Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPS  MATERI AJAR “PERAN ANGGOTA KELUARGA” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN VCT  (VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE)  

Retno Sudarmi

Abstrak:  VCT  merupakan  teknik pembelajaran  untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melaui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Penelitian Tindakan  Kelas ini bertujuan Meningkatkan Hasil belajar melalui penerapan VCT. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus satu ketuntasan mencapai 57%, meningkat menjadi 71% pada siklus kedua dan meningkat lagi menjadi 86%, melebihi standar ketuntasan  yang ditetapkan 85%.

Kata Kunci: VCT, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Model pembelajaran yang tepat akan dapat menumbuhkan daya tarik peserta didik dalarn mengikuti pembelajaran. Lebih lanjut, tumbuhnya daya tarik ini akan dapat mempengaruhi/meningkatkan kualitas motivasi dan gairah belajar peserta didik dalam proses pembelajaran. Dan pada gilirannya, seiring dengan meningkatnya kualitas motivasi serta gairah belajar peserta didik dalam proses pembelajaran itu, kualitas hasil belajar mereka akan dapat meningkat pula.
Teknik mengklarifikasi nilai (Value Clarification Technique) atau sering disingkat VCT  sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melaui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa.
Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.
Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.
VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral VCT bertujuan:
a)    Untuk mengukur atau mengetahul tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai.
b)    Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya.
c)    Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa.
d)    Melatih siswa bagaimana cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.
John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan Value clarification technique (VCT) dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat, setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut :
1.      Kebebasan Memilih
Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yaitu:
a)    Memilih secara bebas, artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh
b)    Memilih dari beberapa alternatif. Artinya, untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas
c)    Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
2.      Menghargai
Terdiri atas 2 tahap pembelajaran:
a)    Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari dirinya
b)    Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. Artinya, bila kita menggagap nilai itu suatu pilihan, maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain.
3.      Berbuat
Pada tahap ini, terdiri atas:
a)    Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya
b)    Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. Artinya, nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari.
VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik, yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehai-hari di masyarakat. Dalam praktik pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan siswa. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, Sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya (Mustaji dan Sugiarso, 2005; Rosyada, D, 2004).
Pada jenjang SD/MI mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Namun dalam pelaksanaannya masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Guru masih belum melakukan upaya untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Sementara itu, peran siswa lebih cenderung hanya mendengarkan, mencatat dan lebih diarahkan untuk menghafal. Orientasi pembelajaran cenderung lebih menekankan pada upaya untuk mencapai hasil daripada proses.
Hal ini menyebabkan siswa cenderung malas mengikuti pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial karena dianggap membosabkan, sehingga  hasil belajar siswa pun masih relative rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. 
Model Pembelajaran VCT  (Value Clarification Technique) atau Teknik mengklarifikasi nilai adalah teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melaui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.
Berdasarkan uraian diatas diatas, maka permasalahan penelitian tindakan kelas dirumuskan  sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Peran Anggota Keluarga” Melalui Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique)   Siswa Kelas II SDN Karangpring 01?
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka Penelitian Tindakan Kelas ini , bertujuan untuk mengkaji tentang: Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Peran Anggota Keluarga” Melalui Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique)   Siswa Kelas II SDN Karangpring 01
Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat :
a)      Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya pada mata pelajaran IPS materi ajar ” Peran Anggota Keluarga”,
b)      Bagi Guru, dapat  menjadi pengalaman baru yang bermanfaat dalam meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar.
c)      Bagi Sekolah, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran

METODE PENELITIAN
                  Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupten Jember dan dilaksanakan pada semeseter Genap tahun pelajaran 2013/2014. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 21 siswa.

 Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitian atau desain penelitian, siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian bersifat kolaboratif yang didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas II Sekolah Dasar Negeri Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014.
Sukidin (2002) mengatakan bahwa dalam pelaksanaan PTK perlu dilakukan siklus tindakan yang mengacu pada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perancangan dan sama sekali tidak mengacu kepada kejenuhan informasi sebagaimana yang lazim dipedomani dalam proses interaktif pengumpulan data penelitian kualitatif. Dalam PTK ini menggunakan model penelitian tindakan Hopkins (PGSM:1999) yang berbentuk spiral, dengan tahapan penelitian tindakan pada satu siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection).

