Cari Blog Ini

Minggu, 26 April 2015


IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME UNTUK MENINGKATKAN SOLIDARITAS SOSIAL SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMA MUHAMMADIYAH 1 RAMBIPUJI


M. Iqbal Ibrahim H
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
IKIP PGRI Jember

Abstrak: Penelitian ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai multikulturalisme melalui pembelajaran sejarah, sehingga siswa mampu meningkatkan rasa solidaritas sosial baik antar individu, antar budaya, agama, dan antar golongan dalam masyarakat. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Tahapnya yaitu perencanaan tindakan , pelaksanaan tindakan, pengamatan terhadap tindakandan refleksi.. Teknik pengumpulan data meliputi : 1) teknik wawancara mendalam ; 2) pengamatan (observasi); 3)  tes ; 4) angket ; 5) dokumentasi. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan dalam proses pembelajaran sejarah. Nilai tugas pembuatan makalah kelompok, nilai solidaritas siswa dalam kelompok belajar, serta nilai tes siswa yang mengalami peningkatan dari siklus I, II, III.Hasil nilai makalah yang diperoleh siswa di siklus I adalah 70, siklus II 80, dan siklus III sebesar 81.Nilai sikap solidaritas siswa dalam kelompok belajar di siklus I adalah 55 %, siklus II 64 % dan siklus III sebesar 74 %. Selanjutnya nilai tuntas penguasaan materi siswa dari tes yang dilakukan di siklus I adalah 53,3 % , siklus II 66,6 %, dan siklus III sebesar 76,6%.

