Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA



PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

 Shendy Andrie Wijaya

Abstrak: Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: a)Ingin mengkaji lebih jauh tentang penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi pokok “Permintaan dan Penawaran” . SMPN 9 Jember.; b)Meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar IPS di  SMPN 9 Jember; 3)Meningkatkan kualitas proses pembelajaran bidang studi  IPS sehingga siswa menjadi aktif dan produktif.; 4)Meningkatkan kemampuan guru dalam penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran IPS; 5)Untuk membantu memecahkan masalah yang timbul pada pembelajaran bidang studi IPS. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan langkah langkah Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi dan Refleksi. Hasil Penelitian: Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi  permintaan dan penawaran.  Dari kondisi awal  ketuntasan baru mancapai. 45 %, Pada siklus kedua dapat mencapai 91 %. Dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran bidang studi  IPS sehingga siswa menjadi aktif dan produktif

     Kata Kunci:  Metode Demonstrasi , Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah mulai dari SD sampai SMP. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang pendidikan SMP, mata pelajaran IPS memuat materi tentang Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
Pada masa yang akan datang siswa akan menghadapi tantangan yang semakin berat, karena kehidupan masyarakat di era globalisasi saat ini selalu mengalami perubahan. Alasan itulah mengapa mata pelajaran IPS dirancang secara sistematis, komprehensif, dan terpadu untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Melalui pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
Tujuan mata pelajaran IPS yaitu agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1.   Mengenal  konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan  masyarakat dan lingkungannya
2.   Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis, kritis dan kreatif, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
3.   Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4.   Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global (Depdiknas, 2006).
Metode mengajar yang diterapkan dalam suatu pengajaran dikatakan efektif apabila tujuan pembelajarannya tercapai. Jadi, semakin tinggi tingkat ketercapaian tujuan pembelajarannya, maka keberhasilan metode tersebut bisa dikatakan efektif. Sedangkan suatu metode dikatakan efisien apabila penerapannya dalam mencapai tujuan yang diharapkan itu relatif menggunakan tenaga, usaha, pengeluaran biaya dan waktu minimum. Oleh sebab itu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan, maka seorang guru harus memilih metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik.
Proses pembelajaran menyangkut kegiatan guru dan siswa di dalam kelas. Pada kegiatan proses pembelajaran ini terjadi suatu interaksi komunikasi yang sifatnya transformasi antara guru dengan siswa, yang pada dasarnya guru berusaha agar siswa mencapai tujuan yang ditetapkan dalam proses pembelajaran. Kelas merupakan bentuk intregatif dari berbagai komponen  pendidikan dan pengajaran, yang mana tiap-tiap komponen memainkan peran sesuai dengan fungsinya. Guru dan siswa merupakan salah satu komponen aktif yang harus mampu memfungsikan komponen lainnya secara maksimal sesuai dengan tujuannya. Atas dasar itulah, tugas guru adalah menyusun perencanaan dan progam kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Untuk itu, dengan berorientasi pada tujuan pembelajaran, merencanakan metode/pendekatan yang akan digunakan, alat/media pembelajaran yang diperlukan; dan menyelesaikan bahan ajar atau materi pengajaran yang perlu dipelajari siswa, seorang guru harus melakukan kegiatan tersebut.
Efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran banyak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya guru, materi, metode dan media yang terintegrasi dalam proses pembelajaran. Banyak penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi indikator-indikator efektifitas pembelajaran. Dari penelitian itu muncul beberapa sintesis penelitian yang mengikuti paradigma process-product.
Metode mengajar sangat diperlukan oleh seorang guru, dimana guru sebagai pemegang manajemen kelas yang akan menentukan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan yang hendak dicapai. Menurut pendapat Nasution (1982:54) dalam proses pembelajaran guru harus menggunakan metode yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif. Dalam penentuan, metode ini belum diketahui tentang cara pemilihan metode yang tepat, metode dapat dikatakan baik setelah diterapkan pada diri siswa yang dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Maka dengan pemilihan strategi pembelajaran dengan memilih model dan metode pembelajaran yang tepat untuk siswa, tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang digunakan oleh seorang guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara klasikal agar suatu pelajaran tersebut dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pendapat lain menyatakan bahwa metode mengajar merupakan cara yang digunakan oleh guru untuk  menghubungkan dengan siswa pada saat berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diuraikan bahwa metode mengajar adalah cara mengajar yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Deskripsi uraian di atas kiranya telah cukup menunjukkan, bahwa pada arah praktis terdapat sebuah persoalan serius menyangkut kualitas pembelajaran IPS dimaksud ternyata tidak cukup memadai untuk diatasi dengan sekedar merubah preferensi teknik pembelajaran yang diterapkan oleh guru pengajar.
metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat diuraikan bahwa metode mengajar adalah cara mengajar yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar.
            Melalui model/metode yang lama banyak siswa beranggapan bahwa pembelajaran IPS membosankan karena pembelajaran dengan menggunakan metode/model yang konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru dan tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan mengemukakan argumentasinya selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Padahal dalam tujuan pembelajaran diharapkan siswa memahami terhadap apa yang dipelajari, sehingga dibutuhkan penerapan dan pengembangan model secara optimal agar mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk itu perlu pembaharuan dalam metode/model pembelajaran khususnya pembelajaran IPS.
            Berdasarkan uraian diatas maka penulis melakukan upaya peningkatan hasil belajar siswa selama kegiatan belajar mengajar dengan pembelajaran metode demonstrasi.

Rumusan Masalah
Masalah yang akan dicarikan solusi pemecahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Apakah penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS  pada materi Permintaan dan Penawaran ?

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
  1. Ingin mengkaji lebih jauh tentang penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi pokok “Permintaan dan Penawaran” . SMPN 9 Jember..
  2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar IPS di  SMPN 9 Jmeber.
  3. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran bidang studi  IPS sehingga siswa menjadi aktif dan produktif.
  4. Meningkatkan kemampuan guru dalam penerapan metode demonstrasi pada pembelajaran IPS.
  5. Untuk membantu memecahkan masalah yang timbul pada pembelajaran bidang studi IPS.

Manfaat Penelitian
Manfaat dan nilai guna yang diharapkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk sekolah, hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat dalam rangka pengayaan dan menambah pengetahuan tentang penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi energi dan kegunaannya.
  2. Bagi tenaga pengajar sebagai masukan dalam rangka pemantapan penerapan metode mengajar, sehingga bisa bermanfaat bagi guru maupun siswa.
  3. Bagi siswa agar bermanfaat meningkatkan prestasi belajar dalam bidang studi IPS.
  4. Bagi pembaca, hasil penelitian ini merupakan informasi penting yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka untuk mengadakan perubahan dan penyempurnaan teknik pengajaran sehingga diharapkan dapat menghasilkan   pembelajaran yang bermutu.
  5. Bagi peneliti merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam penelitian ilmiah, sehingga mampu memotivasi dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian
            Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Adapun desain siklus tindakan Hopkins adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Model Penelitian Hopkins  (PGSM, 1999:8)


Penelitian Tindakan Kelas dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga siklus (tentative) dan setiap siklus memuat empat tahapan. Setiap siklus akan dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang dicapai seperti yang telah didesain dalam faktor-faktor yang diselidiki untuk mengetahui kualitas pembelajaran siswa.
1.    Tahap Perencanaan Tindakan
            Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perenacanaan ini merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang akan direncanakan terlebih dahulu. Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana guru disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya metode demonstrasi. Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk melakukan demonstrasi. Selainitu yang terpenting yaitu guru harus memberikan informasi atau penjelasan tentang masalah tugas yang akan didemonstrasikan dan dieksperimenkan, disamping mempersiapkan kondisi belajar siswa. 

2.    Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan
            Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi guru selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, guru memberikan materi secara umum, dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan didemonstrasikan dan dieksperimenkan serta jenis demonstrasi yang akan diterapkan. Berikutnya yaitu siswa dibentuk kelompok dengan tujuan untuk mempermudah demonstrasi. Tahap selanjutnya merupakan proses berlangsungnya demonstrasi. 
            Dimana siswa dituntut aktif dalam menyampaikan / mempresentasikan setiap topik permasalahan yang sudah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan metode pengajaran ini guru dapat merangsang seluruh siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam jalannya demonstrasi. Keaktifan siswa/peserta demonstrasi dapat berupa pengamatan pengumpulan data, percobaan dan analisa terhadap para murid dan lain sebagainya. Pada tahap kedua ini merupakan proses berlangsungnya demonstrasi.        Menurut “Kerlinger” mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar. Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui demonstrasi. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya metode demonstrasi dalam meningkatkan minat belajar siswa.

