Cari Blog Ini

Rabu, 04 Mei 2016

STUDI KASUS DI IKIP PGRI JEMBER TENTANG MAHASISWA MULTI ETNIS TERHADAP BAHASA INDONESIA BAKU

STUDI KASUS  DI IKIP PGRI  JEMBER  TENTANG  MAHASISWA  MULTI  ETNIS TERHADAP BAHASA INDONESIA BAKU

                                                Akhmad  Dzukaul  Fuad

Abstrak: sikap para mahasiswa dan dosen  yang terdiri dari bermacam-macam suku. Ada suku Jawa dan  suku Madura terhadap pelestarian dan pembinaan bahasa Indonesia baku bermacam-macam. Bila menganggapi tentang pentingnya pelestarian bahasa Indonesia baku, sebagian besar dari mereka cenderung idealis. Mereka mengatakan bahwa pelestarian bahasa Indonesia baku itu perlu dilakukan, melihat posisi bahasa Indonesia baku yang sangat strategis dalam usaha mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Sisi lain, bila dikaitkan dengan sikap para dosen dan mahasiswa terhadap pembinaan bahassa Indonesia baku, mengecewakan. Para dosen dan mahasiswa kurang mempraktikkan penggunaan bahasa Indonesia baku di sekolah dengan baik. Mereka banyak melakukan kesalahan, baik yang berhubungan dengan kosa kata maupun struktur kalimat. Tapi dengan melihat keinginan mereka untuk selalu diingatkan bila membuat kesalahan dalam berbahasa Indonesia baku, merupakan langkah maju untuk melakukan pembinaan di kalangan peserta didik dan dosen.

