Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PENERAPAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA MATERI AJAR “GERAK PARABOLA” SISWA KELAS XI-IPA 3 SMA NEGERI 4 JEMBER



PENERAPAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA MATERI AJAR “GERAK PARABOLA” SISWA KELAS XI-IPA 3 SMA NEGERI 4 JEMBER

Eny Setiowati

Abstrak: Tujuan Penelitian  untuk  mengkaji peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember melalui penerapan pendekatan SAVI.   Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas langkahnya rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, tahap observasi, tahap evaluasi  dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran fisika dengan pendekatan SAVI  mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Secara berturut-turut persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan II adalah 87% dan 97%.


     Kata Kunci: Pendekatan SAVI , Motivasi Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan (sekolah) merupakan wadah para siswa dalam menggali ilmu pengetahuan, salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat hasil belajar siswa adalah motivasi belajar yang ada pada diri siswa. Adanya motivasi belajar yang kuat membuat siswa belajar dengan tekun yang pada akhirnya terwujud dalam hasil belajar siswa tersebut. Oleh karena itulah motivasi belajar hendaknya ditanamkan pada diri siswa agar dengan demikian ia akan dengan senang hati akan mengikuti materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Perlu ditanamkan pada diri siswa bahwa dengan belajarlah akan mendapatkan pengetahuanyang baik, siswa akan mempunyai bekal menjalani kehidupannya di kemudian hari. Hal-hal yang dapat mempengaruhi motivasi belajar pada diri siswa dapat timbul dari dirinya sendiri, lingkungan sekolah maupun dari lingkungan keluarga. Dari lingkungan sekolah misalnya guru di samping mengajar juga hendaknya menanamkan motivasi belajar kepada siswa yang diajarnya.
Banyak siswa yang tidak termotivasi belajar mengakibatkan hasil belajarnya menurun. Oleh karena itulah sekolah hendaknya mengkondisikan lingkungannya sedemikian rupa dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar. Mengingat akan pentingnya motivasi belajar ini dalam kegiatan belajar mengajar, maka sudah seharusnya berbagai pihak yang terkait dengan bidang pendidikan menaruh perhatian sebaik-baiknya.
Guru sebagai pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh siswanya. Seperti kebutuhan untuk berprestasi, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang berbeda satu dengan yanglainnya. Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah, merecenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi.
Dari uraian diatas , jelas bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang besangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang.
Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat dan bervariasi, yang bisa membangkitkan motivasi dan semangat siswa sehingga siswa tidak merasa jenuh, yang tak kalah penting adalah menampung semua kepentingan siswa, seperti pendekatan SAVI , yaitu Somatik, Auditori, Visual dan Intelektual. Pendekatan SAVI adalah proses belajar siswa dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan semua indera. Pendekatan SAVI menganut aliran ilmu kognitif modern yang menyatakan belajar yang paling baik adalah melibatkan seluruh tubuh, semua indera, dan segenap kedalaman serta keluasan pribadi, menghormati gaya belajar individu lain dengan menyadari bahwa orang belajar dengan cara-cara yang berbeda.
Pendekatan SAVI mempunyai beberapa kelebihan, yaitu dapat membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual, memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik dan efektif, ampu membangkitkan kreatifitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa, serta dapat memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara visual, auditori dan intelektual.
Masalah yang diangkat dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu Penerapan Pendekatan SAVI Apakah Dapat Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember ?
Berdasarkan kondisi tersebut di atas dilakukan penelitian dengan tujuan mengkaji tentang penerapan pendekatan SAVI untuk meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember.
Adapun manfaat hasil penelitian tindakan kelas ini adalah:
a)    Bagi siswa, membuat siswa lebih tertarik dan tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya mata pelajaran Fisika,
b)    Bagi Guru,  mampu meningkatkan rasa percaya diri khususnya dalam mengajar siswa,
c)    Bagi Sekolah, dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mempunyai potensi tinggi di bidang IPA khususnya fisika
Definisi operasional adalah petunjuj yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan bagaimana mengukur suatu variabel atau konsep definisi operasional tersebut membantu kita untuk mengklasifikasi gejala di sekita ke dalam kategori khusus dari variabel. (Walizer & Wienir)
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan dalam mengartikan variabel dalam judul penelitian, maka perlu dijelaskan definisi operasional dalam penelitian ini.
1)    Pendekatan SAVI singkatan dari Somatik, Auditori, Visual dan Intelektual. Pendekatan SAVI adalah proses belajar siswa dengan menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual serta penggunaan semua indera.
2)    Motivasi belajar adalah suatu perubahan tenaga di dalam diri seseorang (pribadi) yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick J. Mc Donald dalam H. Nashar, 2004:39).
3)    Hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang secara umum dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor
4)    Ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100 daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%

METODE PENELITIAN

Daerah penelitian merupakan tempat atau lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember .penelitian  ini menggunakan analisa data diskriptif, kualitatif dan kuantitatif melalui tahapan-tahapan Pra Tindakan, Siklus I, dan dan Siklus II untuk mencari ketuntasan hasil  belajar yang diharapkan. Subyek  penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember pada yang berjumlah 30 siswa, serta proses dan hasil belajar mata pelajaran Fisika materi ajar “Gerak Parabola” dengan Pendekatan SAVI.

Prosedur Penelitian
            Model penelitian yang digunakan adalah model Elliot:




Tahapan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : tahap perencanaan (rencana tindakan), tahap implementasi (pelaksanaan tindakan), tahap observasi, tahap evaluasi  dan refleksi yang diikuti dengan perencanaan ulang.
Ada hal-hal penting  yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-langkah yang ada di dalam model PTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot dan Kemmis. Bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas dalam praktik di kelasnya, guru harus memahami betul apa yang dimaksud oleh masing-masing penulis.
Disamping itu, guru atau peneliti harus mengetahui  penggunaan data dan keterbatasan skema-skema tersebut bila dipraktekkan dalam penelitian tindakan.
Beberapa keterbatasan langkah-langkah di dalam model PTK ini antara lain :
  1. Adanya gerakan yang mulai menjauh dari segerakan ajaran Lewin semula.
  2. Skema-skema kelihatannya rapuh dan membingungkan.
  3. Skema-skema tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan hal-hal baru yang menjadi fokus utamanya.
  4. Skema tersebut tidak begitu saja cocok untuk diikuti.

Metode Pengumpulan Data
            Dalam metode pengumpulan data disetiap penelitian tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab kegiatan pengumpulan data dapat digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang akurat dan relevan dengan masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan telaah dokumen.

Metode Analisis Data
            Analisis data merupakan langkah yang sangat menentukan dalam suatu penelitian. Walaupun langkah-langkah penelitian terlaksana denga baik tetapi jika analisa datanya tidak relevan. Data hasil observasi pembelajaran dianalisis, kemudian ditafsirkan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan ketentuan belajar siswa.

Indikator Hasil Kerja
            Indikator yang dapat dicapai dari penelitian ini antara lain :
a.    Adanya interaksi antara guru dan murid yang lebih aktif jika menggunakan pembelajaran dengan pendekatan SAVI
b.    Terjadi peningkatan motivasi dan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai pos tes.
c.    Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan skor maksimal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
            Observasi awal yang dilakukan terhadap pembelajaran bertujuan untuk mendapatkan data tentang motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.  Pada sebelum tindakan dengan pedekatan SAVI (Somatik, Auditori, Visual dan Intelektual), pembelajaran dilaksankan dengan metode ceramah. Guru menjelaskan materi pelajaran dan aktivitas siswa hanya mendengarkan. Namun demikian, siswa sering kali kurang paham akan materi yang dijelaskan oleh guru karena terlalu cepat dalam menerangkan materi. Suasana kelas pun terlihat tegang sehingga berpengaruh terhadap daya serap siswa dalam menerima pelajaran.
Hal ini terbukti pada analisa data kodisi awal menunjukkan, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 40%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 60%, maka pada kondisi awal dinyatakan  masih belum tuntas belajar. Ketuntasan hasil belajar pada kondisi awal lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2 : Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember  Pada Kondisi Awal
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
12
40%
65 – 100
18
60%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah
Analisis data pada kondisi awal, menjadi titik tolak perlu tidakanya dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pendekatan SAVI pada siklus I.
Berdasarkan hasil analisa data pada kondisi awal, selanjutnya peneliti melaksanakan pembelajaran fisika materi ajar “Gerak Parabola” pada siklus I. Uraian mengenai tatap-tahap pembelajaran telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya.
Di babi ni, peneliti langsung menyampaikan hasil analisa data yang diperoleh berdasarkan evaluasi setelah proses pembelajaran dengan pendekatan SAVI dilaksnakan. Hasil analisa data pada siklus I, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3 : Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember  Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
4
13%
65 – 100
26
87%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat diketahui, pada siklus I tampak terjadi peningkatan hasil belajar yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 13%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau sebesar 87%.
Namun hasil belajar pada siklus I, masih belum memenuhi ketuntasan yang diharapkan, selanjutnya dengan memperbaiki kekurangan yang ada pada siklus I, dilaksanakan analisa data pada Siklus II.  Ketuntasan hasil belajar pada siklus II ada peningkatan yang cukup memuaskan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 1 siswa atau sebesar 3%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa atau 97%, oleh karena itu analisa tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya, karena pada siklus II telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal.
Ketuntasan hasil belajar pada siklus II, lebih jelas dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4 : Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember  Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
1
3%
65 – 100
29
97%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data yang diolah
Tabel 5 dan grafik 1 di bawah ini menjelaskan tentang perbandingan  ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fisika materi ajar ”Gerak Parabola” dari mulai Kondisi Awal, yaitu sebelum penerapan pendekatan SAVI dilaksanakan, dan pada saat pendekatan SAVI  dilaksanakan pada siklus I, dan siklus II.

Tabel 5. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember  Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II

Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
40%
4
17%
1
7%
65 – 100
18
60%
26
83%
29
93%
Jumlah
30
100%
30
100%
30
100
 Sumber : Data yang diolah
           
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember  Pada Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II

