Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PEMERINTAHAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ TAHUN 717-720



PEMERINTAHAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ TAHUN 717-720

Kayan Swastika, Nurul Umamah dan Arief M.R,

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengkaji lebih dalam proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah Dinasti Umayyah; (2) untuk mengkaji lebih dalam sistem pemerintahan Umar bin Abdul Aziz; (3) untuk mengkaji lebih dalam praktik pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang meliputi empat tahap yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi politik dan teori kepemimpinan serta struktural fungsional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah latar belakang diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah Dinasti Umayyah terdiri dari dua faktor. Pertama adalah kepribadian dan derajat keilmuan Umar bin Abdul Aziz yang memang berbeda dengan kebanyakan pemuda lainnya. Kedua adalah peran Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahan sebelum dirinya menjadi khalifah Dinasti Umayyah. Sistem pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah sistem pemerintahan Islam dengan bentuk sistem khilafah. Pemimpin dari sistem ini adalah seorang khalifah yang menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Lembaga-lembaga pemerintahan pada Masa Umar bin Abdul Aziz terdiri dari Anggota dewan, penasehat, baitul mal, pertahanan negara, pemegang stempel negara, dan gubernur. Praktik pemerintahan Umar bin Abdul Aziz terdiri dari pembenahan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan agama.

     Kata kunci: Pemerintahan, Umar bin Abdul Aziz

PENDAHULUAN
            Dinasti Umayyah adalah dinasti yang berkuasa sejak tahun 661-750. Pusat pemerintahannya terletak di kota Damaskus, Syria. Dinasti Umayyah diperintah oleh empat belas khalifah dengan karakter kepemimpinan yang berbeda-beda. Salah satu khalifah yang berhasil membawa kemakmuran bagi Dinasti Umayyah adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke delapan Dinasti Umayyah yang memerintah tahun 717-720 (Faizi, 2012:15).  Umar bin Abdul Aziz adalah anak dari Abdul Aziz bin Marwan dan Ummu Ashim binti Ashim binti Umar bin Al-Khattab. Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 680 di Damaskus. Sejak umurnya kira-kira 5 tahun, Umar bin Abdul Aziz sudah gemar menuntut ilmu agama. Kecintaan Umar bin Abdul Aziz kepada ilmu pengetahuan, membuat dirinya mudah untuk menyerap setiap ilmu pengehuan yang dipelajari (Shalabi, 2014:20). Hal tersebut membuat Umar bin Abdul Aziz tumbuh menjadi pemuda yang shaleh dan mempunyai derajat keilmuan yang tinggi. Umar bin Abdul Aziz juga terkenal sebagai pemuda yang dekat dengan para gubernur dan khalifah.
            Tahun 705 Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Madinah oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Pada masa kepemimpin Umar bin Abdul Aziz di Madinah itu, Umar bin Abdul Aziz berhasil membentuk majelis permusyawaratan. Pada tahun 714 Sulaiman bin Abdul Malik yang diangkat menjadi khalifah menggantikan Walid bin Abdul Malik langsung menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai menteri sekaligus penasehatnya (Faizi, 2012:40). Peran Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahan menjadi semakin besar. Sulaiman Abdul Malik kemudian jatuh sakit dan tidak mampu lagi untuk menjadi khalifah. Akhirnya sebelum meninggal, Sulaiman bin Abdul Malik menunjuk Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi khalifah menggantikan dirinya.
            Tahun 717 Umar bin Abdul Aziz resmi diangkat menjadi khalifah Dinasti Umayyah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Umar bin Abdul Aziz dibai’at langsung oleh rakyat meski dirinya bukan keturunan dari Abdul Malik. Gaya kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz berbeda dengan para khalifah Dinasti Umayyah lainnya yang cenderung tirani dan sekuler. Umar bin Abdul Aziz lebih menekankan pembangunan dalam negeri dibandingkan dengan perluasan wilayah. Kemakmuran rakyat dan penegakan hukum Islam menjadi prioritas utama dalam pemerintahannya (Hitti, 2013:277). Umar bin Abdul Aziz menggunakan hukum Islam yang berpijak kepada Al Qur’an dan Sunnah sebagai dasar dalam pemerintahannya.
Pelaksanaan sistem pemerintahan yang didasarkan pada prinsip nilai-nilai Islam itu dapat terlihat dari beberapa kebijakan Umar bin Abdul Aziz yang diantaranya adalah mengembalikan sistem syuro dalam pemerintahan Islam, menyatukan visi menuju persatuan ummat dan menjauhi hal-hal yang menimbulkan perpecahan, dan melakukan kontrak politik dengan rakyat (Faizi, 2012:44). Pelaksanaan sistem pemerintahan yang didasarkan atas prinsip nilai-nilai Islam tersebut, terbukti mampu mengangkat taraf kehidupan rakyat. Perekonomian rakyat menjadi stabil dan rakyat menjadi serba berkecukupan. Hal itu dapat terlihat dari sebuah riwayat yang ditulis oleh Ibnul Jauzi yang menceritakan bahwa terdapat seseorang yang membawa banyak uang dan mencari orang untuk diberikan sedekah, namun orang tersebut kesulitan untuk menemukan orang fakir untuk disedekahi, hampir semua orang sudah hidup serba berkecukupan (Jauzi, 2013:230). Selain berhasil meningkatkan taraf kehidupan rakyat, Umar bin Abdul Aziz juga berhasil meredam konflik dengan golongan Syi’ah (Manshur, 2003:174).