Kata kunci :Multikulturalisme, Solidaritas Sosial

PENDAHULUAN

Indonesia jelas adalah sebuah negeri multikultural.Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memuat idealitas multikulturalisme di Indonesia.Masyarakat nusantara juga bersifat polietnis yang diutuhkan melalui kebanggaan bersama atas prestasi-prestasi sejarah tertentu.Namun keanekaragaman ini menimbulkan sejumlah permasalahan dimana semakin banyak perselisihan yang terjadi dalam masyarakat seperti hak berbahasa, perwakilan politik, bahkan dalam pendidikan.
Sejarah mencatat bahwa selama masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah menerapkan politik “keseragaman budaya” (monokulturalisme)  yang justru menghancurkanlocal cultural geniuses masyarakat.Padahal tradisi sosiokultural lokal tersebut merupakan kekayaan budaya yang dimilki bukanoleh masyarakatnya sendiri,melainkanuntuk masyarakat yanglainpula.
Kymlicka (2015) menyatakan bahwa sebuah negara multinasional dan polietnis tidak niscaya tercabik-cabik dari dalam, bahkan kemajemukan itu dapat menjadi dasar bagi kemajuan kemanusiaan, demokrasi dan peradaban, bila dihadapi dengan strategi politis yang tepat. Kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh bangsa Indonesia saat ini, dan masa yang akan datang.
Pada era multikulturalisme sekarang, dimana masyarakat beserta setiap komponennya diharuskan dapat memikul tanggung jawab agar tercapainya tujuan seperti yang dicita-citakan dalam Pancasila.Bagian utama sebagai akibat dari globalisasi dimana sekat-sekat pluralisme budaya dan agama adalah menghidupkan nilai-nilaisolidaritas sosial dalam masyarakat yang multikultural.
Berdasarkan hal tersebut, multikulturalisme bisa didefinisikan sebagai kesediaan masyarakat atau kelompok untuk menerima kelompok lain sebagai satu kesatuan tanpa ada sekat budaya, gender, etnis, bahasa, maupun agama (Suardi, 2017: 4). Pendidikan sebagai usaha untuk menyadarkan, mengarahkan, serta memberikan pemahaman yang mampu menciptakan perubahan perilaku individu, termasuk internalisasi pluralisme pada peserta didik.
Seperti halnya yang dikemukakan oleh Martono (2012), bahwa tindakan kekerasan di sekolah sering dianggap sebagai tindakan untuk menegakkan disiplin oleh siswa.Misalnya guru menghukum siswa karena tidak membuat PR, berbuat gaduh di kelas, membolos, serta kekerasan diantara para siswa itu sendiri.
Melalui wawancara dengan guru sejarah, bahwa pernahpernah terjadi perkelahian antar sekolah melibatkan siswa dari SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji dengan siswa dari sekolah lain yang dilatarbelakangi perasaan membela teman atau membela nama sekolahnya.
Hasil wawancara dengan guru lain di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji, bahwa pernah terjadi pemalakan oleh siswa dari kelas XI IPS kepada salah seorang siswa dari kelas XI IPA.
Keterangan yang sama juga diberikan oleh guru olahraga di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji, dimana dalam  momen-momen tertentu misalnya classmeeting sepak bola antar kelas juga tidak lepas dari gesekan emosi antar siswa yang terkadang berujung pada perkelahian.
Melihat fenomena diatas, maka sebagai salah satu lembaga pendidikan, sekolah mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam memberikan pembelajaran dan pemahaman mengenai nilai-nilai multikulturalisme. Menurut pandangan peneliti bahwa sejarah hadir untuk menjadi penghubung karakter antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang sehingga generasi muda tidak kehilangan jati dirinya.
Permasalahan multikulturalisme ini pernah diangkat oleh Novariyanto (2014) dalam penelitiannya yang berjudul “Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Multikultural Untuk Menguatkan Nilai Nasionalisme (Studi Kasus Mahasiswa Sejarah Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi)” yang menyatakan bahwa melalui kegiatan pembelajaran sejarah berbasis multikultural diharapkan mahasiswa memahami tentang pentingnya keberagaman budaya.
Karakteristik penelitian ini sebenarnya berpijak dari penelitian Hamdani (2014) yang berjudul “Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Petik Laut Untuk Meningkatkan Solidaritas Sosial Siswa Di Sman 1 Kencong Kabupaten Jember” dimana dijelaskan bahwa dalam tradisi Petik Laut tersebut, terdapat nilai-nilai multikultural karena semua unsur masyarakat bersatu tanpa membedakan apakah berasal dari etnis Jawa dan Madura. Hal-hal inilah yang kemudian berusaha diimplementasikan didalam kelas.
Melalui hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji, diperoleh hasil bahwa permasalahan yang terjadi melibatkan guru dan siswa. Model pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru hanya berupa penjelasan melalui materi yang ada di Lembar Kerja Siswa (LKS) dan satu buku paket. Hal ini mengakibatkan siswa yang menerima pelajaran kurang responsif sehingga kondisi kelas tidak kondusif.
Sementara itu, dilihat dari sisi siswa sendiri, masih terdapat sentimen kelompok yang membawa atribut dari luar sekolah, misalnya anggota klub motor dan fanatisme terhadap klub sepak bola tertentu. Selain itu juga pernah terjadi gesekan antara siswa yang berlatarbelakang etnis Madura dan Jawa dan mengarah pada tindakan persekusi.
Kecenderungan yang terjadi di kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiah 1 Rambipujibahwa dalam diskusi, siswa masih terbagi dalam sekat-sekat seperti yang dijelaskan tadi (fanatisme, etnis dan gender). Sementara itu siswa yang mendapatkan predikat nakal seringkali tersisih dan kurang mendapatkan respon dari teman-teman yang lain.
Guna mengetahui sejauh mana tingkat solidaritas sosial siswa khususnya di kelas XI SMA Muhammadiah 1 Rambipuji, Peneliti bersama dengan guru memilih metode diskusi.Melalui implementasi nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah, diharapkan mampu meningkatkan solidaritas sosial siswa di SMA Muhammadiah 1 Rambipuji, serta dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang tepat diharapkan minat dan partisipasi belajar siswa lebih baik serta memiliki pengaruh pada hasil yang dicapai.
Adapun tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah:
1.          Mengetahui kondisi pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji
2.          Mengimplementasikan proses pembelajaran sejarah yang berbasis nilai-niai multikulturalisme pada di kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji.
3.          Mengetahui peningkatan sikap solidaritas sosial siswa di kelas XI IPS 1 di SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 1 SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji Kabupaten Jember.Kegiatan penelitian ini direncanakan dimulai pada semester ganjil tahun ajaran 2013-2014.Melalui kompetensi dasar yang telah ditetapkan peneliti berharap bisa menerapkan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari informan, baik kepala sekolah, wakil kepala kurikulum, maupun dari guru mata pelajaran sejarah di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji. Sementara itu sumber data lain diperoleh melalui dokumen dan arsip yang terkait dengan penelitianini.
Teknik pengumpulan data yang dijadikan sebagai alat yaitu: 1) teknik wawancara mendalam ; 2) observasi atau pengamatan ; 3) tes ; 4) dokumentasi ;
Kesimpulannya bahwa penelitian tindakan merupakan proses yang menilai kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara sistematis serta menggunakan teknik- teknik, metode, dan media yang sesuai.
Karakteristik PTK mengacu pada pendapat Aqib (2008: 16) yaitu : 1) berdasarkan permasalahan guru dalam pembelajaran; 2) berkolaborasi dalam pelaksanaan; 3) Peneliti merangkap sebagai pelaksana yang melakukan refleksi; 4) tujuannya memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran; 5) Dilakukan berdasarkan langkah-langkah dari beberapa siklus.
Proses pelaksanaan penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti yang bekolaborasi dengan guru meliputi beberapa proses siklus yang berkesinambungan. Setiap fase (siklus) terdapat empat tahap yaitu perencanaan dilakukannya tindakan (planning), pelaksanaan (acting), observasi terhadap tindakan, dan refleksi setelah dilakukannya tindakan (reflection).
Peneliti bersama dengan guru telah merancang kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD dan Jigsaw.
Pada tahap pelaksanaan tindakan (acting), guru mulai menerapkan pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme menggunakan metode kooperatif tipe STAD di siklus I dan II, serta Jigsaw di siklus III. Selanjutnya peneliti bersama dengan guru melakukan pengamatan terhadap tindakan (observing) guna mengamati proses pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme.
Tahap terakhir peneliti dan guru melakukan refleksi serta diskusi untuk mengetahui hasil dari penerapan pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme. Sehingga apabila dalam siklus I proses pembelajarannya masih terdapat kelemahan, maka akan dilanjutkan dengan melakukan perbaikan di siklus II dengan mengikuti tahapan-tahapan seperti siklus sebelumnya. Demikian juga dengan siklus III yang disesuaikan langkah-langkahnya seperti siklus II.Setiap akhir siklus dianalisis kelebihan dan kekurangannya dengan teknik analisis interaktif untuk mengetahui hasil penerapan tindakan berdasarkansiklusnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Studi Pendahuluan

