Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN  MATERI AJAR “ORGANISASI SEKOLAH” MELALUI  MODEL PEMBELAJARAN CONCEPT ATTAINMENT SISWA KELAS V SDN SERUNI 02

Indah Indiastutik

Abstrak: Model pembelajaran concept attainment memudahkan dalam memahami konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.Tujuan penelitrian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar melalui  pembelajaran Concept Attainment. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Melalui Model Pembelajaran Concept Attainment Siswa Kelas V SDN Seruni.

         Kata Kunci: Model Pembelajaran Concept Attainment,  Hasil Belajar

PENDAHULUAN                                                                                                      
Pembelajaran  pada dasarnya merupakan  upaya untuk mengarahkan  anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai   dengan   apa   yang   diharapkan.   Pembelajaran   adalah   upaya   untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan  peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antar guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Menurut Komalasari (2010: 3) “pembelajaran adalah suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik yang direncanakan  atau didesain, dilaksanakan,  dan dievaluasi  secara sistematis  agar subjek  didik  dapat  mencapai  tujuan-tujuan   pembelajaran   secara  efektif  dan efisien”.   Dengan   pembelajaran   inilah   siswa  dapat  belajar   berbagai   macam pelajaran, salah satunya adalah mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Mata pelajaran  Pendidikan Kewarganegaraan  (PKn)  merupakan mata pelajaran yang wajib diajarkan di Sekolah Dasar, karena merupakan pembelajaran yang menekankan pada penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sehingga memiliki posisi yang strategis untuk membangun watak Bangsa. Tetapi terkadang siswa kurang berminat dalam mengikuti pelajaran karena harus menghafal materi yang yang dijarkan,  sehingga dianggap sulit dan membosankan.
Di sekolah tempat peneliti mengajar, hasil mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)  yang dicapai masih rendah. Ketuntasan belajar pada saat ulangan harian baru mencapai  65% dari total siswa standart minimal 85%.  Hal ini dapat disebabkan karena guru kurang tepat memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai, karena guru masih sering terbiasa mengajar secara konvensional.
  Model pembelajaran concept attainment ini berkaitan erat dengan model pembelajaran induktif. Baik model pembelajaran concept attainment dan model pembelajaran induktif, keduanya didesain untuk menganalisis konsep, mengembangkan konsep, pengajaran konsep dan untuk menolong siswa menjadi lebih efektif dalam mempelajari konsep-konsep.
Model pembelajaran concept attainment merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. Model pembelajaran concept attainment ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.
Joyce, B.(2009:143) menyatakan bahwa, “Pembelajaran concept attainment mempertajam dasar keterampilan berpikir.” Dari pernyataan Joyce tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran concept attainment terkandung di dalamnya pengajaran berpikir siswa, karena di dalam model pembelajaran concept attainment ada beberapa tahapan-tahapan yang musti dilewati, seperti mengkatagorisasi, pembentukan konsep dengan memperhatikan berbagai macam attribute-nya (seperti attribute essensial, attribute value, attribute kritis, dan attribute variable).
Penggunaan model pembelajaran concept attainment diawali dengan pemberian contoh-contoh aplikasi konsep yang akan diajarkan, kemudian dengan mengamati contoh-contoh dan menurunkan definisi dari konsep-konsep tersebut. Hal yang paling utama yang musti diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan model pembelajaran ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan, yaitu contoh tentang hal-hal yang akrab dengan siswa. Pada prinsipnya, model pembelajaran concept attainment adalah suatu strategi mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan cara menyajikan data atau contoh, kemudian guru meminta kepada siswa untuk mengamati data atau contoh tersebut. Atas dasar pengamatan ini akan terbentuk abstraksi. Model pembelajaran concept attainment ini dapat membantu siswa pada semua tingkatan usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipothesis.
Bruner, Goodnow, dan Austin  (dalam Winataputra, 2001) menyatakan bahwa, “pembelajaran concept attainment adalah mencari dan mendaftar attribute-attribute yang dapat digunakan untuk menetapkan contoh-contoh (exemplars) dan bukan contoh-contoh (non-Exemplars) dari berbagai katagori.” Sedangkan pembentukan konsep (concept formation), merupakan dasar daripada model pembelajaran induktif. Pembelajaran concept attainment membutuhkan keputusan yang mendasar terhadap katagori-katagori yang akan dibangun, membutuhkan seorang siswa agar mampu menggambarkan suatu atribut dari suatu katagori yang siap dibentuk dalam otak siswa melalui pola membandingkan dan membedakan contoh-contoh (disebut exemplars) yang di dalamnya terkandung karakteristik-karakteristik (atribut) dari suatu konsep dengan contoh-contoh yang tidak mengandung atribut.
Untuk melakukan pembelajaran dari model concept attainment, dibutuhkan  20 pasang siswa dan apabila konsepnya banyak dan lebih kompleks, tentunya butuh banyak pasangan siswa. Proses pembelajaran concept attainment dimulai dengan pertanyaan yang ditujukan kepada siswa untuk meneliti dengan cermat suatu kalimat dan siswa memberikan perhatian yang serius terhadap kata-kata yang telah digarisbawahi. Kemudian seorang guru mengintruksikan kepada siswanya untuk membandingkan dan mengkontraskan fungsi dari exemplar positif dan exemplar negatif. Exemplar positif mengandung sesuatu aktivitas kerja yang sudah biasa dilakukan oleh siswa dalam membuat kalimat. Exemplar negatif tidak melakukan kerja yang berbeda.
Pembelajaran pencapaian konsep (concept attainment) banyak melibatkan operasi mental siswa. Dalam hal ini metode ilmiah dibutuhkan untuk mengidentifikasi operasi mental siswa, terutama untuk pencapaian konsep dalam waktu singkat, meliputi analisis tingkah laku, observasi dan bertanya musti dilakukan sebagai tugas dalam pembelajaran. Analisis tingkah laku didasarkan pada uji operasi mental siswa. Siswa diinstruksikan untuk membuat catatan-catatan tentang apa yang mereka percayai tentang exemplar yang sudah dimilikinya.
                Kemudian, guru memberikan beberapa set exemplar dan bertanya pada mereka apakah mereka masih memiliki ide yang sama. Jika tidak, guru bertanya apa yang sedang mereka pikirkan?. Guru meneruskan untuk mempresentasikan exemplar-exemplar sehingga sebagian besar siswa memiliki suatu ide yang mereka pikir akan menahan kecermatan penelitiannya. Pada saat itu, guru bertanya kepada salah satu siswa untuk menggabungkan ide teman-temannya dan bagaimana cara teman-temannya dalam menggabungkan ide-idenya.
Untuk memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar, maka peneliti merasa perlu untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas, dengan menerapkan model pembelajaran Concept Attaintment  sebagai salah satu upaya  untuk mengatasi masalah tersebut di atas. Model ini dirasa cukup efektif, karena dalam pembelajaran ini siswa lebih aktif dan mampu memahami konsep secara nyata dan mengurangi verbalisme, sehingga konsep akan mudah dikuasai oleh anak, karena anak tidak hanya mendengar cerita guru tetapi anak betul-betul mengalami sendiri.
            Model pembelajaran concept attainment merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. Model pembelajaran concept attainment ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.
Berdasarkan uraian diatas, maka masalah penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Apakah Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Melalui Model Pembelajaran Concept Attainment Siswa Kelas V SDN Seruni 02?
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan mengkaji tentang : Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Melalui Model Pembelajaran Concept Attainment Siswa Kelas V SDN Seruni 02.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
1)     Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar PKn  khususnya pada materi ajar ” Organisasi Sekolah”,
2)     Bagi guru, penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam penggunaan model pembelajaran pada mata pelajaran yang lain,
3)     Bagi sekolah, dapat dijadikan sebagai masukan yang sangat baik untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan hasil belajar di sekolah.

METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian tindakan kelas di SDN Seruni 02 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember . Subyek dan obyek Penelitian tindakan kelas ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Seruni 02 Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember yang berjumlah 38 siswa .
Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka jenis penelitian yang dilaksanakan ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Mills dalam Hopkins (2011: 88), penelitian tindakan merupakan penelitian sistematis yang dilakukan oleh guru (peneliti) dengan mengumpulkan informasi tentang proses pembelajaran didalam kelas. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah mencoba mengatasi kesulitan yang dialami dalam pembelajaran. Penelitian ini dilakukan sesuai dengan jadwal kegiatan belajar mengajar. Adapun alasan peneliti menggunakan metode ini karena peneliti mendapatkan masalah pada kelas tempat peneliti mengajar.
Dalam penelitian ini model yang digunakan yaitu  penelitian model Kemmis dan Mc Taggart,  bahwa dalam suatu penelitian itu dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, perencanaan kembali merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan permasalahan. Refleksi dilakukan dengan evaluasi terhadap hasil observasi.
Dengan demikian, penelitian tindakan kelas tidak dapat dilaksanakan dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk untuk melakukannya sebagai planning untuk siklus selanjutnya. Untuk lebih memperjelas fase-fase dalam penelitian tindakan, siklus spiralnya dan bagaimana pelaksanaanya, Kemmis menggambarkannya dalam siklus sebagai berikut :
Description: http://navelmangelep.files.wordpress.com/2012/03/ptk-1.jpg?w=645
Sebagaimana diisyaratkan di atas, PTK antara lain bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan praktik pembelajaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya ”melekat” penunaian misi profesional kependidikan yang diemban oleh guru. Dengan kata lain, tujuan utama PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru. Di samping itu, sebagai tujuan penyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru.Penelitian Tindakan Kelas memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar, 1992) yaitu planning  (rencana),  Action  (tindakan),   Observation  (pengamatan) dan  Reflection (Refleksi). Untuk lebih memperjelas mari kita perhatikan tahapan-tahapan berikut:
a. Planning (rencana)
Rencana merupakan tahapan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan ke depan, serta fleksibel untuk menerima efek-efek yang tak terduga dan dengan rencana tersebut secara dini kita dapat mengatasi hambatan.

