Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PEMBELAJARAN TERPADU BERBASIS PERMAINAN KOTAK JARING LABA-LABA DI PAUD



PEMBELAJARAN TERPADU BERBASIS PERMAINAN
 KOTAK JARING LABA-LABA  DI PAUD

Gunawan

Abstrak: Pendidikan anak usia dini (PAUD)  merupakan  satu  tahap pendidikan  yang  tidak  dapat diabaikan  karena  ikut menentukan  perkembangan dan  keberhasilan  anak, maka kualitas pembelajaran di PAUD harus ditingkatkan diantaranya dengan menerapkan model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan dan/atau bidang pengembangan .

Kata Kunci:  Terpadu, Jaring Laba-laba

PENDAHULUAN
Layanan pendidikan kepada anak usia dini merupakan dasar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga dewasa. Hal ini diperkuat oleh Hurlock (1991:27) yang mengemukakan bahwa tahun-tahun awal kehidupan anak merupakan dasar yang cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepanjang hidupnya. Dan sejalan dengan Montessosi (Moenir, 2006:1) bahwa pada usia dini berbagai aspek perkembangan anak mengalami kematangan untuk berkembang, bila pada saat itu tidak dilakukan pengembangan dengan baik akan menghambat perkembangannya.
Sementara itu Santrock dan Yussen dalam Ali, et al. (2007:1095) memandang usia dini sebagai masa yang penuh dengan kejadian-kejadian penting dan unik yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang dimasa dewasa. Demikian juga Fernie (Ali, et al.,2007:1095), memandang bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal tidak akan pernah bisa diganti oleh pengalaman-pengalaman berikutnya, kecuali dimodifikasi.
Uraian  di  atas  mengisyaratkan  bahwa  pendidikan anak usia dini (PAUD)  merupakan  satu  tahap pendidikan  yang  tidak  dapat diabaikan  karena  ikut menentukan  perkembangan dan  keberhasilan  anak.  Seiring  dengan  perkembangan  pemikiran  di  atas, tuntutan  dan  kebutuhan layanan PAUD pada saat ini cenderung  semakin  meningkat. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya PAUD,  kesibukan  orang  tua,  dan  banyaknya sekolah  dasar  yang mempersyaratkan calon siswanya telah menyelesaikan pendidikan di lembaga PAUD telah mendorong tumbuh dan berkembangnya  lembaga  penyedia  layanan  PAUD. 
PAUD menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I  Pasal 1 ayat (14), adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.     Pada pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut juga secara tegas disebutkan bahwa PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; PAUD diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal; PAUD jalur pendidikan formal meliputi Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; PAUD jalur nonformal mencakup Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; dan PAUD jalur informal berupa pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Menurut data Depdiknas (Bappenas, 2006 : II. 26-4) angka partisipasi kasar (APK) PAUD pada tahun 2006 sebesar  45,63 persen, meningkat dari tahun 2005 yang baru mencapai 43,34 persen. Dan capaian akhir tahun 2007 APK PAUD Nasional sebesar 48,32 %, sebanyak 9,5 juta anak atau sekitar 33,56% diantaranya adalah sumbangan dari PAUD nonformal (Balitbang Depdiknas, 2008).  Berdasarkan data tersebut di atas, sebenarnya telah melampaui proyeksi APK PAUD Tahun 2015 sebesar 47%. Namun angka 51,68 % anak usia dini yang belum memperoleh layanan PAUD sampai dengan akhir tahun 2007 adalah cukup besar dan harus segera mendapatkan perhatian yang serius semua pihak.  Tingkat partisipasi kasar yang diproyeksikan untuk anak usia  0-6 tahun dalam pelayanan pendidikan tahun 2001 dan 2015. Selama ini lembaga PAUD baik jalur formal maupun nonformal didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang pendidikan dasar. Hal ini diperkuat oleh Pujiati (2009) bahwa kegiatan yang dilakukan di lembaga PAUD hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat permainan edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak dibenarkan, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka. Akan tetapi, lanjut pujiati (2009) pada perkembangan terakhir hal itu menimbulkan sedikit masalah, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak di lembaga PAUD belum mendapat pelajaran calistung. Konsepsi masyarakat yang menganggap bermain, bercerita, dan bernyanyi hanya sekedar bersenang-senang dan menghabiskan waktu juga ikut mendorong keinginan para orang tua agar lembaga PAUD mengajarkan pelajaran calistung. Oleh karena itu perlu pembelajaran terpadu berbasis permainan   kotak jaring laba-laba  di PAUD

PEMBAHASAN
1.  Hakikat Pembelajaran Terpadu
Pada bagian ini diuraikan mengenai pengertian dan tujuan, karakteristik, prinsip-prinsip, landasan-landasan, dan model-model pembelajaran terpadu.

a.  Pengertian dan Tujuan Pembelajaran Terpadu
Menurut Fogarty (1991:78) pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam proses belajar mengajar yang melibatkan beberapa konsep, baik dari satu bidang studi maupun beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak. Kecenderungan pembelajaran terpadu diyakini sebagai suatu pendekatan berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak didik.
Pembelajaran terpadu adalah mengintegrasikan beberapa unsur mata pelajaran. Sebagaimana dikemukakan oleh Nasution (1991:35) bahwa usaha untuk mengintegrasikan bahan pelajaran dari berbagai mata pelajaran akan menghasilkan suatu kurikulum yang terpadu. Artinya bahwa pembelajaran terpadu ini meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pembelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pembelajaran ini diharapkan dapat membentuk anak menjadi suatu kepribadian yang mempersatukan yakni manusia yang sesuai atau selaras hidupnya dengan sekitarnya.
Pembelajaran terpadu juga merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam PAUD. Adapun ciri khas dari pembelajaran terpadu anak usia dini yaitu kegiatan pembelajaran disajikan melalui tema-tema pembelajaran yang dapat mengintegrasikan berbagai bidang pengembangan. Hal ini sejalan dengan pendapat Aisyah dkk. (2007:2.5) yang menyatakan bahwa pembelajaran terpadu adalah pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam semua bidang pengembangan, meliputi aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, moral, dan nilai-nilai agama, fisik-motorik, dan seni. Lebih lanjut disebutkan bahwa, semua bidang pengembangan tersebut dijabarkan ke dalam kegiatan pembelajaran yang berpusat pada satu tema sehingga pembelajaran terpadu, yang disebut juga pembelajaran tema.
Tema adalah ide pokok sehingga pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang didasarkan atas ide pokok tentang anak dan lingkungannya. Penggunaan tema untuk mengorganisasikan pembelajaran bagi anak-anak telah populer sejak John Dewey mengusulkan kurikulum yang dihubungkan dengan pengalaman hidup yang nyata. Dalam mengembangkan suatu tema, pendidik dapat memilih topik yang relevan dengan minat anak serta mengembangkan pembelajaran sekitar ide-ide pokok yang dipilih tersebut.
Menurut Eliason dan Jenkins (Aisyah dkk.,2007:2.5) semua kegiatan dalam pembelajaran terpadu melibatkan pengalaman langsung (hands on experience) bagi anak serta memberikan berbagai pemahaman tentang lingkungan sekitar anak yang memungkinkan anak untuk memadukan pengetahuan dan keterampilannya dari pengalaman satu ke pengalaman lainnya. Mengintegrasikan semua bidang pengembangan, pembelajaran terpadu juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan seluruh potensi dan keterampilan yang dimilikinya secara optimal, seperti melatih kemampuan motorik halus dan kasar, mengobservasi, menghitung, mengingat, mengklasifikasi, bermain peran serta mengeksplorasikan gagasan, serta kreatifitasnya.
Dalam upaya mewujudkan anak didik agar menjadi manusia seutuhnya melalui pengembangan model pembelajaran terpadu, Setiati (Sholehudin,2007:70) mengemukakan bahwa pengembangan model pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan melalui : (1) terpadu dalam teori unit yang besar, (2) terpadu dalam menetapkan metoda atau prosedur, (3) terpadu dalam menetapkan fokus masalah praktis, dan (4) terpadu dalam rentetan tema, ide atau topik.
Masih tentang pembelajaran terpadu, Aminuddin sebagaimana dijelaskan Aisyah dkk. (2007:2.6) menyatakan bahwa fokus perhatian pembelajaran terpadu terletak pada proses yang ditempuh anak saat berusaha memahami isi dan kegiatan pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkannya. Berdasarkan hal tersebut maka pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai: (1) suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang pengembangan yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling anak sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak; (2) suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (stimultan); dan (3) merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang pengembangan yang berbeda, dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.
Pengertian pembelajaran terpadu sebagaimana diuraikan di atas memberikan penegasan bahwa tujuan pembelajaran terpadu adalah agar pembelajaran, terutama dalam PAUD menjadi efektif dan bermakna. Hal ini sejalan dengan Subroto (2005:1.8) yang menyatakan bahwa pengemasan belajar akan sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman anak. Pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptualnya akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif.
Dan sesuai dengan yang dikemukakan Beane (1995:173) bahwa tujuan pembelajaran terpadu adalah membuat isi kurikulum itu harus bermakna bagi anak. Pengembangan model pembelajaran terpadu menjadi sangat bermakna, lanjut Beane (1995:187) karena dapat membuka terintegrasinya pengalaman pendidikan yang dapat membantu dan memperluas serta memperdalam pemahaman anak terhadap dirinya maupun dunianya.
Kedua pandangan mengenai tujuan pembelajaran terpadu di atas pada prinsipnya menegaskan bahwa tujuan pembelajaran terpadu meliputi hal-hal sebagi berikut: (1) meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif, (2) meningkatkan kebermaknaan belajar karena pembelajaran terpadu mengutamakan integrasi berbagai bidang pengembangan yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling anak sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak, (3) membantu anak mengembangkan pemikirannya secara langsung dalam proses belajar mereka,  dan  (4) mempermudah anak menemukan hubungan antar konsep secara bermakna