Permasalahan yang dibahas adalah.
                       Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka diambil rumusan masalah sebagai berikut:
·       Bagaimana latar belakang dan proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah?
·       Bagaimana sistem pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz
·       Bagaimana praktik pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz?

Tujuan penelitian ini adalah.
           Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
·        Mengkaji lebih mendalam tentang latar belakang dan proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah;
·        Mengkaji lebih mendalam tentang sistem pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz;
·        Mengkaji lebih mendalam tentang praktik pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Manfaat penelitian ini adalah.
·Penulis, untuk memperdalam tentang Asia Barat khususnya mengenai pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz
·Ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah perbendaharaan ilmu sejarah.
·Masyarakat umum, agar dapat menambah wawasan tentang sejarah dunia khususnya mengenai sejarah yang terjadi di Asia Barat.
·FKIP Universitas Jember, dapat memberi informasi dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan sebagai wujud nyata dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Dharma Penelitian.

METODE PENELITIAN
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau (Gottschalk, 2008:39). Menurut Garraghan (dalam Nugroho, 1984:10) metode sejarah adalah sekumpulan prinsip dan aturan yang sistematis yang dimaksudkan untuk memberikan bantuan secara efektif dalam usaha mengumpulkan bahan-bahan bagi sejarah, menilai secara kritis dan kemudian menyajikan suatu sintesa darIpada hasil-hasilnya.
            Menurut Kuntowijoyo (2013:69), penelitian sejarah memiliki lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik; (2) pengumpulan sumber (heuristik); (3) kritik sumber (verifikasi sejarah dan keabsahan sumber); (4) interpretasi (analisis dan sintesis); (5) penulisan (historiografi). 
1. Pemilihan Topik
                        Menurut Kuntowijoyo (2013:70) topik sebaiknya dipilih berdasarkan: (1) kedekatan emosional; dan (2) kedekatan intektual. Pada tahap ini peneliti memilih topik tentang sejarah politik di kawasan Asia Barat dengan fokus penelitian tentang pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Topik ini dipilih karena penulis menganggap bahwa Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok pemimpin yang patut untuk diteladani sikapnya.

2. Heuristik
            Langkah selanjutnya dalam penelitian ini, adalah heuristik. Heuristik adalah proses pengumpulan sumber-sumber yang mendukung dalam penelitian tersebut (Gottschalk, 2008:46).
            Pada kegiatan ini penulis mencari dan mengumpulkan bahan-bahan atau jejak-jejak sejarah (sumber) yang berkaitan dengan materi Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz tahun 717-720, baik berupa buku, laporan penelitian, skripsi, maupun dokumen. Penulis berusaha mengumpulkan sumber, baik itu sumber primer maupun sumber sekunder.

