Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI MELALUI METODA KARYA WISATA SISWA KELAS IV  SDN KARANGREJO 05

Heni Dwi Hastutik

Abstrak: Narasi adalah suatu bentuk cerita dari sebuah peristiwa yang menceriterakan suatu kejadian, atau obyek berdasar  urutan waktu.  Agar peserta didik mampu  menyusun narasi maka perlu metode yang tepat diantaranya adalah dengan metode karyawisata.  Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan Penerapan  metoda karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa kelas IV SDN Karangrejo 05.

Kata Kunci:  Menulis Narasi, Kemampuan Menulis

PENDAHULUAN
Menulis narasi kelihatannya mudah – mudah gampang, namun kenyataannya bagi seorang peserta didik, mengawalinya itu yang sulit,  karena disamping tidak terbiasa menulis, siswa juga belum paham menulis yang benar itu bagaimana. Dalam hal ini guru dituntut harus berperan aktif agar  mereka tidak kebingungan dalam membuat narasi.
Narasi adalah cerita dari suatu peristiwa ; penceriteraan ; tema suatu karya seni  (Em Zul Fajri, 2007 : 585 ),  KBBI mempertegas narasi adalah “ Menceritakan suatu cerita atau kejadian, diskripsi dari suatu kejadian atau peristiwa, menyajikan sebuah kejadian yang disusun berdasarkan urutan waktu “.. Secara sederhana narasi dapat diartikan suatu bentuk cerita dari sebuah peristiwa yang menceriterakan suatu kejadian, atau obyek berdasar  urutan waktu.Penulisan narasi berdasarkan urutan : ( 1 ) Menentukan tema; ( 2 ) Membuat kerangka, ( 3 ) Mengembangkan kerangka, ( 4 ) Kesimpulan
Selama ini, guru biasanya dalam pemberian materi mengarang atau menulis narasi, hanya melakukan perintah secara lisan tanpa terlebih dulu mengajak siswa mengamati obyek yang akan dituangkan dalam tulisan.
Tanpa melihat atau mengamati obyek, tentu saja akan mempersulit siswa dalam membuat narasi yang runtut. Selain itu, tanpa melihat obyek, akan menghambat daya nalar peserta didik dalam menulis sebuah karangan atau narasi yang ditugaskan oleh guru.
Problem pokok yang selama ini terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok mengarang cerita adalah kebiasaan guru dalam memberikan tema mengarang, siswa hanya disuruh mengarang bebas berdasar angan – angan. Tehnik pengajaran semacam ini tentunya akan membuat siswa kebingungan terutama dalam mengawali menulis cerita.  Mereka akan sulit mencari kata – kata apa yang akan pertama kali ditulisnya. Oleh karena itu guru dituntut untuk pandai – pandai memberikan  metode yang membuat siswa termotivasi untuk dapat mengarang cerita yang baik dan benar.
Salah satu contoh tehnik pengajaran yang bisa kita lakukan adalah ; dengan mengajak siswa jalan – jalan, meskipun jalan – jalan tersebut hanya di pematang sawah. Dengan tehnik yang sangat sederhana ini, tentunya akan membantu siswa untuk dapat mengarang cerita lebih baik lagi, karena mereka sedikit tidaknya sudah mempunyai gambaran tentang materi cerita yang akan ditulisnya.