 b.  Karakteristik dan Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu
Terdapat beberapa pendapat mengenai karakteristik pembelajaran terpadu. Nurhani (Sholehudin,2007:69) misalnya, menyebutkan bahwa pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) berpusat pada peserta didik, (2) memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik, (3) pemisahan antara bidang studi, (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran, (5) bersifat luwes, (6) hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan, (7) pengetahuan dan keterampilan dikembangkan secara simultan, dan (8) penyajian sejumlah konsep yang saling berkaitan mempermudah anak menemukan hubungan antar konsep secara bermakna.
Kemudian Depdikbud (Trianto, 2007:13) menyebutkan karakteristik pembelajaran terpadu adalah: (1) holistik, berarti bahwa suatu gejala atau fenomena yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran diamati dan dikaji beberapa bidang kajian sekaligus, (2) bermakna, bahwa suatu fenomena dari berbagai macam aspek tersebut memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang skemata, sehingga menimbulkan kebermaknaan dari materi yang dipelajari, (3) otentik, bahwa pembelajaran memungkinkan anak memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajari melalui kegiatan belajar secara langsung, dan (4) aktif, bahwa pembelajaran menekankan keaktifan anak baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional dalam pembelajaran sehingga didapat hasil belajar optimal
Sedangkan Aisyah, dkk. (2007:2.8) mengemukakan beberapa karakteristik yang perlu dipahami dari pembelajaran terpadu yaitu : (1) berpusat pada anak (student centered), pendidik lebih berperan sebagai fasilitator, yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada anak untuk melakukan aktifitas belajar (2) memberikan pengalaman langsung kepada anak (direct experiences), sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak (3) menciptakan kegiatan yang dapat mengoptimalkan semua pemikiran anak, (4) menyajikan konsep-konsep dari berbagai bidang pengembangan dalam suatu proses pembelajaran, (5) luwes (fleksibel), dan (6) hasil pembelajaran yang akan dicapai adalah agar setiap aspek pengembangan dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Pandangan-pandangan tentang karakteristik pembelajaran terpadu di atas pada prinsipnya menegaskan beberapa kelebihan pembelajaran terpadu meliputi beberapa hal sebagai berikut : (1) pengalaman dan kegiatan belajar selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak, (2) kegiatan-kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, (3) seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama. (4) dapat menumbuhkembangkan keterampilan berpikir anak, (5) menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui anak dalam lingkungannya, (6) menumbuhkembangkan keterampilan sosial anak, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan menghargai gagasan orang lain, dan (7) dapat diimplementasikan dalam berbagai kelompok usia yang berbeda.
Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu di lembaga pendidikan anak usia dini, terutama pada saat penggalian tema-tema. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Konstelnik (1999), bahwa tema-tema pembelajaran yang dikembangkan didasarkan pada kriteria sebagai berikut : (1) relevansi topik dengan anak, (2) melibatkan pengalaman langsung, (3) variasi dan keseimbangan area kurikulum, (4) ketersediaan alat dan sumber yang berkaitan dengan tema, dan (5) adanya potensi proyek.  Sumber-sumber yang dapat dijadikan tema diantaranya : (1) minat anak, (2) peristiwa khusus, (3) kejadian-kejadian yang tidak terduga, (4) materi yang dimandatkan oleh lembaga, dan (5) berbagai ide dari orang tua dan pendidik.
Sementara Bredekamp (Aisyah, dkk.,2007:2.10) mengemukakan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menentukan tema sebagai berikut : (1) berorientasi pada usia, perbedaan individu, dan karakteristik sosial budaya anak, (2) dikembangkan berdasarkan hal-hal yang sudah ketahui dan ingin diketahui oleh anak serta memberi kesempatan untuk merefleksikannya, (3) mengintegrasikan materi dan kegiatan, (4) mengakomodasi kebutuhan anak untuk bergerak, berinteraksi sosial, kemandirian, dan harga diri yang positif, (5) menyediakan kesempatan bermain untuk menerjemahlan pengalaman ke dalam pemahaman, (6) kegiatan yang berhubungan dengan tema harus menggambarkan bidang pengembangan yang beragam, (7) memungkinkan dilaksanakan melalui kegiatan yang diprakarsai anak, (8) menghargai perbedaan individual, latar belakang budaya, dan pengalaman keluarga anak yang di bawa ke dalam kelas.
 Uraian di atas menjadi dasar dalam penelitian ini, dalam pengembangan model pembelajaran terpadu berbasis permainan, penentuan tema tidak semata-mata ditujukan pada pengembangan salah satu kemampuan tetapi tertuju pada pengembangan kemampuan anak secara menyeluruh. Pengembangan tema juga memperhatikan minat, kebutuhan belajar dan tugas-tugas perkembangan anak secara individual.

