Cari Blog Ini

Rabu, 04 Mei 2016

PENERAPAN STRATEGI INKUIRI SOSIAL (SOCIAL INQUIRY) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN
HASIL BELAJAR SEJARAH

Nurul Umamah, Sumarno . Dewi Lukitha Sari, 
E-mail: umamahnurul@ymail.com

ABSTRAK: Tujuan penelitian untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah dengan menerapkan strategi inkuiri sosial pada peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul. Penelitian dilaksakanan mulai dari bulan April -Mei 2014. Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul dengan jumlah 39 peserta didik. Indikator yang diteliti adalah kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah peserta didik. Kemampuan berpikir kritis klasikal siklus 1 mencapai 51,28%, siklus 2 meningkat 31,74% menjadi 67,56%, siklus 3 meningkat 11,01% menjadi 75%. Hasil belajar kognitif siklus 1 memperoleh persentase sebesar 74,36%, siklus 2 meningkat 6,90% menjadi 79,49%, siklus 3 meningkat 6,45% menjadi 84,61%. Hasil belajar psikomotorik siklus 1 sebesar 53,66%, siklus 2 meningkat 20,14% menjadi 64,47% dan siklus 3 meningkat 17,47% menjadi 75,73%.  Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi inkuiri sosial dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul.

      Kata Kunci: Strategi Inkuiri Sosial, Berpikir Kritis Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan peserta didik. Melalui kurikulum sekolah, peserta didik dituntun kepada tujuan pembelajaran yang telah disusun. Kurikulum 2013 bertujuan menghasilkan insan Indonesia yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. Kurikulum 2013 ditekankan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik. Pada hakikatnya kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Mulyasa, 2013: 66).
Beberapa permasalahan sering dihadapi dalam pembelajaran sejarah. Pada umumnya pembelajaran sejarah terkesan tidak penting dan tidak menyenangkan. Persepsi tentang mata pelajaran sejarah merupakan pelajaran menghafal tanggal-tanggal kejadian atau tokoh-tokoh dalam sejarah bahkan sering dianggap membosankan. Pelajaran sejarah disekolah merupakan pelajaran mengulang hal-hal yang sama dari tingkat SD sampai SMA. Pengulangan materi yang sama  membuat peserta didik bosan untuk menerima penjelasan dari pendidik yang pada umumnya sama.
Pendidik harus berupaya agar peserta didik berkeinginan untuk belajar, bukan menuntut peserta didik untuk belajar sejarah tetapi belajar dari sejarah. Salah satu guna sejarah ialah sebagai pendidikan moral (Kuntowijoyo, 2013: 20). Salah satu upaya dalam mencapai makna dari pembelajaran sejarah yaitu dengan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kemampuan berpikir kritis dapat mengarahkan peserta didik memaknai pentingnya sejarah dan merekonstruksi peristiwa-peristiwa sejarah yang telah terjadi. Kemampuan berpikir kritis akan muncul pada diri peserta didik apabila dalam pembelajaran, pendidik mengarahkan, menekankan dan memfasilitasi pada pembentukan pengetahuan secara aktif oleh peserta didik. Rendahnya kemampuan berpikir kritis menyebabkan tidak maksimalnya pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi kelas dalam pembelajaran menjadi tidak aktif. Strategi dan metode apapun yang dipakai akan menyebabkan pembelajaran tidak bermakna.
Kurangnya kemampuan dalam berpikir kritis merupakan permasalahan yang terjadi pada kelas X IPA 3. Hasil observasi dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2014 dengan mengikuti pelajaran di kelas X IPA 3, didapatkan fakta bahwa hampir seluruh peserta didik di kelas X IPA 3 belum menunjukkan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut dapat dilihat dari tindakan peserta didik yang menggunakan fasilitas internet untuk mencari jawaban. Peserta didik juga hanya mengandalkan LKS sebagai sumber belajar.
Permasalahan yang dihadapi oleh kelas X IPA 3 akan dipecahkan dengan menerapkan strategi pembelajaran inkuiri sosial. Strategi pembelajaran inkuiri sosial merupakan pembelajaran yang diadopsi dari inkuiri yang banyak diterapkan dalam ilmu-ilmu alam karena akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan akan mudah diterapkan dalam kehidupan. Inkuiri sosial diadopsi guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Inkuiri sosial merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Student Centered Learning). Sanjaya (2011: 206) menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri sosial mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk melatih peserta didik agar hidup mandiri dalam masyarakat. Pembelajaran inkuiri menurut Beyer (1979: vii) dapat menyelesaikan tujuan pokok ilmu sosial, terutama tujuan berpikir kritis dan analisis. Demikian pula menurut Kandarp (2013: 23) menjelaskan bahwa inkuiri sosial adalah pembelajaran pengembangan pemecahan masalah  terutama melalui penyelidikan akademik terhadap masalah sosial dan logis penalaran.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penerapan Srategi Inkuiri Sosial (Social Inquiry)  Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul.
            Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.  Apakah penerapan strategi inkuiri sosial dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul ?
2.  Apakah penerapan strategi Inkuiri Sosial dalam pembelajaran sejarah dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul?

