Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DALAM PENERAPAN KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Sumarni[*]

Abstrak: Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi dirancang untuk memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk belajar dan mengembangkan seluruh potensinya sesuai dengan minat, bakat dan kreativitasnya. Oleh karena itu program peminatan merupakan salah satu karakteristik dari kurikulum 2013 ini. Melalui program peminatan ini diharapkan seluruh peserta didik akan dapat belajar sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya secara optimal serta menentukan arah tujuan hidup di masa depannya. Sehubungan dengan hal tersebut guru Bimbingan dan Konseling memegang peran yang sangat penting dalam membantu setiap peserta didik agar dapat memilih dan menetapkan peminatan sesuai dengan kekuatan dan kemungkinan keberhasilnnya.

Kata Kunci : Peran guru BK, peminatan, SMA.

PENDAHULUAN
Mutu pendidikan  merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa dan negara. Melalui pendidikan yang berkualitas, karakter dan kompetensi warga negara terbentuk.  Oleh karena itu, pemerintah Indonesia konsisten untuk selalu berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui beragam pembaharuan dan peningkatan penyelenggaraan pendidikan. Pemberlakuan kurikulum 2013 menjadi salah satu bentuk upaya pembaharuan pendidikan Indonesia mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Ide cerdas dalam kurikulum 2013 antara lain adanya upaya untuk mengembangkan karakter peserta didik agar menjadi insan-insan yang kompeten, kompetitif, dan berkarakter sesuai dengan budaya bangsanya.
Penerapan kurikulum 2013 pada semua jenis dan jenjang pendidikan dari tingkat dasar hingga sekolah menengah, merupakan wujud nyata dari pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran  agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki  kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diridwdd, kepribadian, akhlak mulia, dan ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU SISDIKNAS 2003). Sesuai dengan undang undang tersebut, dalam kurikulum 2013 untuk SMA, MA dan SMK diselenggarakan program peminatan yang dilaksanakan pada awal peserta didik masuk ke jenjang pendidikan tersebut. Dengan demikian program peminatan merupakan ciri khas dari kurikiulum 2013 yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang berusaha memberikan layanan secara optimal kepada peserta didik untuk berkembang sesuai dengan potensi, bakat, dan kreativitasnya.
Hal baru yang ada dalam Kurikulum 2013 adalah peminatan bidang ilmu bagi peserta didik SMA dan SMK. Peminatan pada SMA bersifat lentur, sedangkan di SMK bersifat fix. Bagi peserta didik SMA, peminatan dilakukan lebih awal yaitu semenjak kelas X atau tahun pertama. Peminatan pada hakikatnya adalah metamorfosa dari penjurusan yang ada pada kurikulum sebelumnya. Peminatan bertujuan memberikan ragam pilihan bagi peserta didik agar potensi dan minatnya dapat dioptimalisasikan disamping minat utamanya.
Peminatan merupakan proses yang berkesinambungan dan harus berpijak pada kaidah-kaidah dasar yang secara eksplisit dan implisit tertuang  dalam kurikulum. Penetapan peminatan peserta didik hendaknya sesuai dengan potensi diri, minat, dan kecenderungan pilihan peserta didik agar proses berlangsung secara efektif dan membawa hasil belajar yang optimal. Dengan melihat ketentuan yang termuat dalam kurikulum 2013 tersebut, dimungkinkan dalam pelaksanaannya akan dapat menimbulkan masalah besar bagi peserta didik SMA, SMK, dan MA yang tidak mampu menentukan pilihan peminatan secara tepat. Dampaknya peserta didik akan mengalami  kesulitan belajar dan bahkan kecenderungan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran yang sangat penting dalam penerapan kurikulum 2013, khususnya pada saat peserta didik menentukan peminatan. Dalam hal ini peran guru BK harus mampu memfasilitasi peserta didik agar menemukan bidang, jurusan, serta karier yang sesuai minat dan potensinya. Pilihan yang tepat akan membantu peserta didik mencapai perkembangannya secara optimal.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka dalam artikel ilmiah ini akan dikaji peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam penerapan kurikulum 2013, khususnya dalam penyelenggaraan program peminatan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun permasalahan yang dikaji dalam artikel ini adalah:
