Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

  LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM
UPAYA MENCEGAH SISWA PUTUS SEKOLAH DI SMP NEGERI 2 TEMPURJO

Endang Wiji Astutik

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah : 1)Untuk mengetahui data pendukung yang menunjukkan siswa rawan putus  sekolah ; 2)Untuk mengetahui penyebab siswa rawan putus sekolah ; 3)Untuk mendapatkan gambaran secara lengkap layanan bimbingan dan konseling yang diberikan pada siswa untuk mencegah siswa rawan putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo. Desain penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Hasil penelitian: Penyebab siswa rawan putus sekolah, yaitu kemampuan belajar yang kurang, kemampuan ekonomi orang tua, lingkungan pergaulan teman siswa yang kurang baik, kurang kesadaran orang tua pentingnya pendidikan bagi anak, letak rumah cukup jauh dari sekolah. Layanan yang diberikan guru pembimbing terhadap siswa rawan putus sekolah ialah layanan informasi, layanan konseling, layanan pembelajaran, dan layanan penempatan dan penyaluran. Dari 6 siswa yang diduga rawan putus sekolah 4 yang tidak terjadi putus sekolah.

 Kata Kunci: Layanan  BK , Putus Sekolah

PENDAHULUAN
            Masalah putus sekolah adalah masalah anak-anak seluruh dunia. Ini ditulis dalam laporan situasi anak-anak didunia 1997 (UNICEF) sebagai berikut :“secara keseluruhan, 30% dari anak-anak di negera berkembang yang mendaftar di sekolah dasar tidak mennyelesaikannya. Di sejumlah Negara angka ini meningkat menjadi 60%” (1997:35).        Untuk meninhkatkan kualitas manusia Indonesia di masa depan kita mengharap peran dunia pendidikan yang lebih besar. Untuk itu harus dikembangkan sistem pendidikan yang benar-benar mampu mengatasi tuntunan jaman. Salah satu kendala peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah tingginya angka drop out dan tidak melanjutkan sebagai siswa sekolah dasar dan menengah ke jenjang yang lebih tinggi akibat rendahnya kemampuan orang tua membiayai sekolah anak-anaknya, apalagi saat ini sedang dilanda kritis moneter.
       Badai kritis ekonomi, krisis keuangan, krisis politik, krisis kepercayaan, serta berbagai bentuk krisis lainnya, tiba-tiba menimpa bangsa secara tidak terduga. Ternyata krisis tersebut di dalam seluruh aspek kehidupan kita. Mau tidak mau rakyat Indonesia merasakan dampak krisis tersebut, terlebih bagi masyarakat setara menengah ke bawah.
       Dunia pendidikan pun merasakan dampak krisis tersebut, hal ini ditandai oleh semakin banyaknya anak usia sekolah yang tidak dapat bersekolah dan banyak siswa terancam putus sekolah. Besarnya angka tersebut disebabkan tidak adanya biaya putra-putrinya.          Jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan 22 juta jiwa orang, termasuk sekitar 5 juta anak usia SD, SMP menghadapi kesulitan membayar uang sekolah dan biaya hidup. Tidak mustahil mereka akan putus sekolah yang akibatnya progam wajib belajar akan gagal,
            Berdasakan kenyataan itulah, maka kami sebagai guru pembimbingg di SMP Negeri 2 Tempurejo berupaya memberikan layanan baik informasi secara kelompok maupun individual dengan maksud menumbuhkan rasa kebangsaan, kesetiakawanan, serta solidaritas sesama siswa di SMP Negeri 2 Tempurejo dalam upaya mengantisipasi siswa yang rawan putus sekolah sebagai akibat orang tua tidak mampu membiayai keperluan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat, membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana upaya guru pembimbing tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individual, yaitu :
a. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individual terhadap penyesuaian diri di rumah, di sekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individual.
b. kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu dan kesemuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan (Kurikulum SMP, 1995 : 2).
          Karena hakekat bimbingan dalam pendidikan di sekolah ialah proses memberikan bantuan kepada siswa agar mereka sebagai pribadi memiliki pemahaman yang benar akan dirinnya pribadi dan dunia sekitarnya, sehingga dapat mengambil keputusan untuk melangkah maju secara optimal dalam perkembangannya dan dapat menolong dirinya sendiri.
         Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan jumlah tersebut dapat diperkecil atau setidak – tidaknya mencegah siswa yang putus sekolah atau rawan putus sekolah. Selain itu kegiatan ini juga bermaksud turut berpartisipasi dalam melaksanakan progam wajib belajar 9 tahun yang tertuang dalam Undang – Undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang system pendidikan nasional (UUSPN,1989). Dalam Undang – Undang tersebut ditegaskan bahwa warga Negara yang berumur 7 tahun bekewajiban mengikuti pendidikan dasar atau pendidikan yang setara sampai tamat.
       Jadi jelas anak bangsa wajib bersekolah di pendidikan dasar yaitu 6 tahun di SD atau yang sederajad, ditambah 3 tahun di SMP atau yang sederajad. Maka demi menyukseskan progam pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun, penulis tergerak hati untuk meneliti faktor penyebab siswa SMP yang rawan putus sekolah dan solusi apa yang bias dilakukan oleh seorang guru pembimbing di unit sekolahnnya untuk mencegah siswa putus sekolah (drop out).       Wajib belajar 9 tahun dirancang tentu tidak mengabaikan pula peningkatan mutu warga sekolah itu sendiri. Ini terlihat pada upaya pemerintah antara lain : memberi bantuan kesekolah berupa fisik dan non fisik. Bantuan berupa fisik antara lain rehab ruang belajar dan ruang penunjang lainnya, membangun ruangan kelas baru untuk menampung siswa, peralatan dan media belajar lainnya, pemberian beasiswa bagi siswa yang tidak mampu. Bantuan non fisik antara lain mengadakan pelatihan baik untuk guru, kepala sekolah, komite, bahkan siswa itu sendiri.
       Upaya – upaya pemerintah pusat dan daerah diatas adalah untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun, yang dimaksud agar tidak ada anak putus sekolah karena faktor biaya sekolah. Maka sudah sepantasnyalah guru pembimbing memberikan layanan bimbingan dan konseling secara maksimal pada siswa sebagai tindakan nyata turut mensukseskan wajib belajar 9 tahun agar biasa meminimalisir siswa putus sekolah dilingkungan sekolahnya.
            Menurut C.E Beeby (dalam Awad Bahsoan dan Nahwi Idris, 1981 : 195) dalam bukunya yang berjudul Pendidikan di Indonesia. Mengungkapkan sebab siswa putus sekolah, yaitu masalah social ekonomi
       Tingkat pertumbuhan ekonomi Negara kita yang seperti ini, maka alasan paling umum diberikan mengenai terlalu cepatnya anak-anak berhenti sekolah adalah tidak adanya biaya dan bekerja demi membantu perekonomian keluarga.
       Terbatasnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan. Selain kedua penyebab terjadinya putusnya sekolah diatas, juga ada penyebab yang kemungkinan hanya kecil yaitu dikarenakan cara mengajar guru disekolah yang kurang bervariasi. Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh C.E Beeby yang dikutip oleh Bahasoan dan Idris, yaitu : “Pendidikan yang manapun menyimpulkan hanya kecil kemungkinan bahwa kebosanan, tidak adannya kemajuan dan jeleknnya cara mengajar merupakan penyebab utama putus sekolah” (Bahasoan dan Idris, 1981 : 186).
       Lebih lanjut dikatakan oleh Singgih D Gunarsa tentang sebab-sebab siswa putus sekolah ialah : 1. Mempunyai nilai yang rendah; 2). Kurang motif belajar
“Siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran yang ada di sekolah karena suatu sebab pada diri mereka sendiri dan dari luar diri mereka. Penyebab dari luar antara lain guru kurang memberi semangat belajar pada siswa yang akhirnya mereka membolos sekolah” (1975 : 57). Ada lagi penyebab siswa rawan putus sekolah. (menurut Usman factor penyebab itu antara lain :
a. Pendapatan perkapit masih rendah, sehingga banyak anak usia sekolah tidak dapat menikmati pelajaran di sekolah. Selain itu, banyak siswa yang terpaksa berhenti sekolah sebelum tamat belajar karena kekurangan biaya.
b.  Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan anak-anaknya tidak perlu tinggi.
c. Jumlah siswa (usia sekolah) belum seimbang dengan pendidikan yang dapat disediakan (ruang belajar,guru, dan buku pelajaran) (1997 : 40).
      

Rumusan Masalah
          Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka perumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :
1).Data pendukung apa yang bias menunjukkan siswa rawan putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo?
2),Faktor apa saja yang bias menunjukkan siswa rawan putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo?
3).Layanan bimbingan dan konseling apa saja yang digunakan untuk mencegah siswa putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo?

Tujuan Penelitian
     Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1)Untuk mengetahui data pendukung yang menunjukkan siswa rawan putus  sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo; 2)Untuk mengetahui penyebab siswa rawan putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo; 3)Untuk mendapatkan gambaran secara lengkap layanan bimbingan dan konseling yang diberikan pada siswa untuk mencegah siswa rawan putus sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo.

Manfaat Penelitian
   Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1)Secara praktis, dari hasil temuan peneliatian ini diharapkan bermanfaat bagi para implementator pendidikan dasar untuk mencegah siswa putus sekolah; 2)Secara teoristis, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan pengembangan suatu konsep Layanan Bimbingan dan Konseling di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

METODE PENELITIAN

Rancangan  Penelitian
            Penelitian ini dikatagorikan sebagai penelitian deskriptif karena hasil peneliatian ini berupa deskripsi/gambaran siswa yang rawan putuis sekolah dan deskripsi layanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri 2 Tempurejo dalam mengantisipasi siswa rawan putus sekolah. Penelitian deskriptif ini menurut Suharsimi Arikunto tidak mengadakan pengujian hipotesis (non hipotesis), tetapi dalam penelitian ini merupakan istilah umum yang mencakup berbagai teknik deskriptif (197: 245) Moloeng (1989) mengatakan bahwa : “Manusia sebagai instrument utama dalam penelitian kualitatif sangat tepat”. Instrument bukan manusia tidak dapat mengadakan penyesuaian dilator penelitian yang syarat dengan kenyataan dan fenomena serta keadaan baik yang tampak dan tersembunnyi. Hanya manusialah yang terkandung didalamnya.
         Tahap-tahap penelitian kualifikatif ada tiga yaitu, tahap pra laangan, tahap pekerja lapangan dan tahap analisis data (1989 : 85). Tahap pra lapangan meliputi penyusunan rencana, memilih lokasi, mengurus perjanjian, penjajakan lapangan, memilih informan serta menyiapkan perlengkapan penelitian. Tahap pekerjaan lapangan kegiatannya terdiri dari usaha memahami latar penelitian dan mempersiapkan diri, memasuki lapangan dan berperan serta sambil mengumpulkan data. Tahap analisis data pada umumnya adalah mengatur, mengelompokan, memberi kode dan mengkatagorikan data, baik data yang berupa pernyataan responden maupun data dari catatan refleksi penulisan baik yang bersumber dari keadaan, pristiwa maupun situasi. Teknik ini bertujuan mendeskripsikan fenomena atau focus studi yang menjadi sasaran penelitian secara mendalam.

Lokasi Penelitian
            Penelitian ini dilakukan pada beberapa siswa SMPN 2 Tempurejo yang diduga rawan putus sekolah, yaitu sebanyak 6 orang siswa. Alasan kenapa siswa-siswa tersebut mempunyai kencenderungan rawan putus sekolah yang didukung daribukti-bukti dokumentasi dan laporan dari wali kelas serta pihak lainnya. Alasan lokasi di SMP Negeri 2 Tempurejo sebagai tempat lokasi penelitian sebab penelitian adalah guru pembimbing yang bertugas di SMP Negeri 2 Tempurejo.

Metode Pengumpulan Data
            Dalam memperoleh data dan berbagai informasi yang diperlukan dalam penelitian suatau metode ini akan memberikan tingkat kedalaman, keleluasaan serta kompleksitas data yang ingin dikumpulkan, sehingga data yang diperoleh benar-benar data yang akurat. Beberapa metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Pemilihan ketiga metode tersebut dengan mempertimbangkan agar hasil antara metode yang satu dengan metode yang lain dapat saling melengkapi dalam hal jangkauan data yang terkumpul.
            Adapun secara rinci tentang ketiga metode pengumpulan data yang dipilih tersebut adalah sebagai berikut :
Wawancara
            Wawancara adalah proses interaksi dan komunikasi untuk memperoleh informasi dan bertanya langsung pada informan. Metode ini menurut Sutrisno Hadi digunakan untuk mengetes kebenaran dan kemantapan data yang diperoleh dengan cara lain pada saat-saat tertentu (1986). Jadi wawancara bukanlah suatu metode yang berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi dengan metode lain.
            Metode wawancara dapat dibedakan menjadi dua yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sedangkan wawancara tak terstruktur adalah responden mendapat kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan buah pikiran, pandangan, perasaannya tanpa diatur ketat oleh peneliti (Moloeng, 1989 : 138).
            Wawancara yang digunakan oleh peneliti ialah wawancara tak terstruktur, dengan alas an sebagai berikut : Pertama, agar situasi saat berlangsungnya wawancara tidak terkesan formal, sehingga peristiwa atau keadaan dapat sekaligus diungkapkan sejauh masih terkait dengan tujuan penelitian:Kedua, informasi yang digali dari informan tidak bersifat baku tunggal tetapi dapat lebig berfariatif; Ketiga, walaupun tidak menyusun pedoman wawancara namun pewawancara telah memiliki konsep yang akan ditayangkan pada informan; Keempat, Dapat mengengkapkan informasi lebih mendalam, lebih jelas, lebih mantap karena ada kemungkinan mengejar jawaban yang telah diberikan, melakukan konfrontasi, menafsirkan perasaan informasi saat wawancara berlangsung.

 Pengamatan (Observasi)
            Metode pengamatan digunakan dengan alas an memungkinkan pengamatan untuk melihat dunia sebagaimana yang dilihat oleh subyek penelitian, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subyek serta memungkinkan penelitian merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subyek (Moleong, 1989).
            Adapun alasan menggunakan metode pengamatan adalah sebagai berikut: Pertama, banyak fenomena-fenomena dari prilaku konselor ataupun guru yang lain dalam menangani siswa cenderung raawan putus sekolah yang tidak dapat diselidiki kecuali dengan metode pengamatanKedua, metode ini tidak tergantung self rapport antara pengamatan dengan informan, sehingga data yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh penafsiran dan persepsi subyek yang diteliti.; Ketiga, memperkecil kemungkinan mengganggu aktivitas subyek penelitian.

Dokumentasi
            Dokumentasi adalah semua jenis rekaman atau catatan sekunder lainnya seperti surat-surat, memo atau nota, pidato-pidato, buku-buku harian, foto-foto, berita Koran, hasil penelitian, agenda kegiatan dan sebagainnya.
            Bagi penelitian kualitatif, dokumen atau informasi sekunder yang telah ditulis masih perlu digunakan. Setidak-tidaknya mempunyai kegunaan dalam rangka trianggulasi dan memperkaya deskripsi tentang konteks. Bentuk dokumen uang digunakan adalah agenda kegiatan serta catatan-catatan yang memuat kasus yang pernah terjadi disekolah.

