Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

UPAYA MENURUNKAN  TINGKAT  KETIDAK HADIRAN SISWA MELALUI  PELAYANAN KONSELING  INDIVIDU PADA SISWA KELAS XI  SMK NEGERI 2 JEMBER

Hanit Setyaningsih

 Abstrak: Konseling individu merupakan bentuk layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien.Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”, dalam konets ini untuk menurunkan ketidak hadiran siswa dalam  proses pembelajaran. Penelitian Tindakan  iuni bertujuan  menurunkan  ketidak hadiran siswa dan hasilnya sangat memuaskan, terjadi penurunan signifikan signifikan

      Kata Kunci:  Ketidak Hadiran, Layanan Individu

PENDAHULUAN
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).
      Bimbingan dan konseling merupakan  upaya proaktif dan sistematik dalam memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal, pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu, yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan, membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan, membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan memperbaiki perilaku.
           Konseling individu terjadi ketika seorang konselor bertemu secara pribadi dengan seorang siswa untuk tujuan konseling.Ini adalah interaksi antara konselor dan konseli dimana banyak yang berpikir bahwa ini adalah esensi dari pekerjaan konselor.Layanan konseling individu merupakan bentuk layanan bimbingan dan konseling khusus antara peserta didik (klien) dengan konselor dan mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang diderita peserta didik (Tohirin, 2007Winkel. ,1981).
           Konseling individu merupakan bentuk layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien.Dengan demikian konseling perorangan merupakan “jantung hati”. Implikasi lain pengertian “jantung hati” adalah apabila seorang konselor telah menguasai dengan baik apa, mengapa dan bagaimana pelayanan konseling itu (memahami, menghayati dan menerapkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan dengan berbagai teknik dan teknologinya), maka diharapkan ia dapat menyelenggarakan layanan-layanan bimbingan lainnya tanpa mengalami banyak kesulitan.
             Banyak peserta didik yang tidak mau membicarakan masalah pribadi atau urusan pribadi mereka dalam diskusi kelas dengan guru. Beberapa dari mereka ragu untuk berbicara di depan kelompok-kelompok kecil. Oleh karena itu, konseling individu dalam sekolah-sekolah, tidak terlepas dari psikoterapi, didasarkan pada asumsi bahwa konseli itu akan lebih suka berbicara sendirian dengan seorang konselor. Selain itu, kerahasiaan, selalu dianggap sebagai dasar konseling. Akibatnya, muncul asumsi bahwa siswa membutuhkan pertemuan pribadi dengan seorang konselor untuk mengungkapkan pikiran mereka dan untuk meyakinkan bahwa pengungkapan mereka akan dilindungi. Tidak ada yang lebih aman daripada konseling individu (Achmad Juntika N, 2005)..
              Konseling individu sebagai intervensi mendapatkan popularitas dari pemikiran teoritis dan filosofis yang menekankan penghormatan terhadap nilai individu, perbedaan, dan hak-hak.Hubungan konseling bersifat pribadi. Hal ini memungkinkan beberapa jenis komunikasi yang berbeda terjadi antara konselor dan konseli, perlindungan integritas dan kesejahteraan konseli dilindungi.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan ini ada berbagai macam, yang pada dasarnya tidak terbatas.Layanan ini dlilaksanakan untuk seluruh masalah peserta didik secara perrangan (dalam berbagai bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier) (Bimo Walgito, 2004).
Dalam tujuan konseling, ada dua fungsi yang perlu diperhatikan: 1)  Fungsi Preventif, yaitu pelayanan konseling yang difungsikan untuk mencegah terjadinya masalah, atau menjaga jangan sampai masalah bertambah atau terulang kembali pada diri individu; 2) fungsi kuratif, yaitu pelayanan konseling yang difungsikan untuk membantu klien memecahkan masalah yang dihadapi. Peran konselor dalam hal ini sangat dominan dan diharapkan secara maksimal dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi klien. Oleh karena itu penanganan psikologis atau pelayanan konseling sangat diperlukan. Pelayanan disini dikandung maksud untuk membantu orang yang bermasalah, sehingga dia dapat menyelesaikan permasalahannya. Masalah yang dihadapi oleh seseorang, tentu terdiri dari berbagai macam jenis polanya. Masalah ini apabila tidak segera diatasi dalam penyelesaiannya, tentunya akan berkembang menjadi gangguan mental atau gangguan jiwa. Seperti masalah suka membolos yang dialami siswa.
           Kehadiran siswa di sekolah untuk mengikuti kegiatan pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan belajar siswa. Itulah sebabnya maka kehadiran di sekolah menjadi salah satu syarat untuk mengikuti ulangan atau ujian.
   Dalam kenyataan sehari – hari masih ada beberapa siswa kelas XI SMK Negeri 2 Jember, yang tidak masuk sekolah (bolos). Kebayakan dari ketidak hadiran siswa tersebut dengan alasan yang kurang jelas. Apabila ditanya wali kelas, mereka menjawab seenaknya.
Penyebab ketidak hadiran siswa di sekolah dapat dikategorikan dalam 3 jenis, yaitu :1) Ketidak hadiran karena sakit; 2) Ketidak hadiran karena keperluan tertentu; 3) Ketidak hadiran tanpa alasan (alpa).  Ketidak hadiran untuk kategori 1 dan 2, sepanjang tidak dalam jumlah yang banyak, masih dapat diterima atau dimaklumi. Siswa yang sakit bila dipaksakan tetap masuk malah bisa membahayakan kesehatan yang bersangkutan. Demikian juga ketidak hadiran karena  alasan tertentu –seperti  khitanan misalnya– adalah merupakan ketidak hadiran siswa yang dapat diterima oleh pihak sekolah. Ketidak hadiran untuk kategori 1 dan 2 biasanya dibuktikan dengan surat dari orang tua / wali atau surat keterangan dari dokter.
 Ketidak hadiran kategori ketiga yaitu ketidak hadiran tanpa alasan, sangat berpotensi menimbulkan masalah bagi kegiatan pembelajarana siswa. Dalam keadaan ini, ketidak hadiran siswa tanpa ada surat keterangan dari orang tua. Oleh karena itu tak dapat diketahui apakah siswa tersebut memang tidak berangkat dari rumah, atau sebenarnya dari rumah berangkat sekolah namun tidak sampai di sekolah.
    Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah “Apakah pemberian layanan konseling individu dapat menurunkan tingkat ketidak hadiran siswa kelas XI SMK Negeri 2 Jember ?
Suatu kegiatan yang dirancang secara sistimatis, sudah barang tentu diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Berdasar hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah penurunan tingkat ketidak hadiran siswa.
        Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan dapat memberi manfaat  :
1.      Bagi siswa, diharapkan dapat memotivasi siswa terutama yang tingkat ketidak hadirannya tinggi untuk selalu berusaha masuk sekolah.
2.      Bagi guru pembimbing, diharapkan dapat meningkatkan layanan konseling, terutama konseling individu dalam upaya menurunkan tingkat ketidak hadiran siswa.
3.      Bagi guru mata pelajaran, diharapkan dapat meningkatkan apresiasinya terhadap pelayanan konseling individu yang dilaksanakan guru konseling, sehingga guru mata pelajaran dapat memberikan kesempatan yang seluas – luasnya pada siswa yang akan meminta / menghadiri pertemuan konseling dengan guru konseling
4.      Kepala Sekolah, diharapkan sebagai bahan masukan dalam upaya pembinaan dan pengembangan kualitas pelayanan konseling, terutama layanan konseling individu, yang pada akhirnya berimbas pada keberhasilan belajar siswa.