Penelitian pendahuluan dilakukan guna mengetahui realita pembelajaran sejarah di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji, khusunya di kelas XI IPS 1.Peneliti mendapatkan data serta kondisi riil setelah melakukan wawancara, pengamatan langsung di kelas pada saat mata pelajaran sejarah, serta dokumentasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Andre Firmanto sebagai guru mata pelajaran sejarah di SMA 1 Rambipuji beliau mengakui bahwa terdapat permasalahan mendasar yang terjadi di sekolah, khususnya di kelas XI IPS terkait dengan proses pembelajaran. Disamping itu dalam penuturannya bahwa terdapat permasalahan intoleransi yang terjadi dikalangan siswa.
Hasil observasi yang dilakukan peneliti bahwa model pembelajaran sejarah yang digunakan masih berpusat pada guru yaitu melalui metode ceramah, sementara siswa hanya menjadi pendengar dan terlihat pasif. Antusiasme siswa terhadap pembelajaran sejarah juga rendah.Terdapat beberapa siswa yang sibuk berbicara sendiri dengan temannya, seringkali ijin meninggalkan kelas, serta beberapa siswa terlihat  bermainHandphone(HP).Sementara itu, fasilitas dan sumber belajar yang digunakan oleh siswa masih kurang karena hanya memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan satu buku paket.
Malalui hasil pengamatan terhadap sikap siswa, bisa dikatakan bahwa siswa masih memiliki rasa solidaritas yang rendah. Respon siswa yang cenderung pasif ketika guru memberikan sebuah pertanyaan, serta terjalinnya komunikasi hanya pada siswa yang duduk dibangku depan saja.
Secara umum berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti, langkah-langkah dalam pelaksanaan belajar pada studi pendahuluan ini berada pada kriteria cukup yaitu dengan rerata skor 3.Hanya saja dalam pengamatan ini guru masih menggunakan metode ceramah kepada siswa.Berikut ini hasil penilaian kegiatan guru dalam pembelajaran sejarah :
Text Box: Tabel. 1 Hasil Observasi Pembelajaran Sejarah Guru