3. Kritik
            Setelah sumber-sumber yang dianggap relevan telah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah penulis melakukan kritik. Kritik adalah kegiatan untuk menguji otentitisitas dan kredibilitas dari sumber-sumber yang telah di kumpulkan (Gottschalk, 2008:80).
            Kritik sumber sejarah itu ada dua kegiatan yang dilakukan yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal yaitu mencoba untuk menguji otentisitas serta integritas sebuah sumber sejarah, sedangkan kritik internal adalah mencoba melihat dan menguji dari “dalam” kredibilitas isi dari sumber-sumber sejarah (Sjamsuddin, 1996:118).
            Pada tahap kritik ektern ini penulis melakukan pengecekan terhadap pengarang, sampul, judul buku, latar belakang pengarang apakah memang relevan atau tidak untuk dijadikan sumber. Pada tahap kritik intern penulis melakukan perbandingan sumber yang didapat agar penulis memperoleh sumber-sumber yang mengandung informasi yang akurat dan benar. Hasil dari kritik sumber ini adalah berupa fakta-fakta sejarah.

4. Interpretasi
                        Interpretasi adalah kegiatan untuk menafsirkan dan menetapkan makna yang saling berhubungan antar fakta-fakta sejarah. Menurut Kuntowijoyo (2013:78), terdapat dua metode yang digunakan dalam interpretasi yaitu analisis dan sintesis.
                        Pada tahap ini peneliti melakukan analisis terhadap fakta-fakta yang telah diperoleh dari berbagai sumber yang telah dikritik secara ekstern maupun intern. Setelah analisis fakta dilakukan kemudian peneliti melakukan sintesis terhadap fakta-fakta tersebut sehingga menjadi fakta yang kronologis dan sesuai dengan aspek pembahasan.

5. Historiografi
            Langkah terakhir dalam penelitian sejarah adalah historiografi. Menurut Gottschalk (2008:167), historiografi adalah kegiatan akhir dari langkah penelitian sejarah yang merupakan kegiatan merekonstruksi secara imajinatif fakta-fakta sejarah yang disebutkan secara terpisah.
            Pada tahap ini fakta-fakta yang telah dikritik, dianalisis dan disintesis serta ditafsirkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang logis, kemudian dikisahkan secara harmonis dan kronologis berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat oleh peneliti. Fakta-fakta sejarah itu disusun dalam sebuah cerita yang berupa deskripsi. Pada penelitian ini tahap hitoriografi ini diwujudkan dalam sebuah karya skripsi yang berjudul “Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Tahun 717-720” .

HASIL DAN PEMBAHASAN
                        Pada bagian ini dipaparkan mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilaksanakan selama penelitian.
A. Latar belakang dan proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah Dinasti Umayyah tahun 717
            Latar belakang pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah Dinasti Umayyah terdiri dari dua faktor yaitu pertama karena sosok dan kepribadiannya dan kedua adalah perannya dalam pemerintahan sebelum dirinya menjabat sebagai khalifah. Berikut ini uraian menganai dua faktor itu.
1. Sosok dan kepribadian Umar bin Abdul Aziz
            Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 608 di Damaskus. Ayah dan ibunya berasal dari dua nasab besar bangsa Arab. Keduanya merupakan orang yang terpandang di golongannya masing-masing. Ayah Umar bin Abdul Aziz yaitu Abdul Aziz bin Marwan merupakan bangsawan dari Bani Umayyah. Ibu dari Umar bin Abdul Aziz bernama Ummu Ashim binti Ashim binti Umar bin Al-Khattab. Ummu Ashim adalah cucu dari Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab (Faizi, 2012:4).  Berdasarkan nasab kedua orang tua Umar bin Abdul Aziz itu, dapat terlihat bahwa Umar bin Abdul Aziz dilahirkan dari keluarga bangsawan yang memegang teguh ajaran agama Islam. Faktor keturunan ini sedikit banyak nantinya akan mempengaruhi kepribadian Umar bin Abdul Aziz.
            Kepribadian Umar bin Abdul Aziz paling banyak dipengaruhi oleh pendidikan dari keluarga dan guru-gurunya. Umar bin Abdul Aziz tumbuh besar di Madinah. Sejak kecil Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok anak yang gemar menuntut ilmu dan belajar tentang agama. Umar bin Abdul Aziz sering menghadiri majelis ilmu di Madinah yang pada saat itu merupakan pusat ilmu pengetahuan tentang agama, penuh dengan para ulama, ahli fikih dan orang-orang shaleh (Shalabi, 2013:20). Umar bin Abdul Aziz juga belajar agama melalui guru-gurunya yang diantaranya adalah Shalih bin Kaisan, Ubaidullah bin Utbah, dan Said bin Al Musayib. Kesemua guru agama Umar bin Abdul Aziz merupakan para ahli fikih, sehingga tentu saja Umar bin Abdul Aziz tumbuh menjadi orang yang ahli dalam bidang keagamaan. Umar bin Abdul Aziz selalu belajar dengan tekun tentang agama kepada para gurunya, dan gurunya pun mengajari Umar bin Abdul Aziz dengan tegas.
            Selain belajar agama dari guru-gurunya, Umar bin Abdul Aziz juga tekun dalam mempelajari Al Qur’an. Usia yang masih belia tidak menghalangi Umar bin Abdul Aziz untuk selalu belajar tentang Al Qur’an. Hasilnya di usianya yang masih tujuh tahun, Umar bin Abdul Aziz telah berhasil menghafalkan Al Qur’an. Al Qur’an memberikan pengaruh positif pada dirinya tentang Allah, kehidupan, alam semesta, akhirat, dan hakikat dari kematian.
            Faktor-faktor di atas itulah yang membuat Umar bin Abdul Aziz tumbuh menjadi pemuda yang mempunyai derajat keilmuan yang tinggi. Pada usia mudanya, dari dalam diri Umar bin Abdul Aziz sudah nampak jiwa kepemimpinannya. Sering kali Umar bin Abdul Aziz diminta untuk memberikan pendapat mengenai kebijakan yang diambil oleh para khalifah dan pejabat pemerintahan. Bahkan tidak jarang pula Umar bin Abdul Aziz melakukan kritik langsung kepada para pejabat pemerintahan dan khalifah jika kebijakannya bertentangan dengan hukum agama dan kepentingan rakyat.
            Begitulah gambaran mengenai sosok dan kepribadian Umar bin Abdul Aziz. Kepribadiannya telah terbentuk sejak Umar bin Abdul Aziz kecil. Pembentukan kepribadian itu tidak lepas dari peran keluarga dan gurunya selain memang pada dasarnya Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok anak yang gigih dan tekun dalam belajar ilmu agama. Kepribadian dan kapasitas ilmu yang dimiliki oleh Umar bin Abdul Aziz membuat Umar bin Abdul Aziz menjadi orang yang diperhitungkan dalam pemerintahan Dinasti Umayyah.