METODE PENELITIAN
   Tempat   pelaksanaan penelitian di  SMK Negeri 2 Jember.  Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 2 Jember. Subyek penelitian merupakan siswa langsung dari peneliti. Diharapkan dengan mengambil responden ditempat kerja peneliti, penelitian lebih mudah dan tidak memakan biaya terlalu banyak, serta lebih efektif dan efisien.

 Perencanaan
            Perencanaan penelitian merupakan salah satu strategi mengatur tata  (setting ) penelitian agar peneliti dapat memperoleh data yang tepat ( valid ) sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Di dalam perencanaan ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian dan variabel – variabel penelitian. Penilitian Tindakan (Action Research) adalah suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh guru BK { konselor ) untuk meneliti ketidak hadiran siswa.
Perencanaan penelitian adalah serangkaian rencana program yang digunakan untuk mendapatkan hasil yang akurat, dengan menggunakan berbagai macam metode penelitian.
 Penelitian ini menggunakan alur tahapan (perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi disajikan dalam dua siklus) setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan, ” Peningkatan ketidak hadiran siswa disebabkan alasan yang kurang jelas ( membolos ) pada siswa kelas XI SMK Negeri 2 Jember.  Penelitian ini direncanakan dilakukan 2 (dua) siklus.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan melalui kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan, meliputi :

1).   Refleksi Awal
Peneliti mengidentifikasi permasalahan peningkatan ketidak hadiran siswa dengan alasan yang kurang jelas (membolos) siswa kelas XI SMK Negeri 2  Jember.
Peneliti merumuskan permasalahan secara operasional. Oleh karena itu, penelitian tindakan lebih menitik beratkan pada pendekatan naturalistic, sehingga hipotesis tindakan yang dirumuskan bersifat tentative yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan.