Tujuan penelitian ini adalah:
            Tujuan dilakukannya penelitian ini sebagai berikut:
1.  Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada pelajaran sejarah melalui penerapan strategi inkuiri sosial pada peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul.
2.  Untuk meningkatkan hasil belajar sejarah melalui penerapan strategi inkuiri sosial pada peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul .

Manfaat penelitian ini adalah:
                        Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberi beberapa manfaat sebagai berikut:
1.  Bagi pendidik/ calon pendidik: dapat dijadikan acuan dalam proses meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah.
2.  Bagi peserta didik: dapat melatih diri untuk belajar mandiri dan lebih termotivasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah
3.  Peneliti lain: sebagai masukan dan tambahan wawasan untuk melakukan penelitian yang sejenis sekaligus pengembangannya.
4.  Bagi lembaga pendidikan yang bersangkutan: sebagai referensi dalam kegiatan penelitian dan sumbangan pemikiran untuk peningkatan mutu pendidikan terutama dalm pembelajaran sejarah.

METODE PENELITIAN
               Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X IPA 3 SMA Negeri 2 Tanggul. Jumlah peserta didik sebanyak 39, terdiri dari 26 peserta didik perempuan dan 13 peserta didik laki-laki. Peneliti memilih kelas X IPA 3 berdasarkan observasi yang telah dilakukan. Hasil observasi menunjukkan peserta didik kurang dapat berpikir kritis dan hasil belajar masih ada yang belum tuntas.
Penelitian ini meggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif merupakan suatu penelitian berprosedur yang menghasilkan  data deskriptif ketika pelaksanaan di lapangan. Hasil dari pendekatan kualitatif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati pada saat pelaksanaan siklus dengan menggunakan strategi inkuiri sosial. Pendekatan kuantitatif merupakan kegiatan pengumpulan data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Kemmis & Taggart. Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu penyelidikan atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti atau praktisi (guru) untuk memperbaikipembelajaran di kelas dengan mengadakan perbaikan dan mempelajari akibat yang ditimbulkannya (Sunardi, 2011: 4).
Kemampuan berpikir kritis peserta didik yang diukur melalui penilaian proses dengan indikator klarifikasi (memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen,bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan) dan strategi & taktik (menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain). Ketuntasan hasil belajar dalam penelitian ini disesuaikan dengan standar ketuntasan dari sekolah bersangkutan, yaitu > 75 dari skor 100. Penilaian pada aspek psikomotor diukur melalui indikator berpikir kritis produk dukungan dasar (menilai kredibilitas sumber dan, mengamati dan menilai laporan observasi), kesimpulan (menyimpulkan dan menilai hasil kesimpulan, menginduksi dan menilai hasil induksi, membuat dan menilai pertimbangan), klarifikasi (mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi, mengidentifikasi asumsi). Peningkatan berpikir kritis dan hasil belajar dapat diketahui dengan cara membandingkan kondisi setelah tindakan dengan kondisi awal setiap siklus dengan menggunakan rumus peningkatan sebagai berikut:




Y1-Y x 100%
                                Y
Keterangan:Y1 = kondisi setelah tindakan
                                                            Y   = kondisi awal (Sudijono, 2009:43)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Peningkatan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul dengan Penerapan Strategi Inkuiri Sosial dalam Pembelajaran Sejarah
 Hasil analisis persentase kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam belajar sejarah dengan menggunakan strategi inkuiri sosial secara klasikal pada siklus 1 mencapai 51,28%, pada siklus 2 meningkat 31,75% menjadi 67,56%, pada siklus 3 meningkat 11,01% menjadi 75%. Persentase kemampuan berpikir kritis pada aspek memfokuskan pertanyaan siklus 1 sebesar 49,36%, pada siklus 2 meningkat 37,24% menjadi 67,74%, pada siklus 3 meningkat 7,88% menjadi 73,08%. Persentase kemampuan berpikir kritis pada aspek menganalisis argumen siklus 1 sebesar 52,56%, ada siklus 2 meningkat 30,49% menjadi 68,59%, pada siklus 3 meningkat 11,17% menjadi 76,28%. Persentase kemampuan berpikir kritis pada aspek bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan  siklus 1 sebesar 51,52%, pada siklus 2 meningkat 43,26% menjadi 67,95%, pada siklus 3 meningkat 10,38% menjadi 75%. Persentase kemampuan berpikir kritis pada aspek menentukan tindakan  siklus 1 sebesar 51,92%, pada siklus 2 meningkat 28,41% menjadi 66,67%, pada siklus 3 meningkat 10,56% menjadi 73,71%. Persentase kemampuan berpikir kritis pada aspek berinteraksi dengan orang lain siklus 1 sebesar 55,13%, pada siklus 2 meningkat 26,75% menjadi 69,87%, pada siklus 3 meningkat 10,09% menjadi 76,92%. Hasil analisis data kemampuan berpikir kritis peserta didik disajikan dalam diagram berikut:
Gambar 1 Kemampuan Berpikir Kritis Siklus 1, 2 dan 3
Keterangan:
a= memfokuskan pertanyaan
b= menganalisis argumen
c= bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu             penjelasan
d= menentukan tindakan
e= berinteraksi dengan orang lain
            Berdasarkan observasi siklus 1, 2 dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi inkuiri sosial dapat meningkatkan proses kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul.
Kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul meningkat setelah dilakukannya pembelajaran dengan penerapan strategi inkuiri sosial pada siklus 1, 2 dan 3. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wilkins (Sanjaya, 2011:205) bahwa dalam menjalani kehidupan di masayarakat peserta didik perlu dibimbing dalam berpikir kritis, strategi yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis tersebut yaitu dengan menggunakan strategi inkuiri sosial dalam pembelajaran IPS.

