Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENERAPAN PENDEKATAN  KONTEKSTUAL UNTUK  MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MATERI  POKOK MENGIDENTIFIKASI MAKHLUK HIDUP PADA SISWA KELAS III SDN SELODAKON 01

Neny

Abstrak: Penerapan pendekatan kontekstual mampu menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan  penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan Pendekatan kontekstual, siswa bekerja, mengamati dan mengalami,  bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga hasil  pembelajaran diharapkan lebih bermakna. Hasil penelitian menunjukkan: Penerapan Pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA. 

           Kata Kunci:  Pendekatan Kontekstual, Prestasi belajar

PENDAHULUAN
           Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang alam sekitar, dimana siswa dituntut untuk menguasai pengetahuan, fakta – fakta, konsep – konsep, prinsip – prinsip pengetahuan  ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu mempelajari dan memahami alam sekitar. Ilmu Pengetahuan Alam bagi Sekolah Dasar berfungsi untuk menguasai konsep dan manfaat dalam kehidupan sehari – hari.
         Sedangkan tujuan Ilmu Pengetahuan Alam adalah: 1. Menanamkan konsep – konsep Pengetahuan Alam yang bermanfaat untuk ; 2)   kehidupan sehari – hari; 3) Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positip terhadap Ilmu Pengetahuan Alam dan tehnologi; 4) Mengembangkan ketrampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar dan     memecahkan masalah; 5) Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling  mempengaruhi (Depdiknas, 2005). Pengidentifikasian mahluk hidup bagi murid Sekolah Dasar, tentunya tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan, pengidentifikasian mahluk hidup dibagi dua yaitu penggolongan hewan, dan penggolongan tumbuhan.
kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep tersebut, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan, siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil belajar. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar. Apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing (Nurhadi. 2003).
           Pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah dicipkan dalam proses belajar mengajar agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa mengalami sendiri apa yang dipelajarinya.
            Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas dan menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan kehidupan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu, siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi. Misalnya dalam bentuk simulasi, dan masalah yang memang ada di dunia nyata.
          Bila pembelajaran kontekstual diterapkan dengan benar, diharapkan siswa akan terlatih untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata yang ada di lingkungannya. Untuk itu guru perlu memahami konsep pendekatan kontekstual terlebih dahulu dan dapat menerapkannya dengan benar. Agar siswa dapat belajar lebih efektif, guru perlu mendapat informasi tentang konsep – konsep pembelajaran kontekstual dan penerapannya.
           Tugas guru dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas atau siswa 
              Berdasar uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang bervariatif dengan penggunaan metoda yang tepat, sangat berpengaruh terhadap perolehan hasil  belajar siswa. Semakin tepat metoda atau media yang bervariatif yang digunakan selama proses pembelajaran, maka keberhasilan pembelajaran tersebut akan semakin tampak.
               Pendekatan kontekstual salah satunya. Dengan penerapan pendekatan kontekstual, siswa tidak lagi diberi materi secara konvensional, akan tetapi siswa di ajak langsung melihat dunia nyata. Metode ini tentunya sangat membantu siswa dalam mengingat dan memahami materi yang di ajarkan guru. Dengan melihat secara langsung dunia nyata tersebut, siswa tidak akan mudah melupakan apa yang telah di lihatnya. Dunia nyata ini dapat berupa benda tiruan tentang hewan atau tumbuhan, atau benda yang sebenarnya. Dengan murid melihat alam nyata atau benda tiruan, diharapkan hasil evaluasi nantinya akan lebih baik dari pada siswa diberi materi pelajaran secara konvensional.
        Penggolongan hewan masih dibagi lagi menjadi tiga, yaitu hewan herbivora, carnivora, dan omnivora. Dari ketiga jenis hewan tersebut, tentunya satu sama lain berbeda pada jenis makanannya, kehidupannya, penutup tubuhnya, cara geraknya, cara berkembang biaknya, alat pernapasannya, dan lain sebagainya.   Begitu juga dengan penggolongan tumbuhan. Penggolongan tumbuhan dapat dibedakan berdasar bentuk bunganya, bijinya, akarnya, batangnya, bentuk daunnya, dan lain sebagainnya.
              Dengan begitu kompleknya penggolongan hewan dan tumbuhan, murid jelas akan kesulitan dalam menghafalkan dan mengingatnya. Penerapan pembelajaran yang selama ini dilaksanakan secara konvensional, hanya ceramah, tentunya akan menyulitkan dan ketidak maksimalan dalam proses belajar. Murid tidak akan cepat mengingat dan menghafal apa yang dijelaskan guru, tentunya akan berimbas pada hasil perolehan nilai yang kurang memuaskan. Pembelajaran konvensional ini sudah dilaksanakan bertahun – tahun oleh penulis, dan hasilnya memang kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan nilai murid setiap diadakan evaluasi. Oleh karena itu, peneliti mencoba memakai pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran agar pembelajaran lebih maksimal dan perolehan nilai lebih memuaskan.
          Berdasar latar belakang  diatas, maka rumusan penelitian ini adalah Apakah dengan menerapkan pendekatan kontekstual, dapat meningkatkan prestasi belajar IPA materi  pokok mengidentifikasi makhluk hidup pada siswa kelas III SDN Selodakon 01
       Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III SDN Selodakon 01 Kecamatan Tanggul  Kabupaten Jember. Dengan demikian secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi siswa terhadap mata pelajaran IPA materi pokok mengidentifikasi makhluk hidup.
          Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan  bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan untuk mendorong  guru dalam menciptakan metode yang tepat untuk menentukan keberhasilan pengelolaan pembelajaran di sekolah.
Bagi Guru, guru akan terpacu untuk selalu melakukan perbaikan –perbaikan pembelajaran. Selain itu sebagai bahan masukan untuk dijadikan dasar yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Guru lebih berkembang dan terarah dalam pengelola situasi dan kondisi  kelas/pengelola kelas. Bagi Siswa, dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar,  dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan tepat, mampu menyelesaikan   soal yang tidak terbatas dengan waktu yang relatif singkat.