b. Action (Tindakan)
Tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa  suatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh mereka yang terlibat langsung dalam pelaksanaan suatu model pembelajaran yang hasilnya juga akan dipergunakan untuk penyempurnaan pelaksanaan tugas.

c. Observation (Pengamatan)
Pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendokumentasikan pengaruh-pengaruh yang  diakibatkan oleh tindakan dalam kelas. Hasil pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya.

d. Reflection (Refleksi)
Refleksi di sini meliputi kegiatan : analisis, sintesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya.
Pengumpulan data bermaksud untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan dapat digunakan secara tepat untuk memecahkan permasalahan dan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah penulis rumuskan. Adapun dalam penelitian ini metode pengumpulan data digunakan adalah metode tes, metode interview, metode observasi, metode dokumenter.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar adalah dengan tes.
            Yang dimaksud dengan tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan yang dipergunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensia dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik (Suharsimi Arikunto, 1993- 123).
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi belajar untuk menguji pencapaian siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam mata pelajaran Matematika. Sedangkan tes prestasi belajar dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tes buatan guru, tes obyektif dengan multiple choiche dan tes essay.
Intrerview atau wawancara adalah suatu percapakan yang dilakukan pada suatu masalah tertentu. Interview merupakan proses tanya jawab mengenai masalah tertentu secara lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik (Kartini Kartono, 1986 : 171). Dengan demikian interview adalah merupakan alat pengumpul data untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pendapat dari responder mengenai permasalahan yang diteliti.
Adapun dalam penelitian ini digunakan interview bebas terpimpin supaya dengan interview ini suasananya cukup hidup antara yang diwawancarai dengan yang melakukan wawancara. Tetapi harus berpedoman pada pedoman interview atau tanya jawab yang telah disiapkan sebelumnya. Selanjutnya dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan keperluan, situasi dan kondisi. Tanya jawab yang dilakukan diharapkan tidak menyimpang dari garis-garis yang telah ditetapkan sesuai persiapan yang telah dibuat oleh peneliti, jika jawaban yang diterima di luar dari yang diharapkan, maka peneliti mengarahkan jawaban yang diinginkan.
Data yang ingin dicapai dengan metode interview bebas terpimpin ini adalah :
a.    Fasilitas yang ada dalam sekolah untuk membantu kegiatan pengajaran.
b.    Kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan siswa.
Metode dokumenter digunakan untuk memperoleh informasi dari catatan yang ada. Metode dokumenter adalah pengumpulan data dari sumber yang berupa catatan-catatan dan dokumen lainnya, sehingga tinggal memindahkan data yang telah tersedia, sebagaimana dijelaskan oleh Suharsimi Arikunto, bahwa metode dokumenter adalah mencari data hal-hal ataupun variabel yang berupa data-data dalam buku-buku, majalah, dokumen, peraturan, catatan harian dan sebagainya (1993 : 131). Dibandingkan dengan metode lainnya, maka metode ini tidak begitu sulit dalam arti apabila ada kesalahan pencatatan sumber datanya masih tetap belum berubah-ubah dan mudah melakukan pengecekan kembali.


