Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENERAPAN COLLABORATIVE LEARNING DAN  MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN  AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM MATERI AJAR “STRUKTUR AKAR”

Endang Siti Rahayu

Abstrak:  Dalam collaborative learning  terjadi proses memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, Tujuan Penelitian Tindakan Kelas untuk mengkaji tentang : Penerapan Collaborative Learning Melalui Media Gambar Untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Struktur Akar” Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01.  Hasil Penelitian  Penerapan Collaborative Learning Melalui Media Gambar dapat  Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam ketuntasan belajar kondisi awal  53% , pada siklus pertama meningkat menjadi 75 % dan pada siklus kedua  meningkata menjadi 94%.

          Kata Kunci:  Collaborative Learning, Media Gambar Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar, dan merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.Pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam tidak hanya bertujuan untuk memahami pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep Ilmu Pengetahuan Alam, tetapi untuk mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan untuk mencapai pengetahuan itu. Dengan kata lain, hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam bukan hanya sebagai produk, tetapi juga pengembangan proses. Keterampilan yang diharapkan  dinamakan keterampilan intelektual, atau  keterampilan proses (Depdiknas, 2005).
Sesuai dengan prinsip cara belajar siswa aktif, maka pemilihan metode itu harus berdasarkan pilihan metode mengajar yang akan meningkatkan derajat keaktifan siswa. Persoalan keterbatasan sumber belajar antara lain adalah lingkungan, perpustakaan, alat bantu mengajar, TV, radio, film, dan lain-lain. Sumber belajar-sumber belajar tersebut dapat digunakan siswa untuk belajar aktif, didorong oleh motivasi keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, dan oleh minat. Penggunaan alat-alat pendidikan untuk membantu proses belajar-mengajar sesuai dengan perkembangan teknik komunikasi, dinamakan teknologi pengajaran.
Hasil belajar yang kurang baik, tentu saja akan mengakibatkan nilai yang diperoleh siswa tidak memuaskan. Perolehan nilai kurang ini akan menimbulkan perasaan bahwa pelajaran itu sulit. Ketidakpuasan yang berlebihan menimbulkan rasa frustrasi yang pada akhirnya menimbukan kebencian terhadap mata pelajaran tersebut. Tetapi di lain pihak timbul anggapan bahwa pelajaran yang sulit itu adalah lebih berharga. Siswa yang berhasil dalam pelajaran tersebut dianggap mempunyai kelebihan dari lainnya. Sebaliknya bagi siswa yang tidak berhasil akan menimbulkan rendah diri dari perasaan bodoh.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama mengajar, pembelajaran IPA secara konvensional kurang mendapat perhatian dan simpati dari siswa. Saat proses pembelajaran berlangsung banyak siswa yang kurang memperhatikan dengan sungguh-sungguh, berbicara dengan temannya, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak terfokus pada mata pelajaran. Hal ini sangat merepotkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, sebab guru disibukkan dengan urusan penertiban suasana kelas yang kurang mendukung. Sehingga penyampaian materi kurang maksimal dan siswa juga tidak bisa memahami materi pelajaran secara maksimal pula. Karena itu peneliti berinisiatif mengadakan  perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu:  1) Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;2)Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Kemampuan gambar dapat berbicara banyak dari seribu kata hal ini mempunyai makna bahwa gambar merupakan suatu ilustrasi yang memberikan pengertian dan penjelasan yang amat banyak dan lengkap dibandingkan kita hanya membaca dan  memebrikan suatu kejelasan pada sebuah masalah karena sifatnya yang lebih konkrit (nyata). Tujuan penggunaan gambar dalam pembelajaran adalah :  1) Menerjemahkan symbol verbal;  2)Mengkonkritkan dan memperbaiki kesan-kesan yang salah dari ilustrasi lisan; 3) Memberikan ilustrasi suatu buku, dan  4)Membangkitkan motivasi belajar dan menghidupkan suasana kelas.
Dalam pembelajaran di sekolah dasar media gambar sangat baik di gunakan dan di terapkan dalam proses belajar mengajar sebagai media pembelajaran karena media gambar ini cenderung sangat menarik hati siswa sehingga akan muncul motivasi untuk lebih ingin mengetahui tentang gamabar yang dijelaskan dan gurupun dapat menyampaikan materi dengan optimal melalui media gamabar tersebut.
Collaborative learning atau pembelajaran kolaboratif adalah situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-sama.  Tidak seperti belajar sendirian, orang yang terlibat dalam collaborative learning memanfaatkan sumber daya dan keterampilan satu sama lain (meminta informasi satu sama lain, mengevaluasi ide-ide satu sama lain, memantau pekerjaan satu sama lain, dll).
Media gambar dipilih sebagai sarana memperbaiki pembelajaran karena  mampu membangkitkan minat siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian berdampak pada peningkatan pemahaman materi dan peningkatan hasil belajar  belajar siswa. Pembelajaran yang efektif dan bermakna akan berlangsung apabila dapat memberikan keberhasilan bagi siswa maupun guru itu sendiri. Hal ini betul-betul terjadi karena seorang guru akan memperoleh kepuasan apabila telah melaksankan tugas mengajar dengan baik dan akan dapat tercapai hasil belajar secara optimal, apabila prose pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peseta didik. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat aktif, baik secara fisik, dan mental, penuh konsentrasi sehingga hasil belajar akan sesuai dengan KKM yang telah ditentukan , bahkan melampaui.
Berdasarkan uraian diatas , masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dirumuskan sebagai berikut : Penerapan Collaborative Learning Melalui Media Gambar Apakah Dapat Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Struktur Akar” Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01 Kecamatan Sukorambi ?
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji tentang : Penerapan Collaborative Learning Melalui Media Gambar Untuk Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Struktur Akar” Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)     Bagi Siswa, dapat menumbuhkan motivasi untuk mempelajari IPA,
b)     Bagi Guru, dapat memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran IPA,
c)     Bagi Sekolah, dapat memberikan masukan yang baik untuk menentukan kebijakan di masa yang akan datang sebagai upaya untukmeningkatkan kualitas pembeljaran di sekolah.

