Cari Blog Ini

Rabu, 04 Mei 2016

DINAMIKA KESENIAN TOPÈNG KONA DI DESA BLIMBING KECAMATAN KLABANG KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN 1942-2014

DINAMIKA KESENIAN TOPÈNG KONA DI DESA BLIMBING KECAMATAN KLABANG KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN 1942-2014

Kayan Swastika, Sumarno dan  Agung Wahyu R.


Abstrak: Topèng Kona merupakan penggambaran sosok Juk Sèng sebagai tokoh sakti pembabad Desa Blimbing. Topèng Kona merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upacara adat selamatan desa khas Desa Blimbing yang disebut Rokat Dhisa. Pelaksanaan selamatan desa tersebut dilatarbelakangi oleh kehidupan masyarakat Desa Blimbing yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian (agraris), sehingga mereka selalu mengharap hasil panen yang baik dan melimpah, dengan cara melaksanakan upacara adat ini setiap tahunnya yang dilaksanakan pada tanggal 13, 14 dan 15 Sya’ban. Oleh sebab itu, Topèng Kona harus selalu ditampilkan pada saat Rokat Dhisa, sebab kalau tidak, masyarakat percaya bahwa akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang akan menimpa desa mereka. Memasuki tahun 1998, menjadi tahun perubahan besar-besaran pada semua aspek pada Topèng Kona, terutama pada pola lantai, koreografi, kostum, make-up yang tertata, dan fungsi.  Perubahan fungsi menjadi seni pertunjukan hiburan yang bersifat entertainment stage, bukan sebagai sarana upacara bersih desa. Tujuan perubahan ini adalah memberikan penggambaran tentang sosok Juk Seng yang gagah perkasa dan berwibawa kepada setiap penonton yang melihatnya. Setiap unsur yang ada pada Topèng Kona maupun Rokat Dhisa sangat kaya akan makna dan petunjuk kehidupan bagi masyarakat Desa Blimbing, untuk selalu tunduk dan patuh terhadap Tuhan YME, saling menghargai antar sesama, dan menjaga kelestarian alam.

Kata Kunci: Kesenian, Topèng Kona, Perubahan, Perkembangan, Kesinambungan, Bondowoso

PENDAHULUAN
            Bondowoso memiliki beberapa kesenian daerah yang merupakan hasil budaya masyarakat setempat. Spesifikasi bentuk dan ungkapan kesenian terjadi karena kondisi lingkungan alam dan perkembangan sosial budaya di tempat kesenian itu muncul (Septiami, 2014: 1). Salah satunya adalah kesenian tarian topeng, yaitu Topèng Kona. Topeng adalah benda yang diterapkan pada wajah. Biasanya topeng dipakai untuk melengkapi pertunjukan kesenian daerah. Bentuk topeng bermacam-macam, ada yang menggambarkan watak marah, menggambarkan watak lembut, ada pula yang menggambarkan kebijaksanaan. Topèng Kona merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Tradisi Singo Ulung yang merupakan warisan kebudayaan dari nenek moyang sejak 500 tahun yang lalu (Bhagaskoro, 2014: 1). Berdasarkan uraian dari Bhagaskoro tersebut, maka angka 500 tahun yang lalu bisa dipastikan adalah hari lahir Desa Blimbing, yang memang lahir sekitar abad ke-15 Masehi (wawancara dengan Bapak Sutikno, tanggal 16 April 2015, dan berdasarkan angka yang tercantum dalam baliho dan pamflet yang tersebar saat upacara adat Rokat Dhisa pada tanggal 1, 2, dan 3 Juni 2015).
            Menurut penuturan masyarakat setempat, seni pertunjukan Singo Ulung merupakan tari tradisi yang terdiri dari berbagai unsur seni, salah satunya Topèng Kona. Topèng Kona merupakan suatu jenis seni pertunjukan berupa tari tunggal putera khas Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso. Topèng yang berarti topeng, dan Kona yang berarti kuna, sehingga dapat diartikan kesenian ini adalah kesenian topeng yang telah ada sebelum kesenian-kesenian topeng lain yang ada di Kabupaten Bondowoso. Topèng Kona merupakan simbol dari Demang Desa Blimbing yang bernama Juk Sèng, seorang bangsawan yang nama aslinya tidak diketahui. Juk Sèng merupakan dua unsur kata, yang terdiri dari kata “Juk” yang merupakan singkatan dari kata Jujuk, yang artinya embah, dan kata “Sèng” yaitu Sènga, yang berarti Singa. Topèng Kona berasal dari bahasa Madura yaitu topèng yang berarti topeng, dan kona  yang berarti kuna. Nama “Topèng Kona” digunakan sebab kesenian ini adalah kesenian topeng yang pertama kali dibuat sebelum adanya kesenian topeng-topeng yang lain di daerah Bondowoso (wawancara dengan Bapak Sugeng, tanggal 9 April 2015).
                                    Juk Sèng bagi masyarakat desa Blimbing dianggap sebagai tokoh leluhur utama yang disakralkan. Untuk menghormati jasa Juk Sèng, sebagai ucapan terimakasih kepada leluhurnya tersebut, maka setiap tahun sekali diselenggarakan upacara selamatan desa yang bersifat sakral, yang disebut Rokat Dhisa. Rokat Dhisa (Bersih Desa) yang dilaksanakan pada setiap tanggal 13-15 pada bulan Sya’ban. Topèng Kona berfungsi sebagai pelengkap dan “pengesah” dalam acara tersebut. Tari Topèng Kona kemudian dikembangkan menjadi tari pertunjukan dan diangkat menjadi ikon wisata kesenian Bondowoso (selain Singo Ulung); namun demikian aura kesakralannya seolah-olah masih melekat sehingga masyarakat menganggap keberadaan Tari Topèng Kona menjadi penting di acara hajatan sosial masyarakat Bondowoso. Hingga saat ini, Tari Topèng Kona tetap dipertunjukkan pada setiap upacara bersih desa.

Permasalahan yang dibahas adalah.
1. Bagaimana latar belakang munculnya kesenian Topèng Kona di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso?
2. Bagaimana perubahan dan perkembangan kesenian Topèng Kona di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso dari tahun 1942 sampai 2014?
3. Apa saja makna kaidah normatif kesenian Topèng Kona di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso?