Metode Analisis Data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan. Data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dianalisis secara kualitatif, sedangkan data yang diperoleh dari hasil tes akan dianalisis secara deskiptif kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah data yang berbentuk angka-angka.  Analisis data kualitatif dalam penelitian ini adalah analisis data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi. Sedangkan analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar apakah sesuai dengan yang hendak dicapai (efektif) atau tidak. Data yang dipresentasikan kemudian ditafsirkan menggunakan kalimat yang bersifat kualitatif untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian dari masing­-masing data yang diperoleh, adapun target pencapaian tujuan.
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila penerapan variasi metode ceramah dan diskusi dalam pembelajaran Matematika dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan sehingga siswa aktif dalam proses pembelajaran dan nilai ujiannya mencapai ketuntasan individual minimal skor 65, ketuntasan klasikal minimal mencapai 85 % dari total siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi awal diketahui pada kondisi awal proses belajar mengajar kurang kondusif, siswa dalam kelas ramai, kurang memperhatikan penjelasan guru. Hasil belajar siswa kelas V sebelum diajarkan model  pembelajaran Concept Attainment, dalam hal ini hanya dapat diperoleh aspek kognitifnya saja mengingat peneliti yang sekaligus guru guru kelas V tidak menggunakan penilaian afektif dan psikomotor dalam proses pembelajaran. Adapun hasil belajar kognitif siswa kelas V pada kondisi awal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1: Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas V SDN Seruni 02 Pada Kondisi Awal.
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
18
47 %
65-100
20
53 %
Jumlah
38
100 %
Sumber: Data yang di olah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa Analisis data pada Kondisi Awal menunjukkan hasil belajar siswa kelas V  belum tuntas belajar karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak sebanyak 18 siswa 47% sedangkan yang mendapat 65 -100 sebanyak 20 siswa atau sebanyak 53%. Dari data tersebut diatas, selanjutnya diadakan perbaikan hasil belajar dengan menerapakan model pembelajaran Concept Attainment pada Siklus I.
Pada pembelajaran siklus I, terlihat ada beberapa siswa yang masih bingung dan belum terbiasa dengan model pembelajaran ini. Hal ini terbukti , setelaha diadakanevaluasi dan Analisis data pada siklus ini. Meskipun dari hasil Analisis, terjadi peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan Kondisi awal, namun masih mendapatkan ketuntasan seperti yang diharapkan.
Adapun hasil Analisis data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas V SDN Seruni 02 Pada Siklus I.
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
8
21 %
65-100
30
79 %
Jumlah
38
100 %
Sumber: Data yang di olah
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui  bahwa hasil belajar pada siklus I dinyatakan  tuntas belajar karena yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa 21 % sedangkan yang mendapat 65 -100 sebanyak 30 siswa atau sebanyak 79 %. Namun masih  perlu diadakan perbaikan proses belajar mengajar untuk meningkatakan hasil belajar yang lebih baik lagi.
Selanjutnya perbaikan pembelajaran diadakan pada siklus II.  Kekurangan-kerungan yang terjadi pada pembelajaran pada siklus I berusaha disempurnakan pada siklus II. Siswa tampak mulai terbiasa dengan model pembelajaran Concept Attainment, sehingga sussana kelas tampak kondusif. Materi yang diajarkan guru mudah dipahami oleh siswa. Hal ini tebukti dari hasil Analisis data pada siklus II, dinyatakan sudah tuntas belajar secara klasikal , karena yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 4 siswa 11 % sedangkan yang mendapat 65 -100 sebanyak 34 siswa atau sebanyak 89 %.
Untuk lebih jelas, hasil Analisis pada siklus II dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas V SDN Seruni 02  Pada Siklus II.
Skor
Jumlah Siswa
Persentase (%)
<65
4
11 %
65-100
34
89 %
Jumlah
38
100 %
Sumber: Data yang di olah
Karena pada siklus II, sudah mencapai ketuntasan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan, maka Analisis data dihentikan pada siklus II, dan tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Tabel 4 dan grafik 1 di bawah ini menjelaskan tentang perbandingan ketuntasan hasil belajar pada Kondisi awal, siklus I, dan siklus II.
           
Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas V SDN Seruni 02 pada Kondisi Awal,  Siklus I, dan Siklus II .
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
18
47%
8
21%
4
11%
65 – 100
20
53%
30
79%
34
89%
Jumlah
38
100%
38
100%
38
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Siswa Kelas V SDN Seruni pada Kondisi Awal,  Siklus I, dan Siklus II .
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Perbandingan Hasil belajar  dari Kondisi awal, siklus I, dan siklus II  tampak pada grafik sebagaimana diatas menunjukkan bahwa model pembelajaran yang tepat sangat menentukan ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya meskipun penelitian dilaksanakan pada bidang studi dan tingkat kelas yang berbeda.
Model pembelajaran Concept attainment merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir dari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. Model pembelajaran concept attainment ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menjadi lebih efektif pada pengembangan konsep.
Penggunaan model pembelajaran concept attainment diawali dengan pemberian contoh-contoh aplikasi konsep yang akan diajarkan, kemudian dengan mengamati contoh-contoh dan menurunkan definisi dari konsep-konsep tersebut. Hal yang paling utama yang musti diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan model pembelajaran ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan, yaitu contoh tentang hal-hal yang akrab dengan siswa. Pada prinsipnya, model pembelajaran concept attainment adalah suatu strategi mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa, dimana guru mengawali pengajaran dengan cara menyajikan data atau contoh, kemudian guru meminta kepada siswa untuk mengamati data atau contoh tersebut. Atas dasar pengamatan ini akan terbentuk abstraksi. Model pembelajaran concept attainment ini dapat membantu siswa pada semua tingkatan usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipothesis.
Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar meliputi hasil belajar sebelum penelitian tindakan dilaksanakan (Kondisi Awal), hasil belajar pada siklus I, hasil belajar pada siklus II. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara meyakinkan.
Berdasarkan observasi langsung peneliti mengetahui bagaimana antusiasisme siswa ketika proses pembelajaran belangsung pada masing-masing kelas. Demikian juga dari hasil wawancara peneliti dengan siswa diketahui bahwa siswa lebih tertarik belajar dengan menggunakan model pembelajaran Concept Attainment.
Alasan ketertarikan terhadap model pembelajaran ini karena selain Concept Attainment belum pernah diterapkan, model pembelajaran ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar dan pengetahuan yang didapat siswa semakin luas. Baik atau buruknya suatu model pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa.
Hasil belajar akan lebih baik jika dalam pelaksanaan pembelajaran siswa dapat berkonsentrasi dalam belajar, tidak membuat kegaduhan, tidak menunjukkan kelesuan dan siswa selalu antusias mengikuti pembelajaran serta dapat memahami materi yang disampaikan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK), maka hasil analisis data dapat peneliti simpulkan sebagai berikut : Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan  Materi Ajar “Organisasi Sekolah” Melalui Model Pembelajaran Concept Attainment Siswa Kelas V SDN Seruni.

Saran-saran
Saran-saran yang peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a.      Untuk guru, hendaknya mempersiapkan lebih matang sebelum mengadakan penelitian tindakan kelas,  baik itu media belajar, ruangan, ataupun siswanya.
b.      Untuk sekolah, agar memberi dukungan dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru.



DAFTAR  RUJUKAN

Ibrahim, H. Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press
Joyce, B. and Weil, M. dan Calhoun, E. .2009 .Model of Teaching. [Eighth Edition].Sydney:Pearson.
Klausmeier, H.J.(1980).Learning and Teaching Concepts:A Strategy for Testing Applications of Theory. San Francisco: Academic Press.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.
Sagala, Syaiful. 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung. Penerbit Alfabeta.
 Sutrisno, Joko. 2008. Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa.
Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
Suryadi. 1989, Membuat Siswa Akff Beiajar Bandung : Mondar Maju. Usman, C. 1997. Menjadi Guru ProfesionaL Bandung: Remaja Rosdakarya,
Uno, Hamzah.B. 2007. Mode Pembelajaran : Menciptakan Proses Belajar
Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta. Bumi Aksara. 
 Wiriaatmadja, R. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung : PPS UPI.