2. Peran Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahan sebelum mejabat sebagai khalifah
            Pada bulan Rabi’ul Awal tahun 705 Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Madinah oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. Pada saat itu Umar bin Abdul Aziz berusia dua puluh lima tahun. Umar bin Abdul Aziz diberikan wilayah kekuasaan di Madinah termasuk juga Mekkah, dan Tha’if (Jauzi, 2013:48). Umar bin Abdul Aziz menggantikan gubernur Madinah terdahulu yaitu Hajjaj bin Yusuf. Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah tidak lepas dari ilmu dan kepribadian yang dimiliki oleh Umar bin Abdul Aziz. Khalifah Walid bin Abdul Malik menganggap bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah sosok yang cocok untuk memimpin Madinah sebab Umar bin Abdul Aziz telah lama tinggal di Madinah.
            Kebijakan pertama yang diambil oleh Umar bin Abdul Aziz adalah membentuk majelis permusyawaratan di Madinah. Umar bin Abdul Aziz kemudian memanggil sepuluh orang ahli fikih ke  Madinah. Kesepuluh ahli fikih itu di antaranya adalah Urwah bin Zubair, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, Sulaiman bin Yasar, Qashim bin Muhammad, Salim bin Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abdullah bin Umar, Abdulah bin Rabi’ah, dan Kharijah bin Said bin Tsabit (Abdurrahman, 2013:236). Majelis permusyawaratan yang dibentuk oleh Umar bin Abdul Aziz ini mempunyai fungsi untuk memutuskan suatu perkara dan bertindak sebagai pengawas dari gubernur dan pejabat pemerintahan. Selain pembentukan majelis pemusyawaratan itu, Umar bin Abdul Aziz juga melakukan perbaikan dan perluasan terhadap masjid Rasulullah SAW. Perluasan dan perbaikan itu merupakan perintah dari Khalifah Walid bin Abdul Malik. Padahal Umar bin Abdul Aziz termasuk pemimpin yang tidak terlalu suka menghiasi masjid (Shalabi, 2013:33). Pada tahun 709 Umar bin Abdul Aziz mengundurkan diri karena penyiksaan yang dilakukannya terhadap khubaib serta pandangannya yang tidak lagi sejalan dengan Walid bin Abdul Malik.
            Pada tahun 714 Umar bin Abdul Aziz kembali diangkat menjadi penasehat oleh Sulaiman bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik ini, peran Umar bin Abdul Aziz cukup besar. Sulaiman bin Abdul Malik mempercayai Umar bin Abdul Aziz. Hampir semua kebijakan dari Sulaiman bin Abdul Malik dipengaruhi oleh pemikiran Umar bin Abdul Aziz. Nasehat Umar bin Abdul Aziz pertama kali kepada Sulaiman bin Abdul Malik adalah memecat para pejabat pemerintahan peninggalan khalifah Walid bin Abdul Malik yang bekerja sewenang-wenang. Salah satu contohnya adalah Hajjaj bin Yusuf diberhentikan sebagai gubernur Irak (Jauzi, 2013:56). Selain nasehat itu, Umar bin Abdul Aziz juga menasehati Sulaiman bin Abdul Malik bahwa semua perbuatannya harus berlandaskan atas syariat Islam bukan yang lainnya dan menyuruh Sulaiman bin Abdul Malik senantiasa mendengar keluhan dari rakyatnya sebab pemimpin kelak akan bertanggung jawab atas rakyatnya di hari kiamat.
            Pada tahun 717 Sulaiman bin Abdul Malik jatuh sakit dan memutuskan untuk mencari pengganti dari dirinya sebagai khalifah. Setelah berdiskusi dengan salah satu penasehatnya yaitu Raja’ Sulaiman bin Abdul Malik akhirnya memutuskan bahwa dirinya mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah selanjutnya dan dilanjutkan oleh Yazid bin Abdul Malik. Pada tahun 717 akhirnya Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah Dinasti Umayyah yang ke delapan.

