Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015


IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS NILAI-NILAI
MULTIKULTURALISME UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS SOSIAL SISWA
KELAS XI IPS 1 DI SMA MUHAMMADIYAH 1 RAMBIPUJI
M. Iqbal Ibrahim H
iqbal.ikip3@gmail.com
Abstrak: Penelitian ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai multikulturalisme melalui pembelajaran sejarah, sehingga siswa mampu meningkatkan rasa solidaritas sosial baik antar individu, antar budaya, agama, dan antar golongan dalam masyarakat. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Tahapnya yaitu perencanaan tindakan , pelaksanaan tindakan, pengamatan terhadap tindakandan refleksi.. Teknik pengumpulan data meliputi : 1) teknik wawancara mendalam ; 2) pengamatan (observasi); 3) tes ; 4) angket ; 5) dokumentasi. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dalam proses pembelajaran sejarah. Nilai tugas pembuatan makalah kelompok, nilai solidaritas siswa dalam kelompok belajar, serta nilai tes siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I, II, III. Hasil nilai makalah yang diperoleh siswa di siklus I adalah 70, siklus II 80, dan siklus III sebesar 81. Nilai sikap solidaritas siswa dalam kelompok belajar di siklus I adalah 55 %, siklus II 64 % dan siklus III sebesar 74 %. Selanjutnya nilai tuntas penguasaan materi siswa dari tes yang dilakukan di siklus I adalah 53,3 % , siklus II 66,6 %, dan siklus III sebesar 76,6 %.
Kata kunci : Multikulturalisme, Solidaritas Sosial

PENDAHULUAN
Indonesia jelas adalah sebuah negeri multikultural. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika
memuat idealitas multikulturalisme di Indonesia. Masyarakat nusantara juga bersifat polietnis
yang diutuhkan melalui kebanggaan bersama atas prestasi-prestasi sejarah tertentu. Namun
keanekaragaman ini menimbulkan sejumlah permasalahan dimana semakin banyak perselisihan
yang terjadi dalam masyarakat seperti hak berbahasa, perwakilan politik, bahkan dalam
pendidikan.
Sejarah mencatat bahwa selama masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah menerapkan
politik “keseragaman budaya” (monokulturalisme) yang justru menghancurkan local cultural
geniuses masyarakat. Padahal tradisi sosiokultural lokal tersebut merupakan kekayaan budaya
yang dimilki bukan oleh masyarakatnya sendiri, melainkan untuk masyarakat yang lain pula.
Kymlicka (2015) menyatakan bahwa sebuah negara multinasional dan polietnis tidak
niscaya tercabik-cabik dari dalam, bahkan kemajemukan itu dapat menjadi dasar bagi kemajuan
kemanusiaan, demokrasi dan peradaban, bila dihadapi dengan strategi politis yang tepat. Kondisi
seperti inilah yang diharapkan oleh bangsa Indonesia saat ini, dan masa yang akan datang.
Pada era multikulturalisme sekarang, dimana masyarakat beserta setiap komponennya
diharuskan dapat memikul tanggung jawab agar tercapainya tujuan seperti yang dicita-citakan
dalam Pancasila. Bagian utama sebagai akibat dari globalisasi dimana sekat-sekat pluralisme
budaya dan agama adalah menghidupkan nilai-nilai solidaritas sosial dalam masyarakat yang
multikultural.
Dikutip dari Azra (dalam Tilaar, 2012 : 11) bahwa pembentukan masyarakat multikultural
Indonesia yang sehat harus diupayakan secara sistematis, pragmatis, integrated, dan
berkesinambungan, melalui pelaksanaan pendidikan multikultural yang diadakan oleh seluruh
lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal dalam dunia masyarakat.
Demi tujuan tersebut, pendidikan masih dijadikan ukuran dalam kehidupan masyarakat.
Hal ini disebabkan karena pendidikan diyakini berperan besar untuk membentuk karakter
seseorang yang di didik (Ma’arif : 2005).
Pendidikan sebagai usaha untuk menyadarkan, mengarahkan, serta memberikan
pemahaman yang mampu menciptakan perubahan perilaku individu, termasuk internalisasi
pluralisme pada peserta didik.