Teknik Analisis Data
            Langkah-langkah atau proses analisis data dimaksud dalam penelitian ini mengacu pada analisis data yang dikemukakan oleh Lexy J.Moleong (1989 : 190) bahwa : “Proses analisa data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagaiannya. Setelah dibaca, dipelajari, ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukandengan jalan membuat abstraksi. Abtraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada didalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusun dan satuan-satuan. Satuan-satuan ini kemudian dikatagorikan pada langkah berikutnya. Katagori-katagori itu dilakukan sambil membuat coding, tahap akhir dari analisis data yaitu mengadakan pemeriksaan keabsahan data” Sebagaimana telah dikemukakan pada teknik pengumpulan data, bahwa pengumpulan data dilakukan guna memperoleh data primer dan sekunder. Data yang diperoleh dari hasil penelitian yang bersifat kualitatif, selanjutnya diolah dan dianalisis. Terhadap data yang bersifat kualitatif, yaitu yang digambarkan dengan kata-kata atau kalimat dipisah-pisahkan menurut katagori untuk memperoleh kesimpulan (Suharsimi Arikunto, 1997 :145).
       Dalam penelitian ini sebagian besar menggunakan data yang bersifat kualitatif, maka data akan diolah dengan analisis kualitatif dengan berpedoman pada langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Moloeng sebagai berikut :
       1.  Peringkasan data (Data reduction) dimana data mentah diseleksi, disederhanakan dan diambil intinya.
       2. Data disajikan secara tertulis berdasarkan kasus-kasus faktual yang saling berkaitan. Tampilan data (data display) ini digunakan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
       3.  Menjabarkan dan menghubungkan-hubungkan proposisi-proposisi yang muncul dari data khusus dan kemudian menyusunnya menjadi model kausal.
       4.  Menarik kesimpulan atau verifikasi atas pola keturunan yang ada dalam fenomena-fenomena organisasi tersebut kemudian membuat prediksi-prediksi atas perkembangkan selanjutnya.

PEMBAHASAN  HASIL  PENELITIAN

Penyajian Hasil Penelitian
       Penyajian hasil penelitian dibedakan 3 tahap yaitu tahap pra lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data.

Tahap Pra Lapangan
       Pada tahap ini dilakukan penyusunan rencana yaitu jadwal sosialisasi kerjasama yang baik dengan warga sekolah untuk menemukan dan penanganan siswa rawan putus sekolah, dengan tujuan guru pembimbing bias sedini mungkin mengetahui siswa-siswa yang diduga rawan putus sekolah serta berupaya semaksimal mungkin memberi layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa yang diduga rawan putus sekolah. Dari hasil penelitian diketahui :

1. Hasil Wawancara
          Hasil wawancara dengan karyawan sekolah
          “Pak, saya dengar dari tetangga bahwa siswa A tersebut akhir-akhir ini sering bekerja sebagai tukang membuat genteng yang dilakukan pada jam-jam sekolah”
              Hasil Wawancara dengan siswa B :
          “Saya mungkin tidak bias sampai lulus kelas 3 Pak, karena saya akan dinikahkan jika ibu datang dari Arab Saudi”
              Hasil wawancara dengan Wali kelas :
          “Anak C ini sering terlambat masuk sekolah dan kadang-kadang tidak masuk tanpa keterangan, mohon untuk ditangani lebih lanjut, sebab saya sudah jengkel tidak ada perubahan”
          Hasil wawancara dengan Wali kelas :
          “Anak D ini sudah saya bombing dan telah saya beri pengarahan 2 kali tetapi tetap saja sering tidak masuk tanpa keterangan dan juga sering tugas guru tidak dikerjakan”
          Hasil wawancara dengan guru budang studi :
          “Anak E pada jam saya sudah 3 kali tidak ikut pelajaran saya, padahal kata temannya tadi ada dan mengikuti pelajaran, jika saya Tanya ada saja alasannya sakitlah dan pernah saya lihat tidur di ruang UKS”
         
          Haisil wawancara dengan Wali kelas :
          “Siswa F sering tidak masuk tanpa keterangan tetapi anehnya nilai ulangannya yang diberikan ke saya ada nilainya dan nilai cukup 6, jadi pas-pasanlah”
          Keterangan responden (nama sengaja di rahasiakan)
          1. siswa A, siswa kelas IX B;     2). siswa B, siswa kelas IX D; 3)        3. siswa C, siswa kelas IX A; 4). siswa D, siswa kelas IX C; 5) siswa E, siswa kelas IX B; 6). siswa F, siswa kelas IX A.