c.   Landasan-landasan Pembelajaran Terpadu
1)  Landasan Filosofis
Setiap teori belajar maupun pembelajaran pada umumnya mempunyai landasan filosofis, yang berfungsi melandasi semua aspek lainnya. Perumusan tujuan atau kompetensi, dan isi atau materi pembelajaran pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis.
Secara filosofis, kemunculan pembelajaran terpadu sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat berikut : (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme (Aisyah, dkk.,2007:2.11). Ketiga aliran filosofis ini menjadikan anak sebagai pusat pendidikan.
Filsafat progresivisme merupakan suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat populer pada abad ke-20 dengan tokohnya John Dewey. Aliran progresivisme beranggapan bahwa proses pembelajaran pada umumnya perlu sekali ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah, dan memperhatikan pengalaman anak.
Menurut Ali (1990:146) aliran filsafat progresivisme telah memberikan sumbangan besar dalam dunia pendidikan dengan meletakkan dasar-dasar kemerdekaan kepada anak. Kebebasan secara fisik maupun cara berpikir diberikan kepada anak guna mengembangkan kemampuan dan bakat yang ada pada dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat orang lain. Sejalan dengan Ali, Sukmadinata (2005:86) mengemukakan bahwa aliran progresivisme lebih memberikan tempat utama kepada anak, mereka bertolak dari asumsi bahwa anak adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan.
Aliran progresivisme memandang bahwa dalam proses belajar, anak sering dihadapkan pada persoalan-persoalan yang harus mendapatkan pemecahan atau problem solving (Aisyah, 2007:2.11). Dalam memecahkan masalah tersebut, anak perlu memilih dan menyusun ulang pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Dengan demikian terjadi proses yang terkait dengan metakognisi, yaitu proses menghubungkan pengetahuan dan pengalaman belajar dengan pengetahuan lain untuk menghasilkan sesuatu (Marzano et.al,1993). Karena merupakan bagian dari proses belajar, maka jika terdapat kesalahan atau kekeliruan dalam proses pemecahan masalah atau sesuatu yang dihasilkan maka hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa aliran filsafat progresivisme memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan dan bakat melalui suasana kegiatan yang alamaiah dengan tetap memperhatikan pengalaman anak.
Sedangkan aliran filsafat konstruktivisme melihat pengalaman langsung anak atau direct experiences sebagai kunci dalam pembelajaran (Aisyah,2007:2.12). Bagi kontruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditrasformasikan langsung begitu saja oleh seorang pendidik kepada anak , tetapi harus dipahami sendiri oleh masing-masing anak. Anak harus membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus.
Dalam proses membangun pengetahuan tersebut keaktifan anak yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya memiliki peran yang amat besar dalam perkembangan pengetahuannya. Anak berinteraksi dengan objek dan lingkungannya dengan cara melihat, mendengar, menjamah, mencium dan merasakan.
Sementara itu menurut Suparno (1997) konstruktivisme merupakan salah satu filsafat yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi atau bentukan kita sendiri. Pengetahuan  lanjut Suparno, bukan tiruan dari kenyataan melainkan selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.
Memperhatikan pandangan-pandangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak akan membentuk pengetahuannya sendiri, pengetahuan yang telah dimiliki oleh seorang anak adalah hasil aktivitas yang dilakukan oleh anak tersebut.  Karena itu pengalaman langsung anak atau direct experiences sebagai kunci dalam pembelajaran
            Aliran filsafat ketiga yang mendasari pembelajaran terpadu adalah humanisme. Humanisme melihat anak dari segi keunikan, potensi dan motivasi yang dimilikinya. Sejalan dengan hal tersebut Elias dan Merriam dalam Moenir (2006:21-22) menyatakan humanisme berpandangan bahwa diri (self) merupakan pusat kepribadian manusia. Pengembangan self ini akan terjadi melalui aktualisasi dari potensi-potensi yang dimiliki seseorang. Self yang dimiliki oleh seseorang digambarkan sebagai sejumlah keseluruhan yang terdapat dalam individu, yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Termasuk dalam diri adalah sikap, nilai, perasaan, intelek dan ciri-ciri fisiknya.
Implikasi dari hal tersebut (Aisyah, dkk.,2007:2.13), maka tugas pendidikan memberikan kesempatan berkembangnya aspek individual anak dengan mengembangkan setiap bakat dan keterampilan khusus yang dimilikinya. Dalam kegiatan pembelajaran dilakukan dengan memberikan: (1) layanan pembelajaran selain bersifat klasikal, juga bersifat individual, (2) pengakuan adanya anak yang lambat dan cepat, (3) penyikapan yang unik terhadap anak yang baik menyangkut faktor personal/individual maupun yang menyangkut faktor lingkungan sosial/kemasyarakatan.
Masih menurut Aisyah (2007:2.13) secara fitrah anak memiliki potensi yang sama dalam memahami sesuatu. Implikasinya dalam kegiatan pembelajaran  adalah : (1) pendidik bukan merupakan satu-satunya sumber informasi, (2) anak disikapi sebagai subyek belajar yang secara kreatif  mampu menemukan pemahamannya sendiri, (3) dalam proses pembelajaran pendidik lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, motivator, penyedia bahan pembelajaran, dan aktor yang juga bertindak sebagai anak (pembelajar). Dilihat dari motivasi dan minat, anak memiliki ciri sendiri. Implikasi dari pandangan tersebut, yaitu : (1) isi pembelajaran harus memiliki manfaat bagi anak secara aktual, (2) dalam kegiatan belajarna anak harus menyadari penguasaan isi pembelajaran itu bagi kehidupannya, dan (3) isi pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan anak.
Sejalan dengan itu Pujiati (2007) mengemukakan bahwa dalam pandangan humanisme, kurikulum hendaknya menekankan pada : (1) kebebasan untuk belajar, sehingga anak dapat mengaktualisasi diri, (2) menggunakan minat anak dan bidang pengembangan yang dipelajari bersifat komprehensif, (3) menggunakan metode penemuan dengan menekankan pada kreativitas untuk mengembangkan keingintahuan alami anak, dan (4) peran pendidik sebagai agen kerjasama untuk menciptakan suasana kondusif dalam belajar.
Dari pandangan-pandangan di atas diketahui bahwa aliran filsafat humanisme dalam pendidikan mengutamakan peranan anak, pendidik lebih berfungsi sebagai fasilitator yang memfasilitasi anak untuk belajar. Minat dan kebutuhan anak menjadi orientasi utama dalam mengembangakan pengalaman belajar. Strategi pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip penemuan dengan tujuan utama agar anak mampu mengaktualisasikan diri.
Berdasarkan uraian di atas, maka aliran filsafat progresivisme, konstruktivisme dan humanisme merupakan filsafat pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat aktifitas pendidikan dan memandang perkembangan anak sebagai suatu proses holistik yang kontekstual. Pandangan ini melandasi mengapa diperlukan pengemasan pembelajaran terpadu berbasis permainan pada anak usia dini.