Menurut Daryanto, ( 2009 : 255 ),“ Guru yang professional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas – tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam pemberian materi maupun metode “Ciri – ciri guru professional itu antara lain : 1). Mempunyai tujuan yang jelas; 2). Mempunyai ketrampilan manajemen kelas yang baik; 3). Selalu memberikan yang terbaik untuk siswa yang diajar.
             Apabila seorang guru mempunyai tiga ciri tersebut, tidak menutup kemungkinan hasil evaluasi siswa akan lebih baik. Namun demikian, pengalaman para guru itu dirasakan belum memadai untuk mengantisipasi tuntutan perkembangan pembaharuan pendidikan dasar yang menyangkut berbagai aspek seperti relevansi materi dengan perkembangan lingkungan, metode penyampaian, pendekatan psikologis, perkembangan anak. Pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi penggunaan media, alat peraga, dan aspek lain yang secara langsung atau tidak langsung membantu proses belajar. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Djasuli (2007:36) sebagai berikut: Peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar merupakan bagian dari usaha peningkatan mutu pendidikan, dimana guru mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai dinamisator kurikulum dan bahan ajaran yang dilaksanakan sesuai dengan tingkat dan perkembangan peserta didik melalui penguasaan didaktik dan metodik.
Banyak variasi mengajar yang dapat diberikan guru selama berlangsungnya proses belajar mengajar. Salah satunya adalah melalui metode atau media mengajar. Hal ini harus dilakukan guru agar pembelajaran menjadi aktif, kreatif sehingga pembelajaran tidak membosankan.
            Metoda Karya Wisata dapat membantu meningkatkan  kemampuan menulis narasi karena:.1) Guru dapat memberikan kepuasan kepada siswa karena dapat melihat  langsung obyek yang diamati; 2)Melalui karya wisata, guru lebih mudah menerangkan materi pelajaran; 3) karena bisa mengamati secara langsung obyek yang dipelajari; 4) Siswa dapat mempelajari sesuatu secara integral dan komprehensif. Siswa akan lebih mudah menulis, karena sebelumnya sudah melihat dan mengamati obyek yang akan ditulis. Permasalahan mendasar dalam penelitian ini adalah siswa merasa kesulitan untuk membuat sebuah karangan dengan alur cerita yang baik. karena siswa tidak mengamati obyek sendiri obyek yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan.Dengan diterapkan metode karya wisata siswa lebih mudah dalam menyusun sebuah karangan atau narasi berdasarkan realitas yang dialami (Endraswara, S. 2009, Slamet, 2007).

