Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN KUALITAS  PROSES DAN HASIL  BELAJAR  BAHASA INDONESIA MATERI POKOK UNSUR – UNSUR CERITA MELALUI  MEDIA WAYANG KULIT


 Imam Hanafi

Abstrak: Media merupakan aspek yang penting dalam penyampaian materi pembelajaran, sehingga dapat juga sebagai penentu keberhasilan pembelajaran. Penggunaan media wayang memudahkan menyampaikan materi pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan  kualitas proses  dan hasil belajar Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita melalui media wayang kulit. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian   menunjukkan dapat meningkatkan  kualitas proses dan hasil belajar siswa dibuktikan dengan peningkatan ketuntasan hasil belajar dari kondisi pra tindakan reratanya 57  meningkat menjadi 75 .

Kata Kunci: Media Wayang Kulit,  Kualitas Proses dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
           Pendidikan diharapkan  dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.Dilakukan berkesinambungan agar senantiasa meningkatkan kualitasnya secara terus menerus  (continuous quality improvement). Hal ini  penting, terutama ketika dikaitkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003, tentang Pendidikan nasional, yang mengemukakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.   Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik dan hasil yang dicapai peserta didik tersebut  (Mulyasa, 2005;  Depdiknas, 2005).
            Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan diperlukan berbagai ketrampilan. Diantaranya adalah ketrampilan membelajarkan atau ketrampilan mengajar dengan menggunakan media baik yang diciptakan sendiri atau media yang sudah siap pakai contohnya pada penelitian ini media yang di gunakan adalah wayang kulit sebagai sarana penunjang mata pelajaran Bahasa Indonesia.
         Ketrampilan mengajar merupakan kompetensi professional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Turney  (dalam Surya, 2007) mengungkapkan 8 ketrampilan mengajar yang sangat berperan dan menentukan kualitas pembelajaran, yaitu ketrampilan bertanya, memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, serta mengajar kelompok kecil dan perorangan.  Untuk menunjang keterampilan menjelaskan maka perlu media pembelajaran yang tepat agar materi mudah difahami oleh peserta didik, maka peran media  sangat penting.
         Penguasaan terhadap ketrampilan mengajar tersebut harus utuh dan terintegrasi, sehingga diperlukan latihan yang sistematis. Kompetensi menunjuk kepada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan. Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, kompetensi menunjuk kepada perbuatan (performance ) yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar (Nana Sujana,  1987).
            Ada kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi dikelas-kelas sekolah kita.
       Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru merasa kesulitan untuk  mengembangkan  bahan atau materi yang akan diajarkan, karena seperti yang kita ketahui silabus Bahasa Indonesia materinya amat sedikit, sedangkan jam tatap muka banyak. Oleh karena itu guru dituntut untuk pandai – pandai mengola proses belajar mengajar dengan baik dan semenarik mungkin. Salah satu cara agar proses belajar siswa menarik, peneliti mencoba menggunakan media wayang kulit sebagai media pembelajaran. Media ini diharapkan dapat efektif, karena mata pelajaran Bahasa Indonesia yang selama ini penyampaiannya secara konvensional, sehingga dapat diberikan lebih menarik.
    Berdasar uraian tersebut diatas, maka peneliti berupaya mencoba  agae lebih efektif dalam memperkenalkan konsep kepada anak didik dengan cara dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, menggunakan media wayang kulit sebagai sarana pembelajaran, sehingga pelajaran Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita tidak lagi merupakan pelajaran sulit dikerjakan, melainkan menjadi pelajaran yang menyenangkan.
 Berdasar uraian di atas, rumusan masalah yang dapat diajukan  pada penelitian ini adalah “Apakah  dapat meningkat kualitas proses  hasil  belajar Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita melalui media wayang kulit pada siswa kelas V  SD Negeri Pontang 01 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember  ?
Tujuan utama penelitian ini adalah  untuk meningkatkan  kualitas proses  dan hasil belajar Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita melalui media wayang kulit pada siswa kelas V  SD Negeri Pontang 01 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember.
 Setelah penelitian ini selesai, diharapkan dapat bermanfaat:
1)      Bagi Kepala Sekolah, sebagai dasar untuk memotivasi kolega guru untuk selalu menciptakan media  yang inovatif.
2)      Bagi Guru, sebagai bahan  rujukan dalam pelaksanaan pembelajaran.
3)      Bagi Siswa, dengan penggunaan media wayang kulit, diharapkan siswa akan mudah memahami materi pelajaran dan akan lebih terkesan karena selama proses pembelajaran menyenangkan.

