Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PENINGKATAN HASIL  BELAJAR MATEMATIKA MATERI POKOK  PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MELALUI MEDIA SIMPOA 

 Juwariyah

Abstrak: Media Simpoa merupakan alat hitung yang dibuat dari kayu yang dibentuk bulat kecil – kecil, yang dapat memudahkan dalah belajar penjumlahan maupun pengurangan.  Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berhitung dengan menggunakan media simpoa pada siswa kelas II SDN Klatakan 02. Desain penelitian ini adalah penelitian Tindakan kelas yang dilaksakan dengan tiga siklus. Hasil penelitian Siswa lebih termotivasi dan maksimal melakukan berhitung penjumlahan  dan pengurangan dengan menggunakan media simpoa .Peningkatan  kemampuan  belajar melalui media simpoa mengakibatkan perolehan hasil  belajar meningkat.

       Kata kunci:  Hasil Belajar, Media Simpoa.

PENDAHULUAN
Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki obyek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran dedukatif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran induksi dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan penalaran dedukatif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, oksplorasi dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten (Depdiknas, 2005; Hudoyo, Herman, 1979.).
  Peningkatan mutu pendidikan harus diupayakan secara terus menerus terencana dan bertahap. Salah satu upaya yang telah dilaksanakan ke arah tersebut adalah pengembangan metode, media dan strategi pengajaran. Dimana metode ini merupakan salah satu penyampaian materi secara spesifik sehingga memudahkan siswa untuk memahami dan menguasai materi pelajaran. Pembaharuan pengajaran tidak harus disertai dengan pemakaian perlengkapan uang serba hebat, tetapi lebih menekankan pada pengembangan cara-cara baru belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pembelajaran akan efektif bila guru dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi di kelasnya, kemudian menganalisa dan menentukan faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab utama, yang selanjutnya menentukan tindakan pemecahannya.
  Tuntutan peningkatan kualitas profesional guru belum memenuhi persyaratan yang diinginkan atau diharapkan, karena antara petunjuk pelaksanaan yang sudah ada banyak terdapat kendala bagi para pelaksana pendidikan utamanya guru, terbukti dengan dampak yang di lapangan antara lain: 1)Keterampilan berhitung pada anak didik masih sangat rendah, terutama tentang keterampilan menghitung diatas angka diatas sepuluh untuk kelas II; 2). Tingkat pengetahuan dan prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika lebih rendah dari mata pelajaran yang lain; 3) Suasana belajar kurang dinamis.
Kejadian yang terjadi seperti pada permasalahan di atas disebabkan oleh dominasi guru masih tinggi, peran guru dalam proses balajar mengajar sebagai penyebar ilmu kurang berperan sebagai fasilitator, guru masih banyak hanya bergantung pada buku LKS, kurang kreatif tidak menggunakan media pembelajaran yang memadai, guru masih dominan menggunakan ceramah dan mencatat, Demikian gambaran situasi pembelajaran saat ini yang terjadi di lapangan khususnya pembelajaran di Sekolah Dasar oleh karena itu perlu media yang tepat untuk memudahkan siswa memahami materi yang diajarkan..
Upaya untuk memudahkan pemahaman materi pelajaran pada peserta didik perlu, memilih dan  menggunakan media tersebut. Peraga sebagai alat dalam pengajaran atau media yang dapat membantu guru dalam usaha menjelaskan pengertian. Media merupakan semua bentuk dan alat perantara yang dipergunakan untuk menyampaikan informasi. Pengalaman melalui benda sebenarnya, pengalaman yang diperoleh dengan jalan mengalami secara langsung dalam kondisi yang sesungguhnya. Pengalaman melalui benda-benda pengganti, pengalaman yang diperoleh dengan jalan mengamati benda-benda pengganti ( Ruseffendi, ET, 1980)..
Pandangan yang selaras dengan yang dikemukakan Edger Bale yang dikutip oleh Piet Sahertian dan Fran Mahameru (2006:146) tentang pengalaman belajar ada 10 macam, antara lain: “1. Benda sesungguhnya 2. Benda tiruan/model 3. Dramatisasi 4. Demonstrasi 5. Darmawisata 6. Pameran 7. Bioskop 8. Radio 9. Lambang benda 10. Lambang kata”
  Untuk memudahkan pemahaman  tentang konsep-konsep matemaika yang  abstrak, peserta didik perlu dibantu media yang dapat mengkongkritkan konsep sehingga mudah dipahami yaitu dengan media sempoa.  Media Simpoa merupakan alat hitung yang dibuat dari kayu yang dibentuk bulat kecil – kecil. Bentuk media simpoa bermacam – macam. Ada yang dibentuk atas besar  bawah kecil, dan ada juga yang dibentuk sama besar bulatannya.
Media ini sejak dulu biasa digunakan oleh orang Tiongha. Gunanya sama dengan kalkulator, untuk membantu menghitung. Media simpoa digunakan sebelum ada kalkulator atau peralatan hitung lain yang lebih canggih. Gunanya untuk membantu menghitung angka – angka yang sulit. Sebelum ada media simpoa, dulu anak didik kita cara menghitungnya memakai lidi. Zaman tambah berubah. Dari lidi terciptalah media simpoa. Anak – anak akan merasa senang selama memegang media ini. Selain untuk menghitung, kadangkala mereka gunakan sebagai alat musik kalau sudah capek dan pengerjaan tugas sudah selesai.Dengan penggunaan media simpoa, anak akan merasa nyaman selama pengerjaan tugasnya, sehingga diharapkan hasil perolehan Matematika materi pokok penjumlahan meningkat.
Mengingat permasalahan tersebut adalah masalah yang bermuara dari dan dirasakan oleh guru kelas, maka peneliti berupaya mencoba  dengan media yang  efektif dalam memperkenalkan konsep kepada anak didik mencari yang paling mudah  dipahami sehingga pelajaran matematika tidak lagi merupakan pelajaran yang ditakuti dan sulit, melainkan menjadi pelajaran yang menyenangkan.
 Berdasarkan latar belakang diatas maka  rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penggunaan media simpoa dapat meningkatkan kemampuan berhitung penjumlahan dan pengurangan  pada siswa kelas II SDN Klatakan 02 ?
Tujuan utama penelitian ini adalah menghasilkan desain pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kemampuan berhitung menggunakan media simpoa pada siswa kelas II SDN Klatakan 02 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember, dengan demikian secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan berhitung menggunakan media simpoa pada siswa kelas II SDN Klatakan 02 .
Setelah penelitian ini selesai diharapkan dapat bermanfaat: 1)Bagi Kepala Sekolah, sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan untuk mendorong guru dalam menciptakan metode yang tepat untuk menentukan keberhasilan pengelolaan pembelajaran di sekolah; 2) Bagi Guru, sebagai bahan masukan untuk dijadikan dasar yang akan dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan guru lebih berkembang dan terarah dalam pengelola situasi dan kondisi kelas/pengelola kelas; 3)Bagi Siswa, dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar, dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan tepat, mampu menyelesaikan soal yang tidak terbatas dengan waktu yang relatif singkat.