METODE PENELITIAN
Tempat melakukan penelitian yaitu di SDN Sukorambi 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember. Subyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IV SDN Sukorambi 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.

Rancangan Penelitian
            Rancangan yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah Model John Elliot. Maksud disusunnya secara terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar. Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di   dalam  kenyataan   praktik  di   lapangan  setiap   pokok  bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.
SIKLUS PELAKSANAAN PTK
Description: siklus-ptk.jpg
Gambar 1: Penelitian Tindakan  Model John Elliot

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
Banyak model PTK yang dapat diadopsi dan diimplementasikan di dunia pendidikan. Namun secara singkat, pada dasarnya PTK terdiri dari 4 (empat) tahapan dasar yang saling terkait dan berkesinambungan: (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).
Namun sebelumnya, tahapan ini diawali oleh suatu Tahapan Pra Tindakan, yang meliputi: Identifikasi masalahAnalisis masalahRumusan masalahRumusan hipotesis tindakan
Tahapan Pra Tindakan  ini sangat penting untuk dilaksanakan sebelum suatu rencana tindakan disusun. Tanpa tahapan ini suatu proses Penelitian Tindakan Kelas akan kehilangan arah dan arti sebagai suatu penelitian ilmiah.
Jadi, tahapan pra tindakan  ini sesungguhnya suatu reflektif dari guru terhadap masalah yang ada dikelasnya. Masalah ini tentunya bukan bersifat individual pada salah seorang murid saja, namun lebih merupakan masalah umum yang bersifat klasikal, misalnya kurangnya motivasi belajar di kelas, rendahnya kualitas daya serap klasikal, dan lain-lain.
Berangkat dari hasil pelaksanaan tahapan Pra Tindakan inilah suatu rencana tindakan dibuat.
1.    Perencanaan Tindakan;
Berdasarkan pada identifikasi masalah yang dilakukan pada tahap pra tindakan, rencana tindakan disusun untuk menguji secara empiris hipotesis tindakan yang ditentukan. Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci. Segala keperluan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, mulai dari materi/bahan ajar, rencana pengajaran yang mencakup metode/ teknik mengajar, serta teknik atau instrumen observasi/ evaluasi, dipersiapkan dengan matang pada tahap perencanaan ini. Dalam tahap ini perlu juga diperhitungkan segala kendala yang mungkin timbul pada saat tahap implementasi berlangsung. Dengan melakukan antisipasi lebih dari diharapkan pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan.
2.    Pelaksanaan Tindakan;
Tahap ini merupakan implementasi ( pelaksanaan) dari semua rencana yang telah dibuat. Tahap ini, yang berlangsung di dalam kelas, adalah realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang dilakukan guru tentu saja mengacu pada kurikulum yang berlaku, dan hasilnya diharapkan berupa peningkatan efektifitas keterlibatan kolaborator sekedar untuk membantu si peneliti untuk dapat lebih mempertajam refleksi dan evaluasi yang dia lakukan terhadap apa yang terjadi dikelasnya sendiri. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori pembelajaran yang dikuasai dan relevan.
3.    Pengamatan Tindakan;
Kegiatan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Data yang dikumpulkan pada tahap ini berisi tentang pelaksanaan tindakan dan rencana yang sudah dibuat, serta dampaknya terhadap proses dan hasil intruksional yang dikumpulkan dengan alat bantu instrumen pengamatan yang dikembangkan oleh peneliti. Pada tahap ini perlu mempertimbangkan penggunaan beberapa jenis instrumen ukur penelitian guna kepentingan triangulasi data. Dalam melaksanakan observasi dan evaluasi, guru tidak harus bekerja sendiri. Dalam tahap observasi ini guru bisa dibantu oleh pengamat dari luar (sejawat atau pakar). Dengan kehadiran orang lain dalam penelitian ini, Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan menjadi bersifat kolaboratif. Hanya saja pengamat luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Terdapat empat metode observasi, yaitu : observasi terbuka; observasi terfokus; observasi    terstruktur  dan   observasi   sistematis.  Beberapa  prinsip