3.    Tahap Observasi/Pengamatan
            Menurut “Kerlinger” mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui demonstrasi. Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya metode demonstrasi dalam meningkatkan minat belajar siswa.

Tempat Penelitian
Tempat penelitian disini ditetapkan di SMPN 9 Kelas VIII B dengan alasan kurangnya minat dan hasil belajar siswa yang rendah khususnya dalam pelajaran IPS, sehingga dengan diterapkannya metode demonstrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan dapat menghasilkan siswa yang berkualitas. 
Dengan menerapkan metode demonstrasi ini diharapkan dapat mengefektifkan pembelajaran khususnya untuk pembelajaran IPS. Rencana penerapan metode demonstrasi ini berguna untuk meningkatkan mutu belajar siswa. Alasan pemilihan subjek dalam penelitian ini karena melihat siswa di sekolah tersebut masih kurang merespon terhadap pembelajaran yang telah disampaikan oleh guru khususnya pada mata pelajaran IPS. Maka dari itu guru disini mencoba untuk menerapkan metode pembelajaran untuk meningkatkan responsibilitas siswa yaitu menerapkan metode demonstrasi dengan harapan nantinya akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. 

 Metode Pengumpulan Data
            Dalam pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :
  1. Observasi/pengamatan
Observasi adalah suatu cara untuk mengadakn penilaian dengan jalan pengamatan secara langsung dan sistematis. Data-data yang diperoleh dicatat dalam suatu catatan observasi, kegiatan pencatatan merupakan bagian dari suatu pengamatan, data yang diperoleh dari observasi berupa keaktifan siswa dikelas densituasi proses belajar mengajar dengan penerapan metode demonstrasi.
  1. Tes
Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian berbentuk tugas yang harus dikerjakan oleh siswa baik individu atau kelompok sehingga menghasilkan nilai yang nantinya dapat dibandingkan dengan nilai siswa lain sesuai dengan nilai standar yang ditetapkan. Tes ini dapat menggunakan tes tertulis dengan tipe essay.

  1. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan cara tanya jawab yang dilakukan oleh pewawancara terhadap narasumber (Ariknto, 1990:132) dalam wawancara ini siswa dapat melihat satu sama lain dan dapat mendengar dengan teliti dalam situasi yang bebas dan terarah guna mendapatkan informasi yang ingin diperoleh.

  1. Angket/Kuesioner
Angket adalah suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diperlukan pada subjek penelitian baik secara individu maupun kelompok mengenai minat/kemauan, perilaku dan lain-lain (Hadjar, 1996:181).

Analisis Data
            Dijelaskan oleh Moleong (1993:103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran IPS.
            Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran IPS, dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti angket, observasi, wawancara dan tes yaitu dengan mengumpulkan data yang telah tersebut diatas, sehingga dapat diketahui efektif atau tidak metode demonstrasi digunakan untuk meningkatkan hasil belajarsiswa khususnya mata pelajaran IPS. 


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
     Hasil observasi selama kegiatan proses pembelajaran berlangsung diperoleh data dan informasi bahwa mayoritas peserta didik terlibat aktif secara mental dan fisik. Partisipasi tersebut terlihat dalam hal kemauan atau keberanian siswa untuk memberikan pendapat mereka dengan memberikan penjelasan kepada sesama teman dalam kelompok. Para peserta didik juga saling memberikan argumentasi untuk memberikan pendapat yang mereka kemukakan selama diskusi. Meskipun masih juga saling memberikan argumentasi untuk mempertahankan pendapat yang mereka kemukakan. Meskipun masih ada juga siswa yang kurang berani ambil bagian dalam demonstrasi, namun demikian jumlah kejadian ini tidak terlalu besar. Sehingga partisipasi siswa tersebut jauh lebih baik dibandingkan hasil observasi pada studi pendahuluan yakni ketika guru menggunakan metode demonstrasi.
Metode demonstrasi yang dilaksanakan oleh guru dalam menyampaikan materi berdampak pada peningkatan keaktifan belajar. Hal ini tampak pada partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa.  Peningkatan aspek tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan aspek psikologis siswanya. Secara mendetail penerapan metode demonstrasi terhadap peningkatan aspek-aspek tersebut disajikan pada paparan berikut.
Hasil perbandingan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sebelum dan sesudah guru menggunakan metode demonstrasi selengkapnya disajikan dalam tabel dan grafik berikut ini.