2. Hasil Dokumentasi
       Hasil dokumentasi yang dimaksud disini adalah :
a.    Buku Absensi siswa
       Buku absensi siswa ini setiap minggu dilaporkan oleh sekretaris kelas ke guru pembimbing untuk mengetahui siswa-siswa mana yang sering tidak masuk sekolah. Buku absensi ini setiap hari diisi oleh seretaris absen, dari dokumen ini diketahui siswa-siswa yang tidak masuk tanpa keterangan.

b.    Buku daftar nilai guru
       Buku daftar nilai guru yang selalu dibawa setiap hari sebagai perangkat mengajar ada juga tentang absensi siswa pada saat mengajar. Ini digunakan pula sebagai dokumen pelengkap data siswa rawan putus sekolah.
c.    Buku Pelanggaran tata tertib sekolah
       Buku pelanggaran tata tertib ini ada di ruang guru dan mengisi adalah guru piket setiap hari, sehingga bisa segera diketahui jika ada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan. Siswa yang terlambat serta siswa yang melakukan pelanggaran tata tertib lainnya, ini juga sebagai dokumen yang baik untuk menghimpun data.

Tahap Pekerjaan Lapangan
       Memahami latar penelitian, memasuki lapangan atau lingkungan siswa, berperan serta sambil mengumpulkan data adalah pekerjaan yang harus dilalui dalam tahap ini.
       Hasil penyajian dengan menggunakan metode wawancara, dokumentasi, pengamatan dipaparkan latar belakang masalah sebagai berikut : Siswa A. seorang anak laki-laki yatim piatu yang tinggal dengan nenek dan kakaknya, siswa dirumah membantu kakaknya untuk mencari nafkah diwaktu luang kegiatan sekolah siswa mencari nafkah, perlu diketahui tempat tinggal siswa adalah dekat pengusaha genteng yang masyarakat sekitarnya mata pencahariannya sebagian besar petani. Hasil penelitian ini didapat dari hasil wawancara dan pengamatan langsung ke lokasi siswa bekerja. Jadi sering tidak masuk karena kadang kecapaian dalam mencari nafkah atau bahkan saat jam sekolah sedang mencari nafkah demi kebutuhan keluarga. Siswa seorang pendiam yang berada duduk di kelas IX B.
        Siswa B, siswa ini adalah seorang putri ini tinggal dengan neneknya yang sudah tua, ayah sudah cerai dari ibunnya, ibunnya bekerja sebagai TKW di Arab Saudi yang gajinnya dikirim ke neneknya untuk membiyayai hidup sehari-hari. Siswa adalah siswa yang pandai bergaul baik dengan teman sesame putri maupun putra. Jadi siswa diduga rawan putus sekolah bukan karena sering absen tetapi masalah keluarga.
       Siswa C adalah seorang siswa putra yang orang tuannya dari keluarga cukup ekonominya. Ayahnya adalah seorang kepala SDN, tempat tinggal siswa cukup jauh dari sekolah yaitu kurang lebih 7 KM dan transportasi cukup sulit. Siswa berbadan gemuk, ceria, siswa sering terlambat masuk sekolah dan kadang-kadang tidak masuk tanpa keterangan.
       Siswa D adalah seorang siswa yang duduk dikelas IX C ia adalah siswa yang sering tidak masuk tanpa keterangan dan sudah dibimbing oleh wali kelasnya tetapi tidak ada perubahan. Siswa dari keluarga broken home, ia tinggal dengan ayahnya yang sudah menikah lagi dengan ibu tiri dan mempunyai satu adik yang masih umur 2 tahun dari pernikahan ayahnya dengan ibu tiri tersebut.
       Siswa E adalah seorang siswa yang membolos pada jam-jam tertentu. Suatu ketika pernah diketemukan di UKS sedang tidur, dan kadang di rumah penjaga sekolah.
       Siswa F adalah siswa yang pandai  bergaul tetapi sering bergaul dengan anak luar ini terlihar pada pengamatan guru pembimbing ketika pulang sekolah siswa sering dijemput oleh anak luar yang tidak bersekolah lagi. Siswa tinggal dengan neneknya dan kakeknya yang sibuk bekerja  kedua orang tua masih ada dan tinggal tidak jauh dari rumah neneknya. Walaupun sering tidak masuk tapi jika ulangan pasti mengikuti dan nilainnya cukup rata-rata 6.
            Penyajian data diatas hasilnnya didapat dari metode pengamatan, dan wawancara. Dibawah ini akan diuraikan penyebab siswa rawan putus sekolah berdasarkan wawancara dengan berbagai pihak.
1.    Siswa A :
       “Saya sebenarnya mau sekolah tapi bagaimana dengan nenek. Jadi saya harus sering membantu mencari nafkah, walaupun kakak saya sebenarnya tidak memperbolehkan, tapi bagaimana lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak mencukupi jika kakak saya saja”
2.    Siswa B :
       “Saya sudah dijodohkan dengan tetangga saya oleh ibu bahkan sudah dilamar dan ibu berjanji lulus SMP akan dinikahkan. Tapi akhir-akhir ini nenek marah-marah kerena saya pacaran dengan anak lain yang bukan dijodohkan itu. Jadi dari pada terjadi apa-apa, maka kata nenek kalau ibumu datang dari Arab Saudi langsung saya dinikahkan saja biar tidak was-was.”
       Ini dukungan dari pengamatan penelitian ketika berkunjung ke rumah yang ditinggali oleh siswa tersebut, ternyata keadaan rumah sangat mengkhawatirkan sepi dan jika teman yang berkunjung bebas keluar masuk kamar tanpa sepengetahuan nenek.
3.    Siswa C :
       “Ibu, rumah saya jauh, jadi tidak dapat tumpangan kadang saya tidak masuk. Dan bapak saya akan dibelikan sepeda motor untuk sekolah yang nanti saya titipkan dekat sekolah. Kadang pula saya masuk tetapi sering terlambat datang, jadi jika saya tidak masuk karena saya malu sering terlambat, maka lalu saya ke rumah teman sampai waktunnya pulang sekolah agar tidak dimarahi ayah”.
4.    Siswa D :
       “Siswa dirumah mendampingi adalah ibunnya karena ayah seminggu sekali baru pulang, ayah kerja di Surabaya, ibunnya kalah dengan siswa. Ibunya seudah melarang tapi siswa tidak menggubris. Siswa sering pergi kerumah teman dank e tempat biliyard pulang malam”.

