Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

UPAYA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MENELITI MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI MATERI AJAR “RUNTUHNYA KERAJAAN-KERAJAAN BERCORAK HINDU-BUDHA”



UPAYA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MENELITI  MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI MATERI AJAR “RUNTUHNYA KERAJAAN-KERAJAAN BERCORAK HINDU-BUDHA”

Agustini

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah mengkaji tentang : Upaya Mengembangkan Kemampuan Meneliti  Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri  Materi Ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember. Rancangan penelitian yang digunakan dalam PTK ini adalah rancangan penelitian research and development dengan model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang direncanakan selama 3 siklus. setelah sebelumnya diadakan analisa data pada kondisi awal sebagai acuan pelaksanannnya. Hasil belajar pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan kondisi awal, hasil belajar pada siklus II juga lebih meningkat daripada siklus I, dan penelitian dihentikan pada siklus II, karena pada siklus ini telah mencapai ketuntasan secara klasikal.

    Kata Kunci:  Kemampuan Meneliti,  Inkuiri

PENDAHULUAN
Salah satu faktor yang sangat strategis dan substansial dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa adalah pendidikan. Pada saat ini pendidikan menjadi fenomena permasalahan yang sangat penting di Indonesia.  Sehingga berbagai upaya perbaikan ditempuh sebagai harapan bagi pembaruan paradigma pendidikan Indonesia yang lebih bermutu dan kompetitif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.( Hidayati, 2009).
Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan pada berbagai komponen pendidikan antara lain adalah menyempurnakan kurikulum, dan menggunakan model pembelajaran, serta bahan ajar yang tepat. Pembaruan dalam bidang kurikulum yang telah dilakukan pemerintah adalah penyempurnaan kurikulum 1994 yang cenderung berpusat pada siswa menjadi konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi, kemudian dilakukan perbaikan lagi terhadap KBK menjadi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah “kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan” (BSNP, 2006:5).
Perencanaan pembelajaran sangat penting untuk membantu guru dan siswa dalam mengkreasi, menata, dan mengorganisasi pembelajaran sehingga memungkinkan peristiwa belajar terjadi dalam rangka mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak pembelajaran yang
sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai tujuan dan hasil belajar yang disasar. Model pembelajaran yang dapat diterapkan pada bidang studi hendaknya dikemas koheren dengan hakikat pendidikan bidang studi tersebut. Namun, secara filosofis tujuan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi siswa dalam penumbuhan dan pengembangan kesadaran belajar, sehingga mampu melakukan olah pikir, rasa, dan raga dalam memecahkan masalah kehidupan di dunia nyata. Model-model pembelajaran yang dapat mengakomodasikan tujuan tersebut adalah yang berlandaskan pada paradigma konstruktivistik sebagai paradigma alternatif.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan oleh guru guna membelajarkan anak didiknya, dimana guru sebagai pengajar dan siswa sebagai anak didik. Kesatuan atau perpaduan kedua unsur ini maka lahirlah interaksi yang edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam kegiatan belajar mengajar. 
Sejarah adalah mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia pada masa lampau hinnga kini (Isjoni, 2007:71). Orientasi pembelajaran sejarah di tingkat SMA bertujuan untuk agar siswa memperoleh pemahaman ilmu dan memupuk pemikiran historis dan pemahaman sejarah.
            Kualitas hasil pembelajaran sejarah dipengaruhi berbagai faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah strategi dalam proses pembelajaran  yang terjadi di dalam kelas. Proses tersebut menyangkut materi ajar  yang digunakan, kegiatan guru dan  siswa, interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru, bahan  ajar,  alat,  lingkungan  belajar,  cara   dan  alat  evaluasi, serta kesesuaian dengan kebutuhan perkembangan siswa itu sendiri.
Guru sebagai pelaku pembelajaran harus mempunyai metode-metode dan strategi yang variatif untuk membuat suasana belajar tidak membosankan bagi siswa yang nantinya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar  siswa adalah melalui penelitian tindakan kelas.
Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah, diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intelektual, mental, emosi, maupun pribadinya. Oleh karena itu dalam proses perencanaan pembelajaran, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Pembelajaran adalah proses memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (bukan hasil mengingat sejumlah fakta).
Berdasarkan hal tesebut diatas, peneliti yang juga sebagai guru Sejarah di Kelas XI, ingin memperbaiki pembelajaran dengan mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang selama ini masih relatif rendah, melalui  penerapan strategi inkuiri.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka rumusan masalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang diajukan sebagai berikut : Apakah Ada peningkatan  Kemampuan Meneliti  Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Materi Ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember?
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah mengkaji tentang : Upaya Mengembangkan Kemampuan Meneliti  Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri  Materi Ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember.
Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan bermanfaat :
a)     Bagi siswa, dapat memberikan motivasi siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan inovatif untuk mengembangkan kemampuan  meneliti dan meningkatkan hasil belajar,
b)     Bagi guru, dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pengetahuan keterampilan dan wawasan berpikir kritis guna melatih kemampuan memahami dan menganalisa masalah-masalah dalam pembelajaran
c)     Bagi sekolah, dapat menjadi masukan kepada guru sebagai bahan pertimbangan dalam  menentukan kebijakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar.

