Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI AJAR “LINGKUNGAN SEHAT” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS III SD NEGERI KESILIR 02 KECAMATAN WULUHAN KABUPATEN JEMBER



PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MATERI AJAR “LINGKUNGAN SEHAT” MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) SISWA KELAS III SD NEGERI KESILIR 02 KECAMATAN WULUHAN KABUPATEN JEMBER

Jumak Atik

Abstrak: Tujuan dalam penelitian ini yaitu: Mengkaji tentang sejauh mana Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat”  Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Penelitian ini menggunakan model skema PTK "Kemmis dan Mc. Taggart", yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (action) di dalamnya.  Dari analisis data  hasil penelitian diperoleh bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar dari perolehan hasil belajar pada kondisi awal yaitu  dari 14 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  9 siswa atau sebesar 64%, pada siklus I meningkat menjadi 11 siswa atau sebesar 79% , dan pada siklus II meningkat menjadi 13 siswa atau sebesar 93%.

     Kata Kunci : CTL  Dan Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Undang – undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 menggariskan bahwa pendidikan nasional ” bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab ”. (Bab II Pasal 3). Selanjutmya tujuan pendidikan nasional tersebut dijabarkan dalam standar Kompetensi dijabarkan dalam Kompetensi Dasar SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Proses ini berlangsung melalui proses belajar mengajar inilah peserta didik akan mengalami proses perkembangan kearah yang lebih baik dan bermakna. Agar hal tersebut dapat terwujud maka diperlukan suasana proses belajar mengajar yang kondusif bagi peserta didik dalam melampaui tahapan- tahapan belajar secara bermakna dan efektif sehingga menjadi pribadi yang percaya diri,inovatif dan kreatif, (Surya, 1992 : 179).
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu disiplin ilmu yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep - konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi yang merupakan suatu proses penemuan, sehingga dapat membantu siswa memperoleh pengalaman langsung dan pemahaman untuk mengembangkan kompetensinya agar dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah
            