Kata Kunci:  Bahasa Baku, Multi Etnis

PENDAHULUAN
Ragam bahasa baku digunakan dalam situasi sebagai berikut : 1) komunikasi resmi; 2) wacana teknis; 3) pembicaraan di depan umum; dan 4) pembicaraan dengan orang yang dihormati (Kridalaksana, 1976). Dengan demikian, kegiatan komunikasi yang menuntut menggunakan bahasa Indonesia baku, diantaranya : berpidato, membuat surat dinas, menulis karya ilmiah, dan kegiatan proses belajar mengajar.
Selama kegatan belajar mengajar sedang berlangsung, dosen dan mahasiswa wajib menggunakan bahasa Indonesia baku. Misalnya, ketika dosen menyampaikan materi di depan kelas; para mahasiswa sedang berdiskusi dengan sesamanya, atau dengan dosennya; harus menggunakan bahasa Indonesia baku. Mereka tidak boleh menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia yang bercampur bahasa daerah.
Dalam usaha untuk memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia baku di kalangan mahasiswa, tentunya posisi dosen sangat strategis. Dosen merupakan sosok yang dihormati mahasiswa. Sikap dosen terhadap penggunaan bahasa Indonesia baku akan berpengaruh terhadap pengajaran bahasa Indonesia baku di sekolah. Bila dosen selalu konsisten, menggunakan bahasa Indonesia baku ketika sedang mengajar, maka para mahasiswa cenderung akan bersikap yang sama. Dosen merupakan figur yang sering dijadikan model atau contoh pasa mahasiswanya. Dosen mempunyai tanggung jawab moral untuk memasyarakatkan bahasa Indonesia baku di kalangan peserta didik.
Keberhasilan dosen dalam menumbuhkan rasa cinta bahasa Indonesia baku di kalangan peserta didik, tentunya akan berpengaruh terhadap eksistensi bahasa Indonesia baku di masyarakat, pemimpin maupun rakyat biasa. Mereka diharapkan mampu menjadi contoh masyarakat sekitarnya dalam menggunakan bahasa Indonesia baku secara tepat. Sehingga bahasa Indonesia baku akan mendapat penghargaan yang layak dari masyarakat Indonesia; bukan sesuatu yang dianggap ekslusif, yang tidak luwes dan perlu dijauhi. Bila sedang berpidato, mereka akan dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia baku. Demikian juga ketika sedang menulis surat resmi, yang berkaitan dengan tugas-tugasnya sebagai pemimpin.
Selain itu, bahasa Indonesia baku berperan sebagai pemersatu bangsa indoneia yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Dengan menggunakan bahasa Indonesia baku, dalam melakukan komunikasi antar suku, tidak ada unsur bahasa daerah yang ditonjolkan. Tidak ada yang merasa lebih unggul atau lebih tinggi. Semua merasa satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang bangga menggunakan bahasa Indonesia; dalam hal ini bahasa Indonesia baku.
Penggunaan bahasa Indonesia baku dengan baik, tidak akan menimbulkan  kesalahpahaman bagi seseorang dalam berkomunikasi. Setiap warga Indonesia dalam berbahasa Indonesia baku, terikat dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama, yang penyusunannya diserahkan kepada pakar bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, merupakan sebagian dari buku yang dapat digunakan rujukan dalam belajar bahasa Indonesia baku. Sekarang ini banyak orang yang memanfaatkan kamus standar ini bila menemukan kosa kata yang diragukan kebakuannya. Cara praktis seperti itu merupakan salah satu usaha belajar bahasa Indonesia baku sekaligus menjaga kemurnian bahasa Indonesia baku.
Selama ini ada kecenderungan bahwa dosen dan mahasiswa dalam kegiatan belajar-mengajar tidak menggunakan bahasa baku secara baik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kesalahan yang mereka lakukan ketika menggunakan bahasa Indonesia baku. Banyak kosa kata yang tidak baku yang denga seenaknya dimasukkan dalam bahasa Indonesia baku. Struktur kalimat yang disusunpun bayak yang salah, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.
Para mahasiswa dan dosen IKIP PGRI  Jember, yang digunakan sebagai sampel penelitian ini terdiri dari bemacam-macam suku. Ada  suku Jawa dan   suku Madura. Dalam melakukan komunikasi sehari-hari, di sekolah, mereka menggunakan bahasa Indonesia. Meskipu kegiatan belajar mengajar termasuk suasana resmi yang menuntut menggunakan bahasa Indonesia baku, tapi kenyatannya banyak kat-kata yang tidak baku, atau struktur kalimat yang tidak baku, bermunculan dalam komunikasi yang mereka lakukan. Masih terdengar kalimat dari mulut mereka, baik yang dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa. Kata-kata yang tidak baku misalnya resiko, kwalitas, kwitansi, sintesa, pebruari, nopember, cabe, apotik, kuwajiban, lobang, terperdaya, silahkan, sorga, hakekat, dan praktek. Yang mereka lakukan terjadi juga pada struktur kalimat, contohnya waktu dan tempat kami persilahkan, terimakasih atas perhatiannya, para saudara sekalian dipersilahkan masuk, harap menjadi makum adanya, hati-hati banyak anak-anak dan lain-lain.
Kesalahan dalam berbahasa Indonesia di kalangan dosen dan mahasiswa  sudah mendarah daging dan kondisi sangat memprihatinkan. Mereka terlalu sering menggunakan kata-kata tidak baku dan struktur kalimat. Dalam suasana resmi,  seharusnya  mereka menggunakan bahasa Indonesia baku. Karena terlalu sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia baku, mengakibatkan mereka tidak sadar bahwa apa yang telah dilakukun itu mengandung kesalahan yang sebenarnya bisa diperbaiki.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka penelitian ini menekankan pada pokok-pokok permasalahan sebagai berikut: 1) gambaran singkat bahasa ibu yang digunakan mahasiswa dan dosen; 2) tanggapan mahasiswa dan dosen terhadap pelestarian bahasa Indonesia baku; 3) sikap mahasiswa dan dosen terhadap penggunaan bahasa baku di sekolah; 4) tanggapan mahasiswa dan dosen terhadap teguran bagi mereka yang tidak menggunakan bahasa Indonesia baku; dan 5) tanggapan mahasiswa dan dosen terhadap pembinaan bahasa Indonesia baku di sekolah.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, ingin mendapat gambaran tentang sikap mahasiswa dan dosen terhadap pengguaan bahasa Indonesia baku. Sehingga nantinya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pembinaan bahasa indoensia baku di sekolah.


METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang berusaha menggambarkan keadaan bahasa Indonesia baku di lapangan. Mahasiswa dan dosen yang menjadi objek pengamatan dijadikan sebagai informan penelitian, yang mempuyai pendapat, sikap dan cita-cita yang merupakan realitas sehari-hari yang ada di masyarakat (Moelong, 1999). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipasi dan wawancara mendalam dengan informan (Dyson, 1995). Data dianalisis dengan metode deskriptif analitis, yaitu menggambarkan secara obyektif data tau temuan-temuan yang ada di lapangan. Dari analisis data akan dapat diketahui gambaran secara komprehensif dan objektif mengenai sikap mahasiswa dan dosen dari berbagai etnis  terhadap penggunaan bahasa Indonesia baku.