2)  Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan acuan konseptual akademis yang berisi kajian konsep psikologi yang memberikan pemahaman berbagai konsep tentang perkembangan anak (psikologi perkembangan dan perkembangan anak). Bagaimana cara anak belajar (psikologi belajar) dan faktor yang mempengaruhi belajar anak (psikologi pendidikan). Hal ini sejalan dengan Sukmadinata (2005:46) yang mengemukakan bahwa setidaknya ada dua landasan psikologi yang melandasi pengembangan kurikulum dan pembelajaran yaitu psikologi belajar dan psikologi perkembangan.
Menurut Morris L. Bigge dan Murice P Hunt (Puskur,2007) ada tiga rumpun teori belajar yang memberikan penjelasan tentang bagaimana belajar itu terjadi, yaitu teori disiplin mental, behaviorisme dan cognitive gestalt field
Menurut rumpun disiplin mental, dari kelahirannya atau secara herediter anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Belajar merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut.
Sementara teori belajar behaviorisme menekankan bahwa belajar itu berkaitan dengan S-R Stimulus-Respon. Kelompok teori ini berangkat dari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensi apa-apa dari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari lingkungan.
Sedangkan rumpun teori belajar cognitive gestalt field menurut Sukmadinata (2005:55), bersumber dari psikologi gestalt field. Menurut teori ini belajar adalah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan, termasuk struktur tubuhnya sendiri. Gestalt field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan, eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra diri atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan. 
Dengan demikian, maka dapat ditegaskan bahwa pembelajaran terpadu yang mengutamakan pengalaman belajar anak sebagai suatu yang holistik, bermakna, otentik dan dilakukan dengan keterlibatan anak secara aktif merupakan implementasi dari teori belajar gestalt. 
Dalam konteks psikologi perkembangan dan perkembangan anak, setiap anak didik memiliki karakteristik dan tahapan perkembangan normatif yang relatif sama sesuai dengan usia kalender (cronological ages). Standar normatif perkembangan ini akan menjadi kerangka acuan dalam menyusun standar kompetensi perkembangan sesuai dengan usia kelender masing-masing anak.
Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan individu (Sukmadinata, 2005:47-48). Ketiga teori tersebut adalah pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (differential approach) dan pendekatan ipsatif (ipsative approach).
Menurut pendekatan pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki kesamaan dan perbedaannya (jenis kelamin, agama, ras, status sosial ekonomi). Sementara pendekatan isaptif berusaha melihat perkembangan individu dari karakteristiknya..
Dari ketiga pendekatan itu yang banyak dianut oleh para ahli psikologi perkembangan adalah pendekatan pentahapan. Pendekatan ini lebih disenangi karena lebih jelas menggambarkan proses urutan perkembangan dan kemajuan individu. Dalam pendekatan pentahapan, dikenal dua variasi, pertama, pendekatan yang bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan, seperti perkembangan fisik dan gerakan motorik, sosial, intelektual, moral, emosional, religi dan sebagainya. Kedua, pendekatan yang bersifat khusus, yang mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan  saja.
Pembelajaran terpadu menuntut pengembangan anak secara utuh, mencakup segala segi perkembangan. Dengan demikian pembelajaran yang dikembangkan pendidik harus berorientasi pada perkembangan anak secara tepat. Pendekatan pembelajaran inilah yang kemudian disebut dengan Developmentally Approapriate Practice (DAP).Tentang konsep DAP, Bredekamp (1987) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada anak itu mempunyai dua dimensi pemahaman, pertama dimensi umur (age approaprite) dan yang kedua adalah dimensi individual (individual approaprite).
Carol (Sumantri,1999:6) juga mengemukakan bahwa pendekatan DAP mendasarkan pada pemahaman anak pada dimensi umur dan dimensi individualnya. Dengan pendekatan DAP pembelajaran berorientasi pada apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan oleh anak, sehingga pembelajaran menjadi bersifat child initiated, child directed, dan teacher supported.
Kedua pandangan di atas menegaskan bahwa DAP memandang anak sebagai individu yang unik, memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda satu sama lainnya. Oleh karena itu pengembangan model pembelajaran terpadu berbasis permainan dalam penelitian ini, didasarkan atas prinsip-prinsip dan tahap-tahap perkembangan anak yang memacu pada perkembangan potensi dan minat setiap anak melalui penyediaan lingkungan belajar yang kaya dan memasukkan esensi bermain yang meliputi perasaan senang, bebas, dan merdeka harus menjiwai setiap kegiatan pembelajarannya. Dengan demikian anak dapat mengembangkan kemandirian, percaya diri, kemampuan berpikir kritis, dan kreatif  berkreasi.  

d.  Model-model Pendidikan Terpadu
Menurut Fogarty (1991:xiv) terdapat 10 (sepuluh) macam model pembelajaran terpadu, yang dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu : (1) keterpaduan, namun masih dalam satu disiplin, yang termasuk kelompok ini adalah fradmented model, connected model, dan nested model:  (2) keterpaduan dengan beberapa disiplin, yakni: sequenced model, shared model, webbed model, threaded model dan integrated model. dan (3) keterpaduan yang berorientasi pada anak, yaitu : immersed model, dan networked model.

 











Gambar 2.1.