METODE PENELITIAN
Tempat  penelitian merupakan lokasi untuk melakukan penelitian yaitu di kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember. Subyek dan obyek Penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas XI-IPS 1  SMA Negeri 4 Jember pada   yang berjumlah 32 siswa serta proses pembelajaran pendidikan Sejarah Materi Ajar “ Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” dengan Strategi Pembelajaran Inkuiri.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam PTK ini adalah rancangan penelitian research and development dengan model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang direncanakan selama 3



.
Dengan berpedoman pada refleksi awal, maka prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dalam setiap siklus.
  1. Perencanaan
Kegiatan ini meliputi :
a.    Peneliti/guru  pengajar menetapkan alternative upaya peningkatan kualitas pembelajaran
b.    Secara bersama-sama tim peneliti /guru pengajar mata pelajaran membuat perencanaan pembelajaran
c.    Melakukan latihan bersama guru pengajar dan tim peneliti, serta mendiskusikan tentang pembelajaran
d.    Membuat dan melengkapi alat media pembelajaran, seperangkat alat evaluasi (authentic assessment) seperti membuat lembar observasi, merencanakan bentuk tugas, dll.
e.    Menyiapkan segala perangkat observasi demi kesuksesan kegiatan penelitian yang dilengkapi pula dengan membuat angket, lembar observasi, lembar wawancara dan catatan bebas.
  1. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagaimana yang telah direncanakan, yakni strategi pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran pendidikan sejarah materi ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha”.
Secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan SPI dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
§  Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Pada langkah ini guru harus merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting karena keberhasilan SPI sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi yaitu :
-      Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai oleh siswa.
-      Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
-      Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar, hal ini dapat dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
§  Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri.
Beberapa hal yang hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantara :
-      Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa
-      Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti
-      Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa
§  Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan berhipotesis pada setiap anak adalah dengan mengajikan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
§  Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Tugas dan peran guru dalam tahap ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
§  Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.
§  Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebiknya guru mempu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
3.     Observasi
Dalam tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan oleh tim peneliti dan pemegang mata pelajaran. Observasi ini dilaksanakan pada saat maupun setelah proses pembelajaran berlangsung. Pada kegiatan ini digunakan lembar observasi yang dilengkapi dengan angket pedoman wawancara dan catatan bebas.
4.     Refleksi
Data-data yang diperoleh melalui observasi dianalisis pada tahap ini. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti bersama guru Pembina mata pelajaran dapat merefleksikan diri tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil refleksi ini akan dapat diketahui kelemahan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan kelas pada siklus berikutnya. Setelah semua aspek dipertimbangkan secara seksama dipersiapkan siklus berikutnya, demikian seterusnya hingga tercapai target dan dikatakan efektif atau terjadi peningkatan yang signifikan sebagaimana yang telah ditargetkan. Penelitian ini akan dilaksanakan 3 siklus sehingga pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini benar-benar bermanfaat dan meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila dalam siklus II tidak diperoleh hasil belajar yang diinginkan maka akan diteruskan pada siklus selanjutnya.



 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data bermaksud untuk mendapatkan bahan-bahan yang relevan, akurat dan sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah Tes, Observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket.