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan (Action Research) adalah suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru untuk meneliti sendiri praktik pembelajaran yang dilakukan di kelas. Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian tindakan kelas, guru dan peneliti secara kolaboratif juga dapat melakukan penelitian terhadap proses atau produk pembalajaran secara reflektif di kelas.
Mengacu pendapat Sukidin dkk (2002) “Dengan melakukan penelitian tindakan kelas, guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif”.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan cara kolaborasi yaitu penelitian yang akan melibatkan orang lain di samping peneliti yaitu sebagai praktikan maupun observer. Penelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi disajikan dalam tiga siklus) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan utama tentang bagaimana meningkatkan keterampilan perkalian bilangan di atas lima dengan teknik satu kali menggunakan teknik sepuluh jari pada siswa kelas II SDN Klatakan 02  Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Penelitian ini direncanakan dilakukan 3 siklus, yaitu pada satu sekolah dan pada kelas dan guru yang sama, dengan langkah-langkahnya diilustrasikan sebagai berikut:
Gambar: Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Dengan demikian rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi:
1)    Refleksi Awal
Penelitian dilakukan bersama observer yaitu 1 (satu) Guru kelas  mengidentifikasi permasalahan menjumlahkan bilangan di atas sepuluh pada siswa kelas II SDN Klatakan 02 Kecamatan Tanggul, yang dialami siswa. Peneliti dan Praktisi merumuskan permasalahan secara operasional. Peneliti dan Praktisi merumuskan hipotesis tindakan. Oleh karena itu, penelitian tindakan lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistik, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.

