Cari Blog Ini

Rabu, 04 Mei 2016

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS SOSIAL SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMA MUHAMMADIYAH 1 RAMBIPUJI

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS NILAI-NILAI
MULTIKULTURALISME UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS SOSIAL SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMA MUHAMMADIYAH 1 RAMBIPUJI

M. Iqbal Ibrahim H

Abstrak: Penelitian ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai multikulturalisme melalui pembelajaran sejarah, sehingga siswa mampu meningkatkan rasa solidaritas sosial baik antar individu, antar budaya, agama, dan antar golongan dalam masyarakat. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Tahapnya yaitu perencanaan tindakan , pelaksanaan tindakan, pengamatan terhadap tindakandan refleksi.. Teknik pengumpulan data yaitu: 1) teknik wawancara mendalam ; 2) observasi; 3) tes ; 4) angket ; 5) dokumentasi. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dalam proses pembelajaran sejarah. Nilai tugas pembuatan makalah kelompok, nilai solidaritas siswa dalam kelompok belajar, serta nilai tes siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I, siklus II dan siklus III. Hasil nilai makalah yang diperoleh siswa di siklus I adalah 70, siklus II 80, dan siklus III sebesar 81. Nilai sikap solidaritas siswa dalam kelompok belajar di siklus I adalah 55 %, siklus II 64 % dan siklus III sebesar 74 %. Selanjutnya nilai tuntas penguasaan materi siswa dari tes yang dilakukan pada siklus I adalah 53,3 % , siklus II 66,6 %, dan siklus III sebesar 76,6 %.

    Kata kunci : Multikulturalisme, Solidaritas Sosial

PENDAHULUAN
I           ndonesia jelas adalah sebuah negeri multikultural. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memuat idealitas multikulturalisme di Indonesia. Masyarakat nusantara juga bersifat polietnis yang diutuhkan melalui kebanggaan bersama atas prestasi-prestasi sejarah tertentu. Namun keanekaragaman ini menimbulkan sejumlah permasalahan dimana semakin banyak perselisihan yang terjadi dalam masyarakat seperti hak berbahasa, perwakilan politik, bahkan dalam pendidikan.
            Sejarah mencatat bahwa selama masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah menerapkan politik “keseragaman budaya” (monokulturalisme) yang justru menghancurkan local cultural geniuses masyarakat. Padahal tradisi sosiokultural lokal tersebut merupakan kekayaan kultural yang bukan hanya bagi masyarakatnya, tetapi juga untuk masyarakat yang lain. Politik monokulturalisme ini pada gilirannya mengakibatkan kerentanan dan disintegrasi sosial-budaya lokal. Konflik dan kekerasan yang bernuansa etnis dan agama merebak diberbagai daerah sejak tahun 1996.
Kymlicka (2015) menyatakan bahwa sebuah negara multinasional dan polietnis tidak niscaya tercabik-cabik dari dalam, bahkan kemajemukan itu dapat menjadi dasar bagi kemajuan kemanusiaan, demokrasi dan peradaban, bila dihadapi dengan strategi politis yang tepat. Kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh bangsa Indonesia saat ini, dan masa yang akan datang.
Pada era multikulturalisme sekarang, dimana masyarakat dengan segala unsur-unsurnya dituntut untuk dapat saling tergantung dan menanggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian dan keadilan seperti yang dicita-citakan dalam Pancasila. Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama adalah membangun dan menumbuhkan kembali nilai-nilai solidaritas sosial dalam masyarakat yang multikultural.
            Pandangan dunia multikultural secara substantif sebenarnya tidak terlalu baru di Indonesia. Prinsip Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan bahwa meskipun indonesia adalah multikultural, tetapi tetap terintegrasi dalam keikaan dan kesatuan.
Dikutip dari Azra (dalam Tilaar, 2012 : 11) bahwa pembentukan masyarakat multikultural Indonesia yang sehat harus diupayakan secara sistematis, pragmatis, integrated, dan berkesinambungan, dan bahkan perlu percepatan (akselerasi). Salah satu strategi penting dalam mengakselerasikannya adalah pendidikan multikultural yang diselenggarakan melalui seluruh lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, dan bahkan informal dalam masyarakat yang luas.
