Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENGGUNAAN METODE TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK KPK DAN FPB

Suwarso
Abstrak: Pengajaran dengan metode tutor sebaya dapat  membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman, yang  Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, sehingga dapat dikembangkan. Hasil penelitian ini menunjukkan: Penerapan  metode tutor sebaya pada pembelajaran matematika materi pokok KPK dan FPB,  dapat meningkatkan hasil belajar siswa   dapat mencapai ketuntasan 100%.

      Kata Kunci:  Tutor Sebaya,  Prestasi Belajar

PENDAHULUAN
Pendidikan pada dasarnya merupakan usaha pengembangan sumber daya manusia, meskipun pengembangan sumber daya manusia bukan hanya dilakukan melalui pendidikan formal. Dalam rangka usaha peningkatan mutu pendidikan telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah mulai pengadaan buku teks, buku penunjang, pengadaan sarana / alat bantu pelajaran, penataran bagi para guru,  serta peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, oksplorasi dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

 
Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten (Depdiknas, 2005;  Wahyudi. .2008)
Program peningkatan mutu pendidikan dasar menuntut peningkatan kemampuan guru secara profesional agar kegiatan belajar mengajar yang telah ditentukan mencapai hasil yang optimal. Peningkatan kemampuan guru secara sistematik baik yang datang dari pembinaan secara struktural maupun atas inisiatif  sendiri telah dilakukan melalui berbagai kegiatan misalnya penataran, pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, diklat pelatihan, atau belajar sendiri.
Namun demikian, pengalaman para guru itu dirasakan belum memadai untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan pembaharuan pendidikan dasar yang menyangkut berbagai aspek seperti relevansi materi dengan perkembangan lingkungan, metode penyampaian, pendekatan psikologis, perkembangan anak. Pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi penggunaan media, alat peraga, dan aspek lian yang secara langsung atau tidak langsung membantu proses belajar. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Djasuli (2007:36) sebagai berikut : Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan bagian dari usaha peningkatan mutu pendidikan, dimana guru mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai dinamisator kurikulum dan bahan ajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik melalui penguasaan didaktik dan metodik.
Kenyataan di lapangan yang tidak dapat dipungkiri adalah pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas cukup memprihatinkan, para pakar dan pengamat pendidikan, karena terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara tuntutan dunia modern yang makin kompleks dan cepat berubah dengan bekal yang diberikan pada anak didik yang lebih banyak dilatih untuk mendengarkan, mengingat dan menghafalkan fakta-fakta saja. Anak-anak kurang terlatih untuk berpikir kritis, mandiri, bertanggung jawab seperti tuntutan kurikulum. Di samping itu, ditemui juga bahwa guru-guru tertentu lebih mampu melakukan tugasnya dengan baik bukan karena pendidikan atau berpengalaman, atau ditunjang dengan sarana yang baik, kelas kecil atau adanya buku teks, tetapi semata-mata karena memiliki ketrampilan mengajar yang lebih baik serta hubungan baik dengan siswanya.
Sebagai tindak lanjut temuan-temuan hasil penelitian tersebut maka dikembangkan model peningkatan mutu pendidikan dasar melalui pembinaan profesional dan cara belajar siswa aktif.Peningkatan mutu pendidikan harus diupayakan secara terus menerus terencana dan bertahap. Salah satu upaya yang telah dilaksanakan ke arah tersebut adalah pengembangan metode dan strategi pengajaran. Dimana metode ini merupakan salah satu penyampaian materi secara spesifik sehingga memudahkan siswa untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. Pembaharuan pengajaran tidak harus disertai dengan pemakaian perlengkapan yang serba hebat, tetapi lebih menekankan pada pengembangan cara-cara baru belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pembelajaran akan efektif bila guru dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi di kelasnya, kemudian menganalisa dan menentukan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab utama, yang selanjutnya menentukan tindakan pemecahannya.
Tuntutan peningkatan kualitas profesional guru belum memenuhi persyaratan yang diinginkan atau diharapkan, karena antara petunjuk pelaksanaan yang sudah ada banyak terdapat kendala bagi para pelaksana pendidikan utamanya guru, terbukti dengan dampak yang di lapangan antara lain: 1)Keterampilan berhitung pada anak didik masih sangat rendah, terutama tentang keterampilan menyelesaikan soal-soal pecahan; 2)Tingkat pengetahuan dan prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika lebih rendah dari mata pelajaran yang lain; 3)Pengelolaan kelas yang kurang dipahami oleh guru, serta; 4) Penggunaan media atau alat peraga yang memadai yang kurang diperhatikan (Depdiknas, 2005, Hudoyo, 1999; Wahyudi. .2008).