2)    Menetapkan dan merumuskan rancangan yang di dalamnya meliputi:
a.    Menetapkan indikator-indikator desain variasi pembelajaran.
b.    Menyusun rancangan strategi penyampaiandan pengelolaan strategi pembelajaran yang merupakan bahan intervensi (rancangan program, bahan, strategi belajar mengajar dan evaluasi)
c.    Menyusun metode dan alat perekam data berupa tes, catatan lapangan, pedoman wawancara, pedoman analisis dokumen, dan catatan harian.
d.    Menyusun rencana pengelolaan data, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
1.        Peneliti melatih praktisi melaksanakan desain pembelajaran berhitung bilangan puluhan dengan peraga simpoa sebagaimana ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan.
2.         Peneliti dan observer melakukan pengamatan secara sistematis terhadap kegiatan yang dilakukan siswa. Kegiatan pengamatan dilakukan komprehensif dengan memanfaatkan pedoman pengamatan, serta catatan lapangan.

Refleksi
Peneliti dan observer mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: analisis, sintetis, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulnya. Hasil yang diperoleh berupa temuan tingkat efektifitas desain penggunaan media simpoa dalam menghitung bilangan ribuan yang dirancang dari daftar permasalahan yang muncul di lapangan yang selanjutnya dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.

Subyek Penelitian
Subyek penelitian tindakan ini  adalah siswa kelas II SDN Klatakan 02 Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. ditentukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud adalah faktor  rendahnya kemampuan siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan.

Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya maka perlu teknik pengumpulan data melalui tes, studi dokumentasi, observasi dan interview. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, dokumen, wawancara dan tes akhir.

Teknik Analisis  Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data  yang Secara garis besar kegiatan analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)    Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensistesis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan.
2)    Mereduksi data yang di dalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh berupa pola-pola yang berlaku dalam pelaksanaan pembelajaran.
3)    Menyimpulkan dan memverifikasi. Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian terhadap temuan penelitian (Syaiful Rahman,, 2006; Sukidin, dkk, 2002.).

HASIL  DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil pengamatan peneliti sebelum dilaksanakan penelitian dan tindakan kelas, murid banyak kesulitan dalam berhitung dengan jari. Selain jari mereka yang terbatas, murid juga tidak mempunyai cara lain bagaimana agar mereka bisa berhitung dengan cepat dan benar. Kadangkala guru menyuruh murid berhitung dengan lidi, akan tetapi mereka tetap saja tidak dapat berhitung dengan cepat dan benar. Kemampuan  berhitungpun  kurang maksimal.

Perencanaan
   Pada siklus I ini, sebelum materi pokok penjumlahan disampaikan kepada siswa, guru terlebih dahulu Menyusun skenario pembelajaran ( RPP )
  Tujuan pembelajaran menyesuaikan dengan kompetensi dasar yang ada pada silabus.
  RPP yang tersusun adalah sbb :
a.    Dilaksanakan dalam dua kali tatap muka  ( 2 x 35 menit ).
b.    Tatap muka I, menjelaskan materi, tatap muka II pemberian tugas.
c.    Membuat format lembar kerja siswa (LKS).  
  Kegiatan pada siklus I ini, pembelajaran dilakukan  menggunakan media sempoa, dengan tujuan ingin mengetahui sejauh mana kemampuan materi pembelajaran yang dimiliki oleh siswa.

Pelaksanaan
        a. Praktisi / guru melaksanakan pembelajaran selama 2 x 35 menit sesuai
dengan desain yang disusun dengan langkah-langkah pembelajaran (1)
Kegiatan awal 10 menit, (2) Kegiatan inti 45 menit, dan (3) Kegiatan akhir
15 menit, sesuai dengan prosedur yang telah tertuang dalam rencana
pembelajaran.
       b.  Duduk murid tidak dikelompokan. Mereka duduk berderet seperti
            biasanya. Peneliti menjelaskan cara berhitung penjumlahan dan
            pengurangan  menerangkan di papan tulis dan sesekali menggunakan
            jari.
        c. Setelah pemberian materi selesai, murid diberi soal.

Observasi
Hasil pengamatan pada siklus I, suasana kelas berjalan dengan tenang tidak ramai mereka berusaha menyelesaikan soal yang diberikan guru seperti dalam buku paket Matematika. Siswa merasa kesulitan untuk menjawab / menyelesaikan soal-soal, hal ini dibuktikan dengan waktu yang diberikan terasa tidak cukup. Sehingga banyak siswa berusaha melihat pekerjaan teman didekatnya.Dengan waktu yang terbatas yang diberikan, hasilnya tetap tidak memuaskan, guru memberi waktu untuk mengajukan pertanyaan apabila ada kesulitan, sekalipun ada yang bertanya tetapi materi pertanyaan menunjukkan mereka tidak bisa mengerjakan dengan cepat dan benar.
             Hal tersebut dibuktikan dengan hasil perolehan nilai sbb :

Hasil Belajar  Siklus I

Skor
Jumlah Siswa
%
Keterangan
>6
10
40%
Belum Tutas
6
8
32%
Tuntas
7
7
28%
Tuntas
8
0
0