Tujuan penelitian ini adalah.
·  Bagi ilmu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu sejarah;
·  Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan mengenai Dinamika Kesenian Topèng Kona di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso Tahun 1942-2014;
·  Bagi calon guru sejarah, penelitian ini diharapkan dapat menambah penguasaan materi sejarah kebudayaan dan sejarah lokal, sehingga dapat meningkatkan kompetensi guru dalam proses belajar mengajar;
·  Bagi amlamater, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

METODE PENELITIAN
            Penelitian yang dilakukan penulis merupakan penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk, Tanpa Tahun: 32). Maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian sejarah metode yang digunanakan peneliti sejarah dalam mengkaji, menelaah dan menguji secara kritis tentang jejak-jejak dan fakta-fakta sejarah yang ada. Berdasarkan pengertian di atas, maka langkah-langkah metode penelitian sejarah meliputi empat tahap, yakni: (1) Heuristik, (2) Kritik, (3) Interpretasi, dan (4) Historiografi.
            Langkah pertama dalam penelitian ini adalah heuristik. Heuristik merupakan langkah pertama dalam penelitian sejarah, yaitu berupa kegiatan yang dilakukan oleh sejarahwan untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang relevan setelah menetapkan atau masalah dalam penelitiannya (Sjamsuddin, 1996 : 94). Sumber sejarah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber sejarah tertulis berupa dokumen yang berkaitan dengan kesenian Topèng Kona di Bondowoso. Sumber lisan diperoleh dengan cara wawancara pada orang atau pihak yang mempunyai kaitan dan mengerti tentang topik yang dibicarakan seperti Bapak Sutikno dan Bapak Yandi selaku penari turun-temurun tari Topèng Kona dan merupakan keturunan langsung dari Juk Sèng, Bapak Sugeng selaku pengkoreo Topèng Kona “versi” hiburan, staf Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso dan pemimpin Padepokan Seni Gema Buana yang membina Topèng Kona “versi” pertunjukan hingga saat ini. Wawancara yang dilakukan oleh penulis tidak hanya sekali akan tetapi dilakukan berulang kali. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai kesenian Topèng Kona. Pelaksanaan wawancara ini dilakukan dengan beberapa narasumber diantaranya adalah pihak Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso, bapak Sutikno selaku penari Topèng Kona sendiri, tokoh-tokoh yang mengelola pertunjukan Topèng Kona yang tergabung dalam seni Ronteg Singo Ulung di Padepokan Gema Buana Prajekan Bondowoso, juga tokoh adat Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso yang memiliki kemampuan dalam memberikan informasi yang terkait dengan permasalahan. Selain metode wawancara untuk mendapatkan data tersebut, penulis juga melakukan penggalian data lapangan dengan menggunakan metode observasi.
            Observasi yang dilakukan penulis adalah observasi langsung yang dilaksanakan pada saat ada event pertunjukan Topèng Kona di Padepokan Seni Gema Buana sekitar bulan Maret dan April, dan juga pada saat upacara adat Rokat Dhisa pada tanggal 1, 2, dan 3 Januari 2015, untuk dapat membandingkan perbedaan Topèng Kona “versi” upacara adat dan Topèng Kona “versi” pertunjukan. Peneliti melakukan observasi secara langsung terhadap keunikan kesenian Topèng Kona yang sering ditampilkan dalam berbagai acara penting dan acara hiburan, sehingga untuk dapat menyaksikan langsung pertunjukan tari Topèng Kona tidak harus menunggu dilaksanakannya  acara Rokat Dhisa yang diselenggarakan hanya sekali dalam setahun.
            Observasi dilakukan pula pada saat latihan rutin yang diadakan oleh Padepokan Seni Gema Buana Kecamatan Prajekan Kabupaten Bondowoso, yang dilaksanakan setiap Rabu malam dan Sabtu malam. Selain itu peneliti juga membaca buku-buku literatur yang berhubungan dengan kesenian Topèng Kona, diantaranya adalah buku yang berjudul Seni Pertunjukan Ronteg Singo Ulung, Sejarah dan Budaya Bondowoso, dan lain-lain. Buku-buku literatur tersebut peneliti dapatkan di (1) Perpustakaan Universitas Jember, (2) Perpustakaan Daerah Tk. II Bondowoso, (3) Kantor Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso, (4) Kantor Biro Statistik Kabupaten Bondowoso.
            Selanjutnya adalah tahap kritik, yang sebenarnya penenliti lakukan secara kontinu dengan heuristik. Pada tahap ini, penulis memilih dan mengkaji sumber yang telah diperoleh apakah sumber tersebut benar, asli atau palsu serta dapat dipercaya atau tidak (Sjamsuddin, 1996: 118). Kritik ialah menilai, menguji atau menyeleksi sumber atau jejak yang benar dalam arti benar-benar diperlukan, benar-benar asli (autentik) serta benar-benar mengandung informasi relevan dengan subjek atau cerita sejarah yang hendak disusun. Ini sebenarnya menyangkut kredibilitas dari sumber atau jejak tersebut.
            Langkah ketiga dalam penelitian sejarah adalah Interpretasi. Interpretasi yang peneliti lakukan adalah menguraikan (menganalisis) data-data yang diperoleh dan menghubungkan data-data yang dikritik tersebut agar mendapatkan fakta sejarah (Kuntowijoyo, 2013:78). Peneliti menghubungkan antara fakta sejarah satu dengan yang lainnya secara kronologis, sehingga diperoleh sebuah kisah sejarah yang benar-benar sesuai dengan realitas peristiwa yang pernah terjadi.
            Historiografi merupakan langkah terakhir dalam metodologi atau prosedur penelitian historis. Historiografi adalah usaha mensintesakan data sejarah menjadi kisah atau penyajian dengan jalan menulis buku-buku sejarah dan artikel (Gottschalk, Tanpa Tahun: 33). Penyampaian hasil rekonstruksi imajinatif dari masa lampau dari data dan fakta yang diperoleh adalah merangkaikan fakta-fakta menjadi suatu kisah sejarah. Historiografi atau penulisan kisah sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta hasil penelitian, melainkan juga menyampaikan pendirian, serta pikiran melalui interpretasi sejarah berdasarkan fakta-fakta hasil penelitian.
            Historiografi merupakan kegiatan guna menyusun fakta sejarah menjadi sebuah kisah yang disajikan dalam bentuk tulisan. Penulisan jejak-jejak sejarah yang telah dikumpulkan dan dianalisis tersebut dapat menjadi hasil penelitian yang berupa tulisan yang dapat dipercaya dan logis sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Pada tahap historiografi, dilakukan untuk menyusun fakta sejarah menjadi sebuah kisah yang disajikan dalam bentuk tulisan tentang Dinamika Kesenian Topèng Kona di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso Tahun 1942-2014.

HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Masyarakat Desa Blimbing Dan Latar Belakang Munculnya Topèng Kona
·       Gambaran Umum Masyarakat Desa Blimbing
                                    Desa Blimbing terletak di Kecamatan Klabang, yaitu sebuah kecamatan di wilayah timur Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Desa Blimbing berjarak sekitar 30km dari pusat kota Bondowoso. Secara administratif, letak Desa Blimbing sebelah utara berbatasan dengan Desa Besuk, sebelah timur berbatasan dengan Desa Karangaanyar, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukorejo, dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Klabang dan Desa Karangsengon. Desa Blimbing dibagi menjadi 7 (tujuh) dusun, yaitu Dusun Alas Lanjhâng, Dusun Ghâddhingan, Dusun Tana Méra, Dusun Bengko Nangka, Dusun Krajan, Dusun Blimbing Tengah, dan Dusun Blimbing Utara, yang dikepalai oleh kepala dusun, disetiap dusun-dusunnya, yang membantu mengatur daerah di sekitar dusun, dan membantu kinerja kepala desa (Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Bondowoso. Tahun 2014).
            Mayoritas penduduk Desa Blimbing adalah suku Madura, yang merupakan kelompok etnis asal pulau Madura. Bahasa komunikasi sehari-hari masyarakat Desa Blimbing adalah bahasa Madura dan bahasa Indonesia. Banyaknya suku Madura di Desa Blimbing pada awalnya karena adanya migrasi yang dilakukan oleh suku Madura yang dilatarbelakangi oleh keadaan alam pulau Madura yang kurang mendukung bagi perekonomian.
            Kondisi desa yang subur, asri, berbukit, dan sejuk membuat setiap orang betah tinggal di desa ini. Mayoritas penduduk Desa Blimbing bermatapencaharian di bidang agraris, sebagai petani atau buruh tani. Hal ini didukung oleh tanah di Desa Blimbing yang subur, air melimpah, dan juga sistem irigasi yang baik. Masyarakat Desa Blimbing sebagian besar menggantungkan hidup mereka dari hasil pertanian, sebab segala faktor yang baik untuk mendukung aktivitas pertanian dan memungkinkan petani dapat menanam padi tiga kali panen dalam setahun.
                                    Masyarakat Desa Blimbing tak hanya bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani, banyak pula masyarakat Desa Blimbing yang berprofesi sebagi pegawai pemerintah dan berwiraswasta atau berdagang. Ada pula yang sudah mempunyai pekerjaan, seperti menjadi pegawai pemerintah, namun masih menjadi petani atau memiliki lahan pertanian sebagai pekerjaan tambahan yang dikerjakan selepas dari kantor atau dikerjakan oleh buruh tani
·        Latar Belakang Munculnya Kesenian Topèng Kona
         Topèng Kona pada awalnya hanyalah tari upacara pada upacara ritual selamatan desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Topèng Kona mulai dikenal luas oleh masyarakat Desa Blimbing sejak abad ke-20, yaitu pada tahun 1942 pada masa kepemimpinan Kepala Desa Mbah Masrul (wawancara dengan Bapak Sutikno, Hari Minggu, tanggal 17 Mei 2015).
         Topèng Kona sebenarnya adalah salah satu rangkaian dari upacara adat bersih desa di Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso. Topèng Kona adalah tarian khas dari Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Tari tradisional ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu satu-satunya tarian tunggal putera yang menggunakan topeng pada setiap pertunjukannya, dan harus ditarikan oleh seorang pria. Topèng Kona memiliki kostum yang khas, yaitu topeng berwarna putih dan didominasi warna merah pada kostumnya, hal ini menggambarkan kesucian (yang digambarkan pada warna topeng yang didominasi warna putih), serta kesaktian dan keberanian (yang digambarkan pada kostum penari Topèng Kona yang didominasi warna merah) dari seorang pendiri Desa Blimbing yang bernama Juk Sèng (Madura: Jujuk yang artinya embah, Sènga artinya Singa) yang kemudian mendapat gelar “Singo Ulung”. Singo Ulung adalah sebuah gelar terhadap seseorang yang bernama asli Juk Sèng (Mashoed, 2004: 180). Sejarah munculnya kesenian tari Topèng Kona, tak lepas dari latar belakang orang-orang Madura yang berjiwa pemberani dan gemar merantau ke daerah lain demi keberlangsungan kehidupan. Sekitar abad 13-14, Orang-orang Madura banyak yang bermigrasi ke daerah Tapal Kuda, demi mencari kehidupan yang lebih baik, sehingga menyebabkan terbawanya bahasa dan budaya mereka ke tempat baru. Pengaruh dari migrasi ini adalah penggunaan bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Bondowoso yang mayoritas menggunakan bahasa Madura. Pengaruh budaya yang dibawa adalah seni pertunjukan topeng (Topèng Singo dan Topèng Kona) (Kristanti, 2011: 28).
         Kesenian tari Topèng Kona ini lahir karena keberanian, kewibaan dan kebijaksanaan seorang tokoh sakti yang disebut Juk Sèng, dari Sumenep menuju ke pulau Jawa, tepatnya ke wilayah Kabupaten Bondowoso. Kapan Juk Sèng ke Desa Blimbing juga belum diketahui secara pasti, namun jika melihat usia Desa Blimbing pada tahun 2014, berusia 522 Tahun, ini berarti Desa Blimbing lahir pada tahun 1492.
         Topèng Kona lahir sesuai dengan kearifan masyarakat Desa Blimbing, yaitu konsep kerukunan masyarakat tentang nilai kesatuan, nilai keberagaman, nilai keseimbangan, dan nilai keselarasan. Nilai kearifan “Èjhunjhung Tèngghi Èbhendem Dâlem” (dijunjung sama tinggi, dikubur sama dalam) mengandung arti bahwa perlunya kebersamaan dan kerjasama antara satu dengan yang lainnya sebagai suatu kesatuan sosial yang saling menghargai dan menghormati demi nama baik desa. Nilai kearifan “Aregghâi” (menghargai) yang berarti sikap bermasyarakat yang menyadari akan kebersamaan di tengah perbedaan etnis, agama, dan menjadikannya satu perbedaan dalam kebersamaan.
         Topèng Kona sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan upacara adat selamatan desa, yang menurut masyarakat Desa Blimbing disebut Rokat Dhisa. Rokat Dhisa adalah sebuah upacara ritual selamatan desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso yang dilaksanakan setiap tahun, yaitu mulai tanggal 13-15 bulan Sya’ban (Hijriyah/ Arab) atau bulan Rebbâ (Madura).

B. PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN   KESENIAN TOPÈNG KONA
1. Perubahan Kesenian Topèng Kona Tahun 1942-2014
            Sejak awal kemunculan Topèng Kona yang hanya ditampilkan sebagai pengesah upacara adat Rokat Dhisa, hingga saat ini dikembangkan menjadi seni pertunjukan atau hiburan, seni pertunjuan Topèng Kona mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi pada unsur-unsur pertunjukan Topèng Kona diataranya mantra, sesaji, tempat, waktu pelaksanaan, gerakan, musik, serta kostum dan atribut yang sangat berbeda dengan penampilan Topèng Kona pada saat upacara adat Rokat Dhisa. Untuk penjelasan lebih rinci akan dijelaskan berikutnya.
            Pada awalnya Topèng Kona berfungsi sebagai tari upacara pada upacara ritual selamatan desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Fungsi kesenian tari Topèng Kona pada mulanya adalah sebagai “pengesah” dan merupakan salah satu rangkaian upacara adat bersih desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso yang hanya ditampilkan setahun sekali pada bulan Sya’ban (Hijriyah/ Arab) atau bulan Rebbâ (Madura), tepatnya pada tanggal 15 dan hanya ditampilkan di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso. Tak hanya sebagai tari upacara, Topèng Kona juga berfungsi sebagai penangkal wabah (penolak bala), tari ritual kesuburan pertanian, dan sebagai media komunikasi dengan roh leluhur.
            Pada masa kepemimpinan Kepala Desa Masrul alias Reksojoyo, tepatnya pada awal tahun 1957, menjadi penanda tahun ketika Topèng Kona berubah fungsi, dari tari ritual menjadi tari hiburan, tentu saja sebelumnya telah meminta pendapat kepada ketua adat dan kepala desa Blimbing yang menjabat saat itu, yaitu Bapak Masrul. Ketua adat Desa Blimbing dan Bapak Masrul setuju untuk menampilkan Topèng Kona diluar acara upacara adat, sebab Topèng Kona ditampilkan sebagai seni pertunjukan hiburan saja. Pada saat itulah, untuk pertama kalinya pertunjukan Topèng Kona dan Singo Ulung ditampilkan dalam acara non-upacara adat, yaitu pada acara khitanan anak sulung dari Bapak Mahwi di Desa Blimbing. Pada saat itu Bapak Mahwi merupakan penari Topèng Kona. Ketertarikan beliau memadukan Singo Ulung dan Topèng Kona dalam pementasan hiburan adalah karena beliau merasa telah menyatu dengan seni pertunjukan tersebut. Pada tahun yang sama, Bapak Husen mengundang kesenian ini (Singo Ulung dan Topèng Kona) karena beliau mempunyai nazar yang harus dipenuhi pada anaknya pada saat dikhitan (Kristanti, 2011: 43)
            Pertengahan tahun 1957, Desa Blimbing masih dijabat oleh Bapak Masrul, Topèng Kona memulai eksistensinya diluar Desa Blimbing dalam acara khitanan dan perkawinan. Dengan perubahan fungsi ini akhirnya penari Topèng Kona tak hanya dari keturunan asli Juk Sèng dan tak hanya dari Desa Blimbing saja, tetapi, pada saat upacara adat Rokat Dhisa Desa Blimbing, penari Topèng Kona tetap dari keturunan Juk Sèng, namun jika Topèng Kona ditampilkan hanya untuk hiburan dan pertunjukan, penari Topèng Kona boleh berasal dari bukan keturunan Juk Sèng (Kristanti, 2011: 41-42). Disamping sebagai media persembahan terhadap roh cikal bakal desa, penampilan seni pertunjukan ini juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan tersebut.
            Pada tahun 1965, kesenian tradisional Blimbing ini mengalami kemunduran, tak banyak lagi pertunjukan diluar upacara adat, sebab adanya peristiwa G30S/PKI, yaitu adanya larangan berkumpul. Disamping itu, pertunjukan yang meraih penonton banyak ditunggangi sebagai propaganda (Soedarsono, 1986: 46). Berbagai bentuk seni pertunjukan yang mampu meraih massa, seperti ketoprak dan ludruk di Jawa dalam pementasannya selalu diarahkan untuk menampilkan tema-tema kerakyatan dan anti feodalisme oleh PKI (Soedarsono, 1986: 45). Banyak perkumpulan seni yang menjadi media keberhasilan politik PKI, tetapi tidak dengan perkumpulan Singo Ulung. Namun karena rasa takut, maka banyak perkumpulan seni pertunjukan ini yang membubarkan diri. Berselang dua tahun, yaitu pada tahun 1967, kesenian ini perlahan bangkit dan menunjukkan eksistensinya dan semakin berkembang hingga saat ini.
            Banyak perbedaan dan perubahan yang terjadi pada seni pertunjukan Topèng Kona sejak tahun 1998 hingga dewasa ini. Perubahan terjadi ketika Topèng Kona dirombak ulang oleh seniman yang bernama Bapak Sugeng. Sejak 1998, Bapak Sugeng selaku pemerhati seni budaya Bondowoso dan seniman tradisional mulai mengkoreo semua gerakan yang ada pada tari upacara adat Topèng Kona agar sesuai bila ditampilkan dalam acara hiburan yang berkelas. Tujuan perombakan kesenian Topèng Kona bukan tanpa alasan, sebab beliau menginginkan agar Topèng Kona mampu menjadi ikon pariwisata Kabupaten Bondowoso, sebagaimana yang dilakukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam tari Gandrungnya, beliau juga ingin agar Topèng Kona mampu menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat luas, tak hanya masyarakat Blimbing saja.
            Terjadi beberapa perubahan yang dilakukan oleh Bapak Sugeng sebagai pengkoreo seni pertunjukan ini, agar layak ditonton sebagai seni pertunjukan dan bernilai seni tinggi. Diantaranya waktu dan tempat yang bisa menyesaiakan kapan saja dan dimana saja, bisa menampilkan Topèng Kona, tak hanya pada saat upacaa adat saja, dan di Desa Blimbing saja. Sesaji untuk pertunjukan Topèng Kona versi hiburan hanya berisi sebagian kecil dari sesaji-sesaji yang biasanya disuguhkan pada saat upacara adat, dalam versi hiburan, sesaji yang disuguhkan hanya biddhâng paèk, jhâjhân pasar, dan rokok klobot (Wawancara dengan Bapak Sugeng, Hari Kamis, tanggal 30 April 2015). Untuk penjelasan rinci mengenai sesaji Topèng Kona versi upacara adat akan dijelaskan pada bab berikutnya.
            Mantra Topèng Kona versi hiburan sangat berbeda dengan mantra yang dibacakan untuk upacara adat. Mantra Topèng Kona versi hiburan hanya mengambil sebagian kecil dari berbagai mantra yang ada pada pelaksanaan upacara adat dan diberi improvisasi, hal ini karena Bapak Sugeng sengaja memberikan penyesuaian, agar Mantra Topèng Kona versi hiburan tidak terlalu serius dan hanya sebagai pelengkap penampilan seni saja. Sejak tahun 1998, bapak Sugeng selaku pemerhati kesenian tradisional Bondowoso mulai mengkoreografi ulang dan menata Topèng Kona, agar lebih menarik dan bisa ditampilkan sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pertunjukan hiburan dan tak hanya di Desa Blimbing saja. Topèng Kona mulai dipentaskan di tempat yang bersifat concert dance dan show dance. Koreografi dan pola lantai mulai ditata, agar pertunjukan menjadi rapi dan bernilai seni. Perbendaharaan gerakan mempertimbangkan daya kreatifitas dan selalu berkembang. Macam-macam gerakan yang ada pada kesenian Topèng Kona versi hiburan masih mirip dengan seni pertunjukan Topèng Kona versi upacara adat. Perubahan yang ada hanyalah penambahan gerakan tegas dan ber-ruang, sehingga gerak penari menjadi lebih luas dan leluasa, hasilnya kesan tegas dan berwibawa dari seorang tokoh penguasa Blimbing semakin jelas.
            Dari segi iringan, sudah mengalami inovasi sesuai dengan kreatifitas para pemainnya, dengan mengaransemen gending pengiring dan mempercepat tempo iringan, hal ini dilakukan bertujuan agar Topèng Kona lebih menarik lagi penyajiannya dan kesan kewibaannya lebih terpancar. Hingga saat ini, gending yang digunakan tetap menggunakan Gending Pas-Kapasan namun dengan sedikit aransemen dan percepatan tempo, pernah dahulu Bapak Sugeng mengkreasikan Topèng Kona diiringi dengan gending lain, yaitu Gending Jhârân Nyerèk, namun ternyata kurang cocok dengan karakter Topèng Kona, sebab setelah dipraktekkan, Gending Jhârân Nyerèk tidak memberikan nuansa kewibawaan, melainkan lebih membawa kesan “galak”, sehingga solusinya, iringan kembali menggunakan Gending Pas-Kapasan.
            Selain aspek gerakan dan musik, segi busana dan atribut juga menjadi hal yang mengalami perubahan besar-besaran. Topèng Kona kini telah menggunakan mahkota yang lebih besar dan disesuaikan dengan penggambaran seorang penguasa, daripada dahulu yang hanya menggunakan gelung yang sangat tidak dapat mewakili dan menggambarkan kekuasaan penguasa Blimbing pada waktu itu, yaitu Juk Sèng. Aksesoris lain yang ditambah adalah keris, kalong kacè, ghellang dèker, rapek, boro-boro, stagen lowar, sampor atau penjhung, kaos kaki yang lebih sesuai, dan ghungseng. Make up dan tata pentas sudah modern dan selalu diperhatikan demi keindahan. Jadi, Topèng Kona “kreasi” ini adalah pengembangan dan perombakan gerakan-gerakan yang semula sederhana menjadi lebih baik dan terkonsep, yang semula lambat menjadi cepat, tak ada lagi pengulangan-pengulangan gerakan yang justru menunjukkan minimnya gerak tari Topèng Kona, hal ini bertujuan agar kewibaan Juk Sèng sang pembabad desa Blimbing benar-benar terlihat dan bisa dirasakan oleh penonton yang melihat seni pertunjukan tersebut.
            Faktor penyebab perubahan Topèng Kona yang dilakukan oleh Bapak Sugeng karena ketidaksesuaiannya tari Topèng Kona apabila ditampilkan untuk sarana hiburan (concert dance) yang lebih berkelas, sehingga kesannya tidak menarik dan monoton. Oleh karena itu, Bapak Sugeng selaku pengkoreo dan pencipta gerak tari Topèng Kona “versi” hiburan, merombak total segala yang ada pada Topèng Kona baik atribut, musik, maupun gerakan, namun tentu saja tidak menghilangkan keaslian Topèng Kona ”versi” upacara adat, agar kesan sakral dan mistik tetap terjaga meskipun Topèng Kona telah dipoles sedemikian rupa demi keindahan dan esetetika seni, sehingga Topèng Kona menjadi lebih menarik penonton dan siap dipentaskan untuk acara hiburan yang lebih berkelas.
2. Perkembangan Kesenian Topèng Kona Tahun 1998-2014
     Zaman berganti zaman, hingga akhirnya seni pertunjukan tradisional Topèng Kona ini mampu mempertahankan keberadaanya hingga era globalisasi dan mosernisasi saat ini. Era globalisasi telah memungkinkan bangsa Indonesia untuk menikmati berbagai bentuk seni pertunjukan, baik yang disajikan secara langsung maupun yang ditayangkan lewat media rekam, seperti TV, VCD, dan antena parabola (Soedarsono, 2002: 47). Saat ini, untuk menikmati berbagai seni pertunjukan, tak perlu kesulitan seperti dahulu yang harus mendatangi suatu tempat digelarnya acara pertunjukan tersebut, sebab teknologi sudah maju, dari ponsel atau tablet pc pun sudah bisa mengaksesnya, baik streaming secara langsung dengan mengunjungi laman Youtube, kita sudah dapat mengakses jutaan seni pertunjukan baik yang tradisional sampai modern, dari yang lokal hingga internasional.
     Namun kenyataan yang terjadi, banyak masyarakat terutama anak muda dan remaja lebih memilih produk budaya modern tak peduli budaya itu berasal dari dalam ataupun luar negeri, serta tak peduli apakah budaya itu cocok dengan adat ketimuran kita, banyak yang sudah lupa dan anti terhadap produk budaya lokal yang padahal merupakan warisan leluhur bangsa kita sendiri. Uniknya, produk budaya lokal yang kita anggap terkesan “jadul” dan “kuna”, justru dianggap unik dan bernilai budaya tinggi oleh masyarakat luar negeri, terbukti juga pada seni pertunjukan Topèng Kona ini yang banyak menuai pujian dan antusiasme tinggi dari masyarakat internasional, banyak turis luar negeri seperti Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Singapura dan sebagainya yang meneliti keunikan dan keindahan seni pertunjukan Topèng Kona (wawancara dengan Bapak Sutikno, tanggal 19 April 2015).
     Penampilan seni tari Topèng Kona khas desa Blimbing dalam upacara adat Rokat Dhisa dianggap sebagai media persembahan terhadap pembabad dan pemimpin desa, yaitu Juk Sèng, dan wajib ditampilkan. Dikatakan wajib, sebab penampilan Topèng Kona pada upacara adat ini diharapkan dapat menghindarkan masyarakat Desa Blimbing dari segala bencana dan musibah yang dapat menimpa desa mereka, dan diharapkan dapat mendatangkan kedamaian serta hasil panen yang melimpah.
     Instrumen gamelan yang digunakan lebih banyak dan lebih dikembangkan lagi, yaitu bertambahnya alat musik Saron, Thetet, Kecrek, dan instrumen yang pasti ada di setiap kesenian tradisional Kabupaten Bondowoso, yaitu Kennong Tello’. Semua inovasi dan pengembangan ini dilakukan oleh Bapak Sugeng, dengan tujuan sebagai sarana hiburan atau tontonan untuk masyarakat umum, estetika dan agar sesuai dengan perkembangan seni.
     Pada masa pemerintahan Bupati Dr. H. Mashoed M.Si pertama (1998-2003) dan kedua (2003-2008). Kesenian ini mencapai pucak keemasannya, sebab bapak bupati Mashoed benar-benar fokus untuk mengenalkan dan mengiklankan kesenian ini hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Bondowoso dan sebagian kecil keluar wilayah Kabupaten Bondowoso, sejak pemerintahan belaiu, setiap sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA, diberi bantuan alat dan aksesoris kesenian tradisional ini lengkap dengan alat musiknya. Tak tanggung-tanggung, beliau juga melakukan pelatihan khusus, yang sering dilakukan di aula Dinas Pariwisata (sekarang: Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan). Tak berhenti sampai disitu, beliau juga mengadakan lomba kesenian tradisional antar kecamatan dan pawai budaya demi tersebarluasnya kesenian tradisional khas Bondowoso ini. Pengiklanan produk budaya asli Bondowoso juga dilakukan dengan mendirikan baliho di setiap perbatasan atau pintu masuk menuju Kabupaten Bondowoso, hal lain yang dilakukan pemerintah kabupaten Bondowososo adalah mengiklankan kesenian ini kedalam bentuk pamflet dan leaflet yang dicetak langsung oleh Dinas Pariwisata (sekarang: Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan).
     Tahun 1998 sampai tahun 2011, adalah masa keemasan dari kesenian Topèng Kona ini, termasuk Singo Ulung yang tergabung dalam Ronteg Singo Ulung, kreasi Bapak Sugeng. Seni pertunjukan ini mulai naik daun dan dikenal oleh masyarakat luas, baik dari Kabupaten Bondowoso sendiri, maupun dari luar Kabupaten Bondowoso. Seni pertunjukan ini sering diundang untuk acara hajatan-hajatan maupun pagelaran seni besar baik di tingkat provinsi maupun nasional, tak hanya dalam acara khitanan atau pernikahan saja.
     Pesatnya teknologi modern, terutama di bidang TI (Teknologi Informasi) dimanfaatkan dengan cukup baik oleh pemerintah Kabupaten Bondowoso. Topèng Kona mulai diiklankan baik melalui website, video streaming, jejaring sosial, dan sebagainya. Kesenian tradisional inipun menuai banyak pujian dan prestasi yang gemilang.

