Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENGGUNAAN METODE OBSERVASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS  PROSES DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI SUKORAMBI

Imam Suparto

Abstrak:Metode observasi  dalam pembelajaran siswa secara langsung  melakukan  pengamatan dan pencatatan  terhadap fakta, data dan gejala yang diteliti  sehingga siswa  berproses secara optimal dan melakukan learning by doing.  Proses pembelajaran dan Hasil yang dicapai siswa mengalami peningkatan dari kondisi awal  ketuntasan hanya mencapai 58.% meningkat menjadi 85,6 %.

Kata Kunci:  Metode Observasi, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
 Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang alam sekitar, dimana siswa dituntut untuk menguasai pengetahuan, fakta – fakta, konsep – konsep, prinsip – prinsip pengetahuan  ilmiah.Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar bermanfaat bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu mempelajari dan memahami alam sekitar ( Depdiknas, 2005)
Salah satu cirri mahluk hidup adalah berkembang biak. Tujuan dari perkembang biakan adalah untuk melestarikan keturunan. Cara perkembang biakan mahluk hidup, tentunya berbeda – beda satu sama lain. Perkembang biakan pada manusia misalnya, akan berbeda dengan perkembang biakan pada hewan dan tumbuhan. Pada manusia, perkembang biakan dimulai dari masa bayi, masa anak – anak, remaja, dan dewasa. Masa yang paling sensitive pada manusia adalah pada masa pra pubertas dan pubertas. Pada masa ini manusia akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada laki – laki akan ditandai dengan badan yang bertambah tinggi, dada terlihat bertambah bidang, tumbuh kumis, tumbuh rambut – rambut halus disekitar alat kelamin,tumbuh jakun, suara lebih berat, dan organ kelamin membesar. Pada perempuan lain lagi cirri – cirri pertumbuhannya. Pada perempuan pada masa pubertas akan ditandai dengan diproduksinya sel telur. Hal ini ditandai dengan menstruasi ( haid ).  Sedangkan pada hewan akan dimulai dari masa bertelur, menetas dan kemudian menjadi hewan dewasa. Perkembang biakan pada hewan akan berbeda satu sama lain. Pada kupu – kupu, akan mengalami metamorfosis sempurna yang dimulai dari telur, ulat, kepompong, baru menjadi kupu – kupu. Selain bertelur, hewan juga  melahirkan (Subiyanto. 2000,  Nono Sutarno, 2007).
           Dengan perkembang biakan hewan maupun tumbuhan yang berbeda – beda tersebut, tentunya sulit dimengerti siswa apabila penyajian materi pembelajaran materi pokok perkembang biakan dan pertumbuhan disampaikan hanya secara konvensional. Penyampaian materi yang secara konvensional, hanya berupa ceramah saja akan berpengaruh pada hasil evaluasi siswa. Oleh karena itu, pada penelitian ini, peneliti mengambil judul “ Penggunaan metode observasi untuk meningkatkan prestasi belajar IPA materi pokok pertumbuhan dan perkembangan pada siswa kelas VIII SMP Negeri Sukorambi kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember, agar siswa lebih memahami materi yang disajikan.
          Dalam rangka usaha peningkatan mutu pendidikan telah banyak upaya yang dilakukan, antara lain pemberian sarana prasarana belajar seperti buku paket, LKS dan buku penunjang lainnya. Begitu juga dengan pengadaan sarana belajar lainnya, misalnya, Perpus dan fasilitas lainnya. Begitu juga dengan peningkatan mutu guru. Dengan adanya Permen Diknas yang memprogramkan bahwa guru SD harus Sarjana Pendidikan, maka diharapkan peningkatan mutu di Indonesia harus benar – benar tampak dan tidak mengecewakan.
Program peningkatan mutu pendidikan dasar menuntut peningkatan kemampuan guru secara profesional agar kegiatan belajar mengajar yang telah ditentukan mencapai hasil yang optimal. Peningkatan kemampuan guru secara sistematik baik yang datang dari pembinaan secara struktural maupun atas inisiatif baik guru telah diselenggarakan melalui berbagai kegiatan misalnya penataran, pendidikan dan latihan kursus melanjutkan pendidikan jenjang yang lebih tinggi, belajar sendiri dan lain sebagainya.