HASIL  PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Singkat Bahasa Ibu yang Digunakan Mahasiswa dan Dosen dari Berbagai Etnis
Di atas sudah diuraikan bahwa subyek dalam penelitian ini terdiri dari bermacam-macam suku. Ada suku Jawa dan Madura. Mayoritas subyek penelitian menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu atau bahasa komunikasi sehari-hari di rumah. Atau bila berhubungan dengan masyarakat sekitarnya, yang mungkin berbeda suku. Bila mereka melakukan komunikasi dalam lingkungan keluarganya, yang sukunya sama, kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan kosa kata daerah yang dikuasainya. Penggunaan bahasa semacam itu dirasakan lebih akrab. Sebaliknya, bila mereka berkomunikasi dengan warga yang sukunya berbeda, mereka akan berusaha menghindari penggunaan kosa kata bahasa daerah pada waktu berbahasa Indonesia. Kecuali kosa kata bahasa daerah yang selama ini sudah dianggap populer, yang sudah diapahami oleh mayoritas suku yang ada Jember  ini. Seperti kata-kata: Been  “anda”, Sengkok/Engkok= saya. Kalau dari bahasa Jawa misalnya sampeyan (kamu).
Masyarakat  secara umum, mahasiswa dan dosen  yang berasal dari  Jawa  tampak dalam penggunaan bahasa keseharian didominasi bahasa Jawa, aspek kultural yang terkait dengan  etika atau ”ungguh-ungguh”, yang menempatkan strattum dalam komunikasi tetap dijalankan. Sebagi contoh untuk menyatakan kamu pada orang yang lebih tua dalam keseharian masih menggunakan ”panjenengan”, sehingga kultur Jawa masih doniman dalam penggunaan komunikasi tersebut. Hal ini dapat kita pahami karena pada dasarnya  kebudayaan daerah asal yang telah berurat-akar  yang diwariskan dari generasi ke generasi sangat  sulit dihilangkan, perlu proses panjang atau bertahap (Santoso, 1983).
Sebagian informan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu, tapi, jumlahnya tidak banyak (tidak sampai lima persen). Mereka yag termasuk dalam kelompok ini berasal dari daerah perkebunan , yang penduduknya mayoritas suku tertentu, misalnya suku Madura, yang tempatnya jauh dari ibu kota Kecamatan. Seiring dengan perkembangan jaman, pemakaian bahasa daerah sebagai bahasa ibu, terus berkurang.  Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa baru di kalangan merekapun terus bertambah.
Meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, kenyataannya, para mahasiswa dan dosen, setelah mengikuti proses pembelajaran, bahasa Indonesia baku yang mereka pergunakan dalam komunikasi tidak lebih baik, bila dibandingkan dengan mereka yang menggunakan bahasa ibu bahasa daerah. Mereka sepertinya tidak membedakan antara suasana resmi dan tidak resmi. Sehingga bahasa Indonesia yang mereka pergunakan adalah  bahasa Indonesia yang tidak baku.
Bahasa Indonesia yang mereka pergunakan dalam komunkasi sehari-hari, tidak terlalu terikat oleh norma-norma atau kaidah-kaidah seperti yang ada dalam bahasa Indonesia baku. Mereka bebas melakukan modifikasi, memasukkan kosa kata bhasa daerah sesuai dengan keinginannya. Yang penting, bahasa Indonesia itu tetap komunikatif, bisa digunakan dalam suasana akrab.
Sikap terbiasa bebas dalam berbahasa Indonesia ini, masih terbawa arus ketika mereka sedang menggunakan bahasa Indonesia baku, tidak mau terikat dengan aturan-aturan yang ada, yang memaksa mereka untuk belajar tentang kosa kata baku, struktur kalimat yang baku, dan lain-lain. Seumpama melakukan kesalahan dalam beerbahasa Indonesia baku danggap sesuatu yang wajar, gengsi mereka atau intelektual tidak akan jatuh. Bahkan bisa digunakan sebagai bahan melawak.
Bahasa Madura  merupakan bahasa daerah yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia tidak baku yang dipakai subjek penelitian. Banyak kosa kata dari bahasa Madura yang bermunculan, mewarnai pembicaraan yang mereka lakukan. Hal ini bisa terjadi karena penyebaran suku Madura di  Jember sangat merata. Jumlah suku Madura  memang termasuk paling banyak, 40 persen dari jumlah keseluruhan suku yang ada di  Jember. Maka jangan heran, di Jember, daerah tempat tinggal subjek penelitian, banyak anak kecil meskipun bukan dari suku Madura , tapi dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan dialek Madura. Budaya Madura mewarnai kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam acara resepsi perkawinan, selamatan, dan lain-lain.
Di Kawasan Jember  jika dipetakan maka akan tampak  perbedaan antar kawasan di jember Utara, lebih dominan suku Madura yakni sekitar 70%,  di Jember Kawasan  Timur  antara Jawa dan madura  sekitar  40 % Madura, 45 % Jawa dan 5 % lain-lain. Di Jember kawasan  Selatan di dominasi Suku Jawa lebih  70 % .  Di Jember kawasan Barat   Suku Jawa lebih dominan, berikut suku Madura  dll. ( Sutarto, 2006)