METODE PENELITIAN

         Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Karakteristik penelitian tindakan kelas adalah: 1) Masalah yang dijadikan obyek penelitian muncul dari dunia kerja peneliti; 2) Bertujuan memecahkan masalah guna meningkatkan kualitas; 3) Menggunakan data yang beragam; 4) Langkah-langkahnya merupakan siklus;  5)Mengutamakan kerja kelompok  (Priyono, 2009)
Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar-mengajar dan tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas (Sukidin, 2002:45) .
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan berkolaborasi  dengan  seorang observer. Penelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi disajikan dalam dua siklus) . Penelitian ini direncanakan dilakukan 2 siklus, dengan langkah-langkahnya diilustrasikan sebagai berikut:



 
 











Gambar 3.1
Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Dengan demikian rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi:
1.     Refleksi Awal
             Penelitian dilakukan bersama seorang observer, mengidentifikasi permasalahan kemampuan belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas V SD Negeri Pontang 01 Kecamatan Ambulu yang dialami siswa.
2.    Peneliti dan observer merumuskan permasalahan secara operasional dan relevan dengan rumusan masalah penelitian.
3.    Peneliti dan observer merumuskan hipotesis tindakan. Penelitian tindakan lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.
4.    Menetapkan dan merumuskan rancangan yang di dalamnya meliputi:
a.Menetapkan indikator-indikator desain variasi pembelajaran beserta 
   strateginya.
b.Menyusun rancangan strategi penyampaian dan pengelolaan strategi
    pembelajaran yang merupakan bahan intervensi (rancangan program,
    bahan, strategi belajar mengajar dan evaluasi)
c.    Menyusun metode dan alat perekam data berupa tes, catatan lapangan, pedoman wawancara, pedoman analisis dokumen, dan catatan harian.
d.    Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Peneliti bersama observer melaksanakan desain pembelajaran  sebagaimana ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan. Peneliti dan observer melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan guru. Kegiatan pengamatan dilakukan komprehensif dengan memanfaatkan hasil kerja siswa, pedoman pengamatan, serta catatan lapangan.

Refleksi
Peneliti dan observer mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintetis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulnya. Hasil yang diperoleh dari daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.



Subyek Penelitian
Subyek penelitian tindakan ini ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud adalah keterlaksanaan strategi motivasional. Dalam penelitian ini, subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Pontang 01 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember.

Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumen, dan wawancara.

Teknik Analisis  Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis dekriptif  kuatitatif  dan  deskriptif kualitatif. Deskriptif kuantitatif dengan perhitungan statistik deskriptif yang meliputi   menganalisis rerata atau means, prosentase ketuntasan hasil belajar dll, lebih lanjut dideskripsikan secara kulaitatif .  Temuan-temuan dari  hasil wawancara dan observasi juga  dianalisis selanjutnya dideskripsikan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian.
            Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan dengan alur tahapan :
 ( perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi dengan dua ( 2 ) siklus, setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan bahwa kemampuan belajar Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita siswa kelas V SDN Pontang 01 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember kurang  memuaskan.
             Kemampuan siswa dalam belajar Bahasa Indonesia materi pokok unsur – unsur cerita yang kurang memuaskan tersebut, mungkin disebabkan metode atau media pembelajaran yang kurang mengena pada anak didik. Sehingga siswa kurang termotivasi dengan proses belajar mengajar yang disampaikan yang berakibat pada hasil evaluasi yang kurang memuaskan. Oleh karena itu peneliti harus melakukan suatu tindakan  dengan memberikan media pembelajaran yang tepat.
          Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan Program pengajaran, Silabus, Jurnal dan RPP, dengan kegiatan sbb :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x pertemuan.
          b. Pertemuan 1 pemberian materi, pertemuan ke 2 evaluasi.
          c. Memberi format lembar kerja Siswa.
          Pengaturan kegiatan setiap siklusnya disesuaikan dengan tujuan penelitian dimana peneliti merencanakan sebagai berikut :
a. Pra Siklus, pembelajaran dilakukan tanpa menggunakan media dengan tujuan ingin mengetahui sejauh mana kemampuan siswa menyerap materi pembelajaran.
b. Pada siklus I, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media diharapkan dengan penggunaan media siswa lebih bergairah dan termotivasi dalam menerima materi pelajaran.
          Peneliti melaksanakan pembelajaran selama 2 x 35 menit dalam 2 kali pertemuan, dengan langkah – langkah sbb : a. Kegiatan awal  : 10 menit. b. Kegiatan Inti    :  45 menit. c. Kegiatan akhir : 15 menit.