1.    Bagaimanakah Program peminatan di SMA dalam kurikulum 2013?
2.    Bagaimanakah peran guru Bimbingan dan Kondeling (BK) dalam penerapan kurikulum 2013 ?
Pembahasan dalam artikel ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat kepada beberapa pihak yang terkait. Manfaat tersebut antara lain:
1.    Memberikan gambaran tentang program peminatan di SMA sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam kurikulum 2013.
2.    Menjadi salah satu panduan bagi guru BK dalam melaksanakan tugasnya, terutama dalam menerapkan kurikulum 2013 dan lebih khusus lagi dalam melaksanakan program peminatan.
3.    Menjadi  salah satu pendorong atau spirit bagi para guru BK dalam melaksanakan tugasnya, khususnya dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik agar berkembang sesuai dengan bakat, minat,  potensi, dan kreartivitasnya 

PEMBAHASAN

1.   Program Peminatan di Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam Kurikulum 2013

Kurikulum Tahun 2013 dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik belajar berdasarkan minat dan bakatnya, sehingga peminatan merupakan salah satu ciri khas dari penerapan kurikulum 2013. Pelaksanaan program peminatan dalam kurikulum 2013 ini sebenarnya terjadi di jenjang pendidikan SMA, MA, dan SMK, akan tetapi dalam pelaksanaannya berdampak pada jenjang pendidikan SMP dan penyiapan diri peserta didik untuk mengembangkan karir dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar umum, bakat minat dan kecerdasan pilihan masing-masing perserta didik. Dalam hal ini pada jenjang SMP, peserta didik diharapkan sudah diarahkan untuk melakukan pemilihan ketika melanjutkan sekolah ke SMA, MA, atau SMK, karena pelaksanaan program peminatan dilaksanakan pada kelas X.  
Berdasarkan uraian tersebut, menunjukkan bahwa peminatan merupakan proses yang berkesinambungan, peminatan harus berpijak pada kaidah-kaidah dasar yang secara eksplisit dan implisit, terkandung dalam kurikulum. Peminatan pilihan kelompok mata pelajaran, lintas minat atau pendalaman minat merupakan upaya untuk membantu peserta didik dalam memilih dan menetapkan peminatan yang diikuti pada satuan pendidikan di SMA/MA dan SMK, memahami dan memilih arah pengembangan karir, dan menyiapkan diri serta memilih pendidikan lanjutan sampai ke perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar umum, bakat, minat dan kecenderungan pilihan masing-masing peserta didik. Dengan demikian peminatan peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan kurikulum 2013 tidak terbatas pada pemilihan dan penetapan jenis peminatan, namun termasuk juga perlunya langkah lebih lanjut yaitu pendampingan, penyaluran, evaluasi dan tindak lanjut. Peserta didik dapat memilih pilihan peminatannya secara tepat apabila memperoleh informasi yang memadai atau relevan, memahami secara mendalam tentang potensi dirinya, baik kelebihan maupun kelemahannya.
Uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa program peminatan peserta didik dalam kurikulum 2013 adalah sebagai berikut.
a.   Suatu pembelajaran berbasis minat peserta didik sesuai kesempatan belajar yang ada dalam satuan pendidikan.
b.   Suatu proses pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik pada kelompok mata pelajaran, lintas minat atau pendalaman minat yang ditawarkan oleh satuan pendidikan.
c.   Suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik tentang kelompok mata pelajaran peminatan, pilihan kelompok lintas peminatan dan/atau pendalaman minat yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang diselenggarakan pada satuan pendidikan.