Rumusan Masalah Penelitian
Berdasar latar belakang diatas,Oleh sebab itu, rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah penggunaan metoda karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa kelas IV SDN Karangrejo 05?

Tujuan Penelitian
 Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulis narasi melalui metode karya wisata siswa kelas IV SDN Karangrejo.
            Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi:  1)Bagi Siswa Penggunaan metode karyawisa, akan membantu siswa dalam membuat narasi dengan cepat, tepat dan benar.  2)  Bagi Guru , Dengan metode karyawisata, guru akan terbantu dalam penyampaian materi, karena siswa secara otomatis akan bercerita sendiri dengan runtut berdasar obyek yang dialami. ; 3)  Bagi Kepala Sekolah, Kepala Sekolah akan terbantu program – programnya untuk meningkatkan  mutu pendidikan di Sekolahnya.

METODE PENELITIAN

Perencanaan
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan, yakni penelitian yang bertujuan meningkatkan kemampuan menulis narasi melalui metoda karya wisata.Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi antara peneliti dan guru lain sebagai observer. Penelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi ) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama tentang bagaimana meningkatkan kemampuan menulis narasi melalui metoda karya wisata siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.  Penelitian ini direncanakan dilakukan 2 (dua) siklus di kelas.
Dengan demikian rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi :
1)    Refleksi Awal, Peneliti bersama observer mengidentifikasi permasalahan
       kekurang mampuan siswa dalam menulis narasi.   
2)    Peneliti dan observer merumuskan permasalahan secara operasional, relevan
      dengan rumusan masalah penelitian.
3)     Peneliti dan observer merumuskan hipotesa tindakan. Penelitian tindakan
lebih  menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.
4) Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan yang di dalamnya meliputi :
a.  Menetapkan indikator-indikator peningkatan kemampuan menulis narasi.
b.    Menyusun rancangan strategi cara penulisan narasi yang benar sesuai langkah – langkah penulisan.
c.   Menyusun metode dan alat perekam data berupa lembar observasi.
d.    Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Kegiatan dalam pelaksanaan tindakan yang dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)    Peneliti mengajak siswa untuk melakukan jalan – jalan ke pematang sawah dan melihat langsung obyek yang akan ditulis.
Langkah – langkah yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Langkah persiapan, dimana di dalamnya peneliti menentukan :
          *  Merencanakan obyek  yang akan dikunjungi
          *  Memberikan penjelasan kepada murid, tentang tujuan yang akan dicapai.
          *  Memberikan tugas  yang harus dilakukan oleh siswa.
       b) Langkah pelaksanaan.
          * Guru menjelaskan kepadada siswa tempat yang akan dituju.
          * Mengajak siswa mengunjungi tempat yang sudah direncanakan.
          * Memberi tugas kepada siswa mengamati secara langsung obyek yang   
             dikunjungi.
          * Setelah siswa melakukan pengamatan langsung, guru mengajak berdialog
             tentang hasil pengamatan siswa.
        c)  Langkah penutup.
             Guru memberi tugas kepada siswa, apa yang sudah mereka amati
             dituangkan pada bentuk cerita.
2)    Hasil Pengamatan adalah siswa tampak lebih senang karena dapat mengamati secara langsung obyek yang akan dituangkan ke dalam tulisan narasi. Dengan mengamati langsung obyek yang akan ditulis, baik guru maupun siswa terbantu dalam menyelesaikan materi pelajaran khususnya menulis narasi.

.
Refleksi
Refleksi  kegiatan yang dilakukan meliputi analisis, memaknai, menjelaskan, dan menyimpulkan data yang diperoleh dari pengamatan ( bukti empiris ), serta mengaitkan dengan teori yang digunakan (kerangka konseptual ).Hasil yang diperoleh pada pra tindakan, berupa temuan bahwa siswa merasa kesulitan membuat narasi yang benar. Hal ini disebabkan guru cara memberikan materi secara konvensional. Sehingga siswa dalam dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru di kerjakan secara serampangan. Murid hanya diberi materi secara konvensional dalam bentuk ceramah dan pemberian tugas secara lisan.  Ternyata hasil evaluasi pada siklus I ini kurang maksimal, sehingga perlu di refleksi pada siklus II.

Subyek Penelitian
         Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Subyek penelitian merupakan murid langsung dari peneliti. Diharapkan dengan mengambil subyek penelitian ditempat kerja peneliti, akan memudahkan peneliti melaksanakan penelitian dan diharapkan hasil penelitian bermanfaat bagi sekolah dimana peneliti bertugas.

 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pedoman observasi, dokumentasi, wawancara, dan catatan lapangan.

Teknik Analisis Data.
          Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Secara garis besar kegiatannya dilakukan dengan langkah-langkah berikut. Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelahaan data   dilakukan dengan cara menganalisis, mensintesis, memaknai menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan. Mereduksi data yang didalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Menyimpulkan dan Memverifikasi :Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang  selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian temuan penelitian.


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
              Gambaran kondisi pembelajaran pada saat selum tindakan perlu penulis jelaskan terlebih dahulu, agar mengetahui realitas yang ada pada saat sebelum dilakukan penelitian tindakan kelas. Pada saat pembelajaran pada masa pra tindakan  ini, sebagaimana biasanya pembelajarn diawali  guru menyusun skenario pembelajaran melalui Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :a. Pertemuan dilaksanakan  satu jam pelajaran selama 35 menit. Pembelajaran dilakukan tanpa menggunakan metoda  ceramah
        