            Demi tujuan tersebut, pendidikan masih dianggap sebagai instrumen penting. Sebab pendidikan masih diyakini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter individu-individu yang dididiknya, dan mampu menjadi gauiding light bagi generasi muda penerus bangsa (Ma’arif : 2005).
            Afifi (dalam Ma’arif : 2005) menyatakan bahwa pendidikan diyakini sebagai usaha sadar, terarah, dan disertai dengan pemahaman yang baik untuk menciptakan perubahan-perubahan yang diharapkan pada perilaku individu, dan selanjutnya pada perilaku jamaah atau komunitas dimana individu itu hidup, termasuk internalisasi pluralisme pada peserta didik.
            Gagasan, nilai, konsep dan penerapan multikulturalisme pastilah paling efektif dapat dilakukan melalui pendidikan, atau lebih tegas lagi melalui pendidikan multikultural. Lebih lanjut Durkheim (dalam Maliki, 2010 : 92) mengatakan bahwa pendidikan dipersepsikan sebagai satu kesatuan utuh dari masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan sebagai dasar masyarakat menentukan alokasi dan distribusi sumber-sumber perubahan. Pendidikan juga dipandang sebagai institusi yang berfungsi sebagai “baby-sitting” yang bertugas agar masyarakat tidak ada yang memiliki perilaku menyimpang.
            Maka, tujuan pendidikan Indonesia menurut Pidarta (2009 : 19) ialah membentuk manusia seutuhnya, dalam arti berkembangnya potensi-potensi individu secara berimbang, optimal, dan terintegrasi. Apabila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka tujuan pendidikan multikulturalisme untuk menciptakan rasa solidaritas, perdamaian, dan keadilan dapat terwujud dikalangan generasi muda saat ini.Menurut Sukmadinata (2012: 58-59), ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. Hal itu disebabkan karena pendidikan diarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nila-nilai yang ada dan diharapkan masyarakat. Kedua, pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat. Generasi muda perlu mengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat, memiliki kecakapan-kecakapan untuk berpartisipasi dalam masyarakat, baik sebagai warga maupun karyawan. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung.
Proses pendidikan merupakan bagian dari proses kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan membutuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas, personalia, sistem sosial budaya, politik, keamanan, dan lain-lain
            Namun fenomena-fenomena yang terjadi di dunia pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah menunjukkan keprihatinan dalam masyarakat. Pergaulan bebas dikalangan siswa, ditambah lagi dengan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya, atau bahkan perkelahian yang melibatkan antar siswa maupun antar sekolah justru mencoreng dunia pendidikan Indonesia.
            Seperti halnya yang dikemukakan oleh Martono (2012), bahwa kekerasan atau bullying di sekolah sering dilegitimasi dengan alasan “menegakkan disiplin” dikalangan siswa. Misalnya kekerasan yang dilakukan oleh guru karena siswa tidak mengerjakan PR, ribut di kelas, bolos, serta kekerasan yang dilakukan sesama siswa. Contoh kasus lain yaitu tawuran antar pelajar yang dilatarbelakangi karena siswa merasa menjadi satu golongan membela “teman” atau “membela sekolahnya”. Fenomena ini disebut oleh Durkheim sebagai “kesadaran kolektif” dalam kelompok siswa dimana terjadi konflik antara dua atau tiga siswa dari sekolah atau “gank” yang berbeda, dapat berimbas pada tawuran antarpelajar yang melibatkan puluhan siswa dari sekolah yang berbeda atau kelompok yang berbeda dan bisa berakibat tewasnya beberapa pelajar.
            Melihat fenomena diatas, maka sebagai salah satu lembaga pendidikan, sekolah mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam memberikan pembelajaran dan pemahaman mengenai nilai-nilai multikulturalisme. Dengan demikian, apa yang dikhawatirkan oleh Bourdieu bahwa sekolah sebagai arena terjadinya kekerasan simbolik tidak terjadi.
