Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MEKANIKA TEKNIK PADA konsep Menganalisis konstruksi balok sederhana (sendi dan rol) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE JIGSAW



PENINGKATAN  KUALITAS  PEMBELAJARAN MEKANIKA TEKNIK PADA konsep Menganalisis konstruksi balok sederhana (sendi dan rol) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE  JIGSAW

Muhammad Muhajir

Abstrak: Penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik kompetensi dasar menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, baik aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas 1 teknik konstruksi batu dan beton SMK Negeri 2 Jember Tahun pelajaran 2015/2016. Langkah-langkah penelitian mengacu pada penelitian tindakan kelas model Kemis dan McTaggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi ketuntasan belajar, nilai rata-rata siswa dalam menyerap materi mengalami peningkatan yang cukup tajam yakni dari 44,25 menjadi 77,25, dan seluruh siswa dinyatakan tuntas. Disamping itu keterampilan kooperatifnya juga meningkat (ketrampilan kooperatif tingkat dasar meningkat dari dari 20% menjadi 80 %, tingkat menengah meningkat dari 42% menjadi 82%, dan tingkat atas meningkat dari 32% menjadi 48%).


Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
         Tercapainya tujuan Pendidikan di Indonesia tidak dapat terlepas dari peran guru, siswa, masyarakat maupun lembaga terkait lainnya. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan menuju tercapainya tujuan tersebut perlu disampaikan suatu upaya perbaikan sistim pembelajaran inovatif yang merangsang siswa untuk mencintai yang akhirnya mau mempelajari secara seksama terhadap suatu mata pelajaran. Mata pelajaran  mekanika teknik dalam konsep umum seringkali dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit karena menggunakan logika dan perhitungan sehingga siswa merasa takut terlebih dahulu sebelum mempelajari, padahal persepsi tersebut tidak benar, kalau guru benar-benar melaksanakan proses belajar mengajar dengan benar dan menyenangkan, siswa akan senang sehingga dapat memahami mata pelajaran  mekanika teknik. Permasalahan ini dapat kita lihat dari adanya ketidaktuntasan siswa kelas X saat ulangan harian pada masing-masing kompetensi dasar, sehingga guru harus mulai mengembangkan sistim pembelajaran inovatif untuk membangkitkan minat siswa terhadap pelajaran  mekanika teknik.
  Mekanika teknik merupakan ilmu utama yang dipelajari di ilmu bangunan atau teknik sipil. Para insinyur menggunakan ilmu tersebut untuk mempelajari perilaku struktur terhadap beban yang bekerja padanya. Perilaku struktur tersebut umumnya adalah lendutan dan gaya-gaya baik gaya reaksi maupun gaya internal. Dalam mempelajari perilaku struktur maka hal-hal yang banyak dibicarakan adalah: stabilitas, keseimbangan gaya, kompatibilitas antara deformasi dan jenis tumpuannnya, dan elastisitas. Dengan mengetahui gaya-gaya dan lendutan yang terjadi maka selanjutnya struktur tersebut dapat direncanakan atau diproporsikan dimensinya serta diketahui kekuatan dari konstruksi yang direncanakan tersebut. Jadi pada dasarnya mekanika teknik ini bertujuan untuk menentukan dimensi, perhitungan kontrol, dan perhitungan kekuatan. Perhitungan dimensi digunakan untuk menentukan ukuran-ukuran dari konstruksi bangunan secara ilmiah dengan penggunan bahan bangunan seminimum dan seefisien mungkin, dengan faktor keamanan tertentu, serta konstruksi bangunan itu mampu mendukung gaya-gaya atau muatan/ beban yang ada. Perhitungan kontrol digunakan untuk memeriksa, apakah suatu bangunan kontruksi yang sudah didirikan cukup kuat dan cukup kaku terhadap beban – beban yang direncanakan. Perhitungan Kekuatan, Perhitungan yang dilakukan untuk memeriksa konstruksi dari perubahan bentuk, peralihan-peralihan, serta beban-beban pada konstruksi yang tidak melampaui batas. Perhitungan Stabilitas, yaitu perhitungan yang diperlukan agar bangunan selalu dalam keadaan kokoh Dalam ilmu mekanika teknik juga dikenal istilah statika.
            Konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) merupakan salah satu materi pada mata pelajaran mekanika teknik yang harus dikuasai oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena sangat menunjang kelancaran penyampaian materi lainnya.
       Peneliti, sebagai guru Mata Pelajaran  mekanika teknik Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton semester 2 SMK Negeri 2 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016,  prihatin dengan hasil belajar siswa, yang rata-rata nilai tes awal kelas tersebut, sebelum peneliti memulai pelajaran berikutnya hanya mencapai 57,75%. Di sisi lain, suasana kelas kurang hidup karena siswa lebih banyak diam dan mendengarkan penjelasan guru. Ketika guru memberikan pertanyaan, siswa kurang responsif (kurang berani) menjawab pertanyaan guru.
       Sebenarnya penggunaan metode ceramah yang dikombinasikan dengan tanya jawab yang diterapkan oleh pengajar sebelumnya pada semester pertama, juga pernah peneliti lakukan. Meskipun prestasi belajar siswa dengan penggunaan metode ceramah tidak selalu jelek, namun yang pasti adalah bahwa penggunaan metode ceramah tidak dapat menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan sikap lainnya. Hal ini memang merupakan sebagian dari kelemahan metode ceramah (Sanjaya, 2007).
       Untuk siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), pengembangan ketiga ranah pembelajaran (pengetahuan, keterampilan dan sikap) sangat diperlukan untuk menunjang tercapainya kurikulum KTSP 2013, khususnya untuk mendukung keberhasilan program magang dan project work (unjuk kerja), sehingga lulusan SMK mempunyai kompetensi yang holistik sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja atau hidup bermasyarakat dengan baik. Oleh karena itu, upaya pengembangan strategi pembelajaran yang lebih inovatif, yang mampu memberdayakan siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan dapat pula mengembangkan aspek keterampilan dan sikap, harus dilakukan oleh para guru  mekanika teknik SMK Negeri 2 Jember.
              Menurut Slavin (2008:4), Cooperative Learning Jigsaw adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri antara 4 sampai 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Dan dikatakan pula, keberhasilan belajar dari kelompok tergantung dari kemampuan dan aktifitas anggota kelompok, baik secara individual atau berkelompok. Menurut Johnson (1991) menyatakan pembelajaran kooperatif Jigsaw adalah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif, diskusi siswa dalam kelompok kelompok belajar merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk dapat melakukan pembelajaran yang efektif (Anita Lie, 2007:31-34). Menurutnya juga, beberapa unsur yang terdapat dalam pembelajaran efektif antara lain, Adanya saling ketergantungan yang positif, Adanya tanggung jawab perseorangan, Adanya tatap muka, adanya komunikasi antar anggota, dan adanya evaluasi proses kelompok. Adapun langkah langkah  pembelajaran kooperatif type Jigsaw dilakukan sebagai berikut: Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 sampai 6 orang, menunjuk salah satu siswa sebagai ketua kelompok, membagi materi 5 sampai 6 bagian, siswa mempelajari bagian yang diberikan, memberi ruang waktu agar siswa membaca bagiannya agar tahu apa yang harus mereka lakukan, membentuk kelompok sesaat (kelompok ahli). Siswa yang mempunyai bagian yang         sama membentuk satu kelompok dan mendiskusikanya agar mereka benar benar paham, mengembalikan siswa pada kelompok asalnya, memberi waktu tiap siswa untuk menjelaskan apa yang mereka peroleh dalam kelompok ahli dan siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan minta penjelasan, guru mengawasi proses diskusi dan memberikan bantuan penjelasan, dan akhir pembelajaran siswa mengerjakan tes atau kuis.
             Dari uraian diatas, inovasi pembelajaran yang akan dilakukan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran  mekanika teknik di Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton SMK Negeri 2 Jember khususnya kompetensi dasar menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dengan penerapan Strategi Jigsaw. Pemilihan Strategi Jigsaw diharapkan dapat meningkatkan kompetensi siswa pada ranah  pengetahuan, ranah sikap dan ranah keterampilan.
                  
 Rumusan Masalah
       Permasalahan penelitian ini adalah:
Apakah  penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar mekanika teknik siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton pada konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) di  SMK Negeri 2 Jember ?

Tujuan Penelitian
    Tujuan umum penelitian ini adalah : Mendiskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar    mekanika teknik siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton pada konsep Menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) di  SMK Negeri 2 Jember.