C. Kesinambungan Kesenian Topèng Kona dengan Upacara Adat Rokat Dhisa di Desa Blimbing
            Munculnya seni pertunjukan Topèng Kona yang adi luhung ini tak lain karena adanya pelaksaan upacara adat bersih desa, yang menurut masyarakat Desa Blimbing disebut Rokat Dhisa atau Ghâdhisa. Oleh sebab itu, keterkaitan antara seni pertunjukan Topèng Kona dengan upacara adat bersih desa adalah sangat erat. Kondisi tersebut tetap berlangsung hingga saat ini. Perpaduan antara seni pertunjukan Topèng Kona maupun upacara adat selamatan desa Rokat Dhisa, mampu menyelaras dengan perkembangan zaman masa kini, sehingga tak perlu ada unsur diantara keduanya yang harus berubah, seperti pada nilai, norma, dan makna yang terkandung di dalamnya. Masyarakat setempat menganggap, seni pertunjuak Topèng Kona merupakan unsur penting dalam upacara adat.
            Seni pertunjukan Topèng Kona harus ditampilkan dan tak boleh diganti dengan kesenian lain atau bahkan ditiadakan dari upacara adat, sebab seni pertunjukan Topèng Kona merupakan media satu-satunya yang dapat menghubungkan masyarakat Blimbing dengan roh leluhur mereka secara batiniah termasuk kepada roh leluhur yang membuka wilayah desa Blimbing; Juk Seng. Sementara itu, bagi masyarakat desa Blimbing, seni pertunjukan ini telah mengakar kuat dan merupakan tradisi turun temurun yang tabu untuk diabaikan.
            Para tokoh yang berperan dalam menjaga kelestarian budaya ini adalah para pelaku seni pertunjukan Topèng Kona yang sejak dahulu selalu dibawakan oleh penari secara turun-menurun dari generasi ke generasi, yang saat ini dibawakan oleh Bapak Sutikno. Tokoh pendukung lainnya adalah tentu saja para tokoh masyarakat, para pelaku seni, pawang, juru masak serta masyarakat Desa Blimbing pada umumnya.

D. Tujuan Pelestarian Kesenian Topèng Kona
            Topèng Kona pada awalnya berfungsi sebagai tari upacara pada upacara ritual selamatan desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso yang ditampilkan setahun sekali pada tanggal 15 Sya'ban. Tak hanya sebagai tari upacara, Topèng Kona juga berfungsi sebagai penangkal wabah (penolak bala) bagi masyarakat Desa Blimbing. Penampilan   Topèng Kona yang hanya setahun sekali di Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, membuat perlunya pelestarian kesenian ini untuk menjadi kesenian tari yang lebih fleksibel dan bisa dipertunjukkan dimana saja dan kapan saja, sebab jika tidak, bukan tidak mungkin jika kesenian ini akan tergeser dengan kesenian lain yang lebih modern dan lebih baru, ditambah lagi dengan turunnya selera masyarakat Indonesia terhadap kesenian tradisional, serta kurangnya perhatian pemerintah dalam upaya pelestarian kesenian menjadi faktor punahnya suatu kesenian tradisional di Indonesia, tak terkecuali Topèng Kona. Segala pihak harus melakukan segala upaya terbaiknya agar kesenian tradisional ini tidak punah bahkan lenyap.
            Pelestarian seni pertunjukan Topèng Kona tak bisa dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dilakukan secara bersama-sama baik oleh para seniman Topèng Kona yang tergabung dalam grup kesenian traidisi, masyarakat maupun pemerintah melalui Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga Pemuda dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso. Padepokan Seni Gema Buana di Prajekan, Bondowoso, menjadi salah satu pelestari seni tradisional khas Bondowoso ini, bahkan Bapak Sugeng, pemimpin Padepokan Seni Gema Buana berharap, seni pertunjukan Topèng Kona bisa menjadi ikon baru bagi Kabupaten Bondowoso selain Singo Ulung, sebagaimana Tari Gandrung yang menjadi ikon Kabupaten Banyuwangi, atau Reog yang menjadi ikon Kabupaten Ponorogo, beliau juga berharap agar seni pertunjukan ini bisa dikenal hingga seluruh Indonesia, bahkan internasional.