            Oleh karena itu, baik masyarakat tradisional maupun modern selalu mengandung unsur pendidikan yang berusaha memperkenalkan masyarakat ke arah kebudayaannya, sehingga diharapkan implementasi nilai-nilai multikulturalisme dapat dijalankan dengan baik, khususnya dikalangan pelajar dan generasi muda agar tercipta kerukunan, keadilan, perdamaian dan solidaritas antar budaya yang dapat memperkokoh integritas serta integrasi bangsa. Di negara Indonesia, proses pendidikan pembudayaan itu diselenggarakan dalam bentuk pendidikan formal yang disebut sekolah, dan melalui pendidikan nonformal yang berlangsung di luar sekolah.
            Lebih lanjut, Budiningsih (2008: 18-19) mengemukakan bahwa anak, atau remaja yang tinggal disuatu daerah tertentu akan mempunyai karakteristik yang berbeda dengan remaja di daerah lain. Untuk mengetahui karakteristik anak atau remaja disuatu daerah tertentu, terlebih dahulu harus mengetahui karakteristik budaya masyarakat setempat. Budaya merupakan sauatu kesatuan yang unik dan bukan dari jumlah dari bagian-bagian. Suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, dan sebagainya.
            Berdasarkan hal tersebut, maka implementasi nilai-nilai multikulturalisme disekolah dirasa sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman oleh siswa dalam mengenal budaya satu dengan yang lainnya.
            Guna mengetahui sejauh mana tingkat solidaritas sosial siswa di sekolah, sebagai implementasi nilai-nilai multikulturalisme maka penulis yang berkolaborasi dengan guru berusaha menerapkan sebuah model pembelajaran sosial di kelas melalui belajar bersama (kelompok). Belajar kelompok ini merupakan metode yang memberi harapan yang mana guru studi sosial secara serempak dapat mencapai tujuan akademik dan tujuan sosio-moral.
            Metode diskusi  yang dipilih dalam kelas juga menunjkkan bahwa belajar dapat menjadi alat yang penting untuk mengembangkan prilaku prososial dan mementingkan orang lain, dan menghargai orang lain tanpa melihat latar belakang budayanya.
Menurut Ryan dan Wheeler (dalam Leeming, 1983 : 139) berpendapat bahwa dengan menggunakan kurikulum bebeapa studi sosial menemukan bahwa siswa telah belajar dengan cara kerja sama dan membuat keputusan-keputusan yang lebih kooperatif dan membantu dalam permainan simulasi berikutnya. Pada umumnya metode belajar dengan cara bekerja sama bila dibandingkan dengan kelompok kelompok yang tidak bekerja sama, dapat menghasilkan belajar lebih baik.
Dalam penelitian ini yang mejadi fokus adalah mata pelajaran sejarah yang menurut Kochhar (2008: 475) merupakan mata pelajaran yang dianggap penting untuk dapat melahirkan sebuah perasaan yang kuat tentang sikap intelektual dan integritas bangsa. Pembelajaran sejarah dapat memberikan sebuah inspirasi bagi peserta didik bahwa proses  sosial merupakan kompleksitas permasalahan yang terjadi di masyarakat yang memerlukan pemahaman.
Lebih lanjut, Kochhar (2008: 149) berpendapat bahwa sejarah memberikan dasar dan perspektif untuk topik-topik penting dalam ilmu sosial seperti pendidikan, populasi, perang, perdagangan, pedesaan dan perkotaan, adat/tradisi, perubahan sosial dan sebagainya.  Dengan demikian ilmu sejarah dan ilmu sosial merupakan ilmu yang interdependen. Ini berarti bahwa pembelajaran tentang suatu masyarakat akan kurang lengkap tanpa laporan tentang perkembangannya di masa lampau.
Melalui implementasi nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah, diharapkan mampu meningkatkan solidaritas sosial siswa di SMA Muhammadiah 1 Rambipuji, serta dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang tepat diharapkan minat dan partisipasi belajar siswa lebih baik sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai.
Berdasarkan hal tersebut peneliti bersama dengan guru sejarah ingin mengimplementasikan “pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji”. Adapun tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
1.     Mengetahui kondisi pembelajaran sejarah siswa kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji
2.     Mengetahui dan menganalisis implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-niai multikulturalisme pada siswa kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji.