Tanggapan Mahasiswa dan Dosen dari Muliti Etnis terhadap Pelestarian Bahasa Indonesia Baku.
Bila diminta tangggapan atas pentingnya pelerstarian bahasa Indonesia baku, yang terdiri dari bermacam-macam suku. Suku Jawa dan Madura,  maka jawaban yang disampaikan para dosen  maupun para mahasiswa umumnya sama, sebagian besar mengatakan  bahwa usaha pelestarian bahasa Indonesia baku harus dilakukan secepatnya dan melibatkan semua komponen masyarakat. Mereka sadar bahasa Indonesia baku merupakan alat pemersatu bangsa. Dengan menggunakan bahasa Indonesia baku, akan menimbulkan rasa kebersamaan di antara sesama bangsa Indonesia yang memang terdiri dari bermacam.macam suku bangsa.
Langkah-langkah untuk melestarikan bahasa Indonesia baku, menurut para mahasiswa dan dosen, bervareasi. Ada yang mengatakan penggunaan bahasa Indonesia baku, di sekolah harus diawasi. Setiap ada mahasiswa yang salah dalam memakai bahasa Indonesia baku, para dosen harus meluruskan dan meningkatkan, sekaligus memberi pembinaan. Selain itu, subjek penelitian juga mengatakan bahwa dosen merupakan model yang paling tepat. Sebagai konsekuensinya, dosen dalam setiap kegiatan belajar mengajar harus menggunakan bahasa Indonesia baku, sehingga para mahasiswa bisa langsung belajar secara langsung.
Kegiatan ekstrakurikuler yang terkait dengan usaha pelestarian bahasa Indonesia baku perlu dilakukan secara berskesinambungan. Waktu yang dipergunakan di luar kegiatan bealajar-mengajar, memanfaatkan hari libur, atau menjadikan hari-hari besar nasional sebagai momentum melakukan kegiatan lomba yang terkait dengan usaha pelestarian bahasa Indonesia baku. Misalnya lomba pidato, lomba membuat karya ilmiah, lomba menulis surat, dan lain-lain.
Menurut sebagian subjek penelitian, pembinaan bahasa Indonesia baku akan berhasil dengan baik jika ada koordinasi   antara pihak sekolah, yang bertugas sebagai pembina, dengan orang tua, masyarakat dan tokoh masyarakat atau pemimpin. Banyak tokoh masyarakat atau pemimpin bila sedang berpidato di depan umum, menggunakan bahasa Indonesia tidak baku. Dengan adanya kerja sama yang baik, diharapkan  menjadi contoh bagi masyarakatnya. Secara  berangsur-angsur mereka akan menggunakan bahasa Indonesia baku. Sehingga bahasa Indonesia baku akan semakin memasyarakat dan tidak dianggap asing oleh pemakainya.
Para mahasiswa dan dosen juga sangat setuju ketika dimintai pendapatnya tentang pentingnya memanfaatkan media massa untuk kegiatan penyuluhan bahasa Indonesia baku. Alasannya media massa, baik media cetak maupun media elektronik keberandannya sudah memasyarakat. Masyarakat sudah tidak asing dengan koran, majalah, televisi maupun radio. Dan selama ini iklan maupun berita-berita di media massa mampu membentuk opini di masyarakat.
Untuk masalah biaya penyuluhan bahasa Indonesia baku di media massa yang tentunya sangat tinggi, perlu adanya kerja sama yang baik dengan pihak-pihak yang terkait, yang dianggap mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan bahasa Indonesia baku. Misalnya, mencari sponsor dari perusahaan, atau yayasan nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan. Atau melakukan kerja sama dengan para pemimpin yang berada di birokrasi, yang sesuai dengan kewenangannya, mampu mengalokasikan anggaran khusus untuk kegiatan penyuluhan bahasa Indonesia baku.
Tidak kalah penting adalah  usaha untuk mempengaruhi media cetak atau media elektronik, agar selalu konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia baku. Bahasa Indonesia baku yang dipakai media massa akan dicontoh oleh para pemirsa atau pembacanya. Karena itu, media cetak atau elektronik mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan pembinaan bahasa, karena posisi mereka sangat strategis.