Manfaat Hasil Penelitian
1.      Meningkatkan hasil belajar pengetahuan siswa 
2.      Meningkatkan aktivitas belajar siswa
3.      Mengembangkan keterampilan belajar secara menyeluruh meliputi ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
4.      Dapat membawa siswa kepada situasi pembelajaran dinamis yang berhubungan dalam kehidupan sehari-hari
5.      Menumbuhkan sikap bertanggung jawab, percaya diri, menghargai teman lain dan menyenangi pelajaran   mekanika teknik.
6.      Dapat menumbuhkan semangat kerja guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk melakukan berbagai inovasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di SMK Negeri 2 Jember.

METODE PENELITIAN

 Prosedur Penelitian
            Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas X Teknik Konstruksi Batu dan Beton semester 2 SMK Negeri 2 Jember, tahun Pelajaran 2015/2016. Objek penelitian ini adalah kegiatan selama pembelajaran serta perolehan hasil belajar siswa.
          Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi  (Arikunto.S, 2006).

Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
 Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk memperoleh data-data yang menjawab rumusan masalah penelitian. Untuk memperoleh data-data penelitian tersebut disusun instrumen penelitian berdasarkan kajian pustaka dan diskusi. Dalam penelitian ini terdapat empat teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu : Pengamatan, angket, observasi dan Tes.

Penilaian Hasil Pembelajaran
       Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran dan digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu proses pembelajaran. Dalam penelitian  ini penilaian hasil pembelajaran dilaksanakan pada tiga aspek yaitu aspek  pengetahuan, keterampilan dan aspek sikap. 
Penilaian aspek keterampilan dan aspek sikap difokuskan pada keterampilan kooperatif siswa. Keterampilan kooperatif siswa terdiri atas keterampilan kooperatif tingkat dasar, menengah, dan atas. Keterampilan kooperatif tingkat dasar meliputi keterampilan menghargai kesepakatan dan kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas (tanggungjawab), mendorong partisipasi dan mengundang teman lain untuk berbicara. Keterampilan kooperatif tingkat menengah meliputi keterampilan menunjukkan penghargaan, simpati, mendengarkan dengan aktif, bertanya, dan membuat ringkasan. Keterampilan kooperatif tingkat atas meliputi keterampilan mengelaborasi, memeriksa ketepatan, berkomunikasi (presentasi) dan menetapkan tujuan (Nurhadi, dkk., 2004). Penilaian terhadap aspek sikap dilakukan oleh observer melalui penerapan Strategi Jigsaw.

Teknis Analisis Data
   Untuk Menganalisis data dan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran digunakan teknik kualitatif (deskriptif). Sedangkan teknik kuantitatif digunakan untuk menganalisis nilai peningkatan siswa (kelompok).
Keberhasilan tindakan yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam penelitian ini diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari nilai kuis yang diperoleh siswa pada akhir pembelajaran. Indikator ketuntasan hasil belajar siswa mengacu pada kriteria belajar tuntas sebagai berikut :
a.      Siswa telah belajar tuntas jika mencapai 60 % nilai maksimal.
b.      Kelas telah belajar tuntas jika terdapat 75 % siswa yang telah belajar tuntas.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
       Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini, hasil pembelajaran diharapkan dapat mencakup kemampuan  pengetahuan dan kemampuan keterampilan serta sikap (khususnya kemampuan kooperatif). Setelah penerapan pembelajaran strategi pembelajaran kooperatif Jigsaw, kemampuan  pengetahuan siswa ditunjukkan oleh nilai kuis pada siklus (yakni nilai evaluasi pada siklus ke 2). Sedangkan kemampuan kooperatif ditunjukkan oleh keterampilan kooperatif tingkat dasar, menengah, dan atas yang didasarkan pada hasil pengamatan sesuai dengan rubrik yang telah ditetapkan.
       Nilai siswa pada pra siklus (nilai awal) dan setelah siklus (yakni nilai evaluasi pada siklus ke 2) menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 29 poin. Gambar 2 menunjukkan nilai rata-rata siswa dalam menyerap materi mengalami peningkatan yang cukup tajam yakni dari 44,25 menjadi 77,25. Hal ini menunjukkan bahwa kelas tersebut telah berhasil melaksanakan proses pembelajaran dengan model kooperatif Strategi Jigsaw  dengan seluruh siswa dinyatakan tuntas.
Gambar 1. Hasil Tes Pengetahuan

Gambar 2 menunjukkan keterampilan kooperatif siswa yang terdiri atas keterampilan tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat atas.
Gambar 2. Kemampuan Kooperatif Siswa