3.     Mengetahui apakah pembelajaran sejarah berbasis nilai-niai multikulturalisme dapat meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 1 SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji Kabupaten Jember. Kegiatan penelitian ini direncanakan dimulai pada semester ganjil tahun ajaran 2013-2014 dan mengacu pada kompetensi dasar menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal, hindu-buddha, dan islam di indonesia. Melalui kompetensi dasar tersebut peneliti berharap bisa menerapkan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari informan, baik kepala sekolah, wakil kepala kurikulum, maupun dari guru mata pelajaran sejarah di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Sementara itu sumber data lain diperoleh melalui dokumen dan arsip yang terkait dengan penelitian ini.
Teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data secara lengkap dan akurat sehubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu: 1) teknik wawancara mendalam ; 2) observasi atau pengamatan ; 3) tes ; 4) angket ; 5) dokumentasi.
Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Analisis interaktif tersebut terdiri atas empat komponen yang mencakup komponen pengumpulan data dan tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain yang meliputi reduksi data, beberan (display) data, dan penarikan kesimpulan. Teknik analisis interaktif ini digunakan untuk mengungkapkan kelebihan dan kekurangan dalam proses pembelajaran baik dari sisi siswa maupun guru. Hasil analisis akan dijadikan dasar dalam penyusunan perencanaan tindakan
 Peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang berkolaborasi dengan melibatkan guru mata pelajaran sejarah. Seperti yang dikatakan Burns (1999: 13) bahwa proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga tempat bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik.
            Aqib (2008: 19) menyatakan bahwa “Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran”.
            Pengertian lain Penelitian Tindakan Kelas menurut Hamdani dan Hermana (2008 : 43-44) adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut.
Kesimpulannya bahwa penelitian tindakan merupakan proses yang mengevaluasi kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara sistematik serta menggunakan teknik-teknik yang relevan. Secara garis besar juga dapat disimpulkan bahwa tujuan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk mengubah perilaku pengajaran guru, perilaku peserta didik di kelas, peningkatan prosses pembelajaran sehingga dapat menciptakan guru yang profesional dan lulusan yang memiliki daya saing.
Lebih lanjut Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas menurut Aqib (2008: 16) meliputi : 1) Didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam instruksional; 2) Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya; 3) Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi; 4) Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktik instruksional; 5) Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus.
Proses pelaksanaan penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti yang bekolaborasi dengan guru meliputi suatu rangkaian siklus yang berkelanjutan. Setiap langkah (siklus) terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan terhadap tindakan (observing), dan refleksi (reflection).
Perencanaan (planning) disusun sebagai rancangan tindakan mengenai apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan itu dilakukan. Sesuai dengan fokus dalam penelitian ini, maka peneliti dan guru menetapkan secara garis besar perencanaan tindakan di siklus I, siklus II, dan siklus III adalah bagaimana implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme. Peneliti bersama dengan guru telah merancang kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD dan jigsaw.
Pada tahap pelaksanaan tindakan (acting), guru mulai menerapkan pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme menggunakan metode kooperatif tipe STAD di siklus I dan II, serta  Jigsaw di siklus III. Selanjutnya peneliti bersama dengan guru melakukan pengamatan terhadap tindakan (observing) guna mengamati proses pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme.
tahap terakhir peneliti dan guru melakukan refleksi serta diskusi untuk mengetahui hasil dari penerapan  pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme. Sehingga apabila dalam siklus I proses pembelajarannya masih terdapat kelemahan, maka akan dilanjutkan dengan melakukan perbaikan di siklus II dengan mengikuti tahapan-tahapan seperti siklus sebelumnya. Demikian juga dengan siklus III yang disesuaikan langkah-langkahnya seperti siklus II. Setiap akhir siklus dianalisis kelebihan dan kekurangannya dengan teknik analisis interaktif sehingga dapat diketahui hasil penerapan tindakan pada setiap siklusnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian pra tindakan dilakukan guna mengetahui kondisi awal pembelajaran sejarah di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji, khusunya di kelas XI IPS 1. Peneliti memperoleh data dan fakta dari hasil wawancara, observasi langsung di kelas pada saat mata pelajaran sejarah, serta penyebaran angket .