tahap
kegiatan
Skor
1
2
3
4
5
Apersepsi
Menyampaikan Tujuan dan motivasi




eksplorasi
Menyampaikan informasi





Mengorganisir kelompok




elaborasi
Membimbing kelompok belajar dan diskusi




konfirmasi
Memberikan Evaluasi dan refleksi




penutup
Kesimpulan dan penghargaan




Total skor

2
2
2

Rerata
3











Berdasarkan penelitian pra tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dicapailah kesepakatan bahwa pembelajaran sejarah dilakukan di kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji sebagai solusi untuk menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dengan mengarahkan siswa agar mampu menerapkan nilaisolidaritas sosial secara tepat, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Peneliti dan guru juga menyepakati kompetensi dasar 1 Menganalisis pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, dan kompetensi Dasar 5 Menganalisis proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia, yang akan dijadikan sebagai materi untuk mengimplementasikan nilai-nilai multikulturalisme dalam pembelajaran sejarah. .
Selain itu, metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Jigsaw dipilih untuk mengetahui kemampuan siswa dalam kerja kelompok, sehingga setiap siswa mempunyai   kesempatan  yang  sama dalam mengemukakan pendapat sesuai dengan hasil kerja yang telah dibuat dalam kelompok asal dan kelompok kecil.
Seperti yang telah dikemukakan diatas, bahwa penelitian ini menggunakan prosedur CAR (Classroom Action Research). Adapun tahapannya terdiri atas
perencanaan, pelaksanaan atau tindakan, observasi , refleksi.
B.     Proses Pembelajaran Sejarah Berbasis nilai-nilai Multikulturalisme
Siklus I
a.       Perencanaan
Pada siklus I, kegiatan tahap perencanaan yaitu menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru meliputi RPP, sintak, serta pembagian materi yang akan diberikan kepada siswa. Sementara itu, dalam komponen evaluasi 32 siswa kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Rambipujidiberikan tugas membuat laporan untuk pertemuan berikutnya sehingga diperoleh data tentang kemampuan siswa.
b.      Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam dua tatap muka, yaitu pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2013(2x 45 menit) dan hari selasa 15 Oktober 2013 (1 x 45 menit). Adapun hasil pengamatan terhadap guru disajikan dalam tabel berikut :
Tabel. 2 Hasil Observasi Pembelajaran Sejarah Siklus I
 
 