Sekolah adalah Lembaga Pendidikan tempat guru mengajar dan siswa belajar, sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tujuan akhir dari proses belajar mengajar untuk memperoleh hasil belajar. Hasil belajar atau prestasi belajar adalah cermin dari pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang diperoleh siswa selama mengikuti proses belajar mengajar. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh guru dalam usaha meningkatan prestasi muridnya. Misalnya pemanfaatan sarana dan prasarana, pengelolaan kelas yang baik, maupun pemberian motivasi yang tepat bagi muridnya. Dalam hal belajar, sikap profesionalisme guru sangat penting, sikap profesionalisme adalah syarat mutlak untuk guru.
Program pembaharuan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan selalu diupayakan baik melalui pengembangan mutu pendidikan selalu diupayakan baik melalui pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran. Kenyataan di lapangan banyak dijumpai banyak guru belum memanfaatkan kemampuannya secara maksimal.
Tidak semua metoda mengajar cocok dengan materi pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh karena metode ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya: tujuan, tingkat kematangan siswa yang berbeda, tingkat sosial ekonomi yang berbeda, pribadi guru dan kemampuan profesional yang berbeda-beda. Pada saat ini pembelajaran harus dilaksanakan dengan mengaktifkan seluruh potensi yang ada pada siswa, sehingga siswa berperan subagai subyek  dalam pemebelajaran, salah satu diantranya adalah dengan  menerapkan pembelajaran tutor sebaya.
 Metode tutor sebaya yaitu sebuah prosedur siswa mengajar siswa lainnya" (Akrom, 2007). Melalui metode tutor sebaya, siswa bukan dijadikan sebagai objek pembelajaran tetapi menjadi subjek pembelajaran, yaitu siswa diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan tempat bertanya bagi temannya. Dengan cara demikian siswa yang menjadi tutor dapat mengulang dan menjelaskan kembali materi sehingga menjadi lebih memahaminya. Fungsi lainnya adalah dengan adanya tutor sebaya siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya, dan mengeluarkan pendapat secara bebas sehingga berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa. Jadi, sistem pengajaran dengan metode tutor sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman, yang sebenarnya merupakan kebutuhan siswa itu sendiri. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman dengan mengajar temannya, sedang yang ditutori akan mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
             Suherman (2003)menyatakan bahwa Tutor Sebaya adalah kelompok siswa yang telah  tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya.  Metode tutor sebaya  dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum faham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain. Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.  Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama. Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab (Zaini , 2007; 65).
Dalam penelitian  pemberian bantuan penyelesaian masalah oleh teman dalam satu kelas kepada teman lainnya yang masih atau kurang paham dalam soal penyelesaian materi KPK dan FPB.    Pemberian bantuan ini dilakukan di dalam kelas, setelah peserta didik yang  akan dijadikan tutor sebaya oleh guru dilatih terlebih dahulu atau memang peserta didik tersebut sudah paham betul.
Dalam penyampaian materi KPK dan FPB, penggunakan teman dalam satu kelas yang kemampuannya melebihi teman yang lain sebagai tutor sebaya, ternyata lebih efektif dan efisien dibanding peserta didik tersebut belajar dan berpikir sendiri.
  Keuntungan dari penggunaan tutor sebaya ini, peserta didik yang kurang paham dalam penyelesaian soal KPK dan FPB, akan merasa lebih       leluasa bertanya kepada temannya yang lebih paham, daripada bertanya pada guru.  Karena  jika bertanya pada guru  ada kecenderungan  ada perasaan takut dan ada beban psikologis sehingga enggan menanyakan pada gurunya tersebut. Sebaliknya  jika bertanya pada teman sebaya  tidak mememliki beban psikologis  karena ada kedekatan emosional,  maka  akan lebih santai dan dapat menanyakan sesuai dengan apa yang diharapkan siswa yang bersangkutan. Jika masih belum faham maka akan dapat menanyakan lagi.  Hal ini akan berpengaruh juga pada penguasaan materi sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Rumusan Masalah 
Adapun rumusan masalahnya “ Apakah melalui metode tutor sebaya dapat meningkatkan kemampuan  belajar  matematika materi pokok KPK dan FPB pada siswa kelas V  SDN Mrawan 02 ?