            Pengisian angket dilakukan oleh siswa untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman mereka mengenai nilai-nilai multikulturalisme serta bagaimana sikap solidaritas sosial yang harus diberikan kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi ini, model pembelajaran sejarah yang digunakan masih berpusat pada guru yaitu melalui metode ceramah, sementara siswa hanya menjadi pendengar dan terlihat pasif. Antusiasme siswa pada mata pelajaran sejarah juga masih rendah. Hal ini terlihat pada saat peneliti melakukan observasi langsung di kelas, dimana ketika guru menerangkan terdapat beberapa siswa yang sibuk berbicara sendiri dengan temannya, serta beberapa siswa terlihat bermain Handphone (HP).
Sementara itu, fasilitas dan sumber belajar yang digunakan oleh siswa masih kurang. Sehingga dalam hal ini guru hanya memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan satu buku paket. Dengan demikian siswa menjadi ragu dan takut salah untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Malalui hasil pengamatan, bisa dikatakan tingkat solidaritas sosial siswa masih tergolong rendah. Siswa cenderung acuh terhadap permasalahan yang diberikan oleh guru, serta komunikasi hanya terbatas pada beberapa siswa saja. Selain itu berdasarkan angket yang disebarkan, beberapa siswa juga menanyakan apa yang dimaksud dengan multikulturalisme, sebab istilah tersebut baru mereka dengar. Sedangkan untuk konsep solidaritas sosial yang diharapkan oleh peneliti, siswa masih belum sepenuhnya paham dan belum bisa menerapkan konsep solidaritas sosial yang positif, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Namun secara umum langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran sudah dilaksanakan dengan baik oleh guru. Misalnya saja dalam langkah kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup sudah mencakup semua indikator. Dalam hal ini guru juga aktif memberikan motivasi, penguatan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-idenya yang berupa pendapat dan pertanyaan seputar materi yang disajikan. Dengan demikian guru berharap siswa benar-benar memahami mengenai materi melalui kemampuan analisis dan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh siswanya
Berdasarkan penelitian pra tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dicapailah kesepakatan bahwa pembelajaran sejarah dilakukan di kelas XI IPS 1 sebagai solusi untuk menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dengan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan nilai solidaritas sosial secara tepat, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Peneliti dan guru juga menyepakati kompetensi dasar yang akan dijadikan sebagai materi untuk mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah. . Kompetensi Dasar tersebut antara lain ; (1) Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia; (2) Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Islam terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia; (3) Menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia.
Selain itu, metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dipilih untuk mengetahui kemampuan siswa dalam kerja kelompok, sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan pendapat sesuai dengan hasil kerja yang telah dibuat dalam kelompok asal dan kelompok kecil.
Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, bahwa penelitian ini  menggunakan prosedur CAR (Classroom Action Research) atau penelitian tindakan kelas. Adapun tahap-tahapnya meliputi perencanaan, pelaksanaan atau tindakan, observasi dan refleksi. Berdasarkan langkah-langkah pada pelaksanaan siklus I dapat menjadi acuan untuk melakukan perencanaan pada uji coba di siklus berikutnya. Dengan kata lain, setelah melakukan uji coba tahap pertama, maka dilakukan koreksi oleh guru bersama dengan peneliti untuk menyempurnakan model pada tahap uji coba selanjutnya.
Pada siklus I, kegiatan tahap perencanaan yaitu menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru  meliputi RPP, sintak, serta pembagian materi yang akan diberikan kepada siswa. Sementara itu, dalam komponen evaluasi disusun soal tes untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam memahami materi.
Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan, yaitu pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober  2013 (2 x 45 menit) dan hari selasa 15 Oktober 2013 (1 x 45 menit). Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini meliputi :
1.  Apersepsi (Fase 1 : menyampaikan tujuan dan motivasi kepada siswa terkait pembelajaran yang akan dilakukan).
2.  Eksplorasi (Fase 2 : menyampaikan informasi terkait dengan materi pembelajaran). Fase 3 : mengorganisir kelompok belajar