Model-model Pembelajaran Terpadu
Model pertama, adalah penggalan (fragmented), merupakan model yang paling tradisional yang memisahkan disiplin ilmu/mata pelajaran secara terpisah-pisah dan tidak mengaitkannyadengan mata pelajaran lain.
Kedua  adalah model keterhubungan (connected). Model ini dilandasi anggapan bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata pelajaran tertentu. Setiap mata pelajaran diberikan secara terpisah, tetapi pendidik dapat mengaitkan atau menghubungkan antara topik atau konsep yang satu dengan yang lainnya.
Ketiga adalah model sarang (nested). Model ini merupakan perpaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran. Pendidik tetap memberikan mata pelajaran secara terpisah, tetapi ada target-target multi keterampilan yang ditetapkan dalam tujuan pembelajaran untuk dicapai anak.
Keempat model urutan/rangkaian (sequenced).  Merupakan perpaduan topik-topik  antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel. Beberapa topik dari suatu mata pelajaran diorganisasikan kembali dan diurutkan agar dapat bertepatan atau serupa dengan pada saat pendidik mata pelajaran lain membahas topik yang mirip atau serupa.
Kelima model berbagi (shared). Model ini merupakan bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya overlapping konsep atau ide pada dua mata pelejaran  atau lebih.  Tatacara pembelajaran yang dilakukan dengan berbagi pokok bahasan (materi) diantara mata pelajaran yang tumpang tindih, dalam hal ini pembelajaran dilakukan dalam tim.
Keenam model jaring laba-laba (webbed). Model ini bertolak dari pendekatan tematis sebagai pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran webbed adalah model pembelajaran yang dipergunakan untuk mengajarkan tema tertentu yang berkecenderungan dapat disampaikan melalui beberapa bidang pengembangan lain. Dalam hubungan ini tema dapat mengikat kegiatan pembelajaran baik dalam bidang pengembangan tertentu maupun lintas bidang pengembangan. Dengan demikian model ini, merupakan model yang menggunakan model tematik lintas bidang pengembangan.
Ketujuh model galur (threaded). Model ini merupakan model pemaduan bentuk keterampilan. Pembelajaran terpadu bergalur merupakan pendekatan pembelajaran yang ditempuh dengan cara mengembangkan gagasan pokok yang merupakan benang merah (galur) atau untaian yang berasal dari konsep yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu.
Kedelapan model keterpaduan (integrated). Model integrated merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Model ini berangkat dari dari adanya tumpang tindih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang dituntut dalam pembelajaran, sehingga perlu adanya pengintegrasian multi disiplin. Dalam kaitan ini perlu adanya satu tema sentral yang akan dibahas dan dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu.
Kesembilan model terlebur (immersed). Pada model ini seluruh bidang pengembangan merupakan bagian dari sudut pandang kemampuan peserta didik secara individual. Model ini dirancang untuk membantu peserta didik menyaring dan memadukan berbagai pengetahuan dan pengetahuan dihubungkan dengan kegiatan yang dijalaninya. Pada model ini aktivitas peserta didik dilakukan dengan sedikit atau tanpa intervensi dari luar. Oleh sebab itu, model ini hanya dapat diterapkan pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi.
Kesepuluh model jejaring (networked). Model jejaring merupakan model pemaduan pembelajaran yang mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah anak mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi anak.
Dari kesepuluh model di atas ada tiga model terpadu yang dapat diterapkan pada pendidikan anak usia dini. Ketiga model tersebut adalah model jaring laba-laba, model keterkaitan , dan model keterpaduan. Dan dari ketiga model tersebut yang telah dan sering digunakan oleh pendidik PAUD dalam kegiatan pembelajarannya adalah model jaring laba-laba. Model jaring laba-laba cenderung lebih mudah baik dalam perencanaan maupun perencanaannya dibandingkan model lainnya Aisyah (2007:2.21).

2.  Pembelajaran Terpadu Model Jaring Laba-laba
 a.  Pengertian Model Jaring Laba-laba
Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan dan/atau bidang pengembangan (Aisyah dkk, 2007:4.3)
Istilah jaring laba-laba digunakan untuk nama model ini karena bentuk rancangannya memang seperti jala atau jaring yang dibuat oleh laba-laba, dengan tema yang dibicarakan sebagai pusat atau laba-labanya.
Berdasarkan tema tersebut, kemudian ditentukan sub-sub tema sehingga akan memperjelas tema utama dengan menggunakan beberapa aspek kemampuan dasar yang ingin dikembangkan.
Masih menurut Aisyah (2007:4.12) ada enam langkah dalam menyusun rancangan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba. Keenam langkah tersebut yaitu : (1) mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator setiap bidang pengembangan untuk masing-masing kelompok usia, (2) mengidentifikasi tema dan sub tema dan memetakannya, (3) mengidentifikasi indikator pada setiap kompetensi bidang pengembangan melalui tema dan sub tema, (4) menentukan kegiatan pada setiap bidang pengembangan dengan mengacu pada indikator yang akan dicapai dan subtema yang dipilih, (5) menyusun rencana kegiatan mingguan, dan (6) menyusun rencana kegiatan harian.
Langkah awal dalam membuat rancangan pembelajaran model apapun adalah terlebih dahulu mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator pada sesiap kelompok di lembaga PAUD. Kompetensi tersebut akan menjadi acuan dalam pembelajaran, dengan pemilihan tema dan kegiatan yang sesuai .

b.  Keunggulan Model Jaring Laba-laba
Beberapa Keunggulan model jaring laba-laba sebagaimana dikemukakan Aisyah (2007:4.3-4.4) adalah sebagai berikut: (1) ada kekuatan motivasi yang berasal dari proses penentuan tema yang diminati anak, (2) mudah dilakukan oleh para pendidik, termasuk para pendidik pemula karena sangat alamiah dengan adanya tema, pembelajaran berlangsung alami, seperti layaknya interaksi antara anak-anak dengan orang dewasa pada situasi informal, (3) mempermudah perencanaan kerja, karena semua anggota tim (pendidik) sebagai pengembang dapat bekerja sama untuk mengembangkan semua bidang/aspek pengembangan melalui satu tema saja, (4) pendekatan tematik memberikan kejelasan payung atau pusat yang akan memotivasi anak maupun pendidik, dan (5) memudahkan anak untuk melihat berbagai kegiatan atau berbagai gagasan yang berbeda, namun saling terkait dalam satu tema.