             Namun demikian, pengalaman para guru itu dirasakan belum memadai untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan pembaharuan pendidikan dasar yang menyangkut berbagai aspek seperti relevansi materi dengan perkembangan lingkungan, metode penyampaian, pendekatan psikologis, perkembangan anak. Pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi penggunaan media, alat peraga, dan aspek lain yang secara langsung atau tidak langsung membantu proses belajar. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Djasuli (2007:36) sebagai berikut : Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan bagian dari usaha peningkatan mutu pendidikan, dimana guru mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai dinamisator kurikulum dan bahan ajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik melalui penguasaan didaktik dan metodik. Seperti yang terjadi selama ini, guru lebih banyak mengajar secara konvensional, lebih banyak dilatih untuk mendengarkan, mengingat dan menghafalkan fakta-fakta saja. Anak-anak kurang terlatih untuk berpikir kritis, mandiri, melakukan observasi maupun eksperimen.
             Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang dilakukan secara langsung terhadap fakta, data dan gejala yang diteliti ( pengertian observasi secara sempit ), sedangkan pengertian  observasi secara luas adalah pengamatan yang dilakukan dengan semua indera dan pencatatan secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu dan tempat tertentu dimana fakta, data dan gejala tersebut ditemukan.   Pada penelitian ini, metoda yang digunakan adalah metode observasi. Metode ini ternyata sangat membantu guru dan siswa selama proses belajar berlangsung. Metode ini  efektif karena siswa akan mengamati secara langsung pada obyek yang akan diteliti. Dengan siswa langsung berhadapan dengan obyeknya, daya ingat mereka lebih bekerja dibanding apabila pengajaran disampaikan secara konvensional. Sehingga dengan pemberian matoda yang tepat, maka daya serap siswa akan lebih maksimal dan hasil evaluasi akan meningka (Nono Sutarno, 2007).
 Di samping itu, ditemui juga bahwa guru-guru tertentu lebih mampu melakukan tugasnya dengan baik bukan karena pendidikan atau berpengalaman, atau ditunjang dengan sarana yang baik, tetapi semata-mata karena memiliki ketrampilan mengajar yang lebih baik.    
  Keberhasilan pelaksanaan program pengajaran di sekolah berhubungan erat dengan sikap profesionalisme guru. Sekolah adalah Lembaga Pendidikan tempat guru mengajar dan siswa belajar, sehingga terjadi proses belajar mengajar. 
  Tujuan akhir dari proses belajar mengajar untuk memperoleh hasil belajar, yang biasa disebut prestasi belajar. Hasil belajar atau prestasi belajar adalah cermin dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperoleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar.
Banyak. Guru dalam mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) saat ini masih cenderung mengajar kurang bervariasi, masih banyak gaya guru dalam kegiatan belajar mengajar lebih banyak memberikan informasi kepada siswanya daripada menggali potensi yang dimiliki oleh siswa-siswanya.
Metode mengajar guru yang kurang bervariasi inilah akhirnya menimbulkan kurang minatnya siswa terhadap mata pelajaran IPA. Guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak untuk pencapaian misi pembaharuan pendidikan. Oleh karenanya guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Tujuannya agar pembelajaran menjadi  tidak membosankan dan tujuan pendidikan dapat tercapai.
Berdasarkan  latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan “Apakah dengan penggunaan metoda observasi dapat meningkatkan kemampuan  berproses dan hasil belajar IPA materi pokok pertumbuhan dan perkembangan pada siswa kelas VIII SMP Negeri Sukorambi?
Berdasarkan uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berproses dan hasil  belajar IPA materi pokok pertumbuhan dan perkembangan melalui metode observasi pada siswa kelas VIII SMP Negeri Sukorambi.
Hasil penelitian ini diharapkan selain bermanfaat bagi peneliti,  juga akan bermanfaat bagi: 1) Bagi Siswa, Dengan  penyampaian materi pelajaran penggunaan metode observasi, maka siswa termotivasi dan lebih bersemangat dalam menerima materi pelajaran. 2) Bagi Guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan refleksi bagi guru dalam proses belajar mengajar agar siswa dalam menerima materi pelajaran tidak mengalami kebosanan.3)  Bagi Kepala Sekolah  Sebagai masukan dalam usaha meningkatkan kemampuan guru serta peningkatan prestasi belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Tempat  dan Subyek Penelitian
Subyek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas VIII-B SMP Negeri Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember yang berjumlah 35 siswa. Dipilih siswa tersebut dengan pertimbangan  kelas tersebut merupakan kelas yang hasil belajarnya terrendah dibanding dengan kelas lain, sehingga perlu segera diatasi.