3.  Elaborasi ( Fase 4 : membimbing kelompok belajar)
4.  Konfirmasi (Fase 5 : Evaluasi dan refleksi hasil diskusi kelompok)
5.  Penutup (Fase VI : penyimpulan, memberikan penghargaan dan penguatan kepada siswa).
Peneliti bersama dengan guru mendiskusikan temuan-temuan yang ada di siklus I ini. Berdasarkan hasil observasi, peneliti memberikan kesimpulan bahwa secara umum langkah langkah yang terdapat dalam sintak sudah terlaksana dengan baik oleh guru. Hanya saja, pada aspek menyampaikan materi kurang begitu detail. Beberapa materi sengaja dilewati untuk mempersingkat waktu. dalam tahapan ini siswa juga belum bisa menyampaikan gagasannya secara penuh. Hasil makalah kelompok juga dinilai sesuai dengan format penilaian yang telah di buat dalam RPP. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka nilai rata-rata untuk lima kelompok belajar adalah 77. Nilai ini sudah cukup bagus, hanya saja perlu dilakukan peningkatan dalam pembuatan makalah oleh siswa.
Penilaian juga dilakukan dengan observasi sikap yang dilakukan oleh peneliti dan berkolaborasi dengan guru, sehingga diharapkan nilai-nilai solidaritas siswa bisa diamati. Skor perolehan untuk observasi sikap solidaritas sosial siswa dalam kelompok belajar yaitu 55 %. Skor ini masih tergolong kurang, sehingga peneliti bersama dengan guru berharap terjadi peningkatan di siklus selanjutnya.
Untuk melihat sejauh mana penguasaan materi oleh siswa, disajikan hasil nilai tes yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti pada tanggal 15 Oktober 2013. Skor rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 53,3 % dan hampir separuh siswa di kelas belum tuntas hasil belajarnya. Masukan dan hasil rekomendasi disusun untuk diuji cobakan pada pelaksanaan tindakan siklus II sehingga diharapkan hasil yang didapat lebih baik dari siklus I.
Pada siklus II, kegiatan tahap perencanaan syang disusun sama dengan siklus sebelumnya, yaitu meiputi menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru  meliputi RPP, sintak, serta pembagian materi yang akan diberikan kepada siswa.
Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan, yaitu pada hari Sabtu tanggal 26 Oktober  2013 (2 x 45 menit) dan hari selasa 29 Oktober 2013 (1 x 45 menit). Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus sebelumnya, yaitu apersepsi, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup.
Beberapa aspek dalam sintak setelah diobservasi dan dinilai oleh peneliti mengalami peningkatan, baik dalam kegiatan apersepsi, eksplorasi, elaborasi, kofirmasi dan penutup. Selain itu beberapa aspek lain dalam prinsip reaksi, sistem sosial, dan sistem pendukung juga mengalami penyempurnaan jika dibandingkan dengan uji coba siklus I. Guru yang melaksanakan kegiatan pembelajaran ini memberikan  komentar kepuasannya karena hambatan yang ditemukan pada siklus I, sebagian sudah berkurang dan diperbaiki.
Hasil penilaian makalah kelompok juga mengalami peningkatan dibanding siklus sebelumnya, yaitu dengan rata-rata skor perolehan 80. Presentase rata-rata sikap solidaritas sosial siswa yang tergabung dalam kelompok adalah sebesar 64% dan mengalami peningkatan yang cukup baik dari siklus sebelumnya. Namun peneliti dan guru berusaha meningkatkan hasil presentase penilaian sikap ini pada siklus berikutnya.
Hasil nilai tes siklus II yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti  tanggal 29 Oktober 2013 mendapatkan skor rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 66,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan materi siswa mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya.
Berdasarkan refleksi dan rekomendasi yang telah didskusikan oleh peneliti dengan guru, maka perencanaan pembelajaran pada siklus III ini tidak mengalami perubahan. Hanya saja perbaikan dilakukan pada pembagian kelompok belajar dan metode yang dilaksanakan dalam diskusi.
Pelaksanaan tindakan siklus III ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan, yaitu pada hari Sabtu tanggal 2 November  2013 (2 x 45 menit) dan hari selasa 5 November 2013 (1 x 45 menit). Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus I dan siklus II sebelumnya, yaitu apersepsi, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup. Perbedaan dengan siklus sebelumnya yaitu pada tahap eksplorasi fase tiga, yaitu mengorganisir kelompok belajar. Peneliti bersama dengan guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Pembagian materi dan  langkah-langkah dalam jigsaw juga telah disusun dengan baik, yaitu terdapat kelompok asal dan kelompok ahli.