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah menghasilkan pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan belajar matematika materi pokok KPK dan FPB melalui metode tutor sebaya pada siswa kelas V SD Negeri Mrawan 02.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi peneliti khususnya sebagai instropeksi dalam pengelolaan pembelajaran. Selain itu, untuk mengukur tingkat motivasi siswa terhadap pelajaran Matematika. Selain bermanfaat bagi peneliti, tindakan kelas ini akan bermanfaat bagi : 1)Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memotivasi guru dalam pengelolan pembelajaran; 2)Bagi Guru, sebagai bahan masukan untuk dijadikan dasar bagi mata pelajaran lain. Sehingga apabila guru menemui suatu kesulitan pada mata pelajaran tertentu, akan melakukan penelitian tindakan seperti yang dilakukan peneliti; 3) Bagi Siswa, dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar, karena guru dalam menyampaikan mata pelajaran menggunakan media atau metoda yang benar.

METODE PENELITIAN

Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini Subyek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas V SDN Mrawan 02 Kecamatan Mrawan Kabupaten Jember., sebanyak 30 Siswa

Rancangan Penelitian
          Rancangan penelitian  yang diterapkan  adalah Penelitian Tindakan Kelas, tahap-tapnya sebagai berikut:

Perencanaan
Penelitian Tindakan (Action Research) adalah suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru untuk meneliti sendiri praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas. Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas, guru dan peneliti secara kolaboratif  dapat melakukan penelitian terhadap proses pembalajaran secara reflektif di kelas.
Manfaat yang dapat dipetik dalam penelitian tindakan kelas ini antara:       (1) inovasi pembelajaran, (2) pengembangan kurikulum (3) peningkatan profesionalisme guru.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi antara peneliti dengan observer. Pelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi ) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama tentang bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika materi pokok KPK dan FPB pada siswa kelas V SDN Mrawan 02 Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.
             Dengan demikian rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi :
1)    Refleksi Awal
      Peneliti mengidentifikasi permasalahan prestasi belajar matematika materi
      pokok KPK dan FPB.      
2 ) Peneliti dan Praktisi merumuskan permasalahan secara operasional, relevan
    dengan rumusan masalah penelitian.
3) Peneliti dan Praktisi merumuskan hipotesis tindakan. Penelitian tindakan lebih
    menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan  
    yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai
    dengan keadaan lapangan.
4)  Menetapkan dan merumuskan rancangan yang di dalamnya meliputi:
a.    Menetapkan indikator-indikator desain variasi pembelajaran.
b.    Menyusun rancangan strategi penyampaiandan dan pengelolaan  pembelajaran yang merupakan bahan intervensi (rancangan program, bahan, strategi belajar mengajar dan evaluasi)
c.    Menyusun metode dan alat perekam data berupa tes tulis, lembar observasi, dan dokumentasi.
d.    Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Peneliti bersama praktisi melaksanakan desain pembelajaran penggunaan metode tutor sebaya dalam menyelesaikan soal KPK dan FPB sebagaimana ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan. Peneliti dan Praktisi melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan siswa. Kegitan pengamatan dilakukan secara     komprehensif dengan memanfaatkan alat perekam, pedoman pengamatan, serta catatan lapangan.