d.   Suatu proses yang berkesinambungan untuk menfasilitasi peserta didik mencapai keberhasilan proses dan hasil belajar serta perkembangan optimal dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sebagai gambaran tentang pelaksanaan program peminatan di SMA, perlu dijelaskan kembali bahwa dalam struktur kurikulum, selain kelompok mata pelajaran wajib yang harus diikuti oleh semua peserta didik juga memperkenankan peserta didik untuk melakukan pilihan dalam bentuk pilihan kelompok peminatan, pilihan lintas minat, dan/atau pilihan pendalaman minat. Kelompok mata pelajaran peminatan ini dimaksudkan untuk:
a.    memberikan kesempatan pada peserta didik mengembangkan minatnya dalam sekelompok mata pelajaran sesuai dengan minat keilmuannya di perguruan tinggi, dan
b.    mengembangkan minatnya terhadap suatu disiplin ilmu atau keterampilan tertentu.
Adapun struktur mata pelajaran peminatan dalam kurikulum SMA adalah kelompok mata pelajaran :
a.    peminatan Matematika dan Ilmu Alam,
b.    peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, dan
c.    peminatan Ilmu Bahasa dan Budaya.
Dalam program peminatan ini, peserta didik selain dapat melakukan pemilihan terhadap kelompok mata pelajaran peminatan, juga dapat melakukan pendalaman minat mata pelajaran. Pendalaman minat merupakan aktivitas tambahan dalam belajar yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa. Pelaksanaan pendalaman minat mata pelajaran ini bertujuan untuk meluaskan dan memperdalam materi mata pelajaran tertentu sesuai dengan arah minatnya. Pendalaman minat mata pelajaran merangsang peserta didik yang berbakat dan cerdas untuk :
a.    mengembangkan keterampilan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi;
b.    menginspirasi motivasi akademis tinggi, termasuk ambisi karier dan pendidikan yang tinggi;
c.    memenuhi kebutuhan pendidikan, social, dan psikologis, termasuk membantu peserta didik berbakat untuk mengembangkan konsep diri yang baik;
d.    memaksimalkan pembelajaran dan pengembangan peserta didik serta meminimalkan rasa bosan dan frustasi;
e.    mengembangkan akuntabilitas, keingintahuan, ketekunan, sikap pengambilan resiko, rasa haus akan pengetahuan, partisipasi aktif, dan refleksi.
Mengingat pentingnya program peminatan peserta didik di SMA, maka agar pelaksanaannya benar-benar sesuai dengan kondisi peserta didik, maka dilaksanakan secara sistematik oleh guru BK dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1.   Langkah pertama : Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam layanan peminatan peserta didik antara lain prestasi belajar, prestasi non akademik, nilai ujuan nasional, pernyataan pernyataan minat peserta didik, cita-cita, perhatian orang tua dan diteksi potensi peserta didik. Data-data tersebut dikumpulkan dengan menggunakan teknik tes maupun non tes. Teknik non tes melipiuti: dokumentassi, angket, wawancara dan observasi, sedangkan teknik tes seperti tes psikologis yang dilaksanakan oleh tester atau tes peminatan yang dapat dilaksanakan oleh guru BK.
Data yang diperoleh dari teknik tes dan non tes saling melengkapi. Semakin banyak data yang dikumpulkan dan dapat dianalisis secara benar, maka ketepatan penetapan peminatan peserta didik akan semakin tinggi.
2.   Langkah kedua: Informasi Peminatan
Informasi tentang peminatan peserta didik dilakukan saat pertama kali masuk sekolah atau pada awal masuk sekolah setelah dinyatakan diterima menjadi peserta didik baru di satuan pendidikan. Dengan informasi tersebut diharapkan peserta didik dapat memilih kelompok mata pelajaran peminatan, lintas kelompok peminatan dan/atau pendalaman minat yang asesuai dengan minatnya. Disamping infirmasi tentang peminatan di SMA, peserta didik juga diberi informasi tentang : (1) sekolah ataupun program yang sedang mereka ikuti ; (2) cara-cara belajar, kegiatan pengembangan minat dan bakat, dan sarana dan prasarana belajar yang ada di sekolah; (3) karir atau jenis pekerjaan yang perlu dipahami dan dapat dijangkau setelah tamat SMA; (4) studi lanjut setelah tamat pendidikan yang sedang ditempuh.
