwing dan Talking Stick dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X1 IPS SMANegeri 1 Perhentian Raja pada materi pokok  persamaan dasar akuntansi. Mengingat Keterbatasan penelitian ini adalah kurangnya waktu penelitian, masih kurang pengendalian kelas secara optimal, maka penelitian selanjutnya bisa menindak lanjuti penelitian ini dengan menambahkan alokasi waktu dan memperkenalkan aturan yang jelas akan sanksi dan reward diawal pembelajaran serta disarankan menambahkan media pada pembelajaran Talking Stick mengingat hasil belajar yang belum maksimal hanya dalam kategori “cukup” untuk metode ini.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT. Asdi Mahatyasa. Jakarta.
Dimyati dan mujiono, 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta : rineka cipta.
Djamarah bahri syaiful dan zain aswan, 2006. Stategi belajar mengajar. Jakarta :     rineka cipta
Fatimah Jahro Rambe, 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Kondisi Fisik Wilayah Indonesia Di Kelas VIII-1 MTsN 1 Padang sidimpuan Tahun Ajaran 2011/2012.
Guilford. 1959. Psycho metric methode. Tokyo
Hassnullah. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Himalik oemar, 2005. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta :bumi aksar.
Nuraini sukmaningrum, 2009. metode snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS terpadu kelas VII di SMP Negeri 2 Kampar Kiri Hilir Kab. Kampar. Pekanbaru : FKIP UIR.
Nanang hanafiah. 2012. Konsep strategi pembelajaran. Bandung : PT. Refika.
Ramadhan’s tarmizi, 2010. Langkah-langkah metode talking stick. http//tarmizi.wordpres.com/2010/02/15/talking stick.
Riduan dan sunarto, 2009. Pengantar statistik. Bandung : alfabeta
Sabri, Ahmad. 2007.  Strategi Belajar Mengajar & Micro Teaching (Cet. II; Ciputat: Quantum Teaching)
Sardiman, 2007. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Setyosari, 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja grafindo Persada.
Slameto, 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Supridjono, 2009. Cooperatif learning teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Syaiful sagala, 2009. Konsep dan makna pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
Syaiful bahri, 2002. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Sobri sutikno, 2009. Belajar dan pembelajaran. Bandung : prospect.
Slameto, 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : rineka cipta.
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Penerbit
          Alfabeta, Bandung.
Sunarni, 2006.  penggunaan metode tanya jawab teknik tongkat berbicara (talking stick) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas VII MTS Ana Muslim Kotabaru Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu. Pekanbaru : FKIP UIR
Wina sanjana, 2009. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : prenada media group.
Yamin, martinis. 2010. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta : Gaung Persada