METODE PENELITIAN

Tempat   Pelaksanaan dan Subyek Penelitian
          Penelitian dilaksanakan di SDN Sedolakon 01.  Subyek pada penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Sedolakon 01 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember sebanyak 18 siswa. Responden yang diteliti adalah siswa langsung peneliti. Diharapkan dengan mengambil subyek penelitian ditempat kerja peneliti, kualitas peningkatan mutu pendidikan di sekolah tersebut dapat dibenahi dan ditingkatkan.

Rancangan Penelitian
            Penelitian ini menggunakan  Penelitian Tindakan Kelas.  Meliputi  tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Rachman Saiful, 2006) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan, ”Kemampuan siswa dalam belajar IPA materi pokok mengidentifikasi makhluk hidup  yang masih rendah.
Penelitian ini direncanakan 2 (dua) siklus,  rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi :
1). Refleksi Awal
Peneliti mengidentifikasi permasalahan peningkatan prestasi belajar IPA materi pokok mengidentifikasi makhluk hidup melalui pendekatan kontekstualpada siswa kelas III SDN Sedolakon 01 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember.
            Peneliti merumuskan permasalahan secara operasional. Oleh karena itu, penelitian tindakan lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentative yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.

2). Menetapkan dan merumuskan rancangan yang didalamnya meliputi :
a.         Menetapkan indikator-indikator desain pembelajaran IPA materi pokok mengidentifikasi makhluk hidup beserta strateginya.
b.         Menyusun rancangan strategi penyampaian dan pengelolaan ( rancangan program, bahan, strategi pengawasan dan evaluasi )
c.         Menyusun metode dan alat perekam data berupa catatan lapangan, pedoman observasi,  dan catatan harian.
d.         Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Kegiatan dalam pelaksanaan yang dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)    Peneliti melaksanakan desain pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstualdimana siswa diajak untuk mengamati secara langsung makhluk hidup dengan cara mengajak murid keluar ruangan kelas.
2)    Setiap siswa mempresentasikan hasilnya di depan kelas.
3)    Peneliti dan observer mengobservasi semua kegiatan yang dilakukan siswa.