yang harus dipenuhi dalam observasi, diantaranya: (a) ada perencanaan guru; (b) fokus observasi harus ditetapkan bersama; (c) guru dan pengamat membangun kriteria bersama; (d) pengamat memiliki keterampilan mengamati; dan (e) balikan hasil pengamatan diberikan dengan segera. Adapun keterampilan yang harus dimiliki pengamat diantaranya: (a) menghindari kecenderungan untuk membuat penafsiran; (b) adanya keterlibatan keterampilan antar pribadi; (c) merencanakan skedul aktifitas kelas; (d) umpan balik tidak lebih dari 24 jam; (d) catatan harus teliti dan sistemaris
4.    Refleksi Terhadap Tindakan;
Tahapan ini merupakan tahapan untuk memproses data yang didapat saat dilakukan pengamatan. Data yang didapat kemudian ditafsirkan dan dicari eksplanasinya, dianalisis, dan disintesis. Dalam proses pengkajian data ini dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolaborator, seperti halnya pada saat observasi. Keterlebatan kolaborator sekedar untuk membantu peneliti untuk dapat lebih tajam melakukan refleksi dan evaluasi. Dalam proses refleksi ini segala pengalaman, pengetahuan, dan teori instruksional yang dikuasai dan relevan dengan tindakan kelas yang dilaksanakan sebelumnya, menjadi bahan pertimbangan dan perbandingan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang mantap dan sahih. Proses refleksi ini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan suatu keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas. Dengan suatu refleksi yang tajam dan terpecaya akan didapat suatu masukan yang sangat berharga dan akurat bagi penentuan langkah tindakan selanjutnya. Refleksi yang tidak tajam akan memberikan umpan balik yang misleading dan bias, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan suatu Penelitian Tindakan Kelas. Tentu saja kadar ketajaman proses refleksi ini ditentukan oleh ketajaman dan keragaman instrumen observasi yang dipakai sebagai upaya triangulasi data. Observasi yang hanya mengunakan satu instrumen saja. Akan menghasilkan data yang miskin. Adapun untuk memudahkan dalam refleksi bisa juga dimunculkan kelebihan dan kekurangan setiap tindakan dan ini dijadikan dasar perencanaan siklus selanjutnya. Pelaksanaan refleksi diusahakan tidak boleh lebih dari 24 jam artinya begitu selesai observasi langsung diadakan refleksi bersama kolaborator.
Demikianlah, secara keseluruhan keempat tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini membentuk suatu siklus. Siklus ini kemudian diikuti oleh siklus-siklus lain secara bersinambungan seperti sebuah spiral.
Kapan siklus-siklus tersebut berakhir? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh si peneliti sendiri. Kalau dia sudah merasa puas terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kegiatan Penelitian Tindakan Kelas yang dia lakukan, maka dia akan mengakhiri siklus-siklus tersebut. Selanjutnya, dia akan melakukan satu identifikasi masalah lain dan kemudian diikuti oleh tahapan-tahapan Penelitian Tindakan Kelas baru guna mencari solusi dari masalah tersebut.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 teknik, yaitu teknik observasi dan teknik tes.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan ada yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh dikatagorikan dan diklasifikasikan berdasarkan analisis kaitan logisnya, kemudian disajikan secara aktual dan sistematis dalam keseluruhan permasalahan dan kegiatan penelitian.
Selanjutnya untuk menganalisis data, hasil tindakan yang dilakukan penulis disajikan secara bertahap sesuai urutan siklus yang telah dilaksanakan, adapun prosedur pengolahan data adalah sebagai berikut: 1)Seleksi Data:Data yang telah terkumpul dari hasil observasi selama kegiatan penelitian maka diadakan penyeleksian data yang ada kaitannya dengan tujuan penelitian. 2)  Klasifikasi Data.Data yang terkumpul berdasarkan penyeleksian, diklasifikasikan berdasarkan urutan logis untuk disajikan secara sistematis berdasarkan urutan siklus.’ 3)  Prosentase Data,Tahap akhir dari teknik analisis data, dilakukan prosentase data bagi data yang telah terkumpul beradasarkan klasifikasi.