Gagasan, nilai, konsep dan penerapan multikulturalisme pastilah paling efektif dapat
dilakukan melalui pendidikan, atau lebih tegas lagi melalui pendidikan multikultural. Lebih lanjut
Durkheim (dalam Maliki, 2010 : 92) mengatakan bahwa pendidikan dipersepsikan sebagai
keseluruhan yang utuh dari masyarakat sebagai satu kesatuan. Pendidikan menjadi acuan
masyarakat untuk membuat perubahan dan berfungsi serta mempunyai tugas mencegah perilaku
menyimpang dari anggota masyarakatnya.
Maka, tujuan pendidikan Indonesia menurut Pidarta (2009 : 19) ialah menciptakan
manusia Indonesia seutuhnya, untuk mengembangkan potensi dalam diri individu sehingga
tercipta kondisi yang imbang, optimal, dan terintegrasi. Apabila dilakukan dengan maksimal,
maka tujuan pendidikan multikulturalisme untuk menciptakan rasa solidaritas, perdamaian, dan
keadilan dapat terwujud dikalangan generasi muda saat ini. Mengacu pendapat Sukmadinata
(2012: 58-59), ada tiga sifat penting pendidikan antara lain : 1) pendidikan mengandung nilai dan
memberikan pertimbangan nilai: 2) Pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat; 3)
Pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat
pendidikan itu berada.
Namun fenomena-fenomena yang terjadi di dunia pendidikan, khususnya di sekolahsekolah
menunjukkan keprihatinan dalam masyarakat. Pergaulan bebas dikalangan siswa,
ditambah lagi dengan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya, atau bahkan
perkelahian yang melibatkan antar siswa maupun antar sekolah justru mencoreng dunia
pendidikan Indonesia.
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Martono (2012), bahwa tindakan kekerasan di
sekolah sering dianggap sebagai tindakan untuk menegakkan disiplin oleh siswa. Misalnya guru
menghukum siswa karena tidak membuat PR, berbuat gaduh di kelas, membolos, serta kekerasan
diantara para siswa itu sendiri. Contoh kasus lain yaitu perkelahian antar sekolah melibatkan
siswa seringkali dilatarbelakangi perasaan membela teman atau membela nama sekolahnya.
Fenomena ini oleh Durkheim disebut sebagai “kesadaran kolektif” dalam kelompok siswa
dimana terjadi konflik antara dua atau tiga siswa dari sekolah yang menyebut dirinya geng yang
berbeda, sehingga bisa melebar menjadi tindakan krimunal yang melanggar hukum.
Melihat fenomena diatas, maka sebagai salah satu lembaga pendidikan, sekolah
mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam memberikan
pembelajaran dan pemahaman mengenai nilai-nilai multikulturalisme. Dengan demikian, apa
yang dikhawatirkan oleh Bourdieu bahwa sekolah sebagai arena terjadinya kekerasan simbolik
tidak terjadi.
Berdasarkan itu, baik dalam kehidupan masyarakat tradisional dan modern
mengenalkan masyarakat ke arah kebudayaannya sendiri, sehingga diharapkan implementasi
nilai-nilai multikulturalisme dapat dijalankan dengan baik, khususnya dikalangan pelajar dan
generasi muda agar tercipta kerukunan, keadilan, perdamaian dan solidaritas antar budaya yang
dapat memperkokoh integritas serta integrasi bangsa. Di Indonesia, proses pendidikan
pembudayaan dilakukan di sekoah formal dan nonformal.
Lebih lanjut, Budiningsih (2008: 18- 19) mengemukakan bahwa karakteristik anak dan
remaja yang bertemapt tinggal di satu daerah akan berbeda dengan di daerah lain. Maka yang
perlu dipahami lebih dulu disini adalah kebudayaan masyarakatnya. Berdasarkan hal tersebut,
maka implementasi nilai-nilai multikulturalisme disekolah dirasa sangat penting agar tidak terjadi
kesalahpahaman oleh siswa dalam mengenal budaya satu dengan yang lainnya.
Guna mengetahui sejauh mana tingkat solidaritas sosial siswa di sekolah, sebagai
implementasi nilai-nilai multikulturalisme maka penulis yang berkolaborasi dengan guru
berusaha menerapkan sebuah model pembelajaran sosial di kelas melalui belajar bersama
(kelompok). Belajar kelompok ini merupakan metode yang memberi harapan yang mana guru
studi sosial secara serempak dapat mencapai tujuan akademik dan tujuan sosio-moral.