3.   Langkah Ketiga: Identifikasi dan Penetapan Peminatan
Mengidentifikasi potensi diri, minat, dan bakat serta jenis pilihan kelompok mata pelajaran peminatan, pilihan lintas kelompok peminatan dan/atau pilihan pendalaman minat yang ada di satuan pendidikan yang dimasukinya. Dalam kurikulum 2013 ini, minimal ada 2 (dua) hal yang menjadi pertimbangan penetapan peminatan peserta didik, yaitu pilihan dan kemampuan peserta didik.
4.   Langkah Keempat: Penyesuaian
Apabila peserta didik masih bimbang dengan pilihannya, maka dapat berkonsultasi dengan guru BK. Apabila keputusan peserta didik tepat tetapi sekolah yang diikuti tidak tersedia pilihan yang diinginkan, maka peserta didik didik yang bersangkutan dapat dianjurkan untuk mengambil pilihan di sekolah lain. Apabila pilihan dan keputusan tidak tepat, maka peserta didik yang bersangkutan dapat mengganti pilihan yang lain dan perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian pada peserta didik dan pihak-pihak yang terkait.
5.   Langkah Kelima: Monitoring dan Tindak Lanjut
Monitoring dilakukan oleh guru BK, guru Mata pelajaran, dan Wali Kelas secara berkolaborasi terhadap kegiatan peserta didik secara keseluruhan dalam menjalani program pendidikan yang diikutinya. Perkembangan dan berbagai permasalahan peserta didik di dalam mengikuti program pendidikan di sekolah perlu diantisipasi, dievaluasi dan ditindaklanjuti melalui pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat.

2.   Peran Guru Bimbingan Konseling  (BK) dalam Pelaksanaan Program Peminatan

Pemilihan program peminatan bagi peserta didik merupakan suatu proses pengambilan pilihan dan keputusan oleh peserta didik dalam bidang keahlian yang didasarkan atas pemahaman potensi diri dan peluang yang ada. Dalam kontens ini, bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri, mengambil keputusan diri, merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab. Dalam hal ini layanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik mencapai perkembangan optimal dan kemandirian dalam kehidupannya serta menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Selain itu layanan bimbingan dan konseling dapat membantu individu dalam memilih, meraih dan mempertahankan karir untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum melalui pendidikan.
Penerapan kurikulum 2013, khususnya dalam program peminatan, dapat menimbulkan masalah bagi peserta didik SMA yang tidak mampu dalam menetapkan pilihan peminatan, baik pilihan kelompok mata pelajaran peminatan, pilihan kelompok lintas peminatan dan/atau pendalaman minat secara tepat, sehingga akan menimbulkan kesulitan dan kecenderungan gagal dalam belajar. Penetapan pilihan kelompok mata pelajaran peminatan, pilihan kelompok lintas peminatan dan/atau pendalaman minat hendaknya sesuai dengan kemampuan dasar umum (kecerdasan), bakat, minat dan kecenderungan pilihan masing-masing peserta didik agar proses belajar berjalan dengan baik dan kecenderungan berhasil dalam belajar. Oleh karena itu layanan bimbingan dalam peminatan sangat diperlukan bagi peserta didik agar dapat menetapkan pilihan peminatan sesuai kemampuan potensi dirinya dan kemungkinan berhasil dalam belajar.