Refleksi
Peneliti dan Praktisi mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintetis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulnya. Hasil yang diperoleh berupa temuan tingkat efektifitas  penggunaan metode tutor sebaya yang dirancang dari daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.

 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes akhir.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kuantitatif.. Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)    Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensistesis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan.
2)    Mereduksi data yang di dalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh berupa pola-pola yang berlaku dalam pelaksanaan pembelajaran.
3)    Menyimpulkan dan memverifikasi. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian terhadap temuan penelitian.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Berdasar hasil pengamatan peneliti, dalam penyelesaian materi KPK dan FPB bagi peserta didik yang kurang paham dalam masalah perkalian memang akan sedikit menyulitkan, karena materi itu merupakan implementasi dari perkalian. Oleh sebab itu, dalam meningkatkan pemahaman materi ini, peneliti menggunakan tutor sebaya agar peserta lebih enjoy dalam menyelesaikan soal yang diberikan.
Penggunaan tutor sebaya, ternyata sangat efektif, karena guru merasa terbantu dan siswa yang bermasalah dengan materi akan gampang memahami karena temannya sendiri yang mengajari.
Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan dengan alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi disajikan dalam dua siklus) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama kemampuan  belajar Matematika  siswa kelas V SDN Mrawan 02 masih kurang memahami.

 Deskripsi Pra Siklus  atau Pra Tindakan.
           Kondisi pra tundakan dapat peneliti paparkan sebagai berikut:  Praktek pembelajaran  yang diterapkan berdasar i Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :          a. Pertemuan dilaksanakan a. 35 menit. Pada tiap kegiatan pembelajaran  guru menyajikan materi  secara konvensional yakni hanya dengan metode ceramah dan  tidak menggunakan media atau metoda apapun. Duduk murid juga tidak di kelompokkan. Mereka duduk berderet seperti
biasanya. Setelah pemberian materi selesai, pada jam ke dua, murid diberi soal  evaluasi. Hasil observasi pada Pra-siklus, murid dalam mengikuti materi pelajaran kurang termotivasi. Hal ini mungkin dikarenakan proses belajar mengajarnya yang kurang menarik dan membosankan. Guru dalam menyampaikan materi hanya ceramah dan sesekali menulis di papan tulis. Murid sebatas mendengarkan dan tidak ada satupun yang bertanya. Akhir dari pemberian materi, guru memberikan soal evaluasi. dan hasilnya sbb :

Hasil Nilai  Pra Tindakan .
JUMLAH SISWA
SKOR
NILAI RATA-2 KELAS
<  6
%
15
<6 (Tidak Tuntas)
50
5,6
15
6-10 (Tuntas)
50
Total 30
100%

Refleksi.
              Dari hasil evaluasi pada pra siklus , diperoleh hasil murid yang nilainya kurang dari 6 atau dapat 5,  terdapat 15 anak. Murid yang dapat nilai 6 ada 10 anak, dan murid yang dapat nilai 7, ada 5 anak. Sehingga nilai rata – rata pada siklus I, adalah 5,6. Dengan perolehan hasil ualangan tersebut, tentunya peneliti perlu mengadakan  perbaikan, dengan merancang pembelajaran dengan metode tutor sebaya.
                                                                                        
 Siklus I 
Perencanaan
             Pada siklus II ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
             silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit.
          b. Pada jsiklus II ini, anak disuruh berkumpul dengan teman yang nilainya
              100 atau teman yang lebih paham tentang KPK dan FPB.
          c. Akhir pembelajaran  murid diberi soal evaluasi.

Pelaksanaan
             a.  Untuk memudahkan pengetrapan tutor sebaya ini, 10 murid yang
                  mendapatkan nilai 100, memandu temannya yang mendapatkan nilai
                  dibawah 100. 
b..Peneliti memberi 10 soal yang harus dikerjakan. 
Observasi.
             Hasil observasi pada siklus II, dengan penggunaan metoda tutor sebaya, anak lebih bergairah dan termotivasi dan ingin seperti temannya yang mendapatkan nilai 100. Peneliti memantau dan sesekali memberi pengarahan apabila ada siswa yang menjadi tutor ada yang salah menjelaskan.
Penggunaan tutor sebaya pada pelajaran KPK dan FPB ini, tidak hanya memotivasi paserta didik yang kurang bisa, akan tetapi membanggakan peserta didik yang sudah paham karena sudah diberi kepercayaan. Hal ini membawa semangat mereka untuk belajar lebih baik lagi.
             Akhir dari pembelajaran, murid diberi soal evaluasi dan hasilnya sbb :