Refleksi
Refleksi menurut Wardani, Kusumajaya (2004:225), “Melakukan refleksi tidak ubahnya seperti berdiri di depan cermin untuk melihat kembali bayangan atau memantulkan kembali kajadian yang perlu dikaji.”
           Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis, memaknai, menjelaskan, dan menyimpulkan data yang diperoleh dari pengamatan ( bukti empiris ), serta mengaitkan dengan teori yang digunakan ( kerangka konseptual ).
 Hasil yang diperoleh pada siklus I, berupa temuan siswa kurang memahami pengidentifikasian mahluk hidup yang dibagi dalam penggolongan hewan dan tumbuhan., karena pada siklus I peneliti dalam memberikan materi pelajaran secara konvensional dan tidak memakai metoda. Sehingga setelah dilakukan evaluasi, hasilnyapun kurang memuaskan. Oleh karena itu hasil evaluasi pada siklus I yang kurang memuaskan tersebut, direfleksi  pada siklus II dengan cara peneliti memakai pendekatan kontekstualselama proses belajar. Sehingga kekurang pahaman siswa dapat ditingkatkan.

Metoda  Pengumpulan Data  dan  Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya maka perlu teknik pengumpulan data  yaitu: test, observasi dan dokumentasi.

Teknik Analisis Data
        Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Secara garis besar kegiatannya menggunakan langkah-langkah berikut: Penelahaan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensintesis, memaknai menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan. Hasil yang diperoleh berupa penggolongan hewan dan tumbuhan beserta ciri dan sifatnya. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian temuan penelitian.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Materi pembelajaran IPA sebetulnya merupakan materi pembelajaran yang bersifat abstrak. Oleh sebab itu dalam pemberian materi pelajaran ini sebaiknya guru menggunakan metode yang tepat agar siswa lebih mudah dalam memahaminya.
Hasil penelitian penulis selama ini memang guru dalam memberikan materi pelajaran IPA tidak pernah berubah, tetap secara konvensional. Begitu juga yang dilakukan di tempat peneliti. Dengan pemberian materi secara konvensional tersebut, tentunya berdampak pada perolehan nilai. Hasil evaluasi yang diperoleh siswa tidak pernah maksimal. Hal ini disebabkan siswa kurang memahami apa yang disampaikan guru. Apalagi dalam penyampaian materi, guru seenaknya sendiri dalam memberikan tugas kepada siswa
 Oleh karena itu peneliti melakukan tindakan kelas, dikandung maksud dengan tindakan kelas yang berupa pemberian metode kontekstual, siswa lebih termotivasi dan lebih maksimal dalam menyerap materi.
Dalam penelitian ini, penelitian memakai alur tahapan (perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi disajikan dalam dua siklus).



Kondisi Pra Tindakan .
        Sebagaimana biasa  dalam pembelajaran  diawaali dengan  menyusun skenario pembelajaran melalui Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut : Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit.    b. Siklus I, dilaksanakan 2 x tatap muka, yaitu pada jam pertama dan jam   ke dua.. Tatap muka pertama murid diberi materi dengan menerapkan  pembelajaran konvensional  metode ceramah  dan tatap muka ke 2,  pemberian soal evaluasi. Hasil observasi pada murid dalam mengikuti materi pelajaran kurang termotivasi. Hal ini mungkin dikarenakan proses belajar mengajarnya yang kurang menarik dan membosankan. Guru dalam menyampaikan materi hanya ceramah dan sesekali menulis di papan tulis. Murid sebatas mendengarkan dan tidak ada satupun yang bertanya. Akhir dari pemberian materi, guru memberikan soal evaluasi. dan hasilnya sbb :

Hasil  Belajar Kondisi Pra Siklus/ Pra Tindakan .

