Cari Blog Ini

Selasa, 09 Mei 2017

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “REKAMAN INFORMASI” MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME



UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI AJAR “REKAMAN INFORMASI” MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

 Sri Harmini

Abstrak: Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk mengkaji tentang : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Rekaman Informasi” Melalui Pendekatan Konstruktivisme Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember. Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection). Hasil Penelitian: Penerapan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, meningkatkan kemampuan siswa, dan meningkatkan kemampuan guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Peningkatan aktivitas siswa dari kondisi awal sebesar 60%, pada siklus I sebesar 73%, dan pada siklus II mencapai 93%.

     Kata Kunci:  Konstruktivisme, Hasil Belajar

PENDAHULUAN
Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Peneliti memilih teori konstruktivisme karena setuju dengan teori pembelajaran yang satu ini. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret. 
Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasilkan menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan guru pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang.
Maka dari permasalahan tersebut, Peneliti tertarik melakukan penelitian konsep untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya siswa bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
Kontruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von Glaserfeld dalam Pannen dkk, 2001:3). Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Seruan tersebut memberi dampak terhadap landasan teori belajar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Semula teori belajar dalam pendidikan Indonesia, lebih didominasi aliran psikologi behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para pakar pendidikan di Indonesia banyak yang menyerukan agar landasan teori belajar mengaju pada aliran konstruktivisme. Akibatnya, oreintasi pembelajaran di kelas mengalami pergeseran. Orentasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa.
Siswa tidak lagi diposisikan bagaikan bejana kosong yang siap diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima pengatahuan dari gurunya. Siswa kini diposisikan sebagai mitra belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang paling tahu. Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium, televisi, koran dan internet.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasiltator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1998:5-6). Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa (Suherman dkk, 2001:76).
Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya (Setyosari, 1997: 53).
Memperhatikan uraian diatas, dapat diketahui pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. membuat siswa bisa belajar aktif dan mandiri. Ia akan membagun pengetahuannya dari yang sederhana menuju pengetahuan yang kompleks. Dan dengan bantuan guru, siswa bisa diarahkan untuk mengaitkan suatu informasi dengan informasi yang lainnya sehingga terbentuk suatu pemahaman baru.
Berdasarkan masalah penelitian tindakan kelas maka rumusan ini, peneliti sampaikan sebagai berikut : Apakah Ada Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Rekaman Informasi” Melalui Pendekatan Konstruktivisme Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   ?
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk mengkaji tentang : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Rekaman Informasi” Melalui Pendekatan Konstruktivisme Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   .
Adapun manfaat hasil penelitian tindakan kelas ini adalah :
a)    Bagi Siswa, penelitian ini memberikan pengalaman baru sehingga siswa lebih bersemangat dalam mengikuti proses belajar sehingga bisa meningkatkan hasil belajar khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia,
b)    Bagi Guru, penelitian ini dapat mengembangkan pengetahuan tentang metode mengajar dalam disiplin ilmu yang ditekuni,
c)    Bagi sekolah, sebagai informasi dalam pembelajaran dan alternatif metode mengajar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas ini diadakan pada  , sedangkan tempat penelitian yaitu di SMA Negeri 4 Jember.Subyek  Penelitian tindakan kelas siswa kelas XII-IPA 5  SMA Negeri 4 Jember yang berjumlah 30 siswa, serta proses dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Rekaman Informasi” Melalui Pendekatan Konstruktivisme.

Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK). menurut Sunardi (1997:3) bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian atau kajian secara sistematis dan terencana yang dilakukan oleh peneliti dan praktisi (dalam hal ini guru), untuk memperbaiki pelajaran dengan jalan mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk mengembangkan keterampilan -keterampiIan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung didunia kerja atau dunia aktual.

PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena menempatkan guru sebagai agen perubahan, menempatkan guru sebagai peneliti bukan sebagai informan pasif dan mengutamakan kerjasama antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik.
Jadi penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dapat mengembangkan strategi guru dalam proses belajar mengajar karena dapat mengadakan perbaikan atau perubahan dan mempelajari akibat yang ditimbulkan.
Rancangan penelitian ini menggunakan skema model penelitian tindakan Hopkins yaitu suatu suatu model tindakan kelas yang digambarkan dalam bentuk spiral yang terdiri dari 4 fase yang meliputi : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).
1) Perencanaan (planning)
Dalam penelitian ini disusun suatu desain pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivisme, materi pelajaran, post-tes, pedoman observasi, angket, mengkordinir tindakan.
2) Tindakan (action)
Pada fase tindakan yang dilakukan adalah penerapan Pendekatan Konstruktivisme pelaksanaannya yaitu antara lain penyampaian masalah, pembentukan kelompok, menagih lembar tulisan siswa dan mengadakan post-tes diakhir pembelajaran. Pada tahap ini juga akan dilakukan wawancara dan pemberian angket untuk mengetahui kesulitan siswa dan tanggapan siswa terhadap Pendekatan Konstruktivisme.
3) Pengamatan (observation)
Pada fase ini yag dilakukan adalah pengumpulan data yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivisme. Fokus pengamatan dalam tahap observasi ini sesuai dengan perencanaan dalam lembar pedoman observasi.
4) Refleksi (reflection)
            Hasil dari pengamatan ini dijadikan sebagai dasar langkah berikutnya yakni apakah hasil yang didapatkan sudah sesuai dengan kriteria ketuntasan atau tidak. Jika iya maka penelitian selesai yang berarti penelitian hanya sampai pada siklus I namun jika tidak maka akan dilanjutkan pada siklus II yakni diawali dengan merevisi kembali perencanaan, kemudian melakukan kembali poin 2, 3, 4 dan seterusnya.
Penelitian ini direncanakan menggunakan 3 siklus jika pada siklus pertama hasil belajar sudah mencapi ketuntasan maka siklus akan dihentikan begitu sebaliknya.

Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu memperoleh data-data yang relevan dan akurat yang dapat digunakan dengan tepat sesuai dengan tujuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Metode observasi 2) Metode wawancara 3) Metode tes 4) Metode dokumentasi.

Analisis Data
Analisis merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif terhadap data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara oleh peneliti seperti tanggapan guru dan siswa mengenai penerapan Pendekatan Konstruktivisme dan kegiatan guru selama proses pembelajaran berlangsung sedangkan analisis data kuantitatif diperoleh dari hasil tes.

Indikator Kinerja
Kriteria ketuntasan hasil belajar adalah daya serap perseorangan, seseorang siswa dikatakan tuntas apabila telah mencapai skor >65 dari skor maksimal 100 daya serap klasikal suatu kelas dikatakan tuntas apabila terdapat minimal 85%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN
            Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 4 Jember khususnya siswa kelas XII IPA 4   yang jumlah siswanya sebanyak 35 orang, dapat diketahui kelayakan penerapan pendekatan Konstruktivisme dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia  materi pokok “ Rekaman Informasi”.
            Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan guru kelas dan kepala sekolah yang membantu dalam pelaksanaan observasi dan refleksi selama penelitian berlangsung, sehingga penelitian bisa terkontrol sekaligus menjaga kevalidan hasil penelitian. Analisis data sebelum penerapan pendekatan Konstruktivisme (pra tindakan) adalah, yang mendapat nilai < 65 sebanyak 12 siswa atau sebesar 40%, dan yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 18 atau sebesar 60%, sehingga pada kondisi awal dinyatakan belum tuntas belajar.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran dengan  pendekatan Konstruktivisme, guru mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia sesuai yang telah direncanakan, guru lebih menekankan pada aktivitas belajar siswa.
Kegiatan observasi pembelajaran dengan pendekatan Konstruktivisme dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi utamanya dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) dan dibantu oleh guru lain, observasi difokuskan pada proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran utamanya berkaitan dengan keterampilan guru dalam mengajarkan tugas merangkum.
            Alasan ketertarikan terhadap metode pembelajaran ini belum pernah diterapkan, siswa lebih aktif dalam belajar dan siswa. Berkaitan dengan hasil belajar akan dijelaskan melalui tahapan-tahapan Siklus  sebagai berikut :
            Pada siklus I ini pembelajaran dilakukan satu kali pertemuan yang dilaksanakan dengan materi ajar : “Rekaman Informasi” dengan menerapkan pendekatan konstruktivisme. Kurikulum yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan kompetensi dasarnya. Tujuan Pembelajaran yang ingin di capai dalam pembelajaran ini adalah: siswa dapat membuat rangkuman  dan juga membaca informasi  dengan benar serta dapat menyebutkan pokok-pokok isi rekaman informmasi yang dibaca.  Hasil analisa data pada siklus I dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :




Tabel 2. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia  Materi Ajar “Rekaman Informasi” Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   pada Pada Siklus I
Kriteria Nilai
Siswa
Prosentase
< 65
8
27%
65 -100
22
73%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data Yang Diolah
                  Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat diketahui hasil ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Siklus I diketahui, siswa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 8 siswa atau sebesar 27%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 22 siswa atau sebesar 73%, meskipun pada siklus I sudah terjadi peningkatan hasil belajar, namun masih belum mencapai ketuntasan seperti yang diharapkan. Selanjutnya untuk mendapatkan ketuntasan hasil belajar secara Signifikan , maka dilakukan analisis data pada Siklus II .
            Tahap siklus II ini dilaksanakan sesuai dengan siklus I, namun pada siklus II ini lebih di fokuskan untuk memperbaiki setiap kekurangan yang ada pada siklus I. Berdasarkan hasil penelitian maka yang menjadi catatan penting untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan pada pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II ini adalah masih kurangnya penguasaan kelas oleh guru, sehingga sebagaian siswa belum mencapai hasil yang diharapkan diakibatkan siswa-siswa tidak fokus pada materi yang sedang di pelajari maupun pada model pembelajaran talking stick yang digunakan. Pada tahap ini, tentunya peneliti membuat RPP yang materinya masih sama dengan siklus I namun evaluasinya berbeda yang disusun berdasarkan kesepakatan dengan guru kelas dan kepala sekolah.
            Kegiatan observasi pada siklus II ini dilaksanakan bersamaan dengan mitra kolaborasi, yang terdiri dari guru kelas,  kepala sekolah dan peneliti sendiri. Pelaksanaan observasi ini berlangsung bersamaan dengan proses pembelajaran, meliputi: aktivitas guru dan siswa, dan hasil belajar siswa.
            Berdasarkan kajian dan anlisis data terhadap proses pembelajaran mulai dari perencanaan hingga evaluasi terhadap aktivitas pembelajaran yang dilakukan ternyata telah terjadi peningkatan pada pembelajaran. Hal ini terlihat pada tingginya aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan belajar yang sedang berlangsung, siswa terlihat sangat antusias mengikuti setiap proses pembelajaran melalui pendekatan konstruktivisme baik dalam menjawab pertanyaan maupun dalam mengerjakan soal latihan.Sehingga dilihat dari hasil observasi dan hasil evaluasi belajar siswa, telah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dan dapat di simpulkan bahwa pada siklus kedua hasilnya sudah baik. Jadi, penelitian ini tidak dilanjutkan lagi.
            Hasil pembelajaran Bahasa Indonesia pada siklus II dapat di lihat pada tabel 2 berikut ,
Tabel 3. Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia  Materi Ajar “Rekaman Informasi” Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   pada Pada Siklus II
Kriteria Nilai
Siswa
Prosentase
< 65
2
7%
65 -100
28
93%
Jumlah
30
100%
Sumber : Data Yang Diolah
                  Berdasarkan hasil ketuntasan belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Siklus II, sisawa yang mendapat nilai < 65 sebanyak 2 siswa atau sebesar 7%, yang mendapat nilai 65 – 100 sebanyak 28 siswa atau sebesar 93%, dengan demikian pada Siklus II dinyatakan tuntas belajar secara klasikal. Karena pada siklus II, sudah mendapatkan ketuntasan hasil belajar yang diharapkan, maka analisa data dihentikan dan penelitian tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 dan pada Grafik 1, di bawah ini .

Tabel 3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia  Materi Ajar “Rekaman Informasi” Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   pada Pada Siklus Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II
Kriteria Nilai
Pra Tindakan
Siklus I
Siklus II
Siswa
%
Siswa
%
Siswa
%
< 65
12
40%
6
27%
2
7%
65 – 100
18
60%
22
73%
28
93%
Jumlah
30
100%
30
100%
30
100%
 Sumber : Data yang diolah

Grafik 1. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Bahasa Indonesia  Materi Ajar “Rekaman Informasi” Siswa Kelas XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember   pada Pada Siklus Kondisi Awal, Siklus I, Dan Siklus II
 