tahap
Kegiatan Guru
Skor
1
2
3
4
5
Apersepsi
Menyampaikan Tujuan dan motivasi




eksplorasi
Menyampaikan informasi




Mengorganisir kelompok




elaborasi
Membimbing kelompok belajar dan diskusi




konfirmasi
Memberikan Evaluasi dan refleksi




penutup
Kesimpulan dan penghargaan




Total skor

1
2
3

Rerata
3,33













c.       Observasi
Peneliti bersama dengan guru mendiskusikan temuan-temuan yang ada di siklus I ini. Berdasarkan hasil observasi, peneliti memberikan kesimpulan bahwa secara umum langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan oleh guru mendapatkan skor rerata 3,33. Meskipun pada kriteria cukup, namun sudah terlihat adanya perbaikan pada aspek mengorganisir kelompok untuk persiapan diskusi pada pertemuan yang akan datang. 
d.      Refleksi
Berdasarkan tabel hasil observasi pembelajaran sejarah di siklus I ini terdapat peningkatan hasil dibanding pra siklus.Kegiatan guru dalam menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa mendapatkan skor 4. Hanya saja kurang detail pada aspek mengkaitkan kompetensi dasar dengan nilai-nilai multikulturalisme. Pada saat mengorganisir kelompok, guru kurang memperhatikan komposisi gender, sehingga ada dua kelompok yang didominasi oleh siswa perempuan. Beberapa temuan terkait dengan kelemahan pada siklus I ini menjadi rujukan bagi peneliti dan guru untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya.
Siklus II
a.         Perencanaan
Kegiatan tahap perencanaan siklus II yang disusun sama dengan siklus sebelumnya, yaitu menyiapkan perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh peneliti yang berkolaborasi dengan guru meliputi RPP, sintak, membuat pedoman penilaian untuk kelompok, serta pembagian materi yang akan diberikan kepada siswa untuk didiskusikan.
b.      Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan dijadwalkan sebanyak dua kali tatap muka, yaitu pada hariSabtutanggal26Oktober 2013(2x45menit)danhariselasa29Oktober2013(1x45 menit). Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus sebelumnya, yaitu apersepsi, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup.
c.      Observasi
Tabel.3 Hasil Observasi Pembelajaran Sejarah Siklus II
 
Beberapa aspek dalam sintak setelah diobservasi dan dinilai oleh peneliti mengalami    peningkatan,       baik      dalam

tahap
Kegiatan Guru
Skor
1
2
3
4
5
Apersepsi
Menyampaikan Tujuan dan motivasi




eksplorasi
Menyampaikan informasi




Mengorganisir kelompok




elaborasi
Membimbing kelompok belajar dan diskusi




konfirmasi
Memberikan Evaluasi dan refleksi




penutup
Kesimpulan dan penghargaan




Total skor


1
3
2
Rerata
4,16












kegiatan apersepsi, eksplorasi, elaborasi, kofirmasi dan penutup. Selain itu beberapa aspek lain dalam prinsip reaksi, sistem sosial, dan sistem pendukung juga mengalami penyempurnaan jika dibandingkan dengan uji coba siklus I. Hasil observasi pembelajaran sejarah siklus II dapat dilihat pada tabel 3.
Pada tahap apersepsi, penyampaian tujuan dan motivasi oleh guru mendapat skor maksimal.Hal ini dikarenakan guru telah mengkaitkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia.Tahap elaborasi, konfirmasi dan penutup juga mengalami peningkatan yaitu dengan skor 4. Guru melakukan evaluasi berdasarkan laporan tugas yang dibuat oleh masing-masing kelompok, serta mengamati sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
d.        Refleksi
Berdasarkan hasil  observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru bahwa :
1.      Proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik, dimana hampir semua langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan guru.
2.      Penggunaan metode STAD masih dirasa kurang maksimal karena siswa yang berinteraksi hanya dalam satu kelompok saja. Untuk itu diperlukan metode yang lebih bisa memaksimalkan interaksi yang melibatkan seluruh kelompok dalam kelas.
3.      Penilaian terhadap kinerja siswa dari 6 kelompok masih belum maksimal karena didominasi oleh satu atau dua orang saja.
             Berdasarkan refleksi dan rekomendasi yang telah didiskusikan oleh peneliti dengan guru, maka diperlukan perbaikan khususnya dalam penggunaan metode pembelajaran.
Siklus III.
a.       Perencanaan
       Kegiatan yang dilakukan pada siklus ke III mengacu pada siklus sebelumnya yang meliputi persiapan perangkat pembelajaran berupa RPP, sintak, membuat lembar penilaian kelompok dan menyiapkan langkah-langkah dalam metode Jigsaw.
b.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus III inisebanyak dua kali pertemuan, yaitu hari Sabtu tanggal 2 November 2013 (2 x45menit) dan hari selasa 5 November 2013 (1 x 45 menit). Adapun tahapan (fase) dalam tindakan ini sama dengan siklus I dan siklus II sebelumnya, yaitu apersepsi, eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan penutup.
c.       Observasi
Perbedaan dengan siklus sebelumnya yaitu pada tahap eksplorasi fase tiga, yaitu mengorganisir kelompok belajar.Peneliti bersama dengan guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.Pembagian materi dan langkah-langkah dalam jigsaw juga telah disusun dengan baik, yaitu terdapat kelompok awal dan kelompokahli.Hasil lembar observasi kegiatan pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh guru dapat dilihat pada tabel 4.Meskipun rerata skor menunjukkan kriteria baik, namun pada beberapa aspek telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
d.      Refleksi
Berdasarkan hasil yang diperoleh melalui implementasi pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme ini bisa dikatakan berhasil.Selama pelaksanaan siklus III ini semua rangkaian dan tahapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru hampir mendapatkan nilai maksimal.Sementara itu aktivitas siswa juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya, dimana komunikasi dan interaksi yang terjalin diantara siswa melalui metode jigsaw bisa dikatakan merata yaitu dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing anggota kelompok untuk berinteraksi dengan anggota kelompok lain. Melalui kesepakatan antara peneliti bersama dengan guru, maka kegiatan penelitian ini berakhir pada siklus III.
C.    Peningkatan sikap Solidaritas Sosial siswa dalam Pembelajaran Sejarah.
Adapun penerapan nilai-nilai multikultural dan sikap solidaritas sosial siswa telah diamati oleh peneliti ketika melakukan studi pendahuluan.Sementara pada tahap implementasi pembelajaran sejarah, peneliti yang berkolaborasi dengan guru bersama-sama melakukan pengamatan (observasi) guna memberikan penilaian sejauh mana siswa mampu menerapkan nilai-nilai multikultural dan sikap soldaritas tersebut.