5.    Siswa E :
       “Siswa ini tertib masuk tiap hari tetapi sering pada jam-jam pelajaran, tidak ikut pelajaran dengan alas an gurunya menerangkan tidak enak, mencatat saja, bosan, ada juga karena tidak mengerjakan PR”.

6.    Siswa F :
       “Siswa ini sebenarnya cukup baik dan saat ulangan-ulangan pasti masuk tetapi sebagian besar sereing tidak masuk tanpa keterangan. Setiap tidak masuk, jika ditannyakanke temannya (titip pesan) besoknya lalu masuk. Begitu juga setelah diadakan Home Visit, besoknya pasti siswa masuk lagi.

Layanan Bimbingan dan Konseling yang Diberikan anatara lain :
Siswa A
          Memberi motivasi pada siswa dan kakaknya tentang pentingnya wajib belajar 9 tahun, jadi minimal lulus SMP, melalui layanan konseling secara continue pada siswa, melalui layanan penempatan dan penyaluran siswa di sekolah melalui pemberian beasiswa, memotivasi siswa secara langsung ditempat kerja siswa, dengan menambah uang saku ketika berkunjung ke lokasi tersebut. Kerjasama dengan wali kelas untuk berperan aktif mendampuingi siswa.

Siswa B
          Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan pada siswa adalah memberi pemahaman pengetahuan cara bergaul yang baik dengan teman lawan jenis melalu konseling secara berkelanjutan. Guru pembimbing juga mengadakan pendekatan dengan neneknya agar siswa tidak dinikahkan sebelum lulus SMP.

Siswa C
          Layanan bimbingan dan konseling yang diberikan hanyalah kerja sama dengan orangtuanya karena orangtuannya adalah orang berpendidikan yang memahami betul pentingnya pendidikan. Siswa diajari untuk memanfaatkan waktu walaupun jauh tetapi siswa harus berusaha datang tepat waktu.

Siswa D
          Adalah siswa yang sudah terjerumus dengan pergaulan yang kurang baik di sekita rumahnya. Jadi satu-satunya layanan adalah meningkatkan kerja sama dengan orang tua agar siswa tidak diperbolehkan sering keluar malam apalagi dihari-hari efektif sekolah.

Siswa E
          Penyebab masalah siswa adalah kemampuan belajarnya jadi layanan konseling lainnya membiaskan semaksimal mungkin untuk mengatasi kejenuhan dalam belajar demi peningkatan prestasi belajar. Jadi jika yang dikerjakan tugas-tugas dari guru belum maksimal, pasti guru menghargai usaha siswa dari pada tidak mengerjakan sama sekali.

Siswa F
          Siswa ini menyepelekan seolah karena menganggap cukup mampu dalam pelajaran,. Jadi layan yang diberikan, layan konseling tentang penegakan disiplin tata tertib sekolah. Jadi jika tidak masuk tanpa keterangan ada tahapan-tahapan yang dilalui dalam penanganannya yaitu antara lain : peringatan lesan, terulis, pemberian sanksi dan skorsing, pengmbalian ke orang tua. Perlu diberikan pemahaman bahwa walaupun nilai akademik bagus tapi jika nilai keperibadian kurang baik tetap terkena penegakan disiplin sekolah.

Analisis Data
Dari penyajian data diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Siswa-siswi yang diduga rawan putus sekolah diketahui dari informs wali kelas, guru bidang studi, pengurus kelas utamanya sekretaris kelas, karyawan dan siswa itu sendiri melalui wawancara dengan guru pembimbing serta dari dokumen buku absen, buku kumpulan nilai, jurnal harian kelas, buku rekapitulasi pelanggaran tata tertib.  Penyebab siswa rawan putus sekolah anatara lain :
            1. keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu.
              2.  orang tua atau wali murid yang kurang peduli pentingnya pendidikan wajib belajar 9 tahun.
              3.  orang tua atau keluarga yang sibuk mencari nafkah demi kepentingan keluarga.
              4.  pengawasan yang kurang tentang pergaulan siswa di luar sekolah.
              5.  letak rumah yang cukup jauh.
              6.  kemampuan belajarnya yang kurang.
Usaha-usaha penanganan siswa bermasalah :
            1.  Layana Konseling
                 Layanan konseling adalah yang paling utama untuk keberhasilan pengatasan masalah.
            2. Layanan Penempatan dan Penyaluran
                 Layanan ini diberikan dengan cara menyalurkan siswa dari keluarga yang kurang mampu untuk mendapatkan beasiswa.
            3. Layanan Informasi
                 Layanan informasi diberikan pada orang tua/wali murid dan siswa tentang pentingnnya wajib belajar 9 tahun (lulus SMP)
            4. Layanan Pembelajaran
                 Layanan yang diberikan pada siswa untuk membiasakan diri selalu mematuhi tata tertib sekolah antara lain jika tidak masuk karena sakit saja dan keperluan keluarga yang sangat penting dengan dinyatakan surat keterangan dokter atau surat dari orang tua. Mebiasakan diri pula untuk bergaul dengan teman baik agar tidak berpengaruh untuk beebuat yang tidak baik
 Layanan yang diberikan pada siswa tersebut hasilnya sebagai berikut :
1.    Siswa A selama dibimbing oleh guru pembimbing siswa tidak terjadi putus sekolah begitu juga dengan siswa B dan C, hanya memang perlu perhatian extra dari guru pembimbing dan wali kelas.
2.    Siswa D dan F terjadi putus sekolah, mengingat orang tua tidak mendukung sama sekali. Ini terbukti selama panggilan orang tua D hanya sekali itupun orang tuan mengatakan bahwa dirumah tidak ada yang mengawasi, ayah baru ketemu dengan siswa paling cepat seminggu sekali sedang ibunya sudah kwalahan dengan siswa. Sedang siswa F orang tua tidak pernah Home Visit orang memenuhi panggilan orang tua, begitu juga ketika diadakan home visit orang tua tidak pernah ketemu.
3.    Siswa E tidak terjadi putus sekolahmengingat hanya kurang kemampuan dalam belajar. Jadi hanya membutuhkan motivasi saja agar siswa terus belajar untuk mengerjakan tugas darib guru semampunnya dan jika menemui kesulitan bias belajar kelompok.
       Jadi keberhasilan dari upaya guru pembimbing untuk mencegah siswa putus sekolahadalah 67%
Lebih jelasnya data siswa rawan putus sekolah didapat dari berbagai sumber informasi dan dokumen pendukung bias dilihat pada diagram 1 dan 2 dibawah ini: 
                                   


                

                                                                                     
Diagram 1

Jenis Sumber Informasi data siswa rawan putus sekolah
D = Informasi dari siswa yang bersangkutan
6 = Jumlah siswa
 
Keterangan :
A = Informasi dari wali kelas
B = Informasi dari guru bidang studi
C = Informasi dari karyawan sekolah







Diagram 2











Jenis Dokumen data siswa rawan putus sekolah
Keterangan : A = Informasi dari wali kelas; B = Informasi dari guru bidang studi
                     C = Informasi dari karyawan sekolah;  D = Informasi dari siswa yang
                           bersangkutan;  6  = Jumlah siswa

Keterngan/analisa diagram :
1.  50% (3 dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah) diperoleh dari wali kelas dan selebihnya guru bidang studi, karyawan sekolah lainnya, siswa yang bersangkutan, masing-masing 16,6% (1 anak dari 6 anak)
2. 50% (3 dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah) didapat dari dokumen buku absensi kelas siswa yang dipegang oleh sekretaris kelas masing-masing. Selebihnya masing-masing 1 anak = 16,6% didapat dari dokumen buku daftar nilai siswa yang dipegang oleh guru, buku pelanggaran tatatertib siswa tanpa dokumen.
Diagram 3 : Faktor penyebab masalah rawan putus sekolah, dapat dilihat
                  pada   diagram .
Faktor penyebab siswa rawan putus sekolah
Keterangan/analisis gambar :
66,6% =   Keadaan ekonomi orang tua yang kurang mampu, pada siswa A,B,D,F menyebabkan orang tua kurang peduli dengan pentingnya pendidikan putra/putrinya, pengawasan kurang karena sibuk bekerja di luar kota/luarnegeri, tidak serumah dengan putra putrinya.
16,6% =   Kemampuan belajar siswa yang kurang mengakibatkan kejenuhan sehingga menghindari dari tugas-tugas, dari pelajaran yang dirasa memberatkan siswa. Ini terjadi pada siswa E
16,6 % = Letak rumah jauh dari sekolah dan transportasi namun sulit sehingga mengakibatkan siswa sering terlambat masuk sekolah bahkan tidak masuk sekolah, ini terjadi pada siswa C.

Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling sebagai upaya mencegah siswa putus sekolah
 
Keterangan/analisis diagram :
       Dari 6 anak yang diduga rawan putus sekolah semua mendapat layanan konseling secara kontinyu dan berkelanjutan. Dari hasil layanan konseling ditindak lanjuti dengan layanan BK lainnya, antara lain : Siswa A : Diadakan home visit/ kunjungan rumah/lokasi pekerjaan siswa dan disalurkan untuk mendapatkan BSM (layanan informasi dan layanan penempatan/penyaluran)
Siswa B : Diadakan home visit untuk mengadakan informasi pemahaman ke nenek siswa tentang pentingnya pendidikan bagi siswa (layanan informasi).
Siswa C : Diadakan panggilan orang tua siswa ke sekolah tentang informasi kesulitan transportasi siswa dan bersama-sama mencari solusi buat putranya (layanan informasi). Siswa D :Diadakan panggilan orang tua siswa ke sekolah tentang informasi peningkatan pengawasan putranya dirumah utamanya jam belajar di rumah dan di sekolah (layanan informasi). Siswa E :Diadakan tindak lanjut layanan pembelajran dengan kerjasama dengan orang tua untuk pengawasan belajar di rumah dan kerjasama dengan guru bidang studi yang dirasa kurang mampu oleh siswa, melalui cara bimbingan khusus pembelajaran (layanan pembelajaran).Siswa F :Diadakan tindak lanjut layanan informasi ke orang tua untuk sama-sama memberikan pemahaman pada siswa, bahwa sekolah tidak hanya dintuntut nilai yang cukup tetapi ketertiban absensi, kedisiplinan siswa juga mendapat penilaian siswa dalam pelajaran.
       Dari 6 siswa, ternyata 4 anak berhasil tidak putus sekolah setelah diadakan observasi sampai siswa dinyatakan tamat/lulus dari SMP, yaitu : siswa A, B, C, E = lulus SMP   Jadi dengan layanan bimbingan dan konseling ternyata cukup mampu untuk mencegah siswa putus sekolah, tetapi perlu peningkatan layanan bimbingan dan konseling pada masa-masa selanjutnya mengingat keberhasilan belum mencapai 100%, hanya 67%. Hal ini bias dilihat pada tabel rekapitulasi sumber data siswa putus sekolah, penyebab, layanan BK yang diberikan dan hasil layanan.

KESIMPULAN DAN SASARAN
Kesimpulan
     Berdasarkan hasil analisis data  maka dapat disimpulkan:`Siswa yang diduga rawan putus sekolah dikemukakan dari hasil informasi dari semua pihak, yaitu antara lain : dari siswa itu sendiri, wali kelas. Guru bidang studi, karyawan serta didapat dari dokumen buku absensi kelas, jurnal harian kelas, buku pelanggaran tata tertib sekolah, dan buku kumpulan nilai siswa.
           Penyebab siswa rawan putus sekolah, yaitu antara lain kemampuan belajar yang kurang, kemampuan ekonomi orang tua, lingkungan pergaulan teman siswa yang kurang baik, kurang kesadaran orang tua pentingnya pendidikan bagi anak, letak rumah cukup jauh dari sekolah.
             Layanan yang diberikan guru pembimbing terhadap siswa rawan putus sekolah ialah layanan informasi, layanan konseling, layanan pembelajaran, dan layanan penempatan dan penyaluran. Dari 6 siswa yang diduga rawan putus sekolah 4 yang tidak terjadi putus sekolah.

 Saran-saran
                Berdasarkan  hasil penelitian , peneliti dapat memberikan saran: 1) Agar wali kelas dan guru pembimbing selalu memberikan pemantauan melalui buku absensi kelas, teman terdekat di sekolah; 2) Wali kelas dan guru pembimbing agar mengadakan home visit / pendekatan pada orang tua supaya putranya selalu diawasi dalam lingkungan pergaulan; 3) Begitu juga orang tua jangan terlalu memberi beban pekerjaan pada putranya agar putranya mempunyai kemauan untuk sekolah ; 4) Orang tua supaya memberi fasilitas yang memadai .Karena pemerintah menganjurkan supaya melaksanakan wajib belajar 9 tahun.

DAFTAR  RUJUKAN
Bimo, Walgito. Bimbingan dan penyuluhan.
Winkel, 1981 : 52, Pedoman Dasar. Jakarta:  PT Gramedia Widia Sarana
Sukardi, Dewa Ketut, 1985 Pengantar teori konseling. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.
I. Jumhur, M. Surya, 1975 Bimbingan dan penyuluhan di Sekolah.
Sofyan S Willis, 2004 Konseling Individual Teori dan Praktik.
C.E Beeby (dalam Awod Bahsoan dan Nahwi Indris, 1981 : 95), Pendidikan di Indonesia
Jhon dan shadely, 1975 : 200, Rawannya Siswa Putus Sekolah.
Depdikbud, 1994, Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan  dan Konseling, Jakarta : Proyek SLTP Jawa Timur.
Menkokesra dan taskin, 1999, Pedoman Pelaksanaan Pendataan Anak Usia Sekolah Dari Keluarga Miskin, Jakarta : PT Gramedia Widia Sarana.
Usman, CH, 1997, Geografi, Bandung : Jatmiko
Prayitno. Erman Anti. 1999, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.

Bellany Carol, 1979, Laporan Situasi Anak-Anak di Dunia, Jakarta : PT Penebar Swadaya