 Analisis Data
Dijelaskan oleh Moleong (1993: 103) bahwa analisis data merupakan proses mengorganisasikan dan mengurutkan data yang telah diperoleh dari informan kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar. Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan keadaan dilapangan secara deskripsi guna mengetahui kualitas dan efektifitas penggunaan strategi pembelajaran Inkuiri dalam pembelajaran Pendidikan Sejarah.
Dimana dalam memperoleh data kualitatif peneliti dapat menggunakan beberapa cara seperti angket, observasi, wawancara dan tes yaitu dengan mengumpulkan data yang telah tersebut diatas, sehingga dapat diketahui berhasil atau tidaknya  pembelajaran dengan strategi pembelajaran Inkuiri yang dilaksanakan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran Pendidikan Sejarah materi ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha”.

Indikator Kerja
            Indikator yang dapat dicapai dari Penelitian Tindakan Kelas ini antara lain:
  1. Terjadi peningkatan hasil belajar yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai pre tes ke nilai pos tes.
  2. Adanya keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar baik berupa melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan materi yang dipelajari.
  3. Siswa lebih mudah memahami dan menerima materi ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” pada mata pelajaran Pendidikan Sejarah dengan strategi pembelajaran Inkuiri .
  4. Hasil belajar mencapai ketuntasan yakni skor minimal 65% dan secara klasikal 100%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
 Hasil Penelitian
Analisa data yang dilakukan pada para tindakan yaitu sebelum menerapkan strategi pembelajaran Inkuiri pada pembelajaran pendidikan Sejarah materi ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” menunjukkan bahwa hasil belajar belum mencapai ketuntasan, yaitu dari 32 siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 38%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 20 siswa atau sebesar 62%.
Analisis data pada Pra Tindakan lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah iswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember   pada Pra Tindakan.
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
12
38%
65 – 100
20
62%
Jumlah
32
100%
Sumber : Data yang diolah
Berdasarkan analisis data pada Para Tindakan diatas, selanjutnya peneliti melanjutkan Penelitian Tindakan Kelas pada siklus I dengan menerapkan strategi pembelajaran Inkuiri untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada Pra Tindakan. Pada kesempatan ini peneliti menjelaskan strategi pembelajaran Inkuiri, dan memberi contoh Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu Budha. Siswa menyimak apa yang dijelaskan oleh peneliti dan tampak mulai memahami strategi pembelajaran Inkuiri dan materi yang diajarkan.
Pada siklus I ini, masih ada beberapa siswa yang belum bisa menyesuaikan dengan strategi pembelajaran Inkuiri yang diterapkan, sehingga masih ada siswa yang belum mencapai ketuntasan hasil belajar. Namun, berdasarkan analisa data yang dilakukan, terjadi peningkatan hasil belajar pada siklus I, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau sebesar 16%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 84%. Hal ini lebih jelas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah Materi Ajar ”Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember   pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
5
16%
65 – 100
27
84%
Jumlah
32
100%
Sumber : Data yang diolah
Meskipun secara klasikal pada siklus I sudah sudah terjadi peningkatan hasil belajar , namun masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga perlu perbaikan pada siklus selanjutnya yaitu siklus II.
Pelaksanaan siklus II, hanya mengulang apa yang sudah diterapkan pada pembelajaran siklus I. Pada siklus ini siswa sudah terbiasa dengan strategi pembelajaran Inkuiri, sehingga suasana belajar lebih menyenangkan. Selanjutnya dilakukan analisa data pada siklus II, yang dilakukan dengan tes dan latihan soal sudah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang diharapkan . Untuk lebih jelas, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sejarah Materi Ajar ”Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember   pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Persentase
< 65
3
9%
65 – 100
29
91%
Jumlah
32
100%
Sumber : Data yang diolah

Analisa data pada siklus II, menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya 3 siswa atau sebanyak 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa atau 91%, oleh karena itu analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya karena telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal.
Untuk melihat lebih jelas peningkatan hasil belajar dari mulai Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II, dapat dijelaskan pada tabel 4 dan grafik 1, sebagai berikut :

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran  Sejarah Materi Ajar ”Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember    pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus II
Siklus III
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
38%
5
16%
3
9%
65 – 100
20
62%
27
84%
29
91%
Jumlah
32
100%
32
100%
32
100%
 Sumber : Data yang diolah
           
Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Mata Pelajaran  Sejarah Materi Ajar ”Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember    pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II