Uraian di atas menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan Kurikulum 2013 tidak hanya bergantung pada peran guru mata pelajaran semata, tetapi memerlukan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan di sekolah. Guru BK dan Wali Kelas merupakan dua komponen pendidikan di sekolah yang memiliki peran strategis dalam mensukseskan penerapan Kurikulum 2013 dan keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Sejalan dengan otoritas yang dimilikinya, Guru BK memiliki peran dan tanggung jawab untuk menjalankan berbagai layanan Bimbingan dan Konseling guna membantu para peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal sekaligus berupaya memfasilitasi para peserta didik dalam rangka memilih dan memantapkan peminatan akademik dan vokasionalnya, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum 2013.
Layanan Bimbingan dan Konseling mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam penerapan kurikulum 2013 khususnya dalam pelaksanaan program peminatan. Hal ini  karena adanya : (1) pilihan peminatan siswa SMP dan MTs yang mau masuk ke jenjang SMA/MA, SMK; (2) pilihan peminatan kelompok mata pelajaran jenjang SMA/MA, dan (3) pilihan peminatan kelompok program keahlian pada jenjang pendidikan SMK. Dalam hal ini layanan Bimbingan dan Konseling dalam program peminatan merupakan: (1) upaya membantu siswa dalam memilih dan menentukan arah peminatan di SMA/MA, SMK; (2) memilih dan menentukan arah pengembangan karir, dan (3) menyiapkan diri serta memilih pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi sesuai dengan potensi dan minat peserta didik.
Uraian tersebut menunjukkan bahwa pelayanan peminatan peserta didik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan terintegrasi dalam program pelayanan BK pada satuan pendidikan, artinya, program pelayanan BK pada setiap satuan pendidikan harus memuat kegiatan peminatan peserta didik. Pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) mempunyai peranan penting dalam membantu peserta didik : (1) memilih dan menentukan arah peminatan kelompok mata pelajaran dan mata pelajaran; dan (2) agar dapat menentukan pilihan sesuai dengan kemampuan, potensi dirinya dan berhasil dalam belajarnya. Sesuai dengan peran Bimbingan dan Konseling sebagaimana ditegaskan dalam kurikulum 2013, guru BK  pada jenjang pendidikan menengah atas (SMA) bertugas membantu peserta didik dalam memilih dan menentukan peminatan terhadap kelompok mata pelajaran pilihan yang tersedia, menentukan mata pelajaran pilihan di luar mata pelajaran kelompok minatnya, dan menentukan pendalaman minat untuk mendapatkan kesempatan mengikuti mata kuliah di perguruan tinggi selama peserta didik yang bersangkutan berada di kelas XII dan atas kerjasama sekolah dengan perguruan tinggi. Guru BK   SMA membantu peserta didik dalam memilih dan menentukan arah pengembangan karir, serta membantu peserta didik dalam menyiapkan diri serta memilih pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar umum (kecerdasan), bakat, minat, dan kecenderungan pilihan masing-masing peserta didik.
Dalam upaya mencegah terjadinya masalah pada diri peserta didik dalam memilih dan menetapkan peminatannya, diperlukan adanya pelayanan BK yang membantu memandirikaan peserta didik melalui pengambilan keputusan terkait dengan memilih, menentukan, meraih serta mempertahankan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum melalui upaya pendidikan.
Program bimbingan dan konseling terkait peminatan peserta didik sepenuhnya di bawah tanggung jawab Guru BK dengan bekerja sama dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, kepala tata usaha dan/atau orang tua di setiap satuan pendidikan. Guru BK melalui pelayanan BK membantu peserta didik memilih dan menetapkan peminatan peserta didik, baik kelompok mata pelajaran peminatan, pilihan kelompok lintas peminatan dan/atau pendalaman minat berdasarkan kekuatan dan kemungkinan keberhasilannya. Oleh karena itu Guru BK harus dapat membantu peserta didik untuk menemukan kekuatannya, yang berupa kemampuan dasar umum (kecerdasan), bakat, kemampuan akademik, minat, dan kecenderungan peserta didik, serta dukungan moral dari orang tua. Sedangkan pelayanan pendalaman minat bagi peserta didik sepenuhnya tanggung jawab Guru Mata Pelajaran terkait dengan bidang studinya atau mata pelajaran yang diampunya dan/atau bekerjasama dengan perguruan tinggi terkait.
Pemilihan peminatan yang tepat dan mempunyai arti penting bagi prospek kehidupan peserta didik masa depan merupakan pekerjaan yang  tidak mudah. Dalam hal ini memerlukan layanan bantuan tepat yang dilakukan oleh tenaga  professional. Oleh karena itu guru BK  dipandang paling tepat untuk menfasilitasi pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik.
Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik SMA dapat meliputi prestasi belajar, prestasi non akademik, nilai ujian nasional, pernyataan minat peserta didik, cita-cita, perhatian orang tua dan diteksi potensi peserta didik. Aspek-aspek dalam pemilihan dan penetapan peminatan peserta didik dapat diuraikan sebagai berikut.
a.      Prestasi belajar yang telah dicapai selama proses pembelajaran merupakan cerminan kecerdasan dan potensi akademik yang dimiliki. Prestasi belajar peserta didik pada kelas VII, VIII, dan IX atau pada saat peserta didik duduk di jenjang pendidikan SMP merupakan profil kemampuan akademik peserta didik yang dapat dijadikan dasar pertimbangan pokok dalam peminatan. Profil kondisi prestasi belajar yang dicapai dapat sebagai prediksi keberhasilan belajar selanjutnya.
b.      Prestasi non akademik merupakan cerminan bakat tertentu pada diri peserta didik. Prestasi non akademik yang telah dicapai, seperti kejuaraan dalam lomba bidang tertentu, merupakan indikasi peserta didik memiliki kemampuan khusus/bakat tertentu. Dalam hal ini dimungkinkan terdapat relevansi antara kejuaraan suatu lomba dengan kemudahan melakukan aktivitas dan keberhasilan belajar mata pelajaran tertentu yang sesuai dengan kemampuan khusus yang dimiliki.
c.      Nilai ujian nasional (UN) yang dicapai merupakan cerminan kemampuan akademik mata pelajaran tertentu berstandar nasional. Diasumsikan peserta didik yang kondisi fisik atau psikisnya sehat, maka nilai UN dapat dijadikan sebagai pertimbangan penetapan peminatan peserta didik sesuai kelompok mata pelajarannya.
d.      Pernyataan minat yang tinggi dari peserta didik dalam belajar ditunjukkan dengan perasaan senang yang mendalam terhadap peminatan tertentu berkontribusi positif terhadap proses dan hasil belajar. Peserta didik yang memiliki minat yang tinggi akan merasa senang, antusias, tidak merasa cepat lelah, sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran di sekolah maupun belajar di rumah.
e.      Cita-cita peserta didik untuk studi lanjut, pekerjaan, dan jabatan erat hubungannya dengan potensi yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh hasil pengamatan terhadap figur dan keberhasilan seseorang dalam kehidupannya. Sinkronisasi antara cita-cita dengan potensi peserta didik dan prestasi yang dicapai dengan kesempatan belajar untuk mencapai cita-cita, dapat menumbuhkan semangat belajar yang dipilihnya.
f.       Perhatian orang tua, fasilitas dan latar belakang keluarga berpengaruh positif terhadap kesungguhan, ketekunan, kedisiplinan dalam belajar. Intensitas hubungan orang tua dengan anak dapat menumbuhkan motivasi belajar yang berdampak kualitas proses dan hasil belajar. Bila terdapat perbedaan antara peminatan peserta didik dengan orang tua, maka yang perlu dikaji lebih mendalam adalah prospek peminatan dan kesiapan belajar anak.
g.      Diteksi potensi menggunakan instrument tes psikologis atau tes peminatan bagi calon peserta didik/peserta didik yang sudah diterima tentang bakat dan minat dapat dilakukan oleh tim khusus yang memiliki kemampuan dan kewenangan. Hasil diteksi potensi dapat diperoleh kecenderungan peminatan peserta didik. Rekomendasi peminatan berdasarkan diteksi menggunakan instrument tes psikologis dapat dipergunakan sebagai pertimbangan bila terjadi kebimbangan dalam penempatan peminatan peserta didik.