Pra Tindakan / Pra siklus
              Penyajian  materi Bahasa Indoneria dengan materi pokok unsur – unsur cerita. Pada tatap muka  ini, Peneliti sekaligus sebagai guru pengajar memberikan materi dengan metoda ceramah dan  tidak menggunakan  media apapun kepada siswa, tujuannyai ingin mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menyerap materi apabila penyampaiannya secara konvensional. Selanjutnya dilakukan evaluasi siswa diberi selembar soal yang harus dikerjakan dengan jangka waktu yang sudah ditetapkan. Setelah waktu habis dan hasil jawaban siswa dikumpulkan, maka diperoleh nilai sebagai berikut :
                                       Nilai  Pra Siklus:

JUMLAH SISWA
skor
%
Keterangan
Rerata
8
>6
31,6
Belum Tuntas
5,7

8
6
31,6
Tuntas
3
7
36,8
Tuntas
Total=19

100%


Siklus I ( setelah tindakan / menggunakan Media. )
          Peneliti mrenyajikan  materi dengan menggunakan media wayang kulit selama proses pembelajaran. Pertama kali yang dilakukan peneliti adalah memperkenalkan tokoh – tokoh wayang yang sudah diganti namanya. Karena murid jarang sekali melihat wayang atau sama sekali tidak mengenal wayang, membuat media ini sebagai hal baru yang dilihat. Gambar wayang yang dijadikan media oleh peneliti membuat murid berkesan karena bentuk gambar wayang yang unik, bagus dan aneh. Selama ini yang mereka lihat mungkin media kartun. Dengan media wayang, murid justru ingin memegang dan termotivasi ke ingin tahuan mereka.
          Awal pembelajaran, peneliti memberi nama masing – masing wayang dengan nama lain berdasar materi pembelajaran. Kemudian peneliti memainkan wayang – wayang tersebut sesuai alur cerita. Siswa juga diajari cara memegang wayang yang benar dan bagaimana cara memainkannya. Siswa sangat terkesan dengan media ini, dikarenakan media wayang merupakan hal baru yang mereka lihat. Beberapa siswea maju ingin mencoba bagaimana cara memainkan media wayang dengan benar. Kesempatan ini dipergunakan sebaik – baiknya oleh peneliti dengan menugasi siswa untuk membuat cerita sendiri dan tokoh – tokohnya memakai media wayang. Setelah siswa puas dengan praktek individu, peneliti kembali menerangkan materi pokok yaitu unsur – unsur cerita rakyat. Siswa mendengarkan penjelasan peneliti dengan seksama. Menurut mereka penyampaian materi dengan media wayang kulit sangat menarik. Siswa dengan penuh seksama dan antusias mendengarkan cerita peneliti dan mengamati cara memainkan media wayang. Setelah siswa mendengarkan peneliti mendalang,  siswa diberi lembar kerja. Siswa diberi selembar soal yang harus dikerjakan. Dari hasil evaluasi diperoleh nilai sbb :

Hasil Siklus I                                         
JUMLAH SISWA
skor
%
Keterangan
Rerata
2
Ø  6
10,5
Belum Tuntas
7,5

2
        6
10,5
Tuntas
7
        7
36,8
Tuntas
8
       8
42,1
Tuntas
4
        9
21,1
Tuntas
Total=19

