Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

MENERAPKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS III SDN KARANGPRING 01

Nunung Hariyanto

Abstrak: Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalahTujuankan Kelas ini adalah untuk mengkaji tentang: Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).  Hasil penelitian:  Penerapan  Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar sehingga pada siklus kedua ketuntasan dapat mencapai 92%.

        Kata Kunci: Model Pembelajaran Problem Based Learning,  Hasil     Belajar

PENDAHULUAN
            Pemahaman terhadap konsep-konsep Pendidikan Kewarganegaraan  dapat diserap dan dicema oleh siswa jika pembelajaran  Pendidikan Kewarganegaraan dapat berlangsung dengan baik, sehingga siswa dapat menangkap nilai atau makna dari yang dikaji. Kurang optimalnya peran pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan  dalam memberikan kontribusinya untuk membentuk karakter  karena kalangan peserta didik menganggap belajar adalah aktivitas yang tidak menyenangkan, duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian dan pikiran pada suatu pokok bahasan, baik yang sedang disampaikan pengajar maupun yang sedang dihadapi di meja belajar. Kegiatan itu hampir selalu dirasakan sebagai beban daripada upaya aktif untuk memperdalam ilmu atau mempelajari materi pelajaran untuk diambil nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya untuk bekal kehidupan nanti (Winataputra, U.S. 2007).
Mereka tidak menemukan kesadaran untuk mengerjakan seluruh tugas-tugas sekolah. Banyak di antara peserta didik yang menganggap, mengikuti pelajaran tidak lebih sekedar rutinitas untuk mengisi daftar absensi, mencari nilai, melewati jalan yang harus ditempuh dan tanpa diiringi kesadaran.  Rendahnya gairah belajar selain faktor di atas juga disebabkan oleh ketidaktepatan metodologi pembelajaran, serta berakar pada paradigma pendidikan konvensional yang selalu menggunakan metode pengajaran klasikal dan ceramah sebagai metode mengajar andalan, tanpa pernah diselingi berbagai metode yang menantang untuk berusaha menumbuhkan kegairahan kerja, dapat dinikmati dan dihayati oleh peserta didik.
Penelitian Tindakan Kelas  dengan menerapkan PBL dilakukan karena menginginkan perubahan ke arah lebih baik dari apa yang selama ini dijalankan guru, oleh karena itu kegiatan penelitian ini merupakan suatu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak yang terlibat saling  mendukung, dilengkapi  dengan  fakta-fakta, dan  mengembangkan kemampuan analisis.
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah (Kamdi, 2007: 77). PBL atau pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentangcara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
PBL memiliki karakteristik sebagai berikut:  1)Belajar dimulai dengan satu masalah; 2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa; 3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu; 4)Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secaralangsung proses belajar mereka sendiri, 5) Menggunakan kelompok kecil, dan ; 6)Menuntut siswa untuk mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.
Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui danapa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam padasiswa seperti kerjasama dan interaksi dalam kelompok, di samping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuatkesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang kaya pada siswa. Dengan kata lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yangmereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata padakehidupan sehari-hari.PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme.
Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalahtetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatiantetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan ketrampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis. Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah apalagi kalau masalah tersebut bersifatkontekstual, maka dapat terjadi ketidakseimbangan kognitif pada diri siswa. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-macam pertanyaan disekitar masalah seperti “apa yang dimaksud dengan….”, “mengapa bisa terjadi…”,“bagaimana mengetahuinya…” dan seterusnya. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telahmuncul dalam diri siswa maka motivasi intrinsik siswa untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang“konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah”, “apa yang harus dilakukan” atau“bagaimana melakukannya” dan seterusnya.
Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong siswa mempunyai inisiatif untuk  belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya. Berdasarkan uraian di atas, peneliti menarik kesimpulan bahwa PBL sebaiknya digunakan  dalam pembelajaran karena dengan PBL akan terjadi pembelajaran yang bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah akan membuat mereka menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukannya. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapatdiperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana konsep tersebut diterapkan.
            Berdasarkan uraian diatas, peneliti yang juga mengajar mata pelajaran Pendiddikan Kewarganegaraan, mengadakan Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan Model Problem Based Learning (PBL)   untuk meningkatkan hasil belajar  Pendidikan
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)   Siswa Kelas III SDN Karangpring 01?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini, bertujuan untuk mengkaji tentang: Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)   Siswa Kelas III SDN Karangpring.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat : Bagi siswa, Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)  dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar “Norma Yang Berlaku Di Masyarakat”; 2)Bagi Guru, dapat menjadi referensi untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)  pada mata pelajaran yang lain,; 3) Bagi Sekolah, dapat meningkatkan kinerja guru untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerja secara professional

METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian dan Subyek Penelitian
                  Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupten Jember dan dilaksanakan pada semeseter Ganjil tahun pelajaran 2013/2014.Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 26 siswa.

Rancangan Penelitian
                  Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Model Kemmis dan Mc Taggart. Model PTK yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart adalah merupakan model pengembangan dari model Kurt Lewin. Dikatakan demikian, karena di dalam suatu siklus terdiri atas empat komponen, keempat komponen tersebut, meliputi: (1) perencanaan, (2) aksi/tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri.
Peneliti mulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian.  Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dapat diuraikan sebagai berikut.
1). Refleksi awal
Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.
2). Penyusunan perencanaan
Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan.
3). Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.
4) Observasi (pengamatan)
Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.
5) Refleksi
Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam.
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahan-permasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang.
 Secara mudah PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart dapat digambarkan dengan diagram alur berikut ini.

Pelaksanaan  Tindakan
Pelaksanaan penelitian ini diwujudkan dalam bentuk tahapan-tahapan siklus yang berkesinambungan dan berkelanjutan sehingga berjalan seperti spiral, di mana untuk setiap tahapan siklus terdiri dari 4 (empat) tahapan langkah secara garis besar, yaitu 1) membuat perencanaan tindakan perbaikan, 2) implementasi atau pelaksanaan tindakan yang telah direncanakan, 3) melakukan observasi dan interpretasi, dan 4) melakukan analisis data dan refleksi atas tindakan yang telah dilakukan.
Untuk lebih jelasnya, paparan langkah-langkah pelaksanaan penelitian untuk setiap tahap dan dalam setiap siklusnya di sini adalah sebagai berikut:
Siklus I 
Meliputi tahapan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perencanaan
  • Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
  • Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar mengajar.
  • Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
  • Memilih bahan pelajaran yang sesuai
  • Menentukan scenario pembelajaran model Problem Based Learning .
  • Mempersiapkan sumber, bahan, dan media belajar  yang dibutuhkan.
  • Menyusun lembar kerja siswa
  • Mengembangkan format evaluasi
  • Mengembangkan format observasi pembelajaran.
2. Tindakan
  • Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario pembelajaran.
  • Siswa membaca materi yang terdapat pada buku sumber.
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang terdapat pada buku sumber.
  • Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang dipelajari.
  • Siswa berdiskusi membahas masalah (kasus) yang sudah dipersiapkan oleh guru.
  • Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi.
  • Siswa mengerjakan lembar kerja siswa (LKS).
3. Pengamatan
  • Melakukan observasi dengan memakai format observasi yang sudah disiapkan yaitu berupa tabel-tabel isian untuk setiap aspek penilaian dalam observasi.
  • Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS).
4. Refleksi
  • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi evaluasai mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
  • Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evalusi tentang skenario pembelajaran dan lembar kerja siswa.
  • Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.
      