Metode diskusi yang dipilih dalam kelas juga menunjkkan bahwa belajar dapat menjadi
alat yang penting untuk mengembangkan prilaku prososial dan mementingkan orang lain, dan
menghargai orang lain tanpa melihat latar belakang budayanya.
Menurut Ryan dan Wheeler (dalam Leeming, 1983 : 139) berpendapat bahwa dengan
menggunakan kurikulum bebeapa studi sosial menemukan bahwa siswa telah belajar dengan cara
kerja sama dan membuat keputusan-keputusan yang lebih kooperatif dan membantu dalam
permainan simulasi berikutnya. Pada umumnya metode belajar dengan cara bekerja sama bila
dibandingkan dengan kelompok kelompok yang tidak bekerja sama, dapat menghasilkan belajar
lebih baik.
Dalam penelitian ini yang mejadi fokus adalah mata pelajaran sejarah yang menurut
Kochhar (2008: 475) merupakan mata pelajaran yang dianggap penting untuk dapat melahirkan
sebuah perasaan yang kuat tentang sikap intelektual dan integritas bangsa. Pembelajaran sejarah
dapat memberikan sebuah inspirasi bagi peserta didik bahwa proses sosial merupakan
kompleksitas permasalahan yang terjadi di masyarakat yang memerlukan pemahaman.
Lebih lanjut, Kochhar (2008: 149) berpendapat bahwa sejarah memberikan dasar dan
perspektif untuk topik-topik penting dalam ilmu sosial seperti pendidikan, populasi, perang,
perdagangan, pedesaan dan perkotaan, adat/tradisi, perubahan sosial dan sebagainya. Dengan
demikian ilmu sejarah dan ilmu sosial merupakan ilmu yang interdependen. Ini berarti bahwa
pembelajaran tentang suatu masyarakat akan kurang lengkap tanpa laporan tentang
perkembangannya di masa lampau.
Melalui implementasi nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah,
diharapkan mampu meningkatkan solidaritas sosial siswa di SMA Muhammadiah 1 Rambipuji,
serta dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang tepat diharapkan minat dan
partisipasi belajar siswa lebih baik serta memiliki pengaruh pada hasil yang dicapai.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti bersama dengan guru sejarah ingin
mengimplementasikan “pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk
meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji”.
Adapun tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
1. Mengetahui kondisi pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1
Rambipuji
2. Mengetahui dan menganalisis implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-niai
multikulturalisme pada di kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji.
3. Mengetahui apakah pembelajaran sejarah berbasis nilai-niai
multikulturalisme dapat meningkatkan solidaritas sosial di kelas XI IPS 1 di SMAN
Muhammadiyah 1 Rambipuji.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 1 SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji Kabupaten
Jember. Kegiatan penelitian ini direncanakan dimulai pada semester ganjil tahun ajaran 2013-
2014 dan mengacu pada kompetensi dasar menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal,
hindu-buddha, dan islam di indonesia. Melalui kompetensi dasar tersebut peneliti berharap bisa
menerapkan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari informan, baik kepala sekolah, wakil
kepala kurikulum, maupun dari guru mata pelajaran sejarah di SMA Muhammadiyah 1
Rambipuji. Sementara itu sumber data lain diperoleh melalui dokumen dan arsip yang terkait
dengan penelitian ini.
Teknik pengumpulan data yang dijadikan sebagai alat yaitu: 1) teknik wawancara
mendalam ; 2) observasi atau pengamatan ; 3) tes ; 4) angket ; 5) dokumentasi.
Teknik analisis menggunakan teknik analisis interaktif yang digunakan berdasarkan
pendapat Miles dan Huberman. terdapat empat unsur yang meliputi unsur pengumpulan data dan
unsur lainnya dimana kegiatan satu terkait dengan yang lain, diantaranya meliputi reduksi data,
display data, dan kesimpulan. Teknik interaktif ini dimaksudkan untuk mencari kelebihan dan
kekurangan dalam proses pembelajaran dari siswa atau guru. Hasilnya dijadikan dasar dalam
menyusun rencana tindakan
Peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang
berkolaborasi dengan melibatkan guru mata pelajaran sejarah. Burns (1999: 13) mengatakan
bahwa proses penelitian kolaboratif menguatkan kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik
pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan
kritis.
Aqib (2008: 19) menyatakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas yaitu penelitian yang
dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempatnya mengajar yang bertujuan pada
penyempurnaan dan peningkatan proses dalam pembelajaran.