9
0
0

Total
23
100%
Rerata=5,7

 Refleksi     
   Dari hasil evaluasi pada siklus I, menunjukkan bahwa murid kurang memahami materi penjumlahan dan pengurangan. Hal ini terilat dari perolehan nilai dimana murid yang mendapat nilai 5, lebih dari 10 anak. Murid yang mendapat nilai 6, ada 8 anak dan murid yang mendapat nilai 7, ada 7 anak. Tidak ada murid yang mendapatkan nilai 8, 9, maupun 10. Perolehan rata – ratanyapun, kurang dari 6, yaitu 5,7.  Setelah dibandingkan dengan  indikator kinerja atau standar ketuntasan minimal (SKM)  yakni mendapat skor 6 dan ketuntasan klasikal 85%  sementara yang dicapai ketuntasan klasikal baru mencapai 60% maka dapat disimpulkan belum tuntas, maka perlu dilanjutkan siklus kedua.  Faktor penyebab ketidak tuntasan tersebut adalah karena  siswa belum terbiasa menggunakan sempoa maka perlu dilakukan pendampingan  secara individual Dengan melihat hasil evaluasi tersebut, tentunya penelkiti akan merefleksi pada siklus II.

Siklus II
Perencanaan.
Pada siklus II ini, peneliti menyusun Rencana Pembelajaran ( RPP ) terlebih dahulu.
  RPP yang tersusun adalah sbb :
a. Dilaksanakan dalam dua kali tatap muka  ( 2 x 35 menit ).
b. Tatap muka I, menjelaskan materi, tatap muka II pemberian tugas.
c. Membuat format lembar kerja siswa (LKS).  
d. Memberi tugas pada murid untuk membawa simpoa dengan pendampingan secara individual.

Pelaksanaan
 a.  Peneliti membagi murid menjadi 5  kelompok. Masing –    masing kelompok
      terdiri dari  5 anak. 
 b.  Setiap kelompok harus ada satu alat peraga simpoa.
c.   Peneliti mengajarkan bagaimana penggunaan simpoa yang benar.
d..  Akhir pembelajaran, murid diberi soal evalauasi.

 Observasi.
             Hasil observasi pada siklus II, dengan penggunaan media simpoa, murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran lecih bersemangat dan bergairah. Mereka lebih termotivasi dibanding pada siklus I. . Hal ini mungkin dikarenakan proses belajar mengajarnya yang lebih  menarik dan menyenangkan karena ada alat untuk belajar dan bermain yaitu simpoa.. Akhir dari pembelajaran, murid diberi soal evaluasi dan hasilnya sbb :

Skor
Jumlah siswa
%
Keterangan
 Rerata
<6
2
8%
Belum Tuntas
7,9
6-10
23
92%
Tuntas
Total
25
100 %


 Refleksi.
              Dari evaluasi pada siklus II,  hasil nilai murid lebih meningkat dibanding siklus I. Yang mendapat nilai 5 berkurang menjadi 2 anak. Yang mendapat nilai 6, ada 5 anak. Yang mendapat nilai 7, ada 3 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 4 anak. Yang mendapat nilai 9, ada 5 anak, dan yang mendapat nilai 10, ada 6 anak. Rata – rata nilai juga meningkat menjadi  7,9.  Jika dibandingkan dengan indikator kinerja atau indikator keberhasilan dengan menggunakan standar ketuntasan minimal (SKM/KKM) yaitu skor 6 dan ketuntasan kalisikal 85% dari total siswa maka sudah mencapai, akan tetapi peneliti melakukan pemantapan dengan melanjutkan siklus ketiga. Karena ada yang masih mendapat nilai 5  dan 6, peneliti perlu dilanjutkan pada siklus III.
     
Siklus III
Perencanaan
             Pada siklus III ini, peneliti menyusun skenario pembelajaran melalui
             Rencana Pembelajaran  ( RPP ) yang di sesuaikan dengan program dan
              silabus yang ada.
              Dalam RPP kegiatannya tercantum sebagai berikut :
          a. Pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit, 2 x tatap muka.
           b. Peneliti membagi murid menjadi 5  kelompok. Masing –      masing
               kelompok terdiri dari  5 murid.  .
           c. Pada jam pertama, murid tetap diberi materi penjumlahan dan
               pengurangan dan ditugasi membawa simpoa dan  melakukan secara   
               mandiri.
           d. Akhir pemberian materi, murid diberi soal evaluasi.
 Pelaksanaan
             a.    Pemberian materi pelajaran dilaksanakan 2 x 35 menit.
             b.  . Jam  pertama, peneliti menyuruh murid bergabung dengan
                     kelompok masing – masing seperti pada siklus II. Pembentukan
                     kelompok ini, dikandung maksud agar murid yang kurang paham
                     dalam memainkan simpoa, bisa bertanya kepada teman dalam satu
                      kelompok.
    c..  Akhir pembelajaran, murid diberi soal evalauasi.