Tabel.4 Hasil Observasi Pembelajaran Sejarah Siklus III
 
 

tahap
Kegiatan  Guru
Skor
1
2
3
4
5
Apersepsi
Menyampaikan Tujuan dan motivasi




eksplorasi
Menyampaikan informasi




Mengorganisir kelompok




elaborasi
Membimbing kelompok belajar dan diskusi




konfirmasi
Memberikan Evaluasi dan refleksi




penutup
Kesimpulan dan penghargaan




Total skor



8
20
Rerata
4,66













           Pada siklus I kegiatan pembelajaran siswa masih belum tampak karena guru hanya memberikan penjelasan singkat materi dari Lembar Kerja Siswa (LKS).Beberapa siswa terlihat kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Diakhir pembelajaran peneliti bersamadengan     guru      berusaha     menyelesaikanpermasalahan yang terjadi pada siswa kelas XI IPS 1 SMAN Muhammadiyah 1 Rambipuji yaitu dengan setting pembelajaran di siklus 2 menggunakan metode STAD untuk diskusi.
           Berikut hasil penilaian laporan kerja kelompok dan penilaian sikap siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung di Siklus 2
No.Klp
Aspek yang dinilai
Jumlah skor
Nilai
Isi
Urutan dan susunan
Penyajian dan bahasa
Penutup dan kesimpulan
Daftar Pustaka
1
4
3
4
3
3
17
85
2
3
3
3
3
3
15
75
3
3
3
4
3
3
16
80
4
3
3
3
2
3
14
70
5
4
3
3
3
2
15
75

Rerata

77
Tabel.5 Hasil penilaian kerja kelompok siklus II
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan Aspek yang dinilai :

Skor 1 = Kurang

Skor 2 = Cukup

Skor 3 = Baik

Skor 4 = Sangat Baik

Berdasarkan hasil penilaian kerja kelompok dalam membuat laporan diperoleh nilai rerata 77. Hal ini  menunjukkan    bahwa kerja kelompok yang dilakukan sudah baik. Proses interaksi terjalin meskipun hanya terbatas pada anggota kelompok sendiri. Sementara itu kelemahan/kekurangan yang terjadi pada siklus II menjadi acuan untuk melakukan perbaikan di siklus berikutnya.