Dengan melihat peran penting guru BK di SMA dalam penerapan kurikulum 2013, khususnya dalam pelaksanaan program peminatan, dibutuhkan guru BK yang benar-benar profesional yang memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program peminatan. Guna meningkatkan profesionalitas guru BK tersebut, maka perlu dilakukan berbagai kegiatan pelatihan peningkatan kompetensi guru BK secara rutin. Pelatihan tersebut perlu dilakukan dengan maksud agar guru BK memiliki kemampuan dalam menyusun dan menerapkan program pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam pelayanan peminatan peserta didik, yang meliputi kegiatan: 1)Mendeskripsikan program BK yang memuat pelayanan peminatan peserta didik ; 2)Menyusun program BK yang memuat pelayanan peminatan peserta didik; 3)Mendeskripsikan penerapan program BK yang memuat pelayanan peminatan peserta didik. Menyusun persiapan pelayanan peminatan peserta didik dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL); 4)Mendeskripsikan penerapan program pelayanan peminatan peserta didik.

KESIMPULAN
Berdasarkan serangkaian pembahasan tersebut di atas dapat disimpulkan seagai berikut:  Program peminatan dalam kurikulum 2013 memegang peranan penting dan sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajarannya. Pelaksanaan peminatan yang dikelola dengan benar memungkinkan setiap peserta didik dapat belajar secara optimal sesuai dengan minat, bakat, dan kemauannya.
              Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memegang peran penting dalam pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum 2013, khususnya program peminatan di SMA. Guru BK  memiliki tugas untuk membantu peserta didik untuk memilih dan menentukan: (1) arah peminatan kelompok mata pelajaran; (2) arah pengembangan karir; (3) menyiapkan diri serta memilih pendidikan lanjutan ke perguruan tinggi sesuai dengan kemampuan dasar  umum (kecerdasan), bakat minat dan kecenderungan pilihan masing-masing peserta didik. Sehubungan dengan hal tersebut guru BK harus bekerja secara optimal dengan bekerja sama dengan pihak-pihak yang  terkait, seperti wali kelas, para guru, Kepala Sekolah, peserta didik dan orang tua atau walinya.

DAFTAR  RUJUKAN

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja
ABKIN dan ILO. 2011. Panduan Pelayanan Bimbingan Karir : Bagi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor pada satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: ILO.
ASCA . 1984. “Ethical Standard for School Counselor”. Journal of The School Counselor,32,84-87.
 Badan Standar Nasional Pendidikan. 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor. Jakarta: BSNP.
 Belkin, G.S. 1975. Practical Counseling Iowa:W.C.Brown Company Publishers. in The School.
Departemen Pendidikan Nasional . 2009. Permendiknas RI  Nomor 8 Tahun 2009 tentang Program Pendidikan Profesi Guru Pra jabatan
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdikbud.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru. Jakarta : Depdiknas
Depdiknas RI, 2008, Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal
Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti
Depdiknas. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bahan Belajar Mandiri Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah), Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Ditjen PMPTK, 2007, Rambu-rambu Penyelenggaraan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal
Dubuque, Blocher,D.H. 1987. The Professional Counselor. New York: Macmillan Publishing Company.
Erford T.Bradley (Editor). 2004. Professional School Counseling A Handbook of Theories, Programs & Practices. Texas: PRO-ED An International Publisher.
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas



[*]   Dra. Sumarni adalah Guru BK SMAN 4 Jember Jln Hayam Wuruk 145 Jember