Menetapkan dan merumuskan rancangan yang didalamnya meliputi :
a.         Menetapkan indikator-indikator desain variasi bimbingan konseling beserta strateginya.
b.         Menyusun rancangan strategi penyampaian dan pengelolaan strategi bimbingan konseling yang merupakan bahan intervensi ( rancangan program, bahan, strategi pengawasan dan evaluasi )
c.         Menyusun metode dan alat perekam data berupa catatan lapangan, pedoman wawancara, pedoman analisis dokumen, dan catatan harian.
d.         Menyusun rencana pengelolaan data bersifat kualitatif.

Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Kegiatan dalam pelaksanaan yang dilakukan dapat dikemukakan sebagai berikut :
1)    Guru BK ( Konselor ),  melaksanakan desain bimbingan konseling yang telah direncanakan. Ada dua jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti yang sekaligus konselor, yaitu menerapkan strategi penyampaian dan pengelolaan bimbingani. Peneliti berupaya memberikan pengarahan, motivasi dan rangsangan kepada siswa yang bermasalah yang dijadikan responden penelitian.
2)    Peneliti melakukan pengamatan secara sistematis terhadap tingkah laku klien. Kegiatan pengamatan dilakukan secara komprehensif dengan mengamati hasil observasi ketidak hadiran siswa selama peneliti melakukan penelitian., serta mengamati peningkatan kualitas kedisiplinan .

Refleksi
Refleksi menurut Wardani, Kusumajaya (2004:225), “Melakukan refleksi tidak ubahnya seperti berdiri di depan cermin untuk melihat kembali bayangan atau memantulkan kembali kajadian yang perlu dikaji.”
           Kegiatan yang dilakukan meliputi analisis, memaknai, menjelaskan, dan menyimpulkan data yang diperoleh dari pengamatan ( bukti empiris ), serta mengaitkan dengan teori yang digunakan ( kerangka konseptual ).
 Hasil yang diperoleh pada siklus I, berupa temuan bahwa telah terjadi peningkatan ketidak hadiran siswa dengan alasan yang kurang jelas. Pada siklus I ini, peneliti belum menggunakan metoda bimbingan konseling, sehingga hasil refleksi ini dijadikan dasar untuk menyusun perencanaan tindakan siklus berikutnya..

 Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini tidak terlepas dari teknik pengumpulan data yang akan digunakan, karena penelitian ini merupakan suatu usaha yang sengaja dan direncanakan. Dan untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya maka perlu teknik pengumpulan data dokumentasi, observasi dan interview.Penggunaan teknik dokumentasi dengan pertimbangan (1) sebagai alat yang tepat dan cepat untuk mencatat data hasil observasi dan interview. (2) dapat mengetahui langsung keadaan yang sebenarnya.Instrumen yang digunakan  dalam penelitian ini, yakni pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi.

 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif, baik yang bersifat linier (mengalir) maupun yang bersifat sirkuler. Secara garis besar kegiatan data dilakukan dengan langkah-langkah berikut: 1) Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan.Penelahaan data dilakukan dengan cara menganalisis, mensintesis, memaknai menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaah pada prinsipnya dilaksanakan sejak awal data dikumpulkan; 2)Mereduksi Data yang Didalamnya melibatkan Kegiatan Peng-kategorian dan Pengklasifikasian.Penelitian ini difokuskan terhadap tingkah laku siswa yang kurang terpuji yaitu seringnya siswa membolos dengan alasan yang kurang jelas; 3)Menyimpulkan dan Memverifikasi.Dari kegiatan reduksi selanjutnya dilakukan penyimpulan akhir yang selanjutnya diikuti dengan kegiatan verifikasi atau pengujian temuan penelitian.

        
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Pelaksanaan penelitian tindakan dilaksanakan dengan alur tahapan  (perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi ). Disajikan dalam dua siklus setelah terlebih dahulu diperoleh permasalahan bahwa terjadi peningkatan ketidak hadiran siswa dengan alasan yang tidak jelas pada siswa kelas XI  SMK Negeri 2 Jember.
Meningkatnya jumlah ketidak hadiran siswa tersebut, membuat wali kelas prihatin sehingga meminta tolong kepada peneliti yang sekaligus guru BK untuk menanganinya.
Informasi awal yang diberikan oleh masing – masing wali kelas, adalah ketidak hadiran siswa tersebut tidak jelas. Apabila ditanya, jawabannya sekenanya atau asal jawab. Dengan Informasi yang disampaikan oleh masing – masing wali kelas tersebut, peneliti merasa terpanggil untuk segera menangani agar permasalahan tidak berlarut – larut.
Siklus I dilaksanakan pada  bulan September .Dalam perencanaan yang peneliti lakukan adalah : a. Mendata siswa yang sering bolos; .b. Menyiapkan lembar wawancarac. Membuat format lembar observasi.
         Langkah – langkah yang dilaksanakan adalah : Pertama yang peneliti lakukan adalah melihat buku daftar absensi dari masing – masing kelas. Di dalam buku absensi tersebut ternyata ditemukan beberapa siswa yang sering membolos. Prosentase dari masing – masing kelas memang kecil, akan tetapi karena hal tersebut dianggap penyakit, kalau tidak segera ditangani akan menular kepada yang lain. Kedua, dalam siklus I ini, peneliti hanya menegur yang bersangkutan dan mengingatkan jangan sering membolos. Apa yang diingatkan oleh peneliti, di iyakan oleh yang bersangkutan dengan anggukan.
 Pengamatan: Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti dalam satu bulan, ternyata peserta didik yang sering membolos tersebut, tetap saja sering bolos. Apabila ditanya kenapa tetap membolos padahal sudah diingatkan, jawabannya sekenanya. Selain peneliti menanyai langsung kepada yang bersangkutan, juga berkaloborasi dengan wali kelas untuk mengingatkan kembali siswa – siswa yang sering membolos tersebut. Sebetulnya wali kelas juga merasa pusing dengan ulah siswa yang sering membolos tersebut. Apa yang mereka perbuat, selain merangsang teman yang lain untuk mencontoh, juga berimbas terhadap hasil nilai. Rata – rata mereka yang sering membolos justru anak nakal dan kurang pandai. Sudah kurang pandai, sering membolos lagi. Hal ini mempengaruhi pada hasil ulangan yang dilaksanakan.
Pada siklus I ( sebelum ada tindakan ) ini, prosentase siswa yang sering membolos seperti pada tabel sbb :
 Tabel  Prosentase tingkat ketidak hadiran siswa Siklus I
NO
       NAMA
  KELAS
KETIDAK HADIRAN DALAM 1 BULAN
PROSENTASE
    1
A Febri
XI TK3.1
8 hari
32 %
    2
Bayu Adi W
 XI TK3.1
10 hari
40 %
    3
Fajar Agung S
 XI TK3.1
6 hari
24 %
    4
Firman Abdullah
 XI TK3.1
6 hari
24 %
    5
M. Sadid
 XI TK3.1
8 hari
32 %
    6
M. Sodikin
 XI TK3.2
7 hari
28 %
    7
Malik
 XI TK3.2
5 hari
20 %
    8
M. Saiful
 XI TK3.2
5 hari
20 %
    9
Roni Sianturi
 XI TK3.2
7 hari
28 %
  10
Thoriq Wadid
 XI TK3.2
6 hari
24 %
              Dari data yang ada dapat disimpulkan bahwa prosentase ketidak hadiran siswa masih sangat tinggi. Hal ini terjadi mungkin karena kurangnya perhatian orang tua, faktor lingkungan, faktor pergaulan. atau kurangnya perhatian guru yang kurang maksimal.
              Orang tua yang sibuk dengan urusannya sendiri juga akan mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap anak. Begitu juga lingkungan yang jelek, pergaulan yang mayoritas temannya nakal, akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak. 
            Hasil penelitian, prosentase terbesar yang mempengaruhi ketidak hadiran siswa adalah salah pilih teman, Faktor lainnya adalah, jarak rumah yang jauh dan alat trasportasi yang sulit.
 Refleksi: Berdasar proentase ketidak hadiran siswa tersebut, menurut peneliti perlu penanganan yang lebih serius. Peneliti yang dalam hal ini guru BK, perlu segera turun tangan untuk mengatasi tingkat ketidak hadiran siswa yang sangat tinggi tersebut dengan jalan melalui penanganan konseling.
 Penanganan konseling akan dilakukan pada siklus II secara individual.
Siklus II dilaksanakan pada  bulan Oktober:Dalam perencanaan yang peneliti lakukan adalah : a. Mendata siswa yang sering bolos; b. Menyiapkan lembar wawancarac. Membuat format lembar observasi.
          Langkah – langkah yang dilaksanakan adalah : ertama yang peneliti lakukan adalah melihat buku daftar absensi dari masing – masing kelas. Di dalam buku absensi tersebut ternyata ditemukan masih ada beberapa siswa yang sering membolos seperti pada siklus I ( sebelum ada tindakan.). Dengan adanya realita yang ditemukan peneliti, maka peneliti harus segera mengambil tindakan agar permasalahan yang terjadi di kelas XI tentang seringnya siswa membolos segera diatasi. Kedua, peneliti memberikan format pertayaan yang harus dijawab dan diisi oleh siswa. Dalam format tersebut berisi pertanyaan seputar mengapa mereka membolos dan alasannya.  Diharapkan dari lembar pertayan tersebut akan ditemukan sebab – sebab mereka membolos. Sebelum mereka mengisi lembar pertayaan, mereka ditekankan oleh peneliti agar menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Karena dengan hanya dengan kejujuran, bimbingan yang akan dilakukan berhasil.
* Ketiga, selain peneliti memberikan lembar pertayaan, juga dilakukan bimbingan konseling individu. Mereka diberi pengarahan dan nasehat bahwa apa yang mereka perbuat bukan hanya merugikan diri sendiri, akan tetapi akan merugikan semua pihak baik orang tua, sekolah dan masyarakat.
          Kerugian yang didapat oleh orang tua adalah biaya yang mereka dapat dengan susah payah, akan percuma. Harapan mereka untuk menyekolahkan putra – putrinya dengan benar dan ingin menjadikan mereka orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa hanya impian saja.
         Kerugian bagi sekolah, karena vasilitas yang diberikan kepada mereka di dapat dengan Cuma – Cuma, maka sekolah merasa rugi mendidik, membimbing siswa yang sekolah hanya dibuat mainan. Materi yang diharapkan guru bisa diserap oleh semua siswa, hanya tinggal harapan. Begitupun dengan ketidak hadiran mereka dalam kelas, apabila guru mengadakan ulangan, maka siswa yang membolos harus mengikuti ulangan sendiri yang pada akhirnya guru harus bekerja dua kali.
        Bagi masyarakat, siswa yang sering membolos biasanya mereka melakukan hal – hal yang tidak diinginkan oleh masyarakat, apalagi kalau mereka bergabung dengan preman – preman, maka virus kepremanan mereka akan menular.
           Pengamatan: Setelah peneliti melakukan langkah – langkah seperti diatas, baik melakukan bimbingan konseling individu maupun pemberian lembar pertayaan, ternyata terjadi perubahan dalam diri siswa yang sering membolos tersebut.  Kalaupun mereka tidak masuk kebayakan dikarenakan mereka sakit atau bepergian. Ketidak hadiran merekapun juga mengirim surat ijin. Sehingga wali kelas tahu mengapa mereka tidak masuk sekolah.
         Tingkah laku mereka juga lebih sopan dari pada sebelumnya, dimana sebelum dilakukan bimbingan mereka suka bicara se enaknya baik pada teman ataupun guru dan suka bikin kegaduhan.
         Dari hasil tindakan pada siklus II, prosentase penurunan ketidak hadiran mereka dapat dilihat pada tabel  sbb :
        Tabel . Prosentase tingkat ketidak hadiran siswa Siklus II
NO
       NAMA
  KELAS
KETIDAK HADIRAN DALAM 1 BULAN
PROSENTASE
    1
A Febri
XI TK3.1
2 hari
8 %
    2
Bayu Adi W
 XI TK3.1
2 hari
8 %
    3
Fajar Agung S
 XI TK3.1
1 hari
4 %
    4
Firman Abdullah
 XI TK3.1
0
0 %
    5
M. Sadid
 XI TK3.1
1 hari
4 %
    6
M. Sodikin
 XI TK3.2
1 hari
4 %
    7
Malik
 XI TK3.2
0
0 %
    8
M. Saiful
 XI TK3.2
 0
0 %
    9
Roni Sianturi
 XI TK3.2
1
4 %
  10
Thoriq Wadid
 XI TK3.2
0
0 %
     
           Refleksi: Berdasar proentase ketidak hadiran siswa tersebut, menurut peneliti tidak perlu lagi diadakan refleksi. Namun peneliti akan melakukan pengawasan dan bimbingan apabila peserta didik yang sering membolos tersebut mengulangi lagi.

Pembahasan
Sekolah merupakan suatu lembaga yang mendidik, membimbing anak bangsa agar mereka menjadi manusia yang berguna dimasa depannya. Keberadaan mereka disekolah merupakan tanggung jawab guru sepenuhnya. Apabila selama proses belajar mengajar terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, maka kewajiban gurulah yang harus membenahi. Begitu pula dengan tingkat ketidak hadiran siswa yang sangat mengganggu proses berlangsungnya kegiatan belajar.
Keberadan guru BK akan lebih efektif lagi, apabila terjadi kerjasama yang harmonis dengan wali kelas, dan guru bidang.. Dari 10 peserta didik yang sering membolos, Setelah diadakan tindakan konseling individu, ketidak hadiran peserta didik dapat diturunkan prosentasenya.
Berdasar uraian diatas, maka peran konselor sekolah dalam hal ini sangat diharapkan. Karena ketidak hadiran siswa merupakan salah satu pelanggaran disiplin yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang siswa, apalagi dengan alasan yang tidak jelas. Ketidak hadiran siswa yang tidak jelas tersebut, disamping merugikan siswa itu sendiri, juga akan menambah beban masalah baik bagi orang tua maupun guru. Bagi orang tua, apabila ketidak hadiran anaknya dilakukan secara terus menerus, akan membuat malu orang tua. Suatu saat orang tua siswa pasti dipanggil pihak sekolah untuk dikonfermasi. Kalau hal tersebut terjadi, betapa malunya orang tua. Orang tua akan merasa kecolongan, atau merasa tidak dapat mendidik anak dengan baik. Bagi Guru atau wali kelas, akan merasa disepelehkan oleh siswanya karena selama ini yang disampaikan kepada siswa hal – hal yang berguna dan hal – hal yang baik saja. Termasuk hal kedisiplinan.
             Dengan turun tangannya konselor memberikan bimbingan konseling kepada individu yang sering membolos, secara otomatis membantu sekolah, wali kelas, dan orang tua. Dampak dari pemberian banyuan tersebut tidak hanya siswa akan lebih disiplin, akan tetapi akan berdampak pada hasil belajar yang lebih baik lagi.
.

KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
            Tingkat ketidak hadiran siswa di dalam kelas, sangat mengganggu proses belajar mengajar, oleh sebab itu peranan pembimbing dalam hal ini tenaga BK sangat    diperlukan oleh pihak sekolah.  Tenaga konselor sangat membantu pihak sekolah dalam menangani semua  permasalahan siswa di sekolah.  Dengan adanya penelitian ini akan memotivasi  peneliti ataupun guru lain  untuk melakukan penelitian dan membenahi keberadan siswa yang bermasalah. Terjadi peningkatan yang signifikan setelah dilakukan penelitian dengan tahapan – tahapan siklus dimana pada siklus II tingkat ketidak hadiran siswa dapat dikurangi.

 Saran
             Diharapkan pihak sekolah memaksimalkan keberadaan tenaga konseling yang ada di sekolahnya, sehingga permasalahan – permasalahan yang akan terjadi lebih dapat minimalir. Guru hendaknya  menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga  peserta didik lebih optimal dan termotivasi untuk selalu hadir didalam kelas.

DAFTAR  RUJUKAN
Abubakar Baraja, 2006, Psikologi Konseling dan Tehnik Konseling, Jakarta, Studia Press.
  Achmad Juntika N, 2005. Strategi Layanan Bimbingan Konseling. Bandung, Refika Aditama.
Andi Prastowo. 2011, Memahami Metode Penelitian,Jogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Bimo Walgito. (2004). Bimbingan dan Konseling di Sekolah . Yogyakarta: Andi.
Prayitno, 2004,. Dasar – dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta, Rineka Cipta.
Prayitno. (2001). Panduan kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di  Sekolah . Jakarta: Rineka Cipta.
Saiful Rachman dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah, Surabaya, SIC.
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Thantawy. (2005). Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Grasindo.
Tim Dosen PPB FIP UNY. (2000).Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah.Yogyakarta: UNY Press.
Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah . Jakarta: Grafindo Persada.
Winkel. (1981). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.