100%

           Observasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran adalah pengamatan tentang : aktivitas guru, aktivitas siswa, pengembangan materi, pengetrapan media, terakhir hasil evaluasi.
           Refleksi: Dari hasil tindakan dan pengamatan diperoleh data bahwa penyampaian materi pada  pratindakan kurang menarik dikarenakan dalam menyampaikan materi secara konvensional. Penyampaian secara konvensional ini sangat membosankan, sehingga selama proses pembelajaran hanya sebagian siswa saja yang serius mendengarkan. Sehingga dalam pengerjaan soal, sebagian besar siswa kesulitan dengan pertanyaan yang harus di jawab. Dari hasil evaluasi  nilai siswa kurang memuaskan. Jika dibandingkan dengan indikator kinerja yakni  berdasarkan standar ketuntasan minimal yakni ketuntasan individual minimal skor 6 dan ketuntasan klasikal  85 %, maka disimpulkan belum mencapai  standar karena ketuntasan  klasikal  baru mencapai  32, 6 %. Maka mendesak untuk dilakukan perbaikan.
          Hasil yang kurang memuaskan tersebut, oleh peneliti didiagnosis faktor penyebabnya. Kemudian dipecahkan masalahnya yaitu dengan melakukan tindakan dengan cara penyampaian materi dengan memakai media wayang kulit.  Dari penyampaian materi dengan menggunakan media wayang kulit tersebut,  diperoleh hasil yang memuaskan sudah mencapai stantar ketuntasan klasikal yakni mencapai 89,5 %.  Berdasarkan hasil diatas dapat dihentikan.  Secara keseluruhan perbandingan antara pra tidakan atau  pra siklus  dan siklus I dapat dilihat pada tabel berikut :


SKOR
Rata-2
< 6
6
7
8
9
10
Pra Tindakan
8
8
3
-
-
-
5,7
Pasca Tindakan 
2
2
   3
8
4
-
7,5


Grafik Perbandingan  Hasil Belajar Pra Tindakan dan Pasca tindakan


 Pembahasan
               Permasalahan yang dialami siswa dalam belajar Bahasa Indonesia, merupakan permasalahan yang biasa terjadi, karena selama ini biasanya materi ini  diberikan tanpa menggunakan media atau metoda. Guru hanya menerangkan, dan memberi soal yang harus dikerjakan. Apalagi bidang studi Bahasa Indonesia, materinya monoton hampir sama dengan bidang studi IPA. Sehingga pada pelajaran ini, guru harus pandai – pandai membuat media atau metoda yang tidak monoton agar siswa tidak bosan. Salah satunya materi pokok yang sedang peneliti lakukan ini.
          Dalam penelitian ini, peneliti mencoba memberikan hal baru agar siswa lebih semangat dalam menerima materi. Penyampaian materi akan menarik, apabila guru tidak bosan – bosannya menciptakan inovasi – inovasi pembelajaran. Dari hasil pengamatan, hasil evaluasi akan memuaskan, apabila materi diberikan secara variatif dan menarik. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai siswa , dimana terjadi kenaikan yang siqnifikan setelah siswa diberi materi dengan menggunakan media wayang kulit,  Kondisi awal rerata hasil belajar  5,7  meningkat  menjadi 7,5 pada siklus I. Dengan kenaikan nilai tersebut, bisa disimpulkan  bahwa tindakan yang dilakukan peneliti dengan penggunaan media wayang kulit bisa dikatakan berhasil telah mencapai indikator kinerja yakni Standar ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.
             
KESIMPULAN  DAN  SARAN

Kesimpulan
         Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan  penggunanaan media  wayang kulit  dapat  meningkatkan  kualitas  proses dan hasil  belajar  bahasa indonesia materi pokok unsur – unsur cerita .
Dalam pembelajaran peserta didik tampak lebih senang dan bersemangat dalam menerima materi pembelajaran dikarenakan media wayang kulit yang disampaikan oleh guru atau peneliti sangat menarik .   Media wayang kulit dapat memotivasi siswa dalam belajar dan memudahkan  menyerap materi pelajaran.

Saran-saran
Sebaiknya penggunaan  media pembelajaran seperti yang dilakukan peneliti tidak hanya dikembangkan di SDN Pontang 01 Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember saja, melainkan dikembangkan di sekolah – sekolah yang lain.
Guru hendaknya membiasakan menciptakan suasana belajar yang menarik, sehingga suasana belajar menyenangkan.

DAFTAR  RUJUKAN
Depdiknas. 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur.
Mulyasa, E, 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan menyenagkan, Bandung: Remaja Rosdakarya PT
Nana Sujana.  1987. Motivasi Belajar sebuah Pendekatan, Jakarta: Rineka Cipta
Sukidin. 2002. Managemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Cendidkia.

Surya, H.M.  2007. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta: Universitas Terbuka