Sikap Mahasiswa dan Dosen Berbagai Etnis terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Baku
Tanggapan para mahasiswa dan dosen yang terdiri dari bermacam-macam suku (suku Jawa dan Madura) sangat bervariasi dan cenderung idealis. Pendapat mereka  terkait dengan masalah usaha untuk melestarikan atau melakukan pembinaan terhadap bahasa Indonesia baku, sangat bagus. Apa yang mereka sampaikan itu masih taraf wacana,  dan belum direalisasikan atau diaplikasikan dalam situasi yang nyata.
Sebaliknya, sikap para dosen maupun para mahasiswa terhadap penggunaan bahasa Indonesia baku, masih mengecewakan. Mayoritas subjek penelitian, ketika menggunakan bahasa Indonesia baku di kelas, masih melakukan kesalahan. Tentunya kadar kesalahan mereka dalam berbahasa Indonesia baku berbeda, ada yang sedikit ada pula yang terlalu fatal. Di bidang kosa kata, baik dosen maupun mahasiswa pada umumnya melakukan kesalahan pada kata-kata yang selama ini di masyarakat sering ditulis secara salah. Misalnya: resiko, kwitansi, apotik, analisa, sintesa, ijin, praktek, kwalitas, sorga, silahkan, sopir, perduli, metoda, kuwajiban, antri, aktifitas, dan faham. Padahal seharusnya ditulis : risiko, kuitansi, apotek, analisis, sintesis, izin, praktik, kualitas, surga, silakan, supir, peduli, metode, kewajiban, antre, aktivitas, dan paham. Struktur kalimat yang selama ini sering ditulis secara salah oleh masyarakat awam, kesalahan serupa dilakukan oleh mahasiswa maupun dosen. Misalnya Terima kasih atas perhatiannya; Waktu dan tempat kami persilahkan; Dirgahayu HUT Proklamasi kemerdekaan RI. Kalimat-kalimat tersebut seharusnya ditulis: Terima ksih atas perhatian Anda; Waktu dan tempat kami sediakan; Dirgahayu Negara Republik Indonesia.
Umumnya kesalahan berbahasa Indonesia baku yang dilakukan subjek penelitian karena ketidaktahuannya dalam mengunakan bahasa Indonesia baku. Mereka malas membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dianggap sebagai pekerjaan yang menjemukan. Apalagi membaca Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, yang memerlukan konsentrasi yang lebih tinggi, sangat kurang diminati oleh mereka, terutama dosen yang bukan dosen bahasa dan sastra Indonesia.
 Masyarakat sendiri cenderung bersikap biasa-biasa saja bila mengetahui ada orang yang  melakukan kesalahan pada waktu berbahasa Indonesia baku. Bahkan ada yang menganggap kesalahan yang dilakukan itu wajar saja. Tidak perlu diperdebatkan atau dikoreksi. Sikap kebanggaan terhadap bahasa Indonesia baku kurang ada. Sehingga tidak ada beban moral bagi mereka yang bahasa Indonesia bakunya tidak bagus.
Hal yang sama tidak terjadi pada waktu subjek penelitian menggunakan bahasa Inggris. Mereka akan bersikap hati-hati. Mereka tidak ingin sampai melakukan kesalahan ketika sedang berbicara atau menulis bahasa Inggris. Ini juga akibat dari sikap masyarakat yang menganggap bahwa bila seseorang lancar dan tidak melakukan kesalahan pada waktu berbahasa Inggris, dianggap cendikiawan atau kelompok intelektual.
Para dosen ketika sedang berpidato, membuat karya tulis ilmiah, maupun sedang ceramah di depan kelas, banyak melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia baku. Sehingga mereka ini tidak bisa dijadikan model bagi para mahasiswanya. Para mahasiswa sendiri tidak protes ketika dosennya bayak melakukan kesalahan ketika berbahasa Indonesia baku. Mereka tidak merasakan kejanggalan pada bahasa yang dipakai dosennya karena kesalahan yang dibuat dosennya itu sudah terlalu sering, sehingga menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.
Para dosen yang menjadi sasaran penelitian ini, sebagian besar tidak mau melakukan konsultasi atau tukar pikiran dengan dosen bahasa Indonesia berkaitan dengan kesulitan mereka dalam menggunakan bahasa Indonesia baku, sehingga problem penggunaan bahasa Indonesia baku yang mereka hadapi tidak bisa dipecahkan dengan baik. Dosen bahasa sendiri mengatakan, bila dimintai bantuan, mereka siap membantu kesulitan yang dihadapi para dosen. Padahal dosen bahasa Indonesia merupakan sumber yang dianggap mempunyai kompetensi untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan masalah bahasa Indonesia baku, baik secara teoritis maupun dalam tataran praktik.
Menyinggung lemahnya keterampilan para mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia baku, dosen bahasa Indonesia tidak mau disalahkan. Mereka merasa sudah mengajar materi atau keterampilan berbahasa sesuai dengan petunjuk yang ada di kurikulum. Apalagi dengan adanya kurikulum berbasis kompetensi, yang lebih menekankan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Para dosen bahasa Indonesia ini beranggapan ketidakmampuan para mahasiswa dalam berbahasa Indonesia baku, karena sikap mahasiswa yang kurang peduli terhadap bahasa nasionalnya ini. Para mahasiswa ini cenderung tidak mau  repot; ketika mereka sedang dalam situasi resmi, masih tetap saja menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku, yang memang merupakan bahasa ibu bagi sebagian besar mereka.
Selain itu, para dosen bahasa Indonesia ini juga beranggapan bahwa sikap feodalisme masih melekat pada diri dosen dan mahasiswa. Ini dapat dibuktikan dengan penggunaan kata ganti orang. Subjek penelitian yang berasal dari suku Jawa, lebih senang menggunakan kata sampeyan dari pada mengatakan anda, ketika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Misalnya kalimat : “Sampeyan akan pergi kemana?”. Demikian juga mereka yang berasal dari suku  Madura, lebih senang menggunkanan kata engkok dari pada kata saya, seperti dalam kalimat:  Engkok sakek, saya sakit. Mereka menganggap menggunakan kata sampeyan  dirasakan lebih halus dari pada kata anda dan saya. Padahal dalam bahasa Indonesia baku tidak mengenal strata semacam itu.

Tanggapan Mahasiswa dan Dosen terhadap Teguran bagi Mereka yang tidak Menggunakan Bahasa Indonesia baku
Dosen dan mahasiswa terdiri dari bermacam-macam suku. Ada suku Jawa dan Suku Madura , yang menjadi  subjek penelitian ini,  beranggapan bahwa teguran bagi mereka yang tidak menggunakan bahasa Indonesia baku ketika sedang dalam kegiatan proses belajar mengajar itu perlu. Teguran dalam arti tidak dikaitkan dengan sanksi apapun. Adanya teguran atau koreksi secara langsung ketika terjadi kesalahan dalm penggunaan bahasa Indonesia baku, diharapkan para mahasiswa dan dosen tidak akan melakukan kesalahan berbahasa Indonesia baku secara berlarut-larut. Berdasarkan pengalaman yang ada, bila kesalahan itu terjadi secara terus menerus, akhirnya tidak terasa bahwa bahasa baku yang mereka pakai itu salah. Seperti pada kalimat : Terima kasih atas perhatinannya.
Dengan saling mengingatkan akan memunculkan diskusi yang hangat diantara sesama pengguna bahasa Indonesia baku. Mereka akan berdebat dengan memunculkan argumen masing-masing. Dan bila menemui jalan buntu, tentunya bisa memanfaatan sumber yang ada. Dari sinilah perlahan-lahan rasa cinta pada bahasa Indonesia baku akan tumbuh dengan sendirinya.
Salah satu faktor yang menyebabkan orang dengan seenaknya melakukan kesalahan dalam berbahasa Indonesia baku, karena masyarakat masih menganggap kesalahan itu sesuatau yang biasa. Sehingga tidak ada beban lagi bagi mereka yang sedang mempermainkan bahasa Indonesia baku. Adanya teguran bagi mereka yang melakukan kesalahan berbahasa Indonesia baku, akan mendorongse seorang untuk selalu bersikap hati-hati, lebih bersikap arif.
Adanya keinginan saling mengoreksi di kalangan mahasiswa dan dosen ini tentunya sangat menggembirakan bagi usaha pembinaan bahasa Indonesia baku ke depan. Para peserta didik ini nantinya akan menjadi ujung tombak pembangunan bangsa. Kepedulian mereka terhadap bahasa Indonesia baku akan berdampak positif terhadap pelestarian bahasa nasional. Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku ini memerlukan suatu perekat yang bersifat permanen. Salah satunya dengan menggunakan bahasa Indonesia baku.
Para mahasiswa dan dosen juga mengatakan bahwa kesalahan dalam berbahasa Indonesia baku yang selama ini sering mereka lakukan disebabkan minimnya pengetahuan mereka tentang bahasa Indonesia, sehingga tidak sadar bila mereka telah melakukan kesalahan. Perlu adanya teguran atau saling mengingatkan di antara para peserta didik secara serius tentang bahasa Indonesia baku.
Mereka juga sepakat bahwa dengan teguran yang bersifat membangun, bukan keinginan saling menjatuhkan atau mencari kelemahan orang lain. Karena itu bagi mereka yang mendapatkan peringatan ketika sedang melakukan kesalahan berbahasa Indonesia baku hendaknya bersikap terbuka, mau membuka diri dan tidak berusaha menutup-nutupi kesalahannya. Para subyek penelitian ini juga setuju bila di sekolah dibentuk suatu lembaga yang anggotanya terdiri dari dosen dan perwakilan mahasiswa yang dipimpin dosen bahasa Indonesia, dan kepala sekolah bertindak sebagai pembina atau penasihat. Lewat lembaga ini para mahasiswa dan dosen, bahkan masyarakat bisa melakukan konsultasi atau memberi hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Indonesia baku.