Desain Penelitian
Rancangan penelitian i ni adalah Penelitian Tindakan (Action Research) yakni  suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru untuk meneliti sendiri praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas. Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas, guru dan peneliti secara kolaboratif  dapat melakukan penelitian terhadap proses pembalajaran secara reflektif di kelas.
Menurut Syaiful Rachman dkk, ( 2006 ; 10 ) “ Hasil utama dari penelitian tindakan adalah berupa tindakan ke arah perubahan, perbaikan, peningkatan mutu perilaku seseorang atau sekelompok orang tertentu “.
Penelitian tindakan juga dapat menjebatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri, yaitu di dalam kelas dengan melibatkan siswanya dengan melalui sebuah tindakan-tindakan yang direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi, maka guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu mereka lakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian guru dapat membuktikan apakah suatu teori belajar mengajar yang dilakukan di kelas itu baik atau cocok dengan kondisi kelasnya untuk kepentingan proses pembelajaran yang lebih efektif, optimal dan fungsional.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan, yaitu penelitian yang bertujuan meningkatkan strategi pembelajaran.Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi antara peneliti dengan observer. Pelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi ) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama tentang bagaimana meningkatkan hasil belajar IPA materi pokok Pertumbuhan dan perkembangan pada siswa kelas VIII SMP Negeri Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.

Tahap perencanaan, meliputi :
1)    Refleksi Awal
      Peneliti mengidentifikasi permasalahan prestasi belajar IPA materi
      pokok Pertumbuhan dan perkembangan.           
2 ) Peneliti dan Praktisi merumuskan permasalahan secara operasional, relevan
    dengan rumusan masalah penelitian.
3) Peneliti dan Praktisi merumuskan hipotesis tindakan. Penelitian tindakan lebih
    menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan  
    yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai
    dengan keadaan lapangan.
4)  Menetapkan dan merumuskan rancangan yang di dalamnya meliputi:
a.    Menetapkan indikator-indikator desain variasi pembelajaran.
b.    Menyusun rancangan strategi penyampaiandan dan pengelolaan  pembelajaran yang merupakan bahan intervensi (rancangan program, bahan, strategi belajar mengajar dan evaluasi)
c.    Menyusun metode dan alat perekam data berupa tes tulis, lembar observasi, dan dokumentasi.
d.    Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
          Peneliti bersama praktisi melaksanakan desain pembelajaran penggunaan metode observasi dalam menyelesaikan soal Pertumbuhan dan perkembangan sebagaimana ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan.
Peneliti dan Praktisi melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan siswa. Kegitan pengamatan dilakukan secara     komprehensif dengan memanfaatkan alat perekam, pedoman pengamatan, serta catatan lapangan.

Refleksi
Peneliti dan Praktisi mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintetis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulnya. Hasil yang diperoleh berupa temuan tingkat efektifitas  penggunaan metode observasi yang dirancang dari daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan  tes untuk penilaian proses dan hasil.

Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1)Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensistesis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan. 2)Mereduksi data yang di dalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh berupa pola-pola yang berlaku dalam pelaksanaan pembelajaran. 3)Menyimpulkan dan memverifikasi. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian terhadap temuan penelitian.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pertumbuhan dan perkembangan suatu mahluk hidup tentunya beragam proses perkembang biakannya. Pertumbuhan dan perkembang biakan manusia, pasti berbeda dengan pertumbuhan dan perkembang biakan pada hewan dan tumbuhan.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi untuk mengamati pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup selama berlangsungnya proses belajar mengajar. Tentunya dengan suatu harapan dengan metode observasi tersebut, kemampuan siswa dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup lebih maksimal, karena siswa mengamati langsung obyeknya.
Dengan metode observasi, menurut pengamatan peneliti dan observer, siswa lebih antusias, lebih bergairah selama proses belajar berlangsung. Selain itu siswa lebih termotivasi dan ber – inovasi dalam pembelajaran tersebut.
Dalam penelitian ini, penelitian memakai alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi disajikan dalam dua siklus) .

  Pra tindakan atau pra siklus
          Kondisi awal dalam pembelajaran atau pra siklus  ini, sebagaimana biasanya guru  menyusun skenario pembelajaran melalui Rencana Pembelajaran  ( RPP) yang di sesuaikan dengan program dan silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut: Pertemuan dilaksanakan 2 x 40 menit. dilaksanakan 2 x tatap muka,  Tatap muka pertama siswa diberi materi secara konvensional yaitu dengan metode ceramah. Posisi duduk siswa, juga tidak di kelompokkan. Mereka duduk berderet seperti  biasanya. Peneliti menerangkan tentang pertumbuhan dan perkembangan  pada mahluk hidup secara konvensional.
Setelah pemberian materi selesai, pada jam ke dua, siswa diberi soal  evaluasi
              Hasil observasi pada pra siklus, siswa dalam mengikuti materi pelajaran kurang termotivasi. Hal ini disebabkan proses belajar mengajar yang disampaikan kurang menarik dan membosankan karena memang tidak menggunakan media dan  metode ceramah  dan sesekali menulis di papan tulis. Sedangkan siswa sebatas mendengarkan.Proses pembelajarannyapun terasa kaku, siswa kurang termotivasi. Akhir dari pemberian materi, guru memberikan soal evaluasi. dan hasilnya sbb :  Dari hasil evaluasi pada pra siklus, diperoleh hasil sbb : siswa yang nilainya kurang dari 6 ada 15,  yang dapat nilai 6 ada 10 anak, dan siswa yang dapat nilai 7, ada 8 anak, dan siswa yang mendapat nilai 8, ada 2 anak.. Sehingga nilai rata – rata  adalah 5,9.   Jika dibandingkan standar ketuntasan minimal (SKM) adalah 6 maka belum mencapai  ketentuan, standar ketuntasan klasikal minimal 85 %  dari seluruh siswa  harus mencapai SKM tersebut ternyata juga belum mencapai kriteria. Dengan perolehan hasil evaluasi tersebut, tentunya peneliti perlu mengadakan perbaikan   yang dilaksanakan pada siklus I. 

Siklus I 
Perencanaan
             Pada siklus II ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
             silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 40 menit.
          b. Tatap muka pertama siswa diajak keluar kelas untuk melakukan
              observasi, dan pada tatap muka ke dua  siswa diberi soal evaluasi.

 Pelaksanaan
    a.  Satu minggu sebelum peneliti melaksanakan siklus ke I, peneliti terlebih
         dahulu menugasi siswa untuk membagi kelompok menjadi 5.
    b.  Masing – masing kelompok diwajibkan membawa tanaman hidroponik
          kacang hijau yang ditempatkan di gelas, dan membawa kepompong      
         dan    kupu – kupu.
     c.  Ke dua tugas tersebut  di observasi oleh siswa.
     d.  Untuk tanaman kecambah, siswa mengobservasi mulai meletakkan biji
          kacang hijau kapan, mulai tumbuh hari ke berapa, panjang sampai
          dikumpulkan di sekolah berapa dan proses tumbuhnya bagaimana.
e.    Untuk kupu – kupu, siswa melaporkan proses metamorfosisnya.
f.     Akhir dari pembelajaran, siswa diberi soal.