B.    Peningkatan Hasil Belajar Sejarah Peserta Didik Kelas X IPA 3 dengan Penerapan Strategi Inkuir Sosial
Hasil belajar yang dianalisis dalam penelitian ini adalah aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Hasil analisis persentase hasil belajar aspek kognitif peserta didik dalam pembelajaran sejarah dengan menggunakan strategi inkuiri sosial dengan membandingkan ketuntasan klasikalpada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 yang disajikan dalam diagram dibawah ini:
Gambar 2. Peningkatan hasil belajar aspek kognitif
Hasil analisis data hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif mengalami peningkatan berdasarkan hasil tes yang dilakukan oleh peserta didik pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3. Aspek kognitif pada siklus 1 menunjukkan rata-rata klasikal sebesar 75,28 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 74,36%, pada siklus 2 menunjukkan rata-rata klasikal sebesar 79,46 dan persentase ketuntasan klasikal sebesar 79,49% sehingga mengalami peningkatan sebesar 6,90%. Pada siklus 3 rata-rata klasikal sebesar 85,51 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 84,61% sehingga mengalami peningkatan sebesar 6,45%.
Hasil analisis data keterampilan berpikir kritis secara klasikal pada siklus 1, 2 dan 3 mengalami peningkatan pada setiap aspek psikomotorik. Hasil analisis tersebut berdasarkan hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Peningkatan aspek psikomotorik disajikan pada diagram berikut:
Gambar 3 Peningkatan aspek psikomotorik siklus 1, 2 & 3
Keterangan berpikir kritis:
a    = menilai kredibilitas sumber
b    = mengamati dan menilai laporan observasi
c    = menarik kesimpulan dan menilai deduksi
d    = menginduksi dan menilai hasil induksi
e    = membuat dan menilai pertimbangan
f     = mendefinisikan istilah dan menilai definisi
g    = mengidentifikasi asumsi

Berdasarkan gambar 2 dapat diketahui bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik mengalami peningkatan dari siklus 1, 2 dan 3. Berpikir kritis peserta didik pada indikator dukungan dasar dengan aspek menilai kredibilitas sumber pada siklus 1 sebesar 55,77%, pada siklus 2 meningkat 19,54% sehingga menjadi 66,67% sedangkan pada siklus 3 meningkat 16,33% menjadi 77,56%. Persentase berpikir kritis pada indikator dukungan dasar dengan aspek mengamati dan menilai laporan observasi siklus 1 sebesar 55,13%, pada siklus 2 meningkat 18,60% menjadi 65,38% sedangkan pada siklus 3 meningkat 19,60% menjadi 78,20%. Persentase berpikir kritis peserta didik pada indikator menyimpulkan dengan aspek menarik kesimpulan dan menilai deduksi pada siklus 1 sebesar 54,48%, pada siklus 2 meningkat 24,72% menjadi 67,95% pada siklus 3 meningkat sebesar 16,04% menjadi 78,85%. Persentase berpikir kritis peserta didik pada indikator menyimpulkan dengan menginduksi dan menilai hasil induksi  pada siklus 1 sebesar 51,28%, pada siklus 2 meningkat 31,26%  menjadi 67,31% pada siklus 3 meningkat sebesar 13,32% menjadi 76,28%. Persentase berpikir kritis peserta didik pada indikator menyimpulkan dengan aspek membuat dan menilai pertimbangan pada siklus 1 sebesar 53,20%, pada siklus 2 meningkat 20,49%  menjadi 64,10% pada siklus 3 meningkat sebesar 23,01% menjadi 78,85%. Persentase berpikir kritis peserta didik pada indikator klarifikasi dengan mendefinisikan istilah dan menilai definisi pada siklus 1 sebesar 55,13%, pada siklus 2 meningkat 12,79% menjadi 62,18% pada siklus 3 meningkat sebesar 16,48% menjadi 72,43%. Persentase berpikir kritis peserta didik pada indikator klarifikasi dengan aspek mengidentifikasi asumsi pada siklus 1 sebesar 50,64%, pada siklus 2 meningkat 13,92%  menjadi 57,69% pada siklus 3 meningkat sebesar 17,78% menjadi 67,95%
Berdasarkan hasil observasi pada pelaksanaan siklus 1, 2 dan 3 dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi inkuiri sosial dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X IPA 3 di SMAN 2 Tanggul.
Hasil persentase dari analisis data hasil belajar sejarah dengan menggunakan strategi inkuiri sosial pada aspek kognitif dan psikomotorik siklus 1, 2 dan 3 disajikan pada diagram berikut:
Berdasarkan gambar 4 dapat diketahui bahwa hasil belajar sejarah peserta didik pada siklus 1, siklus 2 dan siklus 3 mengalami peningkatan. Hasil belajar kognitif pada siklus 1 sebesar 74,36%, pada siklus 2 meningkat sebesar 6,90% menjadi 79,49%, pada siklus 3 meningkat sebesar 6,45% menjadi 84,61%. Sedangkan hasil belajar pada aspek psikomotorik pada siklus 1 sebesar 53,66%, pada siklus 2 meningkat sebesar 10,81% menjadi 64,47%, pada siklus 3 meningkat 11,26% menjadi 75,73%.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Berdasarkan penelitian tentang penerapan strategi inkuiri sosial (social inquiry) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul dapat disimpulkan sebagai berikut:
·       Penerapan strategi inkuiri sosial dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul. Kemampuan berpikir kritis peserta didik diukur melalui penilaian proses dengan indikator klarifikasi (memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, dan bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan) dan indikator strategi dan taktik (menentukan tindakan dan berinteraksi dengan orang lain). Pada siklus 1 persentase kemampuan berpikir kritis peserta didik secara klasikal 51,28% dengan kategori kurang kritis. Pada siklus 2 kemampuan berpikir kritis peserta didik secara klasikal 67,56% dengan kategori cukup kritis. Pada siklus 3 kemampuan berpikir kritis peserta didik secara klasikal 75% dengan kategori kritis. Peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 31,17% dan peningkatan kemampuan berpikir kritis peserta didik dari siklus 2 ke siklus 3 sebesar 17,66%.
·       Penerapan strategi inkuiri sosial dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul. Peningkatan hasil belajar sejarah dengan menerapkan strategi inkuiri sosial siklus 1 pada aspek kognitif memperoleh rata-rata klasikal sebesar 75,28 dengan persentase ketuntasan kalsiakal sebesar 74,36 %. Pada siklus 2 memperoleh rata-rata klasikal sebesar 79,46 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 79,49% sehingga mengalami peningkatan sebesar 6,90% dan pada siklus 3 memperoleh rata-rata klasikal sebesar 85,51 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 84,61 % sehingga mengalami peningkatan sebesar 6,45%. Peningkatan pada aspek psikomotorik diukur melalui indikator (1) dukungan dasar (menilai kredibilitas sumber dan mengamati dan menilai laporan observasi); (2) Kesimpulan (menyimpulkan dan menilai hasil kesimpulan, menginduksi dan menilai induksi, membuat dan menilai pertimbangan); (3) Klarifikasi (mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan definisi, mengidentifikasi asumsi). Siklus 1 pada aspek psikomotorik memperoleh persentase sebesar 53,66%, pada siklus 2 memperoleh persentase  64,47% sehingga mengalami peningakatan sebesar 20,14% dan pada siklus 3 memperoleh persentase 75,73% sehingga mengalami peningkatan sebesar  17,47%.
     Hasil penelitian dengan menerapkan strategi inkuiri sosial  untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IPA 3 SMAN 2 Tanggul, maka peneliti memberika saran dan masukan kepada guru sejarah untuk menggunakan strategi inkuiri sosial untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis sehingga mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Bagi peneliti lain, agar dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan srategi inkuiri sosial yang disesuaikan dengan materi dan waktu yang cukup. Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini merupakan sebuah masukan yang dapat berguna dan digunakan sebagai umpan balik bagi kebijaksanaan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan kegiatan pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN

 Kochhar, S.K. 2008. Teaching Of History: Pembelajaran Sejarah. Jakarta : Grasindo.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Mulyasa, H. E. 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, W. 2011. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

Sudijono, anas. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada

Sunardi. 2011. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jember: Universitas Jember


Tilaar, H.A.R. 2012. Penidikan Nasional : Arah Ke Mana. Jakarta: Rineka Cipta.