Berdasarkan observasi di lapangan adanya temuan bahwa kedudukan dan fungsi guru dalam kegiatan pembelajaran saat ini cenderung masih dominan, aktifitas guru masih saangat besar dibandingkan dengan aktifitas siswa yang masih rendah kadarnya. Ketika proses belajar mengajar hendaknya terjalin hubungan yang sifatnya mendidik dan mengembangkan.
Guru tidak hanya menyampaikan materi tetapi sebagai figur yang dapat merangsang perkembangan siswa, sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum 2006 (KTSP) mata pelajaran IPS di SD/MI, pembelajaran IPS sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (Scientific Inquiri) untuk meumbuhkan kemampuan berpikir,bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPS di SD menekankan pada pemberian pengalaman langsung penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah dalam hal ini seorang guru harus memiliki kompetensi yang cukup sebagai pengelola pembelajaran. Seorang guru yang memiliki kompetensi diharapkan akan lebih baik dan mampu menciptakan suasana dan lingkungan belajar yang efektif,sehingga hasil belajar siswa akan optimal.
Sehubungan dengan hal di atas metode mengajar yang digunakan oleh guru hendaknya sedemikian rupa bervariasi sesuai dengan tujuan dan materi yang diajarkan. Dengan metode yang variatif inilah siswa akan bergairah dalam belajar secara inovatif dan kreatif. Metode mengajar yang digunakan guru dalam interaksi belajar mengajar merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kelancaran pross belajar.Pembelajaran pada pelaksanaanya haruslah diupayakan dalam kondisi pembelajaran yang kondusif dalam arti pembelajaran itu harus bersifat aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan maka dari itu peranan dan fungsi guru dalam pembelajaran harus dapat memberikan warna dan bentuk terhadap proses pembelajaran dan dapat menciptakan situasi kelas yang kondusif, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal,sebagaimana dikemukakan oleh Uzer Usman (2000 : 31) bahwa belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman yang lebih abstrak.
Pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  harus dilaksanakan dengan menyenangkan, sehingga siswa tidak hanya mampu menghafal materi yang dipelajari, tetapi juga harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan, di tempat penelti bertugas selama ini, siswa hanya mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam sebagai produk, menghafalkan konsep, dan teori. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Siswa tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Sehingga masih  banyak siswa yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, dan lingkungan belajar. Hal ini mengakibatkan hasli belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  di kelas III masih rendah.
Penelitian Tindakan Kelas adalah salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar, dengan menerapkan metode-metode pembelajaran yang variatif. Metode pembelajaran seperti yang diterapkan bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, dimana semua siswa kan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar.
Adapun judul Penelitian Tindakan Kelas ini adalah : Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember.
Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah Konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan kehidupan sehari-hari.
CTL (Contextual Teaching And Learning) merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tesrsebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterrrapkan (ditansfer) dari satu permasalahan dan permasalahan lainnya.
CTL (Contextual Teaching And Learning) adalah sebuah konsep pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pembelajaran melibatkan tuju komponen utama pembelajaran efektif, yakni :
§  Konstruktivisme (Constructivism)
§  Bertanya (Questioning)
§  Menemukan (Inquiry)
§  Belajar ( Learning Community)
§  Pemodelan (Modeling)
§  Penilaian sebenarnya (Authentic Assesment )
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktifitas penting yang membantu mereka mengkaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata  yang mereka hadapi.  Dengan mengkaitkan keduanya, para siswamelihat bagaimana makna di dalam tugas sekolah. Ketika siswa menyusun proyek atau menemukan permasalahan yang menarik, ketika mereka mebuat pilihan dan menerima tanggung jawab, mencari informasi dan menarik kesimpulan, ketika mereka aktif memilih, menyusun, mengatur, menyentuh, merencanakan, menyelidiki, mempertanyakan, dan membiuat keputusan, mereka mengkaitkan isi akademis dengan konteks dalam situasi kehidupan, dan dengan cara ini mereka menemukan makna (Elaine B Johnson).
Penemuan makna adalah ciri utama dari CTL .Di dalam kamus “makna” diartikam sebagai “arti penting” dari sesuatu atau maksud.Pencarian makna merupakan hal yang alamiah.
Ketika guru menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan komponen CTL, yang sesuai dengan kebutuhan manusia untuk mencari makna dan kebutuhan otak untuk menjalin pola-pola, secara intuitif mereka mengikuti cara yang sesuai dengan penemua-penemua dalam psikollogi dan penelitian tentang otak. Mereka menghubungkan isi dari subyek-subyek akademik dengan pengalamn-pengalaman para siswa sendiri untuk memberi makan pada pelajaran.Pada waktu yang bersamaan tanpa disadari, mereka mengikuti prinsip yang menunjang dan mengatur segalanya di alam semesta. Dengan kata lain, cara belajar CTL sesuai dengan cara kerja alam. Kesesuaian dengan alam adalah alas an mendasar yang menyebabkan CTL memiliki kekuatan uang luar biasa untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Mennurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007), CTL (Contextual  Teacing And Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah Konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan kehidupan sehari-hari.
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini, dirumuskan sebagai berikut : Apakah Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  ?
Tujuan dalam penelitian ini yaitu :
a)    Mengkaji tentang sejauh mana Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat”  Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember ,
b)   Mengkaji tentang memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya,
c)    Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran yaitu peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan diharapkan bermanfaat :
a)    Bagi siswa, dapat menjadi proses belajar yang menarik sehingga lebih mudah memahami materi yang diajarkan serta dapat meningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam,
b)   Bagi guru, dapat menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru sehingga dapat mendukung professionalisme dan karir guru,
c)    Dapat mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah dalam memecahkan masalah pembelajaran      

METODE PENELITIAN
Penelitan tindakan kelas ini diadakan di SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember, dan dilaksanakan pada . Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember, dan dilaksanakan pada ,  yang berjumlah 14 siswa, serta proses dan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Lingkungan Sehat” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL)



Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas.
Penelitian ini menggunakan model skema PTK "Kemmis dan Mc. Taggart", kedua tokoh ini mengembangkan teori/skema yang diciptakan oleh "Kurt Lewin" yaitu perencanaan, perlakuan, refleksi dan pengamatan dengan menambah komponen tindakan (action) di dalamnya.
a.     Tahap Perencanaan Tindakan (Planning)
Perencanaan tindakan adalah perencanaan mengenai implementasi tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya perencanaan ini merupakan langkah-langkah prosedural yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penelitian yang direncanakan terlebih dulu.
Pada tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana guru disini sebagai pengajar mempersiapkan segala sesuatunya untuk jalannya pembelajaran. Seperti mempersiapkan sarana dan prasarana untuk melakukan pembelajaran.
b.     Tahap Pelaksanaan atau Implementasi Tindakan (Action)
Dalam implementasi tindakan bertujuan untuk memperbaiki keadaan yaitu pembelajaran. Pada tahap Implementasi guru selaku tenaga pendidik bertindak untuk mengarahkan siswa seperti untuk tahap awal, guru memberikan materi secara umum, dilanjutkan dengan memberikan informasi tentang topik yang akan didiskusikan serta model pembelajaran yang akan diterapkan.
Langkah-langkah yang dilaksanakan pada pembelajaran kontekstual  (CTL) adalah sebagai berikut :
§  Membentuk siswa menjadi 3 kelompok
§  Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
§  Mengajak siswa ke lingkungan sekolah dan diajarkan tentang kebersihan
§  Melakuka refleksi di akhir penemuan.
§  Melakukan penilaian
c.      Tahap Observasi/Pengamatan (Observation)
Menurut "Kerlinger' mengobservasi adalah suatu istilah umum yang mempunyai arti semua penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukur dan mencatat. Metode observasi adalah suatu usaha untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar.
Dalam tahap observasi mengamati proses jalannya pembelajaran melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL). Dari observasi ini dapat diketahui berhasil tidaknya Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dalam meningkatkan minat belajar siswa.
d.     Refleksi (reflection)
          Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II, yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 2 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