Indikator Keberhasilan
Dari tahap kegiatan pada siklus I dan II, hasil yang diharapkan adalah : 1)Siswa memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam proses pembelajaran IPA sebanyak ≥ 80 %.; 2)Terjadi  peningkatan  prestasi  siswa     pada    mata     pelajaran IPA    ≥ 70 %.; 3)Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal  > 85 %, maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
A. Deskripsi Pra Tindakan
§  Keadaan Siswa
Berdasarkan data yang diperoleh dari sekolah, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran  mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “ Struktur Akar” siswa Kelas IV SD Negeri Sukorambi 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember  kurang antusias, hal ini salah satu penyebabnya adalah guru tidak menggunakan media pembelajaran yang tepat.

§  Kemampuan Siswa
Dalam kegiatan orientasi dan identifikasi masalah, terlebih dahulu dilakukan tes untuk mengetahui kemampuan siswa (tes awal) pada pra tindakan tentang mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar        “ Struktur Akar”.  Adapun hasil yang diperoleh dari tes awal adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01 Pada Pra Tindakan.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
17
47%
65 – 100
19
53%
Jumlah
36
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil belajar pada Pra Tindakan diperoleh data, siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa atau sebanyak 47%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebanyak 53%. Maka pada Pra Tindakan, hasil belajar siswa dinyatakan belum tuntas belajar. Selanjutnya perbaikan pembelajaran dilaksanakan pada siklus I.