Metode Pengumpulan Data
Dalam suatu penelitian disamping menggunakan metode yang tepat juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Observasi, Metode Wawancara,  Metode Tes, Metode Dokumentasi.

 Analisis Data
Analisis data adalah cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga menghasilkan suatu kesimpuian yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Data yang akan dianalis dalam penelitian ini adalah 1) kegiatan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung yang semuanya diperoleh dari observasi yakni meliputi aspek afektif dan psikomotor, 2) hasil tugas dan ulangan harian siswa (aspek kognitif dianalisis data dengan Analisis deskriptif kualitatif).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Hasil Penelitian
Penelitian dilaksanakan dikelas II dengan jadwal penelitian dilaksanakan sesuai dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Pelaksanaan tindakan pada kondisi awal yaitu melaksanakan tes pendahuluan tentang materi ajar “ Peran Anggota Keluarga” di kelas II sesuai dengan jadwal. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) . Tes pendahuluan dengan 15 soal essay. Bedasarkan tes pendahuluan ternyata masih banyak siswa yang mendapat nilai < 65 , yaitu sebanyak 9 siswa atau sebesar 43%, dan yang tuntas belajar atau yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 12  dengan persentase 57% dari 21 siswa. Sehingga pada kondisi awal ini secara klasikal dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran Siklus I. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) . Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) , dan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran kepada siswa. Setelah itu siswa dibagi menjadi  4 kelompok terdiri dari 5/6 siswa.
Pada siklus ini, siswa tampak antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terbukti , siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil belajar siswa jadi mengalami peningkatan. Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 29% dan yang mendapat nilai 65–100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 71%. Namun hasil belajara pada siklus I, masih belum mencapai ketuntasan yang diharapkan, maka untuk memperbaiki nilai pada siklus I, peneliti merasa masih perlu untuk dilaksanakan analisa data pada siklus selanjutnya, yaitu siklus II.
Pada siklus II, siswa tamapak mulai memahami dan terbaisa dengan model pembelajaran yang diterapkan. Beberapa siswa yang pada siklus I, terlihat pasif, pad siklus II ini sudah mulai tampak bersemangat dan berinteraksi secara aktif pada saat pembelajaran. Hal ini terbukti, saat diadakan analisa data dan evaluasi , terjadi peningkatan hasil belajar yang menggembirakan.
            Hasil analisa data pada siklus II, dapat dilihat lebih jelas pada tabel dibawah ini.

Tabel 1 : Ketuntasan Hasil belajar IPS pada Siklus I.
Skor
Siswa
Persentase (%)
< 65
6
 29%
65 – 100
15
 71%
Jumlah
21
100 %
Sumber: Data yang diolah
            Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil belajar pada siklus I adalah  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 29% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 71%.  Meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan, oleh karena itu masih perlu diadakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II.
Pembelajaran pada siklus II, dilaksanakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. dan Hasil analisa data pada siklus II, dapat dilihat  pada tabel dibawah ini.
Tabel 2 : Ketuntasan Hasil belajar IPS pada Siklus II.
Skor
Siswa
Persentase (%)
< 65
3
 14%
65 – 100
18
 86%
Jumlah
21
100 %
Sumber: Data yang diolah
            Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui hasil belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara kalisikal , karena dari 21 siswa  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 14% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 86%.  Sehingga, penelitian dihentikan dan tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Berikut ini disajikan tabel dan grafik perbandingan hasil belajar pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II.