Tanggapan Mahasiswa dan Dosen dari Berbagai Etnis terhadap Pembinaan Bahasa Indonesia Baku di Sekolah
Selama ini, di sekolah, masalah pembinaan bahasa Indonesia baku hanya ditangani dosen bahasa Indonesia. Kebetulan dalam materi keterampilan bahasa Indonesia ada bagian yang membahas pengunaan bahas Indonesia baku. Dosen bahasa Indonesia sudah pasti terikat dengan kurikulum yang sudah ada. Mereka tidak hanya mengajar penggunaan bahasa Indonesia baku saja, tetapi juga materi yang lain yang masih terkait dengan bahasa dan sastra Indonesia.
Para mahasiswa dan dosen yang terdiri dari bermacam-macam suku. Ada suku Jawa, dan suku Madura menganggap pembinaan bahasa Indonesia baku di sekolah kurang maksimal kalau hanya ditangani dosen bahasa Indonesia saja. Menurut mereka perlu ada kerja sama yang baik, antara dosen bahasa Indonesia dengan dosen bidang studi yang lain, yang juga melibatkan orang tua murid, murid dan kepala sekolah.  Perlu ada koordinasi yang baik, dengan pihak-pihak yang terkait untuk ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan pembinaan bahasa Indonesia baku.
Kerja sama yang terjalin itu hendaknya dilakukan secara terus menerus, tidak hanya bersifat insidental. Para mahasiswa, dosen dan orang tua tidak hanya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia baku pada situasi yang tepat, tetapi juga diharapkan mampu mempengaruhi masyarakat laingkungan sekitarnya agar setiap calam situasi resmi selalu menggunakan bahasa Indonesia baku.
Selain itu, para dosen dan mahasiswa juga mengatakan bahwa pembinaan bahasa Indonesia baku, selain lewat jalur formal, bisa dilakukan pula lewat jalur nonformal. Misalnya: megadakan lomba menulis naskah pidato, menulis laporan perjalanan, berpidato, membuat resensi buku terbit atau menulis kritik sastra. Kegiatan semacam ini secara rutin dilakukan setiap tahudengan melakukan praktik secara langsung ini akan menumbuhkan rasa cinta pada bahasa Indonesia baku.
Sebagian dari dosen dan murid mengusulkan agar pembinaan bahasa Indonesia baku itu masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler. Orientasinya lebih banyak pada praktik berbahasa Indonesia baku. Bila masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler, yang pelaksanaannya bisa dilakukan pada sore hari, maka tidak akan mengganggu jam peserta didikan yang sifatnya wajib, dan waktu yang tersediapun cukup panjang. Dalam kegiatan ini tentunya melibatkan dosen bahasa Indonesia yang bertindak sebagai pembimbing.
Memanfaatkan secara maksimal majalah dinding. Karangan-karangan yang bagus, yang telah diseleksi oleh tim khusus, bisa ditampilkan di majalah dinding. Dan para mahasiswa yang sedng membaca tulisan-tulisan tersebut dimintai memberi komentar, berkaitan dengan kualitas karangan, termasuk penggunaan bahasa Indonesia baku. Kritik, saran yang disampaikan pembaca itu bisa disusun dalam tulisan yang baik dan rapi, nantinya akan dimuat di majalah dinding pada berikutnya. Harapan-harapan subyek penelitian semacam ini tentunya sangat baik untuk kegiatan pembinaan bahasa Indonesia baku di sekolah.