B.   Deskripsi Pembelajaran  Siklus I
Tindakan Pembelajaran
a)     Tahap Perencanaan
Tindakan pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah dengan menerapkan collaborative learning melalui media gambar, berdasarkan perencanaan tindakan penelitian yang telah ditetapkan.

b).  Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pada Siklus I meliputi kegiatan guru dalam mengajar, yaitu :
Peneliti yang sekaligus menjadi guru mata pelajaran Ilmu  Pengetahuan Alam :
  • Mengawali kegiatan dengan mengkondisikan siswa pada situasi belajar yang kondusif
  • Membagi siswa menjadi 7 kelompok, masing-masing kelompok beranggota 5 siswa
  • Menyiapkan gambar tentang struktur akar
  • Menyampaikan materi ajar “Struktur Akar”
  • Memberikan apersepsi dengan memberikan beberapa pertanyaan yang ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan
  • Memberikan lembar kerja untuk dikerjakan dan dilaksanakan oleh setiap kelompok
  • Membimbing siswa dalam melakukan kegiatan
  • Menyuruh untuk melaksanakan diskusi kelompok
  • Menjadi moderator dalam kegiatan diskusi
  • Guru memberikan lembar kerja untuk dikerjakan dan dilaksanakan oleh setiap kelompok
  •  
c). Refleksi
Pada kegiatan pembelajaran siklus I, terlihat sebagian besar  siswa tampak penasaran dengan model pembelajaran yang diterapkan, sehingga ada beberapa siswa yang tampak antusias dengan proses pembelajaran ini.  Ada beberapa siswa tampak aktif mengikuti pembelajaran namun juga masih ada beberapa siswa yang masih kebingungan saat di beri pertanyaan oleh guru.

d)     Hasil Belajar pada Siklus I
Berdasarkan data yang terkumpul dari hasil evaluasi yang dilaksanakan pada Siklus I, masih ada beberapa siswa yang belum bisa menjawab soal-soal yang diberikan, secara rinci hasil yang diperoleh siswa adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Sukorambi Pada Siklus I.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
9
25%
65 – 100
27
75%
Jumlah
36
100%
Sumber : Data yang diolah
            Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar pada siklus I dibandingkan dengan hasil belajar pada pra tindakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebanyak 25%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 27 siswa atau sebanyak 75%. Maka pada siklus I, hasil belajar siswa dinyatakan tuntas belajar.  Namun untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik lagi, pembelajaran dilanjutkan pada siklus II.
Hasil refleksi dari siklus I merupakan rekomendasi untuk siklus II agar pembelajaran lebih baik dan sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun kegiatan perencanaan untuk kegiatan pembelajaran siklus II antara lain merevisi kekurangan-kekurangan yang terjadi pada proses pembelajaran siklus I.

C.  Deskripsi Dan Pembahasan Siklus II
Tindakan penelitian siklus II berdasarkan refleksi siklus l, dengan tahapan dibawah ini :
Tindakan Pembelajaran
a)     Tahap Perencanaan
Tindakan pembelajaran yang akan dilaksanakan adalah dengan menerapkan collaborative learning melalui media gambar, berdasarkan perencanaan tindakan penelitian yang telah ditetapkan dan memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I.
b).  Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran pada Siklus II meliputi kegiatan guru dalam mengajar, yaitu : Peneliti yang sekaligus menjadi guru mata pelajaran Ilmu  Pengetahuan Alam :
  • Mengawali kegiatan dengan mengkondisikan siswa pada situasi belajar yang kondusif
  • Membagi siswa menjadi 7 kelompok, masing-masing kelompok beranggota 5 siswa, pada siklus II peneliti mengacak kembali pembentukan kelompok agar siswa terbiasa belajar dengan teman yang lain
  • Menyiapkan gambar tentang struktur akar
  • Menyampaikan materi ajar “Struktur Akar”
  • Memberikan apersepsi dengan memberikan beberapa pertanyaan yang ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan
  • Memberikan lembar kerja untuk dikerjakan dan dilaksanakan oleh setiap kelompok
  • Membimbing siswa dalam melakukan kegiatan
  • Menyuruh untuk melaksanakan diskusi kelompok
  • Menjadi moderator dalam kegiatan diskusi
  • Guru memberikan lembar kerja untuk dikerjakan dan dilaksanakan oleh setiap kelompok
c)Refleksi
Pada kegiatan pembelajaran siklus II, terlihat siswa semakin mengerti dengan materi yang diajarkan. Model pembelajaran collaborative learning melalui media gambar berhasil membuat siswa lebih mudah dalam memahami materi dan aktivitas siswa dalam proses pembelajarn juga semakin meningkat.
d)  Hasil Belajar pada Siklus II
Berdasarkan data yang terkumpul dari hasil evaluasi yang dilaksanakan pada Siklus II, secara rinci dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01 Pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
2
6%
65 – 100
34
94%
Jumlah
36
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar yang sangat menggembirakan, karena hasil belajar pada siklus II secara klasikal  dinyatakan tuntas belajar. Siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebanyak 6%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 34 siswa atau sebanyak 94%. Maka penelitian dihentikan , dan tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat dengan lebih jelas, peningkatan hasil belajar dari mulai Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II , dapat disajikan pada tabel 4 dan grafik 1 di bawah ini.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01 Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan siklus II.
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
17
47%
9
25%
2
6%
65 – 100
19
53%
27
75%
34
94%
Jumlah
36
100%
36
100%
36
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01
Sumber : data yang diolah