Nilai makalah kelompok yang dibuat pada siklus III ini mengalami sedikit peningkatan, yaitu dengan rata-rata nilai 81. Sementara presentase penilaian sikap siswa dalam kelompok belajar adalah sebesar 74%. Hasil ini bisa dikatakan sangat baik dan mengalami peningkatan yang signifikan dibanding dengan siklus sebelumnya.
Sementara itu, hasil nilai tes siklus III yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti  tanggal 5 November 2013 mendapatkan skor rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 76,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan materi siswa dari siklus I sampai siklus III ini mengalami peningkatan.
Secara garis besar, implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme ini bisa dikatakan berhasil. Selama pelaksanan siklus I sampai siklus III, siswa bekerja dan berpartisipasi dalam kelompok-kelompok belajar yang telah di bentuk oleh guru tanpa membedakan dan melihat latar belakang anggota dalam kelompok. Biasanya siswa hanya mau berkelompok dengan teman akrabnya, atau dengan sengaja memilih beberapa teman yang pintar saja. Inilah yang menjadi asumsi peneliti untuk meneapkan nilai-nilai multikulturalisme dalam embelajaran sejarah, sehingga solidaritas yang terjalin bisa lebih luas, tidak hanya di lingkungan kelas dan sekolah, bahkan kalau perlu di lingkungan masyarakat nilai-nilai multikulturalisme tersebut juga dapat diterapkan. Hanya saja pada siklus I dan II perlu dioptimalkan proses pembelajarannya, sehingga siswa juga mendapatkan hasil yang maksimal pada siklus III.

KESIMPULAN
      Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan penelitian dari implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Adapun indikatornya sebagai berikut :
1.  Adanya peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru, mulai dari langkah-langkah dalam sintaks yang dijalankan secara baik, sampai dengan penyempurnaan beberapa indikatornya pada siklus II. Selanjutnya di siklus III, secara garis besar langkah-langkah dan indikator tersebut sudah terlaksana dengan baik. Selain itu, guru juga menyempurnakan model pembelajaran sosial (kooperatif) dimana pada siklus I dan II menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan pada siklus III menggunakan jigsaw. Hasil dari perubahan metode pembelajaran tersebut terlihat baik dan mengalami peningkatan di tiap siklusnya.
2.  Adanya peningkatan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa, baik dari nilai tugas pembuatan makalah kelompok, nilai solidaritas siswa dalam kelompok belajar, serta nilai tes siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I, siklus II dan siklus III. Hasil nilai makalah yang diperoleh siswa di siklus I adalah 70, siklus II 80, dan siklus III sebesar 81. Nilai sikap solidaritas siswa dalam kelompok belajar di siklus I adalah 55 %, siklus II 64 % dan siklus III sebesar 74 %. Selanjutnya nilai tuntas penguasaan materi siswa dari tes yang dilakukan pada siklus I adalah 53,3 % , siklus II 66,6 %, dan siklus III sebesar 76,6 %.
Berdasarkan sajian data diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji berhasil dilaksanakan dengan baik serta mengalami peningkatan yang signifikan dalam tiap siklusnya.

DAFTAR RUJUKAN
Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widya.
Budiningsih, A.C. 2008. Pembelajaran Moral : Berpijak Pada Karakteristik Siswa dan Budayanya. Jakarta : Rineka Cipta.
Burn, Anne. 1999. Collaborative Action Research for English Language Teachers. London : Cambridge University Press.
Hamdani, Nizar Alam dan Hermana, Dody. 2008. Classroom Action Research : Teknik Penulisan dan Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rahayasa Research and Training
Kochhar, S.K. 2008. Teaching Of History: Pembelajaran Sejarah. Jakarta : Grasindo.
Kymlicka, WILL. 2015. Kewargaan Multikultural. Jakarta : LP3ES
Ma’arif, Syamsul. 2005. Pendidikan Pluralisme Di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
Maliki, Zainuddin. 2010. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah: Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus ilmu pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Sukmadinata, N. S. 2012. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Prktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H.A.R. 2012. Penidikan Nasional : Arah Ke Mana. Jakarta: Rineka Cipta.