 Metode Dan Instrumen Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan documenter. Teknik observasi digunakan untuk menggali berbagai kejadian, peristiwa, keadaan, tindakan yang berkaitan dengan system yang berlangsung pada proses pembelajaran di kelas. Jadi observasi dipakai untuk menggali data yang terlihat, terdengar, atau terasakan dimana kesemuanya dipandang sebagai suatu hamparan kenyataan (Stuart, 1977) yang mungkin saja diangkat sebagai aspek penting terkait dengan system pembelajaran di sekolah.
Teknik wawancara mendalam (in depth interview) digunakan untuk menggali apa yang ada di dalam proses pembelajarnnya baik bagi guru maupun bagi siswa. Sedangkan documenter digunakan untuk menggali data yang bersifat dokumen.

Metode Analisis Data
Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dua tahap. Tahap pertama untuk data kuantitatif dianalisis dengan statistic deskriptif selanjutnya dimaknai dengan analisis kualiatif. Ketika pengumpulan data berlangsung, peneltian akan dengan sendirinya terlibat melakukan perbandingan-perbandingan dalam rangka memperkaya data bagi tujuan konseptual, kategori dan teorisasi. Reduksi data dilakukan untuk memastikan data terkumpul dengan selengkap mungkin untuk kemudian dipilah-pilahkan ke dalam suatu konsep tertentu, kategori tertentu, atau tema tertentu (Muhajir, 1989).
Kategori yang peneliti maksud adalah skala yang digunakan untuk dapat memasukkan data sehingga data tersebut dapat dianalisis untuk memudahkan dalam data kuantitatif.
Setelah mendapatkan data dan dianalisis maka data tersebut bisa dibaca secara deskriptif untuk memudahkan dalam membaca laporan hasil penelitian tindakan kelas. Pada saat melakukan penelitian siklus yang digunakan adalah dua siklus dalam dua kali pertemuan untuk melaksanakan penelitian ini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Pada pertemuan pertama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hasil dari test pertemuan ini, dijadikan sebagai dasar pijakan awal untuk hasil belajar siswa kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  materi Ajar “Lingkungan Sehat” secara klasikal dikatakan belum tuntas karena dari 14 siswa, yang mendapat nilai < 65 sebanyak  5 siswa atau sebesar  36% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 9 siswa atau sebesar 64%.
Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pada siklus I. Pada saat penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya.
Hasil wawancara dengan siswa di dapatkan bahwa belajar dengan penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat membuat siswa semangat dan mendapat suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sehingga materi yang disampaikan lebih mudah diingat dan sangat menarik karena terkait dengan realitas yang ada pada saat sekarang, siswa juga dapat menghilangkan kebosanan dalam belajar. Metode ini juga mendorong siswa lebih aktif dalam belajar.
Selanjutnya peneliti mengadakan analisa data melalui evaluasi berupa tes tentang materi ajar “Lingkungan Sehat”, yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini :.

Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  Pada Siklus I.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
21%
65 – 100
11
79%
Jumlah
14
100%
Sumber : data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, pada siklus I diperoleh data,  yang memdapat nilai 65 – 100 sebanyak 11 siswa atau sebesar 79%. Sedangkan siswa  yang nilainya < 65 sebanyak 3 siswa atau sebanyak 21%. Dari data siklus I sudah terlihat adanya peningkatan hasil belajar, namun peneliti ingin mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi.  Maka analisa data dilanjutkan pada siklus II.
Siklus II dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada Siklus I. Siswa lebih terbiasa mengikuti pembelajaran pada siklus II, sehingga pada siklus II juga terjadi peningkatan hasil belajar yang lebih baik lagi, analisa data pada siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  Pada Siklus II.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
21%
65 – 100
11
79%
Jumlah
14
100%
Sumber : data yang diolah
Berdasarkan tabel diatas, pada siklus II diperoleh data, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13 siswa atau sebesar  93%. Sedangkan siswa  yang nilainya < 65 hanya seorang siswa atau sebesar 7%. Sehingga pada siklus  II sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar secara klasikal seperti yang diharapkan maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II, dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik 1 dibawah ini.