E. Kaidah Normatif Kesenian Topèng Kona
            Apapun bentuk kesenian tradisional, yang ada di setiap daerah, tentu memiliki nilai-nilai kearifan yang agung, yang adi luhung. Demikian pula dengan seni pertunjukan yang berasal dari Desa Blimbing, yaitu Topèng Kona. Seni pertunjukan Topèng Kona sebagai warisan leluhur memiliki berbagai nilai kearifan yang terdapat pada setiap warna, aksesoris dan gerakan yang ada.
            Nilai kearifan “Èjhunjhung Tèngghi Èbhendem Dâlem” (dijunjung sama tinggi, dikubur sama dalam) mengandung arti bahwa perlunya kebersamaan dan kerjasama antara satu dengan yang lainnya sebagai suatu kesatuan sosial yang saling menghargai dan menghormati demi nama baik desa. Nilai kearifan “Aregghâi” (menghargai) yang berarti sikap bermasyarakat yang menyadari akan kebersamaan di tengah perbedaan etnis, agama, dan menjadikannya satu perbedaan dalam kebersamaan.
            Nilai kearifan “apolong satarètan” terlihat pada saat pemilihan panitia penyelenggara upacara adat Rokat dhisa, sebab upacara ritual selamatan desa merupakan hajatan besar seluruh warga desa. Oleh karena itu, lazimnya sebuah hajatan desa pada umumnya, maka penyelenggaraannya harus ditanggung seluruh warga dan dalam hal ini perlu dibentuk sebuah panitia penyelenggara, agar pelaksanaan betul-betul tertata dan dapat terlaksana dengan lancar.  Nilai kearifan “apolong satarètan” juga terlihat pada saat penyembelihan hewan kurban (sapi) yang merupakan rangkaian kegiatan ritual yang paling awal dalam upacara adat Rokat Dhisa. Setelah daging-daging yang dipilih untuk sesaji upacara, kemudian bagian-bagian dan daging-daging yang lain dibagikan kepada seluruh masyarakat Desa Blimbing, hal ini merupakan simbol ungkapan kebersamaan.
            Nilai kearifan gotong royong dan kerukunan, terlihat pada kegiatan sesoklan, salah satu bagian dari sekian banyak kegiatan upacara adat. Sesoklan adalah penyerahan bahan makanan, berupa beras, kelapa, telur ayam, minyak, kemenyan, dan berbagai perlengkapan bumbu dapur lainnya. Semua perlengkapan tersebut akan dikumpulkan guna sesaji dalam upacara adat.
Rokat Dhisa adalah sebutan masyarakat setempat untuk menyebut sebuah upacara ritual selamatan desa, di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso yang dilaksanakan setiap tahun, yaitu mulai tanggal 13-15 bulan Sya’ban. Upacara ritual Rokat Dhisa dilatarbelakangi oleh keadaan sekitar desa dan kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Blimbing sejak dahulu kala. Profesi masyarakat Desa Blimbing mayoritas adalah bertani, sehingga menyebabkan masyarakat Desa Blimbing berupaya dengan berbagai cara agar tanaman pertaniannya dapat terhindar dari penyakit, hama dan lain sebagainya yang dapat merusak dan menggagalkan panen mereka, baik dengan memperbaiki sistem dan irigasi yang baik, pemberian obat pertanian, dan hal lain, yang bersifat sakral, yaitu upacara selamatan desa.
            Di era yang serba modern saat ini, nilai kearifan dan norma yang terdapat pada seni pertunjukan Topèng Kona maupun upacara adat selamatan desa Rokat Dhisa tak ada yang berubah sedikitpun, hal ini disebabkan karena nilai kearifan dan norma yang ada masih mampu menyesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat (wawancara dengan Bapak Sutikno, tanggal 17 Mei 2015).

E. Makna Kesenian Topèng Kona  
            Topèng Kona memilki berbagai simbol, yaitu terlihat dari warna topeng Topèng Kona yang berwarna didominasi warna putih menggambarkan simbol kesucian, kewibawaan, dan kebijaksanaan. Baju penari Topèng Kona yang berwarna merah menggambarkan keberanian dan kegagahan dari seorang tokoh sakti pembabad dan pemimpin Desa Blimbing pada waktu itu yang bernama Juk Sèng. Mahkota penari Topèng Kona yang tinggi menjulang menggambarkan manusia yang harus memiliki cita-cita yang tinggi dan ilmu yang bermanfaat bagi sesamanya. Warna merah keemasan yang mendominasi mahkota, menggambarkan kekuasaan, kewibawaan dan kebijaksanaan. Kembhâng Malatè To’or (bunga melati yang ditusuk bertumpuk) sebagai penghias yang berada di atas topeng Topèng Kona menggambarkan sifat kesucian, diletakkannya Kembhâng Malatè To’or diatas kepala bermakna agar setiap manusia selalu mengedepankan fikiran bersih nan suci dan akal sehat nan manusiawi. Baju dengan lengan berwarna kuning menggambarkan sosok Juk Seng yang apa adanya dan sederhana. Keris menggambarkan pelindung diri dari berbagai hal dan fikiran negatif yang akan merusak jiwa dan raga manusia. Sabuk bergaris merah dengan ukuran yang lumayan besar, menggambarkan penahan (benteng) yang akan melindungi setiap manusia dari hawa nafsu duniawi. Selendang sampur pati menggambarkan keaslian jati diri. (wawancara dengan Bapak Sutikno 26 April 2015).
            Setiap gerakan tarian Topèng Kona juga mengandung nilai-nilai kearifan yang mengacu baik kepada hubungan manusia dengan manusia (hablum minannas) maupun hubungan manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah), seperti: gerak tèndhâ’ yang berarti ketegasan jati diri, gerak nungghâl yang berarti manusia harus mampu menyatu dengan Tuhan dan mementingkan kepentingan Tuhan, gerak nyéko kangan kacer yang berarti manusia harus mampu melihat kondisi alam sekitar dengan baik, gerak tèndhâ’ rangkep berarti manusia harus mampu menutup dan menjaga seluruh anggota tubuh dari nafsu duniawi, gerak akopa’ yang berarti tolak bala, gerak tètè bhâtang yang berarti manusia harus mampu berjiwa ksatria, gerak kèprah berarti memohon kepada Tuhan, dan gerak tèndhâ’ gawang yang berarti setiap manusia pasti akan kembali kepada sang pencipta.