Siklus II
Meliputi tahapan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perencanaan
  • Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi berikut penetapan alternatif pemecahan masalah.
  • Menentukan indikator pencapaian hasil belajar.
  • Pengembangan program tindakan II.
2. Tindakan
Pelaksanaan  program tindakan II  mengacu pada identifikasi masalah yang muncul pada siklus I, sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang sudah ditentukan, antara lain melalui:
  • Guru melakukan appersepsi
  • Siswa  diperkenalkan dengan materi yang akan dibahas dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
  • Siswa mengamati gambar-gambar / foto-foto yang sesuai dengan materi.
  • Siswa bertanya jawab tentang gambar / foto.
  • Siswa menceritakan norma-norma yang berlaku di masyarakat
  • Siswa mengumpulkan bacaaan dari berbagai sumber, melakukan diskusi kelompok belajar, memahami materi dan menulis hasil diskusi untuk dilaporkan.
  • Presentasi hasil diskusi.
  • Siswa menyelesaikan tugas pada lembar kerja siswa.
3. Pengamatan (Observasi)
  • Melakukan observasi sesuai dengan format yang sudah disiapkan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
  • Menilai hasil tindakan sesuai dengan format yang sudah dipersiapkan.
4. Refleksi
  • Melakukan evaluasi terhadap tindakan pada siklus II berdasarkan data yang terkumpul.
  • Membahas hasil evaluasi tentang skenario pembelajaran pada siklus II.
  • Evaluasi tindakan II
Karena hasil belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan yang diharpakan , maka penelitian dihentikan pada siklus ini.
Indikator keberhasilan yang dicapai pada siklus ini diharapkan mengalami kemajuan minimal 10% dari siklus I.

 Pengumpulan data dilakukan pada setiap siklus dimulai dari awal sampai akhir tindakan siklus I sampai II. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut: . Metode Observasi, Metode Dokumentasi. Tes, Wawancara .
Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data dari hasil pengamatan menjadi data kualitatif. Data tersebut meliputi :
  1. Hasil pengamatan tentang aktivitas guru dalam mengajar dan aktivitas siswa dalam belajar.
  2. Hasil kerja siswa dalam pembelajaran dengan penerapan Model Pembelajaran PBL  secara kelompok.
  3. Hasil kerja siswa dalam Model Pembelajaran PBL  secara individu.
  4. Analisis data dilakukan secara bertahap setiapa siklus
           
 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
a. Data Pada Kondisi Awal
Agar guru mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa dalam penguasaan materi ajar “ Norma Yang Berlaku di Masyarakat”,  maka perlu diberikan pretes (tes awal) yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Tes tersebut disampaikan sebagai alat untuk mendiagnosis siswa juga berfungsi untuk mengetahui presepsi mereka tentang materi yang akan dibahas selanjutnya. Hasil tes pada kondisi awal tersebut dapat dilihat pada tabel  dibawah ini.
Tabel 1 : Ketuntasan Hasil Belajar PKn pada Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
12
46 %
65 - 100
14
54 %
Jumlah
26
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui dari 26 siswa, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 42%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 14 siswa atau sebanyak 54%, sehingga pada kondisi awal, dinyatakan hasil belajar secara klasikal masih rendah. Jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 16 orang Seorang siswa dikatakan tuntas belajar, apabila siswa yang bersangkutan dapat meraih nilai minimal 65. sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal 85%.
Dengan berpedoman pada hal diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (54%) siswa kelas III SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 yang memahami materi ajar ” Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” masih rendah. Oleh karena itu dilakukan perbaikan pembelajaran pada pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) , yang hasilnya dapat di lihat pada siklus per siklus di bawah ini.