Sumber : data yang diolah

 Pembahasan
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna,  dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
Strategi Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi yang diangap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah belajar
Peningkatan hasil belajar pedidikan sejarah materi ajar ”Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” yang terjadi siklus I, dan siklus II, dapat dipahami karena pembelajaran dengan strategi pembelajaran Inkuiri membuat siswa dapat berperan langsung dalam proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
            Pada pra tindakan hasil belajar belum mencapai ketuntasan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 38%, dan yang mendapat nilai 65-100 sebanyak 20 siswa atau  sebesar 62%. Pada siklus I dengan penerapan strategi pembelajaran Inkuiri (SPI) terjadi peningkatan hasil belajar, yaitu yang mendapat nilai < 65 sebanyak 5 siswa atau 16%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 27 siswa atau sebesar 84%. Pada siklus II, menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar yang menggembirakan, yaitu siswa yang mendapat nilai < 65 hanya 3 siswa atau sebanyak 9%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 29 siswa atau 91%, oleh karena itu analisa data tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Berdasarkan observasi langsung peneliti mengetahui bagaimana keantusiasan siswa ketika proses pembelajaran berlangsung pada masing-masing kelas. Dan juga dari hasil wawancara peneliti dengan siswa diketahui bahwa siswa lebih tertarik belajar dengan menggunakan metode pembelajaran dengan strategi pembelajaran Inkuiri. Alasan penulis tertarik terhadap pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran Inkuiri karena, pembelajaran ini akan mendorong siswa untuk lebih aktif dalam belajar selain itu siswa terlibat langsung dalam pembelajaran Sejarah. Dengan begitu siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan, yaitu “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu Budha”.
Baik atau buruknya suatu pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Hasil belajar akan baik jika dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran siswa dapat berkonsentrasi dalam belajar, tidak gaduh, dan siswa antusias mengikuti pelajaran serta dapat meguasai materi yang disampaikan, dalam hal ini dapat dibuktikan dengan tercapainya tujuan pembelajaran. Hasil penelitian tersebut jika dicermati lebih dalam membawa implikasi bahwa pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran Inkuiri sebagai alternatif dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setelah sebelumnya diadakan analisa data pada kondisi awal sebagai acuan pelaksanannnya. Hasil belajar pada siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan kondisi awal, hasil belajar pada siklus II juga lebih meningkat daripada siklus I, dan penelitian dihentikan pada siklus II, karena pada siklus ini telah mencapai ketuntasan secara klasikal.
Peningkatan hasil belajar belajar yang diperoleh pada penelitian ini menyimpulkan bahwa : Ada Upaya Mengembangkan Kemampuan Meneliti  Melalui Strategi Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Hasil Belajar  Sejarah Materi Ajar “Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha” Siswa Kelas XI-IPS 1 SMA Negeri 4 Jember  .

Saran-Saran
Saran-saran yang dapat peneliti sampaikan agar pembelajaran berjalan lebih optimal adalah :
a)  Untuk siswa, hendaknya dapat belajar mandiri sehingga ketergantungan terhadap guru dapat berkurang,
b)  Untuk guru, penerapan model pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa sehingga hasilnya dapat maksimal,
c)  Untuk sekolah, hendaknya dapat menjadi fasilitator yang aktif dalam meningkatkan profesionalisme kinerja guru .

DAFTAR  RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Alfian, Magdalia. 2007. ‘Pendidikan Sejarah dan Permasalahan yang Dihadapi’
Hassan, Aini. 1998. ‘Pengajaran dan Pembelajaran Sejarah di Sekolah : Guru Sebagai Broker Ilmu Sejarah’. Dalam Jurnal Masalah Pendidikan. Jilid 21. Hal 109-123
Kochhar, S.K. 2008. Pembelajaran Sejarah. Terjemahan Purwanta dan Yovita Hardiati. Jakarta : PT Grasindo
Isjoni. 2007. Pembelajaran Sejarah Pada Satuan Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2006. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Cet. XV). Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya.
Siswandi, pengertian every one is teacher here. http:www. ptk gurublog
Uno, Hamzah B., Abdul Karim Rauf, dan Najamuddin Petta Solong. 2008. Pengantar Teori Belajar dan Pembelajaran. (Cet. II). Gorontalo: Nurul Jannah.
Usman, Moh Uzer dan Lilis Setiawati. 2001. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahidmurni, Alifin Mustikawan, dan Ali Ridho. 2010. Evaluasi Pembelajaran: Kompetensi dan Praktik. Yogyakarta: Nuha Letera.