Selain melakukan penilaian terhadap kinerja kelompok,   peneliti   dan    guru  juga melakukan penilaian sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran di kelas. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pada siklus II ini peneliti dan guru menerapkan metode diskusi, maka penilaian yang diambil terkait dengan respon atau sikap siswa selama kegiatan diskusi berlangsung. Berikut hasilnya :

No
Nama kelompok
Aspek Penilaian
Total skor
presentase
A
B
C
D
E
1
Kelompok 1
3
2
2
4
2
13
65%
2
Kelompok 2
2
3
2
2
2
11
55%
3
Kelompok 3
2
3
3
1
2
11
55%
4
Kelompok 4
2
3
1
2
1
9
45%
5
Kelompok 5
3
4
3
3
3
16
80%

jumlah
60
60%

Tabel.6 Hasil penilaian sikap Solidaritas siswa siklus II
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

A.    :     Membantu teman yang kesulitan belajar

B.    :     Aktif dalam sesi diskusi

C   :     menjalankan tugas sesuai kesepakatan

D   :     Menghargai pendapat kelompok lain

E   :     Aktif kerja dalam dan diluar kelompok

              Berdasarkan data pada tabel.5 diatas diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata untuk penilaian sikap adalah sebesar 60 persen. Penerapan metode STAD kurang memaksimalkan kerja sama, baik didalam kelompok maupun antar kelompok. Beberapa siswa cenderung acuh terhadap permasalahan yang dibahas dalam kelompoknya.Siswa juga kurang menghormati pendapat kelompok lain dan sering kali mengejek siswa yang membacakan jawaban. Keaktifan siswa juga menjadi catatan bagi peneliti dan guru karena masih didominasi oleh beberapa orang saja dan belum merata ke semua anggota kelompok. Maka dari itu, perlu di lakukan perbaikan pada metode pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus ke III.

              Melalui evaluasi dan rekomendasi dari kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya, maka pada siklus ke 3 diperoleh hasil yang memuaskan melalui penerapan metode yang tepat dalam memaksimalkan kerja kelompok serta meningkatkan   sikap  solidaritas  sosial  siswa. Adapun hasil penilaian laporan kerja kelompok dan penilaian sikap solidaritas siswa selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung di siklus II dapat dilihat pada tabel 7 dan 8.

              Berdasarkan data yang diperoleh tersebut, penilaian kerja kelompok mendapatkan skor rata-rata 93 dan mendapatkan predikat sangat baik. Hal ini terbukti bahwa melalui penerapan metode yang tepat serta kerja sama yang baik diantara para siswa pada siklus 3 ini memperoleh peningkatan yang signifikan.

              Sementara itu hasil penilaian terhadap sikap solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji juga memperoleh peningkatan sebesar 92 persen dengan rerata skor 18,4. Hal ini menunjukkan bahwa melalui metode Jigsaw, siswa telah menerapkan konsep solidaritas sosial yang lebih baik daripada menggunakan metode STAD di siklus sebelumnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme dapat meningkatkan solidaritas  sosial siswa di kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji.

Tabel.7 Hasil penilaian kerja kelompok siklus III
 
 

 


No.Klp
Aspek yang dinilai
Jumlah skor
Nilai
Isi
Urutan dan susunan
Penyajian dan bahasa
Penutup dan kesimpulan
Daftar Pustaka
1
4
3
4
4
4
19
95
2
4
4
4
4
3
19
95
3
4
3
4
4
3
18
90
4
4
4
4
3
3
18
90
5
4
4
4
4
3
19
95

Rerata
18,6
93

 

 

 

 

 

 

 

 

         

 

No
Nama kelompok
Aspek Penilaian
Total skor
presentase
A
B
C
D
E
1
Kelompok 1
4
4
3
4
4
19
95%
2
Kelompok 2
4
3
4
4
4
19
95%
3
Kelompok 3
3
4
4
3
3
17
85%
4
Kelompok 4
3
4
4
3
4
18
90%
5
Kelompok 5
4
4
4
3
4
19
95%