Pada saat penyampaian materi  murid  tidak di kelompokkan. Mereka duduk berderet seperti   biasanya. Peneliti memberi tugas kepada siswa untuk menulis narasi   dengan judul bebas berdasar pengalaman mereka.
              Hasil observasi pada pra siklus, murid dalam mengikuti materi pelajaran kurang termotivasi. Hal ini mungkin dikarenakan tugas yang diberikan kepada siswa tanpa media ataupun metoda. Tugas membuat narasi hanya diberikan secara lisan. Peneliti hanya menjelaskan bahwa untuk menulis narasi terdiri dari pembuka, isi dan penutup.Proses belajar mengajarnya juga kurang menarik..Menurut pengamatan observer, siswa sedikit kebingungan untuk menulis judul dan isinya. Satu sama lain saling bertanya dan melihat tulisan temannya.
              Dari hasil nilai pada pra siklus  atau kondisi awal, dapat diuraikan  sbb :yang mendapat nilai 6, ada 17 anak. Yang mendapat nilai 7, ada 10 anak. Nilai rata – rata 6,4.   Dengan perolehan hasil seperti tersebut diatas, tentunya peneliti perlu mengadakan  refleksi, karena siswa masih perlu bimbingan agar siswa lebih baik lagi dalam membuat narasi. Dan hal ini akan di lakukan perbaikan  pada siklus I dengan menggunakan metoda karyawisata.


Siklus I
Perencanaan
Tahap-tahap penelitian melipiti: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi . Pada siklus II ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
             silabus yang ada. Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit.
          b. Peneliti berencana mengajak siswa wisata menelusuri persawaan yang
              dekat dengan lokasi sekolahan. 
c.    Berdasar pengamatan langsung tersebut, diharapkan nantinya siswa   lebih mudah dalam menuangkan dalam bentuk cerita. 
.
Pelaksanaan.
          a.  .Pada siklus I ini, peneliti mengajak siswa berjalan – jalan menyusuri
                pematang sawah yang berdekatan dengan sekolah. Mereka membawa 
                buku catatan untuk mencatat hal – hal yang nantinya mereka ditemui.
          B. Siswa tidak dikelompokkan, akan tetapi berpencar sesuai kehendaknya.

Observasi.
              Hasil observasi pada siklus I ini, siswa kelihatan antusias dan bergairah selama melakukan perjalanan menyusuri pematang sawah. Begitupun dengan peneliti, tidak segan – segannya menjelaskan kepada siswa hal – hal yang ditemui, misal tumbuhan putri ayu yang apabila dipegang langsung tidur, guna tumbuhan petikan yang dapat digunakan untuk mengobati sakit mata dan lain sebagainya.
              Begitu juga waktu ketemu dengan bebek yang sedang berjalan digiring petani, peneliti bertanya kenapa bebek bisa berbaris sedemikian rapi tanpa ada yang menyalip satu sama lain? Kenapa anak – anak tidak mencontoh seperti bebek? Kemudian anak – anak ketawa karena selama perjalanan ada beberapa siswa yang berusaha menyalip temannya.
                Dengan perjalanan wisata yang sangat menyenangkan tersebut, siswa sesekali mencatat dan mereka akan menuangkan dalam tulisan narasinya.
                Setelah perjalan wisata selesai, peneliti mengajak siswa kembali ke sekolah. Dan memberi tugas kepada siswa untuk menulis narasi berdasar apa yang mereka lihat. Sebelumnya peneliti juga menjelaskan tentang menulis yang benar itu terdiri dari pembuka, isi, dan penutup. Serta menjelaskan bagaimana membuat paragraf demi paragraf
                Dari hasil narasi yang dibuat siswa pada siklus II ini, diperoleh hasil sbb :

Hasil Nilai Siklus I.

JUMLAH SISWA

SCORE

%
NILAI RATA
  6
7
8


29
5
10
14
19    
7,9


Refleksi.
              Berdasar hasil nilai pada siklus I, dapat diuraikan  sbb :yang mendapat nilai 6, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 7, ada 10 anak, dan yang mendapat nilai 8, 14 anak. Dan  rata – ratanya  7,9.
               Dengan perolehan hasil seperti tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa metode karya wisata sebelum siswa menulis narasi sangat membantu dalam penulisannya. Peneliti tidak melakukan refleksi lagi, karena menurut peneliti perolehan rata – rata 7,9 sudah lebih dari cukup. Berdasarkn indikator keberhasil  nilai KKM 6 , ketuntasan klasikal 85 %, maka  standar ketuntasan individual maupun standar ketuntasan klasikal terpenuhi, sehingga dapat dihentikan. Apalagi ketuntasan mencapi 100%.


 Grafik Perbandingan Kondisi Awal Dengan Pasca Tindakan






Pembahasan
Hasil penelitian tentang kemampuan menulis narasi pada siswa kelas IV SDN Karangrejo V Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember setelah menerapkan metoda karya wisata,  hasil tulisan peserta didik lebih baik, alur cerita lebih runtut, menyelesaikan tugas lebih cepat, dan siswa lebih lancar menulis narasinya. Kemudahan siswa dalam penulisan narasi tersebut dikarenakan sebelumnya peneliti  menentukan langkah – langkah yang telah dirancang dengan baik.
.   Guru memberi tugas kepada siswa, untuk menulis narasinya dengan berpedoman hasil pengamatan selama melakukan perjalanan menyusuri pematang sawah.    Dengan metoda karya wisata yang dipakai peneliti, ternyata hasil narasi siswa lebih bagus dan runtut dibanding penulisan narasi sebelumnya.
          Metode karya wisata  yang dilakukan pada siklus I, sangatlah tepat untuk membantu siswa menulis narasi, karena siswa terlebih dahulu melihat dan mengamati terlebih dahulu obyek yang akan ditulisnya. Lain halnya pada  pra tindakan, materi  mengajar diberikan secara konvensional, sehingga  terasa kaku dan membingungkan. Dengan cara mengajar seperti itu, tentunya akan berdampak pada nilai siswa. Perolehan nilai kurang maksimal.
              Pada siklus I,  peneliti memberi metode yang sangat menyenangkan,  Siswa diajak berkarya wisata untuk melihat langsung obyek yang akan ditulis.. Siswa melihat dan mengamati sendiri dan pada akhirnya mereka dapat dengan mudah menuangkan ke dalam bentuk narasi..
              Meskipun kelemahan metoda karya wisata akan mengganggu pelajaran lain dan menyita banyak waktu lebih – lebih kalau tempat yang akan di kunjungi jauh, sehingga membutuhkan persiapan yang matang dan biaya yang banyak, namun metoda ini sangat membantu guru maupun siswa.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil  analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan:  Penerapan  metoda karya wisata dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa kelas IV SDN Karangrejo 05. Metoda karya wisata sangat membantu guru maupun siswa dalam mengerjakan tugas yang telah direncanakan. Metoda ini memang menyita banyak waktu, akan tetapi karena proses pembelajarannya sangat menyenangkan, dan siswa dapat mengamati secara langsung obyeknya, maka metoda ini sangat efektif untuk dilaksanakan.
 Dengan metoda karya wisata, baik guru maupun siswa akan terbantu dalam mengerjakan penulisan narasi. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai pada siklus I yang semakin meningkat dibanding  kondisi awal  yang perolehan nilainya kurang maksimal..

Saran-Saran
1.    Diharapkan semua guru dapat menerapkan metode karyawisata  untuk meningkatkan kemampuan  menulis narasi, sehingga murid  kemampuannya meningkat dan  merasa senang selama proses pembelajaran.
2.    Kreativitas  dalam pembelajaran hendaknya selalu dikembangkan, selain untuk meningkatkan prestasi siswa, guru akan  lebih profesional..

DAFTAR  RUJUKAN
Daryanto, 2009, Panduan Proses Pembelajaran Kreatif & Inovatif,
                 Jakarta,AV Publisher.
Syaiful Rachman dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya
                 Ilmiah, Surabaya, SIC
Endraswara, S. 2009. Metode dan Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Buana Pustaka.
EM Zul Fajr dan Ratu Aprilia Senja, 2007, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia,  Jakarta, Difa Publisher
Mulyasa, E, 2005. Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan menyenagkan, Bandung: Remaja Rosdakarya PT
Poerwadarminto. 2004. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Slamet, St.Y.2007. Dasar Dasar Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Di SD. Surakarta: UNS Press