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Nilai
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
5
36%
3
21%
1
7%
65 - 100
9
64%
11
79%
13
93%
Jumlah
14
100%
14
100%
14
100%
Sumber : data yang diolah

Grafik. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember  Pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

 








Sumber : Data penelitian yang diolah

Pembahasan
Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam materi ajar “Lingkungan Sehat” sebelum penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) yaitu pada kondisi awal dapat diketahui, secara klasikal dikatakan belum tuntas karena dari 14 siswa, yang mendapat nilai < 65 sebanyak  5 siswa atau sebesar  36% dan siswa yang mendapat nilai 65 - 100 hanya sebanyak 9 siswa atau sebesar 64%.
Rendahnya hasil belajar siswa,  menjadi salah satu syarat pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hal ini juga mendasari pemilihan subyek dan obyek penelitian.
Selanjutnya dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pada siklus I. Pada saat penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) siswa kelihatan sangat antusias, berbeda jauh dengan yang menggunakan pembelajaran konvensional atau kondisi sebelumnya.
Hasil analisa data yang dilaksanakan siklus I diperoleh data,  yang memdapat nilai 65 – 100 sebanyak 11 siswa atau sebesar 79%. Sedangkan siswa  yang nilainya < 65 sebanyak 3 siswa atau sebanyak 21%. Dari data siklus I sudah terlihat adanya peningkatan hasil belajar, namun peneliti ingin mendapatkan ketuntasan yang lebih baik lagi.  Maka analisa data dilanjutkan pada siklus II.
Pada siklus II diperoleh data, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 13 siswa atau sebesar  93%. Sedangkan siswa  yang nilainya < 65 hanya seorang siswa atau sebesar 7%. Sehingga pada siklus  II sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar secara klasikal seperti yang diharapkan maka analisa data tidak dilanjutkan pada siklus selanjutnya.
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) melibatkan para siswa dalam aktifitas penting yang membantu mereka mengkaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata  yang mereka hadapi.  Dengan mengkaitkan keduanya, para siswa melihat bagaimana makna di dalam tugas sekolah. Ketika siswa menyusun proyek atau menemukan permasalahan yang menarik, ketika mereka mebuat pilihan dan menerima tanggung jawab, mencari informasi dan menarik kesimpulan, ketika mereka aktif memilih, menyusun, mengatur, menyentuh, merencanakan, menyelidiki, mempertanyakan, dan membiuat keputusan, mereka mengkaitkan isi akademis dengan konteks dalam situasi kehidupan, dan dengan cara ini mereka menemukan makna (Elaine B Johnson).
Mennurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007), CTL (Contextual  Teacing And Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah Konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan kehidupan sehari-hari.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari analisis data  hasil penelitian diperoleh bahwa, terjadi peningkatan hasil belajar dari perolehan hasil belajar pada kondisi awal yaitu  dari 14 siswa yang mencapai ketuntasan hanya sebanyak  9 siswa atau sebesar 64%, pada siklus I meningkat menjadi 11 siswa atau sebesar 79% , dan pada siklus II meningkat menjadi 13 siswa atau sebesar 93%.
Sehingga disimpulkan bahwa : Ada Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Materi Ajar “Lingkungan Sehat” Melalui Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) Siswa Kelas III SD Negeri Kesilir 02 Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember .

Saran-Saran
Saran-saran yang dapat peneliti sampaikan untuk memperbaiki proses pembelajaran, adalah sebagai berikut :
a)    Setiap guru dianjurkan untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa, diantaranya dengan melaksanakan strategi pembelajaran yang bervariasi, tidak hanya melalui ceramah saja,
b)   Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil  belajar siswa, maka guru mata pelajaran lain dapat menerapkan strategi ini dalam pembelajaran yang dilaksanakan.

DAFTAR RUJUKAN

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Balai Pustaka, Jakarta, 2002,
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2002,
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi; Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004,
Syaiful Bahari Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000,
Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Rineka Cipta, Jakarta, 1999,
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002,
 Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, Rineka Cipta, Jakarta, 1997,
S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta, 2000,
Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, Rineka Cipta
Sugiyanto. 2007. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) : Model-model pembelajaran Inovatif. Surakarta : Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 surakarta