Sumber : data yang diolah

Pembahasan
            Peningkatan hasil  belajar pada penelitian ini, membuktikan bahwa siswa termotivasi dalam kegiatan belajar ternyata bukan secara keseluruhan mata pelajaran, namun tergantung dari mata pelajaran yang mereka senangi. Pada mata pelajaran yang disenangi mereka senantiasa bersemangat dalam kegiatan belajarnya sebaliknya mereka akan malas belajar pada mata pelajaran yang tidak disenangi. Dari hasil penelitian ternyata semboyan-semboyan tentang motivasi tidak terlalu berpengaruh pada minat siswa karena itu hanya untuk memperindah ruangan kelas saja. Guru tak luput dari pandangan mereka dalam memahami pelajaran, cara guru dalam menuangkan pelajaran sangat berpengaruh pada minat belajar siswa. Guru harus dapat menjalankan misinya dengan efektif. Oleh karena itu peran guru sangat penting dalam membangun motivasi belajar siswa.
Adapun faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi semangat belajar siswa yaitu dukungan dari orang tua, teman, dan pacar. Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh karena stimulus-stimulus fiktif secara sadar atau tidak mempengaruhi hasrat mereka dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu diharapkan faktor-faktor tersebut dapat memberikan stimulus yang positif dan membawa kualitas prestasi siswa dapat berkembang dengan baik.
Hal ini terbukti dengan menerapkan metode pembelajaran yang tidak seperti biasanya, dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa. Meningkatnya semangat dan motivasi belajar siswa sangat mempengarui pemahaman materi yang diajarkan, yang akhirnya juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa
Dalam kegiatan pembelajaran siklus I, terlihat pendekatan SAVI mulai berjalan dengan baik. Hal ini terbukti, pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 4 siswa atau sebesar 13%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 26 siswa atau sebesar 87%. Dibandingkan pada sebelum pembelajaran dengan pendekatan SAVI pada kondisi awal, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 40%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 siswa atau sebesar 60%.
Pada siklus II, berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar sudah mencapai ketuntasan yang peneliti harapkan, yaitu  yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya sebanyak 1 siswa atau sebesar 3%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa atau 97%, oleh karena itu analisa tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya, karena pada siklus II telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal. Ini dikarenakan siswa telah memahami apa yang harus mereka kerjakan dan adanya perbaikan dari pelaksanaan pembelajaran siklus sebelumnya.
Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam suatu peristiwa pembelajaran. Siswa dapat meningkatkan kemampuan mereka memecahkan masalah (Intelektual) jika mereka secara simultan menggerakkan sesuatu (Somatik) untuk menghasilkan piktogram atau pajangan tiga dimensi (Visual) sambil membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (Auditori). Menggabungkan keempat modalitas belajar dalam satu peristiwa pembelajaran adalah inti dari Pembelajaran Multi Indrawi.
Menurut teori dan hasil penelitian, ada beberapa kelebihan dari pendekatan SAVI antara lain:
1)     Membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual;
2)     Memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik dan efektif;
3)     Mampu membangkitkan kreatifitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa;
4)     Memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran secara visual, auditori dan intelektual.
Hasil belajar siswa meningkat dikarenakan mereka lebih menyukai pembelajaran dengan model ini dari pada biasanya, yang diketahui dari wawancara siswa. Dari cuplikan wawancara dengan beberapa dapat disimpulkan bahwa belajar Fisika melalui pendekatan SAVI dapat membuat pelajaran lebih menarik. Hal ini dikarenakan, penataan kondisi belajar yang menarik dapat membuat siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar. Pembelajaran tidak monoton, dan siswa lebih mudah dalam memahami materi bahan ajar, karena materi yang didapat selain menggunakan peta konsep yang dituntun oleh guru, mereka juga mendapatkan materi secara langsung yaitu pengerjaan tugas lembar kerja siswa (LKS) dan diskusi.

KESIMPULAN DAN SARAN
 Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran fisika dengan pendekatan SAVI  mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Secara berturut-turut persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan II adalah 87% dan 97%.
Peningkatan hasil belajar pada penelitian tindakan kelas ini menyimpulkan bahwa, Penerapan Pendekatan SAVI Dapat Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Materi Ajar “Gerak Parabola” Siswa Kelas XI-IPA 3 SMA Negeri 4 Jember.

Saran-Saran
Selanjutnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, beberapa  saran yang dapat peneliti sampaikan antara lain,
a)    Untuk Guru, hendaknya memperbaiki kinerja dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang variatif agar hasil belajar siswa sesuai yang diharapkan,
b)    Untuk Sekolah, hendaknya dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman tentang pedagogik dalam rangka memperbaiki pembelajarannya.

DAFTAR  RUJUKAN

A.     Tabrani R (1994) Pendekatan dalam proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya
Abin Syamsudin Makmun (2001). Psikologi Kependidikan. Jakarta : Remaja Rosda Karya
Depdikbud (1996), KAmus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
Dimyati, Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta
Sugiono.2066. Metode penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitaif dan R&D. Alfa Beta: Bandung
Oemar Hamalik (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Baru Algensindo
Rasyid, Harun dan Mansyur. 2008. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV. Wacana Prima.
Sukardi.2008. Metodologi Penelitian Pendidikan.Yogyakarta: Bumi Aksara
Sumarno, Alim. 2011. Pengertian Hasil Belajar,
Sondang P. Siagian (2004). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta : Pt. Rineka Cipta
Suryabrata, Sumadi. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers
Uno, Hamzah B. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Usman, Moh. Uzer. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
WS. Winkel. (1983) Psikologi Pengajaran, Jakarta: Gramedia.