 Pembahasan
            Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dikatakan cukup berhasil, karena ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa yang sangat menggembirakan. Hal ini dapat dilihat pada pra tindakan, hasil belajar siswa dinyatakan belum tuntas belajar karena siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 17 siswa atau sebanyak 47%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 19 siswa atau sebanyak 53%.
            Selanjutnya, hasil belajar pada siklus I dengan penerapan collaborative learning melalui media gambar, berhasil meningkatkatkan hasil belajar siswa, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebanyak 25%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 27 siswa atau sebanyak 75%. Maka pada siklus I, hasil belajar siswa dinyatakan tuntas belajar.  Namun untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik lagi, pembelajaran dilanjutkan pada siklus II.
Selanjutnya hasil belajar pada siklus II terjadi peningkatan yang sangat menggembirakan, karena hasil belajar pada siklus II secara klasikal  dinyatakan tuntas belajar. Siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 2 siswa atau sebanyak 6%, dan siswa yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 34 siswa atau sebanyak 94%. Maka penelitian dihentikan , dan tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Dengan demikian, collaborative learning melalui media gambar dapat menjadi alternative pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan mata pelajaran lain yang mempunyai karakter yang sama.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu: 1)Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata; 2)Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna. Namun, setiap model pembelajaran pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan , untuk guru harus bisa menyesuaikan dengan kondisi dan karakter siswa yang ada di dalam kelas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
              Berdasarkan penelitian tindakan kelas (PTK) dan hasil analisis data yang telah dilaksanakan maka peneliti simpulkan sebagai berikut : Penerapan Collaborative Learning Melalui Media Gambar Dapat Meningkatkan  Aktivitas Dan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Struktur Akar” Siswa Kelas IV SDN Sukorambi 01.

 Saran-saran
Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang peneliti sampaikan adalah :
1)         Untuk guru,  hendaknya membina dan mengembangkan kemampuan menyerap informasi tentang media pembelajaran seperti audio visual, misalnya melalui kegiatan KKG, seminar, dan dari media cetak,
2)         Untuk Sekolah, hendaknya mendukung penelitian tindakan kelas yang diadakan oleh guru dengan menyiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan supaya mendapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas.2005. Kurikulum Pendidikan Dasar, Dirjen Dikdasmen.
H. Udin. 1987. Strategi Pembelajaran . Jakarta: Dirjen Dikti..
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Roestiyah. 1994. Masalah Pengajaran Sebagai suatu Sistem.Jakarta: Rineka Cipta.
Kasihani Kasbolah,.1998. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Ditjendikti.
Krisna. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri   Pembelajaran.
Moleong, L. Y. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Penerbit Remaja Rosdakarya.
Nana Sujana,1991. Media Pengajaran.  Bandung. Sinar Baru.
Ngalim  Purwanto, 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung Remaja Rosda Karya.
Riyanto, Y. 2001. Melodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Penerbit SIC.
Robert Burns. 1994. Introduction to Research Methods. Australia. Longman Pty. Ltd.

Sudjana, D.2001. Penilaian Dalam Manajemen Program Pendidikan. Bandung: CV Fallah Production.