Pengertian lain Penelitian Tindakan Kelas menurut Hamdani dan Hermana (2008 : 43-
44) adalah pelaksanaan penelitian yang mencermati kegiatan belajar untuk diberikan tindakan,
baik secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, bertujuan untuk memecahkan
permasalahan atau meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
Kesimpulannya bahwa penelitian tindakan merupakan proses yang menilai kegiatan
pembelajaran yang dilakukan secara sistematis serta menggunakan teknik- teknik, metode, dan
media yang sesuai. Secara garis besar juga dapat disimpulkan bahwa tujuan Penelitian Tindakan
Kelas adalah untuk merubah cara pembelajaran oleh guru, perilaku peserta didik, meningkatkan
prosses pembelajaran sehingga dapat menciptakan guru yang profesional dan siswa yang lulus
memiliki daya saing.
Lebih lanjut karakteristik PTK mengacu pada pendapat Aqib (2008: 16) yaitu : 1)
berdasarkan permasalahan guru dalam pembelajaran; 2) berkolaborasi dalam pelaksanaan; 3)
Peneliti merangkap sebagai pelaksana yang melakukan refleksi; 4) tujuannya memperbaiki dan
meningkatkan kualitas praktik pembelajaran; 5) Dilakukan berdasarkan langkah-langkah dari
beberapa siklus.
Proses pelaksanaan penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti yang bekolaborasi dengan
guru meliputi beberapa proses siklus yang berkesinambungan. Setiap fase (siklus) terdapat empat
tahap yaitu perencanaan dilakukannya tindakan (planning), pelaksanaan (acting), observasi
terhadap tindakan, dan refleksi setelah dilakukannya tindakan (reflection).
Perencanaan (planning) disusun sebagai rancangan tindakan. Sesuai dengan fokus dalam
penelitian ini, maka peneliti dan guru menetapkan secara garis besar perencanaan tindakan di
siklus I, siklus II, dan siklus III adalah bagaimana implementasi pembelajaran sejarah berbasis
nilai-nilai multikulturalisme. Peneliti bersama dengan guru telah merancang kegiatan belajar
mengajar dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD dan jigsaw.
Pada tahap pelaksanaan tindakan (acting), guru mulai menerapkan pembelajaran sejarah
berbasis nilai-nilai multikulturalisme menggunakan metode kooperatif tipe STAD di siklus I dan
II, serta Jigsaw di siklus III. Selanjutnya peneliti bersama dengan guru melakukan pengamatan
terhadap tindakan (observing) guna mengamati proses pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai
multikulturalisme.
tahap terakhir peneliti dan guru melakukan refleksi serta diskusi untuk mengetahui hasil
dari penerapan pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme. Sehingga apabila
dalam siklus I proses pembelajarannya masih terdapat kelemahan, maka akan dilanjutkan dengan
melakukan perbaikan di siklus II dengan mengikuti tahapan-tahapan seperti siklus sebelumnya.
Demikian juga dengan siklus III yang disesuaikan langkah-langkahnya seperti siklus II. Setiap
akhir siklus dianalisis kelebihan dan kekurangannya dengan teknik analisis interaktif untuk
mengetahui hasil penerapan tindakan berdasarkan siklusnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian pendahuluan dilakukan guna mengetahui realita pembelajaran sejarah di SMA
Muhammadiyah 1 Rambipuji, khusunya di kelas XI IPS 1. Peneliti mendapatkan data serta
kondisi riil setelah melakukan wawancara, pengamatan langsung di kelas pada saat mata
pelajaran sejarah, serta penyebaran angket .
Pengisian angket dilakukan oleh siswa untuk mengetahui sejauh mana tingkat
pemahaman mereka mengenai nilai-nilai multikulturalisme serta bagaimana sikap solidaritas
sosial yang harus diberikan kepada siswa. Berdasarkan hasil observasi ini, model pembelajaran
sejarah yang digunakan masih berpusat pada guru yaitu melalui metode ceramah, sementara
siswa hanya menjadi pendengar dan terlihat pasif. Antusiasme siswa terhadap pembelajaran
sejarah juga terlalu rendah. Hal ini terdeteksi pada waktu peneliti melakukan observasi langsung
di kelas, dimana ketika guru menerangkan terdapat beberapa siswa yang sibuk berbicara sendiri
dengan temannya, serta beberapa siswa terlihat bermain Handphone (HP).