Sumber : Data yang diolah

Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis kuantitatif diskriptif di atas, menunjukan bahwa kadar proses pembelajaran siswa mengalami peningkatan dari siklus kedua dibanding siklus I. Peningkatan ini dapat kita pahami karena pada dasarnya pendekatan konstruktivisme mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan konstruktivisme adalah suatu strategi yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri melalui penyelidikan secara sistematis, kritis, logis dan analitis berdasarkan konsep dan prinsip-­prinsip. Oleh karena itu proses pengajaran harus memberikan stimulus agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu guru juga berperan untuk mendorong siswa agar memiliki pengalaman dan melakukan percobaan.
Peningkatan yang dicapai oleh siswa pada tindakan pertama yang cukup signifikan ini, akan menjadi dasar bagi peneliti untuk meneruskan model pembelajaran ini dengan tindakan kedua, khususnya untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar secara klasikal walaupun model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar cukup bervariasi, akan belum banyak memberikan perubahan pada upaya optimalisasi peningkatan proses pembelajaran yang tuntas.
Tingkat ketuntasan belajar dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : motivasi, suasana kelas, materi pembelajaran, kompetensi (profesi guru) dan lain-lain. Khusus guru berdasarkan pengamatan peneliti, relatif kurang dasar profesi keguruannya, Keadaan seperti itu, akan mempengaruhi seorang guru dalam proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan kadar proses pembelajaran siswa, khusus variasi-variasi model pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif. Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung dari interaksi guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa dapat dilihat dalam hal tanya jawab yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar (Sudjana,114140) dan proses interaksi akan berjalan bila siswa memiliki reaksi cepat terhadap stimulus yang diberikan oleh guru.
Peran guru dalam mendorong keaktifan siswa masih diperlukan terutama dalam memberikan stimulus dan mengkondisikan belajar yang kondusif karena dengan selalu memperhatikan kondisi tersebut dalam pemberian stimulus oleh guru akan dapat mendorong siswa untuk semakin mandiri, pembelajaran mampu mendorong dan memotivasi siswa untuk dapat meningkatkan proses pembelajaran.
Pemberian motivasi untuk memanfaatkan sarana pembelajaran yang tersedia dan selalu memanfaatkan belajar kelompok akan dapat meningkatkan kadar proses pembelajaran optimal dan akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa sebagaimana diharapkan bersama, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin mengglobal sekarang.
Peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik suatu mata pelajaran adalah merupakan suatu kemampuan seorang pendidik untuk memiliki daya kreatif dan inovatif melalui suatu percobaan tindakan dikelas. Kegiatan ini harus dilakukan terus menerus oleh seorang pendidik, sampai mendapatkan model pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang dibinanya.
Hasil ini apabila dilaksanakan akan dapat mendorong siswa untuk meningkatkan motivasi belajar melalui kolaborasi model pembelajaran dalam rangka untuk mencapai suatu target pembelajaran yang direncakan. Tercapainya target pembelajaran itu harus didukung oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai dan representative. Kondisi lingkup pembelajaran yang kondusif dan sarana yang reprentatif akan membuat siswa belajar lebih giat, senang dan kreatif dalam belajar. Kondusif pembelajaran yang dimiliki oleh sekolah ini sudah cukup memadai dan representative, untuk selanjutnya merupakan kewajiban seorang pendidik menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mendorong dan memanfaatkan kondisi yang semaksimal mungkin dalam meningkatkan kadar proses pembelajaran yang berkualitas, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang berdaya saing tinggi.
Keunggulan dan Kelemahan Model Konstruktivisme, yaitu :
§   Keunggulan Model kontruktivisme
-     Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
-     Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
-     Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
-     Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
-     Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
-     Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
§   Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
 Penerapan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia  dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, meningkatkan kemampuan siswa, dan meningkatkan kemampuan guru dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Peningkatan aktivitas siswa dari kondisi awal sebesar 60%, pada siklus I sebesar 73%, dan pada siklus II mencapai 93%, sehingga dapat disimpulkan bahwa : Ada Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Ajar “Rekaman Informasi” Melalui Pendekatan Konstruktivisme Siswa Kelas  XII-IPA 5 SMA Negeri 4 Jember  .

Saran-Saran
Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan situasi yang kondusif dalam pembelajaran guru hendaknya mengambil posisi sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Peran sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran akan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan gagasan dan argumentasinya sehingga proses negosiasi makna dapat dilaksanakan. Melalui negosiasi makna, siswa akan terhindar dari cara belajar menghafal.

DAFTAR RUJUKAN

Ali Muhammad Syaikh Quthb, 2005. Amal Shaleh Pengantar ke Surga dan Penyelamat dari Neraka,  Jakarta Timur : Pustaka al-Kautsar 
Basiran, Mokh. 1999. Apakah yang Dituntut GBPP Bahasa Indonesia Kurikulum 1994?. Yogyakarta: Depdikbud
Cahyo, Agus N. 2013. Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Yogyakarta: Diva Press
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi.Jakarta :Depdiknas
Hasan, P. D. 2008. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Machfudz, Imam. 2000. Metode Pengajaran Bahasa  Indonesia Komunikatif. Jurnal Bahasa dan Sastra UM
Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensido Offset.
Suparno. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.Yogyakarta: Kanisius
Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Bandung: Rosda
Saksomo, Dwi. 1983. Strategi Pengajaran Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang
Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka