Cari Blog Ini

Senin, 08 Februari 2016

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS  MATERI AJAR    “RUMAH SEHAT DAN RUMAH TIDAK SEHAT” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN SAVI (SOMATIS, AUDITORI, VISUAL, INTELEKTUAL

Miryam Suwarti

Abstrak: Model pembelajaran SAVI dalam proses belajar siswa menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan panca indera, sehingga dapat optimal dalam berproses pembelajaran akhirnya hasil belajarnya dapat meningkat.  Hasil dari pelaksanaan  Penelitian Tindakan Kelas Ketuntasan belajar yang dicapai siswa dari kondisi awal 64% meningkat menjadi 80 dan pada siklus kedua meningkat menjadi 96%, jauh malamui indikator keberhasilan minimal klasikal  sebersar 85%.

Kata Kunci:  Model SAVI, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran terjadi ketika seseorang pembelajar memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar berharfiah adalah menciptakan makna baru, sejauh ini pendidikan kita didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. Kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar baru yang memberdayakan siswa sebuah strategi belajar tidak mengharuskan siswa menghafalkan fakta-fakta tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Realitas di lapangan yang terjadi di Sekolah Dasar Kelas I adalah bahwa, bagi siswa pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial  dianggap sebuah mata pelajaran yang sangat sulit, sehingga akhirnya nilai ulangan harian yang diperoleh oleh siswa dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial masih rendah. Dengan kondisi  tersebut di atas guru sebagai peneliti merasa pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas I masih kurang berhasil.
Berbagai macam metode telah digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, tetapi hasilnya masih belum memuaskan. Strategi/pendekatan-pendekatan saja belum cukup untuk menghasilkan perubahan. Meier  (dalam Hobri, 2008)) mengatakan bahwa belajar adalah berkreasi
bukan mengkonsumsi. Pengetahuan bukanlah suatu yang diserap oleh pembelajaran, melainkan sesuatu yang diciptakan oleh pembelajar.
Model pembelajaran SAVI adalah proses belajar siswa dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan panca indera (Meier,  dalam Hobri, 2008)". Dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, guru menempatkan diri sebagai fasilitator selama dalam proses pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih berperan aktif, sedangkan siswa menjadi pelaku utama dalam proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tersebut yang dituntut peran aktif dan dinamis.  Pendekatan SAVI menggabungkan 4 (empat) komponen yang berpengaruh pada pembelajaran di kelas".Agar Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berlangsung optimal komponen-komponen tersebut harus ada dan dilaksanakan secara terpadu dan simultan, keempat komponen itu antara lain somatik, auditori visual dan intelektual.
            Somatis berarti belajar dengan indera peraba. "Somatis dalam kata lain disebut dengan kinestetik yang melibatkan aktivitas fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar”(Meier, 2002:92), sehingga dikatakan bahwa somatis lebih mementingkan jasmani. Daloam lingkup siswa di kelas dengan membuat siswa tidak diam saja di kursi belajar. Menurut DePorter (1999:112), "pelajar kinestetik suka belajar melalui gerakan dan sentuhan". Mengajak siswa untuk bergerak aktif ketika belajar secara berkala akan menyegarkan tubuh, meningkatkan peredaran otak dan perpengaruh pada basil belajar. "Untuk menggerakkan tubuh dalam proses belajar siswa dengan menciptakan gambar atau menjalani pelatihan belajar aktif, misalnya dengan simulasi, permainan belajar dan lainnya" (Meier, 2002:95).
Merangsang antara pikiran dengan tubuh di dalam kelas dapat menciptakan suasana belajar yang membuat siswa aktif secara fisik. Somatis intinya adalah membuat siswa melakukan aktivitas fisik saat menerima pelajaran. Menurut Nasution (2000:89) "makin banyak kita berikan aktivitas kepada sesuatu, maka makin dalam kita menguasainya". Pelajaran tidak segera dikuasai dengan mendengarkan atau membaca materi saja, akan tetapi masih perlu kegiatan-kegiatan lain yang melibatkan aktivitas fisik dalam proses pembelajaran.
Tidak semua pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial memerlukan aktivitas fisik tetapi berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar secara aktif maupun pasif secara fisik memang diperlukan. Banyak hal yang dapat diiakukan untuk membuat siswa aktif secara fisik dalam proses Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
Auditori (A),     Pemanfaatan media suara (audio) dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dinamakan dengan auditori. Menurut Djamarah dan Zain (1995:140) "media auditif adalah media yang mengandalkan kemampuan suara". Selain dapat menambah motivasi belajar media auditori juga dapat membantu peserta didik dalam memahami pelajaran, karena media ini dapat direproduksi dan hasilnya sewaktu-waktu akan dibutuhkan dapat diulang kembali. Meier (2002.90) mengungkapkan bahwa “pikiran auditori lebih kuat daripada yang kita sadari”.Telinga kita terus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari.Oleh karena itulah, sebagian besar dari waktu siswa di sekolah dipergunakan untuk mendengarkan.
Ketika kita rnembuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak akan menjadi aktif. Menurut De Porter (1999:112), "pelajar auditorial belajar melalui apa yang mereka dengar, auditorial mengakses segala jenis bunyi dan kata, yang diciptakan maupun diingat. Oleh karena itu, belajar paling baik bagi siswa jika mereka mendengar dan mengucapkan kata-kata tentang materi yang mereka pelajari."Menggunakan pengulangan dengan meminta siswa menyebutkan kembali konsep, guru menggunakan variasi vocal berupa perubahan nada, kecepatan dan volume merupakan bentuk-bentuk auditori (DePorter, 1999:112).
Dalam penelitian ini, siswa diharuskan mendengarkan hal-hal yang berkaitan dengan materi. Sedangkan untuk meningkatkan pemanfaatan suara dari siswa, guru dapat meminta siswa untuk mendiskusikan atau memperbincangkan topik ekonomi yang mereka pelajari secara berkelompok dan mengemukakan hasilnya di depan kelas.
            Visual secara ilmiah adalah pembelajaran pengetahuan dengan media yang dapat dilihat oleh siswa.Djamarah dan Zain (1995:141) menyatakan bahwa "media visual ada yang menampilkan gambar diam dan ada pula media visual yang bergerak".Media visual dapat membantu guru dalam menyampaikan dan menjelaskan mengenai informasi, pesan, ide dan sebagainya dengan tanpa menggunakan bahasa-bahasa verbal, tetapi dapat lebih memberi kesan kepada peserta didik.Meier (2002:97) mengungkapkan bahwa "meskipun ketajaman visual labih menonjol pada sebagian orang namun sangat kuat dalam diri setiap orang". Pembelajar visual lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan seseorang penceramah atau sebuah buku. Media visual menjadikan pengalaman dan pemahaman peserta didik menjadi luas, lebih jelas dan tidak mudah dilupakan, serta lebih konkret dalam ingatan peserta didik.Seperti yang diungkapkan oleh Rohani A. (1997:76) bahwa "media visual sangat penting digunakan dalam usaha memperjelas pemahaman peserta didik.
            Menampilkan media visual dapat membuat peserta didik lebih melihat benda-benda atau hal-hal yang berkaitan dengan materi secara langsung, sehingga dapat membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan.
DePorter (1999:112) mengungkapkan bahwa "pelajar visual belajar melalui apa yang mereka lihat, warna, hubungan ruang, potret mental dan gambar menonjol dalam pembelajaran visual".
Untuk membuat siswa labih tertarik dengan pelajaran ekonomi yang disajikan, media visual seperti gambar-gambar, kode-kode tertentu untuk topik pelajaran penting dan sebagainya dapat digunakan oleh guru" (Meier, 2002:97-99). Kreativitas guru dalam memunculkan media visual sangat diperlukan selama proses pembelajaran di kelas, yang dapat menimbulkan ketertarikan siswa pada materi yang dipelajari. Pada kegiatan visual ini siswa dapat memperhatikan gambar-gambar ataupun video tentang materi, sehingga siswa mendapatkan berbagai gambaran mengenai materi peiajaran.
Intelektual adalah merenung, mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna terhadap materi pelajaran oleh siswa" (Meier, dalam Hobri, 2008).Intelektual berhubungan erat dengan aktivitas psikis, terutama kerja otak yang berhubungan dengan perenungan. Sardinian (2000:115) mengungkapkan bahwa "anak didik harus dilatih untuk mematangkan kemampuan intelektualnya setiap kali melakukan kegiatan belajar, harus dapat berkem bang pemikirannya kearah berpikir yang objektif dan rasional, tidak emosional".Dalam hal ini peran guru sangat penting dalam upaya mengarahkan anak didiknya agar dapat mencapai kematangan intelektual.
Aspek intelektual dalam belajar akan terlatih jika mengajak pembelajar terlibat dalam aktivitas seperti :Memecahkan masalah,, Menganalisis pengalaman, Mengerjakan perencanaan strategis,Melahirkan gagasan kreatif, Merumuskan pertanyaan, Menciptakan model mental, Menerapkan gagasan baru pada pelajaran, Menciptakan makna pribadi,Meramalkan implikasi suatu gagasan.
Berdasarkan kenyataan inilah dilakukan penelitian tindakan kelas yang mengamati proses pembelajaran IPS di sekolah dasar agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara : (1) memperbaiki praktek pembelajaran secara reflektif dan kolaboratif; (2) mengembangkan kemampuan profesional guru; (3) menemukan pola/metode yang tepat dan sesuai dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar.
Penelitian tindakan kelas adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif, dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik. Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar. Karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Model pembelajaran SAVI adalah proses belajar siswa dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan panca indera (Meier, 2002:91)". Dalam Hal ini, guru menempatkan diri sebagai fasilitator selama dalam proses pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk lebih berperan aktif, sedangkan siswa menjadi pelaku utama dalam proses belajar  tersebut yang dituntut peran aktif dan dinamis.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut:  Apakah dengan penerapan Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial?,
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang:  Untuk mengkaji tentang penerapan Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial,
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :
a)    Siswa,  dapat meningkatkan hasil belajar  Ilmu Pengetahuan Sosial,
b)    Guru, dapat memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial,
c)    Sekolah, dapat dijadikan referensi dalam menetukan kebijakan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru dan siswa.

METODE PENELITIAN
Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di SDN Sukogidri 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, Subyek Penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas I SDN Sukogidri 02 Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember yang berjumlah 25 siswa .

Desain Penelitian
Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan desain model penelitian tindakan Hopkins. Adapun desain siklus tindakan berdasarkan model penelitian tindakan Hopkins adalah sebagai berikut:
 
























Gambar 1. Model Penelitian Hopkins

Model skema yang menggunakan prosedur kerja dipandang sebagai suatu siklus spiral dari perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection) (Arikunto, S. 2002.).
a.   Tahap Perencanaan Tindakan
            Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perenacanaan ini merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang akan direncanakan terlebih dahulu. Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana guru disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual). Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk melakukan pemecahan. Selain itu yang terpenting yaitu guru harus memberikan informasi atau penjelasan tentang masalah tugas yang akan dipemecahan masalah disamping mempersiapkan kondisi belajar siswa.

b.   Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan
            Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi guru selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, guru memberikan materi secara umum, dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan dipemecahan masalah serta jenis pemecahan masalah yang akan diterapkan. Berikutnya yaitu siswa dibentuk kelompok dengan tujuan untuk mempermudah pemecahan masalah. Tahap selanjutnya merupakan proses berlangsungnya pembelajaran.
            Dimana siswa dituntut aktif dalam menyampaikan/ mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan metode pengajaran ini guru dapat merangsang seluruh siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya pembelajaran. Keaktifan siswa dapat berupa penyampaian argument, tanggapan, bertanya atau menjawab pertanyaan dan lain sebagainya. Pada tahap kedua ini  merupakan proses berlangsungnya Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan
           
c.   Tahap Observasi/Pengamatan
            Menurut “Kerlinger” mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.  Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan dalam meningkatkan minat belajar siswa.

d.   Tahap Refleksi
Refleksi dilaksanakan untuk melihat keseluruhan proses pelaksanaan tindakan hasil pemahaman siswa. Merefleksi adalah menganalisis data-data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan catatan lapangan. Tahap refleksi meliputi kegiatan memahami, menjelaskan dan menyimpukan data serta dilengkapi dengan penilaian proses pembelajaran. Dari hasil analisis tersebut guru merancang tindakan untuk siklus berikutnya.

Metode Pengumpulan Data
            Dalam pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
Observasi/ pengamatan, Tes, Wawancara, Angket/Kuesioner.

Analisis  Data
            Dijelaskan oleh Moleong (1993: 103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif  dan kuantitatif.
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah:  Daya serap perseorangan, seorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor ≥65 dari skormaksimal 100.
Daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85% siswa telah mencapai skor ≥65 dari skor maksimal 100.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
            Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)   yang dilaksanakan oleh guru setelah sebelumnya mengadakan análisis data pada proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan metode yang digunakan  selama ini yaitu model ceramah.
Kegiatan pertama-tama dilakukan dalam penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan sesuai dengan desain yang telah dibuat. Pada tahap ini persiapan telah dilakukan, baik yang berkaitan dengan persiapan mengajar (Rencana Pembelajaran), alat evaluasi dan perencanaan setting pembelajaran) lembar observasi, panduan wawancara, dan persiapan latihannya.
Secara mendetail hasil analisa data dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah guru menggunakan Model Pembelajaran SAVI Dan  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas I SD Negeri Sukogidri 02. Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II selengkapnya disajikan dalam tabel yang akan dijelaskan satu persatu dalam uraian di bawah ini.

Tabel  1.          Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas I Pada Pra Tindakan.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
9
36%
65 – 100
17
64%
Jumlah
25
100%
 Sumber:  Data  yang diolah.
Berdasarkan hasil analisa pada tabel di atas, pada Pra Tindakan diperoleh data, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 9 siswa atau sebanyak  36%, sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 16 siswa atau sebanyak 64%, sehingga pada Pra Tindakan dinyatakan belum tuntas belajar.
            Selanjutnya, perlu perbaikan pembelajaran dengan Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan yang dilaksanakan Pada siklus I. Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel  2. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas I SD Negeri Sukogidri 02 Pada Siklus I.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
5
20%
65 – 100
20
80%
Jumlah
25
100%
 Sumber:  Data  yang diolah.
            Pada siklus I diperoleh peningkatan hasil belajar yang cukup menggembirakan, karena  yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa dengan persentase 20%, sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 20 siswa dengan persentase 80%, sehingga pada siklus I dinyatakan tuntas belajar .
            Untuk mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi, selanjutnya peneliti mengadakan pembelajaran pada siklus II. Pembelajaran Siklus II, dilaksanakan dengan metode dan proses yang sama dengan pembelajaran siklus I.  Pada siklus II ini, siswa sangat menyenangi model pembelajaran SDL, karena siswa diberi kesempatan penuh untuk mengembangkan diri.  Ketika diadakan analisa data melalui tes, tampak siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Hasil analisa data pada siklus II, dapat di lihat pada tabel dibawah ini.

Tabel  3. Ketuntasan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas I SD Negeri Sukogidri 02 Pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
1
4%
65 – 100
24
96%
Jumlah
25
100%
 Sumber:  Data  yang diolah.
            Dari tabel 3 di atas diperoleh data yang mendapat nilai < 65 sebanyak 1 siswa dengan persentase 4%, sedangkan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 24 siswa dengan persentase 96%, sehingga penelitian dihentikan karena sudah mencapai ketuntasan hasil belajar yang diharapkan.
.           Untuk lebih jelas, peningkatan hasil belajar pada Pra Tindakan, siklus I, dan siklus II dapat dilihat tabel 4 dan pada grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar dibawah ini :

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas I SDN Sukogidri 02 Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
9
36%
5
20%
1
4%
65 – 100
16
64%
20
80%
24
96%
Jumlah
25
100%
25
100%
25
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas I SDN Sukogidri Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.

Sumber:  Data yang diolah.

Pembahasan
            Penerapan Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  Dan  yang diterapkan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berdampak pada peningkatan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan kedua aspek tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan aspek psikologis penting lainnya, yakni minat siswa terhadap materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
            Hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung , terlihat partisipasi / keaktifan siswa terlihat dalam hal kemauan atau keberanian siswa untuk memberikan pendapat mereka dengan membedakan penjelasan kepada sesama teman dalam kelompok.
Beberapa kelebihan pendekatan SAVI menurul Meier (2002.-91-92) antara lain :
a)    Membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerakan fisik dan aktivitas intelektual,
b)    Memunculkan suasana belajar yang lebih menarik dan efektif,
c)    Mampu membangkitkan kreatifitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa,
d)    Memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara visual, auditori dan intelektual.
Namun Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan pendekatan SAVI juga memiliki kekurangan di antaranya adalah :
a)    Pendekatan ini sangat menuntut adanya guru yang sempurna, yang dapat memadukan keempat komponen pendekatan SAVI secara utuh, padahal kemampuan guru pada umumnya sangatlah terbatas,
b)    Dalam menerapkan pendekatan SAVI membutuhkan kelengkapan sarana dan prasarana, sehingga diperlukan biaya pendidikan yang cukup besar, terutama untuk pengadaan media pembelajaran.
Mengingat adanya beberapa kelebihan yang dimungkinkan untuk dicapai, diharapkan siswa yang menerima Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan keempat komponen pendekatan SAVI secara terpadu dapat mencapai hasil belajar yang lebih optimal.
            Untuk itu , guru harus pandai dan bijaksana dalam memilih model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam rangka upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. model pembelajaran yang dipilih harus sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa.
Peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa diukur menggunakan tes hasil belajar sebelum penelitian tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada siklus pertama dan hasil belajar siklus kedua. Perbandingan ketiga hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan sesuai dengan yang diharapkan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
            Berdasarkan  hasil analisis data yang telah dilaksanakan maka peneliti simpulkan sebagai berikut: Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Materi Ajar “Rumah Sehat Dan Rumah Tidak Sehat” Melalui Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, Intelektual)  k Siswa Kelas I SDN Sukogidri 02

Saran-saran
        Setelah melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, saran-saran yang penelitisampaikan adalah :
a)    Untuk Guru, agar lebih berani dalam memberi alternatif  model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
b)    Untuk sekolah, agar mendukung  dengan menyiapkan  sarana/prasarana yang dibutuhkan dalam rangka penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan oleh guru supaya mendapatkan hasil penelitian yang optimal.

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, S. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdiknas.2005. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidiikan. Jakarta: Puskur
Hobri. 2008. Model-Model Pembelajaran Inovatif Bahan Bacaan Untuk Guru. Jember: Center For Society Studies (CSS).
Imansjah Alipandie, Drs.1984. Didaktik Metodik, Usaha Nasional, Surabaya.
Djamarah, S.B. 1996. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
DePorter dan Hernack. 2002. Quantum Learning (Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenagkan) Bandung. Kaifa.
Sagal,S. (2006), Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Penerbit Alfabeta
Winataputra,S.S. dan T. Rosita. 2007. Materi Pokok Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universifas terbuka,