Sementara itu, fasilitas dan sumber belajar yang digunakan oleh siswa masih kurang.
Sehingga dalam hal ini guru hanya memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan satu buku
paket. Dengan demikian siswa menjadi ragu serta tidak memiliki keberanian menjawab
pertanyaan yang diberikan guru.
Malalui hasil pengamatan, bisa dikatakan bahwa siswa masih memiliki rasa solidaritas
yang rendah. Respon siswa yang cenderung pasif ketika guru memberikan sebuah pertanyaan,
serta terjalinnya komunikasi hanya pada siswa yang duduk dibangku depan saja. Selain itu
berdasarkan angket yang disebarkan, beberapa siswa juga menanyakan apa yang dimaksud
dengan multikulturalisme, sebab istilah tersebut baru mereka dengar. Sedangkan untuk konsep
solidaritas sosial yang diharapkan oleh peneliti, siswa masih belum sepenuhnya paham dan
belum bisa menerapkan konsep solidaritas sosial yang positif, baik di lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
Namun secara umum langkah-langkah dalam pelaksanaan belajar sudah dilakukan dengan
baik oleh guru. Misalnya saja dalam langkah kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan
penutupnya sudah mencakup semua indikator. Dalam hal ini guru juga aktif memberikan
motivasi, penguatan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ideidenya
yang berupa pendapat dan pertanyaan seputar materi yang disajikan. Dengan demikian
guru berharap siswa benar-benar memahami mengenai materi melalui kemampuan analisis dan
kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh siswanya
Berdasarkan penelitian pra tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dicapailah
kesepakatan bahwa pembelajaran sejarah dilakukan di kelas XI IPS 1 sebagai solusi untuk
menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dengan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan
nilai solidaritas sosial secara tepat, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Peneliti dan guru juga menyepakati kompetensi dasar yang akan dijadikan sebagai materi
untuk mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah. .
Selain itu, metode pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dipilih untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam kerja kelompok, sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan yang
sama dalam mengemukakan pendapat sesuai dengan hasil kerja yang telah dibuat dalam
kelompok asal dan kelompok kecil.
Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa penelitian ini menggunakan prosedur CAR
(Classroom Action Research). Adapun tahapannya terdiri atas perencanaan, pelaksanaan atau
tindakan, observasi , refleksi. Berdasarkan langkah- langkah pada pelaksanaan siklus I dapat
menjadi acuan untuk melakukan perencanaan pada uji coba di siklus selanjutnya. Oleh karena
itu, selesai melakukan uji coba tahap satu, dilakukan analisis oleh guru dengan peneliti untuk
menyempurnakan model ditahap uji coba selanjutnya.
Pada siklus I, kegiatan tahap perencanaan yaitu menyiapkan perangkat pembelajaran
yang telah dibuat oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru meliputi RPP, sintak, serta
pembagian materi yang akan diberikan kepada siswa. Sementara itu, dalam komponen evaluasi
disusun soal tes untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam memahami materi.
Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam dua tatap muka, yaitu pada hari Sabtu
tanggal 12 Oktober 2013 (2x 45 menit) dan hari selasa 15 Oktober 2013 (1 x 45 menit). Adapun
tahapan (fase) dalam tindakan ini meliputi :
1. Apersepsi (Fase 1 : menginformasikan tujuan dan motivasi kepada peserta didik terkait
pembelajaran yang dilaksanakan)
2. Eksplorasi (Fase 2 : menyampaikan informasi terkait dengan materi pembelajaran). Fase 3 :
mengorganisir kelompok belajar
3. Elaborasi ( Fase 4 : membimbing kelompok belajar)
4. Konfirmasi (Fase 5 : Evaluasi dan refleksi hasil diskusi kelompok)
5. Penutup (Fase VI : penyimpulan, memberikan penghargaan dan penguatan kepada siswa).
Peneliti bersama dengan guru mendiskusikan temuan-temuan yang ada di siklus I ini.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti memberikan kesimpulan bahwa secara umum langkah
langkah yang terdapat dalam sintak sudah terlaksana dengan baik oleh guru. Hanya saja, pada
aspek menyampaikan materi kurang begitu detail. Beberapa materi sengaja dilewati untuk
mempersingkat waktu. dalam tahapan ini siswa juga belum bisa menyampaikan gagasannya
secara penuh. Hasil makalah kelompok juga dinilai sesuai dengan format penilaian yang telah di
buat dalam RPP. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka nilai rata-rata untuk lima
kelompok belajar adalah 77. Nilai ini sudah cukup bagus, hanya saja perlu dilakukan peningkatan
dalam pembuatan makalah oleh siswa.