B.  Sistem pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz tahun 717-720
            Sistem pemerintahan yang digunakan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah sistem pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan Islam yang dipakai oleh Umar bin Abdul Aziz adalah sistem pemerintahan Islam sebagaimana yang telah dijalankan oleh para Khulafaur Rasyidin yaitu sistem khilafah. Sistem khilafah adalah suatu kekuasaan yang dipegang oleh para pemimpin untuk menjaga agama dan melaksanakan kebijaksanaan untuk peristiwa keduniaan atau dengan kata lain kepemimpinan yang menyeluruh dalam masalah agama dan masalah keduniaan (Mohammed, 1983:56). Orang yang memimpin di dalam sistem pemerintahan ini disebut dengan khalifah. Khalifah mempunyai kedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, jadi tugas khalifah ini adalah mengatur jalannya roda pemerintahan dengan berbagai macam kebijakannya agar pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Tidak hanya mengatur jalannya pemerintahan, seorang khalifah mempunyai tanggung jawab untuk selalu menegakkan syariat-syariat Islam di dalam tata kelola pemerintahannya maupun di dalam kehidupan rakyatnya.
            Umar bin Abdul Aziz menjadikan Al Qur’an dan Hadist sebagai landasan atau dasar dari pemerintahan. Dalam pemerintahan Umar bin Abdul Aziz terdapat beberapa lembaga kenegaraan yang mempunyai tugas dan funsgi yang berbeda namun tetap berkaitan satu sama lain. Adapun lembaga-lembaga negara yang ada pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz diantaranya adalah gubernur, anggota dewan, baitul mal, pertahanan negara, pemegang stempel negara, dan organisasi kehakiman.
            Pada pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, pertama lembaga yang bertindak sebagai lembaga legislatif adalah anggota dewan dan khalifah. Kedua adalah lembaga yang bertindak sebagai lembaga eksekutif adalah baitul mal, gubernur, pemegang stempel negara, pertahanan negara dan khalifah itu sendiri. Ketiga adalah lembaga yang bertindak sebagai lembaga yudikatif adalah organisasi kehakiman dan khalifah.
            Berdasarkan uraian di atas dapat terlihat bahwa seorang khalifah mempunyai 3 fungsi berbeda yaitu fungsi untuk membuat dan mengesahkan undang-undang, menjalankan undang-undang, dan melakukan peradilan terhadap lembaga atau seseorang yang melanggar undang-undang itu. Jadi peran khalifah pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah khususnya pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz begitu besar, seorang khalifah mempunyai wewenang penuh atas apa yang akan dilakukan oleh bawahannya dan mau dibawa ke arah mana negara yang dipimpinnya.