KESIMPULAN DAN SARAN
           Berdasarkan rumusan masalah yang ada pada bab 1, dan pembahasan yang ada pada bab 4, 5, dan 6 maka dapat disimpulkan bahwa kesenian Topèng Kona adalah kesenian asli Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso. Awal lahirnya kesenian tradisional khas Kabupaten Bondowoso ini tidak diketahui secara pasti, namun kesenian ini mulai ditampilkan sebagai pengesah upacara adat selamatan desa yang disebut Rokat Dhisa pada tahun 1942 pada masa pemerintahan Kepala Desa Mbah Masrul. Kesenian ini lahir karena sebagai sarana upacara adat bersih desa, yang disebut Rokat Dhisa bagi masyarakat Blimbing. Upacara adat bersih desa bertujuan demi keselamatan dan kemakmuran desa. Rokat Dhisa adalah upacara adat selamatan Desa Blimbing yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 13, 14 dan 15 Sya’ban.
           Seni pertunjukan Topèng Kona dari tahun ke tahun hingga saat ini telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan baik dari segi fungsi, atribut, busana, musik, gerak dan banyak lagi aspek lainnya. Tahun 1951 menjadi tahun berubahnya fungsi Topèng Kona yang dahulu hanya sebagai sarana ritual upacara adat bersih desa, menjadi sebuah tari pertunjukan yang mulai dikomersilkan. Topèng Kona mulai menghibur masyarakat pada acara khitanan dan perkawinan, dan tak hanya tampil disekitar Desa Blimbing. Pada tahun 1965, seni pertunjukan Topèng Kona, dan beberapa seni pertunjukan lain seperti Singo Ulung dan Ludruk mengalami penurunan yang diakibatkan oleh adanya peristiwa G30S/PKI. Banyak perkumpulan seni pertunjukan radisional yang membubarkan diri karena takut akan intervensi PKI.
           Memasuki tahun 1998, menjadi tahun perubahan besar-besaran pada semua aspek pada Topèng Kona, terutama pada pola lantai, koreografi, atribut, make-up yang tertata, dan tentu saja fungsi. Perubahan dari segi fungsi tentu saja berubah menjadi seni pertunjukan hiburan yang bersifat entertainment stage, bukan sebagai sarana upacara bersih desa. Pola lantai mulai digarap serius, begitupun dengan kostum dan make-up yang kini dipermak besar-besaran. Segi koreografipun mendapat perhatian serius, yakni mulai memperhatikan estetika seni, lebih dinamis dan tegas, namun tak serta merta menghilangkan keaslian Topèng Kona sebagai penggambaran seorang demang Desa Blimbing, yaitu Juk Seng. Tujuan perubahan ini adalah selain perkembangan zaman, juga untuk memberikan penggambaran tentang sosok Juk Seng yang gagah perkasa dan berwibawa kepada setiap penonton yang melihatnya.
            Topèng Kona sangat erat kaitannya dengan upacara adat Rokat Dhisa, yaitu upacara adat bersih desa yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Blimbing setiap tahun pada tanggal 13, 14, dan 15 Sya’ban. Banyak makna yang terkandung, baik dalam seni pertunjukan Topèng Kona maupun segala hal yang ada pada saat pelaksanaan upacara adat Rokat Dhisa. Makna tersirat yang ada pada semua pelaksanaan upacara adat dan gerakan yang ada pada tari Topèng Kona seolah mengajak masyarakat Desa Blimbing untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan YME dan meneladani kebijaksanaan Juk Sèng.
            Era globalisasi dan modernisasi yang serba teknologi menyebabkan banyak seni modern bermunculan dan disukai oleh anak muda dan remaja di Tanah Air, hal ini menyebabkan banyak pemerhati seni dan seniman khawatir akan keberlangsungan seni pertunjukan tradisional asli Indonesia, tak terkecuali Topèng Kona. Sebagai kesenian asli Kabupaten Bondowoso, maka seni pertunjukan ini harus dilestarikan dan diperkenalkan ke seluruh Indonesia bahkan dunia, apalagi dengan pesatnya teknologi informasi, sehingga dapat dengan mudah mempromosikan dan memperkenalkan kesenian asli Kabupaten Bondowoso tersebut. Pemerinatah dan pihak terkait telah berupaya agar seni pertunjukan Topèng Kona tidak mengalami kemunduran bahkan kepunahan, terganti oleh seni pertunjukan yang lebih modern. Pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam menjaga kelestarian seni pertunjukan ini antara lain: perkumpulan seni tradisi di Desa Blimbing, masyarakat Desa Blimbing dan masyarakat Bondowoso pada umumnya, serta pemerintah kabupaten dan Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga dan Perhubungan Kabupaten Bondowoso.
            Tahun-tahun kedepan, tantangan akan keberlangsungan kesenian tradisional, seperti Topèng Kona menjadi tantangan yang besar, sehingga memerlukan banyak perhatian dari berbagai pihak pemerhati seni, jika tidak dijaga dengan baik maka tidak menutup kemungkinan kesenian tradisional khas Kabupaten Bondowoso ini akan lenyap seiring majunya teknologi dan kesenian baru yang lebih modern.
            Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran terkait dengan penelitian yang dilakukan adalah.
·      Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan dalam mengadakan penelitian lebih lanjut dan lebih memperdalam tentang sejarah kebudayaan di Indonesia.
·      Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, hendaknya memperhatikan sejarah kebudayaan, khususnya kebudayaan lokal untuk menambah wawasan sebagai penunjang pembelajaran sejarah, khususnya dalam mengembangkan budaya lokal.
·      Bagi masyarakat Kabupaten Bondowoso, diharapkan dapat menjaga dan melestarikan kesenian tradisional sebagai warisan leluhur agar tidak mengalami kepunahan tergantikan oleh kesenian modern
·      Bagi pemerintah Kabupaten Bondowoso, perlunya promosi wisata budaya, pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional sehingga dapat bertahan dan dikenal oleh masyarakat luas, tak hanya di tingkat regional dan nasional, tetapi juga perlu diketahui oleh kalangan internasional. Untuk itu diperlukan adanya pembinaan dan perhatian yang lebih terhadap kesenian tradisional dan juga bantuan dana untuk mengembangkan kesenian tradisional asli Kabupaten Bondowoso tersebut.


DAFTAR RUJUKAN
  Adji, K.B. 2014. Ensiklopedia Babad Bumi Jawa. Jakarta: Araska Publisher
Badan Pusat Statistik Kab. Bondowoso. 2003. Kabupaten Bondowoso dalam Angka Tahun 2003. Bondowoso:  Badan Pusat Statistik Kab. Bondowoso
Badan Pusat Statistik Kab. Bondowoso. 2014. Kecamatan Klabang dalam Angka 2014. Bondowoso:  Badan Pusat Statistik Kab. Bondowoso
[Bhagaskoro, A. 2014. Bentuk Komposisi Musik Pengiring Seni Pertunjukan Ronteg Singo Ulung Di Padepokan Seni Gema Buana Desa Prajekan
 Bouvier, H. 2002. Lèbur! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Gottschalk, L. Tanpa Tahun. Mengerti Sejarah. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia
[Irmawati, R. Berkenalan Dengan Kesenian Tradisional Madura. Surabaya: Penerbit SIG
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

Kristanti, L. D. 2011. “Dinamika Kesenian Singo Ulung di Kabupaten Bondowoso Tahun 1942-2011.” Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember: Universitas Jember

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

  Mashoed. 2004. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya: Papyrus

Sasanadjati, J.D. 2007. “Pertunjukan Singo Ulung Dalam Ritual Selamatan Desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso Jawa Timur.” Tidak Diterbitkan. Tesis. Yogyakarta: Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Septiami, D.D. 2014. “Konsep Estetik Tari Topèng Kona  Bondowoso Jawa Timur.” Tidak Diterbitkan. Skripsi. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia

Sugeng. 1999. “Pertunjukan Singo Ulung dalam Upacara Bersih Desa di Desa Blimbing Kecamatan Klabang Kabupaten Bondowoso.” Tidak Diterbitkan. Skripsi. Surabaya: Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta

World Book Inc. 2008. The World Book Encyclopedia. Chicago: World Book Inc