Penilaian juga dilakukan dengan observasi sikap yang dilakukan oleh peneliti dan
berkolaborasi dengan guru, sehingga diharapkan nilai-nilai solidaritas siswa bisa diamati. Skor
perolehan untuk observasi sikap solidaritas sosial siswa dalam kelompok belajar yaitu 55 %. Skor
ini masih tergolong kurang, sehingga peneliti bersama dengan guru berharap terjadi peningkatan
di siklus selanjutnya.
Untuk melihat sejauh mana penguasaan materi oleh siswa, disajikan hasil nilai tes yang
dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti pada tanggal 15 Oktober 2013. Skor rata-rata
perolehan siswa yang tuntas sebanyak 53,3 % dan hampir separuh siswa di kelas belum tuntas
hasil belajarnya. Masukan dan hasil rekomendasi disusun untuk diuji cobakan pada pelaksanaan
siklus II sehingga diharapkan hasilnya didapat lebih baik dari siklus sebelumnya.
Tahap siklus ke II, kegiatan tahap perencanaan yang disusun sama dengan siklus
sebelumnya, yaitu meiputi menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti
yang berkolaborasi dengan guru meliputi RPP, sintak, serta pembagian materi yang akan
diberikan kepada siswa.
Pelaksanaan tindakan dijadwalkan sebanyak dua kali tatap muka, yaitu pada hari Sabtu
tanggal 26 Oktober 2013 (2 x 45 menit) dan hari selasa 29 Oktober 2013 (1 x 45 menit).
Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus sebelumnya, yaitu apersepsi,
eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup.
Beberapa aspek dalam sintak setelah diobservasi dan dinilai oleh peneliti mengalami
peningkatan, baik dalam kegiatan apersepsi, eksplorasi, elaborasi, kofirmasi dan penutup. Selain
itu beberapa aspek lain dalam prinsip reaksi, sistem sosial, dan sistem pendukung juga
mengalami penyempurnaan jika dibandingkan dengan uji coba siklus I. Guru yang melakukan
proses kegiatan di dalam kelas berkomentar puas karena kesulitan- kesulitan di siklus I
terminimalisir dan diperbaiki.
Hasil penilaian makalah kelompok juga mengalami peningkatan dibanding siklus
sebelumnya, yaitu dengan rata-rata skor perolehan 80. Presentase rata-rata sikap solidaritas sosial
siswa yang tergabung dalam kelompok adalah sebesar 64% dan berdampak positif sehingga
adanya peningkatan yang signifikan. Namun peneliti dan guru berusaha meningkatkan hasil
presentase penilaian sikap ini pada siklus berikutnya.
Hasil nilai tes siklus II yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti tanggal 29
Oktober 2013 mendapatkan skor rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 66,6 %. Hal
tersebut menggambarkan penguasaan materi siswa mengalami adanya peningkatan berdasarkan
siklus sebelumnya.
Berdasarkan refleksi dan rekomendasi yang telah didskusikan oleh peneliti dengan guru,
maka perencanaan pembelajaran pada siklus III ini tidak mengalami perubahan. Hanya saja
perbaikan dilakukan pada pembagian kelompok belajar dan metode yang dilaksanakan dalam
diskusi.
Pelaksanaan tindakan siklus III ini sebanyak dua kali pertemuan, yaitu hari Sabtu tanggal
2 November 2013 (2 x 45 menit) dan hari selasa 5 November 2013 (1 x 45 menit). Adapun
tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus I dan siklus II sebelumnya, yaitu apersepsi,
eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup. Perbedaan dengan siklus sebelumnya yaitu pada
tahap eksplorasi fase tiga, yaitu mengorganisir kelompok belajar. Peneliti bersama dengan guru
menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Pembagian materi dan langkahlangkah
dalam jigsaw juga telah disusun dengan baik, yaitu terdapat kelompok awal dan
kelompok keahlian.