 Observasi.
             Hasil observasi pada siklus III, dengan penggunaan media simpoa, murid mengikuti kegiatan pembelajaran lecih bersemangat dan bergairah. Mereka lebih termotivasi dibanding pada siklus I dan II. . Hal ini mungkin karena mereka mengulang untuk yang ke tiga kalinya..
 Akhir dari pembelajaran, murid diberi soal evaluasi dan hasilnya sbb :

                                                      Hasil Siklus III                                         

Skor
Jumlah siswa
%
Keterangan
Rerata
<6
0
0
Belum Tuntas
8,8
6
0
0
Belum Tuntas
7
2
8%
Tuntas

8
10
40%
Tuntas

9
5
20%
Tuntas

10
8
20%
Tuntas

Total
25
100 %


Refleksi.
              Dari evaluasi pada siklus III,  hasil nilai murid lebih meningkat dibanding siklus I dan siklus II. Hasil yang didapat tidak ada murid yang mendapat nilai 5 dan 6.. yang mendapat nilai 7, hanya 2 anak. Yang mendapat nilai 8, ada 10 anak. Yang mendapat nilai 9, ada 5 anak. Dan yang mendapat nilai 10, ada 8 anak. Jumlah nilai rata – ratanyapun meningkat menjadi 8,8. Jika dibandingkan dengan indikator kinerja atau indikator keberhasilan dengan menggunakan standar ketuntasan minimal (SKM/KKM) yaitu skor 6 dan ketuntasan kalisikal 85% dari total siswa maka sudah mencapai karena ketuntasn mencapai 100%.
                  
Pembahasan
              Penyampaian materi berhitung dengan menggunakan media simpoa, sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Murid lebih bergairah dan termotivasi selama proses pembelajaran berlangsung.Dari tindakan yang telah dilaksanakan dapat dilaporkan adanya peningkatan kemampuan belajar penjumlahan dan pengurangan. Peningkatan kemampuan mengajar tersebut antara lain: Kebiasaan mengajar yang membiasakan guru aktif menjelaskan dan menerangkan mulai berkurang dan berubah menjadi membimbing dan mengembangkan inisiatif siswa. Kebiasaan siswa yang biasa pasif, berubah menjadi aktif dalam mengidentifikasi permasalahan. Setiap akhir pelajaran, siswa memperoleh hasil belajar selama proses belajar berlangsung melalui diskusi kelompok maupun individu. Pada saat pembelajaran, peneliti dan observer selalu memperhatikan: Perbedaan individu,  Pengorganisasian kelas, Inisiatif siswa, Isi materi ajar, Variasi pembelajaran.  Peningkatan ketuntasan hasil belajar dan rerata yang dicapai siswa secara visual tampak pada grafik sebagai berikut:

Grafik Peningkatan  dan Rerata  Hasil Belajar  Siklus i, II dan III


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan.
            Berdasarkan analsisi data dan pembahasan  dapat disimpulkan adalah sbb: dalam pembelajaran siswa lebih termotivasi untuk belajar penjumlahan  dan pengurangan dengan menggunakan media simpoa .Peningkatan  kemampuan  belajar melalui media simpoa mengakibatkan perolehan hasil   belajar meningkat. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan pada siklus I  ketuntasan mencapai  40 % dan siklus II meningkat menjadi. 92.%,  siklus III meningkat menjadi  100%.

Saran
         Untuk semua kolega Guru sebaiknya menggunakan media  simpoa pada  pembelajaran materi berhitung  menjumlah dan mengurangi, agar proses pembelajaran lebih maksimal dan variatif.  Guru  hendaknya selaluberkreasi mengadakan uji coba media atau metoda   yang ditemukan.

DAFTAR  RUJUKAN
Depdiknas, 2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puskur
Syaiful Rahman, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah, Surabaya : SIC
Nana Sujana, 1987. Motivasi Belajarsebuah Pendekatan, Jakarta: Rineka Cipta
Hudoyo, Herman, 1979. Metode Mengajar Matematika, Surabaya : Usaha Nasional
Sukidin, dkk, 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Surabaya : Insan Cendikia
Ruseffendi, ET, 1980. Pengajaran Matematika Modern, Bandung : Tarsito