·     Praktik pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz tahun 717-720
            Praktik pemerintahan yang dijalankan oleh Umar bin Abdul Aziz terdiri dari program dan kebijakan yang diterapkannya serta dampak yang terjadi akibat program dan kebijakan itu. Berikut ini akan dijelaskan mengenai program dan kebijakan serta dampak yang diberikan akibat program dan kebijakan tersebut.
1. Program dan kebijakan
            Program dan kebijakan yang diterapkan oleh Umar bin Abdul Aziz meliputi kebijakan-kebijakan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan agama. Kebijakan dalam bidang politik meliputi:
a) memperbaiki mental para pejabat pemerintahan dengan cara mengangkat para pejabat pemerintahan yang memiliki ketakwaan yang tinggi dan memecat para pejabat pemerintahan yang bertindak sewenang-wenang;
b)  mengambil sikap terhadap kelompok-kelompok yang menyimpang diantaranya adalah kelompok khawarij, syi'ah, dan qadariyah;
c)  menjadikan rakyat sebagai prioritas utama dalam segala kebijakan.
                        Kebijakan dalam bidang eknomi meliputi:
a)  mengelola pemasukan negara yaitu melalui jizyah, usyur, khiraj, dan zakat;
b)  mengelola pengeluaran negara dengan memaksimalkan pengeluaran negara untuk rakyat dan meminimalkan pengeluaran negara untuk negara;
c)  menerapkan konsep ekonomi bebas;
d)  meningkatkan perekonomian melalui pertanian dengan cara meniadakan pajak terhadap tanah khiraj dan menghapus pajak dari para petani  (Lewis, 1988:72);
e)  meningkatkan perekonomian melalui perdagangan dengan menghapuskan pajak terhadap pedagang lokal dan melarang pejabat pemerintahan untuk memonopoli perdagangan.
            Kebijakan dalam bidang sosial meliputi peningkatan taraf hidup masyarakat melalui perekonian dan pendidikan. Umar bin Abdul Aziz menjadikan masjid dan madrasah sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Terakhir adalah kebijakan dalam bidang agama meliputi pembukuan atas hadist-hadist nabi dan penafsiran terhadap Al Qur'an yang dilakukan oleh para ulama dan ahli fikih.

2. Dampak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz
            Dampak yang terjadi di masyarakat dengan dijalankannya program dan kebijakan seperti di atas yaitu terciptanya situasi politik yang stabil dan kehidupan rakyat menjadi semakin sejahtera.
            Situasi politik pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz bisa dikatakan cukup stabil jika dibandingkan dengan situasi politik pada masa khalifah-khalifah sebelumnya. Tidak ada pertentangan yang terjadi baik dari pihak internal pemerintahan maupun dari pihak rakyat. Dari dalam internal pemerintahan jarang sekali ditemui pejabat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang melakukan penyelewengan, walaupun ada dan diketahui oleh Umar bin Abdul Aziz maka pejabat itu akan langsung diberikan sangsi oleh Umar bin Abdul Aziz. Pihak luar pemerintahan atau rakyat juga tidak pernah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Biasanya pada masa khalifah-khalifah sebelumnya banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat biasa dan para kaum pemberontak yang diwakili oleh golongan syi’ah dan khawarij. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz rakyat tidak lagi melakukan pemberontakan. Hal itu jelas disebabkan karena Umar bin Abdul Aziz merupakan pemimpin yang memperhatikan kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya (Hitti, 2013:278).
            Dampak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz juga cukup besar bagi kehidupan rakyat. Kehidupan rakyat menjadi lebih baik dibandingkan dengan pada masa khalifah-khalifah sebelumnya. Perekonomian rakyat semakin membaik dan rakyat juga mendapatkan pendidikan yang cukup. Bahkan terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa sangat sulit untuk mencari orang yang bisa untuk disedekahi, hampir semua orang sudah hidup berkecukupan (Jauzi, 2013:230). Berdasarkan riwayat tersebut dapat terlihat bahwa kehidupan rakyat pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sudah cukup makmur.
            Sayangnya pemerintahan Umar bin Abdul Aziz tidak berlangsung lama. Pada tahun 720 tepatnya pada bulan Rajab setelah Umar bin Umar bin Abdul Aziz kemudian jatuh sakit dan tidak lama kemudian Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia. Penyebab meninggalnya Umar bin Abdul Aziz beberapa sumber mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz jatuh sakit karena diracun oleh pembantunya sendiri atas suruhan keluarga Umayyah hingga akhirnya Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia (Jauzi, 2013:423). Umar bin Abdul Aziz meninggal pada hari Jum’at tanggal 20 Rajab tahun 720. Umar bin Abdul Aziz meninggal pada usia tiga puluh sembilan tahun. Umar bin Abdul Aziz dimakamkan di dekat kediamannya di wilayah Mar’ah di negeri Syam atau Syria.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Berdasarkan pemaparan hasil penelitian dan pembahasan pada bab empat, lima, dan enam, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
            Latar belakang dan proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah Dinasti Umayyah. Latar belakang diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah Dinasti Umayyah terdiri dari dua faktor. Pertama adalah kepribadian dan derajat keilmuan Umar bin Abdul Aziz yang memang berbeda dengan kebanyakan pemuda lainnya. Kedua adalah peran Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahan sebelum dirinya menjadi khalifah Dinasti Umayyah. Proses pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah dilakukan pada tahun 717 menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik sebagai khalifah.
            Sistem pemerintahan Umar bin Abdul Aziz adalah sistem pemerintahan Islam. Lebih tepatnya adalah sistem khilafah. Pemimpin dari sistem ini adalah seorang khalifah yang menjabat sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Lembaga-lembaga pemererintahan pada Masa Umar bin Abdul Aziz terdiri dari Anggota dewan, penasehat, baitul mal, pertahanan negara, pemegang stempel negara, dan gubernur. Khalifah bertanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan dan kinerja lembaga-lembaga tersebut.
            Praktik pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, dalam bidang politik Umar bin Abdul Aziz melakukan pembenahan terhadap para pejabat pemerintahannya, mengambil sikap terkait dengan para kelompok yang membahayakan negara, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Dalam bidang ekonomi Umar bin Abdul Aziz memberikan perubahan terkait pemasukan negara. Umar bin Abdul Aziz mengurangi pemasukan negara dengan berbagai macam langkahnya. Umar bin Abdul Aziz juga melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan perekonomian rakyat melalui pertanian dan perdagangan sebab bertani dan berdagang merupakan mata pencaharian utama rakyat. Dalam bidang sosial Umar bin Abdul Aziz berusaha meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan perekonomian rakyat dan menghidupkan kembali madrasah-madrasah yang sudah lama tidak berfungsi untuk dijadikan tempat menuntut ilmu. Dalam bidang agama Umar bin Abdul Aziz menyuruh para ulama untuk menafsirkan Al Qur’an dengan benar dan menuliskannya agar dapat dipelajari oleh masyarakat. Umar bin Abdul Aziz mengambil langkah untuk melestarikan hadist nabi dengan tujuan agar hadist-hadist tersebut tidak hilang dan dapat dipelajari oleh semua kalangan.
                        Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan saran untuk beberapa pihak, yaitu: bagi mahasiswa sejarah sebagai calon guru sejarah, hendaknya selalu menambah wawasan tentang materi kesejarahn dalam pendidikan sehingga dapat menunjang profesionalismenya sebagai guru sejarah yang profesional khususnya mengenai materi tentang pemerintahan Umar bin Abdul Aziz;
                         
DAFTAR RUJUKAN
Ash-Shalabi, Ali Muhammad. 2013. Umar bin Abdul Aziz Khalifah Pembaharu dari Bani Umayyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Faizi, Herfi Ghulam. 2012. Umar bin Abdul Aziz 29 Bulan MengubaDunia. Jakarta: Cahaya Siroh.
Gottschalk, Louis. 2008. Mengerti Sejarah. Terjemahan oleh Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press.
Hitti, Philip. K. 2013. History Of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
[auzi, Abul Faraj A.A.I. 2013. Kisah Pemimpin Legendaris Umar bin Abdul Aziz. Banyumas: Buana Ilmu Islami.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana.
Lewis, Bernard. 1988. Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Manshur, Fadlil M. 2003. Petumbuhan dan Perkembangan Budaya Arab Pada Masa Dinasti Umayyah. Jurnal Humaniora. Vol. 15: 172-180.
Notosusanto, Nugroho. 1984. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Sebuah pengalaman). Jakarta: UI Press.
S, Mohammed. 1983. Sistem politik dalam pemerintahan Islam. Surabaya: Bina Ilmu.
Sjamsuddin, Helius. 1996. Metodologi Sejarah. Jakarta: D dan K.