Tabel 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran IPS Sebelum Tindakan, Siklus I dan Siklus II.

Kriteria
Nilai
Sebelum Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
<65
12
55
2
9
0
0
66-75
8
36
7
32
2
9
76-100
2
9
13
59
20
91
Jumlah
22
100
22
100
22
100

Sumber:  Data penelitian yang diolah
Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Dalam Proses Pembelajaran IPS Sebelum Tindakan, Siklus I dan Siklus II.

Ketuntasan hasil belajar siswa dari masing-masing siklus atau tindakan ada peningkatan: Pada kondisi awal siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 12 siswa dengan prosentase 55%, siswa yang mendapat nilai antara 66-75 sebanyak 8 siswa dengan prosentase 36% dan siswa yang mendapat nilai antara 76-100 sebanyak 2 siswa atau 9%.
Kelompok ini merupakan siswa yang tidak  tuntas, dan perlu ditingkatkan semaksimal mungkin. Pada Siklus I menunjukkan peningkatan pada hasil belajar siswa yaitu siswa yang mendapat nilai <65 sebanyak 2 siswa dengan prosentase 9%, sedangkan yang mendapat nilai 66-75 sebanyak 7 siswa dengan prosentase 32%, siswa mendapat nilai antara 76-100 sebanyak 13 siswa atau 59%.
Pada Siklus II siswa yang mendapat nilai antara 76-100 sebanyak 20 siswa atau 91%, siswa yamg mendapat nilai antara 66-75 hanya 2 siswa atau 9% dan yang mendapat nilai dibawah <65 tidak ada atau 0%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II sudah sangat baik dan tidak perlu lagi untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran .

 Pembahasan
            Peningkatan aspek aktivitas tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan aspek psikologis penting lainnya, yakni minat siswa terhadap materi pelajaran. Untuk mengetahui proses pembelajaran agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka dalam pembelajaran menggunakan metode demonstrasi. Dengan maksud guru ingin memperjelas bahan pelajaran yang diberikannya secara lebih pasti melalui pengamatan, pengumpulan data, analisa, dan sebagainya terhadap para murid.
            Penerapan metode demonstrasi memungkinkan guru dapat memberikan perhatian kepada setiap siswa sehingga terjadi hubungan yang lebih dekat antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Sehingga akan terjadi interaksi yang lebih baik antara dua atau lebih siswa yang terlibat dan saling tukar pendapat serta informasi untuk membahas masalah yang mereka hadapi bersama. Pengajaran ini memungkinkan siswa lebih aktif dalam proses belajar.
            Hasil belajar yang diukur menggunakan tes hasil belajar sebelum penelitian hasil tindakan dilaksanakan, hasil belajar pada awal pembelajaran dan setelah menggunakan metode demonstrasi. Perbandingan kedua hasil belajar tersebut menunjukkan adanya peningkatan secara meyakinkan. Data pada sebelum penelitian dilaksanakan diperoleh nilai yang sangat rendah dari skor maksimal dan setelah menggunakan metode demonstrasi ada peningkatan yang sangat signifikan dari nilai awal dan dirasa bahwa hasil belajar siswa telah mencapai hasil yang memuaskan sehingga tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
            Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keefektifan penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam demonstrasi kesempatan siswa untuk ikut aktif memikirkan masalah atau materi yang dibahas jauh lebih besar. Siswa juga mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menanyakan masalah yang belum mereka mengerti baik langsung kepada guru maupun teman mereka sendiri. Lebih tegas lagi Imansjah Alipandie (1984) dalam bukunya didaktik metodik menjelaskan: apabila guru ingin lebih memperjelas bahan pelajaran yang diberikannya secara lebih pasti melalui pengamatan, pengumpulan data, analisa, dan sebagainya terhadap para murid 
Adanya peningkatan hasil belajarsiswa tersebut juga diikuti adanya perubahan aspek psikologi penting lainnya yakni minat siswa terhadap materi pelajaran IPS. Jumlah siswa yang merasa aktif terhadap pelajaran IPS lebih banyak setelah diterapkan metode demonstrasi dibandingkan dengan ketika mereka menerima pengajaran sebelumnya adanya peningkatan minat ini akan mendorong siswa berperilaku positif pada pembelajaran sehingga materi pelajaran lebih mudah dipahami.
            Hasil penelitian tersebut jika dicermati lebih dalam membawa implikasi bahwa penggunaan metode demonstrasi dan eksperimen perlu digunakan sebagai alternatif dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas. Meskipun kita sadari bahwa penerapan metode tersebut membawa kosekuensi yang besar terhadap beban guru. Beban kurikulum yang begitu besar tidak memungkinkan kepada guru untuk terlalu sering penerapan metode ini. Jika pertimbangan pemilihan metode pembelajaran hanya masalah waktu yang digunakan, metode demonstrasi perlu diterapkan sebagai metode alternatif dalam pembelajaran. Namun demikian sangat disadari bahwa ini hasil penelitian diperoleh dari penelitian dalam skala yang sangat kecil sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut dalam subjek dan pokok bahasan yang lebih luas.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari bahasan yang disampaikan pada paparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa:
  1. Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS materi  permintaan dan penawaran..
  2. Melalui penerapan metode demonstrasi secara nyata mampu meningkatkan efektifitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
  3. Aktifitas para peserta didik dalam proses belajar mata pelajaran IPS dengan metode demonstrasi cenderung meningkat.
  4. Minat siswa belajar mata pelajaran IPS mengalami peningkatan yang signifikan.

Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ada beberapa saran yang perlu diperhatikan :
  1. Dalam proses pembelajaran IPS ini sudah waktunya dilakukan dengan menggunakan strategi, teknik pembelajaran yang bervariasi, inovatif, dan kondusif.
  2. Kepada semua tenaga pengajar (guru) khususnya guru IPS agar dapatnya menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran sebagai metode alternatif proses belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial.
  3. Guru hendaknya memperhatikan dan aktif menerapkan metode demonstrasi dan model pembelajaran IPS yang aktual sehingga dalam pembelajaran dapat menghasilkan  siswa yang aktif dan produktif.
  4. Hendaknya guru dalam menyampaikan materi selalu menggunakan alat peraga sekalipun sangat sederhana, karna akan memudahkan siswa dalam penguasaan materi.
  5. Guru hendaknya memperhatikan siswa-siswinya baik secara individu maupun kelompok utamanya tentang gaya belajarnya.
  6. Untuk penelitian dan tenaga praktisi, penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan mengadakan penelitian yang sejenis dengan permasalahan yang berbeda.

DAFTAR   RUJUKAN
Depdiknas. 2004. Kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta: depdiknas
Djamarah, S.B. 1996. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hudoyo, H. 1990. Strategi belajar mengajar. Jakarta: Depdikbud dirjen Dikti Proyek pembinaan tenaga kependidikan.
Roestiyah. 1994. Masalah pengajaran sebagai suatu system. Jakrta :L rineka Cipta.
Suryadi. 1989. Membuat siswa aktif belajar. Bandung: Mondar Maju.
Tantra, D K. 1998. Penelitian tindakan kelas dasar dan pelaksanaan. Singaraja: P3M STKIP Singaraja.
Usman, C. 1997. Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Imansjah Alipandie Drs, 1984, Didaktik Metodik, Usaha Nasional, Surabaya
Mastur, Widiarso Wiyono, Slamet, 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD/MI Kelas I. Semarang : Aneka Ilmu.
KTSP, 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD. Depdiknas, Jakarta
Hobri. 2007. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru dan Para Praktisi, Jember: Universitas Jember
Sumardi Suryabrata, 1988. Metodologi Penelitian, Jakarta: CV. Rajawali.
Sudjana, N. 1992. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suranto, 2004. Media Pembelajaran. Jember: Universitas Jember.
Winkel, W. S. 1989. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.
Nazir, M. 1988. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Prosedur. Jakarta: Bumi Aksara.