SKOR
JUMLAH SISWA
Mean

%
<6 (belum Tuntas)
7
38,8
5,7

6-10 (tuntas)
11
61,11



              Dari hasil evaluasi  pra tindakan, diperoleh hasil murid yang nilainya kurang dari 6 atau dapat 5,  terdapat 7 anak. Murid yang dapat nilai 6 ada 9 anak, dan murid yang dapat nilai 7, ada 2 anak. Sehingga nilai rata – rata pada siklus I, adalah 5,7. Jika dibandingkan dengan indikator keberhasilan belajar. Dimana  ketuntasan individual minimal mencapai skor 6 dan ketuntasan klasikal 85 %. Dengan demikian berarti belum memenuhi standat ketentuan KKM/SKM.
               Dengan perolehan hasil ualangan tersebut, tentunya peneliti perlu mengadakan  perbaikan yang dilaksanakan pada siklus I. 
                                                                                         
 Siklus I
 Perencanaan
             Pada siklus II ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
             silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit, 2 x tatap muka.
          b. Tatap muka pertama murid diajak keluar kelas dan pada tatap muka ke
                 dua  murid diberi soal evaluasi.

  Pelaksanaan
             a.  Peneliti membagi murid menjadi 3  kelompok. Masing –
                  masing kelompok terdiri dari 6 murid.  Sebelum murid diajak   keluar
                  ruangan,   murid diberi pengarahan terlebih dahulu  bahwa mereka
                 akan diajak langsung mengamati berbagai macam hewan dan
                  tumbuhan yang  ada di luar kelas. Selain mereka mengamati secara
                  langsung, mereka juga diharuskan membawa gambar tiruan atau
                  bentuk copyan tentang gambar – gambar hewan dan tumbuhan dari
                  buku atau koran.
b..Tugas masing – masing kelompok  mengamati dan  mengelompokan
     hewan dan tumbuhan berdasar tempat hifupnya, makanannya, penutup  
     tubuhnya, cara berkembang biaknya,
c.    Tugas berikutnya adalah masing - masing kelompok  mempresentasikan   dan memajangkan hasil kerja kelompok dipapan pajangan.      
    d.  Akhir pembelajaran, murid diberi soal evalauasi.

 Observasi.
             Hasil observasi pada siklus I, dengan penggunaan pendekatan Kontekstual dimana murid diajak langsung melihat dan mengamati hewan dan tumbuhan nyata, murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran lecih bersemangat dan bergairah. Mereka lebih termotivasi dibanding sebelumnya siklus. Hal ini dikarenakan proses belajar mengajarnya yang lebih  menarik dan menyenangkan. Akhir dari pembelajaran, murid diberi soal evaluasi dan hasilnya sbb :
                                                      Hasil Siklus I                                         

SKOR
JUMLAH SISWA
Mean

%
<6 (belum Tuntas)
5
27,8%
7,5

6-10 (tuntas)
13
72,2%







Refleksi.
            Dari evaluasi pada siklus II,  hasil nilai murid lebih meningkat dibanding pra siklusI. Yang mendapat nilai 6 ada 5 ana. Yang mendapat nilai 7, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 4 anak. Yang mendapat nilai 9, ada 2 anak, dan yang mendapat nilai 10, ada 2 anak. Rata – rata nilai pada siklus I ini 7,5.
            Dengan hasil perolehan nilai murid yang menurut peneliti sudah baik karena tidak ada murid yang nilainya kurang dari 6, Jika dibandingkan dengan indikator keberhasilan belajar. Dimana  ketuntasan individual minimal mencapai skor 6 dan ketuntasan klasikal 85 %. Dengan demikian berarti belum memenuhi standat ketentuan KKM/SKM. maka  masih perlu dilakukan perbaikan lanjutan pada siklus II.

Siklus II
Perencanaan
             Pada siklus III ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
             silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit, 2 x tatap muka.
          b. Tatap muka pertama murid diajak keluar kelas dan pada tatap muka ke
                 dua  murid diberi soal evaluasi.

 Pelaksanaan
            a.  Peneliti membagi murid menjadi 6  kelompok. Masing –
                  masing kelompok terdiri dari 3 murid, dengan pendampingan intensif.    
                   Sebelum murid diajak   keluar  ruangan,   murid diberi pengarahan
terlebih dahulu  bahwa mereka   akan diajak langsung mengamati berbagai macam hewan dan  tumbuhan yang  ada di luar kelas. Selain mereka mengamati secara langsung, mereka juga diharuskan membawa gambar tiruan atau    bentuk copyan tentang gambar – gambar hewan dan tumbuhan dari buku atau koran.
b..Tugas masing – masing kelompok  mengamati dan  mengelompokan
     hewan dan tumbuhan berdasar tempat hifupnya, makanannya,   
    penutup   tubuhnya, cara berkembang biaknya,
d.    Tugas berikutnya adalah masing - masing kelompok  mempresentasikan   dan memajangkan hasil kerja kelompok dipapan pajangan.      
    d.  Akhir pembelajaran, murid diberi soal evalauasi.

Observasi.
             Hasil observasi pada siklus II, dengan penggunaan pendekatan Kontekstual dimana murid diajak langsung melihat dan mengamati hewan dan tumbuhan nyata, murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran lecih bersemangat dan bergairah. Mereka lebih termotivasi dibanding pada siklus I  . Hal ini mungkin karena mereka mengulang untuk yang ke dua kalinya dalam pengamatan. Akhir dari pembelajaran, murid diberi soal evaluasi dan hasilnya sbb :

                                                      Hasil Siklus II                                       

SKOR
JUMLAH SISWA
Mean

%
<6 (belum Tuntas)
0
0%

8,8


     6-10 (tuntas)
18
100%


Refleksi.
              Dari evaluasi pada siklus II,  hasil nilai murid lebih meningkat dibanding siklus I  Hasil yang didapat tidak ada murid yang mendapat nilai 6. yang mendapat nilai 7, hanya 2 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 9, ada 5 anak. Dan yang mendapat nilai 10, ada 6 anak. Jumlah nilai rata – ratanyapun meningkat menjadi 8,8.
              Dengan hasil perolehan nilai murid yang meningkat tersebut, menurut peneliti sudah  tidak perlu direfleksi lagi.

 Pembahasan
          Metode kontekstual merupakan metode yang menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan alam nyata. Murid di ajak keluar kelas atau mengamati model tiruan hewan dan tumbuhan. Dengan pembelajaran kontekstual, murid melihat langsung benda yang sebenarnya. Dengan melihat langsung hewan dan tumbuhan yang sebenarnya atau tiruannya, murid akan mudah mempelajari dan mengingatnya.
         Selain itu, pembelajaran kontekstual membuat murid lebih aktif dan kreatif.  perolehan nilai semula nilai rata – ratanya 5,7, meningkat menjadi 7,5 pada siklus I, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi  8,8. Hal ini  selaras denga  teori yang di ungkapkan oleh Nurhadi (2003) bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan  penerapannya dalam kehidupan yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Penerapan Pendekatan kontekstual  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA.  Penerapan pendekatan kontekstual ini mampu menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan  penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan Pendekatan kontekstual, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah.  Dengan Pendekatan kontekstual, siswa bekerja, mengamati dan mengalami,  bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa, sehingga hasil  pembelajaran diharapkan lebih bermakna.



Saran-Saran
      Diharapkan semua guru dapat  menerapkan pendekatan  kontekstual agar hasil belajar siswa dapat meningkat. Kreativitas pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar hendaknya selalu dikembangkan, selain untuk meningkatkan prestasi siswa, juga merupakan peningkatan keprofesionalismean guru.

DAFTAR  RUJUKAN
Mulyasa, E, 2005. Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan menyenagkan, Bandung: Remaja Rosdakarya PT
Wardani, Kusumajaya .2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: UT
Surahmad, Winarno, 1980. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.
Sudirman, 2006.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta:  Ditjendikti
Rachman Saiful dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah.Surabaya:  Sic.