Dari Gambar 2 terlihat bahwa secara umum ketiga tingkat keterampilan kooperatif siswa pada siklus 1 mengalami peningkatan pada siklus 2. Gambar 2a menunjukkan bahwa pada akhir siklus 2 persentase siswa yang memiliki keterampilan kooperatif tingkat dasar dengan kriteria “cukup” menurun (dari 80 % menjadi 20 %) dan prosentase siswa dengan kriteria “tinggi” meningkat (dari 20% menjadi 80 %). Gambar 2b menunjukkan bahwa pada akhir siklus 2 tidak ada siswa yang memiliki keterampilan kooperatif tingkat menengah dengan kriteria “rendah” (pada siklus 1 terdapat 10 %), sedangkan persentase siswa dengan kriteria “cukup” menurun (dari 48 % menjadi 18 %), dan persentase siswa dengan kriteria “tinggi” juga meningkat (dari 42% menjadi 82%). Profil yang sama dengan keterampilan kooperatif tingkat menengah juga terjadi untuk keterampilan kooperatif tingkat atas, namun rincian prosentase siswa untuk masing-masing kriteria berbeda (Gambar 2c). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode Jigsaw dapat meningkatkan keterampilan kooperatif siswa.
       Apresiasi siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran ini juga diukur yang hasilnya disajikan dalam gambar berikut.
Gambar 3. Apresiasi siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran

       Gambar  diatas menunjukkan bahwa setelah siklus 2 seluruh siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dan mereka merasakan manfaat dari diskusi kelompok. Sebagian besar siswa merasa tertantang dengan tugas-tugas yang diberikan. Sebagian besar siswa juga merasakan lebih mudah memahami materi Tipe Jigsaw     .
       Disamping itu, berdasarkan hasil pengamatan, hasil analisis nilai kuis serta wawancara informal dengan siswa, diperoleh beberapa kelebihan maupun kelemahan. Beberapa kelebihannya antara lain: (i) siswa sangat antusias dengan kegiatan pembelajaran, (ii) siswa menjadi lebih kreatif, hal ini dapat dilihat dari cara mereka menyajikan/mempresentasikan laporan, maupun dalam melaksanakan kegiatan kelompok lainnya, (iii) siswa menjadi lebih komunikatif, (iv) siswa saling berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik (karena setiap ada keberhasilan peneliti selalu memberi hadia), (v) konsentrasi siswa dalam belajar cukup tinggi, (vi) kinerja kelompok semakin baik, (vii) hasil belajar siswa semakin baik, ketuntasan belajar kelas mencapai 100,00 %, dan (viii) kinerja guru dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran semakin mantap. Sedangkan beberapa kelemahannya antara lain: (i) siswa masih kurang terampil untuk membuat laporan, (ii) ada siswa yang masih kurang percaya diri ketika presentasi, dan (iii) keterampilan  pengetahuan siswa belum optimal.
                    
SIMPULAN
       Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya diperoleh simpulan sebagai berikut:
1.      Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik konsep menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek  pengetahuan (kelas telah memenuhi kriteria tuntas belajar).
  1. Penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dalam pembelajaran mekanika teknik konsep menganalisis  konstruksi balok sederhana (Sendi dan Rol) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek keterampilan dan aspek sikap (tingkat keterampilan kooperatif meningkat).


Saran - saran
  Karena apresiasi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw  cukup baik dan penerapan strategi tersebut telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik hasil belajar  pengetahuan maupun keterampilan kooperatifnya, hendaknya strategi tersebut dapat dicoba untuk diterapkan pada topik pembelajaran mekanika teknik lainnya maupun mata pelajaran selain  mekanika teknik.


DAFTAR  RUJUKAN
Anita Lie. 2002. Cooperative Learning, Mempraktekkan Cooperative Learning di            Ruang Ruang Kelas. Jakarta: PT Graznido
Arikunto, S., 2006, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Arikunto, S., dkk., 2006, Penelitian Tindakan Kelas, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Depdikbud a, 2013, Kurikulum 2013, Jakarta.
Depdikbud b, 2013, Mekanika Teknik 1, Jakarta.
Johnson dan Johnson, 2005, Cooperative Learning Archieves, http://co-operation.org.
Moeslichatoen, R., 2004, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Rineka Cipta, Jakarta.
Nurhadi dkk., 2004, Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Universitas Negeri Malang, Malang.
Sanjaya, W., 2005, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kencana Pranada Media Group, Jakarta.
Silberman, M.L., 2006, Activer Learning, Diterjemahkan oleh Muttaqien, Nusamedia, Bandung.
Suderadjad, H., 2004, Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), CV. Cipta Cekas Grafika, Bandung.