Observasi.
             Hasil pengamatan observer pada siklus I ini, peneliti telah melaksanakan pembelajaran PAIKEM, yaitu pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga proses pembelajaran pada siklus I ini lebih menyenangkan. Perolehan hasil nilaipun semakin meningkat dibanding hasil nilai pada pra siklus . Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Hasil Siklus I



Mean
SKOR
Jumlah Siswa (%)
<  6
5  (14,3%)
7,3
6
7 (20%)
7
5 (14,3%)
8
10 (28,6%)
9
6 (17,1 %)
10
0

35

Refleksi.
          Dari evaluasi pada siklus I,  bisa kita lihat hasil perolehan nilai siswa. Yang mendapat nilai kurang dari 6, yaitu 5 anak. Yang mendapat nilai 6, ada 7 anak. Yang mendapat nilai 7, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 10 anak, dan yang mendapat nilai 9, ada 6 anak. Rata – rata nilai pada siklus II ini 7,3.
         Dengan hasil perolehan nilai siswa yang menurut peneliti sudah baik tersebut, maka peneliti tidak  melanjutkan siklus berikutnya karena jika dibandingkan indikator keberhasilan  maka telah mencapai standar ketuntasan minimal  nilai 6 yang tuntas sebanyak  85,7 % sehingga yang belum tuntas tinggal 14,3 %. Perbandingan ketuntasan sebelum dan sesudah tindakan dapat dilihat pada garfik sebagai berikut:




Pembahasan              
             Metode observasi merupakan metode yang menerapkan pembelajaran dengan cara mengamati suatu obyek. Dengan mengamati secara langsung terhadap obyek tersebut, daya ingat siswa akan lebih kuat dibanding pembelajaran disampaikan secara konvensional.  Selain itu, metode ini membuat siswa lebih aktif dan kreatif. Kerjasama dalam kelompokpun membuat hubungan pertemanan mereka semakin kuat. Perolehan nilainyapun semakin meningkat dibanding perolehan nilai pada  pra siklus. Hal ini dapat dipahami, sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh nono Sutarno (2007), Metode observasi   efektif karena siswa akan mengamati secara langsung pada obyek yang akan diteliti. Dengan siswa langsung berhadapan dengan obyeknya, daya ingat mereka lebih bekerja dibanding apabila pengajaran disampaikan secara konvensional. Sehingga dengan pemberian matoda yang tepat, maka daya serap siswa akan lebih maksimal dan hasil evaluasi akan meningkat karena  siswa melakukan learning by doing.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan  Penerapan  metode observasi dapat meningkatkan  kualitas proses dan hasil belajar mata pelajaran IPA. Proses belajar mengajar akan terasa menyenangkan, apabila metode atau media yang disampaikan oleh guru bervariatif dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Apabila dalam proses pembelajaran cara mengajar guru bersifat konvensional dan monoton, bisa dipastikan daya kerja otak murid kurang maksimal dalam menangkap materi yang diajarkan dan akibatnya perolehan hasil evaluasi kurang maksimal pula.
Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode observasi, agar murid termotivasi dan mudah mempelajari pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup.
Hasil pengamatan peneliti selama penelitian ini dilaksanakan adalah:  Dengan metode observasi yang digunakan pada penelitian ini, siswa lebih    mudah dalam menerima materi yang diajarkan. Siswa lebih termotivasi untuk mempelajari pertumbuhan dan perkembangan pada mahluk hidup.

Saran-Saran
      Diharapkan semua guru dapat menerapkan metode observasi pada pembelajaran IPA agar murid akan merasa senang selama proses pembelajaran. Kreativitas pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar hendaknya selalu dikembangkan.

DAFTAR  RUJUKAN

Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Daryanto, 2009, Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif,
                 Jakarta,AV Publisher.
Nono Sutarno. 2007. Materi dan Pembelajarn IPA. Jakarta: UT
Subiyanto. 2000. Strategi Pembelajaran IPA. Malang. UM
Suyadi, 2012. Penelitian tindakan kelas, Jogyakarta, Andi
Sudirman, 2007.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Syaiful Rachman dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya

                 Ilmiah, Surabaya, SIC