 Hasil Siklus I                                        

Refleksi.
              Dari evaluasi pada siklus I,  hasil nilai murid lebih meningkat dibanding Pra siklus. Yang mendapat nilai 5 ada 5 anak. Yang mendapat nilai 6, ada 3 anak. Yang mendapat nilai 7, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 7 anak, dan yang mendapat nilai 10, ada 10 anak. Rata – rata nilai pada siklus II ini 7,8. Jika dibandingkan dengan indikator keberhasilan ketuntasan individual mencapai nilai 6 dan secara klasikal maka dapat disimpulkan mencapai kriteria bahkan ketuntasan mencapai 100 %. Sehingga tidak perlu dilanjutkan siklus berikutnya. Hasilnya tampak pada tabel di bawah ini:

Tabel  Skor yang dicapai siswa pada  Pasca Tindakan

JUMLAH SISWA
SKOR
RATA- RATA
%
0
<6 (Tidak Tuntas)
0
7,8
0
6 (Tuntas)
0
5
7(Tuntas)
16,6
7
8(Tuntas)
23,3%
8
9(Tuntas)
26,6%
10
10 (Tuntas)
33,3%
Total 30
100%



Pembahasan
             Metode tutor sebaya merupakan metode temuan asli peneliti. Metode ini sebetulnya tanpa sengaja ditemukan, karena peneliti selama menjadi guru tidak pernah memakai metode ini. Setelah metode tutor sebaya ini dipakai dalam pembelajaran khususnya matematika, ternyata peserta didik yang kurang paham dapat termotivasi, sehingga perolehan hasil evaluasinya meningkat. Hal ini dapat dipahami  sesuai dengan pandangan  Suherman (2003) yang menyatakan bahwa Tutor Sebaya, kelompok siswa yang telah  tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya.  Metode tutor sebaya  dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang belum faham.  Sehingga pada akhirnya dapat tuntas secara keseluruhan, dengan teman sebaya akan lebih komunikatif  dengan menggunakan bahasa anak dan  lebih akrap sehingga mudah memahaminya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan.
Penerapan  metode tutor sebaya pada pembelajaran matematika materi pokok KPK dan FPB,  dapat meningkatkan hasil belajar siswa  dan sangat membantu peneliti dalam pemberian materi   ini. Selain itu juga peserta didik yang kurang mampu termotivasi untuk   belajar lebih giat lagi.
 Dengan penggunaan metode tutor sebaya, perolehan hasil evaluasi siswa lebih meningkat, dibanding mereka belajar sendiri – sendiri. Terjadi peningkatan kepercayaan diri baik siswa yang kurang mampu maupun siswa yang menjadi tutor sebaya.

Saran-saran
Sebaiknya guru sering menepakan metode tutor sebaya unytuk menciptakan suasan belajar yang interaktif antara guru dan siswa dan antra siswa dengan siswa agar  selama proses KBM berlangsung, sehingga peserta didik tidak bosan selama mengikuti pelajaran dan peserta didik akan termotivasi untuk menyerap materi lebih baik lagi. Guru hendaknya membiasakan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi menarik.


DAFTAR  RUJUKAN
Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur
Daryanto,   2009, Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif,
                 Jakarta,AV Publisher.
Herman Hudoyo. 1989. Matematika  dan Pelaksanaannya di Depan Kelas.  Malang. IKIP Malang
Syaiful Rachman dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya
                 Ilmiah, Surabaya, SIC
Mulyasa, E, 2005. Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan menyenagkan, Bandung: Remaja Rosdakarya PT
Sudirman, 2007.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali.
Wahyudi. .2008. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar.Surakarta: FKIP UNS

.