c.  Kelemahan Model Jaring Laba-laba
Sebagaimana sebuah model pengembangan, tidak ada satu model pengembangan yang sempurna dan terbaik. Setiap model pengembangan pasti memiliki keunggulan dan juga kelemahan.
Menurut Aisyah (2007:4.5) keterbatasan model jaring laba-laba adalah : (1) pendidik kesulitan menyeleksi dan menentukan tema yang sesuai dengan minat dan tugas perkembangan anak, (2) kegiatan evaluasi autentik dan portofolio memerlukan tenaga,  waktu dan peralatan yang rumit, (3) menimbulkan kesan pada orang tua bahwa anak-anak hanya diajak bermain, (4) dibutuhkan waktu dan pikiran untuk mengkaitkan setiap tema dengan sumber belajar yang tersedia, (5) anak, pendidik, dan orang tua membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan model ini.
Sejalan dengan itu, Azizah (2008) mengemukakan keterbatasan model jaring laba-laba sebagai berikut : (1) langkah yang sulit dalam menerapkan model jaring laba-laba adalah menyeleksi tema, (2) ada kecenderungan untuk merumuskan suatu tema dangkal, sehingga hal ini hanya berguna secara artifikal di dalam perencanaan pembelajaran, (3) pendidik kurang dapat menjaga misi kurikulum baku, dan (4) pendidik lebih fokus pada kegiatan-kegiatan dari pada pengembangan konsep.
Uraian di atas mempertegas adanya keterbatasan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba sebagai berikut: (1) pendidik kesulitan menyeleksi dan menentukan tema yang sesuai dengan minat dan tugas perkembangan anak, (2) kegiatan evaluasi autentik dan portofolio memerlukan tenaga,  waktu dan peralatan yang rumit, (3) menimbulkan kesan pada orang tua bahwa anak-anak hanya diajak bermain, (4) dibutuhkan waktu dan pikiran untuk mengkaitkan setiap tema dengan sumber belajar yang tersedia dan beradaptasi dengan model ini, (5) ada kecenderungan untuk merumuskan suatu tema dangkal, (6) pendidik lebih fokus pada kegiatan-kegiatan dari pada pengembangan konsep dan  kurang dapat menjaga misi kurikulum baku.

3.  Permainan Kotak Jaring Laba-laba
Permainan kotak jaring laba-laba (PKJL) adalah kegiatan bermain yang dirancang sebagai proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik dan menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran.  Istilah kotak jaring laba-laba digunakan untuk nama permainan ini karena bentuk rancangan dan alat permainannya seperti jala atau jaring yang dibuat oleh laba-laba, dengan tema yang dibicarakan sebagai pusat atau laba-labanya.
Permainan ini merupakan modivikasi dari permainan jaring laba-laba. Menurut Musfiroh (2004:262) permainan jaring laba-laba, terutama, dimaksudkan sebagai stimulasi kinestetik melalui rangsang motorik halus. Meskipun demikian, kecerdasan naturalis turut terasah karena anak memiliki kesempatan mengidentifikasi benda-benda alam yang berkaitan dengan rumah laba-laba.
Alat dan bahan permainan jaring laba-laba (Musfiroh, 2004:262) adalah lidi 12 cm sebanyak tiga biji untuk setiap anak dan benang wool berwarna-warni, sedangkan cara bermainnya adalah  sebagai berikut : (1) masing-masing anak diberi tiga buah lidi dengan benang wool, (2) ketiga lidi disatukan dengan benang wool, ditali simpul,  hingga membentuk bintang enam sisi, (3) ambil benang baru, kemudian ditalikan pada lidi sisi satu, lalu dikaitkan dengan lidi sisi dua dan dililitkan, selanjutnya dikaitkan dan dililitkan dengan lidi sisi tiga, dilanjutkan mengaitkan dan melilitkan dengan lidi sisi empat, sisi lima dan sisi enam, kemudian dikaitkan dan dililitkan kembali dengan lidi sisi satu, (4) demikian seterusnya, hingga semua benang mengait pada semua lidi dan membentuk jaring laba-laba, (5) anak melaksanakan permainan dengan bimbingan pendidik.
Dalam penelitian ini permainan jaring laba-laba sebagaimana diuraikan di atas dimodivikasi menjadi PKJL yang dirancang sebagai proses pembelajaran. Modivikasi yang dilakukan meliputi aspek tujuan, bentuk atau jenis,  langkah-langkah permainan serta peralatan yang digunakan.
Tujuan permainan jaring laba-laba pada awalnya adalah sebagai stimulasi kinestetik bagi anak melalui rangsang motorik halus, sedangkan PKJL bertujuan untuk membantu pengembangan kemampuan bahasa dan logiko-matematika anak usia dini sehingga memiliki kompetensi dasar yang diperlukan sebelum mereka belajar belajar membaca, menulis, dan berhitung sesuai dengan tugas perkembangannya.
Selanjutnya adalah modivikasi aspek bentuk. Jika pada permainan jaring laba-laba adalah bentuk tunggal, yakni hanya bermain membuat jaring laba-laba, sedangkan pada PKJL tidak bersifat tunggal atau satu jenis kegiatan bermain saja, melainkan menjadi wadah jenis-jenis permainan yang lain. Dalam permainan kotak jaring laba-laba dapat dilakukan berbagai permainan, antara lain (1) permainan aktif, berupa kegiatan berlari-lari, melompat-lompat, meluncur, naik dan turun tangga, meniti balok, bermain ayunan, bermain bola dan sebagainya, (2) permainan konstruktif, yakni permainan yang dilakukan dengan teknik membangun antara lain menyusun balok-balok kayu, membuat rumah-rumahan, , bermain puzzle, (3) permainan kreatif, yang dilakukan untuk mengembangkan daya cipta anak, antara lain dengan menggambar dengan pensil warna/cat air/krayon, menggunting dan menempel, mencocok, membentuk sesuatu dari lempung/lilin, melipat kertas, (4) permainan imajinatif, yakni permainan yang dapat melatih anak bermain peran tertentu yang dikagumi. 
Kegiatan PKJL dimulai anak dengan mengambil kartu tema dan kartu sub-sub tema yang disimpan di dalam kotak menyerupai kotak pos sebelum memasuki halaman sekolah atau kelas, yang sudah disiapkan oleh pendidik. Nomor urut pada kartu yang sudah diambil oleh anak selanjutnya dijadikan urutan barisan anak sebelum masuk kelas. Kegiatan pembelajaran/permainan di kelas dimulai dengan mencocokkan kartu tema/sub tema yang dibawa anak pada papan yang dibuat menyerupai jaring laba-laba. Anak yang memperoleh kartu nomor satu (kartu tema) menempelkan kartunya di bagian tengah papan, sedangkan anak-anak yang lain secara berurutan menempelkan kartu yang diperolehnya sesuai dengan nomornya. Kegiatan permainan selanjutnya diteruskan sesuai dengan tema atau sub tema yang telah ditetapkan.
Jalannya kegiatan permainan kotak jaring laba-laba digambarkan dalam bagan sebagai berikut di bawah ini.






kotak-pos1
 
Anak datang di kelompok bermain mengambil kartu tema / sub tema


 



                                                                          
                             

sruhjr 
Anak baris untuk senam sesuai nomor urut kartu tema, nomor 1 paling kanan suai nomor disusul nomor berikutnya


                                                                          

h;kuk

Anak baris sebelum masuk kelas, nomor
1 di depan disusul nomor berikutnya


                                                                                                                       
                             
fdhgdsfAnak memulai permainan dengan mencocokan kartu tema / sub tema dengan kartu gambar pada papan jaring laba-laba





Gambar 2.2.  
Alur Kegiatan Permainan Kotak Jaring Laba-laba
Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah kotak tema, yakni sebuah kotak sebagai tempat menyimpan kartu tema/sub tema. Bahan kotak dapat berasal dari limbah seperti kardus bekas mi instan, cassing monitor komputer atau hard disk, drum bekas dan lain-lain. Bahan selanjutnya adalah kartu tema/sub tema yang berisi gambar-gambar huruf dan angka, serta berbagai gambar manusia, binatang, tumbuhan, alat transportasi, dan lain-lain. Untuk menunjang kegiatan permainan juga dilengkapi dengan papan jaring laba-laba, yakni sebuah papan berukuran 0,8 X 1m yang bergambar lingkaran menyerupai jaring laba-laba. Papan ini juga dapat dibuat dari limbah seperti bekas kardus minuman atau mi instan, triplek, kayu, seng dan sebagainya. Peralatan permainan lainnya dapat disediakan sesuai dengan jenis permainan yang dilaksanakan dalam pembelajaran.
Adapun ciri-ciri permainan kotak jaring laba-laba adalah : (1)  menitikberatkan pada aspek proses dalam rangka memperoleh pengetahuan dan keterampilan, (2) menempatkan anak sebagai pusat kegiatan bermain. (3) permainan dilakukan melalui pengalaman dan penginderaan langsung (4) permainan bersifat terbuka (open instruction), (5) difasilitasi alat permainan sehingga kegiatan dapat lebih menarik dan menyenangkan, (6) permainan tidak hanya terbatas pada ruang kelas sehinga memberi peluang kepada anak mengembangkan daya imajinasinya, (7) bersifat kontekstual dalam setting permainan yang alamiah berbasis lingkungan sebagai sumber belajar, (8) memfasilitasi anak untuk berpikir cepat dan kreatif dalam memecahkan masalah.


KESIMPULAN   DAN SARAN
 Berdasarkan kajian diatas maka dapat disimpulkan: Pembelajaran terpadu adalah mengintegrasikan beberapa unsur mata pelajaran. Pembelajaran terpadu ini meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pembelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan kebulatan bahan pembelajaran ini diharapkan dapat membentuk anak menjadi suatu kepribadian yang mempersatukan yakni manusia yang sesuai atau selaras hidupnya dengan sekitarnya.Pembelajaran terpadu juga merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam PAUD.Model jaring laba-laba merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik sebagai pusat pembelajaran yang dijabarkan dalam beberapa kegiatan dan/atau bidang pengembangan .
Beberapa Keunggulan model jaring laba-laba sebagai berikut: (1) ada kekuatan motivasi yang berasal dari proses penentuan tema yang diminati anak, (2) mudah dilakukan oleh para pendidik, termasuk para pendidik pemula karena sangat alamiah dengan adanya tema, pembelajaran berlangsung alami, seperti layaknya interaksi antara anak-anak dengan orang dewasa pada situasi informal, (3) mempermudah perencanaan kerja, karena semua anggota tim (pendidik) sebagai pengembang dapat bekerja sama untuk mengembangkan semua bidang/aspek pengembangan melalui satu tema saja, (4) pendekatan tematik memberikan kejelasan payung atau pusat yang akan memotivasi anak maupun pendidik, dan (5) memudahkan anak untuk melihat berbagai kegiatan atau berbagai gagasan yang berbeda, namun saling terkait dalam satu tema.
 Berdasarkan kesimpulan diatas maka disarankan untuk para guru PAU agar menerapkan model jaring laba-laba agar  motivasi belajar anak semakin optimal.

DAFTAR RUJUKAN
Aisyah, S.(2007). Pembelajaran Terpadu.Jakarta: Universitas Terbuka.
Albreht, K. Dan Miller, L.G. (2000). The Comprehensif Infant Curriculum. Beltsville MD: Gryphon House,Inc.
Ali, et al. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan.Bandung : Pedagogiana Press.
Hurlock, E. B., (1980). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan), edisi kelima. Jakarta . Penerbit Erlangga.
Moenir, M. (2006) Model Pembelajaran Persiapan Membaca dan Menulis. Desertasi pada PPS UPI Bandung.Tidak diterbitkan.
Pujiati, M., A. (2007). PAUD dan Calistung, Bandung: PPS UPI
Sholehudin, (2007). Pengembangan Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Kompetensi. Disertasi .Bandung. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Subroto, H.T. & Herawati, I.S., (2005). Pembelajaran Terpadu, Penerbit UT,Jakarta.