jumlah
18,4
92%

Tabel.6 Hasil penilaian sikap Solidaritas siswa siklus III
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diperolehkesimpulan antara lain :
1.  Melalui hasil observasi dan wawancara pada studi pendahuluan, terdapat permasalahan-permasalahan dalam proses pembelajaran di kelas yang melibatkan guru dan siswa. Kegiatan guru dalam pelaksanaan pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah dengan ditunjang materi yang berasal dari Lembar Kerja Siswa (LKS) dan satu buku paket. Hal ini tentu saja kurang efektif dan memerlikan perbaikan dalam penggunaan metode pembelajaran yang lebih memaksimalkan peran guru didalam kelas.
Sementara     dari      kegiatan   siswa terlihat kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran sejarah. Selain itu permasalahan menyangkut sikap siswa di dalam dan di luar kelas terlihat kurang memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Sekat-sekat masih terlihat diantara mereka, misalnya fanatisme terhadap klub sepakbola tertentu (Arema dan Persebaya), beberapa siswa dalam kelas XI IPS 1 juga aktif dalam klub motor, dan aksi intoleran yang juga pernah melibatkan siswa kelas XI IPS 1 terhadap kelas X yang berujung pada tindakan persekusi. Oleh karena itu peneliti bersama dengan guru merasa perlu melakukan perbaikan tentang permasalahan yang telah dijelaskan diatas.
2.  Tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme telah dijalankan dengan baik oleh guru sejak siklus I dengan nilai rata-rata 3,33, siklus II nilai rata-rata 4,16  dan siklus III sebesar 4,66. Guru memberikan motivasi dan tujuan dengan mengacu pada kompetensi dasar yang dijadikan sebagai bahan untuk kerja kelompok siswa serta menanamkan nilai-nilai multikulturalisme yang dapat menumbuhkan sikap solidaritas sosial siswa. Adapun materinya yaitu tentang pengaruh perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha terhadap masyarakat di berbagai daerah di Indonesia serta proses interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia
3.  Setelah melalui beberapa tahapan  dalam Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan siklus diatas, terlihat adanya peningkatan aktivitas belajar siswa khususnya pada materi interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia. Hasil observasi siswa dibagi menjadi dua yaitu penilaian kerja kelompok dan penilaian sikap Solidaritas siswa yang semuanya dimulai dari siklus II. Pada siklus II penilaian kerja kelompok mendapatka nilai rerata 77. Sementara penilaian sikap solidaritas siswa mendapatkan skor rerata 60 persen. Berdasarkan hasil refleksi dan rekomendasi penulis dengan guru, ditemukan kekurangan-kekurangan pada aspek metode yang belum bisa memaksimalkan kemampuan siswa. Maka perlu diadakan perbaikan pada siklus selanjutnya.
Siklus ke III terjadi peningkatan yang signifikan melalui penerapan metode Jigsaw dalam pembelajaran.Skor penilaian kerja kelompok pada siklus ini mendapatkan rerata sebesar 93.Sementara hasil penilaian sikap solidaritas siswa kelas XI IPS 1 mendapatkan skor rerata 92 persen.
4.  Implementasi pembelajaran sejarah dengan menggunakan materi dan metode yang tepat, terbukti dapat meningkatkan kemampuan dan sikap solidaritas sosial siswa di kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji.
Berdasarkan sajian data diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai multikulturalisme untuk meningkatkan solidaritas sosial siswa kelas XI IPS 1 di SMA Muhammadiyah 1 Rambipuji berhasil dilaksanakan dengan baik serta mengalami peningkatan yang signifikan dalam tiap siklusnya dengan menggunakan metode yang tepat.

DAFTAR RUJUKAN
Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: CV. Yrama Widya.
Ibrahim Hamdani, M. Iqbal. 2014. Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Petik Laut Untuk Meningkatkan Solidaritas Sosial Siswa Di Sman 1 Kencong Kabupaten Jember. Tesis. Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret.
Kymlicka, WILL. 2015. Kewargaan Multikultural. Jakarta : LP3ES
Maliki, Zainuddin. 2010. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah: Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Novariyanto, Rizki Agung. 2014. Model Pembelajaran Sejarah Berbasis Multikultural Untuk Menguatkan Nilai Nasionalisme (Studi Kasus Mahasiswa Sejarah Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi). Tesis. Pascasarjana Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret.
Sukmadinata, N. S. 2012. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Prktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2012. Penidikan Nasional : Arah Ke Mana. Jakarta: Rineka Cipta