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar PKn pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
7
27 %
65 – 100
19
73 %
Jumlah
26
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui, yang mendapat nilai    < 65 sebanyak 7 siswa atau sebesar 27%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebanyak 73%. Meskipun pada siklus I ada peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar, namun secara klasikal yang tuntas masih belum mencapai 85%,  sehingga masih perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada  siklus II.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II, dilaksanakan dengan mengulang dan memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I.
Adapun Hasil Belajar  pada siklus II, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar PKnpada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
8 %
65 – 100
24
92 %
Jumlah
26
100 %
Sumber: Data yang diolah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar yang sangat signifikan, yaitu siswa  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebesar 8%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 24 siswa atau sebanyak 22%, sehingga pada siklus II, dinyatakan tuntas belajar secara klasikal .
Melihat kenyataan diatas maka target yang ditetapkan penulis yaitu ketuntasan hasil belajar > 85% telah tercapai, dengan demikian penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)  terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan dalam hal ini materi ajar ” Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” dan juga aktivitas siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar juga  meningkat. 
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari Kondisi Awal  , siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 4 dan grafik 1 dibawah ini.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar  PKn Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
46%
7
27%
2
8%
65 - 100
14
54%
19
73%
24
92%
Jumlah
26
100%
26
100%
26
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar  PKn Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II







Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pada pelaksanaan tindakan kelas ini, siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 5/6 orang siswa yang diambil sesuai dengan nomor urut pada absensi kelas. Materi pembelajaran disampaikan kepada siswa, yang selanjutnya dibahas dalam kelompok masing-masing. Pada saat siswa sedang berdiskusi kelompok, guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain sambil memberi motivasi dan meluruskan masalah jika terdapat permasalahan yang menyimpang dari konsep yang diinginkan.
Setelah masing-masing kelompok menemukan dan berhasil menyimpulkan hasil pembahasannya, maka dimulailah diskusi antar kelompok yang satu dengan yang lain. Kelompok yang satu bertindak selaku penyaji sedangkan kelompok yang lain sebagai peserta, demikian sebaliknya. Disini guru berperan hanya sebagai motivasi dan fasilitator dalam pelajaran kelompok, dalam pelaksanaan tindakan siklus ini terdapat beberapa siswa kurang aktif dalam berdiskusi.
Hasil  analisis data pada pelaksanaan siklus I seperti terlihat pada tabel 2, belum mencapai target yang ditetapkan , oleh karena itu perlu dilakukan uji coba pada siklus II  dengan mengadakan pembenahan pada kekurangan diatas.
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pada pelaksanaan pembeljaran berikutnya atau pada siklus kedua ini dilakukan dengan pengecekan sarana yang di siapkan siswa, kemudian memberikan materi yang akan dibahas. Selanjutnya setiap kelompok membuat  permasalahan yang sama setiap anggota kelompok masing-masing diberikan tanggung jawab untuk membahas tentang norma yang berlaku di masyarakat. Hasil diskusi masing-masing kelompok anggota dirangkum dalam kelompok sebagai bahan diskusi antar kelompok. Dengan pola seperti aktivitas siswa dalam kelompok dan antar kelompok lebih meningkat.
Dengan melihat kenyataan pada analisis hasil belajar pada tabel 3, maka target yang ditetapkan penulis > 85% telah tercapai, dengan demikian penggunaan metode diskusi melalui pendekatan model pembelajaran Problem Based Learning  dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa lebih memahami norma yang berlaku di masyarakat .

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut : Ada Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Materi Ajar “Norma Yang Berlaku Di Masyarakat” Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)   Siswa Kelas III SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014

Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan kemampuan maka penulis memberi saran-saran sebagai berikut : Untuk guru, hendaknya melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk sekolah, hendaknya memberi dukungan kepada guru dan siswa dengan menyiapkan sarana prasarana untuk lancarnya proses pembelajaran.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, Bina Aksara
Dimyati & Mulyono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Hadi, N. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang.
Hamalik, Oemar. 1999. Media Pendidikan. Bandung: Citra Aditya.
Hobri. 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif Bahan Bacaan Untuk Guru. Jember: Center For Society Studies (CSS).
Lie, A. 2002. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.
Nurkancana & Sunartama. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Winataputra, U.S. 2007.  Materi dan Pembelajharan PKn. Jakarta: UT