KESIMPULAN DAN SARAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa,  tanggapan dan sikap para mahasiswa dan dosen  yang terdiri dari bermacam-macam suku. Ada suku Jawa dan  suku Madura terhadap pelestarian dan pembinaan bahasa Indonesia baku bermacam-macam. Bila menganggapi tentang pentingnya pelestarian bahasa Indonesia baku, sebagian besar dari mereka cenderung idealis. Mereka mengatakan bahwa pelestarian bahasa Indonesia baku itu perlu dilakukan, melihat posisi bahasa Indonesia baku yang sangat strategis dalam usaha mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.
Sisi lain, bila dikaitkan dengan sikap para dosen dan mahasiswa terhadap pembinaan bahassa Indonesia baku, mengecewakan. Para dosen dan mahasiswa kurang mempraktikkan penggunaan bahasa Indonesia baku di sekolah dengan baik. Mereka banyak melakukan kesalahan, baik yang berhubungan dengan kosa kata maupun struktur kalimat. Tapi dengan melihat keinginan mereka untuk selalu diingatkan bila membuat kesalahan dalam berbahasa Indonesia baku, merupakan langkah maju untuk melakukan pembinaan di kalangan mahasiswa  dan dosen. Ditambah dengan keinginan para mahasiswa mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang khusus untuk pembinaan bahasa Indonesia baku, merupakan sinyal bahwa mereka ingin menggunakan bahasa Indonesia baku dengan baik.
Agar pembinaan bahasa Indonesia baku di sekolah/kampus  berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) pola pembinaan bahasa Indonesia baku di sekolah perlu dibenahi, yang melibatkan pihak-pihak yang dianggap terkait; 2) posisi dosen sebagai pembina bahasa Indonesia baku sangat strategis, dosen sebagai model bagi mahasiswanya dalam penggunaan bahasa Indonesia baku; 3) hari-hari besar nasional bisa dijadikan momentum untuk mengadakan lomba yang merangsang mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia baku dengan baik, misalnya : lomba tulis karya ilmiah dan berpidato; dan 4) perlu mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yang kegiatannya mengarah pada pembinaan bahasa Indonesia baku.


DAFTAR  RUJUKAN
Badudu, J. S. 1986. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar.Jakarta : PT Gramedia.
Baradja, F. M. 1980. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang : IKIP  Malang.
Burhan, Jazir. 1971. Problem Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung : Ganaco.
Chaidar, A.1985. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Chair, A.1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rieneka Cipta.
Halim, A. 1981. Politik Bahasa Nasional, 1 & 2. Jakarta: Balai Pustaka.
Keraf, G. 1979. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Kridalaksana, H. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Moeliono, A. 1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta: Jambatan

Sutarto, 2006.  Perkembangan  Budaya Masyarakat Jember. Jember: Lemlit UNEJ