Nilai makalah kelompok yang dibuat pada siklus III ini mengalami sedikit peningkatan,
yaitu dengan rata-rata nilai 81. Sementara presentase penilaian sikap siswa dalam kelompok
belajar adalah sebesar 74%. Hasil ini bisa dikatakan sangat baik dan memiliki peningkatan yang
bagus dibanding siklus sebelumnya.
Sementara itu, hasil nilai tes siklus III yang dilakukan oleh guru bersama dengan peneliti
tanggal 5 November 2013 mendapatkan skor rata-rata perolehan siswa yang tuntas sebanyak 76,6
%. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan materi siswa berdasarkan siklus I sampai siklus III ini
mengalami peningkatan.
Berdasarkan hal diatas, implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai
multikulturalisme ini bisa dikatakan berhasil. Selama pelaksanan siklus I sampai siklus III, siswa
bekerja dan berpartisipasi dalam kelompok-kelompok belajar yang telah di bentuk oleh guru
tanpa membedakan dan melihat latar belakang anggota dalam kelompok. Biasanya siswa hanya
mau berkelompok dengan teman akrabnya, atau dengan sengaja memilih beberapa teman yang
pintar saja. Inilah yang menjadi asumsi peneliti untuk meneapkan nilai-nilai multikulturalisme
dalam embelajaran sejarah, sehingga solidaritas yang terjalin bisa lebih luas, tidak hanya di
lingkungan kelas dan sekolah, bahkan kalau perlu di lingkungan masyarakat nilai-nilai
multikulturalisme tersebut juga dapat diterapkan. Hanya saja pada siklus I dan II perlu
dioptimalkan proses pembelajarannya, sehingga siswa juga mendapatkan hasil yang maksimal
pada siklus selanjutnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan penelitian ini memiliki
beberapa indikator, antara lain :
1. Adanya peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, mulai dari
langkah-langkah dalam sintaks yang dijalankan secara baik, sampai dengan penyempurnaan
beberapa indikatornya pada siklus II. Selanjutnya di siklus III, secara garis besar langkahlangkah
dan indikator tersebut sudah terlaksana dengan baik. Selain itu, guru juga
menyempurnakan model pembelajaran sosial (kooperatif) dimana siklus I dan siklus II
menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, dan pada siklus III menggunakan
jigsaw. Hasil dari perubahan metode pembelajaran tersebut terlihat baik dan mengalami
peningkatan di tiap siklusnya.
2. Adanya peningkatan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa, baik dari nilai
tugas pembuatan makalah kelompok, nilai solidaritas siswa dalam kelompok belajar, serta
nilai tes siswa yang meningkat dari tiap siklusnya. Hasil nilai makalah yang diperoleh siswa
siklus I yaitu 70, siklus II 80, dan siklus III sebesar 81. Nilai sikap solidaritas siswa dalam
kelompok belajar di siklus I adalah 55 %, siklus II 64 % dan siklus III sebesar 74 %.
Selanjutnya nilai tuntas penguasaan materi siswa dari tes yang dilakukan pada siklus I adalah
53,3 % , siklus II 66,6 %, dan siklus III sebesar 76,6 %.
Berdasarkan sajian data diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah
berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI
IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji berhasil dilaksanakan dengan baik serta
mengalami peningkatan yang signifikan dalam tiap siklusnya.
DAFTAR RUJUKAN
Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widya.
Budiningsih, A.C. 2008. Pembelajaran Moral : Berpijak Pada Karakteristik Siswa dan
Budayanya. Jakarta : Rineka Cipta.
Burn, Anne. 1999. Collaborative Action Research for English Language Teachers. London :
Cambridge University Press.
Hamdani, Nizar Alam dan Hermana, Dody. 2008. Classroom Action Research : Teknik Penulisan
dan Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Rahayasa Research and
Training
Kochhar, S.K. 2008. Teaching Of History: Pembelajaran Sejarah. Jakarta : Grasindo
Kymlicka, WILL. 2015. Kewargaan Multikultural. Jakarta : LP3ES
Ma’arif, Syamsul. 2005. Pendidikan Pluralisme Di Indonesia. Yogyakarta: Logung Pustaka.
Maliki, Zainuddin. 2010. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah: Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre
Bourdieu. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus ilmu pendidikan bercorak
Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Sukmadinata, N. S. 2012. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Prktek. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2012. Penidikan Nasional : Arah Ke Mana. Jakarta: Rineka Cipta