Tabel 3 : Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar IPS pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Siklus I
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
9
43%
6
29%
3
14%
65 - 100
12
57%
15
71%
18
86%
Jumlah
21
100%
21
100%
21
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik 1: Perbandingan Ketuntasan Hasil belajar IPS pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II.
Sumber : data yang diolah

Pembahasan
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas siswa ataupun aktivitas kelompok dan untuk mengamati aktivitas guru (peneliti) dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini, peneliti yang bertugas mengamati aktivitas guru sebagai refleksi kegiatan pembelajaran dan 2 observer yang bertugas mengamati aktivitas siswa dan aktivitas kelompok.
Kegiatan Pembelajaran pada umumnya berjalan lancar. Hal tersebut dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam berdiskusi dalam kelompoknya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengetahuan awal siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) . Tes pendahuluan dengan 14 soal essay. Bedasarkan tes pendahuluan ternyata masih banyak siswa yang mendapat nilai < 65 , yaitu sebanyak 9 siswa atau sebesar 43%, dan yang tuntas belajar atau yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 12  dengan persentase 57% dari 21 siswa. Sehingga pada kondisi awal ini secara klasikal dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya dilaksanakan pembelajaran Siklus I. Model pembelajaran yang digunakan adalah Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) . Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran, siswa diberikan penjelasan tentang Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique) , dan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran kepada siswa. Setelah itu siswa dibagi menjadi  4 kelompok terdiri dari 5/6 siswa.
Pada siklus ini, siswa tampak antusias dan bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Hal ini terbukti , siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil belajar siswa jadi mengalami peningkatan. Hasil analisa pada siklus I, diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 6 siswa atau sebesar 29% dan yang mendapat nilai 65–100 sebanyak 15 siswa atau sebesar 71%. Namun hasil belajara pada siklus I, masih belum mencapai ketuntasan yang diharapkan, maka untuk memperbaiki nilai pada siklus I, peneliti merasa masih perlu untuk dilaksanakan analisa data pada siklus selanjutnya, yaitu siklus II.
Pada siklus II, hasil belajar pada siklus II sudah mencapai ketuntasan belajar secara kalisikal , karena dari 21 siswa  yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 3 siswa atau sebesar 14% dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 86%.  Sehingga, penelitian dihentikan dan tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
            Penerapan Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique)  dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Pada kegiatan pembelajaran siswa terlihat aktif dan bersemangat Hal ini terlihat dari bagaimana mereka berdisusi untuk memahami materi yang disajikan dalam bentuk ringkasan materi serta saling bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru sekaligus saling membantu dalam mencari jawaban dari pertanyaan dari guru pada siswa., dan Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data tersebut diatas, maka hasil penelitian tindakan kelas peneliti simpulkan sebagai berikut : Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Materi Ajar “Peran Anggota Keluarga” Melalui Model Pembelajaran VCT (Value Clarification Technique)   Siswa Kelas II SDN Karangpring 01 Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014

 Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau meningkatkan hasil belajar maka peneliti memberi saran-saran sebagai berikut :
a)     Untuk guru, hendaknya berupaya untuk selalu meningkatkan profesionalisme salah satunya dengan mengadakan Penelitian Tindakan Kelas,
b)     Untuk sekolah, hendaknya memberi dukungan kepada guru dan siswa dengan menyiapkan sarana prasarana untuk lancarnya pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan oleh guru.

DAFTAR  RUJUKAN
Budiningsih, A.C, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta
Depdiknas, 2002, Kebijakan Pengembangan Kurikulum Masa Depan, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderai Pendidkan Dasar dan Menengah
Degeng, Nyoman S, 2006, Teori Belajar dan Pembelajaran, Bagan penataran Applied Approach, Malang: LP3 UM
Mulyasa, E, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Sebuah Panduan Praktis, Bandung : Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Mustaji dan Sugiarso, 2005, Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik, Surabaya : Penerbit Unesa University Press
Nurhadi dan Senduk, AG, 2003, Pembelajaran Kontekstual Dan Penerapannya Dalam KBK, Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang
Rosyada, D, 2004, Paradigma Pendidikan Demokratis . Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta : Prenada Media
Slavin, RE, 2000, Educational Psychology, Theory into Practice, Fifth Edition, Boston USA : Allyn and Bacon,
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset.